Seluruh Ulama Sepakat Puasa Rajab itu Sunah, ini Dalilnya






Beberapa hari terakhir beredar banyak hadits palsu yang dikutip dari Ibnu Taimiyah. Hadits palsu ini mengabarkan bahwa puasa Rajab adalah bidah dan tidak ada rujukan dalam Islam. Broadcast yang sama juga mengutip hadits palsu yang disitir dari Ibnu Hajar dalam pengantar kitab Tabyiin Al-Ajab. Padahal, Ibnu Hajar menyebut hadits tersebut untuk mencontohkan hadits yang palsu, bukan untuk dijadikan pegangan. 

Di kitab Tabyiin al-Ajab, Ibnu Hajar juga menyebut pendapat masyhur dan kesepakatan di kalangan ulama lintas mazhab bahwa puasa Rajab adalah sunah hukumnya. Tetapi sayangnya, pendapat ini sengaja disembunyikan dalam broadcast tersebut. Entah untuk tujuan apa.

Lalu apa pendapat para ulama empat mazhab dalam puasa Rajab? Mari kita lihat kitab Al-Fiqh ala Mazahib Al-Arba'ah yang merangkum pendapat para ulama dari empat mazhab fikih.


يُنْدَبُ صَوْمُ شَهْرِ رَجَبَ وَشَعْبَانَ بِاتِّفَاقِ ثَلَاثَةٍ مِنَ الْأَئِمَّةِ وَخَالَفَ الْحَنَابِلَةُ ( الْحَنَابِلَةُ قَالُوْا : إِفْرَادُ رَجَبَ بِالصَّوْمِ مَكْرُوْهٌ إِلَّا إِذَا أَفْطَرَ فِي أَثْنَائِهِ فَلَا يُكْرَهُ ) (الفقه على المذاهب الأربعة – ج 1 / ص 895)


“Dianjurkan puasa bulan Rajab dan Sya’ban, berdasarkan kesepakatan 3 madzhab (Hanafi, Maliki dan Syafii). Sedangkan madzhab Hanbali berbeda. Mereka berkata: Mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa adalah makruh. Hukum makruh ini berlaku hanya jika ia berpuasa selama sebulan penuh. Kalau tidak sebulan penuh, maka tidak makruh. (al-Fiqh ala Madzahib al-Arbaah 1/895)
Mayoritas ulama sepakat bahwa puasa Rajab itu sunah. Mereka dari kalangan Hanafi, Maliki, dan Syafi'i.
Hanya mazhab Hanbali yang menyatakan makruh. Makruh ini tentu saja bukan bid'ah. Apalagi, makruh ini hanya berlaku ketika kita berpuasa sebulan penuh tanpa jeda. Jadi kalau kita berpuasa 28 atau 29 dari 30 hari Rajab, maka menurut Mazhab Hanbali hukumnya masih sunah.

Sehingga bisa dikatakan bahwa jika kita berpuasa pada bulan Rajab tetapi tidak penuh sebulan, maka seluruh ulama dari seluruh mazhab sepakat akan kesunahannya.


Apa dalilnya?

Ada empat hadits Rasul yang menyatakan kesunahan puasa. Tiga hadits tercantum dalam kitab "Al-Hawi lil Fatawi", karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi: 1 / 352, cetakan "Darul Fikr", Beirut, Lebanon tentang keutamaan puasa di bulan Rajab. Ketiganya adalah:


1. HR Anas, Rasulullah SAW bersabda:

ان فى الجنة نهرا يقال له رجب. ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل. من صام يوما من رجب سقاه الله من ذلك النهر.

"Sungguh di dalam surga terdapat sebuah sungai yang disebut Rajab. Airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberi minum dari air sungai itu."

2. HR Anas, Rasulullah SAW bersabda:

من صام من شهر حرام الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سبعمائة سنة.

"Barangsiapa puasa di bulan Haram, yaitu hari Kamis, Jum'at dan Sabtu, maka akan ditulis baginya ibadah tujuh ratus tahun."

3. HR Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda:

من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات.

"Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab bagaikan puasa sebulan. Barangsiapa puasa tujuh hari di bulan Rajab, maka tujuh pintu neraka jahim dikunci gembok. Dan, barangsiapa puasa delapan hari di bulan Rajab, maka delapan pintu surga dibuka. Juga, barangsiapa puasa sepuluh hari di bulan Rajab, maka amal-amal buruknya diganti dengan amal-amal baik."

Kemudian, hadits keempat adalah:

4. HR. Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda:

من صام ثلاثة أيام من شهر حرام، الخميس والجمعة والسبت كتب له عبادة سنتين.

"Barangsiapa puasa tiga hari di bulan Haram (Dzul-Qa'dah, Dzul-Hijjah, Muharram, dan Rajab), yaitu puasa hari Kamis, Jum'at, dan Sabtu, maka dituliskan baginya ibadah dua tahun." {Hadits Hasan riwayat Anas di dalam kitab "Faidhul Qadir Syarah Al-Jami'u ash-Shaghir, karya Imam Abdurra'uf Al-Munawi: 6 / 162).


Keutamaan Rajab

Bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Di dalamnya banyak keistimewaan. Imam Syafii menyebutkan bahwa salah satu keistimewaan Rajab adalah malam pengabulan doa. Imam Syafii berkata:

إن الدعاء يستجاب فى خمس ليال فى ليلة الجمعة وليلة الأضحى وليلة الفطر واول ليلة من رجب وليلة نصف الشعبان.

"Sungguh do'a akan dikabulkan pada 5 malam, yaitu:
1. Malam Jum'at,
2. Malam lebaran Idul Adha,
3. Malam lebaran Idul Fitri,
4. Malam pertama bulan Rajab,
5. Malam Nishfu Sya'ban (malam kelima belas bulan Sya'ban).


Lihat Imam Al-Baihaqi, As-Sunanul Kubra, 3 / 319, cetakan "Darul Fikr", Beirut, Lebanon.

Jadi jelas kan, bahwa hukum puasa Rajab adalah sunnah. Lalu apa tujuan mereka menyebarkan hadits palsu dan informasi dusta tentang puasa Rajab? Allahu a'lam

Semoga kita terlindung dari fitnah akhir zaman. 

0 komentar:

Hukum Mensalati Jenazah yang Saat Hidup Tidak Pernah Salat




Saat ini sedang heboh adanya masjid atau mushala yang tidak mau mensalatkan seorang muslimah hanya karena pilihan sikap dalam politik di pilkada. Padahal, Islam menegaskan bahwa kewajiban seorang muslim adalah mensalati saudara sesama muslim.

Lalu bagaimana dengan orang yang tidak mendirikan salat? Apakah setelah ia meninggal masih boleh disalati?

Ada perbedaan di kalangan ulama. 

Di kalangan Madzhab Imam Bin Hanbal, secara tegas ada larangan shalat kepada mereka yang meninggalkan shalat. Bagi ulama madzhab Hambali, orang yang meninggalkan salat secara sengaja langsung diberi hukum kafir. Maka jelas, mensalati jenazah orang kafir tidak diperkenankan dalam Islam.

Sementara itu di kalangan Madzhab Syafii masih diperinci. 

Jika ia meninggalkan shalat karena menolak dan ingkar maka jelas sama dengan pendapat Imam Ahmad bin Hambal di atas. Akan tetapi jika ia meninggalkan shalat karena malas maka masih dihukumi Islam. 

Di kalangan Madzhab Syafiiyah berlaku dalil berikut ini:

ﺻﻠﻮا ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻭﺻﻠﻮا ﻭﺭاء ﻣﻦ ﻗﺎﻝ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ (ﻃﺐ ﺣﻞ) ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ.

"Shalatkanlah orang yang mengucapkan Tiada Tuhan Selain Allah. Dan shalatlah dibelakang (makmum) orang yang mengucapkan Tiada Tuhan Selain Allah" (HR Thabrani dan Abu Nuaim dari Ibnu Umar)

Seorang ulama ahli hadis Al-Munawi berkata:

ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻷﻫﻮاء ﻭاﻟﻜﺒﺎﺋﺮ ﻭاﻟﺒﺪﻉ ﺣﻴﺚ ﻟﻢ ﻳﻜﻔﺮ ﺑﺒﺪﻋﺘﻪ
"Meskipun mayitnya orang yang mengikuti hawa nafsu, pelaku dosa besar dan pelaku bid'ah, selama bid'ahnya tidak mengarah ke kekufuran" (Faidl Al-Qadir 4/203)

Hadits ini menurut beliau:

ﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚ ﻟﻪ ﺧﻤﺲ ﻃﺮﻕ ﺿﻌﻔﻬﺎ اﺑﻦ اﻟﺠﻮﺯﻱ ﻓﻲ اﻟﻌﻠﻞ

Hadis ini memiliki 5 jalur riwayat, secara keseluruhan didlaifkan oleh Ibnu Al-Jauzi dalam Al-'Ilal Al-Wahiyah" (Faidl Al-Qadir 4/203)

Konon, dalam satu riwayat, ada dialog di antara Imam Syafii dan Imam Ahmad dalam permasalahn ini. Dalam dialog tersebut, ada argumentasi dari Imam Syafii yang tidak bisa dijawab oleh Imam Ahmad.

0 komentar:

Dua Amalan Utama pada Hari Jumat




الأولى: عن ابن عباس - رضي الله عنهما - عن النبي - صلى الله عليه وسلم - أنه قال: من قال بعدما تقضى الجمعة سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمْ وَبِحَمْدِهِ مائة مرة، غفر الله له مائة ألف ذنب، ولوالديه أربعة وعشرين ألف ذنب.

الثانية: عن سيدي عبد الوهاب الشعراني - نفعنا الله به - أن من واظب على قراءة هذين البيتين في كل يوم جمعة، توفاه الله على الإسلام من غير شك، وهما: إِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً * * وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ، فَهَبْ لِيْ تَوْبَةُ وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ * * فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ ونقل عن بعضهم أنها تقرأ خمس مرات بعد الجمعة .


Beberapa Faidah
Pertama: Dari Ibnu Abbas RA - Dari Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya beliau bersabda "Barangsiapa yang membaca ketika selepas shalat Jum'at سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمْ وَبِحَمْدِهِ 100 kali, maka dosanya diampuni sebanyak 100 ribu dosa. Dan bagi kedua orang tuanya dosanya diampuni 24 ribu dosa.


Kedua : Dari Tuanku Abdul Wahhab Asy Sya'roni, "Sesungguhnya orang yang rutin membaca dua bait ini pada setiap hari Jum'at, ia akan dimatikan Allah dalam keadaan islam tanpa diragukan sama sekali. Kedua bait tersebut adalah

إِلَهِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً * * وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ،
فَهَبْ لِيْ تَوْبَةُ وَاغْفِرْ ذُنُوْبِيْ * * فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ


Sebagian ulama mengutip, bait tersebut dibaca lima kali selepas shalat Jum'at.


0 komentar:

Inilah Lima Butir Risalah Sarang dari Ulama Khas NU Hadapi Problem Kebangsaan




Saat ini, negeri ini menghadapi ancaman isu primordialisme yang makin menguat. Para ulama khas NU kemudian berkumpul di Sarang Rembang, di kediaman KH. Maimun Zubair untuk merumuskan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara yang selaras dengan Islam dan visi ke-NU-an.

Risalah ini menegaskan bahwa NU akan bersikap moderat, tasamuh, demokrasi, dan mengedepankan kepentingan NKRI sebagai bagian integral dari wujud NU itu sendiri. Sikap ini juga NU arahkan untuk diikuti oleh seluruh bangsa Indonesia.

NU juga mendesak aparat penegak hukum untuk menegakkan hukum dengan adil. Pemerintah juga didiesak untuk bersikap adil dan memberikan kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan umat dengan meminimalisir kesenjangan.

Teknologi informasi harus dimanfaatkan secara adil dan bertanggung jawab. Pemerintah, seluruh pengguna TI, dan segenap pemangku kepentingan diminta untuk meminimalisir ekses negatif dari TI.

Para penerima amanah di negeri ini dituntut untuk berlaku adil dan bertanggung jawab atas amanah yang ia terima. Dan di akhirnya Risalah, para ulama khas NU meminta agar diadakan silaturahmi kebangsaan yang menjalin kembali simpul-simpul persaudaraan dan kesatuan.

Risalah Sarang lengkap bisa diunduh di tautan ini.

0 komentar: