Lima Pola Pensyariatan Ibadah dalam Islam




Oleh Akhmad Musta'in

Kemarin di grup-grup WA yang saya ikuti beredar postingan yang menganggap bahwa amaliah malam nishfu Sya'ban (termasuk berdoa) tidak ada tuntunannya dalam Islam. Menanggapi kontroversi ini, saya kutip tulisan Drs. K.H. Abd. Salam Nawawi, M.A., dosen UIN Sunan Ampel.

Menurut beliau, Islam mensyariatkan amal tidak dengan satu pola, melainkan dengan banyak pola yang kalau dirinci bisa dikategorikan ke dalam lima pola sbb.:
.
1) Pola "WTC" = Ditentukan WAKTU, TEMPAT, dan CARA-nya, misalnya HAJI.
2) Pola "TC" = Ditentukan TEMPAT, dan CARA-nya saja. Aspek WAKTU silakan pilih alias mana suka misalnya UMRAH, SALAT TAHIYATAL MASJID
3) Pola "WC" = Ditentukan WAKTU, dan CARA-nya saja. Aspek TEMPAT silakan pilih alias mana suka misalnya SALAT FARDU, PUASA FARDU.
4) Pola "C" = Ditentukan CARA-nya saja. Aspek WAKTU dan TEMPAT silakan pilih alias mana suka misalnya SALAT JANAZAH, SALAT HAJAT.
5) Pola "Non-WTC" = Tidak ditentukan WAKTU, TEMPAT, dan CARA-nya. Semua aspeknya bebas pilih alias mana suka. Misalnya ZIKIR, DOA, BACA QURAN, SEDEKAH.

Nah, aspek mana pun dari ibadah yang "didiamkan" atau "tidak ditentukan" oleh syariat, maka tidak ada hak bagi manusia untuk membahas-bahas dan menggugat-gugatnya lagi.

Pak Abd. Salam menyitir sebuah hadis hasan dari Abi Tsa’labah al-Khusyani (dimuat dalam kitab Riyadhus Shalihin, nomor hadis ke-1882), Nabi saw mengajari kita tentang cara bersikap terhadap syariat sebagai berikut:

إِنَّ الله تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودًا فَلاَ تَعْتَدُوهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً بِكُمْ غَيْرِ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا / حديث حسن رواه الدارقطني وغيره
.
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah (1) memfardukan kefarduan-kefarduan, maka jangan kalian lecehkan;
(2) menetapkan batas-batas, maka jangan kalian lampaui,
(3) mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar;
(4) mendiamkan beberapa hal sebagai rahmat atas kalian, bukan karena lupa, maka jangan kalian membahas-bahasnya lagi.
.
Nah, sebagai ibadah yang disyariatkan dengan pola Non-WTC, maka DOA boleh dan baik dilakukan kapan saja.
Mau berdoa di malam pertengahan atau nishfu Sya'ban, akhir/awal tahun, di akhir/awal bulan, di akhir/awal minggu, di akhir/awal hari dan seterusnya, semuanya boleh dan baik, TIDAK ADA YANG BID'AH DAN TIDAK ADA YANG SESAT.
.
Justeru yang sejatinya bid'ah dan sesat adalah tindakan mereka membid'ahkan dan menyesatkan itu sendiri.
.
Demikian, wallahu a’lam.

3 komentar:

Inilah Dalil Puasa Nishfu Sya'ban dan Salat Sunnah Nishfu Sya'ban




Nishfu Sya'ban atau tanggal 15 bulan Sya'ban dianggap sebagai salah satu hari yang sakral dalam tradisi Islam. Tanggal ini dipercaya sebagai tanggal pelaporan amal perbuatan umat manusia selama satu tahun. Benarkah demikian? 

Dalam satu riwayat yang disampaikan oleh Imam Turmudzi Rasulullah bersabda, 

“Sesungguhnya di bulan Sya’ban amal dilaporkan. Maka saya senang jika amal saya dilaporkan sementara saya dalam keadaan berpuasa”. Dan ada laporang tiap pekan, Senin dan kamis, seperti yang terdapat dalam riwayat Muslim. Juga ada laporan harian, yaitu amal di siang hari akan dilaporkan saat sore sebelum malam, dan amal malam dilaporkan di pagi hari sebelum siang. Laporan harian ini lebih khusus (terperinci) dari pada laporan tahunan. Dan jika ajal telah habis, maka seluruh amal selama hidup dilaporkan. (Tahdzib Sunan Abi Dawud 2/354)

Jadi memang ada laporan amal harian, pekanan, dan tahunan. Kelak ketka Sebab itulah, Rasul senang jika saat laporan amal, beliau dalam keadaan berpuasa dan memperbanyak amal.

Ada banyak amal yang disyariatkan untuk diperbanyak saat Nishfu Sya'ban, di antaranya adalah puasa Nishfu Sya'ban, salat sunnah pada malam Nishfu Sya'ban, dan membaca al-Quran, khususnya Surat Yasin dan doa-doa tertentu.

Apa hukumnya?

Tentu saja sunnah. Apakah ada dalilnya. Tentu saja ada. 


Dalil Salat Sunnah pada Malam Nishfu Sya'ban

“Dari ‘Ala’ bin Harits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangundan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak.

Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah ldan Rasulnya yang tahu”. 

Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah lakan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah ltidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)


Imam Ibnu Taimiyah juga pernah ditanyai soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: 

"Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú’ Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)


Dalil Puasa Nishfu Sya'ban

Puasa Nishfu Sya'ban tidak ada larangan. Hal ini karena puasa ini masuk puasa sunnah pada ayyam al-bidh (13, 14, dan 15 setiap bulan). 

Dalil lebih lengkap tentang hal Nishfu Sya'ban bisa gratis diunduh di buku Mana Dalil Nishfu Sya'ban.


0 komentar:

Sempurnakan Puasa dengan Unduh Buku Gratis ini




Puasa Ramadhan adalah ibadah yang tak biasa. Ia hanya hadir sekali dalam setahun. Ramadhan sendiri adalah bulan yanh mulia. Maka mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadhan adalah sebuah keniscayaan.

Berikut ini adalah buku Sukses Ramadhan yang bisa gratis diunduh. Buku ini memberikan panduan bagi umat Islam dari A sampai Z tentang bagaimana menjalani puasa.

Buku ini membahas bagaimana menyiapkan diri sebelum berpuasa, bagaimana berpuasa sesuai ketentuan syariat, bagaimana mengoptimalkan puasa sehingga mendapatkan banyak fadilah.


Selamat membaca....

0 komentar:

Bolehkah Imam Mendoakan Dirinya Sendiri?



Bagaimana hukum seorang imam yang ketika berdoa mendoakan dirinya sendiri (tidak menambahkan makmumnya). Atau, imam yang menggunakan mutakallim wahdah bukan mutakallim ma'al ghair.

Imam Al-Hafidz Zainuddil Al-Iraqi, maha guru dari Al-Hafidz Ibnu Hajar memberikan jawaban.

Pada intinya kata beliau. Di dalam shalat ada 2 bentuk doa, ada (1) doa yang dibaca sendiri-sendiri seperti doa iftitah, doa ta'awwudz sebelum salam dan sebagainya. Ada juga (2) doa yang hanya imam membaca dan makmum membaca amin, seperti Qunut. Pada posisi ini imam dianjurkan membaca doa untuk semua jamaah.

Al-Hafidz Al-Iraqi berkata:

ﻭﻳﺘﺄﻛﺪ اﺳﺘﻴﻌﺎﺏ اﻟﺤﺎﺿﺮﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﺇﻣﺎﻡ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻼ ﻳﺨﺺ ﻧﻔﺴﻪ ﺩﻭﻥ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ
 
Dianjurkan bagi imam jamaah untuk mendoakan bagi para hadirin keseluruhan, maka jangan imam tersebut mengkhususkan dirinya tanpa mendoakan makmum

ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺛﻮﺑﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - «ﻻ ﻳﺆﻡ ﺭﺟﻞ ﻗﻮﻣﺎ ﻓﻴﺨﺺ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﺪﻋﻮﺓ ﺩﻭﻧﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﻓﻌﻞ ﻓﻘﺪ ﺧﺎﻧﻬﻢ» ﻗﺎﻝ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ.

Berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban bahwa Nabi bersabda: "Janganlah seseorang menjadi imam bagi kaum lalu ia mengkhususkan dirinya dengan doa tanpa mendoakan mereka. Jika ia melakukannya maka ia telah mengkhianati mereka" (Tirmidzi menilai hadis hasan)

ﻭاﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻫﺬا ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺸﺎﺭﻛﻪ ﻓﻴﻪ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻮﻥ ﻛﺪﻋﺎء اﻟﻘﻨﻮﺕ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﺄﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺪﻋﻮ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺑﻪ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﺠﺪﺗﻴﻦ اﻟﻠﻬﻢ اﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﻭاﺭﺣﻤﻨﻲ ﻭاﻫﺪﻧﻲ، ﻓﺈﻥ ﻛﻼ ﻣﻦ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﻳﺪﻋﻮ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﻼ ﺣﺮﺝ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻓﻲ اﻹﻓﺮاﺩ

Secara dzahir hadis ini diarahkan pada doa yang tidak dalam posisi doa bersama antara imam dan makmum, contohnya doa Qunut dan lainnya. Jika masing-masing imam dan makmum berdoa sendiri seperti doa antara 2 sujud "Ya Allah ampunilah saya, kasihanilah saya dan berilah saya hidayah", yang semua makmum membaca doa itu, maka boleh bagi imam berdoa untuk dirinya sendiri" (Tharh At-Tatsrib  2/137).

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center Jatim

0 komentar: