Khawarij Era Dulu dan Kini

SO SHARP...! 😄

Seorang khawarij mendatangi Imam Hasan al Basri. Sang khawarij bertanya : "Apa pendapatmu tentang mereka yg menentang penguasa?" 

Al Basri menjawab: "Mereka adalah kaum yg mengejar kemegahan duniawi". 

Orang itu menimpali: "Apa yg membuatmu berpendapat seperti itu? padahal kami meninggalkan keluarga dan anak-anak kami, menghunuskan senjata demi memerangi kezaliman". 

Al Basri menjawab: "Katakan pendapatmu tentang penguasa, apakah ia menghalangimu sholat, melarangmu membayar zakat dan menunaikan haji?". 

Orang itu menjawab:"Tidak". 

Al Basri berkata: "Yang kulihat sesungguhnya adalah penguasa itu menghalangimu memperoleh kesenangan duniawi, dan engkau memeranginya agar kau dpt meraihnya"

(Kitab Al Basa'ir wal Dhaka'ir )

Ini saya peroleh dari sebuah WAG dan saya tidak bisa menahan tertawa membaca jawaban Al Basri ini. What a genius...! 😄😆

0 komentar:

Apakah Foto itu Haram?...



Keharaman gambar memang berdasarkan hadis sahih, yaitu:

ﻓﻘﺎﻝ ﺟﺒﺮﻳﻞ «ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺪﺧﻞ ﺑﻴﺘﺎ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﻻ ﻛﻠﺐ»

Jibril berkata kepada Nabi: "Sesungguhnya kami tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar dan anjing" (HR Bukhari dengan banyak redaksi hadis)

Namun yang perlu disahihkan adalah pemahaman apakah gambar hasil fotografi masuk dalam larangan hadis di atas?

Ternyata dalam masalah gambar dan foto dari kalangan ulama Salafi sendiri masih berbeda pendapat. Berikut beberapa pendapat yang membolehkan:

- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

وَسُئِلَ فَضِيْلَةُ الشَّيْخِ: عَنْ حُكْمِ التَّصْوِيْرِ الْفُوْتُوْغَرَافِي؟. فَأَجَابَ - حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى - بِقَوْلِهِ : الصُّوَرُ الْفُوْتُوْغَرَافِيَّةُ الَّذِي نَرَى فِيْهَا ؛ أَنَّ هَذِهِ الآلَةَ الّتِي تُخَرِّجُ الصُّوْرَةَ فَوْراً ، وَلَيْسَ لِلإِنْسَانِ فِي الصُّوْرَةِ أَيَّ عَمَلٍ ، نَرَى أَنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ بَابِ التَّصْوِيْرِ ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَابِ نَقْلِ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا اللهُ - عَزَّ وَجَلَّ - بِوَاسِطَةِ هَذِهِ اْلآلَةِ ، فَهِيَ انْطِبَاعٌ لاَ فِعْلَ لِلْعَبْدِ فِيْهِ مِنْ حَيْثُ التَّصْوِيْرُ ، وَاْلأَحَادِيْثُ الْوَارِدَةُ إِنَّمَا هِيَ فِي التَّصْوِيْرِ الَّذِي يَكُوْنُ بِفِعْلِ الْعَبْدِ وَيُضَاهِي بِهِ خَلْقَ اللهِ (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين - ج 2 / ص 205)

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya hukum gambar fotografi. Ia menjawab: "Gambar-gambar yang dihasilkan dari foto yang kami lihat di dalamnya yaitu alat tersebut mengeluarkan gambar secara cepat. Manusia tidak punya andil dalam gambar ini. Maka kami melihat bahwa foto ini tidak masuk dalam 'menggambar', namun sekedar memindah bentuk yang telah digambar oleh Allah dengan alat ini. Ini adalah alami, bukan perbuatan manusia dari segi menggambar. Sedangkan hadis-hadis yang telah ada hanya mengarah kepada menggambar pada perbuatan manusia yang dilakukan untuk menandingi ciptaan Allah" (Majmu' Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin 2/205)

Masalah ini juga difatwakan oleh Ibnu Utsaimin dalam kitab-kitab lainnya seperti Liqa'at al-Bab al-Maftuh 72/19 dan Durus wa Fatawa al-Haram al-Madani 1/33.

- Syekh Bin Baz

ثَانِيًا: الْمَجَلاَّتُ وَالْجَرَائِدُ الَّتِي بِهَا أَخْبَارٌ مُهِمَّةٌ وَمَسَائِلُ عِلْمِيَّةٌ نَافِعَةٌ وَبِهَا صُوَرٌ لِذَوَاتِ اْلأَرْوَاحِ يَجُوْزُ شِرَاؤُهَا وَاْلاِنْتِفَاعُ بِمَا فِيْهَا مِنْ عِلْمٍ مُفِيْدٍ وَأَخْبَارٍ مُهِمَّةٍ؛ لأَنَّ الْمَقْصُوْدَ مَا فِيْهَا مِنَ الْعِلْمِ وَاْلأَخْبَارِ، وَالصَّوَرُ تَابِعَةٌ وَالْحُكْمُ يَتْبَعُ اْلأَصْلَ الْمَقْصُوْدَ إِلَيْهِ دُوْنَ التَّابِعِ. (فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء - ج 2 / ص 359)

"Majalah dan Koran yang di dalamnya terdapat berita penting dan masalah ilmiah yang bermanfaat, yang didalamnya terdapat gambar-gambar yang memiliki roh, boleh diperjualbelikan dan mengambil manfaat darinya, yakni ilmu yang berfaedah dan kabar penting. Sebab tujuannya adalah yang terdapat di dalam majalah itu, berupa ilmu dan kabar berita, sedangkan gambar hanya mengikuti berita. Hukum berlaku pada tujuan (ilmu dan berita), bukan pada pelengkap (gambar)" (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta' 2/359)

- Syaikh Nasiruddin Al-Albani

وَلاَ فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ مَا كَانَ مِنْهَا تَطْرِيْزًا عَلَى الثَّوْبِ أَوْ كِتَابَةً عَلَى الْوَرَقِ ، أَوْ رَسْمًا بِاْلآلَةِ الْفُوْتُوْغَرَافِيَّةِ إِذْ كُلُّ ذَلِكَ صُوَرٌ وَتَصْوِيْرٌ ، وَالتَّفْرِيْقُ بَيْنَ التَّصْوِيْرِ الْيَدَوِيِّ وَالتَّصْوِيْرِ الْفُوْتُوْغَرَافِي ، فَيَحْرُمُ اْلأَوَّلُ دُوْنَ الثَّانِي (السلسلة الصحيحة - ج 1 / ص 355)

"Tidak ada perbedaan dalam gambar, baik yang dibentuk di baju atau yang ditulis di kertas, atau gambar dengan alat fotografi. Sebab semuanya adalah gambar dan menggambar. Perbedaan antara menggambar dengan tangan dan foto adalah haram yang pertama (dengan tangan), bukan yang kedua (foto)" (as-Silsilah ash-Shahihah 1/355)

- Ulama Sunni Mesir Dan Syafi'iyah

Mufti al-Azhar Syaikh Athiyah Shaqr juga mengeluarkan fatwa boleh:

عَلَى أَنَّهُمْ اسْتَثْنَوْا التَّصْوِيْرَ الشَّمْسِىَّ ، لأَنَّهُ حَبْسُ ظِلٍّ بِمُعَالَجَةٍ كِيْمَاوِيَّةٍ عَلىَ نَحْوِ خَاصٍّ ، وَلَيْسَتْ فِيْهِ مُعَالَجَةُ الرَّسْمِ الْمَعْرُوْفَةُ . (فتاوى الأزهر - ج 10 / ص 96)

"Para ulama mengecualikan gambar yang dihasilkan dengan cahaya (foto). Sebab hal itu merupakan merekam bayangan dengan alat dan cara tertentu. Dalam alat tersebut tidak ada bentuk menggambar yang telah diketahui" (Fatawa al-Azhar 10/96)

Dari ulama Syafiiyah Mutaakhkhirin, Sayid Alawi bin Ahmad Assegaf berkata:

وَانْظُرْ مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى فِي هَذِهِ اْلاَزْمِنَةِ مِنِ اتِّخَاذِ الصُّوَرِ الْمَأْخُوْذًةِ رَقْمًا بِالْفُوْتُوْغَرَافِ هَلْ يَجْرِي فِيْهِ هَذَا الْخِلاَفُ لِكَوْنِهَا مِنْ جُمْلَةِ الْمَرْقُوْمِ اَمْ تَجُوْزُ مُطْلَقًا بِلاَ خِلاَفٍ لِكَوْنِهَا مِنْ قَبِيْلِ الصُّوْرَةِ الَّتِي تُرَى فِي الْمِرْأةِ وَتَوَصَّلُوْا اِلَى حَبْسِهَا حَتَّى كَأَنَّهَا هِيَ كَمَا تَقْضِى بِهِ الْمُشَاهَدَةُ حَرِّرْهُ فَاِنِّي لَمْ اَقِفْ عَلَى مَنْ تَعَرَّضَ لِذَلِكَ مِنْ اَرْبَابِ الْمَذَاهِبِ الْمُتَّبَعَةِ وَعَلَى كٌلٍّ فَفِيْمَا نَقَلْتُهُ فُسْحَةٌ لِلنَّاسِ وَسَعَةٌ (ترشيح المستفيدين على فتح المعين للسيد علوي بن احمد السقاف صـ 324)  

"Lihatlah kejadian yang telah rata di masa sekarang dengan menjadikan gambar dari fotografi. Apakah hukum khilaf masalah gambar juga berlaku, sebab foto termasuk jenis gambar, atau boleh secara mutlak tanpa khilaf karena foto termasuk gambar yang terdapat di dalam cermin, dan mereka berusaha mengambil gambarnya sebagaimana yang bisa disaksikan. Perhatikanlah! Sebab saya tidak menemukan pendapat ulama yang menyinggungnya dari madzhab-madzhab yang diikuti. Atas semua itu, apa yang telah saya kutip (dari khilaf ulama) adalah sebuah keleluasaan bagi manusia" (Tarsyih al-Mustafidin ala Fath al-Mu'in Hal. 324)

Wa akhiran, ketika mereka mengharamkan foto dipajang ternyata memakai foto-foto yang ada di Indonesia. Coba saja pakai foto Raja-raja Arab Saudi di bawah ini....

Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

0 komentar:

Apakah Lelaki Dewasa yang Meminum ASI Dapat Menjadi Anak Persusuan?





Beberapa hari lalu sempat didiskusikan perihal seorang suami yang "meminum" ASI. Apakah lantas istrinya menjadi mahram ibu susuan?

Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan:

ﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ﻗﺎﻟﺖ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ اﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻓﺘﻖ اﻷﻣﻌﺎء ﻓﻲ اﻟﺜﺪﻱ، ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ اﻟﻔﻄﺎﻡ»: «رواه الترمذي وقال ﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ»

Dari Ummi Salamah, sabda Rasulullah shalla Allahu alaihi wasallama: "Menyusui tidaklah menjadikan mahram kecuali yang dapat mengenyangkan perut bayi dari ASI, sebelum dipisah [2 tahun]" (HR Tirmidzi ua menilai hasan-sahih)

ﻭاﻟﻌﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻋﻨﺪ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ: ﺃﻥ اﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺩﻭﻥ اﻟﺤﻮﻟﻴﻦ، ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪ اﻟﺤﻮﻟﻴﻦ اﻟﻜﺎﻣﻠﻴﻦ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﺷﻴﺌﺎ

Inilah yang diamalkan oleh para ulama dari para Sahabat Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama bahwa menyusui tidak menjadikan mahram kecuali bagi anak sebelum 2 tahun. Menyusui setelah lewat 2 tahun maka tidak berpengaruh pada status mahram (Jami' at-Tirmidzi)

Syaikh Mustafa Daib al-Bigha juga menjelaskan:

ﻭﻗﺪ ﺫﻫﺐ ﻋﺎﻣﺔ ﻋﻠﻤﺎء اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ - ﻭﻣﻨﻬﻢ اﻷﺋﻤﺔ اﻷﺭﺑﻌﺔ - ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺭﺿﺎﻉ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺗﺠﺎﻭﺯ اﻟﺴﻨﺘﻴﻦ ﺳﻦ اﻟﺮﺿﺎﻉ ﻻ ﺃﺛﺮ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﻤﺤﺮﻣﻴﺔ ...

Mayoritas ulama, diantaranya Imam 4 madzhab, berpendapat bahwa susuan orang dewasa yang lebih dari 2 tahun yang tidak memiliki pengaruh dalam hal nasab. (Ta'liq Sahih al-Bukhari 5/81)

Hari ASI se Dunia...

Ma'ruf Khozin, anggota PW LBM NU Jatim

0 komentar:

Hukuman Mati dalam Agama Samawi dan Konstitusi Indonesia


Hukuman mati tidak hanya dijumpai dalam umat Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama namun juga bagi agama Yahudi sebagaimana dijelaskan dalam al-Maidah: 45.

Hukuman mati berlaku pada 3 bentuk dosa besar berikut:

ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻻ ﻳﺤﻞ ﺩﻡ اﻣﺮﺉ ﻣﺴﻠﻢ، ﻳﺸﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺇﻻ ﺑﺈﺣﺪﻯ ﺛﻼﺙ: اﻟﻨﻔﺲ ﺑﺎﻟﻨﻔﺲ، ﻭاﻟﺜﻴﺐ اﻟﺰاﻧﻲ، ﻭاﻟﻤﺎﺭﻕ ﻣﻦ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺘﺎﺭﻙ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ " رواه البخاري ومسلم

Dari Abdullah ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: "Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Aku (Muhammad) adalah utusan Allah, kecuali karena 3 hal, (1) Membunuh sesama manusia (2) Orang yang sudah menikah berbuat zina (3) Orang murtad yang telah keluar dari Islam yang meninggalkan kelompok Islam" (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan bagi bandar narkoba digolongkan dalam kejahatan besar yang dapat merusak generasi pembunuh massal juga dihukum mati seperti dalam al-Maidah: 33.

Di dunia militer pun hukuman mati juga dibenarkan, yaitu pada masalah disersi, pasukan yang berkhianat bersekongkol dengan musuh.

Mahkamah Konstitusi pernah menerima Judicial Review tentang hukuman mati oleh terpidana Bali Nine pada 30 Oktober 2007 dan MK menolak serta menegaskan bahwa hukuman mati tidak melanggar Konstitusi Negara maupun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Kalau telah sah secara pandangan Agama dan Negara, mengapa hukuman mati selalu diperdebatkan saat ada eksekusi mati?

0 komentar:

Apakah Arwah di Alam Kubur Dapat Mendoakan Untuk Orang Hidup?




Mari perhatikan hadis yang dinilai sahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah:

 ﺇﺫا ﻗﺒﻀﺖ ﻧﻔﺲ اﻟﻌﺒﺪ ﺗﻠﻘﺎﻩ ﺃﻫﻞ اﻟﺮﺣﻤﺔ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩ اﻟﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﻠﻘﻮﻥ اﻟﺒﺸﻴﺮ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻓﻴﻘﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻴﺴﺄﻟﻮﻩ، ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻟﺒﻌﺾ: ﺃﻧﻈﺮﻭا ﺃﺧﺎﻛﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻛﺮﺏ، ﻓﻴﻘﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﻴﺴﺄﻟﻮﻧﻪ: ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻓﻼﻥ؟ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﺖ ﻓﻼﻧﺔ؟ ﻫﻞ ﺗﺰﻭﺟﺖ؟ ﻓﺈﺫا ﺳﺄﻟﻮا ﻋﻦ اﻟﺮﺟﻞ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻗﺒﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻬﻢ: ﺇﻧﻪ ﻗﺪ ﻫﻠﻚ، ﻓﻴﻘﻮﻟﻮﻥ: ﺇﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺭاﺟﻌﻮﻥ، ﺫﻫﺐ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻪ اﻟﻬﺎﻭﻳﺔ، ﻓﺒﺌﺴﺖ اﻷﻡ ﻭﺑﺌﺴﺖ اﻟﻤﺮﺑﻴﺔ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻴﻌﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻬﻢ، ﻓﺈﺫا ﺭﺃﻭا ﺣﺴﻨﺎ ﻓﺮﺣﻮا ﻭاﺳﺘﺒﺸﺮﻭا ﻭﻗﺎﻟﻮا: ﻫﺬﻩ
ﻧﻌﻤﺘﻚ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺪﻙ ﻓﺄﺗﻤﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﺭﺃﻭا ﺳﻮءا ﻗﺎﻟﻮا: اﻟﻠﻬﻢ ﺭاﺟﻊ ﺑﻌﺒﺪﻙ ".

Jika seorang hamba wafat maka ruhnya berjumpa dengan hamba-hamba Allah yang penyayang, seperti mereka berjumpa dengan pemberi kabar gembira di dunia. Mereka menemuinya untuk bertanya. Sebagian mereka berkata: "Tunggu sebentar saudara kalian ini agar ia istirahat. Sebab ia mengalami kesulitan (karena baru meninggal)". Mereka bertanya kepadanya: "Apa yang dilakukan fulan? Apa yang dilakukan fulanah, apakah ia menikah lagi?". Jika mereka bertanya tentang seseorang yang telah mati sebelumnya, ia menjawab: "Orang tersebut telah binasa". Mereka lalu membaca inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Ia telah kembali bersama ibunya ke neraka Hawiyah. Betapa buruk ibu dan anak didiknya. Lalu ia berkata: "Lalu ditunjukkan kepada mereka amal anak-anaknya (yang masih hidup). Jika mereka melihat amal baik maka mereka senang dan bahagia serta berkata: "Ini adalah nikmat dari Mu kepada hamba Mu, maka sempurnakanlah nikmatnya". Jika mereka melihat amal buruk maka mereka berkata: "Ya Allah, kembalikanlah hamba Mu"

Ulama Salafi-Wahabi Syaikh Albani berkata:

ﺃﺧﺮﺟﻪ اﺑﻦ اﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﻓﻲ " اﻟﺰﻫﺪ " (149 / 443)

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam al-Zuhd (149/443)

 ﻗﻠﺖ: ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ ﻟﻜﻨﻪ ﻣﻨﻘﻄﻊ ﺑﻴﻦ ﺛﻮﺭ ﺑﻦ ﻳﺰﻳﺪ ﻭﺃﺑﻲ ﺭﻫﻢ. ﻭﻗﺪ ﻭﺻﻠﻪ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﺳﻼﻡ اﻟﻄﻮﻳﻞ ﻓﻘﺎﻝ: ﻋﻦ ﺛﻮﺭ ﻋﻦ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺪاﻥ ﻳﻌﻨﻲ: ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﻫﻢ ﺭﻓﻌﻪ. ﺃﺧﺮﺟﻪ اﺑﻦ ﺻﺎﻋﺪ ﻓﻲ ﺯﻭاﺋﺪ " اﻟﺰﻫﺪ " (444)

Saya (al-Albani) berkata: Para perawinya terpercaya, tapi terputus antara Tsaur dan Abu Rahm. Dan sungguh disambungkan dan dimarfu'kan kepada Nabi oleh Salam al-Thawil, dari Tsaur, dari Khalid bin Ma'dan....

Redaksi doa dalam riwayat Thabrani adalah:

ﻓﻴﻘﻮﻟﻮﻥ: اﻟﻠﻬﻢ ﺃﻟﻬﻤﻪ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﺗﺮﺿﻰ ﺑﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺗﻘﺮﺑﻪ ﺇﻟﻴﻚ ".

Mereka (para Arwah) berkata: " Ya Allah tunjukkan padanya amal saleh yang Engkau ridlai dan dekatkan dia kepada Mu"

Doa dari alam kubur dalam riwayat Ahmad dan al-Thayalisi:

 ﻗﺎﻟﻮا: اﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﻤﺘﻬﻢ، ﺣﺘﻰ ﺗﻬﺪﻳﻬﻢ ﻛﻤﺎ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ "

"Ya Allah, jangan matikan mereka hingga Engkau memberi hidayah kepada mereka, seperti Engkau memberi hidayah pada kami"

Ma'ruf Khozin, Nara Sumber Hujjah Aswaja tv9

0 komentar:

Salat Gerhana dalam Mazhab Syafii




(Diterjemah dan diringkas oleh Masyhari dari Kitab "Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Mazhab Al Imam Asy Syafi'i", juz 1)

Pengertian
Kusuf (gerhana matahari), yaitu peristiwa tertutupnya cahaya matahari oleh bulan, pada siang hari, baik sebagian atau total.

» Khusuf (gerhana bulan), yaitu tertutupnya cahaya bulan oleh matahari, pada malam hari, baik sebagian atau total.

» Salat Gerhana
Secara historis, salat gerhana matahari disyariatkan untuk pertama kalinya pada tahun kedua hijriyah. Sedangkan salat gerhana bulan disyariatkan pertama kalinya pada tahun kelima hijriyah.

» Hukum salat gerhana "Sunnah Muakkad", berdasarkan dalil hadis Nabi saw:

"إن الشمس والقمر من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم "

Artinya, "Matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena sebagai pertanda kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, salatlah dan berdoalah hingga gerhana usai."

» Kedua, berdasarkan perbuatan Nabi saw yang menjalankan salat gerhana.

» Salat gerhana tidak diwajibkan (tapi sunnah muakkad) karena pernah suatu ketika Nabi saw ditanya oleh seorang Badui tentang salat wajib selain 5 waktu. Lantas beliau saw menjawab, "Tidak ada. Kecuali salat sunnah." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

» Salat gerhana disunnahkan secara berjamaah. Andaipun sendirian tetap sah.

» Sebelum salat diucapkan:
الصلاة جامعة
"Ashshalatu jaami'ah"

» Tata Caranya:
Salat gerhana dilakukan dua rakaat, dengan niat salat kusuf untuk gerhana matahari, dan niat salat khusuf untuk gerhana bulan.

» Terdapat dua versi cara:
- Pertama: Minimalis dan Sudah dianggap sah.
Caranya sebagaimana salat Jumat, dua kali berdiri, dua bacaan, dua ruku', dan tidak diperpanjang bacaannya.
Tapi, model semacam ini tidak utama, karena berbeda dengan tata cara yang dilakukan oleh Nabi saw.

- Kedua: Cara Maksimalis dan lebih sempurna.
Yaitu dilakukan dua raka'at. Setiap rakaat berdiri dengan bacaan yang panjang.
Setiap rakaat ada dua kali ruku' dan dua kali bacaan. Sehingga, dalam dua rakaat, menjadi empat ruku'. Ruku' dilakukan dengan lama, lebih lama daripada salat biasa.

» Selesai salat, imam berdiri untuk berkhutbah dua kali sebagaimana khutbah Jumat.

» Pada salat gerana bulan, bacaan AlFatihah dan Surat dikeraskan (jahr). Sementara salat gerhana matahari dipelankan (sirr).

» Selain salat gerhana, perbanyak dzikir, doa, istighfar, takbir dan sedekah, dimulai awal gerhana hingga selesai gerhana.

» Tidak ada qadha' bagi yang meninggalkan salat gerhana. Bila gerhana telah usai, namun Anda belum salat, maka usailah waktu pelaksanaan salat gerhana, dan tidak perlu diqadha'.

» Disunnahkan mandi sebelum salat gerhana sebagaimana sebelum salat Jumat.

Wallahu a'lam

Cirebon, 15 Dzulqa'dah 1438 H/ 07 Agustus 2017 M

0 komentar: