Tata Cara Memasukkan Jenazah ke Dalam Liang Lahat


Nama :Tomi Muslim
Nim   :15-10-1033
Ada beberapa cara atau tehnik untuk memasukkan jenazah ke liang lahat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, sebagai berikut:
  1. Dari arah kedua kaki si mayit, menurut sahabat Abdullah bin Yazid dan diikuti oleh Imam Hadawiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad
  2. Mendahulukan kepala si mayit, menurut sahabat Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i
  3. Memasukkan jenazah dari arah kiblat dengan cara melintang agar lebih mudah, menurut Imam Abu Hanifah.
Dan setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, sebelum menguburkan jenazah, sesuai perintah Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, (tali yang mengikat kain kafan si mayit harus dilepas)
Sebagaimana keterangan di bawah ini:
عَنْ اَبِىْ اِسْحَاقَ قَالَ اَوْصَى الْحَارِثُ اَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيْدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ اَدْخَلَهُ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرِ وَقَالَ هٰذَا مِنَ السُّنَّةِ. رواه اْبو داود وسعيد في سننه (نيل الأوطار ج 4 ص 91)
Abu Ishaq berkata: Al-Harist pernah berwasiat agar dia dishalatkan oleh Abdulloh bin Yazid. (Pada saat al-Harits meninggal) Abdullah bin Yazid menyalatkan jenazahnya kemudian memasukkannya ke liang lahat dari arah kedua kakinya sambil berucap: “Demikian ini hukumnya sunnah”. HR. Abu Dawud dan Said.(Nail al-Authar juz 4 halaman 91)
وَفِى الْمَسْأَلَةِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ. اَلْاَوَّلَُ مَا ذَكَرَهُ وَاِلَيْهِ ذَهَبَتِ اْلهَادَوِيَّةُ وَالشَّافِعِيُّ وَاَحْمَدُ. وَالثّاَنىِ يُسَلُّ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ لِمَا رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنِ الثِّقَةِ مَرْفُوْعًا مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عََبَّاسٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ سَلَّ مَيِّتًا مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ وَهَذَا اَحَدُ قَوْلَيْ الشَّافِعِيِّ. وَالثَّالِثُ لِأَبِى حَنِيْفَةَ أَنَّهُ يُسَلُّ مِنْ قِبَلِ اْلقِبْلَةِ مُعْتَرِضًا إِذْ هُوَ أَيْسَرُ. (سبل السلام ج 2 ص 109)
Dalam masalah di atas ada 3 pendapat: Pertama pendapat dari penulis kitab, “Bahwa pendapat tadi diikuti Imam Hadawiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Kedua, mengurus mayit dari kepala dulu, berdasar pada riwayat terpercaya dari Imam Syafi’i yang disandarkannya pada hadits Ibnu Abbas bahwa nabi mengurus mayit dari kepalanya. Ini salah satu dari dua pendapat Imam Syafi’i. Ketiga, pendapat dari Abu Hanifah, yakni mengurus mayit dari arah kiblat dengan cara melintang agar lebih mudah. (Subul al-Salam, juz 2 halaman 109)
وَرَوَى عَنْ عَلِيٍّ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ وَلَدِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ فَاَمَرَ بِالسَّرِيْرِ فَوُضِعَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ اللَّحْدِ ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَسَلَّ سَلًّا ذَكَرَهُ الشَّارِحُ وَلَمْ يُخْرِجْهُ.
 Diriwayatkan dari sahabat Ali Karramallahu Wajhahu, ia berkata: Rasulullah Saw. menyalati jenazah salah seorang anak Abdil Muththalib kemudian ia memerintahkan agar mayit diletakkan di dipan dan kedua kakinya ke arah liang lahat, lalu ia memerintahkan untuk mengubur mayit itu dan melepas tali yang mengikatnya. Demikian kata Syarih yang ia sendiri tidak meriwayatkan hadist tersebut. (Subul al-Salam, juz 2 halaman 109)

0 komentar:

Kriteria Orang yang Terkena Wajib Zakat Fitrah




Zakat fitrah merupakan kewajiban yang difardhukan oleh Rasulullah SAW kepada setiap muslim, yang sebab wajibnya adalah karena berbuka dari puasa, berdasarkan hadist Ibnu Abbas yang diriwayat oleh Abu Daud dan Hakim dalam Mustadroknya dan beliau mengatakan shahih berdasarkan syarat shahih Imam Bukhori, tetapi Imam bukhori tidak menyebutkan dalam kitab shahihnya, dan Imam Zhahabi menyetujui perkataan Hakim, bahwa Ibnu Abbas mengatakan : “bahwa Rasulullah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dan sebagai makanan bagi orang fakir miskin”.

Muslim, maka yang tidak muslim tidak ada kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Tidak disyaratkan laki-laki, baligh dan berakal. Maka setiap muslim diwajibkan membayar zakat fitrah. Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : “ Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebanyak 1 sho’ dari kurma atau gandum bagi setiap muslim baik laki maupun perempuan yang merdeka,budak,orang tua, anak kecil”. Hadist ini diriwayatkan oleh Imam bukhari. Maka setiap muslim wajib membayar zakat fitrah walaupun budak.


Nisab (harta yang harus dimiliki). Zakat fitrah bila seseorang telah memiliki makanan untuk idul fitri maka yang berlebih dari makanan tersebut walaupun kurang dari 1 sho’ maka wajib dikeluarkan zakat fitrahnya, maka seorang fakir miskin yang mendapatkan zakat sebelum waktu wajib dihari terakhir Ramadhan dia menerima zakat fitrah 10 sho’ atau lebih untuk dia dan kelurganya pada hari esoknya, dipisahkan untuk kebutuhannya dan keluarga dan sisanya di zakatkan sesuai dengan zakat fitrah yang harus dikeluarkannya, andai dia menerima setelah masuk waktu wajibnya, umpamanya ditengah malam ada orang yang memberikan zakat fitrah dalam jumlah yang besar, maka tidak ada lagi kewajiban untuknya.

Orang miskinpun wajib zakat:

Ulama berbeda pendapat tentang batasan orang yang wajib menunaikan zakat fitrah.

1. Orang yang berkewajiban membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki harta satu nishab, sebagaimana zakat mal. Ini adalah pendapat ulama Kufah.

2. Orang yang wajib membayar zakat fitrah adalah mereka yang memiliki kelebihan makanan di luar kebutuhannya ketika hari raya, sekalipun dia tidak memiliki kelebihan harta lainnya. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, diantaranya Az-Zuhri, As-Sya’bi, Ibnu Sirrin, Ibnul Mubarok, Imam As-Syafii, Imam Ahmad dan yang lainnya. (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Selanjutnya Al-Khithabi mengutip keterangan Imam As-Syafii, yang menjelaskan,

إذا فضل عن قوت المرء وقوت أهله مقدار ما يؤدي عن زكاة الفطر وجبت عليه

“Apabila makanan seseorang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya, seukuran untuk membayar zakat fitrah, maka dia wajib mengeluarkan zakatnya.” (Ma’alim As-Sunan karya Al-Khithabi, 2/49).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma atau sha’ gandum, kepada setiap budak atau orang merdeka, laki-laki atau wanita, anak maupun dewasa, dari kalangan kaum muslim. (HR. Bukhari).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah kepada seluruh kaum muslimin, tanpa pandang status. Baik kaya maupun miskin, lelaki maupun wanita, dan mereka yang sama sekali tidak memiliki harta, zakat fitrahnya ditanggung oleh orang yang menanggung nafkahnya. 

Nama :Tomi Muslim
Nim :15-10-1033 

0 komentar:

Hukum Mengubah Niat dalam Salat. Bolehkah?


Para ahli fiqih bersepakat bahwa orang yang melakukan shalat dan berniat melaksanakan salah satu shalat fardhu, kemudian di tengah shalat dia mengubah niatnya menjadi niat melaksanakan shalat fardhu yang lain, maka batallah dua shalat yang diniati tersebut. Karena, dia telah memutus keberlangsungan niat yang pertama, dan dia tidak melakukan niat yang kedua pada waktu ihram. Apabila seseorang mengubah niat shalatnya dari shalat fardu menjadi shalat sunnah, maka menurut pendapat yang paling rajin dalam madzhab Syafi’i, adalah shalat tersebut menjadi shalat sunnah. Karena, niat shalat fardhu, kemudian dia tahu bahwa musim haji belum datang, maka ihramnya menjadi ihram sunnah, dan ihram yang fardu tidak jadi. Selain itu, memang tidak ada perkara yang membatalkan ibadah sunnah tersebut.

Merubah Niat Ditengah Shalat
  • Dari shalat fardhu ke shalat sunnah Muthlaq, hukumnya terlarang. Contohnya ada seseorang sedang menunaikan shalat dzuhur sendirian kemudian ia melihat sejumlah orang yang mendirikan shalat dzuhur berjamaah. Ia bermaksud merubah niat shalat dzuhur yang ia kerjakan menjadi shalat sunnah Muthlaq dan ingin menunaikan shalat dzuhur berjamaah maka hukumnya tidak boleh.
  • Dari shalat fardhu ke shalat fardhu jenis lainnya, hukumnya terlarang. Kedua shalat tersebut menjadi batal. Shalat yang pertama batal karena diputus niatnya sementara shalat yang kedua batal karena orang tersebut tidak berniat sejak awal (sebelum takbiratul ihram). Contohnya ada seseorang yang sedang shalat ‘asar, ditengah-tengah shalat tiba-tiba ia teringat dirinya belum mengerjakan shalat dzuhur lalu ia bermaksud merubah niat shalat asar yang ia kerjakan menjadi shalat dzuhur maka hal ini tidak boleh.
  • Dari shalat sunnah ke shalat fardhu, hukumnya terlarang. Beralasan sebagaimana pada poin kedua diatas. Sebagai contoh ada orang melakukan shalat sunnah subuh dua raka’at (sunnah qabliyyah) kemudian ia ingin merubahnya menjadi shalat subuh (shalat fardhu) maka hal ini hukumnya tidak boleh. Bahkan jika ia benar-benar merubah niatnya maka kedua shalat tersebut batal.
  • Dari shalat sunnah Mu’ayyan ke shalat sunnah Muthlaq, hukumnya boleh. Hal ini dikarenakan dalam shalat sunnah Mu’ayyan terdapat unsur shalat sunnah Muthlaq (sebagaimana pengertian yang kami berikan diawal tulisan ini). Contohnya, seseorang berniat shalat sunnah dzuhur 4 rakaat, ditengah shalat ia mendengar iqamah sudah dikumandangkan kemudian ia merubah niat shalat sunnah 4 raka’at menjadi 2 raka’at karena ingin bersegera shalat dzuhur berjamaah maka hukumnya boleh.
  • Dari shalat sunnah Mu’ayyan ke shalat sunnah Mu’ayyan lainnya, hukumnya terlarang. Sebagai contoh seseorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah tahiyyatul masjid kemudian ia hendak merubah niatnya menjadi shalat sunnah subuh maka hal ini tidak boleh. Jika ia memang benar-benar melakukannya maka kedua shalatnya batal sebagaimana penjelasan yang telah lalu.
  • Dari shalat sunnah Muthlaq ke shalat sunnah Mu’ayyan, hukumnya terlarang. Sebagai contoh seseorang yang sedang mengerjakan shalat sunnah Muthlaq dua rakaat tanpa niat Mu’ayyan (seperti halnya shalat sunnah dua rakaat sesudah wudhu) kemudian ditengah shalat ia ingin merubah niatnya menjadi shalat sunnah subuh (sunnah Mu’ayyan) maka hal ini tidak boleh beralasan sebagaimana yang telah lalu.
  • Dari niat imam menjadi makmum, hukumnya boleh. Berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha, tentang kisah Abu Bakar mengimami para sahabat. Dalam hadits tersebut beliau menyebutkan, “Ketika ia (Abu Bakar) melihat Rasulullah datang, ia mundur. Nabi shallallahu alaihi wassalam memberi isyarat kepadanya seraya bersabda, “Tetaplah ditempatmu”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan duduk di samping Abu Bakar. Maka Abu Bakar salat berdiri bermakmum kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam sementara para sahabat lainnya mengikuti Abu Bakar radhiyallahu’anhu“. (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Berniat makmum dibelakang seorang imam kemudian pindah ke imam yang lain, hukumnya boleh. Sebagai contoh seseorang yang berada dibelakang imam yang sedang sakit kemudian ditengah shalat imam tersebut tidak kuat melanjutkan shalatnya dan diganti dengan imam lain maka shalat makmum yang dibelakanganya tetap sah. Berdalil dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu’anha di atas ketika para sahabat bermakmum di belakang Abu Bakar radhiyallahu’anhu kemudian berpindah ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan juga kisah terbunuhnya Umar bin Khathab radhiyallahu’anhu saat mengimami para sahabat kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf radhiallahu’anhu menggantikan beliau sebagai imam.
  • Niat makmum menjadi imam, hukumnya boleh. Ketika imam memiliki udzur meninggalkan shalat seperti karena sakit atau yang lainnya lalu ia menunjuk seorang makmum menggantikan dirinya. Berdasarkan kisah terbunuhnya Umar radhiyallahu’anhu diatas.
  • Berniat shalat sendiri kemudian menjadi imam, hukumnya boleh. Seperti seseorang shalat sendirian kemudian orang lain datang bermakmum dibelakangnya. Berdasarkan hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Aku pernah bermalam dirumah bibiku. Saat Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam shalat malam akupun menyusul beliau. Aku berdiri disebelah kiri lalu beliau memegang kepalaku dan menariknya disebelah kanan. “(HR. Bukhari dan Muslim). Meskipun hadits ini berkisah tentang shalat sunnah namun yang benar tidak ada perbedaan antara shalat sunnah dengan shalat fardhu.
  • Berniat imam kemudian menjadi shalat sendirian, hukumnya terlarang kecuali jika ada udzur. Seperti makmum mendapatkan udzur meninggalkan shalat jamaah hingga imam shalat sendirian maka hukumnya boleh dan shalatnya tetap sah.
  • Berniat menjadi makmum kemudian menjadi shalat sendirian, hukumnya boleh jika ada udzur. Seperti bacaan imam yang terlalu panjang hingga melebihi tuntunan yang diajarkan maka makmum diperbolehkan meninggalkan jamaah dan shalat sendirian. (Shahih Fiqh Sunnah, I/308 dengan sedikit tambahan)
Rujukan:
  1. Asy Syarhul Mumti’ ‘ala Zaad al Mustaqni‘, Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Muassasah Asam, Riyadh KSA.
  2. Shahih Fiqh As Sunnah, Abu Malik Kamal, Maktabah Taufiqiyyah.


Nama :Tomi Muslim
Nim :15-10-1533

0 komentar:

Larangan Berbicara ketika Buang Air Besar






Oleh:
Tomi Muslim 15-10-1033 PAI C

Dari Ibnu Umar, bahwa seorang laki-laki lewat, sedangkan Rasulullah sedang kencing, lalu ia memberi salam kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ia tidak menjawabnya. (HR Jama’ah kecuali Bukhori, Nailut Authar Hadist No. 79)

Dan dari Abi Sa’id, ia berkata, Aku mendengar Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah dua orang laki-laki keluar buang Air dengan membuka auratnya sambil berbicara, karena sesungguhnya Allah murka dengan yang demikian itu” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, Nailur Authar Hadist No. 80)

Penjelasan:

Hadist No. 1di atas dalam riwayat yang lain terdapat tambahan berikut Telah datang kepada Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam sedangkan ia sedang buang air kecil, kepmudian laki-laki itu memberi salam kepadanya, tetapi Nabi tidak menjawabnya hingga ia berwudhu kemudian ia menyampaikan alasan kepadanya, dan Nabi Berkata kepadanya : “Sesungguhnya aku tidak suka meyebut nama Allah Yang Maha Agung melainkan dalam keadaan suci”. Di riwayatkan oleh An Nasai, Ibnu Majah dan hadist ini menjadikan dalil atas tidak disukainya berdzikir ketika buang hajat (air besar).

Menurut Imam Nawawi, yang di maksud lafazh “Tidak Suka” di sini adalah meninggalkan yang utama, yaitu yang utama ketika menjawab salam ketika sedang buang air besar, kemakruhan ketika menjawab salam ketika sedang buang air, disepakati oleh ulama syafi’iyah, demikian pula dengan hukum bertasbih dan berdzikir. Demikian juga dengan pendapat Ibnu Abbas, ‘Atho, Ma’bad al Juhari, dan ikrimah mereka memakruhkannya, berdasarkan riwayat Ibnu Munjir.

Namun An Nakahi dan Ibnu Sirin tidak memakruhkannya, dan Ibnu Mundzir sendiri berkata “Saya utamakan supaya supaya dihentikan jangan berdzikir ketika sedang buang air, namun demikian saya tidak memutuskan hukum berdosa bila melakukannya”.

Sabda Rasulullah “Janganlah dua orang laki-laki keluar buang Air..dst” , Ibnu Hajar berkata :

Artinya:

“Dan hadist ini sebagai dalil atas wajibnya menutup aurat dan meningalakan pembicaraan, karena alasan-alasan akan mendapatkan kemurkaan Allah Ta’ala itu, menunjukan atas haramnya pekerjaan tersebut.”

Kesimpulan :
Hadist-hadist tersebut diatas adalah hal-hal yang harus di hindari ketika buang air baik kencing maupun buang air besar, yakni berbicara meskipun menjawab salam. Dan juga jangan sampai menampakan aurat . Namun Imam Asy Syaukani berpendapat “Apabila seseorang diberikan salam padahala ia sedang hajatnya, hendaklah ia tangguhkan jawabannya sehingga ia berwudhu atau tayamum, jika ia tidak takut hilang hak orang yang membeikan salam, kalau dia takut bolehlah ia bersegera menjawabnya”

Wallahu’alam bishowab


Referensi :
Nailur Authar syarah Al Muntaqo Syaikhul Ibnu Taimiyyah, oleh Imam Asy Syaukani [Bab { باب كف المتخلي عن الكلام} No.Hadist 79 – 80]

0 komentar:

Kriteria Debu yang Bisa Digunakan Tayamum



Kriteria Debu yang Bisa Digunakan Tayamum


Debu (yang dipakai) harus suci suci tidak boleh tercampur bedak, tepung , melaikan murni tidak tercampur apapun, kita tayamum tidak harus menggunakan debu yang dibawah, melaikan kita boleh bertayamum dengan mengunaka debu yang ada dikaca mobil asalkan tidak terkena najis.

Tidak sah tayamum kecuali dengan debu yang suci, baik debu itu merah, hitam, ataupun puti.

Karena jelas ditunjukan keharusan dengan debu yang kering, maka tidak boleh tayamum dengan benda-benda yang lain, seperti batu, tambang dll.

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

“Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci):sapulah mukamu dan tanganmu denga tanah itu”

( QS. Al-Maidah 6 ).

Rosulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya tanah yang baik (suci) adalah alat pembersih bagi orang Islam, walaupun ia tidak menemukan air, maka bewudlulah; karna sesungguhnya yang demikian itu lebih baik.”

Hadits ini menunjukan bahwa tayamum menjadil batal demi melihat air.

Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin berkata, “Boleh saja seseorang tayamum pada dinding semen dan batu ubin walaupun tidak terdapat debu karena keduanya tersusun dari batu, debu dan selainnya yang berasal dari permukaan bumi. Namun tidak boleh tayamum pada dinding yang bercat atau tayamum pada kasur karena keduanya bukan sesuatu yang asalnya berada di permukaan bumi. Akan tetapi, jika pada dinding yang bercat atau pada kasur tersebut terdapat debu, maka boleh bertayamum di tempat tersebut.” (Syarh ‘Umdatul Fiqh, 1: 148)


Nama : Tomi Muslim
Nim :15-10-1033

0 komentar:

Hukum dan Posisi Khutbah Salat Gerhana & Salat Ied


Hukum dan Posisi Khutbah Salat Gerhana & Salat Ied


Hukum Shalat gerhana adalah Sunnah Muakkad tanpa membedakan apakah gerhana matahari maupun gerhana bulan, dalam kondisi safar maupun Muqim. Adapun pendapat yang menyatakan bahwa Shalat gerhana hanya disunnahkan untuk gerhana matahari sementara gerhana bulan tidak dengan beralasan Nabi SAW tidak pernah Shalat gerhana bulan, maka pendapat ini tertolak oleh Hadis berikut;

صحيح البخاري (4/ 186)
عن الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ يَقُولُ انْكَسَفَتْ الشَّمْسُ يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ فَقَالَ النَّاسُ انْكَسَفَتْ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

“Dari Al-Mughiroh Bin Syu’bah beliau berkata; Matahari mengalami gerhana di hari wafatnya Ibrahim (putra Rasulullah SAW). Maka orang-orang berkata; Dia (matahari) mengalami gerhana karena kematian Ibrahim. Maka Rasulullah SAW bersabda; Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat di antara ayat-ayat Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah, dan Shalatlah sampai terang (normal) kembali” (H.R.Bukhari)

Hadis di atas jelas menyebut gerhana matahari dan bulan. Perintah untuk Shalat gerhana tidak dikhususkan untuk gerhana matahari. Karena itu sunnahnya Shalat gerhana berlaku untuk gerhana matahari sekaligus gerhana bulan. Diriwayatkan, Ibnu Abbas Shalat gerhana bulan di Bashroh mengimami penduduknya dan mengatakan bahwa beliau melihat Rasulullah SAW melakukannya.

Untuk gempa, gunung meletus, banjir, angin kencang dan tanda-tanda alam yang lain, maka tidak disyariatkan Shalat karena Nash yang ada hanya untuk gerhana. Tanda-tanda alam yang lain tidak bisa diqiyaskan karena tidak ada Qiyas dalam ibadah.


Sunnah Berjamaah
Shalat gerhana sunnah dilakukan secara berjamaah. Dalilnya adalah Hadis berikut;
صحيح البخاري (4/ 163)

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ

“Dari Aisyah istri Nabi SAW bahwasanya beliau berkata; Matahari mengalami gerhana pada masa hidup Nabi SAW. Maka beliau keluar menuju masjid lalu membariskan orang-orang dibelakang beliau “ (H.R.Bukhari)

Lafadz “فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ” (lalu membariskan orang-orang dibelakang beliau) menunjukkan Nabi SAW membariskan kaum Muslimin dibelakangnya untuk membuat Shof Jamaah. Karena itu Hadis ini menjadi Dalil kesunnahannya. Namun Shalat Munfarid (sendirian) juga sah. Dasarnya adalah perintah mutlak dari Nabi SAW yang memerintahkan Shalat gerhana pada Hadis sebelumnya, yaitu lafadz “وَصَلُّوا” (Shalatlah kalian). Perintah “Shalatlah kalian” ini bersifat mutlak, bisa dilakukan berjamaah sebagaimana bisa dilakukan sendirian. Muslim yang melakukannya secara berjamaah berarti telah melaksanakan Hadis tersebut sebagaimana muslim yang melakukannya Munfarid juga telah melaksanakan Hadis tersebut.


Keikutsertaan Wanita dalam Shalat Gerhana
Wanita diizinkan ikut Shalat gerhana, karena Aisyah dan Asma ikut Shalat gerhana saat Rasulullah SAW menyelenggarakan Shalat gerhana.

صحيح البخاري (4/ 453)
عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَهِيَ تُصَلِّي قَائِمَةً وَالنَّاسُ قِيَامٌ فَقُلْتُ مَا شَأْنُ النَّاسِ فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا إِلَى السَّمَاءِ فَقُلْتُ آيَةٌ فَقَالَتْ بِرَأْسِهَا أَيْ نَعَمْ

“Dari Asma’ beliau berkata; Aku masuk menemui Aisyah sementara dia sedang Shalat sambil berdiri dan orang-orang juga berdiri. Maka aku bertanya “Orang-orang kenapa?” Maka Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke arah langit (menunjukkan bahwa terjadi gerhana matahari). Maka aku bertanya; ayat?maka dia menjawab dengan isyarat kepalanya; ya” (H.R.Bukhari)


Khutbah Shalat Kusuf
Disunnahkan setelah selesai Shalat Gerhana/Kusuf, Imam melakukan khutbah. Dasarnya adalah Hadis berikut;

صحيح البخاري (4/ 159)
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ … ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا

“Dari Aisyah bahwasanya beliau berkata:…. Kemudian beliau berpaling sementara matahari telah menjadi terang (normal). Maka beliau berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya kemudian berkata; Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat di antara ayat-ayat Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau hidupnya. Jika kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, Shalatlah dan bershodaqohlah. Kemudian beliau bersabda; Wahai ummat Muhammad. Tidak ada seseorang yang lebih pencemburu daripada Allah ketika (melihat) hamba laki-lakinya berzina atau hamba perempuannya berzina. Wahai ummat muhammad, demi Allah seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui pastilah kalian sedikit tertawa dan banyak menangis” (H.R.Bukhari).

Khutbah yang dilakukan cukup satu kali, tidak perlu dua kali dengan mengqiyaskan pada khutbah Jum’at. Jumlah khutbah cukup sekali karena dhohir Hadis di atas memang hanya sekali. Lagipula, dalam urusan ibadah tidak boleh ada Qiyas.


Amalan Sunnah Saat Gerhana
Selain Shalat, amalan lain yang disyariatkan saat terjadi gerhana adalah berdoa, dzikir, istighfar, shodaqoh, membebaskan budak dan semua amal-amal Taqorrub lainnya. Dasarnya adalah riwayat berikut;

صحيح البخاري (4/ 184)

عَنْ أَبِي مُوسَى …فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
“Dari Abu Musa:….Jika kalian melihat hal itu maka bersegeralah dengan gentar untuk mengingatnya, berdoa kepadanya dan meminta ampun kepadanya” (H.R.Bukhari)

مسند أبي عوانة (2/ 106)
عن أسماء قالت إن كنا لنؤمر بالعتق عند الخسوف
“Dari Asma’ beliau berkata; Kami diperintahkan membebaskan (budak) pada saat gerhana” (H.R.Abu ‘Awanah)



Hukum Shalat ‘Ied

Menurut pendapat yang lebih kuat, hukum shalat ‘ied adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan yang dalam keadaan mukim. Dalil dari hal ini adalah hadits dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata,

أَمَرَنَا – تَعْنِى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- – أَنْ نُخْرِجَ فِى الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami pada saat shalat ‘ied (Idul Fithri ataupun Idul Adha) agar mengeluarkan para gadis (yang baru beanjak dewasa) dan wanita yang dipingit, begitu pula wanita yang sedang haidh. Namun beliau memerintahkan pada wanita yang sedang haidh untuk menjauhi tempat shalat.

Di antara alasan wajibnya shalat ‘ied dikemukakan oleh Shidiq Hasan Khon (murid Asy Syaukani).

Pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus melakukannya.

Kedua: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah kaum muslimin untuk keluar rumah untuk menunaikan shalat ‘ied. Perintah untuk keluar rumah menunjukkan perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied itu sendiri bagi orang yang tidak punya udzur. Di sini dikatakan wajib karena keluar rumah merupakan wasilah (jalan) menuju shalat. Jika wasilahnya saja diwajibkan, maka tujuannya (yaitu shalat) otomatis juga wajib.

Ketiga: Ada perintah dalam Al Qur’an yang menunjukkan wajibnya shalat ‘ied yaitu firman Allah Ta’ala,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Maksud ayat ini adalah perintah untuk melaksanakan shalat ‘ied.


Khutbah Shalat Ied

Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ – رضى الله عنهما – يُصَلُّونَ الْعِيدَيْنِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr, begitu pula ‘Umar biasa melaksanakan shalat ‘ied sebelum khutbah.

Setelah melaksanakan shalat ‘ied, imam berdiri untuk melaksanakan khutbah ‘ied dengan sekali khutbah (bukan dua kali seperti khutbah Jum’at). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan khutbah di atas tanah dan tanpa memakai mimbar. Beliau pun memulai khutbah dengan “hamdalah” (ucapan alhamdulillah) sebagaimana khutbah-khutbah beliau yang lainnya.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Dan tidak diketahui dalam satu hadits pun yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir. … Namun beliau memang sering mengucapkan takbir di tengah-tengah khutbah. Akan tetapi, hal ini tidak menunjukkan bahwa beliau selalu memulai khutbah ‘iednya dengan bacaan takbir.

Jama’ah boleh memilih mengikuti khutbah ‘ied ataukah tidak. Dari ‘Abdullah bin As Sa-ib, ia berkata bahwa ia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau selesai menunaikan shalat, beliau bersabda,

إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

“Aku saat ini akan berkhutbah. Siapa yang mau tetap duduk untuk mendengarkan khutbah, silakan ia duduk. Siapa yang ingin pergi, silakan ia pergi.


Rujukan:
Kitab Shahih Bukhari (4/186)
Kitab Shahih Bukhari (4/163)
Kitab Shahih Bukhari (4/453)
Kitab Shahih Bukhari (4/159)
Kitab Shahih Bukhari (4/184)
Musnad Abu ‘Awanah(2/106)


Nama :Tomi Muslim
Nim :15-10-1033
PAI C
Hukum Shalat gerhana

0 komentar:

Ketentuan Suci untuk Tempat Salat

tempat salat, sajadah



Sudah menjadi syarat sholat adalah suci dari najis, baik badannya, pakaiannya dan tempatnya.

Dan yang dimaksud tempat sholat adalah tempat yang digunakan untuk sholat, sehingga batas sucinya tempat sholat adalah tempat ia berdiri, duduk termasuk yang digunakan untuk sujud. Mengenai suci dari tempat sholat, 125.

Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan Telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". ialah tempat berdiri nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka'bah.

Bila mendapatkan najis di tempat sholat setelah berlangsungnya sholat atau diketahui setelah sholat, apakah sholatnya sah? Dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat antara ulama, dan yang rajih, lebih mendekati kebenaran adalah tetap sah sholatnya walau ia berdosa karena najis tersebut. Semua nash yang menjelaskan keharusan sucinya tempat sholat tidak menafikan sah tidaknya sholat. Lain halnya dengan kewajiban suci dari hadats jika lupa, sholat tetap tidak sah dan harus diulangi. Nabi SAW bersabda,

"Alloh tidak menerima sholat salah seorang dari kalian yang berhadats sampai ia berwudhu.” HR. Bukhari Muslim

Dan mestinya najis tersebut langsung dibersihkan walau dalam keadaan sholat atau di tengah-tengah jama’ah sholat. Andai harus melewati jama’ah sholat, tetap dibolehkan melewati sela-sela barisan sholat, dan tidak ada dosa baginya, karena satr batasan sholat makmum terdapat pada satr imam.

Adapun dalil tentang kesucian tempat shalat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِيْنَ وَالْعَاكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“Bersihkanlah rumah-Ku (Baitullah) (wahai Ibrahim dan Ismail) untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud.” (Al-Baqarah: 125)

Demikian pula adanya perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyiram kencing A’rabi (Arab gunung/Badui) sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

Ada seorang A’rabi bangkit menuju ke pojok masjid lalu kencing di tempat tersebut. Melihat hal itu, orang-orang berteriak menghardiknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menegur, “Biarkan ia menyelesaikan kencingnya.” Seselesainya si A’rabi kencing, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar mengambil air satu ember penuh, lalu dituangkan di atas kencingnya.”

(HR. Al-Bukhari no. 221 dan Muslim no. 658)

Bila seseorang melihat pada tubuh, pakaian atau tempat shalatnya ada najis setelah selesai shalatnya, apakah ia harus mengulangi shalatnya?

Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat. Namun yang rajih, wallahu a’lam, orang itu tidak wajib mengulangi shalatnya, baik keberadaan najis tersebut telah diketahuinya sebelum shalat tapi ia lupa, atau lupa mencucinya, ataupun ia tidak tahu bila najis itu terkena dirinya, atau ia tidak tahu kalau itu najis, atau ia tidak tahu hukumnya, atau ia tidak tahu apakah najis itu mengenainya sebelum shalat ataukah sesudah shalat. Pendapat ini yang dipilih oleh Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah, Al-Majdu, Syaikhul Islam, Ibnul Qayyim, dan selain mereka rahimahumullah. Dalilnya adalah kaidah umum yang agung yang Allah Subhanahu wa Ta’ala letakkan bagi hamba-hamba-Nya, yaitu firman-Nya:


رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau keliru….”

(Al-Baqarah: 286)


Dan juga hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melepas sandal beliau dalam shalatnya setelah Jibril ‘alaihissalam mengabarkan bahwa pada sandalnya ada kotoran/najis. Beliau tidaklah membatalkan shalatnya, namun melanjutkannya setelah melepas kedua sandalnya.




Rujukan:
1. Ar-risalah edisi 71 hal 29
2. Shahih Fiqhu As-Sunnah : 1/272
3. ManaruAs-Sabil : 1/41
4. Al-Mughni, kitab Ash-Shalah fashl Man Shalla Tsumma Ra`a ‘Alaihi Najasah fi Badanihi au Tsiyabihi, Asy-Syarhul Mumti’ 1/485, Al-Mulakhkhashul Fiqhi, 1/94, Taudhihul Ahkam 2/33


Tomi Muslim



0 komentar:

Beberapa Kesunahan Sebelum Salat Jumat




Shalat Jumat ialah shalat fardlu dua rakaat yang dikerjakan pada hari Jumat yang dikerjakan pada waktu dzuhur sesudah dua khutbah jumat. Bagi orang yang akan melaksanakan shalat Jumat, ada beberapa kesunahan, yakni: Mandi, sunah mandi bagi orang yang hendak mendatangi shalat jumat, baik laki-laki maupun perempuan. Waktu mandi dimulai sejak terbitnya fajar hingga saat terahir menghadiri shalat jumat, akan lebih baik mandi di waktu orang akan pergi menunaikan shalat jumat, seandainya orang tersebut tidak mampu untuk mandi, maka boleh bertayamum dengan niat mandi karena hendak jumatan.

Memakai wewangian, Imam Syafi’I berkata: Kami menyukai seorang laki-laki yang membersihkan diri pada hari jumat dengan mandi, mencukur rambut, memotong kuku, memakai wangi-wangian untuk mencegah bau badannya, bersiwak, membaguskan pakaiannya dan mengharumkan pakaiannya dengan wangi-wangian, karena semua itu mengikuti sunah Rasul SAW, dan hendaklah ia tidak menyakiti dan mengganggu orang lain yang di dekatnya, apapun alasannya.

Berpakain yang baik, sunah dengan berpakaian yang terbaik ketika akan melaksanakan shalat jumat, terutama pakaian yang putih, karena pakaian putih itu sebaik-baiknya pakaian. Imam Syafi’I berkata: Saya lebih menyukai apabila ia mengenakan pakaian putih. Apabila sanggup, boleh mengenakan surban Yaman, Qathar, serta yang serupa dengannya. Mengenakan pakaian yang tidak dicelup (diberi warna/wantex) setelah ditenun dan benangnya tidak terbuka, maka itu lebih baik. Apabila ia mengenakan pakaian yang suci dan menutup aurat, maka itu telah memadai.

Menyegerakan datang ke masjid, dianjurkan datang sedini mungkin untuk menunaikan shalat jumat. Dengan demikian diharapkan seseorang bisa melakukan shalat sunah dan berdzikir kepada Allah sebelum khutbah dimulai. Dan dalam menunggu shalat jumat tersebut, ia mendapatkan pahala tersendiri. Imam Syafi’I berkata, Allah Ta’ala berfirman,”Apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari jumat, maka bersegeralah kamu pada mengingat Allah.”(Qs. Al Jumu’ah 62:9).

Dari Imam Syafi’I yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasul bersabda, yang artinya,”Barang siapa yang mandi hari jumat seperti mandi junub, kemudian ia berangkat ke tempat shalat jumat, maka seakan-akan ia berkurban seekor unta betina. Barang siapa berangkat pada fase kedua, maka seakan-akan ia berkurban lembu betina. Barang siapa yang berangkat pada fase ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor kibas bertanduk. Barang siapa berangkat pada fase keempat, ia seakan-akan berkurban seekor ayam betina. Dan barang siapa yang berangkat pada fase kelima, seakan-akan berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar untuk berkhutbah, maka malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir”. Imam Syafi’I juga berkata: Saya menyukai apabila setiap orang yang diwajibkan shalat jumat segera berangkat ke masjid atau tempat shalat jumat. Lebih cepat ia datang, maka itu lebih utama, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW diatas.

Berjalan kaki dengan tenang, Imam Syafi’I berkata: Tidaklah mendatangi shalat jumat kecuali dengan berjalan kaki, sebagaimana mendatangi shalat yang lain. Apabila mendatangi shalat jum’at dengan berlari, maka itu tidak merusak shalat, namum saya tidak menyukai hal itu. Dan sesungguhnya Rasul SAW bersabda,


إِذَ أَتَيْتُمُ الصَّلاَةُ فَلاَ تأْ تُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْسُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ فَمَا اَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا.

“Apabila kamu hendak mendatangi shalat, maka janganlah kamu mendatanginya dengan tergesa-gesa, datangilah dengan berjalan kaki dengan tenang. Apabila kalian tertinggal, maka sempurnakanlah. Apabila kalian luput(tertinggal), maka gantilah(qadha).

Kesunahan sebelum shalat jumat banyak lagi macamnya, ada beberapa kitab yang mencantumkan tambahan sunah shalat jumat selain dari penjelasan diatas, seperti: Memperbanyak berdzikir atau membaca al Qur’an saat dijalan atau di masjid, Membaca surat kahfi dimalam atau siangnya, Memperbanyak shalawat kepada Rasulullah, Shalat tahiyatul masjid, Berjamaah shalat subuh di hari jumat, Melaksanakan shalat empat rakaat sebelum dan sesudah shalat jumat, Ziarah kubur terlebih kepada kedua orang tua.



Rujukan:
· Subhan, M. Kamus Fikih. Kediri. Lirboyo Press. 2013
· Muthalib, Mohammad Yasir Abd. Ringkasan Kitab Al Umm, Fikih Imam Syafi’i. Jakarta. Pustaka Azzam. 2014
· Rifa’i, Moh. Ilmu Fikih Islam Lengkap. Semarang. PT. Karya Toha Putra. 1978
· Amin, Faishal, dkk. Menyingkap Sejuta Permasalahan Dalam Fath Al Qarib. Kediri. Anfa’ Press. 2015
· Ayyub, Hasan. Fikih Ibadah. Jakarta. Pustaka Al Kautsar. 2002
· Abu Amar, Imron. Terjemah Fathul Qorib. Kudus. Menara Kudus. 1983.




Nama : Maylan Nabila
NIM : 15.10.1006
Semester : II PAI C/Tarbiyah
Mata Kuliah : Fiqih I (Ibadah)
Dosen : M. Nasrudin, SHI, MH

0 komentar:

Satu Kampung Ada Lebih dari Satu Sholat Jum’at






Apabila dalam suatu kampung penduduknya berjumlah 40 orang atau lebih dari itu maka wajib bagi kampung tersebut mendirikan sholat jum’at.

Di dalam buku induk ibadah terlengkap yang ditulis oleh Tim Kajian Keislaman Nurul llmi, menjelaskan tentang kreteria sholat jum’at menurut berbagai pendapat berbagai lmam madzab yaitu:

Menurut pendapat lmam Syafi’i dan jumhur ulama, jumlah peserta sholat jum’at tidak kurang dari 40 jama’ah termasuk imam. Dengan syarat balig, berakal sehat, merdeka, penduduk setempat, dan laki-laki. Dalam terjemah taqrib dalil yang ditulis Aliy As’ad, terdapat hadits yang membenarkan pendapat tersebut yang diriwayatkan oleh Daruquthniy dan Al-Baihaqiy dari Jabir ra. bahwa nabi bersabda:

مضت السنة ان في كل اربعين فما فوق ذلك جمعة

“Sunnah telah berlaku bahwa setiap empat puluh orang atau lebih ada sholat jum’at.”

Pendapat lain disampaikan lmam Hanafi. Menuru beliau sholat Jum’at itu sah hanya dilakukan oleh 4 orang termasuk imam. Hal ini didasari oleh hadis Nabi Muhammad Saw.:

”Jum’at itu wajib bagi tiap-tiap desa yang ada padanya seorang lmam walaupun penduduknya hanya 4 orang.”(HR. Thabrani).

Sementara menurut lmam Maliki, jumlah minimal peserta sholat jum’at adalah 12 orang laki-laki selain lmam. Dasarnya yaitu keterangan dari Jabir yaitu:

“ Saat kami melaksanakan sholat jum’at bersama Nabi Muhammad Saw. datang seorang khalifah membawa makanan , lalu orang-orang menghampirinya sehingganya tersisa bersama nabi hanya 12 orang antara lain Abu Bakar dan Umar.”

Didalam kitab al umm yang ditulis oleh imam Syafi’i, lmam Syafi’i berpendapat sholat jum’at wajib dilakukan oleh penduduk suatu desa apabila jumlah mereka sudah mencapai 40 orang laki-laki yang sudah baligh dan merdeka.

Menurut Imam Syafi’i yang dimaksud dengan desa adalah suatu tempat yang terdiri dari bangunan, batu, batu merah, atap dari pelapah kurma, dan kayu-kayuan. Rumah-rumah berkumpul dan penduduknya tidak berpindah-pindah.

Apabila suatu kampung berjumlah lebih 40 orang sholat jum’at maka wajib melakukan sholat jum’at. Tetapi apabila dalam suatu kampung sebagian besar penduduknya orang-orang musrik atau budak-budak yang lslam dan penduduk yang merdeka, muslim, dan baligh belum mencapi 40 orang maka tidak wajib dilaksanakan sholat jum’at. Dan jika banyak kaum muslimim yang melewati kota tersebut (musafir) namun jumlah muslimin tidak mencapai 40 orang maka tidak perlu melakukan sholat jum’at.



Dalam suatu kampung atau desa hanya boleh mengadakan sholat jum’at dalam satu tempat, kecuali apabila ada uzur tertentu seperti:

· Daerah atau kampung tersebut terlalu luas jarak antara masjid satu dengan yang lainnya berjauhan sepert dan tempatnya sulit dijangkau oleh masyarakat sehingga diperlukan mengadakan sholat jama’ah di masjid yang lain, selain itu jumlah jama’ah sholat jum’at mencapai 40 orang baligh, merdeka dan laki-laki. Alasan ini karna di zaman Rosulallah sholat jum’at hanya diadakan di satu tempat yaitu Masjid Nabawi, apabila jumlah yang diadakan di dua masjid tersebut tidak mencapai 40 orang masholat jum’at yang dianggap sah adalah masjid yang lebih dulu mengadakan sholat jum’at.

· Takut terjadi fitnah karena ada dua kelompok yang saling berseteru.

· Tempat sholat jum’at tersebut tidak mencukupi untuk menampung jumlah jama’ah sholat jum’at.

Dan masjid yang berhak digunakan untuk sholat jum’at adalah masjid yang dibangun terlebih dahulu didalam kampung tersebut.



Referensi:

Ø Buku lnduk lbadah Terlengkap yang ditulis oleh Tim Kajian Keislaman Nurul Ilmi, halaman 64.
Ø Terjemah Taqrib Dalil penerjemah Drs.H. Aliy As’ad, halaman 114.
Ø Ringkasan Kitab Al Umm lmam Syafi’i, halaman 262.




Nama : Miftakhul lnayah 
Nim : 15.10 1007 
Kelas : PAI C II
Dosen : M. Nasrudin, SHI. MH.

0 komentar:

Posisi dan Ketentuan Duduk Istirahat dalam Salat





Sebelum kita mulai membahas tentang posisi dan ketentuan duduk istirahat (istirohah) dalam shalat kita perlu tahu dahulu tentang apakah itu duduk istirahat (istirohah) itu?

Duduk istirahat (istirohah) adalah duduk sejenak ketika hendak bangkit dari satu rakaat ke rakaat berikutnya, yang tidak dipisahkan dengan tasyahud. Mengenai duduk istirahat (istirohah) ada tiga pendapat ulama’, yaitu pendapat pertama menurut mayoritas ulama’ duduk istirahat (istirohah) tidak dianjurkan, pendapat kedua menurut sahabat Malik bin Huwairits, Abu Hamid, dan Abu Qotadah duduk istirahat (istirohah) dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap shalat. Adapun ulama’ yang mengikuti pendapat ini adalah Imam Syafi’i, pendapat ketiga menurut rincian yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama’ kontemporer duduk istirahat (istirohah) dianjurkan bagi yang membutuhkan dan tidak dianjurkan bagi yang tidak membutuhkan.[1]

Menurut riwayah hadits yang membahas tentang duduk istirahat dianjurkan adalah dari Malik bin Huwairits, beliau pernah melihat Nabi SAW. “Ketika beliau hendak bangkit dari rakaat ganjil ke rakaat genap, beliau tidak langsung bangkit, sampai duduk sempurna” (HR. Bukhari). Ada juga riwayat lain dari Malik bin Huwairits juga, bahwa beliau pernah mencontohkan cara shalat Rasulallah. “Setiap kali beliau hendak bangkit ke rakaat berikutnya, beliau duduk sempurna, kemudian baru bangkit dengan bertumpu pada tangan”. (HR. As-Syafi’i dalam kitab Al-Umm, An-Nasai).

Menurut Imam Nawawi “duduk istirahat (istirohah) tidak ada pada sujud tilawah, tanpa ada khilaf di antara pendapat ulama’”. Dan menurut pendapat Imam Nawawi juga bahwa “jika imam tidak melakukan duduk istirahat (istirohah), sedangkan makmum melakukannya, maka itu diperbolehkan karena duduknya hanyalah sesaat dan ketinggalan yang ada cumalah sebentar“.

Nah, kalau kita sudah mengetahui ketentuannya duduk istirahat (istirohah) terus bagaimana posisinya melakukan duduk istirahat (istirohah) dalam shalat?

Adapun posisinya melakukan duduk istirahat (istirohah) dalam shalat itu sama persis dengan duduk diantara dua sujud, yaitu telapak kaki kiri dibentangkan dan diduduki, sementara telapak kaki kanan ditegakkan. Adapun ketika bangkit dari sujud menuju duduk istirahat (istirohah) tidak ada takbir intiqal, takbir intiqal ada hanya ketika bangkit menuju rakaat berikutnya. Ketika duduk istirahat (istirohah) tidak ada bacaan apapun dan dilakukan hanya sangat sebentar.[2]

Jadi pada kesimpulannya, ketentuan duduk istirahat (istirohah) ada tiga pendapat, yaitu pendapat pertama menurut mayoritas ulama’ duduk istirahat (istirohah) tidak dianjurkan, pendapat kedua menurut sahabat Malik bin Huwairits, Abu Hamid, dan Abu Qotadah duduk istirahat (istirohah) dianjurkan untuk dilakukan secara rutin setiap shalat. Adapun ulama’ yang mengikuti pendapat ini adalah Imam Syafi’i, pendapat ketiga menurut rincian yang dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama’ kontemporer duduk istirahat (istirohah) dianjurkan bagi yang membutuhkan dan tidak dianjurkan bagi yang tidak membutuhkan. Adapun posisi duduk istirahat (istirohah) sama persis dengan duduk diantara dua sujud, yaitu telapak kaki kiri dibentangkan dan diduduki, sementara telapak kaki kanan ditegakkan. Adapun ketika bangkit dari sujud menuju duduk istirahat (istirohah) tidak ada takbir intiqal, takbir intiqal ada hanya ketika bangkit menuju rakaat berikutnya. Ketika duduk istirahat (istirohah) tidak ada bacaan apapun dan dilakukan hanya sangat sebentar.


Referensi:
1. Ayyub Hasan, 2011, Fikih Ibadah, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
2. Anwar Moch. dkk, 2013, Terjemahan Fathul Mu’in, Bandung: Sinar Baru Algesindo.


[1] Hasan Ayyub, fikih ibadah, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar).hlm.254-255
[2] Moch.Anwar,Bahrun Abu Bakar,Anwar Abu Bakar, Terjemahan Fathul Mu’in, (Bandung: Sinar Baru Algesindo).hlm.214



NAMA : FARIDATUL MUNAWAROH
SEMESTER : II PAI C
NIM : 15.10.1000
MAKUL : FIQIH I
DOSEN PENGAMPU : M. NASRUDDIN, SHI, MH

0 komentar: