Dalil Puasa Tasu'a dan 'Asyura' Muharram serta Sedekah Anak Yatim



Dalam shahih Bukhari, Ibn Abbas meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah saw memasuki kota Madinah, dan orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram ('Asyura'). lalu Nabi bertanya: "Ini hari apa?"

Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka. Kemudian Nabi Musa as berpuasa pada hari ini." Nabi pun berpuasa tgl 10 Muharram dan memerintahkan pada para sahabatnya untuk berpuasa sunnah tanggal 10 Muharram.

صوموا التاسع والعاشر ولا تشبهوا باليهودي

"Berpuasa sunnahlah tanggal 9 dan 10 Muharram, dan jangan kalian menyerupai orang Yahudi (yang hanya puasa tanggal 10 Muharram)"

عن عبد الله بن عمر : من صام عا شوراء فكانما صام السنة ومن تصدق فيه كان كصدقة السنة

"Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar : siapa yang berpuasa tanggal 10 Muharram, maka dia seolah puasa setahun penuh, dan barang siapa bersedekah pada tanggal 10 Muharram, maka ia seolah bersedekah selama setahun."

من صام عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشرة الاف ملك ومن صام عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشرة الاف شهيد وثواب الاف حاج ومعتمر ومن مسح بيده علي راءس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى له بكل شعرة علي راءسه درجة في الجنة ومن فطر مؤمنا ليلة عاشوراء فكانما افطر عنده جميع امة محمد ص م واشبع بطونهم

"Barang siapa yang berpuasa tanggal 10 Muharram, maka ia diberi pahala 10.000 malaikat, 10.000 orang yang mati syahid, 10.000 orang yang haji dan umrah. Barangsiapa mengusap kepala anak yatim (dengan diiringi sedekah) pada tanggal 10 Muharram, maka Allah akan angkat derajatnya di surga sesuai helai rambutnya. barangsiapa memberi makan orang mukmin pada malam 10 Muharram, maka ia seolah memberi makan semua umat Nabi Muhammad Saw dan mengenyangkan perut mereka."

Mustain

0 komentar:

Hukum Berdalil dengan Hadits Dhaif adalah Diperbolehkan. Ini Kumpulan Dalilnya



Alhamdulillah, barusan hatiku termehek-mehek dan teruhuk-uhuk, ketika melihat sekilas bahwa ternyata sudah ada sekitar 1700 an orang yang sudah mendownload kitab ecek2ku yang ku tulis 3 tahun lalu berjudul "roddul hadits al-dlo'if bi al-kulliyyah fitnah kabiroh mu'ashiroh". yang bisa disruput di link ini:


Kitab ini sengaja ku tulis atas permintaan Ustadzku dari Sudan yang menyuruhku menulis kitab tentang hukum berdalil dengan hadits dlo'if. Karna waktu itu beliau lagi panas2nya didebat "sesosok menyeramkan" terkait masalah itu, yang berujung pada berpisahnya antara diriku dan ustadzku yang mulia ini, karena sekarang aku harus di sini dan beliau harus di sana... 😭😜

Awalnya aku menolak, karna beliau adalah Doktor hadits,, kukira beliau hanya bercanda,, tapi ketika beliau beberapa kali memintaku, akhirnya kusanggupi,, karna kulihat anak2 di sini juga kurang begitu faham masalah ini, termasuk juga yang mendebat guruku itu ksepertinya jarang fiknik. qiqiqi 😂😜

Akhirnya dengan taufik dan inayah Alloh Ta'aala, setelah 10 hari mencari cinta,, ups,, mencari inspirasi,,, hehe 😅 munculah kitab ini, dan langsung saya sodorkan kepada beliau dan beliau pun mengistihsankannya. 😉

Kitab ini membahas tentang hukum berdalil dengan hadits dlo'if, intinya ada 3 pendapat dlm masalah ini: ada yang mengatakan boleh berdalil dengan hadits dlo'if secara muthlak, ada yang melarang secara muthlak dan ada yang membolehkannya dalam hal fadloil a'mal, dan yang ketiga ini adalah madzhab Jumhur 'Ulama.

Kitab ini juga sebagai vaksin bagi beberapa kalangan yang tidak suka "Kopi Susu" (mungkin sukanya kopi sianida,, wqwqwq 😅) yang menyamakan kedudukan hadits dlo'if dengan hadits maudlu' dan tidak mau menggubris pendapat lain dalam masalah hadits dlo'if. Semoga kehadiran kitab ini ada manfaatnya, juga bisa menjadi nuansa baru dalam dunia perkopian..ups,, dunia perilmuan... qiqiqi 


Ibnu Harjo Al-Jawi

0 komentar:

Bolehkah Menikah di Bulan Muharam atau Sura?



Sabtu yang lalu ada tetangga melangsungkan pernikahan di bulan Muharram. Maka saya jelaskan kebolehan menikah di bulan Muharram ini berdasarkan Fatwa Syekh Athiyyah Shaqr dari Mesir:

ﻳﻘﻮﻝ ﺑﻌﺾ اﻟﻨﺎﺱ ﺇﻥ ﻋﻘﺪ اﻟﺰﻭاﺝ ﻓﻰ ﺷﻬﺮ اﻟﻤﺤﺮﻡ ﺣﺮاﻡ ﺃﻭ ﺷﺆﻡ، ﻓﻬﻞ ﻫﺬا ﺻﺤﻴﺢ؟

Sebagian orang berkata bahwa akad nikah di bulan Muharram adalah dilarang atau pertanda buruk. Apa ini benar?

ﻭﻗﺪ ﺫﻛﺮﺕ ﻛﺘﺐ اﻟﺴﻴﺮﺓ ﺃﻥ اﻟﻨﺒﻰ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻘﺪ ﻟﻔﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺘﻪ ﻋﻠﻰ ﻋﻠﻰ ﺑﻦ ﺃﺑﻰ ﻃﺎﻟﺐ ﺑﻌﺪ ﺑﻨﺎﺋﻪ ﺑﻌﺎﺋﺸﺔ ﺑﺄﺭﺑﻌﺔ ﺃﺷﻬﺮ ﻭﻧﺼﻒ اﻟﺸﻬﺮ، ﻭﺣﻴﺚ ﻗﺪ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺃﻥ ﺯﻭاﺟﻪ ﻭﺑﻨﺎءﻩ ﺑﻌﺎﺋﺸﺔ ﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﺷﻮاﻝ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺯﻭاﺝ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﻓﻰ ﺷﻬﺮ ﺻﻔﺮ، ﻭﺫﻛﺮ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻓﻰ ﺃﻭاﺋﻞ اﻟﻤﺤﺮﻡ.

