Sepuluh Syarat Sah Kutbah Jum'at








Sebelum melaksanakan shalat jum’at harus khutbah terlebih dahulu, orang yang berkhutbah disebut khatib. Dalam khutbah jum’at terdapat beberapa syarat yang harus dilaksanakan agar khutbah jum’at sah, diantaranya yaitu:


1. Khatib adalah Seorang Laki-Laki

Dalam melaksanakan khutbah jum’at, seorang khatib atau orang yang berkhutbah harus laki-laki, karena syarat-syarat wajib dalam melaksanakan shalat jum’at salah satunya adalah laki-laki dan shalat jum’at wajib bagi laki-laki. Hal ini sesuai dengan ketentuan hadits nabi SAW:


الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة الا اربعة عبد مملوك او امراة او صبي او مريض


Artinya: “ Jum’at adalah hak wajib bagi semua orang islam dalam satu jama’ah, kecuali 4 orang: budak, wanita, anak-anak dan orang sakit”. (HR. Abu Daud)


2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil


Seorang khatib sebelum melaksanakan khutbah hendaknya bersuci terlebih dahulu, baik dari hadats besar maupun hadats kecil, seperti melakukan sunnah-sunnah hai’at jum’at.


3. Suci dari Najis, Baik Badan, Pakaian maupun Tempat


Seorang khatib sebelum melaksanakan khutbah jum’at juga harus suci dari najis, baik badan, pakaian maupun tempat, jadi khatib sebaiknya melaksanakan sunnah-sunnah hai’at. Sebelum melaksanakan jum’atan maka tempat yang digunakan (masjid) harus dibersihkan dahulu dari najis atau hanya sekedar disapu dan dirapikan.


4. Menutup Aurat


Karena seorang khatib adalah laki-laki, maka aurat yang harus ditutupinya yaitu antara pusar sampai lutut, tapi dalam berkhutbah sebaiknya memakai pakaian yang sopan sesuai ‘urf / adat daerahnya, misalnya jika di Indonesia biasanya memakai baju koko, sarung dan peci hitam.


5. Berdiri bagi Khatib yang Mampu


Syarat ini sesuai dengan hadits nabi SAW:


كان النبي صلى الله عليه وسلم يخطب قائما ثم يقعد ثم يقوم كما تفعلون الان


Artinya: “ Nabi SAW, berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri, seperti yang kalian lakukan sekarang”.(HR. Bukhari Muslim).


Ketika seorang khatib tidak mampu berdiri, maka boleh duduk dan jika tidak mampu duduk, maka boleh dengan tidur miring.


6. Duduk diantara 2 Khutbah


Duduk diantara dua khutbah ini dimaksudkan untuk memisah antara khutbah pertama dengan khutbah kedua, jika khutbah dilakukan dengan berdiri. Apabila khatib berkhutbah dengan duduk maka untuk memisah khutbah pertama dan kedua dengan diam sejenak.


7. Dua Khutbah dan Shalat harus Tartib


Maksud dari syarat ini yaitu antara khutbah dan shalat tidak boleh dipisah dengan apa pun, ketika selesai khutbah maka langsung shalat Jum’at dilaksanakan.


8. Kedua Khutbah yang menjadi Rukun Menggunakan Bahasa Arab


Dalam melaksanakan khutbah jum’at seorang khatib harus menggunakan bahasa Arab dalam melaksanakan rukun khutbah jum’at, tapi ketika menjelaskan isi khutbah Jum’at, boleh menggunakan bahasa daerah, sesuai kesanggupan khatib.


9. Khutbah dapat didengar oleh Ahli Jum’at yang 40 Orang


Khatib ketika berkhutbah harus didengar ahli jum’at yang 40 orang (mukim), dengan kecanggihan zaman sekarang adanya mic dan sound, khatib tidak perlu meninggikan suara, cukup dengan menggunakan mic dan sound, khutbah dapat terdengar oleh seluruh ahli jama’ah jum’at.


10. Kedua Khutbah dan Shalat Jum’at dilaksanakan pada Waktu Dzuhur


Waktu pelaksanaan khutbah jum’at dan shalat jum’at yaitu ketika masuk waktu dzuhur di hari jum’at. Syarat yang kesepuluh ini sesuai dengan hadits nabi, dari Sa’ad ra.:


ما كنا نقيل ولا نتغدى الا بعد الجمعة


Artinya: “kami tidak berqailullah (tidur siang) dan juga tidak makan siang kecuali setelah shalat jum’at”. ( HR. Bukhari Muslim).





(Referensi buku: Menapak Hidup Baru, karya: KH. M. Yusuf Chudlori, Surabaya: Khalista, 2007 dan Dalil Taqrib)

0 komentar:

Hukum Bacaan Muadzin (Bilal) dalam Khutbah Salat Jumat







Hukum Bacaan Muadzin (Bilal) Sebelum Khatib Naik ke Mimbar dan di Antara Dua Khutbah


Ada beberapa shalat yang menggunakan khutbah, berbeda dengan shalat maktubah (wajib) pada umumnya, salah satunya shalat Jum’at. Dalam khutbah tersebut biasanya Muadzin (orang yang adzan atau disebut juga bilal) membaca bacaan sebelum Khatib (orang yang menyampaikan khutbah) naik ke mimbar serta di antara 2 khutbah. Bacaannya adalah sebagai berikut:


مَعَاشِرَ الُمسْلِمِين وَزُمْرَةَ المُؤْمِنِينَ رَحِمكُمُ اللَه رُوِيَ عَنُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْه أَنَّهُ قَال قَالَ رَسُولُ اللِه صَلّيَ اللهَ عَلَيهِ وَسَلَم إذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الُجمعَةِ أَنْصِتْ وَالإمَامُ يَخطُبُ فَقَدْ لَغَوت (أَنْصِتُوْا وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا رَحِمَكُمُ الله ,أَنْصِتُوا وَاسْمعُوا وَأطِيْعُوْا لَعَلَكُمْ تُرْحمَون


Bacaan seperti itu lazim dibacakan ketika seorang Khatib hendak naik ke mimbar, terutama dalam khutbah shalat Jumat. Memang hal ini termasuk bid’ah karena tidak ada pada masa Rasulullah SAW dan tidak ada dalil tentang hal tersebut. Namun bid’ah ini tergolong bid’ah hasanah (bid’ah baik atau boleh dilakukan) karena dibaca sebelum Khatib naik ke mimbar. Yang tidak diperbolehkan adalah bacaan ini dibaca ketika Khatib sedang berkhutbah, hal ini berdasarkan hadis Nabi SAW:


إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ


“Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khotib sedang berkhotbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.”(HR. Bukhari no. 934 dan Muslim no. 851).


Bacaan tersebut makruh dibacakan dihadapan Khatib atau ketika Khatib sedang berkhutbah, hal ini berdasarkan pendapat al-Jhuury, “Karena yang demikian tidak pernah dinuqil dari nabi dan seorang sahabatpun dari sahabat-sahabat beliau, yang demikian adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang Syam”. Pendapat lain menyatakan bahwa menghukuminya makruh perlu dikaji ulang karena yang dilakukan Muadzin tersebut adalah bentuk peringatan untuk tidak mengerjakan hal-hal yang diharamkan saat khutbah berlangsung, kiranya dapat tergolong bid’ah hasanah. Hal ini berdasarkan Al Fawakih ad Diwani III/190.


Untuk bacaan Muadzin saat Khatib duduk di antara dua khutbah bisa dengan shalawat sebagaimana biasa dilakukan, tasbih, tahlil, ataupun istighfar. Hal ini diperbolehkan menurut Imam Syafi’i dengan catatan tidak berlebihan dengan mengeraskan suara atau secara sirr (pelan) dan sebaiknya tidak terdengar oleh orang yang berada di sampingnya. Menurut Imam Abu Hanifah hal ini hukumnya makruh mendekati haram, baik itu hanya sekedar membaca do’a atau shalawat kepada Nabi, ataupun percakapan tentang urusan dunia. Sedangkan menurut Imam Maliki hal ini tidak diperbolehkan sama sekali.

0 komentar:

Makna dan Batasan Tempat Suci untuk Salat










وأما المكان فليكن كل ما يماس بدنه طاهرا (ح) وما لا يماس فلا بأس بنجاسته الا ما يحاذي صدره في السجود ففيه وجهان لانه كالمنسوب إليه) * يجب أن يكون ما يلاقى بدن المصلي وثيابه من موضع الصلاة طاهرا خلافا لابي حنيفة حيث قال لا يشترط الا طهارة موضع القدمين وفي رواية طهارة موضع القدمين والجبهة ولا يضر نجاسة ما عداه الا أن يتحرك بحركته …. ولو صلي علي بساط تحته نجاسة أو على طرف آخر منه نجاسة أو على سرير قوائمه على نجاسة لم يضر خلافا لابي حنيفة حيث قال ان كان يتحرك ذلك الموضع بحركته لم يجز


Yang dimaksud suci tempat shalatnya adalah setiap tempat yang bersentuhan dengan badan (juga pakaian) orang shalat, sedang yang tidak bersentuhan tidak bahaya najisnya kecuali tempat yang sejajar dengan dadanya saat sujud yang dalam masalah ini terdapat dua pendapat (yang salah satu pendapatnya menyatakan sujudnya tidak sah) karena tempat tersebut dinisbatkan juga area shalatnya.



Diwajibkan setiap tempat yang bertemu dengan badan, pakaiannya dalam keadaan suci. Berbeda menurut pendapat Abu Hanifah yang hanya mewajibkan sucinya tempat kedua telapak kakinya meski dalam riwayat lain beliau juga menyaratkan sucinya tempat kedua telapak kakinya dan dahinya dan tidak bahaya najis diselain tempat tersebut kecuali tempat tersebut ikut bergerak saat ia bergerak dalam shalatnya…



Bila seseorang shalat sedang dibawah permadaninya, atau ujung tempat lainnya, atau shalat diatas ranjang yang tiang-tiangnya terdapat najis maka tidak bahaya berbeda dengan pendapat Abu Hanifah bila tempat tersebut ikut bergerak saat ia bergerak dalam shalatnya maka tidak boleh. [ Syarh al-Wajiiz IV/34 ].



TEMPAT YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH DIGUNAKAN UNTUK SOLAT


dari Abi Said Al-Khudri radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:


الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاًّ لْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ


“Tanah semuanya adalah masjid melainkan kuburan dan tempat kamar mandi (WC).”


Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Sanadnya bagus’, Iqtidha As-Shiratal Mustaqim, hal. 332.


Imam Syafi’i berkata:


Tidak boleh seseorang mengerjakan sholat di atas bumi yg terdapat najis, misalnya kuburan, karena pada kuburan itu bercampur antara daging bangkai serta darah atau apapun yang keluar dari jasad orang yang meninggal. Sementara kamar mandi adalah tempat kotoran dimana air kencing mengalir, juga darah serta najis-najis lain.




Imam Syafii berkata:



Adapun padang pasir (tempat yg luas yg tidak pernah dikuburkan sesuatu padanya) apabila suatu kaum menguburkan seseorang yg meninggal dunia akan tetapi kuburan itu tidak di apa apakan, kemudian seseorang sholat disamping kuburan atau di atasnya, maka saya memandang makruh hal itu. Namun saya tidak menyurunya untuk mengulangi sholatnya, karena dapat diketahui bahwa tanah itu suci dan tidak bercampur dengan sesuatu.


Demikian juga apabila dikuburkan padanya dua mayat atau lebih, dan orang yg sholat tidak mengetahui dg jelas keadaan kuburan itu, maka ia tidak boleh mengerjakan sholat diatas kuburan itu sampai ia yakin bahwa tempat itu bukan kuburan.

Yang membuat tanah menjadi najis adalah dua perkara:

Pertama, sesuatu yang tidak bisa dibedakan sedikitpun apabila bercampur dengan tanah. Kedua, sesuatu yang dapat dibedakan apabila brcampur dengan tanah.

Yang tidak bercampur dgn tanah dan tidak berbeda dengan tanah, itu berbeda hukumnya. Apabila diketahui dg pasti bahwa itu berbentuk tubuh manusia ug bercampur de tanah seperti bangkai, mayat, tulang belulang, urat-urat, walaupun ia tidak berwujud lagi dikarenakan sudah lama bercampur dengan tanah, maka ia tidak suci walaupun air telah dituangkan padanya.

Demikian juga halnya dengan darah, jamban, serta yg semakna dengannya, dimana kalau berdiri sendiri ia adalah bentuk yang berdiri sendiri. Sesuatu yg seperti air, apabila bercampur dengan tanah, maka ia atau bumi akan menghisapnya, misalnya seperti air kencing, khamer (arak), dan lainnya.


Ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,


أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلي في سبع مواطن: المزبلة، والمجزرة، والمقبرة، وقارعة الطريق، والحمام، ومعاطن الإبل، وفوق ظهر بيت الله تعالى


Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) ka’bah.


Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara’, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas ka’bah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,


وقيل المقبرة والمجزرة والمزبلة والحمام للنجاسة، وقارعة الطريق قيل لأن فيه حقا للغير فلا تصح الصلاة فيها واسعة كانت أو ضيقة لعموم النهي، ومواطن الإبل بأنها مأوى الشياطين، وفوق ظهر بيت الله فإنه إذا لم يستقبل بطلت الصلاة لعدم الشرط لا لكونها على ظهر الكعبة


Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas ka’bah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.






0 komentar:

Perbedaan Salat Gerhana Matahari dan Bulan






Salat gerhana terbagi menjadi dua yaitu salat gerhana matahari dan bulan. Keduanya memiliki waktu yang berbeda yakni salat gerhana matahari dilaksanakan ketika gerhana matahari muncul dimana ada peristiwa sinar matahari menghilang baik secara total maupun sebagian pada siang hari karena terhalang oleh bulan yang melintas antara bumi dan matahari. Sedangkan salat gerhana bulan dilaksanakan ketika gerhana bulan muncul, sehingga pada saat itu akan terlihat peristiwa cahaya bulan menghilang baik sebagian atau total pada malam hari karena terhalang oleh bayangan bumi karena posisi bulan yang berada dibalik bumi dan matahari.


Kedua salat ini hukumnya sunnah muakad yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dan mendekati wajib. Menurut buku terjemah Fath Al-Qarib yang disususn oleh tim penyusun ANFA 2015, lirboyo dan kumpulan dzikir dan doa Kafa Bihi yang disusun oleh Taufik dkk, PonPes An-Nur bahwa tata cara dalam shalat gerhana ini sama yaitu: Takbirotul ihrom bersamaan dengan niat, membaca alfatihah, ruku, berdiri kembali membaca alfatihah, ruku, i’tidal dan diteruskan sujud dua kali seperti biasa, ini terhitung satu rokaat, untuk rokaat kedua seperti rokaat pertama.


Adapun niat shalat gerhana matahari:


أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ ِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى


Niat gerhana bulan:


أُصَلِّيْ سُنَّةً لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى


Waktu melaksanakn shalat gerhana matahari dan bulan yaitu sejak terbentangnya gerhana hingga gerhana berakhir atau kembali seperti semula lebih jelasnya kesempatan shalat gerhana matahari akan hilang karena matahari telah pulih. Begitupun gerhana bulan akan gugur shalatnya ketika bulan kembali bersinar dan keluarnya matahari tidak bersamaan saat waktu keluarnya fajar dan tenggelamnya bulan.


Shalat gerhana dianjurkan untuk berjamaah dan diperbolehkan melaksanakan sendiri karena berjamaah bukan merupakan syarat. Ketika dilaksanakannya jama’ah salat gerhana terdapat dua kali khutbah (menurut imam Syafi’i) sama seperti khutbahnya salat Idul Fitri, Idul Adha, dan salat Jum’at. Dalam salat ini terdapat pebedaan dalam hal pengerasan suara (menurut Imam Syafi’i, Imam Malik, Imam Abu hanifah, Al- Laits bin said dan mayoritas ulama) bahwa untuk salat gerhan matahari bacaannya dibaca dengan suara pelan (sirr) dan gerhana bulan bacaanya dengan suara keras (jahr).


Munculnya gerhana bulan dan matahari merupakan tanda kebesaran Allah, sehinngga kita diperintahkan untuk banyak bertobat setelah melaksanakan shalat tersebut. Allah SWT berfirman:


وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Jangan kalian bersujud pada matahari dan jangan (pula) pada bulan, tetapi bersujudlah kalian kepada Allah yang menciptakan semua itu, jika kamu hanya menyembah-Nya,” (QS Fushilat [41]: 37).


Dan dipertegas dalam hadits nabi:


إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَكْسِفَانِ لِمَوْتِ اَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا وَصَلُّوا

“Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian,” (HR Bukhari-Muslim).

0 komentar:

Dua Adzan dalam Shalat Jum’at















Adzan merupakan panggilan atau tandabawa sudah masukya waktu untuk melakukan ibadah shalat. Hukum mengumandangkan adzan adalah sunnah. Berbeda dengan adzan shalat fardhu biasa, adzan shalat jum’at dilakukan dua kali.

Tujuan dari adanya adzan dua kali pada shalat jum’at adalah untuk memanggil(mengingatkan) bagi kaum laki-laki untuk melakukan shalat jum’at secara berjamaah. Adzan pertama dikumandangkan sebelum khatib naik keatas mimbar. Sedangkan adzan kedua dikumanangkan ketika khatib naik keatas mimbar.

Adzan dua kali ini tidak serta merta dikumandangkan berturut-turut. Melainkan dilakukan dengan jeda waktu. Tujuannya agar para jamaah bisa melakukan shalat sunnah. Hal ni sama dengan adzan yang dikumandangkan pada waktu subuh dilakukan pertama yakni sebelum munculnya fajar. Dan adzan kedua dilakukan(dikumandangkan) setelah fajar muncul.

Adzan yang dilakukan dua kali belum ada pada zaman Nabi Muhammad SAW, sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Tetapi pada zaman Utsman bin Affan-lah dua adzan mulai dikumandangkan. Apa yang dilakukan oleh sahabat Utsman tidak ditentang oleh sahabat-sahabat yang lain. Jadi adzan dua kali memiliki landasan yang kuat. Karena ini merupakan berasal dari sahabat Nabi Muhammah SAW.


Hukum adzan dua kali pada waktu shalat jum’at adalah sunnah. Apabila yang pertama lupa tidak dikumandangkan maka tidak membatalkan shalat jum’at. Tetapi, lebih utama kumandang adzan yang kedua. Karena adzan yang kedua menunjukkan bahwa sudah masuknya waktu untuk melakukan ibadah shalat jum’at.


Nama : Dewi Khannah
NIM :15.10.960
Mata Kuliah : Fiqih I
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, SHI, MH
Semester 2, kelas PAI B

0 komentar:

Prinsip dan Dasar dalam Shalat Berjamaah





Shalat berjamaah merupakan shalat yang dilakukan bersama-sama, minimal dilakukan oleh dua orang. Salah satunya harus mau menjadi seorang imam(yang memimpin shalat dan harus diikuti oleh orang yang jedua sebagai makmum). Adapun hukum melakukan shalat berjamaah adalah wajib bagi seorang laki-laki yang melakukan shalat jum’at. Selain itu hukum asal dari shalat berjamaah adalah sunnah.


Keutamaan shalat berjamaah adalah berlipat gandanya pahala yang didapat oleh orang yang melakukan shalat berjamaah. Shalat berjamaah juga sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW yang artinya,”Barang siapa yang melakukan shalat berjamaah selama 40 hari dan tidak tertinggal Takbiratul Ihram imam maka Allah menulis kepadanya dua kebebasan yaitu kebebasan dari api neraka dan terbebas dari nifak(menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran).”


Nabi Muhammad juga bersabda yang artinya,”Setelah aku meninggal maka ikutilah kedua sahabatku ini (menunjuk Abu Bakar dan Umar bin Khattab).” Jadi seorang haruslah mengikuti imam baik secara dhohir maupun batinnya. Apabila seorang makmum tdak mengikuti imam maka ia telah ingkar tehadap imam(walaupun hanya secara batin).


Selain dua hadis diatas, ada juga seorang sahabat yang pernah mendengarkan nabi bersabda, yang artinya,”Tidak sah shalat yang dilakukan seseorang kecuali hatinya bisa khudhur dan khusyu’.” Hadis ini itujukan Nabi SAW kepda orang yang melakukan shalat sendiri(munfarid). Karena ketika seseorang melakukan shalat sendiri itu pahala yang didapat hanya satu dan bisa hilang jika ia shalatnya tidak khusyu’. Tetapi jika ia shalat berjamaah maka pahala yang berlipat ganda itu bisa menutupi kekurangan dari shalat yang dilakukan.


Ada salah satu pendapat ulama yang membolehkanshalat berjamaah tetapi berbeda niat dengan imam. Dengan niat imam itu untuk menolong (i’anah) agar seseorang mendapat kan pahala jamaah.



Nama : Dewi Khannah
NIM :15.10.960
Mata Kuliah : Fiqih I
Dosen Pengampu : M. Nasrudin, SHI, MH
Semester 2, kelas PAI B

0 komentar:

Mengapa Sunah Ab'ad dan Sunah Hai'at Berbeda?




























Ulama madzhab Syafi’I mengemukakan bahwa sunah shalat dibagi dua, yaitu yang berbentuk al Ab’ad atau sunah menyangkut bagian dari shalat, seperti tasyahud awal, membaca shalawat atas Nabi SAW setelah tasyahud awal, doa qunut, dst. Sunah Ab’ad adalah sunah shalat yang apabila ditinggalkan diwajibkan sujud syahwi. Sedangkan Hai’at atau sunah yang lebih pada gerakan shalat, seperti mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, mengangkat kedua tangan saat ruku’ dan bangkit darinya, membaca doa iftitah setelah takbiratul ihram, dst. Sunah Hai’at apabila ditinggalkan tidak perlu dilakukan sujud syahwi.


Sunah Ab’ad termasuk ritual yang khusus dalam shalat. Dinamakan sunah Ab’ad karena kuatnya kedudukan sunah tersebut sehingga perlu diganti dengan sujud syahwi apabila ditinggalkannya. Jika sunah Ab’ad tertinggal dan terlanjur mengerjakan rukun, maka tidak boleh mengulang sunah tersebut, tetapi sebelum salam sunah sujud syahwi. Dalam sunah Ab’ad meninggalkan perkara fardhu tidak bisa digantikan dengan sujud syahwi, tetapi jika ingat meninggalkannya saat masih shalat, maka langsung mengerjakannya. Dan jika ingatnya setelah salam dalam waktu yang dekat, maka langsung melaksanakan fardhu tersebut dan melanjutkan shalatnya serta sunah sujud syahwi. Tetapi jika meninggalkan perkara sunah, maka tidak boleh kembali untuk mengerjakannya setelah memulai perkara fardhu, akan tetapi sunah sujud syahwi, seperti meninggalkan tasyahud awal, lalu ingat setelah tegak berdiri, maka tidak boleh kembali tasyahud, karena hal itu akan menambahkan duduk secara sadar dan sengaja dan menjadikan shalatnya batal jika dikerjakan. Namun jika menjadi makmum, maka harus kembali mengikuti imam, karena mengikuti imam lebih kuat dari pada melakukan rukun.


Sunah Hai’at tidaklah harus mengulangnya dan tidak pula mengganti dengan sujud syahwi, baik sengaja meninggalkannya maupun lupa. Apabila ragu mengenai jumlah rakaat yang telah dikerjakan, seperti 3 atau 4 rakaat, maka melanjutkannya atas dasar keyakinan, yaitu meyakini yang paling sedikit, seperti 3 rakaat (dalam contoh diatas) dan menambahi satu rakaat kemudin sujud syahwi. Tidak berguna jika seseorang tersebut meyakini yang 4 rakaat, serta tidak diperbolehkan mengikuti ucapan orang lain bahwa ia telah shalat 4 rakaat. Penjelasan tersebut juga tercantum dalam kitab Fathul Qarib, Hadits Riwayat Muslim:

اِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِكُمْ صَلَّى اَثْلاَثًا اَمْ اَرْبَعًا فَلْيَطْرَحِ الشَكِّ وَلْيَبْنِ عَلىَ مَا ا سْتَقيْزَثُمَّ يَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ قبْلَ اَنيُسَلِّمُ فَإِنْ كان صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلاَتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى اتْمَامًا ِلأَرْبَعٍ كانت_كَانَتَا تَرْغِيْمًا لِلشَّيْطَانِ


Terjemahan:”Apabila seseorang diantara kalian ragu-ragu dalam shalatnya, sehingga tidak mengetahui ia shalat berapa rakaat, tiga atau empat rakaat, maka hendaknya ia tinggalkan keragu-raguan dan melanjutkan atas hal yang meyakinkan, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Apabila ia shalat lima rakaat, maka dua sujud itu menggenapkan shalatnya, dan jika ia shalat sempurna empat rakaat, maka dua sujud itu merupakan penghinaan terhadap setan”.

Dari penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, sunah Ab’ad dan sunah Hai’at berbeda, karena sunah Ab’ad lebih kuat kedudukannya dalam bagian shalat, sehingga sunah Ab’ad mempunyai kesunahan yang dapat diganti dengan sujud syahwi apabila ditinggalkan. Sedangkan sunah Hai’at lebih pada gerakan shalat yang kesunahannya tidak dapat diganti dengan sujud syahwi apabila ditinggalkannya.

0 komentar:

Hukum Perempuan Melaksanakan Salat Jum'at





Apasih hukumnya bagi seorang perempuan melaksanakan salat jum’at?


Syarat wajib salat jum’at itu harus Islam, baligh, berakal, merdeka, laki-laki, sehat dan mukim.[1] Jadi bagi seorang laki-laki dia berwajiban untuk melaksanakan salat Jum’at. Hukum melaksanakan shalat jum’at bagi laki-laki adalah fardlu ‘ain. Artinya Fardu ‘Ain disini adalah wajib untuk dikerjakan. Jika ditinggalkan tanpa alasan akan berdosa. Tetapi kalau dalam keadaan yang darurat dan tanpa sengaja atau dia meninggalkannya, maka dia wajib menggantinya dengan salat Dhuhur seperti biasa. Sedangkan bagi seorang perempuan dia tidak memiliki kewajiban untuk melaksanakan salat Jum’at. Artinya hukum melaksanakan salat jum’at bagi seorang perempuan adalah tidak wajib. Tetapi jika seorang perempuan tadi ikut melaksanakan salat Jum’at, maka sah-sah saja. Tidak apa-apa. maksud sah di sini adalah boleh tanpa mengulangi salat Dhuhurnya di rumah. Karena salat Jum’atnya tadi sudah sah. Tetapi jika dia mau melakukan salat Dhuhur di rumah setelah pulang, ya tidak apa-apa. Itu lebih baik.


Mengenai perempuan ikut melaksanakan salat Jum’at di masjid bersama dengan jama’ah leki-laki yang lain, yang dikhawatirkan atau ditakutkan itu jika seorang perempuan tadi malah menimbulkan syahwat terhadap kaum laki-laki yang ada di tempat itu. Itu yang dikhawatirkan. Karena apa?


Karenakan banyak lelaki di masjid itu. Jadi ya takutnya perempuan tadi dapat menimbulkan syahwat mereka. Meskipun yang salat tadi seorang perempuan tua. Tetapi jika dia dapat menimbulkan syahwat seorang laki-laki yang ada di sana, misalnya ada seorang laki-laki yang melihatnya dan timbul rasa suka kepadanya, berartikan itu sudah menimbulkan syahwat. Maka itu tidak diperbolehkan. Dan salatnya perempuan tadi tidak sah. Dan alangkah baiknya, seorang perempuan tidak melakukannya. Jika memang dapat menimbulkan syahwat lelaki yang bukan muhrimnya.


Jika seorang perempuan ingin melaksanakan salat, maka alangkah lebih baiknya dan lebih diutamakannya untuk melaksanakan salat di dalam kamarnya di rumahnya sendiri. Itu lebih baik. Karena jika memang keluarnya dia untuk salat bisa menimbulkan syahwat kaum lelaki yang bukan muhrimnya, maka itu tidak diperbolehkan. Dan alangkah baiknya perempuan tadi melakukan salat di dalam rumahnya.


Di dalam kitab Fathul Mu’in juga dijelaskan bahwasannya shalat jum’at itu wajib dikerjakan oleh setiap orang mukallaf, dengan syarat orang itu baligh yang juga berakal sehat, seorang laki-laki dan bukan budak. Sedangkan bagi seorang perempuan atau banci atau budak, maka dia tidak wajib melaksanakan shalat jum’at karena mereka kekurangan persyaratan.[2] Tetapi bukan berarti seorang perempuan atau banci atau budak tidak boleh melaksanakan shalat jum’at. Bukan begitu. Melainkan jika mereka mau melaksanakan shalat jum’at juga sah-sah saja diperbolehkan karena hukumnya tidak wajib. Dan setelah selesai shalat jum’at tidak harus melakukan shalat Dhuhur lagi. Tetapi jika memang mau mengulangi lagi shalat Dhuhur di rumah juga diperbolehkan. Itu malah lebih baik.


Kemudian bagaimana hukumnya jika ada beberapa perempuan ikut melaksanakan shalat jum’at di sebuah masjid. Karena pada waktu itu mereka mengikuti sebuah lomba dan hari itu tepat hari jum’at. Jadi mereka menganggap lebih baik shalat berbarengan saja daripada nanti takutnya malah jadi terburu-buru. Sehingga mereka mengikuti shalat jum’at dari awal sampai selesai shalat jum’atnya. Mereka tidak mengetahui bagaimana hukumnya. Apakah shalat yang mereka kerjakan itu sah? Atau justru tidak sah? Atau akan dimakfuw? Atau malah perempuan-perempuan tadi harus mengulangi lagi shalatnya dengan shalat Dhuhur?


Kalau kita ambil patokan mengenai segala sesuatu yang kita tidak tahu bagaimana hukumnya, maka hal itu akan dimakfuw. Jadi kalau kita tidak mengetahui bagaimana hukumnya jika perempuan melaksanakan shalat jum’at, maka akan dimakfuw (diampuni). Karenakan kita tidak tahu hukumnya.


Di dalam kitab ini tadi juga sudah dijelaskan bahwasanya hukum melaksanakan shalat jum’at bagi perempuan adalah tidak wajib. Artinya mereka boleh melakukannya. Bahkan kalau mereka sudah melaksanakan shalat jum’at, maka mereka tidak perlu malaksanakan shalat Dhuhur lagi. Karena shalat jum’at yang mereka lakukan tadi sudah sah. Sehingga mereka tidak harus melakukan shalat dhuhur lagi setelahnya. Tetapi jikalau mereka mau melaksanakan shalat Dhuhur kembali juga diperbolehkan.





[1]Tim Pembukuan ANFA’ 2015, Menyingkap Sejuta Permasalahan dalam FATH AL-QARIB, (Kediri: Anfa’ Press, 2015), hlm. 190.
[2]Aliy As’ad, Terjemahan Fathul Mu’in, (Kudus: MENARA KUDUS, 1980), hlm. 312.



Nama : Khasna Usti Fadah
Kelas : Semester 2 PAI B
NIM : 15.10.969

0 komentar:

Ketentuan Makmum Masbuq dalam Salat Jumat







Salat Jum’at merupakan salat yang hukumnya diwajibkan khusus bagi muslim laki-laki. Salat ini minimal terdapat 40 orang mukim dalam suatu masjid. Adapun jumlah masjid dalam satu desa hanya boleh mendirikan satu bangunan saja. Hal ini terkadang menjadi kendala bagi orang-orang yang jauh rumahnya dari masjid. Sehingga orang-orang tersebut salat Jum’at dalam keadaan masbuq. Banyak orang yang salah pemahaman ketika salat Jum’at menjadi makmum masbuq.


Sebelum lebih lanjut, kita harus membedakan antara orang mukim, musafir, dan muastawthin. Pertama, orang mukim ialah sebutan bagi orang yang menetap dalam kadar waktu minimal empat hari atau bahkan telah menetap bertahun-tahun dalam suatu wilayah. Bisa disebut orang mukim jika ia mempunyai niat untuk kembali ke tanah kelahirannya. Orang-orang mukim ini wajib melakukan salat Jum’at.


Kedua, musafir merupakan orang yang bepergian dan tidak ada tujuan untuk menetap dalam suatu wilayah. Orang musafir tidak diwajibkan untuk melakukan salat Jum’at. Namun, orang musafir ini sah-sah saja jika ia melakukan salat Jum’at dengan penduduk setempat. Ketiga, mustawthin adalah sebutan bagi orang yang bertempat di tanah kelahirannya atau transmigrasi di tempat lain namun tidak ada niat untuk kembali ke tanah kelahiran. Sehingga mustawthin ini wajib salat Jum’at dan bahkan ia mengesahkan hitungan 40 orang dalam satu masjid.


Adapun ketentuan makmum masbuq dalam salat Jum’at minimal harus mengikuti rukuk raka’at kedua dalam salat Jum’at tersebut. Hal demikian maka makmum hanya cukup menambah satu raka’at saja. Makmum tersebut juga masih dianggap salat Jum’at. Jika makmum tertinggal imam belum sampai satu raka’at maka hukumnya sama sebagai mana salat wajib. Contoh ketika imam sudah pada posisi rukuk dalam raka’at pertama. Maka makmum boleh langsung mengikuti rukuknya imam. Pendapat ini juga diikuti mayoritas para Ulama khususnya Ulama pengikut Imam Syafi’i.


Disisi lain ternyata ada makmum yang masbuq sampai dua raka’at. Dapat pula dikatakan bahwa makmum tersebut tidak mendapatkan rukuk kedua. Sebab jika tidak menjumpai rukuk tumakninahnya imam maka sudah dianggap masbuq satu raka’at. Makmum masbuq yang tidak mendapatkan rukuk kedua ini tetap boleh ikut berjamaah. Akan tetapi makmum tersebut harus menggenapkan bilangan raka’atnya sebanyak salat dzuhur. Boleh pula ia menggunakan niat salat Jum’at. Hal ini merupakan qoul al ashah atau pendapat yang masyhur.


Terkadang ada seorang yang datang terlambat dan tertingal satu raka’at lalu setelah imam salam orang tersebut meneruskan satu raka’atnya. Kemudian tiba-tiba ada orang lain yang masih terlambat langsung menyusul atau bermakmum dengan orang yang sedang melengkapi raka’at tadi. Maka orang kedua yang terlambat dan bermakmum dengan orang pertama yang masbuq hukumnya sah salat Jum’atnya. Akan tetapi jika orang pertama tadi salat Jum’atnya tidak sah maka orang kedua yang masbuq juga tidak sah.


Uraian di atas tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa makmum masbuq ketika ia tertinggal satu raka’at ia cukup menambahi satu raka’at lagi. Sedangkan bagi makmum yang tertinggal dua raka’at ia harus menggenapkan salatnya seperti raka’at salat dzuhur. Adapun tertinggalnya makmum ini dihitung dari makmum itu bisa mendapatkan rukuk tuma’ninahnya imam atau tidak.

2 komentar:

Salat Berjamaah dalam Salat Jumat dan Selainnya






Kewajiban salat Jum`at menurut ijma` kaum muslimin hukumnya wajib berdasarkan firman Allah di dalam surah Al-Jumu`ah ayat 9:


$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) š”ÏŠqçR Ío4qn=¢Á=Ï9 `ÏB ÏQöqtƒ ÏpyèßJàfø9$# (#öqyèó™$sù 4’n<Î) ̍ø.ÏŒ «!$# (#râ‘sŒur yìø‹t7ø9$# 4 öNä3Ï9ºsŒ ׎öyz öNä3©9 bÎ) óOçGYä. tbqßJn=÷ès? ÇÒÈ


“ Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”


Dan jumlah dalam jamaah salat Jum`at menurut ulama syafi`iyyah adalah minimal 40 jama`ah orang mustauthin. Karena, itu termasuk syarat salat Jum`at yang harus ada ketika mengerjakan salat. Sedangkan seluruh ulama sepakat bahwa dua khutbah itu termasuk syarat sahnya salat Jum`at.


Sedangkan salat berjama`ah telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin bahwa salat berjama`ah itu termasuk salah satu syi`ar agama. Ia dikerjakan oleh Rosulullah SAW secara rutin, salat jama`ah selain salat jum’at sangat berbeda. Karena, jama`ahnya salat Jum`at sudah termasuk syarat yang dapat menjadikan sahnya salat Jum`at.


Salah satu syarat sahnya salat Jum`at ialah khutbah, sedangkan khutbah harus ada jamaahnya. Dan salat berjama`ah untuk salat selain Jum`at seperti salat lima waktu adalah sunnah menurut Imam syafi`i. Dan salat berjama`ah pahalanya 27 derajat dibandingkan salat sendirian. Seperti dalam hadis:


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً


“ Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Nafi' dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Salat berjama'ah lebih utama dibandingkan salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat. "


Tetapi ada ulama lain yang berpendapat bahwa salat berjama`ah hukumnya wajib, seperti dalam firman Allah SWT:


(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qãèx.ö‘$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ


“ Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[44]. “

[44] Yang dimaksud Ialah: salat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.


Jadi, perbedaan antara salat berjama`ah dalam Jum`at dengan salat berjama`ah selain dari salat Jum`at, yaitu salat Jum`at harus berjama`ah karena adanya khutbah dalam salat Jum`at. Sedangkan salat selain salat Jum`at tidak harus berjama`ah karena hukumnya sunnah menurut Imam Syafi`i dan fardhu menurut ulama` lain.

0 komentar:

Hukum dan Bacaan Talqin Mayit






Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang talqin ini, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzy dari Abu Sa’ied Al Khudry:


عَن أَبِىْ سَعِيدٍالْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَا لَ : لَقِّنُوامَوتَاكُمْ لاَأِلهَ أِلاَّاللهُ


(رواه مسلم وأبوداودوالترمذيّ)


Artinya: Dari Abu Sa’ied Al Khudry, ia meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Talqinlah (tuntunlah, membaca) orang yang akan meninggal dunia (yang ada pada) mu dengan kata LAA ILAAHA ILLALLAH. (HR. Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzy)


مَوتَاكُمْ dalam Hadits di atas tidak dapat diartikan orang yang telah meninggal, karena tidak sesuai dengan hadits-hadits lain yang menyatakan bahwa akhir kata yang diucapkan orang yang menjelang kematian, akan merupakan khusnul khotimah untuk menuju syurga, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzy:


مَن كَانَ اخِرَكَلَامِهِ لاَأِلهَ أِلاَّاللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه أحمدوابوداودوالحاكم)


Artinya: “Barang siapa yang akhir katanya LAA ILAAHA ILLALLAH maka akan masuk syurga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim)


Kata LAA ILAAHA ILLALLAH itu diucapkan sebelum meninggal, karena orang yang sudah meninggal tidak dapat dituntun untuk mengucapkan sesuatu. Menurut hadits tersebut jelas bahwa yang namanya talqin diberikan atau ditujukan kepada orang yang masih hidup / hampir mati / sakaratul maut. Namun demikian ada juga yang mengartikan MAUTAAKUM adalah orang yang sudah meninggal, makanya ketika ada orang yang meninggal dunia kemudian dibacakan Tahlil dan Dzikir. Menurut penulis perbedaan ini harus kita pahami dan kita hormati, karena mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia itu juga dianjurkan, terutama bagi ahli waris / anak.


Dari tulisan ringkas di atas dapat disimpulkan bahwa talqin, itu hanya untuk orang yang masih hidup, sedangkan yang dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a dari orang yang masih hidup.

0 komentar:

Hukum dan Bacaan Talqin Mayit


Hukum dan Bacaan Talqin Mayit


Ada beberapa hadits yang menjelaskan tentang talqin ini, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzy dari Abu Sa’ied Al Khudry:
عَن أَبِىْ سَعِيدٍالْخُدْرِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَا لَ : لَقِّنُوامَوتَاكُمْ لاَأِلهَ أِلاَّاللهُ       
   (رواه مسلم وأبوداودوالترمذيّ)      
Artinya: Dari Abu Sa’ied Al Khudry, ia meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Talqinlah (tuntunlah, membaca) orang yang akan meninggal dunia (yang ada pada) mu dengan kata LAA ILAAHA ILLALLAH. (HR. Muslim, Abu Dawud dan At Tirmidzy)
مَوتَاكُمْ dalam Hadits di atas tidak dapat diartikan orang yang telah meninggal, karena tidak sesuai dengan hadits-hadits lain yang menyatakan bahwa akhir kata yang diucapkan orang yang menjelang kematian, akan merupakan khusnul khotimah untuk menuju syurga, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzy:
مَن كَانَ اخِرَكَلَامِهِ لاَأِلهَ أِلاَّاللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ (رواه أحمدوابوداودوالحاكم)                                         
Artinya: “Barang siapa yang akhir katanya  LAA ILAAHA ILLALLAH maka akan masuk syurga.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Al Hakim)
Kata LAA ILAAHA ILLALLAH itu diucapkan sebelum meninggal, karena orang yang sudah meninggal tidak dapat dituntun untuk mengucapkan sesuatu. Menurut hadits tersebut jelas bahwa yang namanya talqin diberikan atau ditujukan kepada orang yang masih hidup / hampir mati / sakaratul maut. Namun demikian ada juga yang mengartikan MAUTAAKUM adalah orang yang sudah meninggal, makanya ketika ada orang yang meninggal dunia kemudian dibacakan Tahlil dan Dzikir. Menurut penulis perbedaan ini harus kita pahami dan kita hormati, karena mendo’akan orang yang sudah meninggal dunia itu juga dianjurkan, terutama bagi ahli waris / anak.
Dari tulisan ringkas diatas dapat disimpulkan bahwa talqin, itu hanya untuk orang yang masih hidup, sedangkan yang dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal dunia adalah do’a dari orang yang masih hidup.

0 komentar:

Perbedaan Niat antara Imam dan Makmum dalam Shalat Berjama'ah







Shalat merupakan tiang agama dan rukun iman yang kedua. Lalu dalam yaumul hisab nantinya di akhirat, shalat merupakan hal pertama yang di timbang, apabila baik shalat seseorang maka baik pula segalanya. Shalat dibagi menjadi 2, yakni shalat fardhu (apabila dilaksanakan mendapat pahala, apabila ditinggal mendapat dosa) dan shalat sunnah (apabila dilaksanakan mendapat pahala, apabila tidak dilaksankan tidak mendapat dosa). Dalam pelaksanaannya, shalat dianjurkan untuk berjama’ah, seperti dalam hadis Nabi SAW:


صلاة الجماعة افضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة


“Shalat jama’ah itu lebih utama dari pada shalat sendirian dengan perbandingan 27 derajat.” (HR. Bukhari Muslim)


Dalam Kitab Fath al-Qarib dijelaskan bahwa shalat jama’ah dalam shalat fardhu selain shalat Jum’at hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang mendekati wajib atau sangat dianjurkan). Namun menurut pendapat Imam Nawawi, shalat jama’ah hukumnya fardhu kifayah (apabila sudah ada yang mengerjakan, maka gugur kewajiban orang lain untuk mengerjakan).


Kemudian, dalam shalat berjamaah hendaknya ma’mum mengikuti gerakan imam karena hakikatnya imam diangkat untuk diikuti, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:


انما جعل الامام ليؤتم به (متفق عليه)


“Imam itu diangkat untuk diikuti.”


Kemudian, hadis tentang mak’mum hendaknya mengikuti imam adalah:


فاذا كبر فكبروا واذا ركع فاركعوا


“Jika imam bertakbir maka bertakbirlah, jika imam ruku’ maka ruku’lah.”


Lalu bagaimana hukumnya apabila terjadi perbedaan niat antara imam dan ma’mum dalam satu jamaah? Sahkah shalat mereka? Menurut madzhab Syafi’I hal demikian adalah sah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim:


عن جابر قال كان معاذ يصلى مع النبى صلى الله عليه وسلم ثم ياتى قومه فيصلى بهم (متفق عليه)


“Dari Jabir, ia berkata bahwa Mu’adz pernah shalat bersama Nabi SAW, lalu ia mendatangi kaumnya dan mengerjakan shalat bersama mereka.”


Hadis di atas disebutkan dalam Kitab al-Umm karya Imam Syafi’I, bahwa Mu’adz bin Jabal mengerjakan shalat Isya bersama Nabi SAW, lalu ia kembali kepada kaumnya dan mengerjakan shalat Isya bersama mereka, dan shalat Isya itu adalah sunah baginya (Mu’adz). Jadi, Mu’adz berniat shalat sunnah sedangkan kaumnya berniat shalat fardhu.


Dalam Kitab Mukhtashar Kitab al-Umm fiil Fiqhi karya Imam Syafi’I yang diterjemahkan oleh Mohammad Yasir Abd Mutholib disebutkan bahwa Imam Syafi’I berkata: diriwayatkan dari Atha’, ia berkata. “Apabila anda mendapati waktu Ashar, dan belum mengerjakan shalat Dhuhur, maka jadikanlah yang engkau dapati bersama imam itu shalat Dhuhur, dan shalat Ashar lah setelah itu”. Kemudian Imam Syafi’I berkata lagi: Atha’ berkata, “Barangsiapa lupa mengerjakan shalat Ashar, lalu ia ingat pada saat shalat Maghrib, hendaklah ia menjadikan shalat Maghrib itu sebagai shalat Ashar. Apabila ia mengingatnya setelah shalat Maghrib, hendaklah ia mengerjakan shalat Ashar”. Dari riwayat tersebut, madzhab Syafi’I pun memperbolehkan perbedaan niat antara imam dan ma’mum dalam shalat fardhu, karena menurut Imam Syafi’i:


ونية كل نية نفسه لا يفسد ها عليه ان يخا لفها نية غيره وان امه


“Niat setiap orang yang melaksanakan shalat adalah niat bagi dirinya sendiri. Niat orang lain yang mengimaminya jika berbeda tidak membuat cacat ibadahnya.”


Dalam Kitab yang sama, Imam Syafi’I berpendapat bahwa semua itu adalah boleh, menurut Sunnah dan apa yang telah disebutkan dan juga qiyas.


Kemudian, jika dilihat dari hal-hal yang membatalkan shalat, perbedaan niat tidaklah masuk dalam kategori hal yang membatalkan shalat. Jadi, perbedaan niat antara ma’mum dan imam dalam satu jama’ah menurut madzhab Syafi’i tidak membatalkan shalat, dilihat dari macam-macam hal yang membatalkan shalat dan tidak merusak shalat, berdasarkan qaul (perkataan) Imam Syafi’I di atas. Hal demikian berlaku bagi ma’mum yang mengikuti imam dari awal maupun ma’mum masbuq, yakni makmum yang tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca Surah al-Fatihah ketika imam masih berdiri dengan bacaan normal.


Dalam buku M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui, mengenai makmum masbuq dalam shalat Tarawih, beliau (M. Quraish Shihab) menjawab bisa dan sah saja sebagaimana shalat-shalat lainnya. Jika pada rakaat pertama yang masbuq masih mendapati imam sedang ruku’ dan ikut ruku’ bersama (walaupun tanpa membaca al-Fatihah atau sesuatu sebelumnya), maka shalatnya dinilai sebagai mengikuti imam sejak awal. Apabila dia tidak sempat mengikutinya dalam ruku’ maka dia hendaknya mengikutinya di mana dia sempat dan dia dinilai ketinggalan rakaat sebanyak ruku’ yang ditinggalkannya bersama imam dan harus menambah kekurangannya, setelah imam mengucapkan salam.


Kemudian dalam buku yang sama, mengenai shalat Isya makmum dengan imam yang shalat Tarawih, beliau menjawab boleh, uraiannya sebagai berikut. Shalat Tarawih dilakukan setelah shalat Isya. Ikutilah imam dengan berniat shalat Isya. Bila imam salam, lanjutkan sisa rakaat shalat Isya anda. Setelah anda selesai, lanjutkan mengikuti imam dalam shalat Tarawihnya yang tersisa. Ketika imam melaksanakan shalat Witir, anda mengikutinya dengan niat shalat Tarawih, setelah rakaat ketiga anda lanjutkan satu rakaat lagi baru salam, kemudian lanjutkan sendiri ---di tempat itu atau di rumah--- sisa shalat Tarawih dan Witir anda.


Namun hukum tersebut hanya berlaku bagi shalat yang gerakan atau runtutan shalat antara imam dan ma’mum sama, seperti imam shalat sunnah rawatib (shalat sunnah sebelum dan sesudah shalat fardhu) dan ma’mum shalat fardhu. Tidak sah apabila imam shalat gerhana, shalat jenazah, shalat ied, shalat ghoib, maupun shalat Jum’at kemudian ma’mum shalat fardhu, karena dilihat secara dhair, gerakan atau runtutan shalat antara imam dan ma’mum tidaklah sama.


Mengenai shalat Jum’at, dalam buku Fiqh Realitas yang disusun oleh Fraksi Fathil Wahab 2015-2016 PP Al Falah Ploso Mojo Kediri, terdapat bab yang membahas masbuq shalat Jumat mendeskripsikan masalah sebagai berikut. Dalam shalat Jum’at, Idris yang merupakan salah satu santri pondok pesantren ketinggalan shalat satu rakaat. Karena tidak ingin dilewati oleh lalu lalang jamaah yang sudah buyar, ia memutuskan mufaraqah (memisahkan diri dari imam) saat imam duduk tahiyat akhir. Tidak lama kemudian datanglah si Ahmad dan tanpa pikir panjang langsung bermakmum pada Idris agar mendapat satu rakaat jamaah shalat Jumat, padahal imam Jumat belum selesai shalat (belum salam). Lalu, sah kah shalat yang dilakukan Idris dan Ahmad?


Menurut Ibnu Hajar, shalat Idris tidaklah sah, namun menurut Imam Romli sah. Adapun shalat Ahmad juga tidak sah menurut Imam Ibnu Hajar, namun sah dan menjadi shalat Dhuhur menurut Imam Romli (disempurnakan empat rakaat). Jawaban ini berdasarkan Kitab Bughyah al-Mustarsyidin halaman 86.


Namun menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Maliki, hal demikian tidaklah diperbolehkan. Pendapat ini berdasarkan hadis Nabi SAW:


عن امير المؤ منين ابى حفص عمر ابن الخطاب رضى الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: انما الاعمال بالنية وانما لكل امرئ مانوى...


“Dari Amirul Mu’minin Abi Hafs Umar bin Khatthab ra. berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya…”(HR. Bukhari Muslim)


Jadi berdasarkan hadis di atas, pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik tidak sah shalatnya antara imam dan ma’mum yang berbeda niat. Semua kita kembalikan pada pribadi masing-masing untuk mengikuti madzhab yang dikehendaki.

0 komentar:

Jarak Minimal Perjalanan Diperbolehkan Salat Qashar









Shalat Qashar ialah salat yang disingkat, artinya yang asalnya empat raka’at, dijadikan dua raka’at. Berdasarkan firman Allah SWT:


Artinya:”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar, sembahyang (mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”.(QS. An-Nisa 101).


Dari ‘Aisyah ra berkata: “Diwajibkan salat 2 rakaat kemudian Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan salat safar seperti semula (2 rakaat).” (HR Bukhari) Dalam riwayat Imam Ahmad menambahkan : “Kecuali Maghrib, karena Maghrib adalah salat witir di malam hari dan salat Subuh agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut.”

Adapun jarak minimal sah shalatnya ialah dalam buku kamus fiqih karangan ahlu suffah ialah dua marhalah (versi kitab Tanwif al-qulub 80,64 km) perjalannya. Adapun dalam kitab fathul-qorib karangan Syamsuddin Abu Abdillah jarak perjalanan batas maksimal 16 farskh. Menurut pandangan yang benar, batas maksimal tersebut tidak meliputi jarak waktu pulangnya (16 farsakh= 60 pos) kalau dalam kilo meter minimal 81 kilo meter, dalam rinciannya 1 farskh = 3 mil, jadi jumlah keseluruhan 16X3 =14 mil.

0 komentar:

Salat Sunah yang Dianjurkan Berjamaah











Dalam buku karangan Ahla Shuffah, Kamus Fiqih, Shalat sunnah adalah ibadah yang dianjurkan oleh agama untuk dikerjakan dan diperbolehkan untuk meninggalkannya. Shalat sunah adakalanya yang disunnahkan berjamaah dan ada yang tidak.


Shalat Sunnah Yang Dianjurkan Berjamaah Sebagai Berikut:


1. Shalat Dua Hari Raya Yaitu Shalat Idul Fitri dan Shalat Idul Adha.


Artinya:“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”.(al-kautsar:2).

Yang dimaksud berkorban di sini ialah menyembelih hewan Qurban dan mensyukuri nikmat Allah.


Menurut buku fath al-qarib karangan Syamsudin waktu shalat ‘ied ialah antara keluarnya matahari hingga matahari bergeser dari tengah.


2. Shalat Gerhana Matahari dan Gerhana Rembulan

Artinya:“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.”(QS. Fusshilat:37)


Waktunya shalat gerhana matahari dapat hilang dengan sebab matahari kembali pulih, dan untuk gerhana rembulan dengan kembali bersinar dan keluarnya matahari tidak dengan keluarnya fajar atau tenggelamnya bulan.


3. Shalat Istisqo’


Yaitu shalat permintaan hujan oleh seorang hamba kepada allah swt.


Saat membutuhkanya. Sebagaimana firman allah swt:


Artinya:“Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat.”(QS. Nuh 10-11)


Waktunya setiap saat kecuali waktu makruh untuk melakukan salat. Yakni dihari hari keempat setelah melaksanakn puasa selama tiga hari.


4. Shalat Tarawih Berserta Witir


Waktu dalam karangan, Ahla Shuffah, Kamus Fiqih, ialah setelah melaksanakan shalat isya’ meskipun dengan jama’ taqdim hingga terbit matahari.


Selain yang telah disebutkan tidak disunnahkan dilakukan secara berjama’ah. Hanya saja kalaupun dilakukan berjama’ah, tidak sampai terkena hukum makruh bahkan saja disertai dengan tujuan seperti mendidik maka lebih baik.



0 komentar:

Shalat Jum'at dan Ketentuannya






Shalat Jum’at adalah shalat yang dilakukan pada waktu dzuhur dengan dua raka’at dan dilaksanakan setelah dua khutbah pada hari Jum’at. Ketika sudah melaksanakan shalat Jum’at maka tidak diwajibkan shalat Dzuhur. (M. Yusuf Khudhori, Menapak Hidup Baru, Surabaya, Khalista, 2007).


Dasar yang mewajibkan shalat Jum’at adalah:


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٩


“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al Jumu’ah 9).


Syarat wajib shalat Jum’at ada tujuh, yaitu: Islam, baligh, berakal sehat-syarat ini juga termasuk syarat untuk shalat selain shalat Jum’at-, merdeka, laki-laki, sehat dan mukim. Jadi shalat Jum’at tidak wajib bagi orang kafir asli, anak kecil, orang gila, budak, perempuan, orang sakit dan semisalnya, serta musafir. (Ibnu Al Ghazzi, Fathul Qarib, Jakarta, Pustaka Azzam, 2016).


Syarat sah shalat Jum’at ada tiga, yaitu: pertama, hendaklah diadakan di negeri, kota atau desa yang dijadikan sebagai tempat tinggal, kedua, jumlah orang (tidak kurang dari) 40 orang yang termasuk ahli Jum’at dan mereka adalah mukallaf yang berjenis kelamin laki-laki, dan yang ketiga, apabila waktu melaksanakan shalat Jum’at masih ada, dan disyaratkan seluruh bagian dari shalat Jum’at dikerjakan pada waktunya yaitu waktu dzuhur.


Fardhu shalat Jum’at ada tiga: pertama dan kedua adalah dua khutbah di mana khatib berdiri dalam dua khutbah tersebut dan duduk di antara keduanya. Seandainya khatib tidak sanggup berdiri dan dia berkhutbah dengan cara duduk atau berbaring, ,maka hukumnya sah, dan boleh bermakmum kepadanya, meskipun tidak diketahui keadaanya. Jika dia berkhutbah dengan cara duduk, maka dia memisah dua khutbah dengan diam sebentar, bukan dengan cara berbaring. Yang ketiga yaitu shalat dikerjakan dua raka’at secara berjama’ah dengan jumlah jama’ah yang menghasilkan sahnya shalat Jum’at. (Ibnu Al Ghazzi, Fathul Qarib, Jakarta, Pustaka Azzam, 2016).


Rukun Khutbah ada lima, yaitu: memuji Allah, membaca shalawat untuk Rasulullah dan lafadz keduanya sudah ditentukan, berwasiat untuk bertakwa dengan lafadz yang tidak ditentukan menurut pendapat yang shahih, membaca satu ayat dari Al qur’an pada salah satu di antara dua khutbah, dan membaca doa untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan dalam khutbah kedua. (Ibnu Al Ghazzi, Fathul Qarib, Jakarta, Pustaka Azzam, 2016).


Pada saat berlangsungnya khutbah, jama’ah disunnahkaan diam mendengarkan rukun-rukun khutbah agar shalat Jum’at menjadi sah. Khatib disyariatkan meruntunkan antara kalimat-kalimat khutbah, dan diantara dua khutbah. Seandainya khatib memisahkan kalimat-kalimat khutbah meskipun ada udzur, maka khutbahnya batal. Disyariatkan dalam dua khutbah untuk menutup aurat, suci dari hadats dan kotoran pada pakaian, badan, dan tempat.


Sunnah hai’at Jum’at ada empat, yaitu: pertama, mandi bagi orang yang ingin menghadirinya, baik laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, mukim atau musafir, dan mendekatkan mandi ke waktu keberangkatan itu lebih utama, jika tidak bisa mandi Jum’at, maka diganti tayamum dengan niat mandi untuk shalat Jum’at. Kedua, berpakaian putih karena lebih utama. Ketiga, memotong kuku jika sudah panjang, dan dianjurkan mencabut bulu ketiak, mencukur kumis dan mencukur rambut kemaluan. Keempat, memakai wewangian yang terbaik yang dia temukan.

2 komentar:

Kriteria “Bergerak” yang Membatalkan Shalat














Telah diterangkan dalam kitab Fathul Qorib bahwa ada sebelas perkara yang membatalkan shalat, yakni berbicara dengan sengaja, melakukan gerakan yang banyak secara berturut-turut, menanggung hadast, terkena najis yang tidak dima’fu, terbukanya aurat dengan sengaja, mengubah niat, membelakangi qiblat, makan, minum, tetawa tebahak-bahak, dan murtad.


Salah satu hal yang membatalkan shalat adalah bergerak secara berturut-turut. Dalam hal ini yang dimaksud bergerak berturut-turut adalah gerakan yang bukan termasuk dalam gerakan shalat yang dilakukan secara berkesinambungan. Secara umum gerakan yang ada dalam pembahasan shalat mencakup dua hal, yakni; pertama, gerakan yang serupa dengan gerakan shalat, hal ini dapat membatalkan shalat kecuali dalam keadaan lupa atau tidak tahu. Kedua, gerakan yang tidak sama dengan gerakan shalat. Gerakan seperti ini diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu gerakan skala besar, skala sedang, dan skala kecil.


Gerakan skala besar yakni seperti melompat, gerakan tersebut secara otomatis akan membatalkan shalat karena walau dilakukan sekali, banyak anggota tubuh lain yang bergerak bersamaan. Gerakan skala sedang yaitu gerakan yang dapat membatalkan shalat jika dilakukan besertaan dengan gerakan anggota lain, seperti menggaruk dengan jari disertai dengan gerakan tangan. Serta gerakan skala kecil, gerakan ini dihukumi tidak membatalkan shalat walaupun dilakukan berulang-ulang selama tidak untuk bermain-main, seperti berkedip. Lalu, bagaimana hukum bergerak sebanyak tiga kali secara berturut-turut? Apakah membatalkan shalat?


Secara garis besar terdapat dua pendapat ulama. Pertama adalah jika pengadatan di suatu tempat menganggap bahwa gerakan tersebut sedikit, maka itu adalah gerakan sedikit dan tidak membatalkan shalat, begitu pula sebaliknya. Seperti shalat Rasulullah yang pernah dengan menggendong cucunya, membukakan pintu, bergerak maju, dan lain sebagainya. Sebagian ulama ini menyatakan bahwa anggapan bergerak tiga kali berturut-turut di luar gerakan shalat tidak dilandasi dengan dalil.


Namun, di dalam kitab terjemah Fathul Mu’in di jelaskan bahwa ada batasan melakukan gerakan selain dalam gerakan shalat, yakni jika ia bermaksud melakukan tiga kali secara berturut-turut kemudian ia mengerjakannya hanya sekali, apalagi hingga tiga kali, maka shalatnya batal. Hal tersebut karena adanya maksud atau niat akan membatalkan shalat. Selain itu, ‘urf yang berlaku secara umum adalah jika tiga kali bergerak secara berturut-turut sudah membatalkan shalat.


Menurut pendapat ulama yang lain bahwa jika bergerak dalam shalat itu dalam rangka mengusahakan kesempurnaan atau kebaikan dalam shalat, maka gerakan ini tidak dipermasalahkan. Dan hukum asal bergerak dalam shalat adalah makruh, berdasarkan hadits dalam Shahih Muslim: ‘berlaku tenanglah dalam shalatmu‘.


Untuk lebih jelasnya, berikut terdapat empat syarat atau kriteria yang membatalkan shalat karena melakukan gerakan di luar gerakan shalat yang diterangkan dalam kitab as-Syarh al-Mumthi’, yakni sering, bukan bagian dari gerakan shalat, tidak karena ada kebutuhan yang mendesak, dan berkesinambungan atau berturut-turut. Lalu, berapa kali batasan bergerak yang dikategorikan sering, berkesinambungan, atau berturut-turut?


Terdapat tiga versi yang dijabarkan dalam buku Kamus Fiqh yang diterbitkan oleh Lirboyo Press tentang ketentuan bergerak secara contineu, yakni versi al-Bujairami yang menyatakan jarak antara dua gerakan kurang dari satu rakaat tercepat yang mungkin dapat dilakukan, versi sebagian ulama berpendapat bahwa jarak dua gerakan tidak melebihi durasi bacaan surat al-Ikhlas, dan versi lain menyatakan bahwa jarak antara dua gerakan tidak sampai durasi tuma’ninah, dan dikembalikan pada ‘urf.


Pada hakikatnya, gerakan di luar gerakan shalat yang dapat membatalkan shalat ialah jika seseorang melakukan gerakan yang banyak dan sering sehingga menjadikan tidak khusyu’ dalam shalatnya, maka itulah gerakan yang membatalkan shalat.


Wallahu a’lam.

0 komentar:

Misteri Waktu Shalat Lima Waktu












Shalat menurut bahasa adalah doa yang baik, sedangkan menurut istilah adalah suatu ibadah yang mengandung ucapan (bacaan) dan perbuatan tertentu yang dimualai dengan takbirotulihram dan diakhiri dengan salam.


Shahalat dalam pengertian “doa” antara lain dijumpai dalam QS. At-Taubah ayat 103 yang artinya: Dan mendoalah untuk mereka. Sesunguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dasar hukum shalat dalam al-Qur’an cukup banyak, di antaranya dalam firman Allah dalam surah al-Baqarah(2) ayat 43 yang artinya: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk. Selain dijelaskan dalam al-Qur’an kewajiban shalat juga dijelaskan dalam hadits yang artinya: Rasululloh bersabda ”Amalan hamba Allah yang pertama kali diperhitungkan di hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik maka baik pula seluruh amalannya, dan jika shalatnya rusak (tidak baik) maka rusak pula seluruh amalnnya (HR. at-Thabrani). Berdasarkan ayat dan hadits di atas, ulama fikih sepakat menyatakan bahwa shalat itu merupakan kewajiban yang harus diketahui dan dilaksanakan setiap individu muslim.


Sejarah pensyariatan shalat terjadi setelah Rasulullah melakukan isra’ mi’raj, yaitu lebih kurang satu tahun sebelum hijrah. Akan tetapi menurut ulama madzhab Hanafi, kewajiban shalat ditetapkan pada malam hari ketika nabi Muhammad melakukan isra’, yaitu malam Jum’at tanggal 10 Ramadhan, satu setengah tahun setelah hijrah.


Shalat tidak hanya menjadi kewajiban umat muslim untuk melaksanakannya, tetapi shalat juga memiliki hikmah tersendiri, karena shalat merupakan ibadah utama dalam Islam, yaitu setelah megucapkan dua kalimat syahadat. Shalat disyariatakan dalam rangka bersyukur atas segala nikmat Allah yang diturunkan kepada manusia. Dari segi keaagamaan, shalat merupakan tali yang menghubungkan dan mengikat seseorang dengan penciptanya. Melalui shalat seorang hamba dapat mengagungkan kebesaran Allah SWT, mendekatkan diri, berserah diri kepada-Nya, dan menimbulkan perasaan yang tentram bagi diri yang shalat dalam menempuh berbagai persoalan hidup. Sudah dijelaskan dalam QS. Al-Mu’minun ayat 1-2 yang berbunyi:


قد افلح المؤمنون الذين هم في صلا تهم خاشعون


“sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya”


Dalam kitab Fashalatan karangan KH. Muhammad Asnawi Khady menjelaskan tentang sebuah hadits tentang keutamaan shalat yang berbunyi:


قال رسولالله صلى الله عليه وسلم لو ان نهرا ببان احد كم يغتمل منه كل يوم خمس مرات هل يبق من د رنه شئ ؟ قلوا لا يبق مند رنه شئ


قال فذ لك مثل الصلوا ت الخمس يحموالله بهن الخطايا. الحدث


“Rasulullah bersabda: Apa pendapatmu, jika di depan rumahmu ada sungainya, dan setiap hari kalian mandi di sungai tersebut lima kali. Apa masih ada kotoran yang tertinggal ? Para sahabat menjawab: Tidak, ” Rasulullah SAW kemudian berkata: “Demikian itulah shalat lima waktu, Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan orang yang shalat dengan mengerjakan shalat tersebut”. ( HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah dan diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dari Usman Bin Affan).


Shalat juga mengajari kita untuk memperdalam rasa disiplin diri dan membuat sesorang bersikap jujur dan berpendirian, menampilkan pribadi yang memiliki akhlak yang mulia, dan memberikan ketenangan jiwa dalam menghadapi berbagai godaan dunia. Shalat juga memberikan pelajaran terhadap manusia untuk selalu menjaga ikatan persaudaraan dan persatuan masyarakat, shalat merupakan alat perekat hubungan sosial di tengah masyarakat dan berbuat untuk kesejahteraan bersama melalui shalat berjamaah.




b. Makna Waktu Shalat


Menurut para ahli perubahan waktu shalat bersamaan dengan perubahan alam dan dirasakan dengan perubahan warna alam.



Subuh


Pada waktu Subuh alam berada pada sprektum biru muda yang bersesuian dengan frekuensi tiroid atau gelenjar gondok. Dalam ilmu fisiologi tiroid mempunyai pengaruh terhadap sistem metabolisme tubuh manusia. Selain itu mereka yang terlelap pada waktu subuh dapat menghadapi masalah rejeki dan komunikasi.



Dzuhur


Pada waktu Dzuhur alam berubah menguning dan ini berpengaruh pada perut dan sistem pencernaan manusia secara keseluruhan. Warna ini juga mempunyai pengaruh terhadap hati. Mereka yang selalu ketinggalan atau melewatkan shalat dzuhur berulang kali dapat menghadapi masalah dalam sistem pencernaan serta berkurang keceriaannya.


Ashar


Pada waktu Ashar alam berubah lagi warnanya menjadi oranye. Hal ini berpengaruh cukup signifikan terhadap organ tubuh yaitu prostat, rahim, ovarium atau indung telur dan testis yang merupakan sistem reproduksi secara keseluruhan. Warna oranye di alam juga mempengaruhi kreativitas seseoranag. Orang yang sering ketinggalan waktu Ashar dapat menurun daya kreativitasnya.


Maghrib


Pada waktu Maghrib warna alam kembali berubah menjadi merah. Pada waktu ini Jin dan Iblis sangat bertenaga karena mereka ikut bergetar dengan warna alam. Mereka yang sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak dan mengerjakan sholat Maghrib terlebih dahulu




Isya


Pada waktu ini, warna alam berubah menjadi nila dan selanjutnya menjadi gelap. Waktu Isya mempunyai rahasia ketenteraman dan kedamaian yang frekuensinya sesuai dengan sistem kontrol otak.

0 komentar: