HAJI

HAJI
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah  Bahasa Indonesia/Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu M. Nasrudin, SHI, MH
Semester I, kelas PAI A



Disusun Oleh :
Eni Novita Lonsiana (15.10.921)
Maskunah Lukluk Iridak Diana (15.10.927)
Miftah Arifin ( 15.10.92)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI ILMU AL-QUR’AN (STIQ) AN NUR
YOGYAKARTA
2015




 BAB I
 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dalam dunia islam pasti tidak asing lagi dengan rukun islam. Rukun islam terbagi menjadi lima, yaitu syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sebagaimana yang ada, orang yang masuk islam berarti telah mengucapkan syahadat. Dan kemudian mengerjakan shalat, dan melaksanakan ibadah puasa wajib maupun sunnah. Kemudian membayar zakat dan haji bagi umat muslim yang mampu.
Pembahasan makalah ini yaitu tentang ibadah haji. Haji adalah suatu ibadah menuju baitullah atau menghadap Allah untuk mengerjakan seluruh rukun dan persyaratan haji yang telah ditentukan oleh syariat islam. Dalam makalah ini akan banyak dibahas rukun-rukun haji dan wajibnya haji. Selain itu juga membahas tentang keharaman ketika ihram dan dam dalam haji.  
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja rukun dalam haji?
2.      Apa saja wajibnya haji selain rukun?
3.      Apakah keharaman ketika ihram?
4.      Apakah yang dimaksud dengan dam?
C.    Tujuan Penulisan
Makalah ini bertujuan untuk membahas dan mengetahui:
ü  Apa saja rukun dalam haji
ü  Apa saja wajibnya haji selain rukun
ü  Keharaman ketika ihram
ü  Apa itu dam

BAB II
HAJI
Makna “Haji” menurut bahasa ialah “menuju”. Sedangkan menurut syara` ialah “menuju tanah Mekkah karena menjalankan ibadah”.[1] Dalam arti lain, haji adalah sengaja mengunjungi Ka`bah atau Baitullah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu, yakni mengerjakan thawaf, sa`i, wukuf di `arafah dan manasik haji lainnya dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.[2]
A.    Rukun Haji
Rukun haji ada empat yaitu:
1.      Ihram Dengan Niat
Ihram adalah berniat memulai mengerjakan haji atau umrah karena semua amal harus diniatkan.[3] Disebut Ihram karena dengan terjadinya niat itu seseorang telah masuk pada keadaan dimana beberapa perbuatan yang sebelumnya diperbolehkan menjadi diharamkan.[4] 
2.      Wukuf di `Arafah
Wuquf adalah kehadiran seseorang jamaah haji dan adanya dia di padang Arafah, baik dalam keaaan suci, haid, nifas, maupun dalam keadaan junub. Wuquf dimulai sejak matahari tergelincir pada hari Arafah, yaitu pada tanggal 11dzulhijjah sampai fajar hari raya Qurban yaitu tanggal 10 dzulhijjah.[5]
3.      Thawaf di Baitullah
Thawaf menurut bahasa berarti berkeliling atau berputar. Dalam konteks haji, thawaf diartikan sebagai salah satu rukun haji yang dilakukan dengan cara berjalan mengitari atau mengelilingi Ka`bah sampai tujuh kali putaran. Dalam pelaksanaannya, thawaf dimulai dari hajar aswad dan posisi Ka`bah selalu berada disebelah kiri yang thawaf.
Thawaf tersebut dilakukan sebanyak tujuh kali putaran; tiga kali putaran pertama berjalan agak cepat dan empat kali putaran berikutnya berjalan secara biasa. Sebisa mungkin pada putaran ketujuh mencium hajar aswad, jika tidak mungkin, cukup menyentuhnya dengan tangan, dan jika tidak cukup memberi isyarat dengan tangan atau tongkat. Selama perjalanan thawaf mengitari Ka`bah hendaklah memperbanyak doa dan dzikir kepada Allah. Setelah thawaf selesai disunatkan melakukan shalat dua raka`at di maqam Ibrahim.[6]    
4.      Sa`i 
Sa`i adalah perjalanan antara shafa dan marwa.[7] Syarat-syarat sa`i yaitu:
a)      Sa`i dilakukan setelah selesai melaksanakan thawaf
b)      Sa`i dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwa
c)      Sa`i dilakukan sebanyak tujuh kali
d)     Seluruh perjalanan sa`i dilakukan secara sempurna
B.     Wajibnya Haji Selain Rukun
Wajib haji selain rukun ada tiga yaitu:
1.      Ihram Mulai Dari Miqat
Melakukan Ihram dari miqat (batas) yang tepat menurut zamani (keadaan) dan makani (tempat). Miqat Zamani ialah dinisbatkan kepada waktu musim haji yakni: bulan Syawwal, Dzulqa`dah dan 10 malam dari bulan DzulhijjaH. Kemudian, Miqat Makani adalah haji bagi orang yang menetap (mukim) di negeri Mekkah, baik dia sebagai penduduk Mekkah atau mengembara, maka miqatnya ialah di lingkungan negeri Mekkah itu sendiri. Dan bagi orang yang bukan berstatus  mukin di negeri Mekkah maka:
a)      Jika orang itu menghadap dari jurusan Madinah, maka miqatnya ialah di Dzulhulaifah
b)      Jika menghadap dari jurusan Syam, Mesir, dan Maghribi, maka miqatnya ialah di desa Juhfah
c)      Jika menghadap dari jurusan Tihamatil Yaman, maka miqatnya ialah Yulamlam
d)     Jika menghadap dari jurusan tanah Najdil Hijaz dan Najdil Yaman, maka miqatnya ialah di Bukit Qarn
e)      Jika menghadap dari jurusan tanah Masyriq, maka miqatnya dari Dzatu `Iraq.[8] 

2.      Melempar Jumrah Tiga Kali
Melempar jumrah yang tiga dengan memulai pada jumrah Ula (kubra), kemudian jumrah Wustha dan lalu jumrah `Aqobah. Hendaknya dalam melempar masing-masing jumrah tersebut dengan menggunakan 7 buah batu krikil, satu demi satu. Disyaratkan benda yang dibuat melempar itu berupa “batu”, tidak boleh lainnya.[9]
3.      Mencukur Rambut Kepala
Mencukur rambut atau menggunting. Adapun yang lebih utama bagi orang laki-laki yaitu mencukur. Sedangkan bagi seorang perempuan dengan menggunting saja. Mencukur rambut paling sedikit 3 helai rambut kepala dengan mencukur gunting, mencabut atau membakar atau juga dengan memotongnya.[10]
C.    Keharaman Ketika Ihram
Adapun perkara-perkara yang haram disebabkan karena Ihram artinya haram bagi orang yang sedang Ihram itu ada 10 perkara:
1.      Memakai pakaian yang dijahit.
2.      Menutup kepala bagi pria dan wajah bagi wanita.
3.      Menyisir rambut.
4.      Memotong rambut.
5.      Memotong kuku.
6.      Memakai wewangian.
7.      Membunuh binatang buruan.
8.      Melakukan akad nikah.
9.      Wathi (bersetubuh).
10.  Bersentuh kulit disertai syahwat.[11]
D.    Dam
Dam ialah denda dengan menyembelih hewan ternak atau seperti memberi makan atau puasa.
Adapun beberapa dam yang wajib ketika Ihram itu ada 5 perkara, yaitu:
1.    Dam wajib sebab meninggalkan perkara yang diperintahkan seperti meninggalkan Ihram dari miqadnya.
2.  Dam wajib sebab mencukur rambut dan bersenang, seperti memakai wangi-wangian, memakai minyak dan mencukur rambut, baik seluruh rambut kepala atau hanya 3 biji saja.
3.   Dam wajib sebab terhalang, maka hendaknya bertahallul-lah orang yang Ihram dengan niat Tahallul disertai tujuan hendak keluar dari ibadahnya disebabkan adanya halangan itu tadi.
4.      Dam wajib sebab membunuh binatang buruan.
5.  Dam wajib sebab wathi, yang dilakukan oleh orang yang sudah berakal, sengaja dan mengetahui haramnya, baik ia lakukan di qubul maupun di dubur.[12]  

BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
Makna “Haji” menurut bahasa ialah “menuju”. Sedangkan menurut syara` ialah “menuju tanah Mekkah karena menjalankan ibadah”. Haji adalah sengaja mengunjungi Ka`bah atau Baitullah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu, yakni mengerjakan thawaf, sa`i, wukuf di `arafah dan manasik haji lainnya dengan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Rukun haji ada empat, yaitu: Ihram dengan Niat, Wuquf di `Arafah, Thawaf di Baitullah, Sa`i. Wajibnya haji selain rukun ada tiga, yaitu: Ihram Mulai dari Miqat, Melempar Jumrah Tiga Kali, Mencukur Rambut Kepala. Adapun perkara-perkara yang haram disebabkan karena Ihram artinya haram bagi orang yang sedang Ihram itu ada 10 perkara, yaitu: Memakai pakaian yang dijahit, Menutup kepala bagi pria dan wajah bagi wanita, Menyisir rambut, Memotong rambut, Memotong kuku, Memakai wewangian, Membunuh binatang buruan, Melakukan akad nikah, Wathi (bersetubuh), Bersentuh kulit disertai syahwat.
Dam ialah denda dengan menyembelih hewan ternak atau seperti memberi makan atau puasa. Adapun beberapa dam yang wajib ketika Ihram itu ada 5 perkara, yaitu: Dam wajib sebab meninggalkan perkara yang diperintahkan seperti meninggalkan Ihram dari miqadnya, Dam wajib sebab mencukur rambut dan bersenang, seperti memakai wangi-wangian, memakai minyak dan mencukur rambut, baik seluruh rambut kepala atau hanya 3 biji saja, Dam wajib sebab terhalang, maka hendaknya bertahallul-lah orang yang Ihram dengan niat Tahallul disertai tujuan hendak keluar dari ibadahnya disebabkan adanya halangan itu tadi, Dam wajib sebab membunuh binatang buruan, Dam wajib sebab wathi, yang dilakukan oleh orang yang sudah berakal, sengaja dan mengetahui haramnya, baik ia lakukan di qubul maupun di dubur.



DAFTAR PUSTAKA

Amar, Imron Abu. 1983. Fathul Qorib. Kudus: MENARA KUDUS
Hamid, Abdul Dan Beni Ahmad Saebani. 2009. Fiqih Ibadah. Bandung: PUSTAKA SETIA.
Ritonga, A. Rahman Dan Zainuddin. 2002. Fiqih Ibadah. Jakarta: GAYA MEDIA PRATAMA.
Husain, Abu Suja` Ahmad Bin. 2000. Ringkasan Fiqih Islam. Surabaya: AL-MIFTAH.


[1] Imron Abu Amar, Fathul Qorib, (Kudus: MENARA KUDUS, 1983), Hlm. 198
[2] Abdul Hamid dan Beni Ahmad Saebani, Fiqih Ibadah, (Bandung: PUSTAKA SETIA, 2009), Hlm. 250
[3] Ibid, Hlm. 250
[4] A. Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqih Ibadah, (Jakarta: GAYA MEDIA PRATAMA, 2002), Hlm 222
[5] Ibid, Hlm 228-229
[6] Ibid, Hlm 224
[7] Abdul Hamid Dan Beni Ahmad Saebani, Op.Cit, Hlm 258
[8] Imron Abu Amar, Op.Cit, Hlm. 203-204
[9] Ibid, Hlm. 204.
[10] Ibid, Hlm. 204-205.
[11] Abu Syuja` Ahmad Bin Husain, Ringkasan Fiqih Islam, (Surabaya: AL-MIFTAH, 2000), Hlm. 62.
[12] Imron Abu Amar, Op.Cit, Hlm. 217-222

5 komentar:

Orang-orang Yang Wajib Dibayarkan Zakatnya Oleh Kepala Keluarga

Nama                           : Isnaini Rofiatul Jannah
NIM                            : 15.10.967
Semester                      : II (dua) PAI B
Mata Kuliah                : FIQIH I
Dosen  Pengampu       : M. Nasrudin. SHI M.H

Orang-orang yang Wajib Dibayarkan Zakat Fitrahnya oleh Kepala Keluarga



Ibadah yang wajib di akhir bulan Ramadhan menjelang hari raya Idul Fitri adalah zakat Fitrah. Zakat adalah mengeluarkan sebagian dari harta dengan cara dan syarat tertentu kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Diantara hikmah disyari`atkannya zakat Fitrah menjelang datangnya hari raya Idul fitri adalah agar dapat berbagi kebahagiaan antara sesama muslim dari kalangan mampu dan tidak mampu.
Dari Ibnu Umar r.a. berkata : "Rasulullah saw.mewajibkan zakat fitrah sejak  bulan Ramadhan satu sha' kurma atau satu sha' gandum kepada hamba dan orang merdeka, laki-laki dan perempuan kecil dan besar dari kaum Muslimin. (Bukhari dan Muslim).
Lalu siapakah yang wajib membayarkan zakat fitrah? Menurut madzhab Hanafi, yang wajib membayarkan zakat fitrah adalah kepala keluarga (suami) yang mempunyai kekuasaan atas istri dan anak-anaknya yang menjadi tanggung jawabnya. Tetapi anak yang sudah dewasa dan mandiri tidak lagi menjadi kewajiban sang ayah untuk membayarkan zakatnya. Demikian pula tidak wajib bagi anak membayarkan zakat fitrah ayah dan ibunya. Walaupun dalam kesehariannya nafkah keduanya menjadi tanggung jawabnya. Dan menurut Madzhab Hambali, Syafi’i, dan Maliki berpendapat bahwa seseorang wajib membayarkan zakat fitrah dirinya sendiri dan orang-orang yang nafkahnya berada dalam tanggung jawabnya. Termask ibu-bapaknya yang menjadi tanggung jawab anak tersebut, maka wajib baginya mengeluarkan zakat untuk keduanya. Namun, semua ulama sepakat, jika seseorang mau membayarkan zakat fitrah orang lain yang diluar tanggung jawabnya, maka sah-sah saja. Artinya diperbolehkan bagi orang yang ingin membayarkan zakat orang lain.
Dan dalam kitab Fath Al-Qarib halaman 258 mengatakan bahwa orang muslim wajib menzakati orang yang dinafkahi pada malam Idul Fitri. Sehingga tidak wajib bagi seorang muslim menzakati budak, kerabat atau isterinya yang kafir.
Dan yang ditunaikan adalah satu sha’ dari mkanan pokok kotanya. Jika makanan pokok beragam, maka dipilih yang paling domonan. Jika tidak ada yang menjadi makanan pokok, menggunakan makanan pokok kota sebelahnya. Orang yang tidak mampu menunaikan zakat satu sha’ namun ia mampu menunaikan separuhnya maka ia wajib menunaikanya. Ukuran satu sha’ adalah liam ritel iraq 1/3.
Zakat fitrah menurut mayoritas ulama selain Hanafiyah, wajib bagi mereka yang menyaksikan terbenamnya matahari di hari akhir Ramadhan. Oleh karena itu wajib zakat bagi orang yang meninggal setelah tenggelamnya matahari dan tidak wajib bagi orang yang lahir setelah tenggelam. Sedangkan menurut ulama hanafiyah zakat fitrah ini wajib dikeluarkan karena menyaksikan terbitnya fajar tanggal 1 syawal.
Mengenai kapan mulai dan akhir pembayaran, para ulama berbeda pendapat:
1.      Menurut Hanafiyah: tidak ada batas awal dan akhir. Boleh dibayarkan sebelum hari raya (1 syawal), bahkan sebelum masuk Ramadhan. Juga harus tetap membayar zakat fitrah ini meski terlambat sampai lewat tanggal 1 syawal.
2.      Menurut Malikiyah: sejak dua hari sebelum hari raya sampai paling lambat terbenamnya matahari tanggal 1 syawal. Namun, jika sampai lewat tanggal akhir belum mengeluarkan zakatnya, ia tetap berkewajiban membayarnya. Dengan catatan, jika ia mampu (karena telah memenuhi syarat wajib) tapi mengakhirkannya sampai lewat hari raya, maka ia berdosa.
3.      Menurut Syafi’iyah: sejak hari pertama Ramadhan sampai tenggelamnya matahari 1 syawal. Namun utamanya adalah sebelum shalat ‘id. Lebih dari itu, jika memang ia mampu dan tidak ada udzur ia berdosa dan tetap harus membayar. Namun, jika ada udzur seperti ia kehilangan hartanya, maka tidak apa-apa, tetapi ia tetap harus membayarnya.
4.      Menuru Hambali: awal pembayaran zakat fitrah sama dengan madzhab Maliki, yaitu dua hari sebelum hari ‘id. Sedangkan hari terakhirnya sama dengan Syafi’i, yaitu sampai terbenamnya matahari 1 syawal.





e-mail: isnaini.rovie@gmail.com

0 komentar: