Begini Islam Mengatur Pemanfaatan Perkakas Emas







Dalam Buku Menyingkap Sejuta Permasalahan dalam Fath Al-Qarib yang ditulis oleh Faishal Amin dkk, menerangkan bahwa

(فصل) فِيْ بَيَا نِ مَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهُ مِنَ الْأَوَانِي وَمَايَجُوْزُوَبَدَأَبِا لْآَوَّلِ فَقَالَ (وَلَايَجُوْزُ) فِيْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ لِرَجُلٍ اَوِامْرَأَةٍ (اسْتِعْمَالُ) شَيْءٍ مِنْ (أَوَانِيْ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةِ) لاَفِيْ اَكْلٍ وَلَافِيْ شُرْبٍ وَلَاغَيْرِهِمَا وَكَمَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ مَا ذُكِرَ يَحْرُمُ اتَّخَاذُهُ مِنْ غَيْرِ اسْتِعْمَالٍ فِيْ الْأَصَحِّ وَيَحْرُمُ اَيْضًا الْإِنَاءُالْمَطْلِيُّ بِذَهَبٍ اَوْفِضَّةٍ إِنْ حَصَلَ مِنَ الطِّلَاءِ شَيْءٍ بِعَرْضِهِ عَلَى النَّارِ (َوَيَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ) إِنَاءٍ (غَيْرِهِمَا) أَيْ غَيْرِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ (مِنَ الْأَوَانِيْ) النَّفِيسَةِ كَإِنَاءٍ يَاقُوْتٍ وَيَحْرُمُ الإِنَاءُ الْمُضَبَّبُ بِضَبَّةِ فِضَّةٍ كَبِيْرَةٍعُرْفًا لِزِيْنَةٍ فَإِنْ كَانَتْ كَبِيْرَةً لِحَاجَةٍجَازَمَعَ الْكَرَاهَةٍ أَوْ صًغِيْرَةً عُرْفًا لِزِيْنَةٍ كُرِهَتْ أَوْلِحَاجَةٍ فَلَاتُكْرَهُ أَمَّاضَبَّةُ الذَّهَبِ فَتَحْرُمُ مُطْلَقًا كَمَا صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ

Terjemah ringkas: Tidak diperbolehkan selain dalam keadaan terdesak menggunakan bejana emas dan perak, baik untuk makan, minum dan sebagainya. Begitupula haram menyimpannya tanpa digunakan menurut pendapat yang kuat. Dan juga haram menggunakan bejana yang disepuh atau perak apabila dari penyepuhan menghasilkan sesuatu dengan dipanaskan pada api. Diperbolehkan menggunakan selain menggunakan emas dan perak dari bejana yang berharga seperti permata yaqut. Haram bejana yang ditambal menggunakan perak dengan tambalan besar secara umum dengan tujuan berhias, namun jika karena kebutuhan, maka makruh, dan jika kebutuhan maka tidak makruh. Sementara tambalan emas haram mutlak.

Dari terjemahan di atas menerangkan bahwa menggunakan perkakas yang terbuat dari emas, menyimpan emas tanpa menggunakan pendapat yang kuat, dan menambal dengan emas hukumnya haram. Kecuali jika dalam keadaan darurat seperti saat dahaga dan tidak menemukan wadah yang terbuat selain dari emas.


Rosululloh bersabda :

لاَتَشْرَبُوْافِيْ أَنِيَةِالذَهَبِ وَالْفِضَة وَلاَتَأْكُلُوْافِيْ صِحَافِهَا

Artinya : janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak dan janganlah makan dari mangkuk yang terbuat dari keduanya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mayoritas ulama syafi’iyah sepakat bahwa larangan dalam hadist diatas ke hukum haram. Larangan mencangkup laki-laki dan perempuan.

Ada pendapat versi Qoul Jadid, Imam Haramain dan kalangan Muta’akhirin memandang bahwa latarbelakang diharamkannya penggunaan bejana emas dan perak karena pemahaman secara tekstual hadist Rosululloh. Yaitu, hukumnya tidak haram atau boleh ketika memakai bejana yang dilapisi logam emas selama kadarnya tidak sampai mencapai nominal yang bernilai.

Ada versi lain yang memahami teks hadis secara konstektual bahwa terdapat unsur membanggakan diri dan glamor yang berlebihan. Yaitu, hukumnya haram ketika memakai bejana yang dilapisi emas karena terdapat unsur menghamburkan harta.

Adapun hukum menyimpan atau mengoleksi bejana emas.

• Versi al ashob hukumnya haram berdasarkan kaidah

ماَ حَرُمَ اسْتِعْمَالُهُ حَرُمَ ا تِحَنَادُهُ

Artinya: sesuatu yang haram digunakan, haram pula disimpan.

• Versi Muqabil al-ashab hukumnya halal karena larangan yang ada dalam hadist hanya sebatas penggunaan.

Para ulama berpendapat apabila menggunakan perkakas yang terbuat dari emas untuk makan, minum, berwudhu, baik oleh laki-laki maupun perempuan adalah haram. Syafi’i berpendapat sebaliknya. Sementara itu, Dawud berpendapat bahwa hal itu haram hanya jika digunakan untuk minum. Pendapat Hanafi, Maliki, dan Hanbali yang mengharamkannya lebih kuat daripada pendapat Syafi’i.

Para ulama berpendapat jika menggunakan saluran air yang terbuat dari emas adalah haram.




Diambil dari:
Fiqih Empat Madzhab terjemahan buku Rahman Al-Ummah fi Ikhtilaf Al-Aimmah karya Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman Ad-Dimasyqi.
Buku Menyingkap Sejuta Permasalahan dalam Fath Al-Qarib yang ditulis oleh Faishal Amin dkk.
Kamus Fikih yang disusn oleh Tim Kajian Ilmiah FKI ahla suffah.



NAMA : Kuni Ngazizah
NIM : 15.10.1002
KELAS : II PAI C

0 komentar:

Larangan Berbicara ketika Buang Hajat





Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata, Rasullullah SAW bersabda, ” jika dua orang sedang buang air maka hendaklah mereka bersembunyi dan janganlah mereka saling berbicara, karena Allah murka terhadap orang yang melakukan hal itu. “ (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Sakan dan Ibnu Qaththan). Jadi, sangat jelas hadits tersebut tidak membolehkan berbicara ketika buang hajat.

Dan janganlah salah satu dari kalian menyentuh kemaluannya dengan menggunakan tangan kanannya, ketika sedang buang air kecil, dan janganlah ia istinjak dengan menggunakan tangan kanannya pula. Karena dengan begitu, itu salah satu adab dari membuang hajat.

Adapun kemakruhan orang buang hajat itu banyak, diantaranya menghadap atau membelakangi ( kiblat, matahari, atau bulan) yang dilakukan di tempat yang sudah disediakan , buang hajat di tempat yang bukan semestinya seperti (di kuburan atau tempat- tempat yang di lewati manusia ), mengencingi atau memberaki liang-liang tanah (liangnya hewan), mengencingi atau memberaki air yang tidak mengalir, dan tidak boleh kencing atau berak di bawah pohon yang berbuah, karena orang yang pergi kesana untuk memetik buah atau keperluan lainnya akan terganggu dengan kotoran itu.

Dari urairan di atas, semua yang sudah disebutkan dari kemakruhan ketika buang hajat adalah perkara yang menyebabkan laknat. Kemudian Rasulullah menjelaskan dengan sabdanya, ”atau pada naungan mereka”, yakni orang yang buang hajat di tempat di mana manusia berteduh di sana, menjadikannya sebagai tempat tidur siang, dan sebagai tempat mereka singgah dan duduk. 

Jadi, yang di maksud bukanlah naungan secara mutlak. Karena naungan yang tidak dibutuhkan, maka buang air di bawahnya tidak berdosa.tempat-tempat yang dituju manusia berupa mata air , memberi air ternak, berwudlu,mandi,mengambil air, dan lain-lain.yakni jalan umum yang dilalui manusia dan mereka menginjaknya dengan sandal , dan kendaraan mereka.



Nama : Kurnia
NIM : 15.10.1003
Kelas : II PAI C

0 komentar:

Inilah Syarat Sah Salat Jamak Takhir yang Harus Dipenuhi




Pengertian menjamak shalat ialah mengumpulkan dua shalat menjadi satu artinya dalam satu waktu. Jamak ta’khir ialah menggabungkan dua shalat yang dilaksanakan pada waktu shalat yang kedua, misalnya menjamak shalat Dzuhur dan Ashar yang keduanya dilaksanakan pada waktu shalat Ashar, atau menjamak shalat Maghrib dan Isya yang keduanya dilaksanakan pada waktu shalat Isya. Adapun syarat jamak ta’khir sebagaimana tertuang dalam kitab Fathul Qarib:

واما جمع التأخير فيجب فيه ان يكون بنية الجمع وتكون النية هذه في وقت الأولى و يجوز تأخيرها الى ان يبقى من وقت الأولىى زمن لوابتدئت فيه كانت اداء ولا يجب في جمع التأخير ترتيب ولا موالاة ولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة.

“Syarat jamak ta’khir adalah berniat melaksanakan jamak ta’khir dalam waktu shalat pertama. Tidak diwajibkan dalam jamak ta’khir; tertib, berkesinambungan dan niat jamak.”

Berdasarkan pernyataan tersebut terdapat perbedaan antara syarat sah jamak taqdim dan jamak ta’khir, dimana dalam jamak ta’khir tidak disyaratkan tertib, berkesinambungan, dan niat jamak karena shalat jamak ta’khir dilaksanakan pada watu shalat yang kedua, sedangkan shalat yang pertama statusnya adalah mengikuti. Dalam hal ini shalat pertama dianggap sebagai shalat yang terlewati (faitah) sehingga tidak memerlukan syarat-syarat tersebut. Sedangkan jamak taqdim harus dilakukan secara tertib, berkesinambungan, dan niat jamak pada shalat yang pertama karena pada dasarnya shalat jamak adalah menjadikan dua shalat menjadi satu, sehingga harus berkesinambungan supaya dua shalat yang dijamak seperti satu rangkaian shalat.

Referensi:
Kitab Fathul Qarib

Nama : Fatihaturrohmah
NIM : 15. 10. 963
Tugas : Essay fikih
Dosen : Nasrudin, M.H
Email : rahmaelfatth30@gmail.com

0 komentar:

Sahkah Salat Makmum yang Beda Niat dengan Imam?






Bagaimana hukum shalatnya jika imam dan makmum berbeda niat dalam shalat berjamaah? Bagaimana pendapat para Ulama mengenai hal ini?

Setiap menetapkan suatu hukum dalam bidang fiqih pasti ada pendapat atau pandangan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya,. Ada yang berpendapat seperti ini dan ada juga yang berpendapat seperti itu. Satu sama lainnya saling menguatkan pandangannya atau pendapatnya dengan alasan atau argument masing-masing. Begitu pula dengan pandangan para ulama mengenai “hukum shalatnya antara imam dan makmum berbeda niat dalam shalat“. Ada yang menetapkan bahwa shalat itu tetap sah, tetapi ada juga yang menetapkan bahwa shalatnya tidak sah.

Ahmad Nashir[1] menjelaskan bahwasannya hukum shalat jika antara imam dan makmum berbeda niatan dalam shalat itu tetap sah atau diperbolehkan. Beliau merujuk pada Kitab Fathul Wahhab halaman 118, karangan Zakariyah Al-Anshori yang diterbitkan oleh Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

Dalilnya yaitu:

(وَ) خَا مِسُهَا (تَوَافُقُ نَظْمِ صَلَا تَيْهِمَا) فِي اْلأَ فْعَالِ الظَاهِرَةِ (فَلَا يَصِّحُّ) اَلْإِقْتِدَاءُ (مَعَ اِخْتِلَا فِهِ كَمَكْتُوْبَةٍ وَكُسُوْفٍ أَوْ

جَنَازَةٍ) لِتَعَذُّرِالْمُتَابَعَةِ. (وَيَصِّحُ) اَلْإِقْتِدَاءُ (لِمُؤَدٍّ بِقَاضٍ وَمُفْتَرِضٍ بِمُنْتَفِلٍ وَفِي طَوِيْلَةٍ بِقَصِيْرَةٍ) كَظُهْرٍ بِصُبْحٍ (وَبِالْعُكُوْسِ) أَيْ لِقَاضٍ بِمُؤَدٍّ وَمُنْتَفِلٍ بِمُفْتَرِضٍ وَفِي قَصِيْرَةٍ بِطَوِيْلَةٍ،[2]

Terjemahannya:

“Diantara syarat sahnya shalat jamaah yaitu antara imam dan makmum melakukan shalat yang sama dalam bentuk gerakan shalat (afngal dhohir). Maka tidak sah makmum terhadap orang yang beda gerakan dalam shalatnya seperti shalat Fardlu makmum terhadap shalat Gerhana. Dan sah jamaahnya orang yang melakukan shalat Ada’ (shalat yang dilakukan tepat pada waktunya) makmum terhadap orang yang sedang shalat Qodlo’, orang yang shalat Fardlu makmum terhadap orang yang shalat Sunnah..........dan seterusnya.”

Jadi penjelasan dari dalil tersebut adalah diperbolehkan seseorang itu berjamaah dengan orang lain yang imam tersebut niat shalat Sunnah sedangkan kita sebagai makmum niat shalat Fardlu. Tetap sah dan diperbolehkan. Karena apa? Karena gerakannya antara imam dan makmum sama. Ketika imam ruku’, makmum juga ikutan ruku’. Ketika imam sujud, makmum juga ikut sujud. Ketika imam baca surat Al-Qur’an, maka makmum juga ikut baca surat al-Qur’an. Jadi ya diperbolehkan. Karena gerakan antara imam dan makmum sama. Tetapi jika kita makmum dengan orang yang dia shalat Isya’, sedangkan kita shalat Gerhana maka itu tidak diperbolehkan dan tidak sah. Karena pelaksanaannya antara imam dan makmum berbeda. Bedanya yaitu kalau shalat Isya’ gerakan ruku’nya ada 4 kali. Sedangkan kalau shalat Gerhana ruku’nya ada 2 kali. Karena berbeda, maka tidak sah.

Perlu diketahui juga bahwasannya seseorang yang berniat menjadi imam, tidak wajib niat menjadi imam ketika shalat. Tetapi yang menjadi makmum, maka dia wajib berniat menjadi makmum. Maksudnya begini, karena awalnya tidak ada orang yang ingin shalat berjamaah dengan dia di masjid, maka dia niat shalat sendiri. Tetapi tiba-tiba dia ditepuk oleh seseorang yang datang di belakang yang berniat menjadi makmumnya. Maka imamnya tidak wajib mengubah niatannnya menjadi imam. Tanda tepukkan tersebut hanya untuk memberitahukan kepada imam bahwa ada orang yang menjadi makmumnya di belakang. Sehingga misalnya ketika itu dia sedang sholat Maghrib (sholat Jahr) sendirian, ketika shalat sendirian kan suaranya hanya terdengar dirinya sendiri, tetapi ketika ada yang menepuk pundaknya untuk menjadi makmumnya, tepukkan itu bisa menjadi tanda untuk dia supaya mengeraskan suaranya, karena ada orang yang menjadi makmum di belakangnya. Tetapi sekali pun kita tidak menepuk pundaknya untuk niat berjamaah dengan dia karena imam kita seorang lelaki, yang nantinya ketika kita menepuk pundaknya takut timbul fitnah dan akhirnya kita tidak menepuknya, maka sholat kita tetap sah, yang terpenting kita berniat menjadi makmum (wajib). Jika kita tidak berniat menjadi makmum, maka kita dianggap shalat sendirian bukan shalat berjamaah. Dan yang terpenting juga meskipun kita tidak menepuk pundaknya, asalkan bisa melihat gerakannya dan mendengar suara imam maka shalat kita tetap sah.

Dalam Kitab Fathul Wahhab ini pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang tetap memperbolehkan sholat berjamaah meski pun niatan antara imam dan makmum berbeda dalam shalat. Ulama yang memperbolehkan dalam kitab ini adalah Syeikh Zakariyah Al-Anshori. Bahkan menurut beliau sekali pun makmum itu sudah mengetahui kalau yang dijadikan imam itu beda niatan dengan dia, maka shalatnya tetap sah. Tanpa harus mengulangi lagi shalatnya.

Kitab Fathul Wahhab ini adalah kitab yang sesuai dengan kitab Mazhab Syafi’i. Sehingga sudah jelas bahwa Imam Syafi’i juga memperbolehkan shalat berjamaah meski pun antara imam dan makmum berbeda niatan dalam shalat.

Lalu apa syarat yang memperbolehkan berjamaah dengan imam yang berbeda niatan dengan makmum?

Syaratnya yaitu shalat Sunnah yang dilakukan oleh imam adalah shalat Sunnah yang memiliki gerakan yang sama dengan gerakan shalat Fardlu. Contohnya yaitu shalat Sunnah Rawatib (Qabliyah dan Ba’diyah). Jadi ketika ada imam yang berniat shalat Sunnah Rawattib dan makmumnya niat shalat Fardlu dan meraka berjamaah, maka shalat mereka tetap sah. Misalnya ketika kita baru pergi atau baru berada di Malioboro. Ternyata sudah masuk waktu untuk shalat Dhuhur. Kemudian kita mencari masjid terdekat untuk shalat. Dan ketika kita masuk ke dalam masjid ternyata ada seorang perempuan paruh baya yang sedang melaksanakan shalat juga di masjid itu. kemudian kita menepuk pundaknya karena ingin berjamaah dengan dia. Tetapi kita tidak tahu perempuan itu niatnya shalat apa? Apakah shalat Fardlu atau shalat Sunnah? Kita tidak tahu karena setelah selesai shalat perempuan tadi langsung pergi dan tidak memberitahu juga kepada kita dia sholat apa, karena kita tidak tahu, maka sholat berjamaah yang kita lakukan tadi tetap sah dan dimakfuw (dimaafkan). Segala sesuatu yang hukumnya kita tidak tahu maka dimaafkan, karena tidak ada hukumnya.

Tetapi bagaimana jika tiba-tiba setelah kita selesai shalat, orang yang kita jadikan imam tadi berbicara kepada kita kalau dia shalat Sunnah bukan shalat wajib. Maka bagaimana sebaiknya? Apakah kita harus mengulangi lagi shalatnya? Atau kita tidak usah mengulanginya lagi?

Kalau kita sudah mantap berjamaah dengan dia ya tidak diulangi lagi juga tidak apa-apa. karena menurut Imam Syafi’i itu diperbolehkan dan sudah sah shalatnya. Tetapi kalau kita merasa ragu-ragu, lebih baik ya disunnahkan untuk mengulangi lagi saja shalatnya. Daripada merasa ragu-ragu dengan hal itu. Alangkah baiknya ya diulangi. Nah Shalat yang kita ulangi lagi ini dinamakan dengan shalat ‘Ingadah. Shalat ‘Ingadah adalah shalat ulangan. Bagaimana niatannya apakah niatnya sama dengan shalat Fardlu ? Atau ada yang berbeda?

Niatnya memang tidak berbeda dengan niat sholat Fardlu. Hanya saja ketika kita niat shalat Fardlu maka perlu ditambahi kata ‘Ingadah. Tepat pada kata Adha’ diganti dengan kata ‘Ingadah. Karena niat kita mengulang. Jadi ya diganti‘ingadah bukan kata Ada’. Dimana penambahannya? Yaitu seperti ini الْقِبْلَةِ اِعَدَةَ لِلّهِ تَعَالَى dan setelah itu bacaan serta gerakan sholatnya sama seperti sholat Fardlu. Contoh niatnya misalnya kalau kita niat shalat Dhuhur kalau seperti yang kita kerjakan niatnya kan begini:

اُصَلِى فَرْضَ الظُهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً لِلّهِ تَعَالَى

Tetapi kalau kita niatnya mengulang shalat Fardlu tersebut, maka niatnya menjadi:

اُصَلِى فَرْضَ الظُهْرِ اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اِعَدَةَ لِلّهِ تَعَالَى

Jadi kata اَدَاءً diganti kata اِعَدَةَ .

Mungkin kita juga pernah lupa dengan niat shalat yang akan kita lakukan dan akhirnya tertukar niatnya. Misalnya seharusnya niat shalat Dhuhur, tetapi malah lupa niatnya niat shalat Ashar. Hal ini biasanya terjadi karena baru bangun tidur dan terbangunnya setelah mendengar suara adzan. Sehingga bangunnya (‘grageban’: dalam Bahasa Jawa) lupa waktu dan langsung berwudhu dan ikut shalat berjamaah di masjid. Dikiranya sudah adzan Ashar tetapi ternyata baru adzan Dhuhur. Sehingga niatnya malah niat shalat Ashar. Bukan shalat Dhuhur. Ketika kita sudah ingat dipertengahan shalat bahwa niat kita tadi salah, maka shalatnya harus dibatalkan dan segera merubah niat kembali untuk shalat. Untuk seorang imam shalatnya tetap sah, tetapi bagi makmum maka harus mengulangi lagi shalatnya karena niatnya tadi salah. Tetapi jika sampai berakhirnya shalat belum juga ingat, dan setelah itu sama sekali tidak ingat, maka hal itu dimakfuw (dimaafkan).

Penjelasan yang lain menurut Ning Upik[3] mengenai imam dan makmum berbeda niat dalam shalat yaitu hukum sholatnya sah meskipun antara imam dan makmum berbeda niatan dalam sholat, tetapi disebut sebagai jamaah Fakhilaqul Aula. Apa itu jamaah Fakhilaqul Aula? Jamaah Fakhilaqul Aula yaitu jamaah yang tidak mendapatkan kesunnahan jamaah. Maksudnya yaitu sholatnya tetap sah dan tidak makruh, tetapi dia tidak mendapatkan kesunnahan jamaah. Kesunnahan jamaah itu didapat jika antara imam dan makmum sama baik niat maupun gerakannya shalatnya. Beliau merujuk pada Kitab Bairut Ingayatul Thalibin, halaman 6, karangan Abi Bakar Utsaman Bin Muhammad Syatho’ Ad Diniyati Al-bakhri dan diterbitkan oleh DKI Darul ‘Alamiyyah.

Dalilnya yaitu:

اِنِ اتَّفَقَتْ مَقْضِيَةُ الاِمَامِ وَالْمَأْمُوْمِ سُنَّتَ الْجَمَعَةُ، وَاِلاَّ فَخِلَا قُ الْأَوْلىَ كَأَدَءٍ خَلْفَ قَضَاءِ، وَعَكْسِهِ، وَفَرْضٌ خَلْفَ نَغْلٍ، وَعكْسِهِ، وَترَاوِيْحُ خَلْفَ وِتْرٍ، وَعَكْسِهِ.[4]

Terjemahan:

“Ketika antara imam dan makmum sama-sama melakukan shalat yang sama, maka disunnahkan untuk berjamaah, dan ketika antara imam dan makmum tidak melakukan shalat shalat yang sama, maka jamaah tersebut disebut sebagaiFakhilaqul Aula ( jamaah yang tidak mendapatkan kesunnahan dalam berjamaah) seperti halnya shalat Adha’ di belakang shalat Qodlo’ atau sebaliknya, melakukan shalat Fardlu di belakang shalat Sunnah atau sebaliknya, melakukan shalat Terawih di belakang shalat Witir atau sebaliknya.”

Penjelasan dari dalil tersebut yaitu missal ketika di masjid ada 2 orang yang melakukan shalat berjamaah, maka dia mendapatkan kesunnahan shalat berjamaah itu. Seseorang bisa mendapatkan kesunnahan shalat berjamaah jika imam dan makmum melakukan shalat yang sama. Maksudnya ketika imam niat shalat Dhuhur dan makmum juga berniat sholat Dhuhur. Itu yang disebut shalat yang sama (condong=sesuai). Imam melakukan gerakan ruku’, sujud, makmum juga melakukan hal yang sama sesuai dengan gerakan imam. Jadi keduanya saling cocok satu sama lainnya. Kemudian jika antara imam dan makmum tidak sama baik niat maupun gerakannya, maka dia tidak bisa mendapatkan kesunnahan jamaah (Fakhilaqul Aula). Contoh dari Fakhilaqul Aula adalah shalat Fardlu makmum dengan orang yang shalat Sunnah seperti halnya shalat Adha’ makmum di belakang orang yang sedang melakukan shalat Qodlo’. Maksudnya begini misalnya saya sholat Fardlu, tetapi saya makmum kepada seseorang yang sedang shalat Qodlo’ atau shalat Sunnah. Atau missal saya shalat Terawih, makmum kepada imam yang shalat Witir, atau sebaliknya. Maka shalat yang saya lakukan tetap sah, tetapi saya tidak mendapatkan kesunnahan jamaah.

Dari uraian di atas bisa disimpulkan bahwa hukum shalat yang imam dan makmum berbeda niatan dalam shalat, diperbolehkan dengan syarat gerakan (formatnya) sama antara imam dan makmum. Mereka menjadi jamaah yangFakhilaqul Aula yaitu jamaah yang shalatnya sah, tetapi mereka tidak mendapatkan kesunnahan shalat jamaahnya.



[1] Hasil wawancara dengan seorang santri alumni dari Pondok Pesantren Nurul Ummah Kota Gede. Beliau bernama AhmadNashir. Sekarang mengajar di salah satu sekolah yang ada di Kota Gede. Pada tanggal 20 Maret 2016 di rumah beliau sekitar pukul 20.00 WIB.

[2] Zakariyah Al-Anshori, Kitab Fathul Wahhab, (Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah), hlm.118.

[3] Hasil wawancara dengan Ning Upik. Beliau adalah anak perempun dari Kyai Muslih Ashari. Pendiri Pondok Pesantren Al-Muna 1 dan 2 di Giriloyo, Wukirsari, Imogiri, Bantul. Saya melakukan wawancara ini pada tanggal 21 Maret 2016 sekitar pukul 09.46 WIB.

[4]Abi Bakar Utsaman Bin Muhammad Syatho’ Ad Diniyati Al-bakhri, Kitab Bairut Ingayatul Thalibin, (DKI Darul ‘Alamiyyah), hlm.6.



Nama : Khasna Usti Fadah
Kelas : Semester 2 PAI B
NIM : 15.10.969
Tugas : Fiqih
Dosen : M. Nasrudin, SHI, MH.

0 komentar:

Cara dan Praktik Mengusap Muzah dalam Syariat Islam



Mengusap sepatu (sebagai ganti membasuh kaki dalam wudu) adalah boeh, dengan tiga syarat:
  • Mulai memakainya setelah dalam keadaan suci yang sempurna.
  • Sepatu (yang dipakai) menutup seuruh bagian kaki yang wajib dibasuh (daam wudu).
  • Dan sepatu tersebut terbuat dari bahan yang memungkinkan (kuat) untuk berjaan terus-menerus, dan tidak tembus air.

Dalil di perbolehkannya mengusap sepatu ini adalah dari banyak hadits, diantaranya adalah yang di riwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim, dari Jarir ra. bahwasanya beliau kencing, lalu wudlu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki). Dan ketika ditanyakan kepadanya. “Kenapa engkau berbuat seperti ini?.” Jawabnya, “ya, saya pernah meihat Rasulullah SAW. kencing, kemudian wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki).”

Hasan Al-Bashriy berkata, “Yang meriwayatkan tentang mengusap sepatu ini ada tujuh puuh orang. Baik berupa perbuatan maupun ucapan.”

Al-Bukhariy dan Muslim meriwayatkan dari A-Mughirah bin Syu’bah ra. ia berkata, “Saya ada bersama Rasulullah SAW pada suatu maam daam perjalanan. Saya menyiramkan air untuk beliau dari bejana, kemudian beliau membasuh mukanya, kedua tangannya, dan mengusap kepalanya. Kemudian ketika ketika aku berjongkok hendak melepas sepatunya, beliau bersabda: “biarkan, karena ketika aku memakainya dalam keadaan telah suci “. Lau beliau pun mengusap kedua sepatunya.

Orang mukim (tidak bepergian) dapat mengusap satu hari satu malam. Permulaan batas waktu dihitung sejak berhadats (yang pertama) setelah memakai sepatu. Bila telah mengusap di rumah, kemudian bepergian, atau telah mengusap dalam bepergian kemudian mukim, maka ia harus menyempurnakan pengusapan (sebagai orang yang) mukim.

Imam Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Syuraih bin Hani’, ian berkata: Aku datang kepada Aisyah ra. untuk menanyakan tentang mengusap sepatu. Kata Aisyah: datanglah kepada Ali, ia ebih tahu tentang ini daripada aku. Ia pernah bepergian bersama Rasuullah SAW. Mak aku pun bertanya kepadanya. Dan jawabannya: “Rasululah SAW menentukan tiga hari tiga malam untuk musafir, dan sehari semalam untuk orang yang mukim”.

Pengusapan pun akan menjadi batal karena beberapa tiga hal: karena telah dilepas, telah habis batas waktunya, dank arena adanya hal yang mewajibkan mandi.

Referensi: taqrib dalil


Dewi Rohmah
PAI B, Semester II
15. 10. 961

0 komentar:

Jadi Begini Kriteria Air Mustakmal




Air mustakmal yaitu air suci tetapi tidak mensucikan. Atau air yang telah di pakai untuk mensucikan hadats. Dasar kesuciannya adalah hadist yang diriwayat kan oleh Al-bukhari dan Muslim dari Jabin bin Abdillah ra. Ia berkata: “Rasulullah SAW datang menjenguk aku ketika sedang sakit dan tak sadarkan (saking parahnya). Kemudian beliau berwudhu dan menyiram aku dengan air (yang beliau pakai) wudhu”.

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa air itu telah tidak dapat di pakai lagi untuk bersuci, adalah hadis riwayat muslim dan lain-lain. Seperti hadist berikut ini:

Dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya nabi SAW bersabda: “janganlah seseorang dari kalian mandi di air yang diam (tidak mengalir), sedang ia dalam keadaan junub”.

Ketika seseorang menanyakan: “wahai Abu Hurairah, lantas bagaimana ia harus berbuat” kemudian beliau menjawab dengan menciduk”.

Dari hadist di atas dapat di ambil pengertian bahwa mandi mencebur dalaam air dapat menghilangkan sifat mensucikan air itu sendiri. Sebab bila tidak, maka tidak mungkin hal itu di larang oleh Nabi. Air yang disebut dalam hadis di atas adalah air yang sedikit. Menggunakan air tersebut untuk wudhu adalah sama saja dengan mandi, karena keduanya mempunyai maksud yang sama, yaitu menghilangkan hadats.

Oke gan sekian dari saya, mudah-mudahan apa yang telah saya paparkan di atas bermanfaat bagi kita semua. Mohon maaf ya bila banyak kesalahan. ☺☺


Dewi Rohmah
15.10.961
PAI B, semester II
Email:Dewianna1312@gmail.com

0 komentar:

Inilah Fardhu Tayamum dalam Fikih Islam






Secara bahasa tayamum bermakna menyengaja.sedangkan menurut syara’ tayamum adalah mendatangkan debu suci mensucikan pada wajah dan kedua tangan sebagai pengganti dari wudlu mandi atau membasuh anggota dengan syarat-syarat tertentu.

Adapun fardlu tayamum ada empat perkara,

Pertama, adalah niat. Menurut sebagian keterangan kitab lain, yang dimaksud adalah niat fardlu. Maka, jika niat tayamum untuk melakukan ibadah fardlu dan sunnah maka dibolehkan keduanya. Atau hanya niat untuk ibadah fardlu saja maka yang sunnah boleh menyertai yang fardlu. Lafal niat tayamum adalah:

Nawaitut tayammuma listibahatis shalat lillahi taala
Wajib hukumnya niat tayamum itu dilakukan secara bersama-sama dengan memindahkan debu untuk mengusap wajah dan kedua tangan, serta harus senantiasa menyertakan niat hingga sampai mengusap sebagian dari wajah.

Kedua dan ketiga ialah mengusap wajah dan kedua tangan beserta kedua siku-siku. Sebagian keterangan yang terdapat didalam kitab menggunakan kata “mengusap kedua tangan sampai kedua siku, sedang cara mengusap kedua tangan itu dilakukan dengan dua kali pukulan”. Seandainya ada orang yang tayamum meletakkan tangannya diatas debu lalu meletakkan debu lain pada tangannya, maka hal ini dianggap cukup.

Keempat, adalah tertib. Jadi wajib hukumnya mendahulukan mengusap wajah dahulu daripada mengusap kedua tangan. Dan apabila ia meninggalkan tertib maka belum dianggap syah tayamumnya.

Adapun di dalam mengambil debu untuk diusapkan ke wajah dan kedua tangan maka tidak disyaratkan harus tertib, jadi seandainya ada orang memukulkan kedua tangannya diatas debu hanya sekali pukulan untuk mengusap wajahnya denagn menggunakan debu yang ada ditangan kanannya dan sekaligus mengusap tangan kanannya dengan menggunakan debu yang ada ditangan kirinya maka hukumnya boleh-boleh saja.

Nama : Ikhsan Darmawan
Nim : 15.10.987
Kelas : II PAI B

0 komentar:

Bagaimana Memandikan Jenazah yang Jasadnya Tidak Lagi Utuh?




Memandikan jenazah emrupakan sesuatu yang harus dilaksanakan oleh umat islam. Hokum memandikan jenazah yaitu fardhu kifayah sehingga begitu pentingnya memandikan jenazah. Dalam konteks ini yang dibahas yaitu memandikan jenazah yang jasadnya tidak utuh. Sudah kita ketahui bahwa syarat jeb=nazah yang wajib dimandikan yaitu :

1. Islam
2. Bukan siqt (bayi yang lahir sebelum masanya),
3. Wujudnya jenazah atau sebagaian anggotanya,
4. Bukan mati sahid.

Para ulama madzab al arba’ah secara umum sepakat dengan syarat di atas tersebut, meskipun terdapa sedikit perbedaan.

Perubahan jaman yang begitu cepat mengakibatkan banyak kriminalitas sehinga sering kali mereka melakukan pembunuhan secara mutilasi. Mutilasi ini menyebabkan anggota jenazah yang rusak dan tidak utuh sehingga perlu adanya tata cara untuk memandikan jenazah. Bebrapa ulama memiliki perbedaan dalam menyikapi hokum memandikan jenazah.

Burhanudin Ibnu Mazah mengatakan, jika hanya ditemukan potongan tubuh mayit, seperti tangan atau kaki, atau kepal saja dia tidak dimmandikan dan tidak disholatkan, namun langsung dimakamkan. Hasyiyah Ibn Abidin, “jika ditemukan potongan anggota badan manusia atau ditemukan separuh badan terbelah memanjang atau melintang cukup dibungkus dengan kain( tidak dimandikan), kecuali jika ada kepalanya maka dia dikafani”. (ar-raddul mukhtar,2:222).

Dari beberapa keterangan yang ada di atas kita dapat menyimpulkan sebagai berikut:

a. Potongan jasad ada yang disikapi layaknya manusia utuh da nada juga yang menyikapi berbeda,

b. Potongan jasad yang disikapi layaknya manusia utuh yaitu dimandikan, disholati, dan dikafani serta dikubur, tetapi yang tidak disikapi berbeda denga jasad manusia yang utuh yaitu hanya dikafani dan dikubur,

c. Potongan yang disikapi layaknya manusia utuh yaitu potongan jasad mayit yang lebih dari separu meskipun tanpa kepala, serta potongan kurang dari separuh badan bersama kepala,

d. Potongan jasad yang bukan disikapi sebagai jasad manusia utuh yaitu hanya potongan anggota badan, seperti tangan, kaki, serta potongan separuh tanpa kepala.


Nama : Nur Khusaini
Nim : 15.10.993
Kelas : II PAI B

0 komentar:

Ini yang Disebut Ma'ul Musta’mal dalam Fikih




Pada dasarnya air diciptakan dalam keadaan yang suci, namun setalah ada sentuhan dari manusia atau makhluk lain maka hukum air menjadi berubah, seperti maaul musta’mal. Lalu apa pengertian dari air musta’mal?

Pengertian maaul musta’mal secara lughot (bahasa) terdiri dari dua kalimat yakni maaun yang berarti air dan almusta’malun yang berarti telah digunakan. Terdapat beberapa pendapat dari para ulama tentang pengertian maaul musta’mal secara istilah, seperti; Air musta’mal adalah air yang kuantitinya kurang dari dua qullah yang telah disentuh oleh anggota badan atau yang telah digunakan untuk menyucikan hadas, sama halnya untuk wudhu’ atau mandi wajib. Sebagian pandangan lagi mengemukakan air musta’mal adalah air yang kurang dari dua qullah yang telah digunakan untuk menyucikan hadas pada basuhan yang pertama. Ketentuan dua qullah pada umumnya adalah 216 liter.

Pada intinya air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci atau menyucikan hadast dengan tanpa tercampur dengan barang yang hukumnya najis dan kurang dari dua qullah. Contohnya, air wudlu yang menetes dari wajah, artinya air tersebut telah digunakan untuk membasuh wajah dan jika air tetesan tersebut menetes pada air yang kita tadah untuk membasuh organ selanjutnya, maka air dalam tadahan itu bersifat musta’mal dan tidak dapat digunakan untuh bersuci lagi.

Menurut madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, hukum dari maaul musta’mal adalah thohir ghoiru muthohir. Menurut Madzhab Maliki, air musta’mal dapat menyucikan. Sedangkan menurut Madzhab Hanafi, air musta’mal dihukumi najis.

Maaul musta’mal, apakah selamanya tidak dapat dijadikan sebagai air yang thahir muthohir (air suci dan mesucikan terhadap yang lain)? Jawabannya bisa. Dengan syarat:

a) Air musta’mal tersebut sudah ada sebanyak dua qullah.
b) Jika kemasukan sesuatu yang najis, sifat-sifat air tidak berubah.
c) Jika tercampur dengan sesuatu yang suci, sifatnya tidak berubah dengan sangat.
d) Air tersebut dapat dikatakan sebagai air mutak kembali.


Sifat-sifat yang dikenai oleh maaul musta’mal atau yang termasuk air thohir ghoiru muthohr antara lain:

• Ketika air tercampur dengan sesuatu yang suci dan dapat lebur (bercampur) dengan air seperi madu (‘asal) atau pun air tercampur dengan sesuatu yang tidak dapat bersatu bercampur dengan air seperti minyak, kemudian terjadi perubahan yang sangat (taghyiiran faahisyan) pada sifat-sifat air (bau, rasa, warna), maka air tersebut tidak bisa digunakan untuk raf’ul hadast maupun izalatun najis walaupun air tersebut sangat banyak.

• Air jika kemasukan sesuatu yang najis yang menjadikan berubahnya salah satu sifat air walaupun perubahannya sedikit hukum air tersebut adalah najis walaupun air dalam jumlah yang sangat banyak seperti lautan. Jika tidak merubah sifat-sifat air maka air tersebut tidak najis selama airnya lebih dari dua qullah.

• Bila dalam air terdapat sesuatu yang berkesinambungan, seperti lumpur atau ganggang dan atau sifat air tersebut berubah dengan sendirinya karena terlalu lama didiamkan maka hukum air tersebut adalah suci.Wallahu a’lam.



Rujukan:
 Sarah Fathul Qorib Al-Mujib
 Matnul Ghoyatu wa Taqrib
 Riyadhul Badi’ah
 Terjemah Fiqih Empat Madzhab.


Nama/NIM : Novianis Nur Mufidah/15.10.1008
Semester : II PAI C
Mata kuliah : Fiqih I

0 komentar:

Begini Mekanisme dan Praktik Mengusap Muzah dalam Berwudlu




Muzah ialah pakaian semacam kaos kaki yang lazim dipakai, tetapi bahannya dibuat dari kulit. Muzah biasa digunakan oleh orang-orang yang bepergian (musafir), berperang pada zaman dahulu atau orang-orang mukim. Mengusap muzah merupakan pengganti mengusap kaki pada saat wudhu. Namun, sebelum memakai muzah harus wudhu terlebih dahulu baru setelah itu wudhu berikutnya bisa dengan mengusap muzah. Cara mengusap muzah ada dua, yaitu : Pertama, mengusap bagian dari luar atasnya muzah yang lurus dengan kaki dan maa kaki. Kedua, meletakkan tangan kanan di atas jari kaki, dan tangan kiri di bawah tumit. Kemudian menjalankan tangan kanan ke bawah betis (mata kaki), dan tangan kiri ke ujung jari kaki.

Dalam mengusap muzah ada tiga syarat, yakni: Pertama, memakainya setelah bersuci secara sempurna. Kedua, muzah menutupi bagian kaki yang wajib dibasuh, dari telapak kaki hingga mata kaki. Jika dibawah mata kaki, maka tidak cukup mengusapnya. Ketiga, kedua muzah memungkinkan digunakan terus-menerus berjalan untuk memenuhi kebutuhan, kuat tidak tertembus air, dan juga disyaratkan keduanya harus suci.

Orang yang mukim / tinggal di rumah boleh memakai muzah sampai 1 hari 1 malam, sedangkan untuk orang musafir / yang dalam perjalanan boleh memakai muzah sampai 3 hari 3 malam, baik malamnya yang dahulu atau yang akhir dari 3 hari itu adalah sama saja. Adapun permulaan massa memakai dua muzah itu dihitung mulai dari habisnya hadats yang ada sesudah sempurnanya memakai dua muzah. Tidak dihitung dari permulaan hadats, tidak dari sewaktu mengusap dan tidak dari permulaan memakai. Orang yang melakukan perjalanan kemaksiatan atau tanpa tujuan, maka mengusap muzah sebagaimana orang mukmin.

Hukum mengusap muzah itu ada lima, yaitu : jawaz; merupakan hukum asal jika mampu untuk menyapu dan membasuh kaki, wajib; jika airnya hanya cukup untuk mengusap muzah, haram serta tidak mencukupi; jika pemakainya muhrim, haram serta mencukupi; untuk muzah yang digashab, sunnah; jika meragukan dalil menyapu muzah, makruh; jika kesempitan dan tidak leluasa. Adapun sunnahnya mengusap muzah itu ialah menggaris-garis dengan melonggarkan di antara beberapa jari orang yang mengusap, jari-jari tersebut tidak terkumpul.

Mengusap muzah batal dengan tiga perkara, yaitu : Pertama, lepasnya muza dan keluarnya muzah dari kebaikannya untuk diusap seperti robeknya muzah. Kedua, sebab sudah habis masanya boleh mengusap yaitu sehari semalam bagi orang yang mukim dan tiga hari tiga malam bagi orang yang bepergian. Ketiga, sebab adanya perkara yang mewajibkan mandi. Seperti jinabat, haidh atau nifas bagi orang yang memakai muzah.


Nama : Maria Ulfah Afni Rahmawati
NIM : 15.10.971
Mata Kuliah : Fikih I
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, SHI, MH
Semester 2, kelas PAI B

0 komentar:

Mekanisme dalam Bertayamum





Menurut buku terjemah fathul qorib , yang telah diterjemahkan oleh Drs. KH. Imron Abu Amar . Pengertian tayamum secara bahasa ialah menyengaja, sedangkan menurut syara’ tayamum ialah menyampaikan debu ke wajah dan kedua tangan sebagai gantinya wudlu, mandi, atau membasuh anggota- anggota badan di sertai dengan syarat- syarat yang sudah ditentukan. Syarat- syarat tayamum itu ada 5 macam perkara yaitu: adanya halangan bagi orang yang berpergian atau sakit, sudah masuk waktunya solat jika tayamum untuk melaksanakan solat sedangkan ketika bertayamum belum masuk waktunya solat maka tayamum itu tidak sah, harus mencari air sesudah waktunya solat yang di lakukan untuk dirinya sendiri atau dengan orang yang telah mendapatkan izin untuk mencarikan air, karena terhalang untuk memakai air, dan harus menggunakan debu yang suci dan kering.

Sedangkan syarat tayamum menurut kamus fikih yaitu: Kita harus menyengaja menggunakan debu karena syarat sah tayamum harus menggunakan debu yang suci dan kering jika debu itu basah masih ada kemungkinan terdapat air di sekitar tempat tersebut, hendaknya kita mencari air dahulu sebelum melaksanakan tayamum jika benar- benar tidak terdapat air maka boleh melaksanakan tayamum, mengusap wajah dan kedua telapak tangan dengan tepukan, sebelum kita melakukan tayamum hendaknya menghilangkan najis terlebih dahulu, menurut Ibnu hajar al- asqolani harus mencari arah kiblat terlebih dahulu sebelum melaksanakan tayamum, bertayamum setelah masuknya waktu solat jika kita melaksanakan tayamum tetapi belum masuk waktu solat maka tayamum tidak sah, bertayamum untuk setiap kefarduan seperti solat maktubah dan khutbah jum’at. Sedangkan hukum tayamum menurut buku kamus Fikih, yaitu: Apabila dapat membahayakan anggota tubuh yang disebabkan penggunaan air atau tidak di temukan air secara kasap mata maka hukum tayamum itu wajib. Dihukumi mubah kerika seseorang mampu berwudu dengan membeli air yang dijual di atas harga setandar dan jika seseorang tidak menemukan air pada awal waktu solat serta ada keyakinan atau dugaan kuat adanya air di akhir waktu solat. Kemudian dihukumi makruh jika mengulangi ritual tayamum yang sudah dilakukan. Dan jika melakukan tayamum tetapi menggunakan debu ghosob maka dihukumi haram.

Fardunya tayamum ada 4 yaitu: Niat bertayamum, mengusap muka, mengusap kedua telapak tangan sampai dengan kedua siku- siku, harus tertib atau urut tidak boleh terbolak balik antara fardu yang satu dengan yang lainya.

Sunahnya tayamum itu ada 3 menurut kitab matan fathul qorib yaitu: Membaca bismillah sebelum melaksanakan tayamum, mendahulukan tangan yang kanan atas yang kiri dari kedua tangan dan mendahulukan bagian atas wajah atas bagian bawahnya, dan sambung- menyambung.

Perkara yang membatalkan tayamum itu ada 3 yaitu: Segala sesuatu yang membatalkan wudhu, karena melihat adanya air maksudnya siapa saja yang bertayamum karena tidak adanya air kemudia menduga- duga atau melihat datangnya air sebelum memasuki waktu solat maka tayamumnya tidak sah, dan murtad (keluar dari agama islam menurut syarat).

Hal- hal yang membolehkan tayamum yaitu : karena tidak adanya air dalam kondisi untuk berwudhu atau mandi tetapi hendaknya kita memastikan terlebih dahulu bahwa benar- benar tidak ada air, karena sakit yang menyebabkan tidak boleh terkena air baik karena luka maupun sakit yang tidak boleh tekena air apabila tekena air ditakutkan akan semakin parah, adanya suhu yang sangat dingin apabila dalam kondisi sangat dingin dan menusuk tulang dan menyentuh air untuk berwudu membuat siksaan tersendiri, karena tidak dapat menjangkau air bukan karena tidak ada air tetapi untuk mendapatkanya ada resiko lain yang menghalangi, karena air tidak cukup dan terbatas atau akan digunakan untuk kepentingan yang jauh harus didahulukan daripada wudhu.

Adapun tatacara melaksanakan tayamum yaitu: Cukup dengan niat, lalu menempelkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan dua kali pukulan kemudian meniupnya, kemudian mengusap wajah dengan dua telapak tangan, kemudian mengusap punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya, semua usapan baik ketika mengusap wajah ataupun tangan cukup sekali saja, bagian tangan di usap mulai dari telapak tangan sampai siku saja sama halnya dengan wudhu.


Nama: Indah Uswatun Khasanah
Nim: 15.10.964
Kelas: PAI B II
Dosen: M Nasrudin, MSI.

0 komentar:

Jadi, ini Muzah yang Boleh dan Sah Dipakai






Muzah merupakan kaos kaki yang terbuat dari kulit binatang yang sudah disamak. Ini biasanya dipakai pada saat udara sangat panas ataupun sangat dingin. Muzah boleh dipakai ketika melaukan ibadah shalat, baik shalat fardhu maupun shalat sunnah. Orang yang memakai muzah ketika akan melakukan wudhu tidak perlu melepasnya, tetapi muzah terebut cukup diusap saja.

Adapun kriteria muzah yang bioleh dan sah dipakai adalah sebagai berikut:

Pertama muzah tersebut harus kuat. Muzah yang boleh dipakai tanpa harus melepasnya ketika akan meakukaan wudhu atau ibadah haruslah kuat. Dan tidak meresap apabila muzah tersebut terkena air (kedap air).

Kedua, menutupi sampai mata kaki. Muzah yang boleh dipakai tanpa harus melepasnya dan cukup dengan diusap saja, yaitu: harus menutupi bagian ujung kaki hingga mata kaki. Hal ini disebabkan karena mata kaki termasuk dalam syarat sahnya wudhu yang dilakukan seseorang.

Pemakaian muzah ini dilakukan ketika seseorang telah melakukan bersuci secara sempurna. Waktu yang diperbolehkan untuk mengusap muzah bagi seorang yang mukim atau tidak sedang dalam melakukan perjalanan adalah satu hari satu malam. Berbeda dengan seorang yang mukim, seorang musafir atau dalam perjalanan diperbolehkan mengusap muzah tiga hari tiga malam.

Adapun syarat orang yang bepergian menggunakan muzah dan ingin mengusap muzahnya tiga hari tiga malam harus memenuhi syarat seeorang musafir, yaitu : jarak yang dilaluinya kurang lebih 90 km. Selain itu, orang tersebut bepergian atau melakukan perjalanan bukan untuk berbuat maksiat.

Apabila orang yang melakukan perjalanan atau musafir dengan niat ingin melakukan maksiat maka hukum mengusap muzahnya tidak tiga hari tiga malam, tetapi sama dengan orang yang mukim yaitu satu hari satu malam.

Adapun permulaan masa memakai muzah dihituung mulai dari habisnya hadas yang ada sesudah sempurnanya memakai dua muzah. Bukan dihitung dari permulaan hadas (tidak dari sewaktu mengusap dan tidak dari permulaan memakai muzah).


Nama : Dewi Khannah
NIM :15.10.960
Mata Kuliah : Fiqih I
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, SHI, MH
Semester 2, kelas PAI B


0 komentar:

Maksiat di Perjalanan dan Perjalanan untuk Maksiat; Konteks Mengusap Muzah dan Salat Jamak/Qasar

                                                           



Seseorang yang melakukan suatu perjalanan jauh menuju suatu tempat dengan menempuh jarak lebih dari 80 km/90 km disebut sebagai musafir. Maka bagi seorang musafir diperbolehkan untuk memakai muzah dalam perjalanannya.

Apa pengertian muzah itu?

Muzah adalah pakaian seperti kaos kaki yang kuat, tahan lama dan biasa dipakai untuk berjalan, dan bisa terbuat dari kulit atau yang lainnya yang kuat dan tahan air. Sedangkan masa pemakaiannya untuk seorang musafir yaitu 3 hari 3 malam. Setelah melebihi hari yang telah ditentukan tersebut, maka muzah tersebut menjadi batal dan wajib dicopot untuk disucikan dan barulah boleh dipakai lagi setelah suci. Sedangkan untuk orang yang bukan musafir (mukim), maka batas waktu pemakaiannya hanya 1 hari 1 malam. Selepas itu maka muzahnya batal.

Lantas apa perbedaan mengenai ketentuan mengusap muzah dalam konteks maksiat didalam perjalanan dan perjalanan untuk maksiat dan menjamak/mengqasar sholatnya?


a) Maksiat di dalam Perjalanan

Maksiat di dalam perjalanan yaitu kita pergi ke suatu tempat tujuan. Tetapi di tengah perjalanan sebelum sampai ke tempat yang ingin dituju, tiba-tiba memiliki niat yang tidak baik (niat untuk maksiat) dan niat ini muncul secara spontan. Seperti ketika melewati suatu jalanan atau suatu tempat (maksiat) yang menarik perhatiannya dan dia memiliki keinginan untuk mampir. Contohnya si A tinggal di Jogya dan dia ingin pergi ke Jambi. Tetapi ketika baru sampai ke Jakarta, dia melewati suatu tempat maksiat (tempat para PSK). Tiba-tiba dia memiliki niat untuk mampir ke tempat tersebut. jika dalam perjalanannya dia memakai muzah, maka dalam konteks mengusap muzah yaitu:

Jika dia hanya mampir untuk melihat-lihat saja, tanpa melakukan kemaksiatan tersebut, maka muzahnya masih tetap suci. Sehingga kalau sudah memasuki waktu sholat dan dia ingin sholat maka dia tidak harus mencopot muzahnya tersebut ketika wudlu, cukup dengan membasuh bagian atas kaki yang terlihat dari muzah yang dipakainya. Selain itu dia juga masih tetap diizinkan atau diperbolehkan untuk menjamak/mengqasar sholatnya selama dalam perjalanan itu.

Tetapi jika dia melakukan kemaksiatan (berhubungan dengan PSK), maka muzah yang dipakainya itu menjadi batal meskipun belum sampai batas waktu pemakaiannya. Karena salah satu penyebab muzah yang dipakai seseorang menjadi batal adalah karena adanya sebab yang mengaharuskan seseorang untuk mandi. Jadi ya sudah jelas bahwa perbuatan diatas mengharuskan pelakunya untuk mandi. Dan itulah yang menjadi alasan muzahnya batal. Sehingga sebelum sholat dia harus melakukan mandi besar dan membersihkan muzah tersebut, lalu berwudlu seperti biasa. Jikalau sudah selesai bersuci maka diperbolehkan memakai kembali muzah yang telah dibersihkannya tersebut.

Perlu kita ketahui juga kalau misalnya perjalanan yang kita tempuh tersebut bisa kita lalui dalam waktu yang lebih cepat daripada waktu yang telah diperkirakan, misalnya kita menduga kalau perjalanan yang kita lakukan akan membutuhkan waktu yang lama kra-kira 3 hari, tetapi ternyata dalam 2 hari saja kita sudah sampai di tempat itu, maka muzah itu sudah tidak suci lagi / menjadi batal / gugurlah kesucian muzah tersebut dan kita tidak diizinkan lagi untuk memakai muzah tersebut karena kita sudah di rumah atau tempat tujuan (mukim). Sehingga ketika kita akan sholat, maka kita dianjurkan untuk berwudlu seperti biasa seperti seseorang yang tidak memakai muzah.

Tetapi kalau perjalanan yang kita lakukan justru membutuhkan waktu yang lebih lama melebihi waktu yang kita perkirakan, maka muzah tersebut tetap harus dicopot ketika sudah mencapai waktu 3 hari 3 malam / waktu yang telah ditentukan telah habis. Misalnya kita memperkirakan dalam waktu 3 hari sampai tempat, ternyata ketika hari ketiga belum juga sampai tempat. Maka ketika hari ketiga tersebut muzah kita harus kita copot dan kita bersihkan dulu karena muzah tersebut telah batal. Kalaupun mau dipakai lagi karena belum sampai tempat tujuan, maka harus dibersihkan atau disucikan terlebih dahulu muzahnya. Kenapa begitu? Karena muzah tersebut sudah batal dikarenakan sudah habis masa pemakaiannya. Sehingga untuk membuatnya menjadi suci kembali harus dicopot dulu dan dibersihkan, baru setelah itu kita diperbolehkan untuk memakainya kembali. Dengan catatan kita dalam keadaan suci ketika akan memakainya.

 
b) Perjalanan untuk maksiat

Sedangkan yang dimaksud dengan perjalanan untuk maksiat adalah kita melakukan suatu perjalanan yang dari awal kita sudah berniat melakukannya dengan tujuan untuk hal atau perbuatan yang maksiat di tempat itu. Misalnya mencuri, merampok ataupun membunuh. Maka muzah yang dipakainya dari rumah ke tempat tujuan tidak berarti apa-apa atau bisa dianggap sudah batal sejak awal. Karena segala sesuatu menjadi tidak sah atau dilarang bahkan akan berhukum haram kalau sejak awal diniatkan untuk hal-hal yang tidak baik, seperti kejahatan atau kemaksiatan. Sekalipun awalnya suci tetapi bisa berubah menjadi haram karena niatnya. Begitupula dengan muzah. Awalnya suci tetapi karena niatnya dari awal dipakai untuk hal-hal yang maksiat/tidak baik maka muzah tersebut menjadi batal. Selama perjalanan dia boleh memakai muzah, tetapi ketika dia akan sholat, maka wajib mencopot muzahnya dan mensucikannya dengan berwudlu seperti biasa (orang yang tidak memakai muzah). Begitupula dengan mengqasar atau menjamak sholat di perjalanan maka tidak sah untuk dilakukannya, karena perjalanan itu diniatkan untuk maksiat bukan untuk hal yang baik. Jadi mengqasar atau menjamak sholatpun juga tidak sah.

Sebenarnya apa arti mengqasar atau menjamak sholat itu?
  • Qasar sholat adalah meringkas sholat menjadi 2 rakaat dari yang jumlah rakaat semula adalah 4.
  • Jamak sholat adalah mengumpulkan 2 rakaat jadi 1 artinya dalam satu waktu. Misalnya jika sholat ‘Ashar dikerjakan diwaktu dhuhur sesudah sholat dhuhur, maka disebut jamak taqdim. Sedangkan jika sholat dhuhur dikerjakan sesudah sholat ‘ashar maka disebut jamak takhir.

Perlu kita ingat juga bahwasannya jika kita ingin berniat menjamak sholat, maka harus sesuai dengan aturan dalam menjamak sholat. Kita tidak boleh menjamak sholat sebelum mengerjakan sholat fardlu terlebih dahulu. Misalnya kita mau menjamak taqdim, tetapi kita mengerjakan sholat ‘Ashar sebelum mengerjakan sholat dhuhur (fardlu), maka tidak sah jamak taqdimnya. Ia harus mengulang sholat ‘Ashar sesudah mengerjakan sholat dhuhur.

Kemudian apa saja syarat-syarat diperbolehkan untuk mengqasar dan menjamak sholat fardlu?

  • Orang yang bepergian dengan jarak bepergiannya sekitar 80/88,5/90 km.
  • Tujuan bepergian orang tersebut bukan untuk maksiat, tetapi untuk hal-hal yang baik seperti berdagang, silaturrahmi dan lain-lain.
  • Jumlah rakaat sholat yang diperbolehkan untuk diqasar adalah 4 rakaat.
  • Orang yang mengqasar sholatnya tidak boleh makmum dengan orang yang bertempat tinggal di daerah tersebut (mukim).
  • Orang yang mau mengqasar sholatnya harus berniat mengqasarnya berbarengan dengan takbiratul ikhrom. Dan lain-lain.[1]


Nama   : Khasna Usti fadah
NIM    : 15.10.969
Kelas   : Semester 2 PAI  B
Tugas   : Fiqih
Dosen  : M. Nasrudin, SHI, MH.


[1]Imron Abu Amar, Fathul Qarib Jilid 1, (Kudus: MENARA, 1982), hlm. 118-120.  

0 komentar:

Mekanisme Praktik Tayamum






Menurut buku terjemah fathul qorib , yang telah diterjemahkan oleh Drs. KH. Imron Abu Amar . Pengertian tayamum secara bahasa ialah menyengaja, sedangkan menurut syara’ tayamum ialah menyampaikan debu ke wajah dan kedua tangan sebagai gantinya wudlu, mandi, atau membasuh anggota- anggota badan di sertai dengan syarat- syarat yang sudah ditentukan. Syarat- syarat tayamum itu ada 5 macam perkara yaitu: adanya halangan bagi orang yang berpergian atau sakit, sudah masuk waktunya solat jika tayamum untuk melaksanakan solat sedangkan ketika bertayamum belum masuk waktunya solat maka tayamum itu tidak sah, harus mencari air sesudah waktunya solat yang di lakukan untuk dirinya sendiri atau dengan orang yang telah mendapatkan izin untuk mencarikan air, karena terhalang untuk memakai air, dan harus menggunakan debu yang suci dan kering.

Sedangkan syarat tayamum menurut kamus fikih yaitu: Kita harus menyengaja menggunakan debu karena syarat sah tayamum harus menggunakan debu yang suci dan kering jika debu itu basah masih ada kemungkinan terdapat air di sekitar tempat tersebut, hendaknya kita mencari air dahulu sebelum melaksanakan tayamum jika benar- benar tidak terdapat air maka boleh melaksanakan tayamum, mengusap wajah dan kedua telapak tangan dengan tepukan, sebelum kita melakukan tayamum hendaknya menghilangkan najis terlebih dahulu, menurut Ibnu hajar al- asqolani harus mencari arah kiblat terlebih dahulu sebelum melaksanakan tayamum, bertayamum setelah masuknya waktu solat jika kita melaksanakan tayamum tetapi belum masuk waktu solat maka tayamum tidak sah, bertayamum untuk setiap kefarduan seperti solat maktubah dan khutbah jum’at. 


Sedangkan hukum tayamum menurut buku kamus Fikih, yaitu: Apabila dapat membahayakan anggota tubuh yang disebabkan penggunaan air atau tidak di temukan air secara kasap mata maka hukum tayamum itu wajib. Dihukumi mubah kerika seseorang mampu berwudu dengan membeli air yang dijual di atas harga setandar dan jika seseorang tidak menemukan air pada awal waktu solat serta ada keyakinan atau dugaan kuat adanya air di akhir waktu solat. Kemudian dihukumi makruh jika mengulangi ritual tayamum yang sudah dilakukan. Dan jika melakukan tayamum tetapi menggunakan debu ghosob maka dihukumi haram.

Fardunya tayamum ada 4 yaitu: Niat bertayamum, mengusap muka, mengusap kedua telapak tangan sampai dengan kedua siku- siku, harus tertib atau urut tidak boleh terbolak balik antara fardu yang satu dengan yang lainya.

Sunahnya tayamum itu ada 3 menurut kitab matan fathul qorib yaitu: Membaca bismillah sebelum melaksanakan tayamum, mendahulukan tangan yang kanan atas yang kiri dari kedua tangan dan mendahulukan bagian atas wajah atas bagian bawahnya, dan sambung- menyambung.

Perkara yang membatalkan tayamum itu ada 3 yaitu: Segala sesuatu yang membatalkan wudhu, karena melihat adanya air maksudnya siapa saja yang bertayamum karena tidak adanya air kemudia menduga- duga atau melihat datangnya air sebelum memasuki waktu solat maka tayamumnya tidak sah, dan murtad (keluar dari agama islam menurut syarat).

Hal- hal yang membolehkan tayamum yaitu : karena tidak adanya air dalam kondisi untuk berwudhu atau mandi tetapi hendaknya kita memastikan terlebih dahulu bahwa benar- benar tidak ada air, karena sakit yang menyebabkan tidak boleh terkena air baik karena luka maupun sakit yang tidak boleh tekena air apabila tekena air ditakutkan akan semakin parah, adanya suhu yang sangat dingin apabila dalam kondisi sangat dingin dan menusuk tulang dan menyentuh air untuk berwudu membuat siksaan tersendiri, karena tidak dapat menjangkau air bukan karena tidak ada air tetapi untuk mendapatkanya ada resiko lain yang menghalangi, karena air tidak cukup dan terbatas atau akan digunakan untuk kepentingan yang jauh harus didahulukan daripada wudhu

Adapun tatacara melaksanakan tayamum yaitu: Cukup dengan niat, lalu menempelkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan dua kali pukulan kemudian meniupnya, kemudian mengusap wajah dengan dua telapak tangan, kemudian mengusap punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya, semua usapan baik ketika mengusap wajah ataupun tangan cukup sekali saja, bagian tangan di usap mulai dari telapak tangan sampai siku saja sama halnya dengan wudhu,


Nama: Indah Uswatun Khasanah
Nim: 15.10.964
Kelas: PAI B II

0 komentar:

Tidak Semua Air Liur itu Najis, Ini Batasannya




Pada dasarnya segala sesuatu yang keluar dari tubuh manusia itu dihukumi suci kecuali ada dalil yang menghukumi najis. Air liur, keringat, dan segala sesuatu yang keluar dari hidung pada dasarnya suci. Dan segala sesuatu yang keluar dari dua jalan kubul dan dubur dihukumi najis, baik itu kotoran, kecing ataupun berak.

 Sedangkan mengenai air liur ada yang dihukumi najis dan ada pula yang dihukumi suci. Hal ini tergantung dengan posisi tubuh manusia, dihukumi najis apabila air liur itu keluar di saat posisi kepala lebih rendah dari pada dada, karena di khawatirkan bahwa air liur tersebut keluar dari dalam perut, sedangkan segala sesuatu yang keluar dari  dalam perut dihukumi najis. 

Adapun air liur yang dihukumi suci jika air liur itu berasal dari tenggorokan, mulut, atau sela- sela gigi, dan batasannya air liur itu suci terletak pada makhroj huruf  “kha”. Untuk membedakan antara air liur yang keluar dari dalam perut atau tidak  maka kita harus  mengetahui terlebih dahulu ciri- cirinya.


a.Ciri- ciri air liur yang keluar dari perut, yaitu: 
1. Bila air liur itu berbau bacin atau tidak sedap.
2. Apabila air liur itu berwarna kekuning-kuningan atau keruh.
3. Posisi kepala lebih rendah dari dada, dan merasakan tidur yang sangat pulas dengan jangka waktu yang panjang.

b. Ciri- ciri air liur yang keluar dari mulut atau tenggorokan, yaitu:
1. Tidak berbau bacin.
2. Tidak berwarna kekuning- kuningan dan ada juga yang berwarna bening.
3. Jika keluarnya air liur dalam posisi kepala lebih tinggi dari dada.
 Apabila kita masih ragu mengenai air liur itu keluar dari perut atau tidak, karena posisi tidur yang tidak tetap, maka lebih baik kita berhati-hati  dalam menghukumi hal tersebut, dan lebih dianjurkan untuk disucikan.


Nama          : Indah Uswatun Khasanah
Nim             : 15.10.964
Mata Kuliah: Fikih

0 komentar:

Fardhu Tayamum dalam Fikih Islam



            Dalam buku Terjemah Fathul Qorib karya Abu H.F. Ramadhan B.A., pengertian tayamum menurut bahasa berarti menyengaja atau menuju. Sedangkan menurut istilah adalah menyampaikan (menempelkan) debu-debu yang suci ke muka dan kedua tangan sebagai pengganti wudhu, mandi, atau membasuh anggota dengan syarat-syarat tertentu. Seperti firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah ayat 6:



يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٦

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Sebelum melakukan tayamum hendaknya kita harus mengetahui dulu apa saja fardhunya tayamum. Apabila ada salah satu fardhu yang tidak dilakukan, maka tayamumnya tidak sah. Berikut ini adalah fardhu-fardhu tayamum berdasarkan Kitab Fathul Qorib:

1.      Niat
Menurut sebagian keterangan dikatakan “niat fardhu”. Jika seseorang bertayamum dengan niat fardhu dan sunah, hendaknya berniat fardhu dan sunah atau mendahulukan niat fardhu, maka niat sunahnya menyertai niat fardhu. Niatnya sebagai berikut:

نوت التيمم لاستبا حة الصلاة  atau نوت استبا حة مفتقرالى طهر

Dalam Kamus Fiqh yang disusun oleh Team Kajian Islam Ahla_Shuffah 103 Lirboyo, niat tayamum harus disandarkan pada ibadah lain, karena tayamum adalah ibadah yang bergantung pada ibadah lain yang membutuhkan thaharah (suci) dan tidak dapat menghilangkan hadast sehingga niatnya berbeda dengan wudhu. Menurut mayoritas ulama Syafi’iyah sepakat bahwa prinsip utama dalam niat tayamum adalah agar dapat diperkenankan melakukan ibadah-ibadah yang membutuhkan thaharah. Contoh niatnya sebagai berikut:

نوت التيمم لاستبا حة الصلاة \مس المصحف\الطواف لله تعالى
Artinya: Saya niat tayamum agar dapat melakukan shalat/ memegang mushaf/ thawaf semata-mata karena Allah”.  

Terdapat perbedaan pendapat tentang kapan waktu melakukan niat tayamum. Dalam Kitab Fathul Qoribdisebutkan bahwa wajib berniat tayamum bersamaan dengan memindahkan (mengambil) debu ke arah muka (wajah) dan kedua tangan serta harus menjaga niat tersebut sampai selesainya usapan. Seandainya mutayamim (orang yang bertayamum) berhadast sesudah memindah debu maka debu tersebut tidak boleh digunakan, tetapi harus mengambil debu yang lain.

Dalam Kamus Fiqh, ada 3 versi tentang waktu niat tayamum, di antaranya:
·         Versi al-Mawardi dan al-Ghazali, cukup dilakukan pada saat usapan pertama pada bagian wajah. Versi ini menyamakan dengan niat di dalam wudhu.
·         Versi al-Rafi’i dan al-Baghawi, dilakukan pada saat memindah debu dan harus terus berlangsung sampai prosesi pengusapan wajah.
·         Versi al-Mu’tamad, cukup dilakukan pada saat memindah debu (memukulkan debu dengan tangan) dan saat usapan satu pada bagian wajah. Boleh hilang ditengah prosesi pemindahan debu.

2.      Mengusap muka
Mengusap muka hendaknya dengan dua pukulan. Yang dimaksud dengan dua pukulan adalah memukulkan antara punggung tangan kanan dan kiri setelah pengambilan debu. Hal ini dilakukan untuk memisahkan kapur atau pasir yang sekiranya terdapat pada debu yang telah diambil, karena debu yang bercampur dengan gamping (kapur) atau pasir tidak dapat digunakan untuk tayamum. Oleh karena itu, pukulan tersebut adalah cara untuk memisahkan antara debu dan kapur atau pasir tersebut. Usapan pada muka dilakukan hanya satu kali serta merata ke seluruh bagian muka.

3.      Mengusap tangan beserta (sampai) siku
Caranya sama dengan mengusap muka, yakni dengan dua pukulan, melakukan usapan sebanyak satu kali serta dari ujung tangan sampai siku. Namun hukumnya sah apabila setelah mengambil debu dan melakukan pukulan, debu yang ada pada tangan kanan untuk mengusap muka sedangkan tangan kiri mengusap untuk tangan kanan.

4.      Tertib
Dalam melakukan tayamum wajib hukumnya tertib, yakni mendahulukan mengusap bagian muka baru setelah itu mengusap kedua tangan.       


Nama: Alfiaturrohmah
NIM: 15.10.957
Semester/Kelas: Semester II PAI B
Mata Kuliah: FIKIH I
Dosen: Nasrudin, SHI, MH.

0 komentar:

Kriteria Air Musta’mal dalam Fikih Islam


Kata “musta’mal” dari segi bahasa adalah isim maf’ul hasil derivasi dari fi’il madhi tsulasi mazid sudasi “ista’mala”, secara harfiah arti musta’mal sendiri adalah sesuatu yang digunakan. Definisi air secara terminologi syara’ adalah “air yang sudah pernah digunakan untuk thoharoh (bersuci) wajib, baik untuk menghilangkan hadast kecil atau besar maupun untuk menghilangkan najis meski najis yang dima’fu”.
Sedangkan air musta’mal dalam pengertian madzhab syafi’i adalah air yang kurang dari dua qullah (kira-kira sekitar 270 liter) dan telah digunakan untuk mengangkat hadats. Air itu menjadi musta’mal apabila digunakan dengan niat untuk wudhu’ atau mandi meski untuk mencuci tangan yang merupakan bagian dari sunnah wudhu’. Namun bila niatnya hanya untuk menciduknya yang tidak berkaitan dengan wudhu’ maka belum lagi dianggap musta’mal. Termasuk dalam air musta’mal adalah air mandi baik mandinya orang yang masuk Islam atau mandinya mayit atau mandinnya orang yang sembuh dari gila. Dan air itu baru dikatakan musta’mal kalau sudah lepas/menetes dari tubuh. Air musta’mal dalam madzhab ini hukumnya tidak bisa digunakan untuk berwudhu’ atau untuk mandi atau untuk mencuci najis. Karena statusnya suci tapi tidak mensucikan.
Syarat air bisa dikatakan mustakmal yaitu :
  • Volume air sedikit (kurang dari dua qullah (kira-kira sekitar 270 liter) ).
  • Air yang sudah digunakan pada anggota tubuh yang wajib dibasuh.
  • Air sudah terpisah dari anggota tubuh.
  • Tidak ada niat menciduk air pada tempat niat menciduk, yaitu dalam hal mandi adalah setelah niat mandi dan bersentuhan air dengan anggota tubuh dan dalam hal wudhu’ adalah setelah membasuh muka dan merencanakan basuh dua tangan.

Yang termasuk dalam kategori air yang suci tapi tidak dapat mensucikan yaitu air yang berubah salah satu dari beberapa sifatnya yang disebabkan kecampuran benda-benda suci, sehingga menjadikan hilangnya nama kemuthlaqannya air tersebut. Maka air ini dihukumi sama dengan hukumnya air musta’mal dalam arti ia masih tetap suci, tetapi tidak dapat mensucikan. Perubahan air tadi dapat dibuktikan, baik dengan panca indera/ hanya dengan perkiraan, sebagaimana bila air tersebut kecampuran benda-benda yang kebetulan sifatya sama. Misalnya : kecampuran air mawar yang sudah hilang baunya/ kecampuran air musta’mal.


Nama : Maria Ulfah Afni Rahmawati
NIM : 15.10.971
Mata Kuliah : Fikih I
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, SHI, MH
Semester 2, kelas PAI B

0 komentar: