Fasholatan KH Muhammad Soleh Darat 2: Mengurai Makna Salat

Terjemah Kitab Fasholatan #2
Oleh Nur Ahmad

Membaca Alfatihah
Setelah itu ucapkanlah 
اعوذ بالله من الشيطن الرجيم
Maksudnya, hamba mencari perlindungan dan penjagaan kepada Allah dari rayuan syaitan, hawa nafsu, dan syahwat yang terus-menerus mengajak buruk.
Kemudian ucapkanlah
بسم الله الرحمن الرحيم
Maksudnya, shalat hamba ini terlaksana berkat dengan pertolongan Allah Yang Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya. Dia juga Yang Maha Pengasih kepada orang-orang mukmin, yaitu dengan memberi taufik sehingga mereka berkenan melaksanakan shalat.
Maka setelah itu ucapkanlah:
الحمد لله
Maksudnya yaitu sifat sempurna hanya milik Allah. Jika Allah berkenan memberi pertolongan kepada hamba-Nya, maka hamba yang hina ini akan diberi kemampuan melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat.
Lalu ucapkan:
رب العلمين
Yaitu Allah adalah Dzat Yang Merajai dan Yang Mengatur seluruh alam. Yaitu Allah selalu menyediakan kebutuhan hamba-Nya. Baik yang berupa kebutuhan duniawi maupun ukhrowi. Sebagian hambanya ada yang dikaruniai taufik rajin beribadah dan sebagian lainnya dikaruniai taufik ilmu ma'rifah.
الرحمن الحيم
Maksudnya, Allah adalah Dzat Yang memberi kemurahan dengan menjadikan seorang hamba ahli ibadah kepada Allah. Termasuk kemurahannya juga adalah dengan menjadikan manusia subjek yang diajak bicara oleh wahyu dan yang berdialog dalam munajat. Allah adalah Dzat Yang mengasihi manusia dalam keadaan susah dan hina. Kemudian Allah mengaruniakan manusia kehendak untuk taat dan shalat.
ملك يوم الدين
Maksudnya, Allah adalah Dzat Yang menguasai dan merajai seluruh makhluk kelak di hari kiamat. Allah adalah Yang menguasai terwujudnya hari kiamat. Dialah Yang memberi hukum kepada seluruh orang yang beragama.
اياك نعبد واياك نستعين
Artinya, sungguh hamba menyembah-Mu ya Allah karena pertolongan dan kasih-Mu kepada hamba. Dan hanya kepada-Mu ya Allah, hamba memohon pertolongan atas seluruh perkara hamba, sehingga menjadi baik menurut-Mu ya Allah. Hamba pasrah kepada-Mu ya Allah.
اهدنا الصراط المستقيم
Yaitu, semoga Engkau, Ya Allah, memberi petunjuk kepada hamba kepada agama yang benar. Semoga Engkau juga mengaruniakan kepada hamba mampu menyusuri jalan yang lurus, benar, dan baik menurut-Mu.
صراط الذين انعمت عليهم
Jalan yang lurus (الصراط المستقيم) itu adalah jalan hidup, perilaku, dan cara beragama para nabi Allah dan para Waliyullah yang telah Engkau, Ya Allah, karuniai nikmat kepada mereka semua.
غير المغضوب عليهم ولاالضالين
Jalan lurus (الصراط المستقيم) itu bukanlah cara beragama yang Engkau benci Ya Allah.  Jalan lurus itu juga bukan pula jalannya orang-orang yang telah Engkau sesatkan. Cara beragama yang Allah benci adalah cara beragama kaum Yahudi. Sedangkan cara beragama yang Allah sesatkan adalah caranya kaum Nasrani. Oleh sebab itu, arti "Jalan Lurus" (الصراط المستقيم) adalah selain keberagamaan kaum Nasrani dan kaum Yahudi. Itulah agama Islam yang telah dijalankan oleh para utusan, para nabi, dan para wali.
Bersambung...

0 komentar:

Fasholatan KH. Sholeh Darat 1: Mengurai Makna Salat

Terjemahan Kitab Fasholatan Karya K.H. Sholeh Darat As-Samarani (1820-1903). #1
Oleh Nur Ahmad.

Pembukaan

Hendaknya semua orang yang shalat mengerti makna bacaan yang mereka baca ketika shalat. Oleh sebab itu, hendaknya mereka mengaji kitab ini. Ia adalah kitab karya 'Alim yang memiliki keutamaan, sikap wara' dan kesempurnaan budi pekerti, Syaikh Haji Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani. Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya dan seluruh umat muslim. Amin.


بِسمِ اللهِ الرَّحمٰنِ الرَّحِيم

Persiapan Shalat

Ketahuilah bahwa ketika kamu telah bersuci secara lahiriah dengan berwudhu sesuai dengan hukum syariat. Jika kamu junub, kamu hendaknya telah mandi junub sesuai hukum syariat pula. Yaitu, keduanya kamu lakukan sesuai dengan yang telah diterangkan dalam kitab-kitab fikih. Setelah itu, kamu hendak melaksanakan shalat wajib karena mengikuti perintah syariat, maka menghadaplah ke kiblat. Pastikan tempat shalatmu dan juga hatimu telah bersih dari najis. Setelah itu, hadapkanlah dadamu secara lahir dan hadapkanlah hatimu secara rohaniah ke arah kiblat.

Memasuki Shalat

Dalam keadaan seperti ini, berniatlah mengikuti perintah Allah swt. sesuai dengan contoh yang diberikan Baginda Rasulullah saw. Berniatlah juga mencari keridhaan Allah swt. dengan cara menghadap dengan rendah diri kepada-Nya. Jagalah kesadaran ini dengan kukuh selama melaksanakan shalat.

Takbir

Kemudian ucapkanlah: 'Allahu Akbar'. Yaitu hatimu berkata bahwa sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Agung kekuasaan-Nya; tidak ada yang agung selain Allah; dan tidak ada tuhan selain Allah. Jangan sekali-kali kamu menduga bahwa ada satu makhluk pun yang memiliki sifat keagungan dan sifat kemuliaan ini. Allah semata yang memiliki kedua sifat agung ini dan tidak ada satu makhluk pun yang menyekutui Allah.


Doa iftitah

Setelah takbir, ucapkanlah:

وَجَّهتُ وَجهِيَ

Yaitu Hamba menghadap kepada Tuhan. Hamba hadapkan wajah dan hati hamba kepada (bacalah):

لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالأَرض

Dzat Yang telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi. Artinya hamba menghadap untuk mengikuti perintah Dzat Yang telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi beserta isinya. Lalu hadapkanlah dadamu secara lahir kepada baitullah. Juga hadapkanlah hatimu secara rohaniah kepada Allah Yang memerintahkan shalat.

Lalu lanjutkan bacaan:

حَنِيفًا مُسلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Maksudnya hendaknya hati seorang yang sedang shalat itu menghadap lurus dan fokus kepada Allah dan tidak menoleh ke kiri dan ke kanan. Seorang yang shalat hendaknya meneguhkan dalam hatinya bahwa dia semata-mata menghadap Allah dan menjalankan perintah Allah. Tujuannya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah dan tidak sekali-kali dia berontak terhadap perintah ini. Dia hendaknya tidak pula menyekutukan tujuan shalat ini dengan cara melakukan shalat karena mengikuti perintah selain Allah. Ucapkanlah dalam hatimu "hamba hanya menuju kepada Engkau semata Ya Allah, tidak selain Engkau".

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَى وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ العٰلَمِينَ

Maksudnya sesungguhnya shalat hamba, seluruh ibadah hamba, hidup dan mati hamba, seluruhnya adalah milik Allah سُبحَانَهُ وَتَعَالَى Yang merajai seluruh alam.

Lalu ucapkanlah:

لاشريك له وبذلك امرت وانا من المسلمين

Maksudnya, tidak ada yang berserikat dengan Allah dan tidak ada yang menyerupai Allah dalam keagungan-Nya. Sebaliknya segala sesuatu menjadi hamba Allah. oleh karena itu, hamba melaksanakan shalat dan seluruh ibadah. Hamba adalah orang yang pasrah dan tunduk mengikuti apapun kehendak dan perintah-Mu Ya Allah.

Bersambung...

0 komentar:

Kupu Kupu Kehidupan


Mereka yang tidak peduli dengan 'tirakat' sama seperti ulat. Rakus, memakan semua yang bisa dimakan. Bahkan tak segan-segan mengahabisi daun-daun hijau yang tumbuh segar. Benar-benar habis hingga tak tersisa sedikitpun.

Tirakat menurut masyarakat Jawa adalah proses menahan hawa nafsu dari keinginan duniawi. Menjaga perut agar tidak terlalu kenyang. Menjaga mata dari pandangan penuh dosa. Menjaga bibir untuk selalu basah dengan dzikir, dlsb. Begitulah orang Jawa memaknai tirakat. Sebuah proses pengejawentahan diri menuju pribadi yang lebih baik.

Senada dengan pendapat masyarakat Jawa, dalam KBBI, tirakat bermakna menahan hawa nafsu (seperti berpuasa, berpantang dlsb) dan dapat pula bermakna mengasingkan diri ke tempat yang sunyi (di gunung dlsb).

Meski tujuan dan manfaat tirakat tidak pernah disebutkan secara langsung, namun kita dapat memahaminya melalui fenomena alam yang ada. Hal ini sangat logis karena ayat-ayat Allah swt tidak hanya termaktub dalam Alqur'an, melainkan semua hal yang tersebar di jagad raya. Dengan mengamati peristiwa yang terjadi di sekitar, kita juga telah membaca firman Tuhan. Ya, firman Tuhan dalam ayat-ayat semesta. 

Ulat yang kita bicarakan diawal tulisan akan melaksanakan tirakatnya menuju makhluk yang lebih indah. Pada tahap awal, ulat akan berubah menjadi kepompong, makhluk yang berbeda 180 derajat dengan sebelumnya. Setelah menjadi kepompong, ulat tak lagi rakus seperti sebelumnya. Ia benar-benar melaksanakan tirakat yang sempurna. Tidak makan dan minum selama hampir satu bulan penuh. Persis seperti seseorang yang sedang bertapa, kepompong tak peduli dengan panas dan hujan yang datang silih berganti. Ia akan tetap menggantung pada ranting atau di bawah dedaunan yang hijau hingga tirakatnya selesai. Kepompong yang kuat menjalani proses tirakatnya akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Menjelma serangga indah yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Sementara yang gagal dalam proses itu akan binasa. Tubuhnya hancur tak bersisa dan menjadi kepompong yang kopong (kosong).

Begitulah, walaupun dianggap makhluk menjijikkan bagi sementara orang, namun setelah tirakat, ulat akan berubah menjadi serangga kecil yang indah dan mempesona. Ya, serangga itu bernama kupu-kupu. Hewan kecil yang tidak hanya disenangi anak-anak tapi juga orang dewasa. Bahkan remaja putri sangat mengagumi kupu-kupu karena pesona keindahan sayapnya.

Demikian juga dengan manusia, mereka yang sanggup menjalani laku tirakat dengan sempurna akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan tidak mungkin, seseorang yang awalnya selalu malas mematuhi aturan, setelah tirakat, menjadi sangat disiplin. Bukan tidak mungkin, para preman yang akhirnya bertaubat dan menjalani laku tirakat dapat menjadi sosok yang sangat sopan dan patuh terhadap perintah-perintah Tuhan.