Kitab sejarah menyebutkan bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam menikahkan Fatimah dengan Ali, sesudah Nabi menikah dengan Aisyah terpaut 4 bulan setengah. Kita telah tahu bahwa Nabi menikah dengan Aisyah di bulan Syawal maka pernikahan Fatimah adalah di bulan shafar. Ada yang mengatakan bahwa pernikahan Fatimah di awal bulan Muharram.

ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻳﻜﻦ ﻣﻦ ﺷﻰء ﻓﻼ ﻳﻨﺒﻐﻰ اﻟﺘﺸﺎﺅﻡ ﺑﺎﻟﻌﻘﺪ ﻓﻰ ﺃﻯ ﻳﻮﻡ ﻭﻻ ﻓﻰ ﺃﻯ ﺷﻬﺮ، ﻻ ﻓﻰ ﺷﻮاﻝ ﻭﻻ ﻓﻰ اﻟﻤﺤﺮﻡ ﻭﻻ ﻓﻰ ﺻﻔﺮ ﻭﻻ ﻓﻰ ﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ، ﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻧﺺ ﻳﻤﻨﻊ اﻟﺰﻭاﺝ ﻓﻰ ﺃﻯ ﻭﻗﺖ ﻣﻦ اﻷﻭﻗﺎﺕ ﻣﺎ ﻋﺪا اﻹﺣﺮاﻡ ﺑﺎﻟﺤﺞ ﺃﻭ اﻟﻌﻤﺮﺓ

Dengan demikian tidak dianjurkan merasa sial dengan akad nikah di hari apapun dan di bulan apapun. Tidak di bulan Syawal, Muharram, shafar dan sebagainya, selama tidak ada larangan menikah di waktu apapun, kecuali saat ihram haji dan umrah (Fatawa Al-Azhar)

Ust Ma'ruf Khozin

0 komentar:

Kisah Hati Al-Khatimi Al-Thoi yang Sebening Embun




Dituduh dan difitnah sebagai orang sesat, zindiq, liberal dan sebutan sejenisnya oleh Fulan (nama samaran), Syaikh Abu Bakar Muhyiddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdillah al-Khatimi al-Tho'i tetap konsisten pada pemahaman dan pendiriannya. 

Tokoh yang dilahirkan pada 17 Ramadan 560 H tak sedikitpun menyimpan rasa dendam pada Fulan. Syaikh bahkan merasa kasihan dan selalu mendoakan kebaikan untuk orang yang mencaci dan melaknatnya.

Fulan telah bersumpah untuk mencaci dan melaknat Syaikh sepuluh kali sehari. Setelah beberapa tahun menjalankan sumpahnya Fulan yang juga salah satu tokoh di masyarakat Damaskus itupun meninggal dunia. 

Mendengar kabar Fulan meninggal, Syaikh bukannya merasa lega terhadap orang yang telah mencaci dan melaknatnya itu, beliau malahan bersedih bahkan ikut menghadiri upacara pemakaman Fulan.

Sekembalinya dari pemakaman, Syaikh duduk menghadap kiblat, hingga makanan yang disajikan pada pagi hari itu tak disentuhnya, bahkan Syaikh tetap "khudlur" dalam munajatnya. Keadaan demikian ini berlanjut sampai selepas isya. 

Wajah beliau tampak sumringah gembira dan penuh dengan senyum lega, dan meminta seorang khadimnya mengambilkan makan malamnya.

Salah seorang santrinya memberanikan diri bertanya tentang apa yang sedang terjadi. Beliaupun berkata :

( التزمت مع الله اني لا آكل ولا اشرب حتى يغفر لهذا الذي يلعنني و ذكرت له سبعين الف لا اله الا الله فغفر له - ذخائر الاعلاق شرح ترجمان الاشواق دار بيبلون باريس نوفمبر 1967)

"Saya mengharuskan diriku di hadapan Allah bahwa saya tidak akan makan dan minum sedikitpun sebelum Allah mengampuni orang yang selalu melaknat dan mencaciku itu. Pengampunan itu baru diberikan setelah saya hadiahkan bacaan tahlil sebanyak 70 ribu kali".

Al-Bughuri Samaron

0 komentar:

Petuah Bijak Syeikh Thantawi, Grand Syeikh Al-Azhar Al-Syarif





Syeikh Thantawi adalah seorang ulama besar di dunia Islam. Ia dinobatkan sebagai Grand Syeikh Al-Azhar Al-Syarif Kairo Mesir. Fatwa-fatwanya dijadikan rujukan umat Islam sedunia. Petuahnya diambil manfaat dan tausiahnya diambil hikmah oleh umat Islam dan para pemukanya.

Berikut ini adalah beberapa petuah beliau.



Salah satu tulisan yang sangat mengesankan ditulis oleh Syekh Thanthawi (Grand Syeikh Al Azhar Asy Syarif):

 كُلُّنَا اَشْخَاصٌ عَادِيٌّ فِى نَظْرِ مَنْ لاَ يَعْرِفُنَا
Kita semua adalah orang biasa dalam pandangan orang-orang yg tidak mengenal kita.

 وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ رَائِعُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَفْهَمُنَا 
Kita adalah orang yang menarik di mata orang yang memahami kita.

، وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مُمَيِّزُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يُحِبُّنَا
Kita istimewa dalam penglihatan orang-orang yang mencintai kita.

 وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ مَغْرُوْرُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْسُدُنَا
Kita adalah pribadi yg menjengkelkan bagi orang yang penuh kedengkian.

 ، وَكُلُّنَا اَشْخَاصٌ سَيِّئُوْنَ فِى نَظْرِ مَنْ يَحْقِدُ عَلَيْنَا
Kita adalah orang-orang jahat di dalam tatapan orang-orang yang iri.

 ، لِكُلِّ شَخْصٍ نَظْرَتُهُ، فَلاَ تَتْعَبْ نَفْسَكَ لِتُحْسِنَ عِنْدَ الآخَرِيْنَ
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pandangannya masing masing, maka tak usah berlelah lelah agar tampak baik di mata orang lain.

 ، يَكْفِيْكَ رِضَا اللّٰهُ عَنْكَ ، رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَك 
Cukuplah dengan ridha Allah bagi kita, sungguh mencari ridha manusia adalah tujuan yang tak kan pernah tergapai.

، وَرِضَا اللّٰهُ غَايَةٌ لاَ تُتْرَك ، فَاتْرُكْ مَا لاَ يُدْرَكْ ، وَاَدْرِكْ مَا لاَ يُتْرَكْ   
Sedangkan Ridha Allah, destinasi yang pasti sampai,

Maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridha Allah.

0 komentar:

Gratis Download Buku Panduan Berkurban Syar'i



Kurban merupakan salah satu ajaran Islam yang memiliki akar pijakan yang sangat kokoh. Kurban sudah diajarkan sejak Era Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as. Umat Islam kemudian diperintahkan untuk menunaikan ibadah kurban sebagai manifestasi teladan kepada kedua Nabi besar tersebut, juga sebagai wujud ketaatan kepada perintah Allah swt dan Rasul-Nya. 

Demi mensukseskan ibadah Qurban, Ngrukem.com akan membagikan buku Sukses Quran yang ditulis oleh Ustad Ma'ruf Khazin. Buku ini bisa diunduh gratis di tautan di bawah ini. 

0 komentar:

Hukum Berjoget dalam Islam

Barangkali ada yang bertanya tentang hukum joget,,, hehe,,  Gak usah pada nyinyir dan nyindir mbah,, Yuk Keep Smile


Seseorang kalau mendengar irama yang bagus lalu berjoget, itu memang sudah menjadi fitrah manusia, kalau ada orang yg sok tidak terpengaruh apa2 dengan irama yang bagus, sudah bisa dipastikan dia memiliki kelainan, seperti yang diungkapkan Imam Al-Ghozali di Ihya Ulumiddin :


ومن لم يحركه السماع فهو ناقص مائل عن الاعتدال بعيد عن الروحانية زائد في غلظ الطبع وكثافته على الجمال والطيور بل على جميع البهائم فإن جميعها تتأثر بالنغمات الموزونة


Karena itulah, hukum ASAL berjoget itu boleh2 saja, seperti yg dikatakan Imam Ghozali di Ihya’ nya :


ولكن إن رقص أو تباكى فهو مباح إذا لم يقصد به المراءاة لأن التباكي استجلاب للحزن والرقص سبب في تحريك السرور والنشاط فكل سرور مباح فيجوز تحريكه

Itu juga kenapa dulu budak Habsyah ketika pada berjoget didepan Nabi SAW beliau mendiamkannya, sebagaimana yg di sebutkan dalam hadits riwayat Ahmad dengan sanad shohih sesuai syarat Imam Bukhori dan Muslim :


عن أنس قال: كانت الحبشة يزفنون بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم ويرقصون ويقولون: محمد عبد صالح، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " ما يقولون؟ " قالوا: يقولون: محمد عبد صالح

Itu pula sebab kenapa Para Ulama Saudi pun membolehkan berjoget bagi wanita dlm momen2 pernikahan,, hehe




الرقص للنساء وضرب الدف في مناسبات الزواج إذا لم يشترك فيه الرجال لا نعلم فيه بأسا


Sementara berjoget untuk laki2 -kata Lajnah Daimah- mereka belum menemukan dalilnya. qiqiqi. Saya katakan :

Tidak tahu dalil bukan berarti tidak ada dalil, herr  dan ternyata setelah tak ubek2 memang ada dalil berjoget untuk laki2 juga lo, seperti dalam hadits Ali yang diriwayatkan oleh Dliya di Ahadits Mukhtaroh dll dengan sanad hasan :


عن علي قال أتينا رسول الله صلى الله عليه وسلم أنا وجعفر وزيد فقال لزيد أنت أخونا ومولانا قال فحجل ثم قال لجعفر أنت أشبهت خلقي وخلقي قال فحجل وراء حجل زيد ثم قال لي أنت مني وأنا منك فحجلت وراء حجل جعفر


Kata “Hajila” menurut Alhafiz Ibn Hajar artinya "Goyangan Khusus", sperti yang beliau katakan di Fathul Bari :


فَحَجِلَ حَوْلَهُ وَحَجِلَ بِفَتْحِ الْمُهْمَلَةِ وَكَسْرِ الْجِيمِ أَيْ وَقَفَ عَلَى رِجْلٍ وَاحِدَةٍ وَهُوَ الرَّقْصُ بِهَيْئَةٍ مَخْصُوصَةٍ


Bahkan Imam Iz ibn Abdissalam yang kata Imam Dzahabi sudah mencapai derajat mujtahid, juga dikabarkan berjoget, seperti yang direkam dikitabnya Al-ibar fi khobari man ghobar :


قال قطب الدين: كان مع شدته فيه حسن محاضرة بالنوادر والأشعار. يحضر السماع ويرقص.


Jadi, berjoget tidak selamanya tidak boleh lo mbah. Saya sendiri kalau lagi menyimak setoran tahfidz anak2, beberapa dari mereka juga pada berjoget. Gak percaya? Silahkan lihat sendiri di lapangan… hehe


Bahkan kalau boleh jujur, orang yang main sepakbola atau futsal jauh lebih parah jogetannya,, kenceng2,, hehe  semua gerakan jogetnya mengikuti alunan irama bola.  Jujur saja siapa diantara yang main sepakbola ketika menggiring bola masih berdzikir? Boro2 mengingat Alloh, pasti 100 % otaknya tertuju ke sebuah benda bulat besar. 

Justru sepak bola itulah alat melalaikan yang dilalaikan… Toh hampir tidak ada yang koar2 hukum bermain sepak bola haram mutlak.. Hehe Yuk Keep Smile…


Ibnu Harjo Al-Jawi

1 komentar:

Doa Awal dan Akhir Tahun beserta Keutamaannya Menurut Syeikh Abdul Qadir Al Jailany




DOA AKHIR TAHUN DAN AWAL TAHUN HIJRIYAH
(Keutamaannya Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jailany Serta Tata Cara Pembacaannya)

Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan haram yang telah Allah muliakan. Secara khusus Allah melarang berbuat zalim pada bulan ini untuk menunjukkan kehormatannya. Allah Ta’ala berfirman:

 فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ
“Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. Al-Taubah: 36).

Ini menunjukkan, mengerjakan perbuatan zalim/maksiat pada bulan ini dosanya lebih besar daripada dikerjakan pada bulan-bulan selainnya. Sebaliknya, amal kebaikan yang dikerjakan di dalamnya juga dilebihkan pahalanya. Salah satu amal shalih yang dianjurkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk dikerjakan pada bulan ini ibadah shiyam. Beliau menganjurkan untuk memperbanyak puasa di dalamnya.

Dalam kitabnya “Al Ghaniyah“, Syech Abdul Qodir Al Jilani menukil sebuah hadist yg berbunyi:

“Barang siapa yg berpuasa sehari pada akhir dari bulan Dzulhijjah dan puasa sehari pada awal bulan Muharram, maka ia sungguh telah menutup tahun yg lalu dengan puasa dan membuka tahun dengan puasa. Dan Allah Ta’ala menjadikan kaffarat/tertutup dosanya selama 50 tahun“.

DOA AKHIR TAHUN HIJRIAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وِلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْ رَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ اِلَى التَّوْ بَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْءأَ تِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَاِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ
وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْئَلُكَ اَللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَاكَرِيْمُ
وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang. Semoga rahmat Allah tercurah kepada junjungan kami dan pemimpin kami Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam, keluarganya, dan para sahabat beliau. Ya Allah, segala amal yang aku lakukan pada tahun ini (yang telah silam), dari hal-hal yang Engkau larang kepadaku, lalu aku tidak bertaubat, sedangkan Engkau tidak meridhoinya, dan Engkau tidak melupakannya, dan menyantuni atasku sesudah kekuasaan-Mu atas siksa-siksa padaku. Engkau menyeru aku bertaubat darinya sesudah aku lakukan durhaka pada-Mu. Perkenankanlah Engkau mengampuni aku. Dan segala apa yang aku lakukan di dalamnya dari hal-hal yang Engkau ridhoi, dan Engkau telah menjanjikan pahala kepadaku, maka aku memohon kepada-Mu ya Allah Dzat yang Mulia, hai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, hendaklah Engkau terima dariku, janganlah Engkau memutuskan harapanku dari rahmat-Mu hai Dzat Yang Mulia. Shalawat dan salam, tetapkanlah pada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan shahabat beliau.

Tata Cara:

Do’a akhir tahun Hijriah ini hendaknya dibaca tiga kali pada akhir waktu ashar tanggal 29 atau 30 bulan Dzulhijjah. Fadhilahnya adalah barang siapa membaca do’a ini dalam waktu tersebut maka setan berkata: “Kesusahanlah bagiku,dan sia-sia lah pekerjaanku menggoda anak Adam(manusia) pada satu tahun ini karena mereka mengerjakan amal ini hanya dalam waktu lebih kurang 1 jam“. Di mulai dengan membaca Suratul Fatihah 1 kali kemudian membaca do’a akhir tahun dan diakhiri lagi dengan membaca Surat Al Fatihah 1 kali.

DOA AWAL TAHUN HIJRIAH

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ القَدِيْمُ اْلأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ اْلُمعَوَّلِ.
وَ هَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلْ أَسْأَلُكَ اْلعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ أَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ وَ اْلعَوْنَ عَلَى هَذَا النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَ اْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ

Artinya:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat Allah tercurah kepada junjungan kami dan pemimpin kami Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa aalihii wasallam, keluarganya, dan para sahabat beliau. Wahai Allah, Engkaulah Dzat yang abadi, yang terdahulu,yang mula-mula. Atas AnugerahMu yang besar dan kemurahanMu yang dijadikan pegangan, inilah tahun baru telah datang. Kami mohon kepadaMu pemeliharaan selama tahun ini dari setan, sahabat-sahabat, dan pasukannya. Dan pertolonganmu untuk melawan nafsuku ini yang selalu mengajak kepada kejahatan, serta sibukkanlah (aku) dalam melakukan amal yang dapat mendekatkan diriku kepadaMu sedekat-dekatnya, Wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemulyaan. Shalawat dan salam, tetapkanlah pada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau.

Tata Cara:

Pada malam harinya sejak permulaan terbenamnya matahari (timbul merah Jingga) atau setelah Maghrib, itulah tanda tanggal 1 Muharam telah tiba. Kita perlu mengucapkan selamat datang dengan membaca do’a Awal Tahun Hijriah. Fadhilahnya adalah, barangsiapa membaca do’a ini maka syetan-syetan akan berkata demikian: “Alangkah bahagianya orang itu, dia akan dilindungi dari godaan-godaanku pada sisa umurnya, karena Allah mengutus 2 malaikat untuk menjaganya dari godaan-godaanku“. Caranya di mulai dengan membaca Suratul Fatihah 1 kali kemudian membaca do’a awal tahun dan diakhiri lagi dengan membaca Surat Al Fatihah 1 kali.

0 komentar:

Hak Muslim di Antara Sesama Muslim



    Dari Abu Huraiarah ra. bahwasanya Rosulullah Saw. bersabda:" Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain itu ada lima yaitu: membalas salam, menjenguk orang yang sakit, mengiringkan orang orang yang mati, memenuhi undanganya dan menjawab orang yang bersin". ( HR Bukhari dan Muslim ).

     Dalam hadits yang diriwayatkan oleh muslim dikatakan:" Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam yaitu: bila kamu bertemu denganya maka ucapkanlah salam kepadanya, bila ia mengundangmu maka penuhilah undanganya itu, bila ia minta nasehat kepadamu maka nasehatilah ia, bila ia bersin dan membaca  Al hamdu lillah maka jawablah ( dengan ucapan yarhamukallah ),- bila ia sakit maka jenguklah ia, dan bila ia mati maka iringkanlah jenazahnya". ( HR Muslim ).

       ....20092017...

0 komentar:

Ijazah Kyai Mahrus Aly kepada Kyai Abdul Aziz Mansur


.
.
Setelah sekian lama bermukim di Pesantren Lirboyo, Kiai Aziz diminta oleh keluarga meneruskan tongkat estafet Abahnya, Kiai Manshur Anwar yang telah wafat meninggalkan beliau. Kiai Aziz mengiyakan. Akan tetapi, sebagai murid yang ta’at, sebelum beliau meninggalkan Lirboyo, Kiai Aziz berpamitan dulu kepada Kiainya yang sekaligus Pamandanya, KH. Machrus Aly.
.
.
“Mbah, kulo kapurih wangsul kaleh keluarga kulo ten griyo ler, Abah kulo sedo”ucap Kiai Aziz di hadapan Kiai Machrus.
.
“Iyo wes ndang mulih” Kiai Machrus menyambut ucapan itu “ndang diopeni Pondokke Bapakke, ditinggali Pondok kudu diopeni”
.
.
“Nggeh mbah” keluh Kiai Aziz “wangsule gampang, tapi kulo niku mboten saget nopo-nopo, kulo niku dereng nyambut gawe”
.
“Lha opo karepmu?” tanya Kiai Machrus
.
“Kulo panjenengan paringi ijazah, panjenengan paringi dungo” pinta Kiai Aziz
.
“Dungo apak?” tanya Kiai Machrus untuk kedua kalinya
.
“Panjenengan paringi dungo ben ndang iso nyambut gawe, kulo iku ndang sugih, ndang gawe omah”
.
Syahdan, mendengar ucapan Kiai Aziz seperti itu, Kiai Machrus menyahuti dengan mimik wajah muram, “Hisss… kowe wedi orep!”
.
Ucapan “Hiss…” Kiai Machrus itu, membuat hati Kiai Aziz luluh lantak. Air mata Kiai Aziz pun berlinang membasuh kering kerontang pipinya. Beliau menyesal.
.
Tangisan yang terurai dari mata Kiai Aziz lantas membuat batin Kiai Machrus terdorong untuk menyanggupi permintaan Kiai Aziz. “Wes ngene, tak warahi dungo, nek sembayang sing aktif fi awwalil waqti, tur nek iso jama’ah, ojo ngantek gak jama’ah, lek kapan ndek omah, jama’ah karo bojone dijak jama’ah, tur nek kapan nang masjid umpamane enek panggonan gae jama’ah wong wedok, bojone dijak jama’ah, nek bengi ditambah sembayang hajat rong roka’at, maringunu jaluk nang Gusti Allah, Ya Allah.. kulo sampean dadosaken tiang sing mlarat”
.
Sontak, hati Kiai Aziz terkejut mendengar saran sekaligus ijazah yang beliau minta kepada Pamandanya itu. Namun, hati Kiai Aziz kemudian mencair, setelah jeda yang cukup panjang, Kiai Machrus melanjutkan ucapannya, “Tapi nek pingin opo-opo keturutan”.
.
Alhamdulillah” batin Kiai Aziz.
.
#ulama #ulamanusantara #lirboyo

0 komentar:

Doa Awal dan Akhir Tahun Hijriyah






*SELAMAT TAHUN BARU 1439 HIJRIYAH*

_*DOA AKHIR TAHUN*_
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وِلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْ رَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ اِلَى التَّوْ بَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْءأَ تِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَاِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْئَلُكَ اَللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم
*Keterangan*

1. *Doa dibaca 3 X menjelang Maghrib*
2. Dalam Kitab Kanzunnajaah Wassuruur halaman 298, karya Syeikh ‘Abdul Hamid ibn Muhammad ‘Ali Quds:
فإن الشيطان يقول: تعبنا معه طول السنة وأفسد علينا فعلنا في ساعة واحدة
Mendengar doa ini, Setan berseru, ”Aduuh... repot kali saya sama orang ini. Pekerjaan saya setahun ini jadi berantakan dalam sekejap."


_*DOA AWAL TAHUN*_

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلََم اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ القَدِيْمُ اْلأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ اْلُمعَوَّلِ. وَ هَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلْ أَسْأَلُكَ اْلعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ أَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ وَ اْلعَوْنَ عَلَى هَذَا النَّفْسِ اْلأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَ اْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِي إِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ سَلَّمَ
*Keterangan*

1. *Dibaca 3 X sesudah Shalat Maghrib*
2. Dalam Kitab Kanzunnajaah Wassuruur halaman 68, karya Syeikh ‘Abdul Hamid ibn Muhammad ‘Ali Quds:
فإن الشيطان يقول : استأمن على نفسه فيما بقي من عمره، وتوكل به ملكان يحرسانه من الشيطان واتباعه
Mendengar doa ini, Setan berseru, "Orang ini meminta perlindungan di sekujur usianya, pasrah pada Tuhannya yang menjaganya dari Setan dan para pengikutnya."


*SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1439 H*

0 komentar:

Kesalahan-Kesalahan Kecil ini Bisa Membuat Motor Cepat Rusak

Motor dirawat jadi oke




Memiliki motor bukanlah hal yang sulit di zaman modern ini. Bahkan kita bisa memilikinya dengan sistem kredit bila belum memiliki uang tunai yang mencukupi. Proses kredit motor kini semakin mudah dan cepat. Sehingga kita pun bisa leluasa beraktivitas dengan motor baru.

Kalau sudah memiliki motor baru sesuai kebutuhan, kita juga wajib merawatnya secara cermat. Karena kesalahan-kesalahan kecil yang terjadi rupanya bisa membuat motor jadi cepat rusak. Mari kenali dulu beberapa kesalahan tersebut agar kita tidak melakukannya lagi:



Membawa Beban Berlebihan
Beban berlebihan ternyata berisiko membuat motor lekas rusak. Karena velg dan shock breaker harus bekerja ekstra akibat beban tersebut. Tak hanya itu saja, beban berlebihan pun membuat penggunaan bahan bakar jadi boros. Sebaiknya kita cermat mengenali kapasitas maksimal motor supaya tidak mengangkut beban berlebihan saat mengendarainya.



Selalu Menginjak Pedal Rem
Salah satu kesalahan sepele yang sering dilakukan saat mengendarai motor adalah selalu menginjak pedal rem. Padahal kebiasaan ini bisa berpengaruh pada kualitas kopling secara keseluruhan. Risiko slip pada plat kopling akan semakin besar dan kopling pun jadi mudah aus.


Membuka Gas Terlalu Besar Saat Menyalakan Motor
Ternyata membuka gas terlalu besar juga berisiko merusak motor. Sebab udara yang masuk ke bagian mesin akan semakin banyak dan tak sebanding dengan rasio bahan bakar. Akibatnya, mesin harus bekerja ekstra keras dan rentan rusak bila dibiarkan terus-menerus.


Tak Pernah Menggunakan Electric Starter
Banyak orang yang enggan menggunakan electric starter pada motor karena khawatir menguras performa aki. Padahal penggunaan electric starter justru sangat penting untuk menunjang kelancaran sistem kelistrikan motor. Tak ada salahnya sesekali menyalakan motor dengan sistem electric starter supaya semua komponen kelistrikan bekerja maksimal.



Mengisi Bahan Bakar Terlalu Penuh
Kita tak harus mengisi bahan bakar motor sampai penuh. Karena bahan bakar motor juga butuh ruang agar sedikit udara bisa masuk dan mendukung proses pembakaran pada mesin. Isilah bahan bakar motor secukupnya. Jangan pula membiarkan bahan bakarnya terlalu kosong agar kinerja mesin tak terganggu.


Mengabaikan Kualitas Ban Motor
Ban motor adalah komponen yang paling mudah rusak karena bersentuhan langsung dengan jalanan. Oleh sebab itu, kita harus memeriksa kondisi permukaan dan tekanan ban secara teratur. Jangan sampai kerusakan ban malah memperbesar risiko kecelakaan. Usahakan untuk mengganti ban secara berkala supaya performa ban senantiasa prima.


Malas Melakukan Servis Berkala
Servis berkala akan menuntaskan kerusakan-kerusakan ringan pada motor. Kini banyak distributor spare part motor yang menjual spare part orisinal sesuai tipe motor tertentu. Kita tak akan kesulitan memperoleh spare part berkualitas agar performa motor kembali stabil. Siapkan budget dan waktu senggang untuk melakukan servis berkala pada motor kesayangan.

Jika kita cermat menghindari tujuh kesalahan kecil tersebut, niscaya kondisi motor akan senantiasa baik dan nyaman dikendarai. Kita pun tak akan direpotkan oleh motor yang mogok ketika beraktivitas. Motor kesayangan harus mendapatkan perhatian istimewa setiap saat.

0 komentar:

Gratis Unduh Kitab-Kitab Aswaja an-Nahdliyah



Bagi yang ingin menambah koleksi kitab, buku dan referensi Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama mempersembahkan *KMNU E-Library* yang bebas diakses oleh siapa pun:

Aswaja

E-Book NU

Kitab-Kitab Nusantara

Kitab-Kitab Fikih

Kitab-Kitab Tafsir

Kitab-Kitab Hadits

Kitab-Kitab Nahwu Shorof

Kitab-Kitab Tarikh

Kitab-Kitab Maulid ar-Rasul

Kitab-Kitab Tashowwuf

Kitab-Kitab Tauhid

Nadzoman

Kitab-Kitab Karya Imam Ghozali

Kitab-Kitab Karya Abuya Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki

*Mohon bantuannya membagikan pesan ini, semoga dapat memberikan manfaat bagi diri kita dan orang-orang yang membutuhkan nya  selamat mutalaah / membaca semoga jadi pahala ..

0 komentar:

Khutbah Idul Adha



by  Nadirsyah Hosen Prof. Nadirsyah Hosen
Kamis, 31 Agustus 2017

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ
فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk berkumpul menunaikan salat Id bersama dalam rangka Idul Adha pada tahun ini. Shalawat dan salam kita haturkan sepenuh hati kepada junjungan kita Nabi yang mulia, Nabi yang welas asih, Nabi yang menebar rahmatan lil alamin, Nabi yang kita harapkan syafaatnya kelak di yaumul hisab, Nabi Muhammad SAW yang beserta keluarga dan sahabatnya telah menjadi suri tauladan bagi kita semua.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan juga kepada jamaah sekalian agar kita senantiasa memegang teguh ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.

Allahu Akbar 3x wa lilahil hamd
Jamaah salat Idul Adha yang dimuliakan Allah.

Dalam terminologi ajaran Islam, haji adalah kunjungan menuju baitullah dan tempat-tempat syi’ar keagamaan yang lain, pada waktu-waktu tertentu, untuk melaksankan bentuk-bentuk ibadah tertentu demi karena Allah. Ibadah yang dilakukan mulai dari bulan Syawwal, Dzulqaidah, dan puncaknya Dzulhijjah ini tidak hanya dikenal dalam syariat Muhammad SAW, melainkan telah dikenal lama dalam ajaran agama yang dibawa para nabi dahulu.

Dan atas perintah wahyu Allah, syariat ini dikumandangkan dengan tegas oleh Nabi Ibrahim, segera setelah ia bersama putranya, Ismail, membangun kembali Baitullah yang rusak dilanda banjir Nabi Nuh, sebagaimana diceritakan dalam firmanNya:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Surat al-Hajj: 27)

Jika dihayati dan direnungkan secara seksama dan mendalam, haji bukanlah murni semata sebagai ibadah mahdhah kepada Allah, tetapi juga merupakan proyeksi pengenangan dan rekonstruksi sejarah dari peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh para pendahulu kita, Adam, Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar, dengan mengambil lokasi, sebagaimana ditentukan Allah, tanah suci, Masjidil Haram, mas’a (jarak antara bukit Shafa dan bukit Marwah), Arafah, Masy’ar (suatu tempat yang terletak di antara Arafah dan Mina), Mina, Shafa, Marwah, dan sebagainya.

Dipilihnya kawasan Mekkah sebagai lokasi ibadah haji itu tentu bukan tanpa alasan, tetapi mengandung rahasia besar, latar belakang, hikmah, dan tujuan penting. Mekkah adalah suatu daerah yang terletak di tengah-tengah jazirah Arabia. Daerah ini, sebagaimana diketahui, terdiri atas perbukitan terjal dan sebagian besar padang pasir tandus dan gersang. Tidak dapat tumbuh atau ditanami sesuatu tumbuhan yang layak dijadikan makanan manusia.

Makanan pokok jenis nabati sulit, kalau tidak dikatakan mustahil, ditemukan di sana. Karena itu, ketika Nabi Ibrahim atas perintah Allah menempatkan putranya, Ismail, dan Siti Hajar di sana, ia memohon kepada Allah agar kawasan itu menjadi subur, sehingga para penduduk di sana nanti dapat bertahan hidup. Ini sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Surat Ibrahim: 37)

Pada bagian lain dalam al-Qur’an Allah menceritakan pula doa Nabi Ibrahim dalam penggalan ayat berikut ini:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian… ” (al-Baqarah: 126)

Allahu Akbar 3x wa lilahil hamd

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Jelas sudah bahwa ibadah haji di tanah suci merupakan bagian dari tradisi yang dilakukan semenjak masa Nabi Ibrahim AS. Lokasinya di Mekkah dan sekitarnya, namun pesan universal dari tradisi telah melampaui batas geografis lokasinya. Tradisi itu diteruskan turun temurun, dan sayangnya menjelang kehadiran Nabi Muhammad sebagai pembawa wahyu terakhir, beberapa tradisi ritual haji itu diselewengkan di masa jahiliah.

Di masa jahiliah orang-orang biasa tawaf di Ka’bah dalam keadaan tanpa busana. Seperti disebutkan di dalam riwayat Imam Muslim, Imam Nasa’i, dan Ibnu Jarir. Sedangkan lafaznya berdasarkan apa yang ada pada Ibnu Jarir, diriwayatkan melalui hadis Syu’bah dari Ibnu Abbas bahwa dahulu kaum pria dan wanita melakukan tawafnya di Baitullah dalam keadaan telanjang bulat.

Kaum pria melakukannya di siang hari, sedangkan kaum wanita pada malam harinya. Alasan mereka sebenarnya cukup masuk akal saat itu. Karena Ka’bah itu suci, sementara mereka kotor bergelimang dosa, maka mereka hendak memasuki rumah Allah dengan cara mensucikan diri mereka dengan telanjang seperti bayi yang baru lahir.

Namun Allah melarang praktik semacam ini. Turun surat al-A’raf ayat 31:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Bukan diminta menanggalkan pakaian, kita justru disuruh mengenakan pakaian yang bagus dan indah saat memasuki rumah Allah. Pun demikian bagi mereka yang sedang dalam keadaan ihram dan bertawaf mengelilingi Ka’bah, syariat Islam mengatur agar kita mengenakan pakaian khusus, bukan malah telanjang bulat.

Proses penyucian diri dari dosa bukan dilakukan dengan menelanjangkan tubuh kita di depan Ka’bah. Islam mengatur sedemikian rupa proses penyucian diri dari dosa lewat taubatan nasuha, membaca istighfar, berwudhu untuk membersihkan dari hadats kecil, mandi janabah bila berhadats besar, maupun lebih dalam lagi seperti mengamalkan ibadah puasa sehingga selepas Ramadan kita kembali suci seperti kertas putih, ataupun lewat penunaian zakat untuk menyucikan harta kita.

Di sinilah pentingnya kita mengikuti syariat Islam. Syariat Islam meminta kita melanjutkan tradisi ritual haji, namun pada saat yang sama juga memilah mana tradisi yang baik (shalih) yang harus kita pertahankan, dan mana tradisi yang harus kita benahi. Dengan kata lain, Islam tidak serta merta menolak semua tradisi atau adat istiadat.

Bagaimana kita mengisi penerapan syariat dengan mengkomodasi budaya? Dalam bahasa ushul al-fiqh ini disebut dengan al-‘Adah Muhakkamah (adat kebiasaan dijadikan panduan menetapkan hukum).

Begitu juga dengan kaidah al-Ma’ruf ‘urfan ka al-Masyrut Syartan (hal baik yg sudah dikenal secara kebiasaan diterima seperti halnya syarat) atau al-Tsabit bil-dalalatil ‘urf kats-tsabit bil dalalatin nash (yang ditetapkan dengan indikasi dari adat sama statusnya dengan yang ditetapkan berdasarkan petunjuk nash). Dan juga kaidah lainnya: Ma raahu al-muslimun hasanan fa huwa ‘indallah hasan (apa yang dianggap baik oleh umat Islam maka di sisi Allah pun dianggap baik).

Allahu Akbar 3x wa lilahil hamd

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Salah satu tradisi lainnya dari Nabi Ibrahim yang sekarang kita ikuti adalah tradisi berkurban. Sebenarnya tradisi berkurban ini bisa dilacak sampai ke belakang jauh sebelum Nabi Ibrahim, yaitu tepatnya pada kisah Habil-Qabil, putra Nabi Adam.

Al-Qur’an mengisahkan:

Ceritakanlah kepada mereka kisah dua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mem­persembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil, Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27).

Dalam kitab Tafsir Ibn Katsir dikisahkan bahwa Habil seorang peternak dan mengurbankan domba gemuk yang sehat. Sedangkan Qabil seorang petani yang menyerahkan gandumnya tapi hanya memberi yang jelek saja, bukan gandum terbaik. Itu sebabnya domba Habil diterima, dan gandum Qabil ditolak.

Menurut kitab Tafsir Thabari, domba milik Habil ini disimpan di surga, dan domba inilah kelak yang dipakai untuk menggantikan Nabi Ismail saat hendak dikurbankan oleh Nabi Ibrahim. Wa Allahu a’lam.

Itulah sebabnya ajaran Islam menganjurkan agar hewan-hewan tersebut merupakan hewan pilihan. Hewan yang sehat dan gemuk yang disukai orang. Bukan hewan cacat, sakit atau kurus yang tak layak dimakan, hatta si pemberinya pun tidak mau memakannya. Yang tulus berkurban akan memberikan yang terbaik. Begitulah hukum alam ini. Tengoklah bagaimana pengorbanan ibu kepada anaknya. Ketulusan melahirkan persembahan terbaik. Begitu pula kurban yang kita hendak berikan kepada Allah.

Allah berikan berbagai rezeki dan kasih sayangNya kepada kita sepanjang tahun ini. Allah selamatlan kita dan keluarga dari musibah. Allah jaga kita. Allah berikan perlindungan terbaik. Allah kabulkan permohonan kita dengan cara-cara terbaik sesuai ketentuanNya. Lantas, ketika tiba saatnya Allah meminta kita berkurban, apa tega kita hanya memberikan sekadarnya saja?!

Anjuran demikian bukan berarti Allah memerlukan yang baik-baik untuk diriNya sendiri. Sama sekali Allah tidak memerlukannya. Tetapi semua itu demi kepentingan manusia sendiri, terutama kaum fakir miskin sebagai pihak yang berhak menerimanya.

Maka, menjadi penting sekali firman Allah di bawah ini:
“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-Hajj : 37).

Pada masa jahiliah orang Arab memuncrat­kan darah hewan kurban mereka ke Baitullah, dan mempersembahkan juga daging hewan kurban mereka di Baitullah. Para sahabat yang merasa lebih berhak atas Baitullah menganggap mereka juga lebih berhak melakukan tradisi itu di Baitullah (Ka’bah). Lantas, turunlah firman Allah di atas yang memutuskan benang merah tradisi persembahan darah berabad-abad sebelumnya: Allah tidak membutuhkan darah dan juga daging hewan kurban kalian!

Itulah asbabun nuzul surat al-Hajj ayat 37 di atas. Tidak perlu memuncratkan darah hewan ke Ka’bah. Bahkan daging qurban tidak pula dipersembahkan sebagai “sesajen”, melainkan dibagikan kepada fakir miskin. Muatan teologis yang tegas, dibalut dengan kandungan sosial yang bernas. Kurban itu adalah simbol ujian ketakwaan kita. Takwa itulah yang akan mencapai keridhaan Allah, bukan darah dan daging hewan.

Dan sebenarnya bukan hanya darah dan daging yang tidak Allah butuhkan. Juga zakat, infaq, sadaqah kita. Salat kita. Puasa dan haji kita. Bahkan keimanan dan keislaman kita sekalipun. Kitalah yang membutuhkan Allah. Semua ritual pada hakekatnya kembali manfaatnya untuk diri kita. Kitalah yang lemah. Kitalah yang membutuhkan asupan ibadah.

Allah sama sekali tidak akan berkurang sedikit pun keagunganNya kalau tak ada manusia yang menyembahNya, dan tak bertambah sedikitpun kalau semua penduduk bumi menyembahNya. Maka, tidak mungkin kita bisa menukarkan amal ibadah kita dengan keridhaanNya. Mustahil!

Allahu akbar 3x wa lilahil hamd

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Begitulah dua contoh bagaimana Islam menganjurkan kita untuk melanjutkan tradisi baik yang dilakukan orang-orang saleh sebelum kita. Pada saat yang sama, dalam tradisi yang baik itu sepanjang sejarah peradaban telah terjadi berbagai penyimpangan ritual maupun pengaburan makna, maka syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad memilah mana tradisi yang harus kita lanjutkan dan mana yang harus kita benahi.

Manhaj dakwah semacam itu pula yang dikembangkan oleh para ulama Nusantara. Sebagai contoh ayat di atas mengenai perintah untuk memakai pakaian yang bagus dan indah saat memasuki rumah Allah. Maka, setelah bekerja seharian mengenakan pakaian yang kotor berdebu dan keringatan, tradisi Nusantara mengajarkan memakai sarung saat salat. Yang perempuan mengenakan pakaian khusus untuk salat, yaitu mukena. Ini semua agar terpelihara aturan syariat untuk suci dari najis, maupun terpenuhi anjuran untuk mengenakan pakaian yang bagus saat memasuki masjid.

Tradisi sarung dan mukena ini tidak terdapat di Mekkah. Namun bukan berarti tradisi ini bertentangan dengan ajaran Islam. Begitu juga dengan tradisi mengenakan pakaian baru saat lebaran, ini merupakan aplikasi ayat di atas dalam konteks kearifan lokal.

Mau pakai baju batik atau blankon, sorban dan gamis, atau peci hitam–peci putih, salat Anda sama-sama sah. Islam Nusantara tidak akan menganggap hanya yang pakai batik dan peci hitam serta sarung yang sah salatnya. Para ulama juga tidak akan menganggap hanya mereka yang pakai sorban dan gamis saja yang sah salatnya. Selama salatnya menutup aurat dan suci dari najis, maka pakaian apa pun yang dianggap baik menurut adat setempat bisa dipakai untuk salat. Tapi kalau Anda telanjang bulat masuk ke masjid seperti orang jahiliah dulu, tentu ini tidak dibenarkan.

Begitu juga ungkapan akhi-ukhti dalam interaksi sehari-hari, sesungguhnya itu sederajat dengan panggilan mas atau mbak. Mau panggil istri Anda dengan ummi atau mama atau ibu atau panggilan mesranya lainnya, silakan saja. Tidak perlu anti-Arab, tapi juga tidak perlu memaksakan orang lain untuk seperti orang Arab. Mau makan nasi kebuli, silakan. Mau makan jengkol dan pete, ya silakan. Islam Nusantara mengakomodir semuanya.

Allahu akbar 3x wa lilahil hamd

Begitu pula kearifan lokal ketika Kanjeng Sunan Kudus melarang warga Kudus untuk menyembelih sapi. Larangan menyembelih sapi oleh Sunan Kudus pada saat itu sangat beralasan. Pada awal datangnya Islam di Kudus sebagian besar masyarakat Kudus masih memeluk agama Hindu dan sebagian lainnya beragama Budha. Dalam kepercayaan umat Hindu, sapi adalah binatang yang sangat dihormati dan dimuliakan.

Meski dalam Islam menyembelih sapi adalah hal yang dihalalkan, tapi untuk menjaga perasaan umat Hindu yang tinggal di Kudus saat itu dan menghindari pertumpahan darah antar-umat beragama, Sunan Kudus melarang masyarakat Kudus menyembelih sapi saat Idul Adha. Terlebih isu agama adalah isu yang paling rentan memicu pertikaian antar-umat beragama.

Hingga sekarang masyarakat Kudus masih menghormati larangan itu, meski sebagian besar masyarakatnya sudah beragama Islam. Hal ini mereka lakukan untuk melestarikan pesan yang tersirat dari larangan tersebut.

Bayangkan seandainya fatwa Sunan Kudus bukan seperti itu, tapi misalnya karena Nabi menyembelih unta, maka kurban harus berupa unta. Tentu ini sulit mencari unta di tanah Jawa. Itulah sebabnya para ulama fiqh telah menetapkan hadyu itu berupa hewan ternak (bahimatul an’am). Ini tentu memudahkan buat kita yang berada di luar Arab. Unta bisa diganti dengan sapi atau kerbau.

Kambing Jawa atau sapi Madura, meski belum pernah ke Arab, hukumnya sah sebagai hewan kurban. Sekali lagi, yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging hewan kurban, tetapi ketakwaan kita.

Apa yang dilakukan oleh ulama Nusantara itu persis mengikuti metode dakwah yang digariskan oleh al-Qur’an: melanjutkan tradisi yang baik dari para orang baik sebelum kita, pada saat yang sama memilah-milah mana tradisi yang harus dibenahi dan didakwahi dengan lemah lembut, dan mana yang nyata-nyata harus ditinggalkan, dan bisa juga mana hal-hal baru yang lebih baik yang bisa kita pelajari dan kita amalkan.

Selamat menjalankan tradisi yang baik dalam perayaan Idul Adha, sebagaimana Hadits Nabi SAW mengingatkan kita untuk mengerjakan dan melanjutkan tradisi yang baik:

مَنْ سَنَّ فِي اْلإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang mengerjakan dalam Islam tradisi yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang mengkutinya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikitpun.” (HR Muslim)

Semoga Allah menerima amalan jamaah haji dan ibadah kurban yang kita lakukan dalam rangka melanjutkan tradisi Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad kama shalayta ‘ala Sayyidina Ibrahim. Taqabalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.

0 komentar: