Kiai Najib, Ahli Qur'an yang Ngelindur saja Baca al-Qur'an

 (Transkrip Kesaksian Dr. KH. Ahsin Sakho’ Muhammad

Terhadap KH. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir)
Dalam Acara Tahlilan Hari Ke-2 Allahuyarham
Rabu, 6 Januari 2021 M./22 Jumadil Awwal 1442 H.
Ditranskip dari FB Dr. KH. Hilmy Muhammad

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Poro alim, poro kiai, poro ustadz,
Hadirin wal hadirat, para huffadz, dan para santri sekalian.

Innalillahi wainna ilayh raji’un.
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ ١٨٥ لَتُبْلَوُنَّ فِىٓ أَمْوَٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوٓا أَذًى كَثِيرًا وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ ١٨٦ [سورة آل عمران (٣): ١٨٥-١٨٦]

Para hadirin dan hadirat sekalian, 
Kita semua masih dirundung kesedihan yang mendalam dengan wafatnya almaghfurlah Bapak KH. Raden Najib Abdul Qodir rahimahullah Ta’ala wa askanahu fasiha jinanih. Kenapa demikian? Karena beliau itu adalah pelanjut dari mu’assis Ma’had ini, Ma’had al-Munawwir, yang dimulai dari Mbah KH. Munawwir bin Abdullah Rosyad, kemudian dilanjutkan oleh KH. Raden Abdul Qodir, dilanjutkan oleh Bapak KH. Ahmad Munawwir, dilanjutkan oleh Bapak KH. Najib Abdul Qodir. Ini semua adalah merupakan rangkaian para pembawa bendera al-Qur’an di Indonesia. Semua orang sudah menerima, semua orang sudah mengakui keberadaan Pesantren Krapyak sebagai Bendera al-Qur’an di Indonesia. Bahkan sudah ada penelitian dari lembaga Pentashihan Mushaf al-Qur’an Kementerian Agama RI terhadap sosok Mbah Munawwir ini. 

Kita sebagai Bangsa Indonesia harus bersyukur atas adanya bendera al-Qur’an di sini. Dan kita tahu bahwa Mbah Munawwir itu kulakan al-Qur’an itu langsung dari Mekah al-Mukarramah. Dan itu beberapa tahun lamanya. Kulakan tahfidzul-Qur’an, dilanjutkan Qira’at Sab’ah, dan ilmu-ilmu selain itu. Menghafalkan al-Qur’an di Tanah Suci Mekah, mengambil dan talaqqi al-Qur’an dari para huffadz al-Qur’an yang mempunyai silsilah yang bersambung sampai kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wasallam. Jadi ini adalah merupakan salah satu kebanggan kita yang telah bisa memberikan andil dalam penyebaran al-Qur’an di Indonesia. 

Sering saya katakan kepada para santri bahwa inilah bentuk keberkahan al-Qur’an. Krapyak yang tadinya sebagai desa yang sepi, yang orang dulu bilang banyak orang-orang nakal di sini, tapi berkat Mbah Munawwir akhirnya disulap menjadi terang-benderang oleh nur al-Qur’an. Mbah Munawwir sengaja tidak banyak ikut urusan Keraton. Beliau ingin (fokus) mengembangkan al-Qur’an di Krapyak ini. Dan ternyata hasil dari pengembangan itu, beliau mampu menciptakan kader-kader yang sangat mumpuni. Sudah banyak sekali. Di antaranya ada Mbah KH. Arwani Amin, yang kalau kita lihat kader-kader Mbah Munawwir yang bergerak di bidang al-Qur’an ini, pada akhirnya mereka mempunyai pesantren-pesantren yang besar-besar. Bahkan misalkan cucu muridnya, seperti Mbah KH. Mufid Mas’ud, yang mengaji kepada Mbah Raden Abdul Qodir, yang beliau mengaji kepada Mbah Munawwir, itu sekarang mempunyai santri yang berjumlah ribuan. Mbah KH. Muntaha di Wonosobo juga demikian. Mbah KH. Arwani juga begitu, menciptakan kader-kader yang lain.  

Kematian seorang alim itu adalah kerugian besar. Apalagi ini bab al-Qur’an al-Karim. 
مَوْتُ العالِمِ مَوْتُ العالَمِ
(Kematian seorang alim itu sama seperti kematian banyak orang.)
Dahulu ada seorang penyair berkata: 
وما كان قَيْسٌ هُلْكُهُ هُلْكَ وَاحِدٍ # وَلَكِنَّهُ بُنْيَانُ قَوْمٍ تَهَدَّمَا
Ada yang membacanya: 

وَما كان قَيْسٌ هَلْكُهُ هَلْكَ وَاحِدٍ # وَلَكِنَّهُ بُنْيَانُ قَوْمٍ تَهَدَّمَا

Qays yang merupakan pemuka Kabilah Qays yang besar, pada saat kematiannya, dianggap bukan merupakan kematian seorang semata, akan tetapi merupakan kematian dari bangunan yang demikian besar, karena Qays mampu menghimpun dan mempersatukan banyak kabilah. Begitu juga apabila ada seorang alim yang meninggal, maka itu bukan meninggalnya seorang pribadi Raden Najib Abdul Qodir, tapi ini adalah merupakan kematian dari banyak sekali. 

Para hadirin dan hadirat sekalian, 
Beliau KH. Raden Najib Abdul Qodir ini, sepengetahuan saya, adalah orang yang betul-betul ahlul Qur’an. Kalau saya perhatikan hadits-hadits yang berkaitan dengan fadla’ilul Qur’an, maka hadits-hadits itu ada pada diri beliau. Seperti hadits:
مَنْ شَغَلَهُ القرآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ ما أُعْطِي السائلِيْنَ 
(Orang yang disibukkan oleh al-Qur’an sehingga ia lupa meminta sesuatu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberikan kepadanya sesuatu yang lebih bagus daripada apa yang diminta oleh orang-orang yang meminta.)
Saya lihat, beliau itu adalah orang yang tiap hari al-Qur’an, tiap hari al-Qur’an. Saya mengaji sama beliau itu tahu 1973. Beliau sudah diberi mandat oleh Bapak KH. Ahmad Munawwir rahimahullah untuk menjadi guru di Komplek L sana. Saya setor kepada beliau dari awal sampai akhir Surat at-Tawbah. Setelah itu diserahkan kepada Mbah Ahmad Munawwir. Ini adalah salah satu cara kaderisasi di sini. Rupanya Mbah Ahmad Munawwir sudah “tawassama fi syakhshiyyatih” (memberi tanda kebaikan pada diri) beliau, KH. Najib Abdul Qodir di masa depan. 

Sejauh pergaulan saya dengan almarhum, beliau itu mulai dari kecil dididik dengan suasana al-Qur’an. Setelah remaja, beliau sudah menjadi guru al-Qur’an. Dan setelah KH. Ahmad Munawwir wafat, beliau terus-menerus demikian. Bayangkan, sejak umur berapa beliau bersama al-Qur’an. Jadi beliau itu masuk dalam kategori:
شابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ 
(pemuda yang sibuk beribadah)
Dalam hadits (7 kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah di Hari Kiamat, saat di mana tiada perlindungan kecuali perlindungan Allah Ta’ala): 
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لا ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ 
karena beliau adalah:
شابٌّ نَشَأَ مَعَ القرآن الكريم
(orang yang semenjak kecil menyibukkan diri dengan al-Qur’an al-Karim).

Seandainya saya melihat hadits yang lain, yaitu: 
خَيْرُكُم مَنْ تَعَلَّمَ القرآنَ وَعَلَّمَهُ
(Barometer kebaikan seseorang adalah orang yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an.)
Maka beliau itu adalah orang yang masuk dalam kategori:
تَعَلَّمَ القرآنَ وَعَلَّمَ القرآنَ

Sama halnya kalau kita lihat lagi hadits lain:
إِنَّ اللهَ يَضَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ
(Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat suatu kaum melalui al-Qur’an al-Karim. Allah juga bisa mempurukkan seseorang dengan al-Qur’an manakala dia menistakan al-Qur’an.)

Demikian juga kalau kita melihat hadits yang lain: 
يُقَالُ لِصَاحِبِ القُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ، كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُهَا
(Dikatakan kepada Pemiik al-Qur`an: “Bacalah al-Qur`an dan naiklah (ke surga) serta tartilkan (bacaanmu) sebagaimana engkau membaca tartil sewaktu di dunia. Sesungguhnya kedudukan dan martabatmu di sisi Allah adalah berdasar akhir ayat yang engkau baca”.)

Maka beliau juga masuk dalam kategori hadits tersebut. Yang saya ketahui, beliau itu merupakan keturunan Mbah Munawwir yang kecintaannya terhadap al-Qur’an itu luar biasa. Bahkan yang saya dengar, pada waktu mondok di Mbah Arwani, beliau kalau nglindur 🙂 melindur saat tidur) itu dengan membaca al-Qur’an! Coba, nglindur saja baca al-Qur’an. Hal itu berarti:
القرآن في قَلبه، في لَحْمِهِ، وَجَسَدِهِ، وَدَمِهِ
(al-Qur’an sudah mandarah daging, ada dalam jiwa dan raga beliau.)
Jadi sudah seperti itu. Subhanallah. 

Kalau seandainya saya melihat lagi hadits: 
إِنَّ للهِ تعالى أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ. قَالُوا: مَنْ هُمْ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ :هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ، أَهْلُ اللهِ وَخَاصَّتُهُ
(Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dekat dari kalangan manusia. Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka, ya Rasulallah?” Rasul shallallah ‘alayh wasallam menjawab: Mereka adalah ahli Qur’an, dan mereka itulah orang-orang khusus dan terdekat-Nya.)
Dilihat dari kecintaan kepada al-Qur’an, tentu beliau termasuk itu. 

Saya juga melihat, beliau tidak pernah berkata yang tidak enak terhadap orang lain. Kalau seandainya percakapan menjurus ke situ, maka beliau akan membelokkannya. Beliau tidak ingin memasuki wilayah pribadi orang lain. Itu luar biasa. Jadi betul-betul lisannya terjaga, haliyah (perilaku)-nya terjaga, yang karena itu patut dijadikan panutan bagi kita sekalian, khususnya bagi para penghafal al-Qur’an. Seperti itulah sosok penghafal al-Qur’an. Jadi beliau betul-betul memperagakan dirinya sebagai ahlul-Qur’an al-Karim. 
Begitu juga bila kita mendengarkan satu hadits: 
مَنْ قَرَأَ القُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ القِيَامَةِ
(Siapa yang membaca dan mengamalkan apa yang ada di dalam al-Qur’an, maka kedua orang tuanya akan diberi mahkota di Hari Kiamat.)

Hadirin dan hadirat sekalian, 
Keberkahan al-Qur’an sudah tentu sangat besar sekali. Dan Allah sudah menyatakan di dalam al-Qur’an: 
وَهَٰذَا ذِكْرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلْنَٰهُ أَفَأَنتُمْ لَهُۥ مُنكِرُونَ. [سورة الأنبياء (٢١): ٥٠]
(Dan al-Qur’an ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?)

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ مُبَارَكٌ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ. [سورة الأنعام (٦): ١٥٥]
(Dan al-Qur’an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.)

كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓا ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا ٱلْأَلْبَٰبِ. [سورة ص (٣٨): ٢٩]
(Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.)
Ungkapan “mubarak-mubarak” ini mesti menjadi keyakinan kita, khususnya bagi para huffadz al-Qur’an, bahwa al-Qur’an al-Karim betul-betul merupakan kitab yang diberkahi. Kata ahli ilmu Balaghah, kalau Allah menggunakan kata-kata nakirah itu berarti untuk sesuatu yang tidak bisa dijangkau. “Kitab Mubarak” berarti kitab yang banyak sekali kebaikannya. Dan kebaikannya menetap di dalamnya. Jadi apabila keberkahan itu hinggap pada umur seseorang, maka umur itu menjadi berkah, walaupun umurnya sedikit. Seperti Imam Nawawi, yang walaupun umurnya hanya 55 tahun, akan tetapi beliau berhasil menyusun kitab-kitab yang hebat, seperti al-Arba’in an-Nawawiyah, Syarah Muslim, Riyadlush-Shalihin, al-Adzkar… Ini artinya umur yang berkah. Imam Syafi’i juga seperti itu. Meski umurnya tidak sampai 60 tahun, mulai 150-205 H., tetapi beliau mempunyai satu perangkat ilmu yang bisa dilaksanakan oleh ulama sesudahnya. Melalui kitab ar-Risalah, beliau berhasil membuat satu tonggak baru dalam cara-cara mengistinbat hukum Islam. Itu adalah umur yang berkah. 

Bila “berkah” itu ada pada suatu tempat, maka tempat itu akan banyak sekali keberkahan (kebaikan)-nya, baik yang bersifat maddiyah (materiil), atau yang bersifat ma’nawiyah (non-materiil). Seperti dalam ayat:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَٰلَمِينَ. [سورة آل عمران (٣): ٩٦]
(Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.)

Begitu juga ayat: 
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ. [سورة الإسراء (١٧): ١]
(Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.)
Jadi baik Mekah maupun Masjid Aqsha adalah tempat-tempat yang penuh berkah. 

Apabila keberkahan itu hinggap pada seseorang, maka orang itu pasti akan diakui oleh masyarakat sekitar. Al-Qur’an menyatakan: 
وَجَعَلَنِى مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَٰنِى بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱلزَّكَوٰةِ مَا دُمْتُ حَيًّا. [سورة مريم (١٩): ٣١]
(Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;)

 Begitulah. Dan al-Qur’an ini keberkahannya luar biasa. Ilmu-ilmu ke-Islaman itu asal-usulnya (bersumber) dari al-Qur’an al-Karim. Ilmu Balaghah merupakan hasil penelitian para ulama balaghiyyun, seperti ar-Rummani, al-Baqillani, al-Khaththabi…, yang mereka mencoba meneliti kehebatan al-Qur’an dari segi balaghahnya. Munculnya ilmu Nahw dan Sharaf juga karena al-Qur’an. Ilmu Hadits dan Mushthalah Hadits juga karena al-Qur’an, dan lain sebagainya. 

Jadi oleh karena itu, para santri-santri penghafal al-Qur’an sekalian, teruskanlah menghafal al-Qur’an. Dan seandainya kalian sudah hafal al-Qur’an, berarti Anda sudah menggenggam satu bongkahan emas. Dan itu sungguh merupakan salah satu modal yang besar dalam pengembangan ilmu-ilmu ke-Islaman selanjutnya. Karena seandainya mau mengambil jurusan Syari’ah, maka Anda sudah menghafalkan 500 ayat hukum. Seandainya Anda ingin melanjutkan di bidang kealaman, maka Anda sudah menghafal 700 ayat-ayat kauniyah. Demikian juga dengan ayat-ayat yang lain. Jadi Anda sudah mendapatkan bahan baku keilmuan Islam yang luar biasa. Tinggal bagaimana cara kita melanjutkannya. Oleh karena itu, saya menghimbau, jangan berhenti hanya pada menghafalkan al-Qur’an. Itu masih koma. Titiknya belum. Seandainya ada yang melanjutkan sampai ke Qira’at Sab’ah, maka itu bagus sekali, karena Qira’at Sab’ah masih dianggap sebagai ilmu yang masih belum banyak yang mempelajarinya. Apalagi sampai Qira’at ‘Asyhrah. Dan perlu diperhatikan dan dipelajari juga Ilmu ar-Rasm al-Utsmani, Ilmu Dlabt was-Syakl, Ilmu al-Waqf wal-Ibtida’, Ilmu tentang Tarikh Mushhaf al-Qur’an al-Karim... Sekarang di Kementerian Agama ada lembaga pentashih al-Qur’an al-Karim yang sangat membutuhkan orang-orang yang piawai dalam bidang tahfidzul Qur’an, agar bisa mentashhih mushaf-mushaf yang akan diterbitkan di Indonesia. Karena mushaf yang akan diterbitkan di Indonesia harus ditashhih terlebih dahulu oleh Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an. Dan yang dibutuhkan itu adalah seperti Anda-Anda sekalian, para huffadz al-Qur’an al-Karim. Tapi itu tidak cukup (hanya dengan hafalan al-Qur’an saja) ya. Perlu Anda mempelajari Ilmu ar-Rasm al-Utsmani. Pelajarilah kitab at-Tabyin li Hija’ at-Tanzil karya Imam Abu Dawud Sulayman ibn Najah. Anda perlu mempelajari kitab al-Muqni’ karya Imam Abu ‘Amr ad-Dani dan kitab al-Muktafa fil Waqfi wal Ibtida’. Anda perlu mempelajari ilmu qira’at, mempelajari kitab Faydlul Barakat karangan Mbah Arwani, Syathibiyyah, ad-Durrah al-Mudliyyah, Thayyibatun Nashr, dan lain sebagainya. Itu semua sangat dibutuhkan. 
Saya pernah ngobrol-ngobrol, kenapa Kementerian Agama memiliki lembaga Pentashihan Mushaf al-Qur’an, tapi kok tidak bisa mencetak atau tidak ada satu lembaga yang bisa mencetak orang-orang yang bisa mentashhih mushaf al-Qur’an al-Karim, karena untuk mentashhih mushaf al-Qur’an al-Karim memerlukan berbagai ilmu. Seperti mempelajari Ilmu Add al-Ay, yaitu bagaimana cara menghitung ayat-ayat al-Qur’an, bagaimana ilmu qira’at: Qira’at Mutawatirah, Qira’at Sab’ah, Qira’at Asyrah, mempelajari Ilmu ar-Rasm al-Utsmani, mempelajari Ilm adl-Dlabt wasy-Syakl dan ilmu-ilmu lain. 
Oleh karena itu, saya berharap, para huffadz dan santri-santri sekalian masih tetap di sini. Meninggalnya Bapak Kiai Najib tidak berarti bahwa di sini ada kekosongan. Bapak Kiai Abdul Hamid, adik Bapak Kiai Najib, sudah siap untuk melanjutkan hal ini. Saya ingat ayat: 
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ أَفَإِين مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ... [سورة آل عمران (٣): ١٤٤]
(Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?)

Kalau Nabi Muhammad itu meninggal, sebagaimana nabi-nabi terdahulu, maka apakah dengan meninggalnya Nabi Muhammad kamu akan menjadi kembali lagi menjadi orang-orang kafir?! Ya, berarti (menunjukkan) masih belum dewasa itu. Begitu juga, walaupun Bapak Kiai Najib Abdul Qodir sudah tidak lagi bersama kita, tapi kenangan-kenangan manisnya, ahwaliyahnya, haliyahnya, tata keramanya, tidak pernah marah… yang beliau seorang pendidik, seorang hafidz, yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan al-Qur’an al-Karim. Oleh karena itu marilah kita sama-sama menghidupkan bendera al-Qur’an di Krapyak ini sampai kapan pun juga, karena dengan ini Bangsa Indonesia akan terus mendapatkan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi dari Pesantren (seperti) Krapyak inilah kita bisa meruntuhkan rahmat Allah yang bergelantungan di langit, karena Nabi bersabda: 
مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلاّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ المـلائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ.
(Tidaklah suatu kaum berkumpul di dalam rumah-rumah Allah sambil membaca al-Qur’an, dan saling mempelajarinya di antara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan diberikan kepada mereka rahmat, serta malaikat akan senantiasa menaungi mereka. Dan mereka akan diingat di sisi Allah Ta’ala.)

Dan di sini tiap hari al-Qur’an dibaca terus. Yang karena itu rahmat Allah akan runtuh dan mengenai orang-orang yang berada di Krapyak, dan semua orang di persada negeri ini. 
Saya kira itu saja yang bisa saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya. 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Baca Juga

Komentar