Meski hampir sama, namun laku tirakat pada manusia tetap memiliki perbedaan dengan kupu-kupu. Bagaimanapun, kupu-kupu adalah hewan tak berakal dan tidak dengan manusia. Laku tirakat pada manusia boleh dilaksanakan oleh orang lain. Misal, seorang ibu melakukan tirakat khusus untuk anaknya. Setulus hati dan istiqomah bangun pada sepertiga malam untuk menunaikan tahajud dan melangitkan doa-doa terbaik untuk sang buah hati. Berpuasa setiap hari kelahiran putranya sembari terus memohonkan kebaikan untuknya. Bagi ayah, laku tirakat bisa dilaksanakan dengan berusaha sekuat tenaga mencari rizki yang baik dan halal untuk kelangsungan hidup keluarga. Dan, laku tirakat ini akan sempurna manakala sang anak juga mengimbangi dengan tirakat serupa. Bagi anak, dalam masa pendidikan, laku tirakat dapat dilaksanakan dengan rajin belajar, disiplin dan mengikuti seluruh peraturan yang dibuat, patuh dan hormat kepada guru, menghargai yang lebih besar, serta mengasihi yang lebih kecil.

Dari siklus metamorfosis ulat, kepompong, dan kupu-kupu, kita juga belajar untuk tidak mudah menjustifikasi orang lain. Bisa jadi orang yang kita nilai buruk sejatinya tengah menuju proses metamorfosis (tirakat) untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, orang yang kita sebut-sebut telah paripurna menjalani laku tirakat sejatinya masih dalam proses. Kita tak pernah tahu ending kehidupan kita. Apakah berakhir baik (husnul khotimah) ataukah berakhir buruk (su'ul khotimah). Yang jelas, tirakat dapat dijadikan satu alternatif untuk menjemput happy ending. Jangan berharap lebih baik jika tak mau tirakat. Apapun tirakatnya, lakukanlah sekarang juga karena kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput.

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 14/01/2018

0 komentar:

Menanam, Merawat, dan Menuai

MENANAM, MERAWAT, DAN MENUAI (Simbol Kehidupan Menuju Kesuksesan Sejati)

Saya yakin, kita semua pernah mendengar bahkan (mungkin) sangat hafal dengan peribahasa "Siapa yang Menanam, Pasti Akan Menuai." Pepatah kehidupan ini disajikan dengan bahasa simbolik, yaitu melukiskan sesuatu dengan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Setidaknya, terdapat dua kata kunci dalam peribahasa ini, menanam dan menuai. Keduanya merupakan simbol dan perlambang dari seluruh kegiatan kausalitas (sebab-akibat). Bila kita menanam maka kita akan menuai, bila matahari terbit maka tiba waktu pagi, bila hujan maka basah, bila malam maka gelap, bila rajin maka pandai, bila sungguh-sungguh maka berhasil, begitu seterusnya.

Jika dicermati lebih lanjut, sesungguhnya terdapat satu kata kunci yang hilang dari peribahasa di atas. Kata kunci yang sebenarnya tak kalah urgen dari dua kata sebelumnya (menanam dan menuai). Ya, merawat, salah satu kata dalam judul tulisan ini. Siapa saja yang menanam maka ia akan merawat dan selanjutnya (boleh jadi) akan menuai.

Janji akan menuai setelah menanam hanya mengajarkan kita untuk abai terhadap proses. Kita sangat ingin menggapai hasil yang maksimal meski baru satu kali berusaha. Pendidikan jadi bertujuan hanya untuk mendapatkan nilai-nilai di ijazah saja, kurang konsen dengan proses. Merawat (menurutku) identik dengan istiqomah menjaga tanaman sampai waktu panen tiba. Bukan tiba-tiba menanam langsung panen (menuai).

Disadari atau tidak, generasi saat ini telah sampai pada titik yang sangat menggemaskan. Bagaimana tidak, kita saat ini terlalu bangga dengan bibit unggul yang kita miliki. Sesumbar telah menanamnya di ladang yang sangat subur. Namun selanjutnya abai untuk merawat bibit yang kita gadang-gadang tadi. Ketahuilah, bibit sehebat apapun, meski ditanam di ladang paling subur di dunia sekalipun, tanpa dirawat, pasti akan layu. Dan hasilnya jelas, pasti akan gagal panen.

Seperti tanaman yang perlu dirawat dengan diberi pupuk, disemprot dengan pestisida agar terhindar dari hama, disiangi agar pertumbuhannya berjalan dengan baik, dlsb. Maka, kebaikan yang ada pada diri kita juga perlu dirawat sedemikian rupa agar tidak layu dan berguguran. Kita boleh menanam apa saja tapi tidak boleh lupa untuk selalu merawatnya.

Kecerdasan dan motivasi yang tinggi untuk terus belajar juga harus dirawat. Diberi pupuk dengan diskusi-diskusi rutin, dengan buku-buku yang kaya vitamin dan protein. Disemprot dengan nasihat-nasihat yang dapat membersihkan hati dari hama takabur. Dan yang terpenting, disiangi dengan selalu melatih dan menggali seluruh potensi yang ada. Jika proses ini dilaksanakan dengan baik, maka waktu menuai yang dijanjikan akan menjadi kenyataan.

Semangat dan potensi untuk menulis juga begitu. Prestasi di bidang apapun, mudah menghafal dan memahami pelajaran, suka bersedekah, rajin menolong, selalu melaksanakan sholat malam, puasa sunnah, dan segala hal baik lainnya. Tanpa dijaga dan dirawat dengan baik, seluruh potensi dan hal-hal baik itu akan hilang diterpa zaman. Pohon kebaikan itu akan layu, dan bisa saja berubah menjadi pohon keburukan.

Pentingnya proses menjaga dan merawat juga pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, makhluk paling mulia di dunia. Rasul berpesan, "Sebaik-baik perkara adalah yang dilakukan terus-menerus, meski hanya sedikit". Imam Ghozali juga mengatakan hal yang sama. Dalam salah satu pendapatnya, beliau berkata "Kebaikan yang tidak dilakukan secara continou sejatinya bukan hal yang baik. Bahkan, keburukan yang tidak dilakukan terus-menerus lebih baik dari kebaikan yang tidak konsisten". Dari sini kita belajar, bahwa proses merawat jauh lebih penting dari sekedar menuai hasil.

Terlepas dari kekurang setujuan terhadap peribahasa menanam dan menuai yang kita diskusikan di awal tulisan. Namun sebagai warga Indonesia, saya tetap bangga karena negara kita sangat kaya dengan peribahasa. Terkait pentingnya merawat tanaman, mimpi, harapan, cita-cita, dan seluruh kebaikan lainnya, kita masih memiliki peribahasa lain yang mengajarkan hal itu. Peribahasa itu antara lain; Barakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, lalu senang kemudian.

Apapun cita-cita dan harapan kita, kebaikan yang kita usahakan tersemayam dalam diri, serta potensi dan anugrah yang telah Tuhan beri, mari kita jaga dan rawat dengan baik. Kita harus ingat, siapa pun yang menanam pasti akan berusaha sekuat tenaga merawat tanamannya. Bila proses merawat dilaksanakan dengan baik niscaya hasil yang dipanen akan baik juga. Sebaliknya, siapa saja yang abai terhadap proses merawat maka tanamannya akan layu, kemudian gagal panen.

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 15/01/2018

0 komentar:

BEAT: Bacalah Engkau akan Tahu



Saat kecil, kita selalu belajar cara membaca yang baik dan benar. Mengeja huruf demi huruf menjadi satu suku kata dan melisankannya dengan bibir mungil kita. Kemudian merangkai kata demi kata sehingga terbentuk kalimat yang sempurna pula. Ini Budi, Ini Ibu Budi, itu Ani, itu Ibu Ani, dan seterusnya.

Satu dua periode terlewati, dan kita masih sama-sama tidak tahu arti penting dari membaca. Kita pun tak pernah membayangkan seberapa urgen kemampuan membaca bagi kita setelah dewasa. Kita hanya manut saja, mengikuti semua arahan Ibu Guru sambil terus bahagia melisankan huruf demi huruf yang ditulisnya di papan tulis. Tak jarang pula kita berlomba adu cepat membaca deretan huruf yang tertulis di buku pelajaran. Terkadang, sepulang sekolah, kita asik bermain tebak-tebakan untuk mengeja huruf-huruf itu. Siapa yang kalah harus jongkok, itu hukumannya. Engkau yang menunjuk deret hurufnya dan aku yang harus berusaha membaca. Begitu sebaliknya hingga tak jarang kita lupa untuk makan. Jika engkau ingat, aku sering kalah dalam lomba yang kita buat sendiri. Bahkan tak jarang aku harus jongkok hingga permainan selesai. Kemudian engkau dan teman-teman lain mengajari mengeja huruf-huruf yang bagiku terlihat seperti barisan semut itu.

Sekarang, setelah berpuluh tahun lamanya. Sedikit demi sedikit kita mulai paham pentingnya kemampuan membaca. Kita mulai membaca apa saja yang bisa dibaca. Tak peduli penting atau tidak, asal ada tulisan, kita selalu berusaha membacanya. Bahkan, setelah mahir membaca tulisan, tak jarang pula kita berusaha membaca keadaan, membaca gejala-gejala yang ada lalu belajar menarik kesimpulan.

Seringnya membaca membuat kita paham bahwa membaca adalah jendela cakrawala ilmu pengetahuan. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa orang-orang besar di dunia tak pernah berputus asa dalam usahanya. Darinya kita belajar untuk selalu penuh motivasi dalam hidup. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Darinya kita belajar untuk tidak sombong, selalu rendah hati, dan tidak mudah menilai orang lain baik atau buruk. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda antara satu sama lain. Beda suku, beda Agama, beda ras, beda bahasa, beda Negara, dan seluruh perbedaan lainnya. Darinya kita belajar untuk selalu menghormati orang lain. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa ada kehidupan setelah mati. Darinya kita belajar untuk mempersiapkan bekal sebaik-baiknya menuju kehidupan kedua.

Siapapun yang menjadikan membaca sebagai hobi, ia akan hidup di dunia yang luas. Merasa dirinya selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Pola pikirnya tidak sempit, mudah bersahabat dan selalu menghargai perbedaan pendapat. Ia seperti padi, makin berisi makin menunduk. Semakin banyak yang dibaca, ia merasa semakin banyak pula yang belum terbaca. Ia paham bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ia paham bahwa volume akalnya tak mampu menampung seluruh ilmu pengetahuan yang Allah anugerahkan di muka bumi. Pada akhirnya, dengan membaca, ia menjadi pribadi yang pandai bersyukur.

Sahabat, kenangan indah itu masih saja tersimpan rapi di bingkai memoriku. Sangat rapi dan tak lekang oleh waktu. Aku sangat ingin menikmati masa-masa itu lagi bersama kalian. Seperti masa-masa yang lalu. Meski membaca hanya sekedar membaca. Mengeja huruf demi huruf, merangkai kata menjadi kalimat. Namun, aku teramat merindu waktu bersamamu.

Setelah semua itu, akankah membaca tetap menjadi hobi kita???

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 20/01/2018

0 komentar:

Manusia Tak Sempurna



Adalah Muadz, remaja tunanetra dari Mesir yang berhasil menghafal 30 juz al-Qur'an dengan sempurna di usia 11 tahun. Kondisi cacat tak membuatnya putus asa menjalani kehidupan. Sebaliknya, Muadz tidak larut dalam kesedihan karena kekurangan ini. Ia justru bersyukur, cacat mata membuatnya jauh dari maksiat. Ia benar-benar terhindar dari pandangan buruk yang bisa saja menjadi dosa.

Muadz sangat sadar, bahwa ia tidak memiliki mata yang bisa melihat. Namun ia juga tahu, bahwa ia masih memiliki telinga yang bisa mendengar. Dengan telinga inilah Muadz mendengarkan bacaan al-Qur'an dari gurunya. Apa yang didengar kemudian ia ulang setiap saat sampai ayat-ayat itu bersemayam di hati. Mata Muadz memang buta, tapi tidak dengan hatinya.

Kisah remaja bernama Muadz ini seharusnya menyadarkan kita. Selalu ada kelemahan pada setiap individu. Namun dibalik kelemahan itu selalu ada kelebihan tersendiri. Ya, dalam setiap kelemahan selalu ada kelebihan. Begitu juga sebaliknya. Karena manusia memang bukan makhluk yang sempurna.

Dalam diskusi tentang ke-tidak sempurna-an, minimal ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil. Pertama, jangan larut dalam kelemahan yang kita miliki. Bangkitlah, banyak orang di luar sana yang tetap berprestasi dengan berbagai kekurangan dan kelemahannya. Rasa kesal, frustasi, dan putus asa karena kelemahan yang ada hanya membuat kita semakin terpuruk dan jauh dari kesuksesan.

Meski tak bisa melihat, namun kita masih bisa mendengar. Meski tak bisa berbicara, namun kita masih bisa menulis. Meski tak punya tangan, namun kita masih punya kaki. Dan, meski tak memiliki semua yang kita sebutkan, namun kita masih punya hati, masih punya akal, dan yang pasti, kita masih punya ruh yang bersemayam di jiwa. Akankah kita korbankan segudang kelebihan ini hanya karena satu dua kelemahan saja? 

Kedua, manfaatkan kelebihan (potensi) yang ada. Sejatinya, orang-orang hebat bukan tak memiliki kelemahan sama sekali. Mereka hanya fokus terhadap kelebihan yang ada dan tidak larut dalam kelemahan yang dimiliki. Terus mengasah dan melatih potensi diri sehingga menjadi ahli di bidangnya masing-masing.

Mungkin kita kurang pandai secara akademik. Namun kita sangat senang berolahraga, sangat senang bermain musik, sangat senang melukis, dlsb. Mungkin kita kurang terlihat cantik atau tampan. Namun kita sangat rajin membaca, sangat rajin berkebun, sangat rajin memasak, dlsb. Mungkin kita tidak pandai berbicara di depan banyak orang. Menyampaikan ide dan gagasan yang bernas dan brilliant. Namun, kita sangat senang menulis.

Jika kelebihan yang ada kita asah, kita latih, dan terus kita manfaatkan dengan maksimal, dunia tak akan menilai kelemahan kita lagi. Orang-orang akan melihat karya dan prestasi kita. Nama kita akan tercatat dalam sejarah, abadi selamanya. Karya dan prestasi kita akan menginspirasi seluruh penduduk bumi.

Ketiga, bersyukur atas karunia yang tak ternilai harganya. Dibalik ketidak sempurnaan ini, Tuhan menitipkan akal kepada kita. Dengannya, Tuhan suruh kita untuk berfikir dan memilih. Apakah menjadi pribadi yang bersyukur, atau justru malah kufur.

Mereka yang pandai bersyukur akan menjumpai nikmat berlipat ganda. Menemukan potensi dibalik kelemahan yang dimiliki. Hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Selanjutnya, meraih banyak prestasi karena terus berlatih. Sementara yang kufur, cepat atau lambat, pasti akan binasa. Setiap saat hanya meratapi kelemahannya. Hari-hari menjadi gelap, penuh kesedihan, dan masa depan menjadi suram.

Ada yang punya kaki, tapi tak bisa berjalan karena lumpuh. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki telinga. Ada yang punya telinga, tapi tak bisa mendengar karena tuli. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki mulut. Ada yang punya mulut, tapi tak bisa berbicara karena bisu. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki mata. Ada yang punya mata, tapi tak bisa melihat karena buta. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki tangan. Lalu, bagaimana dengan kita yang memiliki semuanya???

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 24/01/2018

0 komentar:

Nabi Muhammad Penyingkap Semesta











Dalam acara yang diselenggarakan HTI, Ustadz Abdul Shomad (UAS) berpendapat bahwa Rahmatan Lil 'Alamin tak akan terwujud tanpa Khilafah. Pernyataan ini dianggap beberapa kalangan telah "menghina" Rasulullah SAW.






Tulisan dari Sahabat Kholid Syeirozi dibawah ini memberikan cara pandang berbeda dengan apa yang disampaikan UAS.






======≠≠==========






Muhammad SAW Penyingkap Semesta






M Kholid Syeirazi






Benarkah Nabi Muhammad SAW tidak bisa menjadi rahmatan lil âlamîn sebelum menegakkan negara Madinah? Pertama-tama, saya ingin menjawabnya dengan sejumlah riwayat. Setelah itu, Anda boleh menyimpulkan sendiri, tanpa harus mengikuti kesimpulan saya.






Riwayat pertama dikutip Jalaluddin as-Suyûthi dalam Tafsîr ad-Durrul Mantsûr. Dalam menafsirkan QS. al-Baqarah/2:37, Jalaluddin mengutip riwayat Thabarani sbb:






قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما أذنب آدم الذنب الذى أذنبه رفع رأسه إلى السماء فقال « أسألك بحق محمد إلاّ غفرت لي » فأوحى الله إليه « ومن محمد » فقال « تبارك إسمك لما خلقتني رفعت رأسي إلى عرشك فإذا فيه مكتوب لا اله الا الله محمد رسول الله ، فعلمت أنه ليس أحد أعظم عندك قدراً ممن جعلت إسمه مع إسمك » فأوحى الله إليه « يا آدم انه آخر النبيين من ذريتك ولولا هو ما خلقتك » (رواه الطبراني)






»Rasulullah SAW bersabda: "Ketika Adam AS melakukan dosa, dia mendongak ke atas langit dan berucap "Aku memohon atas nama Muhammad, apakah Engkau mengampuniku?" Allah menjawab, "Siapa Muhammad?" Adam berkata "Mahasuci Engkau, ketika Engkau ciptakan aku, aku angkat kepalaku ke Arasy-Mu dan di sana tertulis kalimat 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah,' maka aku tahu bahwa tidak ada makhluk di sisi-Mu yang lebih tinggi derajatnya selain dia yang Engkau jadikan namanya bersanding dengan nama-Mu." Allah berfirman, "Hai Adam, dia pamungkas para Nabi dari keturunanmu. Seandainya bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu." «






Dua hal bisa ditarik dari riwayat ini. Pertama, Nabi Adam berwasilah kepada Nabi Muhammad agar mendapat ampunan Allah. Kedua, jika bukan karena Muhammad, Allah tidak akan menciptakan Adam. Jadi, Adam dan anak cucunya ada karena adanya Nabi Muhammad. Ini awal mula rahmatan lil âlamîn. Manusia dan semesta adalah wujud kasih sayang Allah kepada Muhammad. Seandainya bukan karena Muhammad, manusia dan alam semesta tidak ada. Karena itu, Allah perintahkan kita memperbanyak salawat sebagai rasa syukur karena bisa 'nebeng' hadir di dunia berkat penciptaan Muhammad. Imam Razi, dalam Mafâtîhul Ghaîb, mengutip riwayat serupa: لولاك ما خلقنا الأفلاك (Jika bukan karena Engkau, Aku tidak akan ciptakan alam semesta). Saya sangat terkesan dengan hadis ini. Karena itu, anak saya yang pertama saya beri nama Muhammad Kasyif Aflak (محمد كاشف افلاك), artinya Muhammad Penyingkap Semesta.






Muncul pertanyaan, apakah ketika Adam berwasilah kepada Muhammad, beliau sudah diangkat menjadi Nabi? Inilah riwayat kedua yang ingin saya kutip. Jawabanyya: sudah!






عن أبي هريرة قال قالوا يا رسول الله « متى وجبت لك النبوة » قال « وآدم بين الروح والجسد » (رواه الترمذي)






»Dari Abu Hurairah, berkata, para sahabat bertanya "Kapan engkau diangkat menjadi Nabi?" Rasulullah menjawab "Aku sudah jadi Nabi ketika Adam masih berujud ruh dan jasad." «


Riwayat ini menegaskan pesan hadis pertama: nur Muhammad mendahului Adam dan alam semesta. Jasadnya baru mewujud ribuan milenium kemudian melalui Abdullah dan Aminah.


Riwayat ketiga, dalam menafsirkan ayat وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (QS. al-Anbiya/21: 107), Ibn Jarir at-Thabari mengutip pendapat Ibn Abbas sbb:






أن الله أرسل نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع العالم، مؤمنهم وكافرهم. فأما مؤمنهم فإن الله هداه به، وأدخله بالإيمان به، وبالعمل بما جاء من عند الله الجنة. وأما كافرهم فإنه دفع به عنه عاجل البلاء الذي كان ينـزل بالأمم المكذّبة رسلها من قبله.






"Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat untuk seru sekalian alam, baik yang mukmin maupun yang kafir. Bagi yang mukim, rahmatnya berujud petunjuk dan iman serta amal yang mengantarkannya ke surga. Bagi yang kafir, rahmatnya berujud penundaan azab sebagaimana menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para utusan."






Riwayat ini menegaskan Muhammad sudah merupakan rahmatan lil alamin sejak awal penciptaan semesta hingga hari perhitungan kelak, saat tangisnya memohonkan ampun bagi umatnya menggetarkan arasy dan Allah perkenankan dia memberi syafa'at.






Sekarang saya telah sampai kesimpulan, anda boleh menyimpulkan lain: pada diri Nabi Muhammad, rahmatan lil âlamîn tidak berhubungan dengan institusi politik, sebab beliau adalah rahmat itu sendiri: rahmat bagi manusia—baik yang mu'min maupun yang kafir—dan rahmat bagi semesta. Tanpa beliau, tidak ada kita, tidak ada alam raya. Politik itu sekadar jalan, bisa jadi jalan rahmat, bisa jadi jalan petaka. Tidak pas sama sekali menciptakan varibel politik sebagai syarat tegaknya rahmatan lil âlamîn.






Sekretaris Jenderal PP ISNU

0 komentar:

Mengapa Junub Harus Mandi Besar?











MENGAPA HADATS BESAR ATAU JUNUB WAJIB MANDI BESAR/ JANABAH ?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : M. In'amuzzahidin






Bagi yang mempunyai hadats besar atau junub, maka ia wajib mandi besar/ mandi janabah. Kyai Sholeh Darat mengibaratkan junub itu bagaikan ibarat ketika cinta selain Allah, atau saat seseorang mengira ada sesuatu selain Allah swt. yang dapat memberi manfaat dan madlarat. Oleh karena itu, orang semacam wajib mandi junub dengan menggunakan air tauhid, air taubat, dan air ikhlash.

Kyai Sholeh Darat berkata

"utawi junub iku ibarate nalikane demen liyane Allah utowo nalikane nyono-nyono setuhune suwiji-wiji makhluk iku bisa aweh madlarat atowo aweh manfaat, maka ati mengkono iku junub. Mongko wajib arep ngedusi kelawan banyu tauhid lan banyu taubat lan banyu ikhlas."

Apa yang disampaikan Kyai Sholeh di atas sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw. "tawadldla'û bi bismillâh. Artinya: "berwudlulah kalian semua dengan air ismullah.

Dalam menjelaskan tauhid, Kyai Sholeh juga masih menggunakan bahasa air lagi. Menurutnya, dalam rangka mentauhidkan Allah, maka seseorang harus mensucikan nafsunya dengan air meninggalkan maksiat. Dalam rangka mensucikan hati, maka seseorang harus merasa tidak memiliki amal dan ketaatan. Dan dalam rangka mensucikan asrar, seseorang agar tidak melihat keindahan dunia. Sedang dalam rangka mensucikan ruh, seseorang tidak boleh mencintai selain Allah.

Kyai Sholeh Darat berkata :

"lan tauhidaken ing Allah, mongko wajib nuceni nafsune kelawan banyu ninggal maksiat. Lan wajib nuceni atine kelawan banyu tinggal rumongso tho'at, tegese ojo pisan-pisan rumongso duwen amal tho'at. Lan wajib nuceni asrar iro ojo kasi ningali gumebyare dunyo. Lan wajib nuceni ruh iro ojo kasi condong demen liyane Allah swt."

Adapun kewajiban mandi junub terkait erat dengan cerita nabi Adam as. dan kenikmatan syajarah (pohon khuldi/langgeng) yang ada di surga. Syajarah adalah makanan yang paling nikmat di surga, yang tidak ada bandingannya. Dan kenikmatan jima' adalah atsar dari kenikmatan syajarah yang pernah dirasakan oleh Nabi Adam AS.

Dengan mandi janabat, seseorang dapat mensucikan dirinya dari hadats besar, dan akhirnya dapat melaksanakan shalat, dan berhadapan dengan Allah Yang Maha Agung. Berbeda dengan kewajiban wudlu' yang bersal dari aktifitas makan minum. Karenanya, semua anggota yang berkaitan dengan proses pencarian dan makan minumnya, wajib dibasuh dan dibersihkan saat melaksanakan wudlu'.

Adapun riwayat yang terkait dengan kewajban mandi janabah, Kyai Sholeh Darat menyebutkan sebuah riwayat dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, yang disampaikan oleh Imam al-Tsa'labi. Imam Ali mengisahkan ada sepuluh sahabat yang bertanya kepada Rasulullah. "ya Muhammad, kenapa Allah perintah mandi janabat karena junub. Kenapa Allah tidak perintah mandi janabah sebab kencing. Padahal kencing dan berak adalah najis. Sedang mani tidak najis, tapi kenapa disuruh mandi. Kemudian Rasulullah menjawab bahwa sesungguhnya Nabi Adam as ketika makan syajarah (pohon khuldi) masuk hingga ke otot-otot dan rambut-rambutnya. Demikian halnya saat seseorang jima' atau berhubungan suami istri, maka turunlah syajarahd ke semua rambutnya hingga semua ototnya juga. Karena itu, Allah swt mewajibkan mandi janabah kepada orang yang junub. Dengan mandi tersebut, ada proses mensucikan hadats besar, kafarat/ tebusan, dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, yaitu berupa nimatnya jima'.

Kyai Sholeh Darat setidaknya juga memberikan tiga alasan tentang kenapa jimak menyebabkan adanya kewajiban mandi janabah.

Pertama, karena datangnya syahwat dengan keluar air mani adalah sebuah kenikmatan yang secara lahiriah dirasakan oleh seluruh anggota badan. Oleh karena itu, seluruh anggota tubuh harus dimandikan, untuk bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.

Kedua, mandi janabah meliputi semua anggota badan secara lahir dan batin. Karena saat jimak memerlukan kekuatan semua badan. Sehingga orang yang setelah melakukan hubungan suami istri, biasanya fisiknya menjadi lelah dan lemas. Dengan mandi, maka kekuatan yang ada bisa segera pulih dan dapat membangkitkan tenaganya kembali. Karena air dapat menghidupkan segala sesuatu.

Ketiga, mandi janabah itu menjadi wajib, karena menjadi wasilah ila al-shalah/wasilah untuk shalat. Sedangkan shalat adalah amalan yang berhadapan langsung dengan Allah, berdiri di hadapan Allah yang Maha Agung. Maka siapa yang akan shalat menghadap kepada Allah swt., harus dalam keadaan suci seluruh badannya atau setengah badannya. Dengan kondisi ini seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah swt.

Sampai di sini dapat dikatakan, bahwa berwudlu' maupun mandi janabah adalah upaya untuk membersihkan dan mensucikan badan dan hati manusia. Antara badan zhahir dan qalb ruhani ada

Berbeda dengan tujuan mandi janabat, memandikan mayyit muslim yang telah meninggal dunia bertujuan memuliakan mayyit atau memberikan kesempatan rehat/ istirahat, sesaat setelah masyaqat naza' al-ruh atau capek dan beratnya keluarnya nyawa dari badan.

Kyai Sholeh Darat berkata :

"anapun ngedusi mayyit islam mongko iku iya wajib lan klebu ahkam al-syari'ah. Tetapi ora mergo najis lan ora mergo hadats atowo janabah, mengkono ora. Balik wajib ngedusi mayyit kerono arah aweh rohat marang mayyit saking sak wuse wus masyaqate naza' al-ruh".

(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 9-12


SEMARANG, 2 JANUARI 2018

BY : AJISELERA (PENGAJIAN SELASA SORE KYAI SHOLEH DARAT) NURUL HIDAYAH PEDURUNGAN LOR SEMARANG

KOPISODA (KOMUNITAS PECINTA KYAI SHOLEH DARAT)

0 komentar:

Mengapa Saat Wudhu Harus Mengusap Kepala?






RAHASIA WUDHU' (3)


MENGAPA ALLAH PERINTAH MENGUSAP KEPALA SAAT WUDHU'?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : In'amuzzahidin Masyhudi






Kepala berisi otak dan pengetahuan yang dapat mendorong seseorang menjadi sombong. Sombong karena ilmu menjadikannya jauh dari ridla Allah. Padahal ilmu manusia sangat terbatas dan tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan ilmu Allah.


Subhanaka la 'ilma lana illa ma 'allamtana...


Karena itu, Allah perintah mengusap kepala yang dapat menjadikan sombong seseorang dengan air tawadlu', andab asor, berbudi mulia, dan merendahkan diri di hadapan Allah swt.


Dengan demikian, mengusap kepala berarti mengusap kepala dengan air tawadlu' pada Allah, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.






Kyai Sholeh Darat berkata :


"lan maleh nuli ngusapo siro kabeh ing sirah iro kelawan banyu tawadhu' li mawlahu, tegese angasoraken awak iro marang bendoro niro"


(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 6)


Wallahu a'lam bish shawab.






Semarang, Rabu, 10 Januari 2018


KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)


AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang)

0 komentar:

Mengapa Wudlu Harus Membasuh Tangan?











RAHASIA WUDHU' (2)


MENGAPA ALLAH PERINTAH MEMBASUH TANGAN SAAT WUDHU'?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : In'amuzzahidin Masyhudi






Tangan adalah salah satu organ penting dalam bekerja. Hampir semua pekerjaan membutuhkan kehadiran tangan untuk menyelesaikannya, apapun profesinya. Karena saking pentingnya tangan ini, hingga seolah ada anggapan, bahwa tangan inilah yang mensukseskan pekerjaan manusia, dan dapat menyambung serta mempertahankan hidupnya. Muncul juga anggapan, seolah kalau tidak bekerja, seolah ia tidak bisa makan dan tidak bisa bertahan hidup. Sehingga manusia sering menggantungkan hidupnya dengan tangannya atau pekerjaannya.






Padahal hakikatnya, masalah kecukupan rizki, bukan berasal dari pekerjaannya. Allah-lah Sang Maha Mencukupi, Sang Maha Pemberi Rizki. Kalau Allah katakan cukup, maka cukuplah kebutuhan hidupnya dengan caranya Allah. Tap kalau Allah murka dan katakan kekurangan pada hidup seseorang, maka hidupnya pun terus dirundung kekurangan.






Banyak orang bergaji tiap bulan, tapi hutang menumpuk. Banyak orang yang kerja serabutan, tapi cukup dan bebas dari hutang.


Hasbunallahu wa ni'mal wakil......


Gantungkan hidupmu pada Allah, bukan pada pekerjaanmu. Pekerjaan hanya wasilah saja...


Pasrahkan urusanmu pada Allah, bukan pada ikhtiar tanganmu....


Wa man yatawakkal 'ala Allahi fahuwa hasbuh....






Nah, membasuh tangan berarti membasuh tangan dari bekas ketergantungan hati manusia kepada makhluk (selain Allah), yang harus segera dibasuh dengan air taubat dan istighfar.


Kyai Sholeh Darat berkata :


"lan maleh masuhno siro kabeh ing tangan iro karo saking labete olehe iro gandulan makhluk. Lan labete olehe iro gumantung kelawan makhluk iyo wasuhono kelawan banyu taubat lan istighfar." (Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 6)


Wallahu a'lam bish shawab.






Semarang, Ahad, 7 Januari 2018


KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)


AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang)

0 komentar:

Kisah Raja dan Pelayannya






*Kisah Tasawuf*






*KISAH ​RAJA DAN PELAYANNYA*


〰〰〰〰〰〰〰〰〰


​Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang ​dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja:


*"Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.".*






​Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja.






Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan.






​Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata,


"Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!"






​Pelayan tersebut menjawab, *"Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah." *






​Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, ​sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan.






Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: *"Allah adalah baik dan sempurna adanya."*






​Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban.






​Di atas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa ​sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap.






Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka.






​Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: "​Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku."






​Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. "Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?.






​Sang pelayan menjawab:


"Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap."





*​Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif.*






*Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat.*






​Allah pasti tahu *mengapa Ia memilihmu untuk membaca pesan ini.*






Berbagilah dengan orang-orang yang Anda kenal.

0 komentar:

Mengapa Jumlah Rekaat Salat Fardhu ada yang 2, 3, dan 4?











MENGAPA JUMLAH RAKA'AT SHALAT ADA YANG 2, 3, ATAU 4 RAKA'AT?


INI JAWABAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : M. In'amuzzahidin






Berkaitan dengan jumlah shalat lima waktu, ada yang dua, tiga dan empat raka'at. Hal ini berkaitan dengan jumlah sayapnya malaikat yang menjadi utusan Allah. Dimana jumlah sayap malaikat itu ada yang dua, ada yang tiga dan ada yang empat.


Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Fatir: 1






ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ


"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"






Kalau para Malaikat bisa terbang dengan sayapnya, maka seorang mukmin terbang menuju Allah dengan shalat, yang jumlah rakaatnya seperti jumlah sayapnya Malaikat.






Al-shalah mi'raj al-mukminin....Shalat adalah sarana mi'rajnya orang mukmin....


(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah)


Wallahu a'lam bis shawab






Semarang, 4 Januari 2018


KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)


AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang

0 komentar:

Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama











MUHASABAH 2017 DAN RESOLUSI KEBANGSAAN TAHUN 2018


PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA


No. 1699/B.IV.05/1/2018






السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه


بسم الله الرحمن الرحيم






Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menjaga dan melindungi bangsa Indonesia sehingga bisa melalui tahun 2017 dengan selamat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak seluruh komponen bangsa melakukan muhâsabah (refleksi dan interospeksi) sebagai bekal menyongsong hari esok yang lebih baik. Kerugian besar sebagai sebuah bangsa jika hari berlalu, bulan lewat, dan tahun berganti namun tanpa perbaikan kualitas hidup yang berarti. Ukuran perbaikan kualitas hidup sebuah bangsa adalah kokohnya ikatan kebangsaan dalam sistem demokrasi yang sehat yang didukung oleh peningkatan taraf ekonomi dan kesejahteraan yang merata, stabilitas politik yang terjaga, dan tegaknya hukum yang melindungi seluruh warga negara. Butir-butir ini perlu dijadikan sebagai bahan refleksi kita bersama.










POLITIK DAN DEMOKRASI






PBNU mengakui dan menegaskan demokrasi adalah pilihan terbaik sebagai sistem penyelenggaraan kehidupan berbangsa yang majemuk. Mekanisme dan kelembagaan demokrasi telah berjalan dan sampai ke titik yang tak bisa mundur lagi (point of no return). Presiden dan Wakil Presiden telah dipilih secara langsung oleh rakyat, begitu juga Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati, dan Walikota-Wakil Walikota. Tidak ada lagi wakil rakyat, baik DPR maupun DPD, yang duduk di parlemen dengan cara diangkat. Semuanya dipilih langsung oleh rakyat. Representasi rakyat ini pula yang kelak meloloskan jabatan-jabatan publik lain, baik di cabang kekuasaan eksekutif maupun yudikatif. Namun, PBNU mencatat mekanisme demokrasi ini telah menghasilkan dua ekses yang merusak demokrasi: politik uang dan SARA. Keduanya adalah bentuk kejahatan yang terbukti bukan hanya menodai demokrasi, tetapi mengancam Pancasila dan NKRI. Jika politik uang merusak legitimasi, politik SARA merusak kesatuan sosial melalui sentimen primordial yang mengoyak anyaman kebangsaan yang telah susah payah dirajut oleh para pendiri bangsa. Pergelaran Pilkada DKI 2017 masih menyisakan noktah hitam bahwa perebutan kekuasaan politik dapat menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi dan menggerogoti pilar-pilar NKRI.






Pengalaman ini harus menjadi bahan refleksi untuk mawas diri. Demokrasi harus difilter dari ekses-ekses negatif melalui literasi sosial dan penegakan hukum. Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam penyelenggaraan demokrasi yang sehat tanpa politik uang dan sentimen primordial. Aparat penegak hukum harus kredibel dan andal dalam penegakan hukum terkait kejahatan politik uang dan penggunaan sentimen SARA. Ini penting karena pada tahun 2018 dan 2019, Indonesia akan memasuki tahun-tahun politik. Tahun 2018 akan digelar Pilkada serentak di 171 daerah. Tahun 2019 akan digelar hajatan akbar yaitu Pilpres dan Pileg serentak. Bercermin dari kasus Pilkada DKI, kontestasi politik dapat mengganggu kohesi sosial akibat penggunaan sentimen SARA, penyebaran hoax, fitnah, dan ujaran kebencian (hate speech). Dan ini semakin parah karena massifnya penggunaan internet dan media sosial. PBNU perlu menghimbau warganet agar bijak dan arif menggunakan teknologi internet sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan perdamaian, bukan fasilitas untuk menjalankan kejahatan dan merancang permusuhan.






MENANGKAL RADIKALISME






Islam adalah agama yang mulia, agama yang suci. Karena itu, Islam harus dibela dan diperjuangkan dengan cara-cara yang mulia pula. Sabda Nabi:






(رواه البيهقى) من أمر بمعروف فليكن أَمره بمعروف






"Barang siapa hendak mengajak kebaikan, maka ajaklah dengan cara yang baik pula."






Allah menghendaki umat Islam menjadi umat moderat (ummatan wasthan) sebagaimana ditegaskan al-Qur'an (al-Baqarah/2: 143).






وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ.. (الاية)










Islam Nusantara adalah ikhtiar menjelmakan moderatisme (tawassuthiyah) dalam politik, ekonomi, dan sosial budya. Islam Nusantara adalah moderasi Islam dan keindonesiaan sebagai aktualisasi konsep ummatan wasathan. Manifestasi Islam Nusantara kini tengah menghadapi tantangan menguatnya ideologi ekstremisme dan radikalisme di berbagai dunia, termasuk di Indonesia.






PBNU bersyukur bahwa tahun 2017, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang mencoreng Islam dan melumat sejumlah negara Islam di Timur Tengah dan Afrika berhasil dilumpuhkan. ISIS berhasil diusir dari Mosul (Irak) pada 21 Juni 2017 dan dari Raqqa (Suriah) pada 17 Oktober 2017. Pada 9 Desember 2017, Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, mengumumkan bahwa perang melawan ISIS telah dinyatakan usai. Jaringan mereka mencoba mencari basis di Asia Tenggara, melalui Filipina, namun sebenarnya mengincar Indonesia. Meski makan waktu cukup lama, sekitar 154 hari dan menelan banyak korban jiwa, pada 23 Oktober 2017, otoritas Filipina mengumumkan berhasil melumpuhkan pemberontakan Marawi oleh kelompok afiliasi ISIS, Maute dan Abu Sayyaf.






Dalam rangka mengantisipasi ideologi Khilâfah alá ISIS yang terbukti memporakporandakan sejumlah negara, PBNU dapat memahami dan mendukung kebijakan Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Ormas yang diikuti dengan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengusung gerakan Khilâfah. Namun, PBNU menghimbau penyempurnaan Undang-Undang Ormas agar upaya memberantas gerakan anti-NKRI dan Pancasila tidak menghalangi hak setiap warga negara untuk berserikat dan berkumpul yang dijamin konstitusi. PBNU melihat, proses pembubaran ormas tetap perlu mekanisme peradilan agar setiap orang dan kelompok dapat membela diri dalam sebuah majelis terhormat.






Yang lebih penting dari penerbitan Perppu Ormas dan pembubaran HTI adalah menangkal ideologi radikalisme melalui gerakan terstruktur, massif, dan komprehensif melibatkan berbagai aspek: politik, keamanan, kultural, sosial-ekonomi, dan agama. Faktor agama menyumbang radikalisme melalui pemahaman bahwa Islam menuntut institusionalisasi politik melalui negara Islam atau Khilâfah Islâmiyah. Ajaran ini akan membuat orang Islam di mana pun untuk berontak terhadap kekuasaan yang sah, meski kekuasaan itu tidak menghalangi bahkan memfasilitasi pelaksanaan ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Ideologi pemberontakan ini menghalalkan kekerasan yang bisa mewujud nyata jika kondisi politik dan kekuatannya memungkinkan. Pemerintah perlu bersikap dan bertindak tegas mengatasi persoalan radikalisme dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan ketahanan lingkungan berbasis keluarga. Kementrian Agama perlu mengambil peran lebih aktif sebagai leading sector dalam penanganan radikalisme agama, terutama mengembangkan wawasan keagamaan yang nasionalis melalui pembobotan kurikulum, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, dan pengelolaan program strategis seperti bidik misi dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Peran UKPPIP (Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila) perlu juga dioptimalkan dalam pemantapan ideologi Pancasila di lingkungan aparatur sipil negara (ASN), kementerian dan lembaga-lembaga negara (K/L), BUMN, dan TNI/Polri.










MENGATASI KETIMPANGAN






PBNU melihat Pemerintah Jokowi-JK punya niat baik mengatasi ketimpangan yang menjadi kanker dalam pembangunan dan ancaman nyata bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Ketimpangan itu menjelma dalam ketimpangan distribusi kesejahteraan antar-individu, ketimpangan pembangunan antar-wilayah, dan ketimpangan pertumbuhan antar-sektor ekonomi. Penguasaan yang timpang dalam aset uang, saham, dan perbankan serta lahan dan tanah individu harus ditangkal dengan membatasi liberalisasi keuangan dan perdagangan serta menjalankan program pembaruan agaria untuk merombak struktur kepemilikan dan penguasaan tanah yang tidak adil. Fungsi tanah harus dikembalikan sebagai hak dasar warga negara, bukan sekadar properti individu yang mengikuti hukum pasar. Karena itu, PBNU perlu mengingatkan agar fokus reforma agraria bukan sekadar sertifikasi tanah, tetapi redistribusi lahan rakyat dan petani. Pembatasan penguasaan dan kepemilikan tanah/hutan/perkebunan harus dilakukan agar kekayaan tidak bergulir di antara segelintir pemilik uang (كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ). Ketimpangan antar-wilayah harus dilakukan dengan menciptakan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa dengan pembangunan infrastruktur yang memadai. Ketimpangan antar-sektor ekonomi harus diterobos dengan pengarusutamaan pembangunan pertanian dan industrialisasi pertanian berbasis rakyat dengan langkah yang dimulai dengan pembagian lahan pertanian dan pencetakan sawah baru, peningkatan produktivitas lahan, perbaikan dan revitalisasi infrastruktur irigasi, proteksi harga pasca panen, perbaikan infrastruktur pengangkutan untuk mengurangi biaya logistik, dan pembatasan impor pangan. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintahan Jokowi dalam menggalakkan pembangunan inklusif dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas perlu didukung dengan kinerja birokrasi yang bersih, inovatif, dan progresif.






PERDAMAIAN INTERNASIONAL






Dunia merekam kejadian-kejadian penting di tahun 2017, antara lain angin perubahan politik yang berhembus di Arab Saudi, sisa-sisa etnonasionalisme di Catalonia Spanyol, tragedi etnis Rohingnya di Myanmar, dan manuver sepihak Amerika Serikat mengakui Jerussalem sebagai ibukota Israel.






PBNU menyambut baik keinginan Arab Saudi yang hendak mengembangkan Islam wasathy, yaitu manhaj Islam moderat sebagaimana dianut mayoritas umat Islam Indonesia. Keinginan ini perlu disambut oleh Pemerintah Indonesia dengan mengintensifkan dialog dan kerja sama dengan Kerajaan Arab Saudi dalam rangka mengakselerasi penyelesaian damai atas sejumlah konflik di Timur Tengah. Keterbelahan sikap negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI dalam merespons manuver AS terkait dengan penetapan Jerussalem sebagai ibukota Israel menandakan lemahnya solidaritas akibat kurangnya dialog dan kerja sama. Karena itu, PBNU menghimbau negara-negara yang tergabung dalam OKI lebih intensif menjalin dialog dan kerja sama agar solid dalam merespons isu-isu kemanusiaan yang membutuhkan kebulatan sikap dan solidaritas.






Tragedi Rohignya mengingatkan perlunya penguatan nation-state berbasis kewargaan (civic nationalism), bukan sentimen etnis yang membuat suku mayoritas merasa berhak mendominasi atau bahkan menyingkirkan etnis minoritas. Kenyataan bahwa semua nation-state di dunia terdiri dari banyak suku bangsa, termasuk Indonesia, mengajarkan perlunya penguatan prinsip persamaan, kesetaraan, dan keadilan bagai semua warga negara tanpa diskriminasi SARA. Prinsip ini ada di dalam Pancasila, tetapi mulai diabaikan bahkan diingkari oleh kelompok yang dengan enteng men-thagut-kan Pancasila. Negara modern seperti Spanyol masih didera isu etnonasionalisme Catalonia, tetapi Indonesia telah berhasil melewati masa-masa genting itu di awal-awal reformasi. Ini tidak lepas dari peran Pancasila sebagai kalimatun sawa atau common denominator yang menjembatani berbagai agama, suku, golongan, dan kepercayaan.






Kejadian-kejadian di dunia menjadi cermin agar bangsa Indonesia bersyukur mempunyai Pancasila yang harus terus dijaga, dilestarikan, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.






Selamat Memasuki Tahun 2018


Selamat menabur harapan baru.


Terus jaga optimisme!


Terus rekatkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika!






Jakarta, 3 Januari 2018.






والله الموفق الى اقوم الطريق


و السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ






ttd






Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA.


Ketua Umum






ttd






Dr. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini Sekretaris Jenderal

0 komentar:

Yang Kentut adalah Pantat, Mengapa yang Dibasuh dalam Wudlu adalah Wajah, Tangan, Kaki?










KENTUT, HAJAT BESAR ATAU KENCING, KELUAR DARI KUBUL DAN DUBUR. KENAPA SAAT WUDHU' YANG DIBASUH DAN DIUSAP KOK DI WAJAH DAN SETERUSNYA? BUKAN DI TEMPAT KELUARNYA KENTUT?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : M. In'amuzzahidin






Orang yang kencing, berak, atau kentut, menjadi batal wudlu'nya. Dan jika akan melakukan shalat, ia wajib berwudlu', bukan mandi janabah. Hal ini, sebagaimana dijelaskan oleh Kyai Sholeh Darat, karena orang bisa kencing, kentut atau berak, disebabkan oleh makanan dan minuman yang masuk ke mulutnya. Sedangkan untuk mendapatkan makanan dan minuman, seseorang harus berkerja terlebih dahulu. Saat bekerja, seseorang menggunakan kedua tangannya, kedua kakinya, juga menggunakan wajah dan kepalanya. Karenanya, bagi yang berhadats kecil wajib berwudlu', dengan membasuh atau mengusap anggota wudlu'nya, yang digunakan bekerja dan menghasilkan makanan dan minuman.






Kyai Sholeh Darat berkata :


"lan ora koyo mengkono-mengkono baul ghoith. Mongko sarehne ono baul ghoith iku metune sangking gauto ingkang maklum. Lan iyo iku qubul lan dubur. Ono dene ashale mlebune iyo marang anggota ingkang maklum lan iyo iku mangan nginum. Lan anane bisa mangan nginum iku sangking kasabe tangan loro, lan kasabe sikil loro. Mengkono iku mesti kudu kelawan rahi lan sirah. Mongko sarehno mengkono mongko dadi wajib masuhi anggota kang makhsus saking labete kang metu. Lan iya iku masuhi qubuk lan dubur. Lan lamun karep marang shalat mangka wajib masuhi anggota kang papat kang dadi sebabe ngetoake suwiji-wiji. Mongko mengkono ikulah hikmahe anane wajib wudlu'.


(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 11)


wallahu a'lam bish shawab






Semarang, 2 Januari 2018


By :KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)


AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) NURUL HIDAYAH Pedurungan Lor Semarang

0 komentar:

Tahlilan itu Mendoakan, Bukan Meratapi Jenazah. Ini Dalilnya...











Jawaban Atas Tuduhan Bahwa Tahlilan Menyebabkan Mayit Terancam Siksa Di Alam Kubur






Saya dari dulu tidak mudah percaya kalau ada Salafi-Wahabi membawa dalil ayat Qur'an atau hadis yang diarahkan untuk menyalahkan Amaliah kita. Sebab hampir pasti mereka hanya berdasarkan nafsunya, tidak merujuk kepada ulama ahli hadis yang sering dijadikan jargon mereka. Jadi hanya slogan saja.






Kali ini mereka membawa hadis tentang Tahlilan yang mereka golongkan meratapi Mayit yang menyebabkan ancaman siksaan di alam kubur. Saya cek hadisnya di Syarah Bukhari karya AlHafidz Ibnu Hajar dan Syarah Muslim karya Imam Nawawi, ternyata sangat panjang ulasan hadisnya, khilafiyah penafsiran hadisnya, jalur riwayat hadisnya, dan analisa hukumnya. Tapi bagi Wahabi langsung divonis sesuai nafsunya sebagai ancaman siksa kubur. Tulisan yang saya terima adalah dari Ust Abu Ibrahim Al Falimbani.






Mereka menampilkan:






- Hadis pertama:






ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ»






Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit disiksa sebab tangisan keluarganya kepadanya" (HR Bukhari dan Muslim)






Jawaban:






Jika menangisi mayit dianggap ratapan yang menyebabkan mayit disiksa, lalu bagaimana dengan hadis berikut ini:






ﻋﻦ ﺃﺳﻤﺎء ﺑﻨﺖ ﻳﺰﻳﺪ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻓﻲ اﺑﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﻜﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ






Dari Asma binti Yazid, ia berkata bahwa ketika putra Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Ibrahim, wafat. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menangis (HR Ibnu Majah. Syekh Albani menilainya sebagai hadis Hasan)






Apakah Rasulullah meratapi putranya? Berarti kita perlu menghimpun hadits-hadits lain sebelum membuat sebuah kesimpulan. Demikian pula dengan hadis yang berikutnya.






Hadis kedua:






ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ عنه ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺑﻤﺎ ﻧﻴﺢ ﻋﻠﻴﻪ»






Dari Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Mayit disiksa di kuburnya Karen apa yang diratapi kepadanya" (HR Bukhari)






Jawaban:






Cukup dijawab dengan penulisan bab oleh Imam Bukhari sendiri dalam kitab sahihnya:






ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻳﻌﺬﺏ اﻟﻤﻴﺖ ﺑﺒﻌﺾ ﺑﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ» ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﻮﺡ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻪ "






Bab sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa mayit disiksa sebab tangisan sebagian keluarganya kepadanya. JIKA RATAPAN ITU ADALAH BAGIAN DARI KEBIASAANNYA.






Jadi menurut Hafidz Ad-Dunya, Imam Bukhari, tidak semua ratapan menjadi sebab adanya siksa kubur! Jadi kelihatan kalau Wahabi bertentangan dengan Imam ahli hadis!






Dari sinilah Imam Nawawi berkata:






ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﺘﺄﻭﻟﻬﺎ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻭﺻﻰ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻨﺎﺡ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻨﻔﺬﺕ ﻭﺻﻴﺘﻪ ﻓﻬﺬا ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﻮﺣﻬﻢ ﻷﻧﻪ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻣﻨﺴﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻗﺎﻟﻮا ﻓﺄﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻧﺎﺣﻮا ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻭﺻﻴﺔ ﻣﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﻌﺬﺏ ﻟﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﺰﺭ ﻭاﺯﺭﺓ ﻭﺯﺭ ﺃﺧﺮﻯ ﻗﺎﻟﻮا ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻌﺮﺏ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻣﻨﻪ ﻗﻮﻝ ﻃﺮﻓﺔ ﺑﻦ اﻟﻌﺒﺪ : ﺇﺫا ﻣﺖ ﻓﺎﻧﻌﻴﻨﻲ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻫﻠﻪ ... ﻭﺷﻘﻲ ﻋﻠﻲ اﻟﺠﻴﺐ ﻳﺎ اﺑﻨﺔ ﻣﻌﺒﺪ ...






Ulama beda pendapat tentang hadits-hadits ini. MAYORITAS ulama mengarahkan pada mayit yang berwasiat agar ditangisi dan diratapi setelah kematiannya. Lalu wasiat itu dijalankan. Maka mayit ini disiksa karena tangisan dan ratapan keluarganya. Karena dialah penyebabnya dan disandarkan kepada dia.






Ulama berkata bahwa jika ada orang yang menangisi mayit dan meratapinya tanpa wasiat, maka ia tidak disiksa. Sebab firman Allah yang artinya: "Tidaklah satu jiwa menanggung dosa jiwa yang lain." Mereka berkata: Diantara kebiasaan orang Arab adalah wasiat untuk ratapan. Diantara contoh adalah syair Tharfah bin Abd [Bahar Thawil]:






"Jika aku mati maka ratapilah aku dengan pujian yang ada pada diriku. Sobeklah pakaianmu untuk ku wahai putri Ma'bad" (Syarah Sahih Muslim 6/228)






Justru tulisan ustadz Wahabi diatas adalah bentuk inkonsistensi mereka pada keyakinan bahwa orang hidup tidak bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi mayit, karena amalnya sudah putus. Tapi giliran ada dalil yang mereka anggap menguntungkan, kontan saja mereka percaya itu sampai kepada mayit karena berupa siksaan bagi orang yang melakukan Tahlilan.






Secara lebih luas lagi, Amirul Mukminin Fil Hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, merinci banyak pendapat dari para ulama. Diantaranya:






ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﺃﻥ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺬﻧﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺻﻼ ﻭﻫﻮ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺭﻭاﻳﺔ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ






Diantara para ulama ada yang menakwil bahwa ratapan sebagai siksa kubur adalah tertentu pada orang kafir. Sebab orang Mukmin tidak disiksa lantaran dosa orang lain sama sekali. Ini sangat jelas dari riwayat Ibnu Abbas dari Aisyah. (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/154)






Yang dimaksud oleh kutipan Imam Ibnu Hajar adalah:






عن ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﺯﻭﺝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺇﻧﻤﺎ ﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻳﺔ ﻳﺒﻜﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻴﺒﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺇﻧﻬﺎ ﻟﺘﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻫﺎ»






Aisyah, istri Nabi shalallahu alaihi wasallam, berkata: "Rasulullah berjalan berjumpa dengan (mayit) Yahudi perempuan yang ditangisi oleh keluarganya. Nabi bersabda: "Mereka menangisi kepergiannya, dan ia disiksa di kuburnya" (HR Bukhari)






Bersambung. In sya Allah....






Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

0 komentar:

Tahlilan Justru Meringankan Beban Mayat











Jawaban II (Tuduhan Bahwa Tahlilan Menjadikan Mayit Disiksa Di Alam Kubur)






Untuk memudahkan para pembaca dalam memahami masalah yang ditulis oleh Ust Abu Ibrahim Al-Falimbani ini, beliau memakai premis mayor (pernyataan umum) dan premis minor (pernyataan khusus), lalu menarik sebuah kesimpulan (Natijah / Konklusi). Dalam istilah ilmu Mantiq ada kemiripan dengan istilah Muqaddimah Kubra dan Muqaddimah Shughra.






Premis mayor yang ia sampaikan adalah (hadis) mayit akan disiksa karena ratapan keluarga kepadanya. Premis minornya adalah (hadis) bahwa berkumpul di rumah mayit dan dibuatkan makanan adalah termasuk ratapan untuk mayit. Lalu ditariklah kesimpulan bahwa Tahlilan (selamatan di rumah duka) adalah ratapan untuk mayit sehingga mayit diancam akan disiksa di kuburnya.






Pada penjelasan sebelumnya para imam ahli hadis sudah menegaskan bahwa ratapan untuk mayit itu ada ketentuan khusus, misalnya ia berwasiat agar mayatnya diratapi. Bahkan sebagian ulama mengkhususkan hadis ratapan ini kepada mayit wanita orang Yahudi saja seperti dalam Asbabul Wurudnya. Karena premis mayornya cacat, maka kesimpulannya pun juga pasti salah. Saya tidak perlu bicara lebih panjang dalam kesalahan fatal ini.






"Selamatan" Di Rumah Duka






Inilah polemik yang tidak pernah berkesudahan. Bagi mereka yang melarang, diantaranya ada dari Madzhab Syafi'iyah yang memakruhkan, adalah menggunakan dalil atsar dari Sahabat Jarir tentang berkumpul di rumah mayit dan dibuatkan makanan adalah termasuk ratapan. Riwayat ini dinilai sahih oleh Imam Nawawi dalam kitab Majmu' dan juga oleh ulama lain. Namun ada juga yang menilai dlaif yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (saya uraikan di buku saya 'Tahlilan Bidah Hasanah')






Namun jangan disangka tidak ada ulama yang membolehkan, tetap ada. Yaitu dengan berdalil dari kitab Sahih Bukhari dan Muslim:






عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتِ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ التَّلْبِيْنَةُ مَجَمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ (رواه البخاري رقم 5417 ورقم 5689 في الطب باب التلبينة للمريض وفي الأطعمة باب التلبينة ومسلم رقم 2216 في السلام باب التلبينة مجمة لفؤاد المريض)






"Diriwayatkan bahwa ketika keluarga Aisyah ada yang wafat maka wanita-wanita berkumpul, kemudian mereka pulang kecuali keluarga dan orang-orang tertentu saja. Aisyah memerintahkan untuk memasak semacam makanan adonan yang disebut Talbinah. Aisyah berkata: Makanlah! Karena saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Talbinah dapat memperteguh hati orang yang sakit dan dapat menghilangkan sebagian kesusahannya" (HR al-Bukhari No 5417, No 5689 dan Muslim No 2216)






Lihatlah dalam atsar (dalil dari Sahabat) ini, Sayidah Aisyah membiarkan beberapa keluarganya dan orang-orang khususnya berada di rumah duka dan dibuatkan makanan. Dan Sayidah Aisyah tidak menyatakan ini sebagai ratapan. Kalau ada yang menyanggah itu kan tidak banyak orangnya? Jawabannya apakah niyahah itu dibedakan antara banyak dan sedikit orang? Lagian, saat Tahlilan di rumah mayit dan diberikan makanan juga orang tertentu saja, tidak semua warga kampung.






Web yang dikelola ulama Salafi berikut mengomentari atsar Aisyah diatas:






قلت : وفي هذا الحديث ذكر اجتماع النساء عند أهل الميت وهو ليس مما ينكر إن كان من غير تكلف أو نياحة أو تحمل مؤنة على أهل الميت مع مراعاة عدم طول المكث وعدم البيات لمن ليست من أهل الميت كما جاء في الأثر






Saya berkata: Hadis ini menyebutkan berkumpulnya para wanita di rumah keluarga mayit. Ini bukan termasuk sesuai yang diingkari, jika tidak ada kesulitan, ratapan, atau tidak ada beban biaya bagi keluarga mayit, dengan tetap menjaga tidak berdiam diri lama ataupun menginap bagi selain keluarga mayit. Seperti yang terdapat dalam atsar. (Selanjutnya silahkan dibaca:http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=331858)






Demikian pula yang terjadi di negeri kita makanan yang dibuat Tahlilan adalah sumbangan dari para tetangga, kerabat, kawan dan sebagainya, seperti yang terdapat dalam fatwa Sayid Ali Muhammad bin Husain al-Maliki tentang tradisi di Jawa:






اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ ِلاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ "اصْنَعُوْا ِلاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا" وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا )






"Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: 'Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far' dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang sahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman" (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219)






Bersambung, ini syaa Allah....






Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim






Dalil-dalil Amaliah yang lain ada di web saya berikut:






http://www.hujjahnu.com/2013/01/dalil-dalil-amaliah-nu-seputar-kematian.html?m=1

0 komentar:

Subhanallah.... Manuskrip Tahlil 200 Tahun Ditemukan



Biasanya para kiai NU kalau ditanya tahlilan dimulai dari kapan? Mereka akan menjawab "mulai wali songo" begitu juga ketika ditanya susunan kalimat tahlil itu dari siapa? Mereka menjawab "wali songo" jawaban tersebut ada benarnya.

Karena kami telah menemukan manuskrip tahlil dari kitab peninggalan *mbah Kiai Haji Moch Ilyas* (Penarip Mojokerto) yang berasal dari kesesi pekalongan dalam kitab tulisan tangan dari kertas kulit yang usianya lebih dari 200 tahun.

Tertulis "Ratib kang dilampahake kiai pondok Tegalsari (Ponorogo)" yang berdiri pada 1722 M. Kalimat-kalimatnya persis dengan yang ada sekarang termasuk sholawatnya yang tidak pernah kami temukan dari kitab-kitab Mu'tabaroh. Hanya saja ayat ayat al-Qur'an nya lebih banyak 2 kali lipat. Mungkin yang ada sekarang ini adalah ringkasan dan pada akhirnya ada do'a untuk arwah. Semoga ini bermanfaat fiddini waddunya wal akhiroh.

Tetep Istiqomah TAHLILAN, MANAQIBAN, SHOLAWATAN, ROTIBAN, ISTIGHOTSAHAN...

Copas sangking Kiai Muhammad Rofi'i Ismail Mojokerto Jawa Timur  .

0 komentar:

Wasiat Malaikat Jibril untuk Rasulullah

WASIAT DARI MALAIKAT JIBRIL UNTUK RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM RESEP AMPUH 70x5 KALI BACAAN OBAT MUJARAB AIR HUJAN TANPA KE DOKTER (IMAM QULYUBY)

Diceritakan sebuah hadits dalam kitab An Nawaadir ; Dari Malaikat Jibril kepada Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang obat super ampuh air hujan; 

فائدة ; روي أنه صلى الله عليه وسلم قال: علمني جبريل دواء لا أحتاج معه إلى دواء ولا طبيب ، فقال أبو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم ; وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة إلى هذا الدواء . فقال ; يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب ، وسورة الإخلاص ، والفلق ، والناس ، وآية الكرسي ، كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام . فو الذي بعثني بالحق نبيا ، لقد قال لي جبريل ; إنه من شرب من هذا الماء رفع الله عن جسده كل داء وعافاه من جميع الأمراض والأوجاع ، ومن سقي منه امرأته ونام معها حملت بإذن الله تعالى ". ويشفي العينين ، ويزيل السحر ، يقطع البلغم ، ويزيل وجع الصدر والأسنان والتخم والعطش وحصر البول ، ولا يحتاج إلى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع إلا الله تعالى ، وله ترجمة كبير اختصرناها، والله اعلم . ( كتاب النوادر للإمام القليوبي رحمه الله تعالى آمين ، ص ؛ ١٩٤ ).   

Artinya: "Faedah" 

Diriwayatkan bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda di hadapan para sahabatnya : " Di ajarkan kepadaku oleh Malaikat Jibril tentang satu obat yang tidak memerlukan kepada obat yang lain dan tidak pula membutuhkan kepada para dokter. Kemudian sahut Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat Ali radhiyallahu an'hum bertanya: Apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya  kami sangat membutuhkan obat itu ? Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam berkata : " Ambillah secukupnya dari air hujan, lalu bacakanlah surat Al-fatihah, surat Al-ikhlas, surat Al-falaq, surat An-nas dan Ayat Al-Kursi. Setiapnya (masing-masing) dibaca 70 kali, Dan diminum pada pagi dan petang selama tujuh hari. Demi Dzat yang mengutuskanku dengan yang benar sebagai seorang nabi, kata Rasulullah : Sesungguhnya malaikat jibril telah menyatakan kepadaku: Barang siapa yang meminum air ini niscaya Allah akan menghilangkan semua penyakit yang ada dalam tubuhnya dan menyembuhkan dari segala penyakit yang ada. Dan barangsiapa yang memberi air itu untuk istrinya dan tidur bersama istrinya niscaya istrinya akan hamil dengan izin Allah swt. Dan air tersebut juga dapat menyembuhkan dua mata yang sakit, menghilangkan penyakit sihir, dan menghilangkan dahak dan menghilangkan sakit dada, gigi, pencernaan, sembelit, dan kencing yang tidak lancar. Dan juga tidak dibutuhkan kepada membekam, serta masih banyak faedah-faedahnya yang lain tidak terhingga kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mengenai tentang keutamaan air tersebut ada satu tarjamah besar yang telah kami (mushannif) ringkas. Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta'ala lah yang maha mengetahui...

Silahkan diamalkan dan disebarluaskan dengan harapan semoga membawa kemanfaatan dan keberkahan bagi kita semuanya, yang sakit dhahir dan bathin segera disembuhkan dan diangkat penyakitnya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala aamiin aamiin aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin bisirri asrari Al Faatihah....

(Sumber: Kitab An Nawadir, halaman ; 194 karya Syekh Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyuby ) 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ...

0 komentar:

HIBAH EBOOK BUKU AGAMA ISLAM GRATIS

HIBAH EBOOK BUKU AGAMA ISLAM GRATIS

*PEDOMAN MUDAH DOWNLOAD:*
(1) Klik link ebook yang anda kehendaki diunduh (2) Klik kotak verifikasi 'I'm not a robot' (3) Tunggu sampai 0 Seconds, lalu klik *GET LINK* (4) Pada drive cari tanda download (panah ke bawah samping logo printer di kanan atas)

*DAFTAR BUKU*

1. KH. Marzuki Mustamar, *Al-Muqthatofat lil Ahlil Bidayat*, Link Download: http://ouo.io/XAxRd4

2. A. Zainul Hakim, *Terjemah Risalah Ahlussunah wal Jama'ah (رسالة أهل السنة والجماعة للعلامة حضرة الشيخ محمّد هاشم اشعرى)* Link Download: http://ouo.io/ankSdH

3. Habib Munzir al-Musawa, *Kenalilah Akidahmu*. Link Download: http://ouo.io/ex92yw

4. Harry Yuniardi, *Argumentasi Tarawih 20 Rakaat; Risalah Amaliah Kaum Nahdliyyin* (Bandung; LTN NU Jawa Barat, 2017) Link Download: http://ouo.io/MT72Xx

5. Ustadz M. Idrus Ramli, *Buku Pintar Berdebat dengan Wahhabi*, (Jember; Bina ASWAJA, 2010) Link Download: http://ouo.io/NChO0

6. Ustadz Ma'ruf Khozin, *Mana Dalil Malam Nishfu Sya'ban?*, (Jember, LTN Jawa Timur, 2017) Link Download: https://drive.google.com/open?id=0B6GRfv4J--YuZ3RPVlB1WGlrVHc

7. Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, *Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah, _Terj._ Ngabdurrohman al-Jawi* (Jakarta: LTM-PBNU, 2011) Link Download: http://ouo.io/4Bbew

8. Einar Martahan Sitompul, *NU dan Pancasila*, (Jakarta; CV. Muliasari, 1989) Link Download: http://ouo.io/gHWmU3

9. A. Gaffar Karim, *Metamorfosis NU dan Politisasi Islam di Indonesia*, (Yogyakarta; LKiS Yogyakarta, 1995) Link Download: http://ouo.io/Jxm34ZT

10.KH. MA Sahal Mahfudh, *Nuansa Fiqih Sosial*, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 1994) Link Download: http://ouo.io/A0gDRC

11.Lathiful Khuluq, *Kyai Haji Hasyim Asy'ari's; Religious Thought and Political Activities*, (Montreal: McGill University, 1997) Link Download: http://ouo.io/NSksSP

12.Martin van Bruinessen, *NU Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa Pencarian Wacana Baru*, (Yogyakarta; LKiS Yogyakarta, 1994) Link Download: http://ouo.io/MVyyjo

13.M. Ali Haidar, *Nahdlatul Ulama dan Islam di Indonesia*, (Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama, 1993) Link Download: http://ouo.io/Jxm34ZT 

14.KH. Abdul Muchith Muzadi, *Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari di Mata Santri*, (Jombang; Pustaka Tebu Ireng, 2010) Link Download: http://ouo.io/YAxMlM

15.LTN-NU, *Amaliah NU dan Dalilnya*, (Jakarta; LTN-NU, 2011) Link Download: http://ouo.io/j5QWXjX

16.Syaikh Thahir bin Shalih al-Jaza'iri, *Terjemah Jawahirul Kalamiyyah*. Link Download: http://ouo.io/QR0ANvg

17.A. Shihabuddin, *Telaah Kritis atas Doktrin Faham Salafi Wahabi*, Link Download: http://ouo.io/JXg8s2

18.Habib Ali bin Muhammad al-Habsy, *Maulid Simthud Duror*, Link Download: http://ouo.io/AEQdti

19.Imam Ja'far Ibn Hasan al-Barzanji, *Maulid Barzanji* Link Download: http://ouo.io/CWqrxk

20.Imam Abdurrahman al-dibaa'i, *Maulid Ad-Dibaa'i*, Link Download: http://ouo.io/RaizMQ

0 komentar:

Sembilan Filosofi Jawa yang Diajarkan Sunan Kalijaga



1. URIP IKU URUP
"Hidup itu Nyala. Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain di sekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik"

2. MEMAYU HAYUNING BAWANA
Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak

3. SURO DIRO JOYO JAYADININGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI
"Segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar"

4. NGLURUK TANPO BOLO, MENANG TANPO NGASORAKE, SEKTI TANPO AJI-AJI, SUGIH TANPO BONDHO
"Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuatan; Kaya tanpa didasari kebendaan"

5. DATAN SERIK LAMUN KETAMAN, DATAN SUSAH LAMUN KALANGAN
"Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu"

6. OJO GUMUNAN, OJO GETUNAN, OJO KAGETAN, OJO ALEMAN
"Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja"

7. OJO KETUNGKUL MARANG KALUNGGUHAN, KADONYAN LAN KEMAREMAN
"Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi"

8. OJO KUMINTER MUNDAK KEBLINGER, OJO CIDRA MUNDAK CILAKA
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah; Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka

9. OJO ADIGANG, ADIGUNG, ADIGUNO
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti.

MONGGO DIBAGIKAN JIKA BERMANFAAT.....

0 komentar:

Jangan Berburuk Sangka kepada Gurumu



OJO NGERASANI GURUMU DAN PAKSALAH DIRIMU BERSIKAP DAN BERAKHLAK SEBAIK MUNGKIN PADA GURUMU, MESKIPUN ITU BERAT

Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan seorang murid yang tak menjaga akhlak pada gurunya, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali

A. KH. ABDUL KARIM MENERIMA GURUNYA; MBAH KHOLIL APA ADANYA SERTA TUNDUK PATUH TAK BERANI SUUDZON

Syaikhina KH. Abdul Karim, Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, semasa beliau mengaji kepada Syaikhina Kholil Bangkalan, beliau adalah murid yang sangat ta'dhim dan khidmah kepada gurunya.

Alkisah, suatu hari Mbah Abdul Karim muda bekerja memanen padi di sawah milik warga kampung sekitar Pesantren. Dari sana beliau mendapatkan upah berupa beberapa ikat padi yang bakal digunakannya untuk biaya hidup di Pesantren. Namun, sesampai di kediaman sang guru (Mbah Kholil), justru Mbah Kholil meminta padi muridnya itu untuk diberikan kepada ayam-ayam Mbah Kholil. Karena ini dawuh sang guru, KH. Abdul Karim langsung menyerahkan padinya. Ia didawuhi Mbah Kholil untuk selama mondok cukup memakan daun pace (mengkudu).

Demikianlah kisah mondoknya Mbah Abdul Karim, sehingga akhirnya beliau diijinkan sang guru untuk boyong, karena semua ilmu Mbah Kholil telah diwariskan kepadanya. Sesampai di kampung halaman, Mbah Abdul Karim mulai merintis Majlis Ta'lim, hingga akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Lirboyo. Mbah Abdul Karim mengajarkan ilmu yang ia timba dari kedalaman samudera ilmu Mbah Kholil.

B. PASRAH BONGKOKAN PADA AJARANYA GURU

Satu hal yang unik, setiap membacakan (mengajar) kitab di depan para santri, ketika beliau bertemu dengan ruju' (tempat kembalinya maksud dari sebuah kata), beliau tidak pernah menyebutkan ruju'nya secara gamblang. Beliau menyebutkan dengan "iku mau" atau "mengkono mau" (yang tadi atau "sebagaimana tadi"). Tentu ini membingungkan bagi para santri baru. Hingga pernah suatu ketika pada saat pengajian bulan Ramadhan, atau dikenal dengan istilah "posonan", seorang santri dari luar daerah mengikuti pengajian Mbah Abdul Karim. Karena setiap mengajar kitab, Mbah Abdul Karim jarang menjelaskan ruju'annya. Santri baru ini 'nggerundel'; "Ini bagaimana, katanya seorang kyai 'alim, kok setiap ada ruju'an tidak pernah dijelaskan?", gumamnya dalam hati.

Dengan izin Allah, Mbah Abdul Karim 'perso' (mengetahui) perihal keluhan sang santri ini. Di tengah suasana mengaji, Mbah Abdul Karim dhawuh; "Laa ya'rifu al dhomir illa al dhomir, fa man lam ya'rif al dhomir fa laisa lahu al dhomir" (tidak akan pernah mengetahui makna dhomir kecuali hati (dhomir), maka apabila seseorang tidak mengetahui dhomir, itu artinya dia tidak punya hati). Lalu beliau menjelaskan kepada para santri, bahwa demikianlah (dengan tidak menjelaskan ruju'nya dhomir) pengajian yang diajarkan oleh gurunya, Mbah Kholil. Sehingga ketika mengajar kepada santrinya, Mbah Abdul Karim tidak berani mengubah apa yang diajarkan sang guru kepadanya.

C. OPENONO AKHLAKMU MARANG GURUMU

Kesuksesan murid (peserta didik) dalam memperoleh ilmu yang bermanfaat, tidak hanya ditentukan oleh lembaga pendidikan, metode mengajar guru, atau sarana prasarana fisik dalam belajar, tapi yang paling dominan justru ditentukan oleh akhlak murid (peserta didik) kepada guru (pendidik).

Al Imam an Nawawi ketika hendak belajar kepada gurunya, beliau selalu bersedekah di perjalanan dan berdoa, " Ya Allah, tutuplah dariku dari kekurangan guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan tidak seorangpun yg menyampaikan kekurangan guruku kepadaku ". (Lawaqih al Anwaar al Qudsiyyah : 155)

Al Imam an Nawawi juga pernah mengatakan dalam kitab At Tahdzibnya :

عقوق الوالدين تمحوه التوبة وعقوق الاستاذين لا يمحوه شيء البتة

"Durhaka kepada orang tua dosanya bisa hapus oleh taubat, tapi durhaka kepada ustadzmu tidak ada satupun yg dapat menghapusnya".

Al Habib Abdullah al Haddad mengatakan " "Paling bahayanya bagi seorang murid, adalah berubahnya hati gurunya kepadanya. Seandainya seluruh wali dari timur dan barat ingin memperbaiki keadaan si murid itu, niscaya tidak akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali ". (Adaab Suluk al Murid : 54)

D. OJO KAKEHAN TAKON, LAN OJO GAMPANG NJALUK IJAZAHAN ATAUPUN AMALAN

Al Habib Abdullah al Haddad juga berkata: "Tidak sepatutnya bagi penuntut ilmu mengatakan pada gurunya, " perintahkan aku ini, berikan aku ini !", karena itu sama saja menuntut untuk dirinya. Tapi sebaiknya dia seperti mayat di hadapan orang yg memandikannya ". (Ghoyah al Qashd wa al Murad : 2/177)

Dikisahkan, bahwa seorang murid sedang menyapu madrasah gurunya, tiba-tiba Nabi Khidlir mendatanginya. Murid itu tidak sedikitpun menoleh dan mengajak bicara Nabi Khidlir. Maka Nabi Khidhir berkata, " Tidakkah kau mengenalku ?. Murid itu menjawab, " ya aku mengenalmu, engkau adalah Abul Abbas al Khidhir ".
Nabi Khidhir, " kenapa kamu tidak meminta sesuatu dariku ?".
Murid itu menjawab, " Guruku sudah cukup bagiku, tidak tersisa satupun hajat kepadamu ". (Kalam al Habib Idrus al Habsyi : 78)

Para ulama ahli hikmah mengatakan, " Barangsiapa yang mengatakan " kenapa ?" Kepada gurunya, maka dia tidak akan bahagia selamanya ". (Al Fataawa al Hadiitsiyyah : 56)

Al Imam Ali bin Hasan al Aththas mengatakan :

ان المحصول من العلم والفتح والنور اعني الكشف للحجب، على قدر الادب مع الشيخ وعلى قدر ما يكون كبر مقداره عندك يكون لك ذلك المقدار عند الله من غير شك

" Memperoleh ilmu, futuh dan cahaya (maksudnya terbukanya hijab-hijab batinnya), adalah sesuai kadar adabmu bersama gurumu. Kadar besarnya gurumu di hatimu, maka demikian pula kadar besarnya dirimu di sisi Allah tanpa ragu ".(al Manhaj as Sawiy : 217)

Para ulama ahli haqiqat mengatakan, "mayoritas ilmu itu diperoleh sebab kuatnya hubungan baik antara murid dengan gurunya".

E. GURU IKU TERMASUK WONG TUWO ING DUNYO LAN AKHIROT,
MERGO GURUMU NAFAQOHI RUH-MU DENGAN ILMU AGAMA.

Di dunia kita harus tunduk dan patuh, dan di akhiratpun status mereka tetap sebagai guru kita yang akan menuntun kita pada guru-guru se atasnya hingga Nabiyyullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk mendapati pengakuan sebagai ummatnya hingga bisa memperoleh syafa'atnya.

F. DI ALAM KUBURPUN KITA BISA REUNI BERTEMU GURU KITA

Hal ini sangat jelas di terangkan dalam beberapa kitab ulama' bahwa :
Dalam kitab Musnad Imam Ahmad ada hadits shohih yang bersumber dari Anas bin Malik rodhiyallahu anhu:

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات، فإن كان خيراً استبشروا به، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا

"Sesungguhnya amal perbuatan kalian (yang masih hidup didunia ini) di tampilkan kepada kerabat kerabat dan keluarga kalian yang telah mati. Jika amal perbuatan kalian itu BAGUS, maka mereka turut senang dan bahagia, dan jika BURUK, mereka berkata/berdoa:"Ya Allah ya Tuhanku, jangan Engkau cabut nyawa mereka sehingga Engkau memberikan Hidayah kepada mereka seperti halnya kepada kami".
-
Bebrapa kalangan ulama' yang di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah di tanya tentang yang hidup menziarahi yang mati (ziarah kubur) itu apakah yang mati (di dalam kubur) mengetahuinya? Dan apakah yang mati mengetahui jika ada kerabatnya atau yang lain ada yang mati?

Beliau menjawab:

الحمد لله، نعم قد جاءت الآثار بتلاقيهم وتساؤلهم وعرض أعمال الأحياء على الأموات، كما روى ابن المبارك عن أبي أيوب الأنصاري قال: إذا قبضت نفس المؤمن تلقاها الرحمة من عباد الله، كما يتلقون البشير في الدنيا، فيقبلون عليه ويسألونه فيقول بعضهم لبعض: أنظروا أخاكم يستريح، فإنه كان في كرب شديد، قال: فيقبلون عليه ويسألونه: ما فعل فلان وما فعلت فلانة، هل تزوجت

Segala Puji bagi Allah, ya benar.
Telah ada sebuah Atsar yang menjelaskan tentang perjumpaan mereka dan percakapan mereka (yang baru mati dgn kerabatnya yang sudah lama mati) dan juga ditampilkan amal perbuatan yang hidup kepada yang telah mati seperti yang telah diriwayatkan oleh Imam Ibnu Mubarok dari Abu Ayub Al Al Anshori. Beliau menuturkan:

Jika seorang mukmin meninggal dunia, maka mereka hamba hamba Allah yang beriman mendapati rahmat Allah, yaitu mereka saling bertemu satu sama lain (di alam ruh). seperti halnya manusia di dunia.
Mereka saling menyambut dan bertanya satu sama lain.

Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain:"Lihatlah saudara kalian itu… dia sekarang bisa beristirahat dari kesedihan yang sangat dari kebisingan dunia.
Mereka (yang lama mati) menyambutnya (yang baru mati) dan mereka bertanya (kepada yang baru mati): mereka bercakap-cakap dengan obrolan "apa yang dikerjakan si A sekarang didunia?
mereka babercakap-cakap dengan kalimat "bagaimana kabar si wanita itu? apakah dia sudah menikah? Wa ghoiru dzalik...

Maka, jagalah akhlaqmu pada guru, sebab kau akan tetap bertemu gurumu baik di Dunia, di alam kubur, dan juga di akhirat hingga bisa berkumpul bersama-sama di surga.

Wallaahu A'lam Bil Showaab

Ket. Foto:
Syaikhuna Maimoen Zubair bersama Syaikh Ibrahim Syafi'i, salah satu Keturunan Imam Syafi'i, saat sowan di kediaman Beliau di Karangmangu Sarang Rembang.

0 komentar: