Perbedaan Syarat Wajib dan Syarat Sah Shalat




Perbedaan Syarat Wajib dan Sah dalam Shalat
Sebagaimana dikatakan oleh Imam Rofi’i, shalat merupakan beberapa ucapan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai dengan beberapa syarat yang telah ditentukan. Dari pengertian yang termuat dalam buku terjemah Fathul Qarib tersebut timbul pertanyaan tentang ‘Apa saja syarat yang telah ditentukan tersebut’?
            Dalam buku Fiqih 4 Madzhab karya Imam Pamungkas dan Maman Surahman, dijelaskan perbedaan syarat-syarat shalat menurut empat Imam maadzhab. Menurut Imam Syafi’i syarat shalat terbagi menjadi dua, yaitu syarat wajib dan syarat sah.
Syarat wajib shalat dan syarat sah shalat, keduanya tentu mempunyai pengertian yang berbeda. Namun masih banyak dari kita belum begitu memahami masing-masing makna dari syarat-syarat tersebut.
            Pengertian kata ‘syarat’ secara bahasa bermakna alamat, sedangkan secara epistemologi ialah sesuatu yang harus (ada atau dilakukan) karena ketiadaannya akan menyebabkan tidak adanya sesuatu. Namun, kebaradaannya tidak mengharuskan ada dan tidak adanya sesuatu. Syarat merupakan hal yang harus dilakukan sebelum melakukan sesuatu.
            Jadi, pengertian dari syarat wajib shalat adalah syarat yang menjadikan seseorang menanggung kewajiban untuk melaksanakan shalat. Seseorang mempunyai kewajiban untuk shalat ketika ia islam, baligh, dan mempunyai akal sehat. Jika salah satu dari syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ia tidak mempunyai kewajiban untuk shalat. Seperti ketika anak kecil yang belum baligh melakukan shalat, walaupun shalatnya sah, namun ia sebenarnya tidak mempunyai kewajiban untuk shalat.
Sedangkan syarat sah shalat adalah sesatu yang harus dilakukan sebelum shalat agar shalatnya menjadi sah, namun hal tersebut bukan termasuk bagian dari shalat. Ada lima perkara yang menjadi syarat sahnya shalat, yaitu: suci dari najis, meliputi badan, pakaian, dan tempat untuk shalat; menutup aurat; berdiri jika mampu; mengetahui masuknya waktu shalat; dan menghadap qiblat.
Wallahu a’lam.

           

2 komentar:

Bolehkah Seseorang yang Haid Membaca Al-Qur'an







Bolehkah Seorang yang Haid Membaca Al-Quran?




Terjadi banyak perbadaan pendapat dalam hal ini. Ada imam yang membolehkan ada pula yang melarangnya. Imam Abu Hanifah, imam Syafi’i, juga Imam Ahmad berpendapat bahwa wanita haid dan wanita junub boleh berdzikir dan membaca Alqur’an, dan ini merupakan pendapat yang rajih. Ibnu Hazm mengatakan, “Membaca Alqur’an, sujud ketika membaca ayat sajdah, menyentuh mushaaf, dan dzikrullah adalah perbuatan baik dan dianjurkan untuk dilakukan serta dibalas dengan pahala. Barangsiapa yang mengklaim bahwa hal itu dilarang dalam beberapa kondisi, maka dia harus mendatangkan dalilnya”. Padahal tidak ada satu riwayat pun yang marfu’ yang melarang membaca al-Quran dalam keadaan tidak berwudhu, haid, maupun junub. Bahkan Rasulullah SAW pernah mengatakan kepada Aisyah RA yang saat itu sedang haid:”Lakukanlah apa yang dilakukan orang berhaji, kecuali thawaf di Ka’bah”. Dan sebagaimana diketahui, orang berhaji itu berdziikir kepada Allah dan membaca al-Quran.

Imam Nawawi rahimahullah dalam “Al Majmu” mengatakan, “Jika kitab tafsir tersebut lebih banyak kajian tafsirnya daripada ayat Al Quran sebagaimana umumnya kitab tafsir semacam itu, maka di sini ada beberapa pendapat ulama. Namun yang lebih tepat, kitab tafsir semacam itu tidak mengapa disentuh karena tidak disebut mushaf.”

Demikian soal hukum membaca Al Quran bagi wanita yang sedang haidh dan kebolehan menyentuhnya (Al Quran terjemahan atau tafsir).

Pendapat yang tidak membolehkan membaca dan menyentuh Al-Qur’an berdasarkan:

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak ada yang menyentuh (Al-Qur’an) kecuali mereka yang telah disucikan” [Al-Waqi’ah : 79]

Berdasarkan ayat ini, sebagian ulama melarang bagi wanita haid untuk membaca Al Quran. Sekedar menyentuhnya saja tidak boleh, apalagi membacanya.



0 komentar:

Ketentuan dan Mekanisme Sholat Gerhana



Ketentuan dan Mekanisme Shalat Gerhana
Shalat gerhana adalah shalat yang dilaksanakan ketika terjadi gerhana, baik gerhana bulan (khusuf) maupun matahari (kusuf). Shalat ini dilakukan bukan sebagai penyembahan terhadap bulan atau matahari, melainkan sebagai ungkapan syukur atas kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Adapun shalat gerhana hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan atau mendekati wajib) meskipun dilakukan secara munfarid (sendirian) dan sunnah dilakukan dengan berjama’ah. Meski demikian, apabila tidak dikerjakan maka tidak perlu mengqadla’nya (mengganti shalat pada lain waktu).
Niat shalat gerhana matahari (kusuf) adalah
اصلى سنة لكسوف الشمس ركعتين لله تعا لى
Pada kata كسوف berarti tertutup, pada saat terjadi gerhana matahari, sinar matahari tertutup oleh bulan. Sedangkan niat shalat gerhana bulan (khusuf) adalah
اصلى سنة لخسوف القمر ركعتين لله تعا لى
Pada kata خسوف  berarti hilang, bulan tidak memiliki cahaya sendiri melainkan mendapat bantuan dari sinar matahari, sedangkan apabila terjadi gerhana bulan maka sinar matahari tertutup oleh bumi sehingga sinar matahari tidak sampai ke bulan. Oleh karena itu, seolah-olah sinar bulan hilang.

Dilaksanakannya shalat gerhana bukan tanpa sebab, melainkan ada dalil tersendiri yang berasal dari Nabi Muhammad SAW. Sabda beliau sebagai berikut:
ان الشمس والقمر ايتان من ايات الله لا ينكسفان لموت احد ولا لحيا ته, فاذا رايتموهما فادعوا الله وصلوا حتى تنكشف (متفق عليه)
Artinya: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah, tidak akan mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kehidupan seseorang, jika kalian melihat keduanya (gerhana), maka berdo’alah kepada Allah dan shalatlah hingga pulih gerhananya.” (HR. Bukhari Muslim)
Berdasarkan hadis di atas, Nabi SAW menjelaskan bahwa terjadinya gerhana bukan merupakan sebab dari kelahiran ataupun kematian seseorang, karena pada zaman Nabi SAW dahulu terjadinya gerhana matahari bertepatan dengan hari wafatnya putra beliau, Ibrahim. Pada masa Jahiliyah apabila terjadi gerhana, orang menyangka bahwa ada seorang tokoh yang meninggal.
Dalam Kamus Fiqh yang disusun oleh Team Kajian Islam Ahla_Shuffah 103 Lirboyo disebutkan bahwa shalat gerhana dimulai sejak terjadinya gerhana. Shalat gerhana bulan berakhir ketika bulan kembali terang atau matahari tebit. Sedangkan shalat gerhana matahari berakhir jika matahari kembali pulih menampakkan sinarnya atau matahari mulai tenggelam.
Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat dengan niat shalat khusuf atau kusuf seperti yang telah disebutkan di atas. Mekanisme dalam melakukannya, Kamus Fiqh menyebutkan ada 2 cara, yakni Adna darajat al-shihhah (batas minimal keabsahan), yaitu setiap rakaat dilakukan dengan 2 berdiri, 2 bacaan surah al-Fatihah dan surah-surah pendek, 2 ruku’ tanpa memanjangkan bacaan tasbih pada ruku’. Shalat ini bisa juga dilakukan dengan 2 rakaat dengan 2 berdiri dan 2 ruku’ seperti Shalat Jumat, akan tetapi hal ini tidak mendapatkan fadhilah (keutamaan). Sedangkan yang kedua adalah Al-Kamilah (batas kesempurnaan), yaitu setiap rakaat dilakukan dengan 2 berdiri dan 2 ruku’ dengan memanjangkan bacaan tasbih pada ruku’.
Dalam Kitab Fathul Qarib, disebutkan bahwa tata cara shalat gerhana adalah shalat dua rakaat, dengan takbiratul ihram niat shalat gerhana kemudian membaca doa Iftitah disusul dengan doa Ta’awudz lalu Fatihah dan surah selain Fatihah kemudian ruku’ lalu bangkit dari ruku’ kemudian I’tidal dan dilanjutkan membaca Fatihah kedua kali lalu ruku’ yang lebih ringkas dari yang pertama lalu bangkit dari ruku’ kemudian I’tidal dan dilanjutkan sujud. Kemudian shalat rakaat kedua dengan dua kali berdiri, dua Fatihah, dua surah selain Fatihah, dua ruku’, dua I’tidal, dan dua sujud. Artinya pada setiap rakaat terdapat dua kali berdiri dengan bacaan surah al-Fatihah dan surah yang panjang dan dua ruku’ yang panjang dengan membaca tasbih. Usai shalat, imam berkhutbah sebagaimana Shalat Jumat dalam rukun dan syaratnya dan memotivasi orang-orang dalam dua khutbahnya agar bertaubat dari dosanya dan mengerjakan kebajikan seperti sedekah, dll. Dalam ruku’, hendaknya memanjangkan atau memperbanyak bacaan tasbih. Pada ruku’ pertama paling afdhal (utama) seperti membaca 100 ayat surah al-Baqarah, pada ruku’ kedua seperti membaca 80 ayat surah al-Baqarah, pada ruku’ ketiga seperti membaca 70 ayat surah al-Baqarah, dan pada ruku’ keempat seperti membaca 50 ayat surah al-Baqarah.
Dalam hadis riwayat Bukhari Muslim disebutkan bahwa:
عن ابن عباس رضى الله عنهما قال انخسفت الشمس على عهد النبي صلى الله عليه وسلم فصلى فقام قياما طويلا نحوا من قراءة سورة البقرة ثم ركع ركوعا طويلا ثم رفع فقام قياما طويلا وهو دون القيام الاول ثم ركع ركوعا طويلا وهو دون الركوع الاول ثم سجد ثم قام قياما طويلا وهو دون القيام الاول ثم ركع ركوعا طويلا وهو دون الركوع الاول ثم رفع فقام قياما طويلا وهو دون القيام الاول ثم ركع ركوعا طويلا وهو دون الركوع الاول ثم سجد ثمانصرف وقد تجلت الشمس(متفق عليه)
Artinya: “Dari Ibn Abbas ra. berkata: matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah SAW kemudian beliau shalat, berdiri dengan lama kira-kira membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dengan lama, lalu bangun berdiri dengan lama kurang dari berdiri yang pertama, lalu ruku’ dengan lama kurang dari ruku’ yang pertama, lalu sujud, kemudian berdiri dengan lama kurang dari berdiri yang pertama, lalu ruku’ dengan lama kurang dari ruku’ yang pertama, lalu bangun berdiri dengan lama kurang dari berdiri yang pertama, lalu ruku’ dengan lama kurang dari ruku’ yang pertama, lalu sujud, kemudian berbalik, sementara matahari mulai tampak, lalu beliau berkhutbah. (HR. Bukhari Muslim)
Apabila shalat gerhana dilakukan secara munfarid (sendiri), maka suara kita dalam melafadhkan bacaan-bacaan shalat dilakukan secara sirr (dipelankan), paling tidak kita bisa mendengar sendiri suara kita. Sedangkan apabila shalat gerhana dilakukan secara berjamaah, maka bacaan imam pada shalat gerhana matahari dilakukan secara sirr, sedangkan dalam shalat gerhana bulan dilakukan secara jahr (dikeraskan). Hal ini berdasarkan dua hadis, yakni hadis yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi dari Samurah bin Jundub ra., ia berkata:
صلى بنا النبي صلى الله عليه وسلم فى كسوف لانسمع له صوتا
Artinya: “Kami shalat gerhana matahari bersama Rasulullah SAW dan kami tidak mendengar bacaan beliau.”
Dan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra.:
جهر النبي صلى الله عليه وسلم فى صلاة الخسوف بقراءته
Artinya: “Nabi SAW membaca keras bacaannya dalam shalat gerhana bulan.”

0 komentar:

Makna dan Ketentuan Takbiratul Ihram dalam Shalat






Takbiratul ihram adalah ucapan “ اَللّهُ اَكْبَرُ (Allahu Akbar)” atau takbir pertama kali yang dibaca ketika sholat. Takbiratl ihram juga menjadi pembuka dalam sholat yang kita lakukan. Takbiratul ihram itu bukan mengangkat tangannya ketika takbir. Melainkan ucapan takbirnya. Tetapi bukan berarti mengangkat tangan ketika takbiratul ihram dilarang atau tidak diperbolehkan. Bukan begitu. Mengangkat tangan ketika kita takbiratul ihram itu dianjurkan, tetapi tidak diwajibkan.

Takbiratul ihram atau ucapan takbir disebut juga sebagai “Takbir Taharrum” yang artinya takbir yang mengharamkan.[1] Maksudnya bagaimana?

Maksudnya yaitu ketika seseorang sudah melakukan takbiratul ihram atau mengucapkan takbir, maka dia diharamkan melakukan hal-hal yang sebelumnya boleh dia lakukan sebelum dia sholat. Kenapa diharamkan? Karena perbuatan atau hal-hal tersebut akan membatalkan sholat ketika kita melakukannya dalam sholat. Sehingga diharamkan untuk melakukannya. Misalnya sebelum sholat dia sempat bergurau dengan adiknya, maka setelah dia melakukan takbiratul ihram gurauan itu tidak boleh dilanjutkan lagi ketika sedang sholat, seperti sengol-senggolan yang disengaja. Itu tidak boleh. Karena dapat membatalkan sholatnya. Ingat kita sholat itu beribadah kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Jadi kita harus khusyu’ dan harus bersungguh-sungguh dalam sholat. Jangan malah dibuat main-main seperti senggol-senggolan. Tidak boleh dan itu tidak baik. Oleh karena itu diharamkan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan sholat setelah takbiratul ihram supaya kita khusyu’ dan bisa mengecamkan maknanya dalam sholat, bisa bersungguh-sungguh, sehingga sholat kita akan diterima oleh Allah SWT..


Tetapi jika takbiratul ihram dilakukan berkali-kali diawal memulai sholat dengan niat memulai sholat untuk masing-masing takbir, karena terkadang merasa ragu atau merasa kurang khusyu’ dan akhirnya diulangi lagi untuk memantapkan hati. Bagaimana dengan hal ini?


Maka sholatnya tetap dianggap sah, tetapi pada takbir yang pertama (yang ganjil), dan batal atau keluar dari sholat pada takbir yang kedua (yang genap). Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini, takbir pertama tadi dia sudah memulai atau memasuki sholat, terus merasa ragu-ragu dan akhirnya melakukan takbir yang kedua. Maka ketika dia melakukan takbir kedua ini berarti dia keluar dari sholatnya atau sholatnya batal. Sebab niat memulai sholat dengan takbir yang kedua itu, dia sudah memutuskan apa yang sudah diniatkan pada takbir yang pertamanya tadi. Jadi dia harus melakukan takbir yang ketiga untuk memulai sholat. Tetapi kita tidak boleh melakukan hal yang sedemikian secara berulang-ulang setiap akan melakukan sholat. Karena itu tidak baik. Dan alangkah baiknya rasa ragu-ragu atau was-was itu dihilangkan. Karena rasa ragu dan was-was tersebut akan menjadikan kita tidak khusyu’ dalam sholat.


Kita mungkin pernah mengalami suatu kejadian ketika sholat, seharusnya kita niat sholat Ashar tetapi lupa malah kita niat sholat Dhuhur. Setelah takbiratul ihram baru kita teringat. Kemudian kita ulangi lagi sholatnya. Maka niat yang pertama tadi dianggap tidak sah dan takbir yang pertama tadi dianggap sebagai dzikir yang tidak ada pengaruhnya apa-apa. Jadi yang dipakai niat sholat yang kedua. Itu yang dianggap sah.


Karena takbiratul ihram merupakan salah satu rukun dalam sholat, maka takbiratul ihram ini wajib dilakukan baik oleh imam atau makmum pada saat mereka melakukan sholat berjamaah, atau pun bagi seseorang yang melakukan sholat sendirian. Selain itu suara takbir juga wajib dikeraskan sampai terdengar oleh telinga sendiri ketika sholat. Sedangkan untuk mereka yang sholat berjamaah, maka suara takbir imam harus bisa terdengar oleh dirinya dan juga makmum yang ada di belakangnya.


Jika ada seseorang yang tidak mampu berbicara (cacat) dan dia tidak mampu mengucapkan takbiratul ihram dalam bahasa Arab, maka dia boleh menggunakan terjemahannya dengan bahasa apa pun yang ia bisa atau dikehendaki tetapi dia harus tahu bahwa tidak boleh menyebut yang lain. Maksudnya sebutan yang lain itu artinya harus sama dengan arti dari pada kata: “Allahu Akbar” dan tidak boleh artinya menyimpang dari kata “Allahu Akbar”. Karena itu akan merubah arti dan maknanya.


Al-Mutawalli juga berpendapat yang lalu dipegangi oleh Ulama’ lain: Sebelum takbiratul ihram serta mengangkat tangannya, seyogyanya agar melihat ke tempat bersujud, merundukkan kepalanya lalu mengangkatnya kembali.[2]


Karena hukumnya sunnah ketika mengangkat tangan, maka jika ada seseorang yang salah satu tangannya sakit dan tidak bisa mengangkat kedua-duanya, diperbolehkan untuk mengangkat satu tangan yang tidak sakit itu. Lalu harus bagaimana keadaan telapak tangan kita ketika kita mengangkat tangan? Apakah hanya sekedar mengangkat tangan saja ketika takbiratul ihram?


Tidak hanya sekedar mengangkat tangan saja. Tetapi kita juga perlu memerhatikan bagaimana seharusnya keadaan telapak tangan kita ketika kita melakukan takbiratul ihram. Ketika kita mengangkat tangan ketika itu, maka telapak tangan kita harus terbuka dan tidak boleh menggengam. Kalau menggenggam maka makruh hukumnya. Bagaimana posisinya? Yaitu telapak tangan kita diangkat setinggi sejajar pundak kita. Kemudian ujung jari sejajar dengan penthil (putik) daun telinga.[3] Cara seperti ini disunnahkan karena Ittiba’ Rasul. Kemudian setelah mengangkat tangan ketika takbiratul ihram lalu kita bersedakep, maka itu juga disunnahkan dengan cara pergelangan tangan kanan dipegangi oleh pergelangan tangan kiri. Jadi ketika kita melakukan kesunnahan-kesunnahan itu dalam shalat, maka kita akan mendapatkan pahala. Tetapi untuk orang-orang yang sakit dan tidak bisa mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, maka tidak apa-apa. Karena itu tidak wajib.



Nama : Khasna Usti Fadah
Kelas : Semester 2 PAI B
NIM : 15.10.969
Tugas : Fiqih
Dosen : M. Nasrudin, SHI, MH.



[1] Aliy As’ad, dan dibimbing oleh Moh. Tolchah Mansoer, Terjemahan: Fathul Mu’in 1, (Kudus: MENARA, 1979), hlm. 114.
[2]Aliy As’ad, dan dibimbing oleh Moh. Tolchah Mansoer, Terjemahan: Fathul Mu’in 1, (Kudus: MENARA, 1979), hlm.119.
[3]Ibid....hlm. 119.

0 komentar:

Kondisi Darurat yang Membolehkan Tayamum




Ada beberapa sebab diperbolehkannya tayamum yaitu musafir/orang yang berperjalanan jauh, kemudian orang yang sakit parah atau dikhawatirkan sakitnya akan bertambah parah bila dia berwudhu maka dia diperbolehkan untuk bertayamum. Selanjutnya sebab tidak ditemukannya air sampai batas-batas yang ditentukan, baik waktu ataupun jauhnya tempat yang dia usahakan untuk mencari air.
Imam Syafi’i dan Imam Hambali berpendapat bila dapat air tapi tidak cukup untuk wudhu secara sempurna maka ia wajib mempergunakan air itu pada sebagian anggota wudhu dan sebagian yang lain boleh bertayamum.
Ayat Al-Qur’an yang memperbolehkan bertayamum yaitu Qs. Al-Maidah ayat 6, yang artinya:

“..... Bila kamu sakit atau berada dalam perjalanan, atau salah seorang diantara kamu datang dari tempat buang air besar (jamban) atau menyentuh perempuan (menyetubuhinya), lalu kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah.....”.

0 komentar:

Tempat yang suci untuk solat







ARTI DAN MAKNA TEMPAT YANG SUCI UNTUK SOLAT
 Oleh: Ulfiyatun Nasikhah 


وأما المكان فليكن كل ما يماس بدنه طاهرا (ح) وما لا يماس فلا بأس بنجاسته الا ما يحاذي صدره في السجود ففيه وجهان لانه كالمنسوب إليه) * يجب أن يكون ما يلاقى بدن المصلي وثيابه من موضع الصلاة طاهرا خلافا لابي حنيفة حيث قال لا يشترط الا طهارة موضع القدمين وفي رواية طهارة موضع القدمين والجبهة ولا يضر نجاسة ما عداه الا أن يتحرك بحركته …. ولو صلي علي بساط تحته نجاسة أو على طرف آخر منه نجاسة أو على سرير قوائمه على نجاسة لم يضر خلافا لابي حنيفة حيث قال ان كان يتحرك ذلك الموضع بحركته لم يجز  
                                     
Yang dimaksud suci tempat shalatnya adalah setiap tempat yang bersentuhan dengan badan (juga pakaian) orang shalat, sedang yang tidak bersentuhan tidak bahaya najisnya kecuali tempat yang sejajar dengan dadanya saat sujud yang dalam masalah ini terdapat dua pendapat (yang salah satu pendapatnya menyatakan sujudnya tidak sah) karena tempat tersebut dinisbatkan juga area shalatnya.

Diwajibkan setiap tempat yang bertemu dengan badan, pakaiannya dalam keadaan suci. Berbeda menurut pendapat Abu Hanifah yang hanya mewajibkan sucinya tempat kedua telapak kakinya meski dalam riwayat lain beliau juga menyaratkan sucinya tempat kedua telapak kakinya dan dahinya dan tidak bahaya najis diselain tempat tersebut kecuali tempat tersebut ikut bergerak saat ia bergerak dalam shalatnya…

Bila seseorang shalat sedang dibawah permadaninya, atau ujung tempat lainnya, atau shalat diatas ranjang yang tiang-tiangnya terdapat najis maka tidak bahaya berbeda dengan pendapat Abu Hanifah bila tempat tersebut ikut bergerak saat ia bergerak dalam shalatnya maka tidak boleh. [ Syarh al-Wajiiz IV/34 ].

TEMPAT YANG BOLEH DAN TIDAK BOLEH DIGUNAKAN UNTUK SOLAT

dari Abi Said Al-Khudri radhiallahu anhu berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاًّ لْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ
“Tanah semuanya adalah masjid melainkan kuburan dan tempat kamar mandi (WC).”
Syaikhul Islam rahimahullah berkata: ‘Sanadnya bagus’, Iqtidha As-Shiratal Mustaqim, hal. 332.
Imam Syafi’i berkata:
 Tidak boleh seseorang mengerjakan sholat di atas bumi yg terdapat najis, misalnya kuburan, karena pada kuburan itu bercampur antara daging bangkai serta darah atau apapun yang keluar dari jasad orang yang meninggal. Sementara kamar mandi adalah tempat kotoran dimana air kencing mengalir, juga darah serta najis-najis lain.


Imam Syafii berkata:

Adapun padang pasir (tempat yg luas yg tidak pernah dikuburkan sesuatu padanya) apabila suatu kaum menguburkan seseorang yg meninggal dunia akan tetapi kuburan itu tidak di apa apakan, kemudian seseorang sholat disamping kuburan atau di atasnya, maka saya memandang makruh hal itu. Namun saya tidak menyurunya untuk mengulangi sholatnya, karena dapat diketahui bahwa tanah itu suci dan tidak bercampur dengan sesuatu.
Demikian juga apabila dikuburkan padanya dua mayat atau lebih, dan orang yg sholat tidak mengetahui dg jelas keadaan kuburan itu, maka ia tidak boleh mengerjakan sholat diatas kuburan itu sampai ia yakin bahwa tempat itu bukan kuburan.
Yang membuat tanah menjadi najis adalah dua perkara:
Pertama, sesuatu yang tidak bisa dibedakan sedikitpun apabila bercampur dengan tanah. Kedua, sesuatu yang dapat dibedakan apabila brcampur dengan tanah.
Yang tidak bercampur dgn tanah dan tidak berbeda dengan tanah, itu berbeda hukumnya.
Apabila diketahui dg pasti bahwa itu berbentuk tubuh manusia ug bercampur de tanah seperti bangkai, mayat, tulang belulang, urat-urat, walaupun ia tidak berwujud lagi dikarenakan sudah lama bercampur dengan tanah, maka ia tidak suci walaupun air telah dituangkan padanya.

Demikian juga halnya dengan darah, jamban, serta yg semakna dengannya, dimana kalau berdiri sendiri ia adalah bentuk yang berdiri sendiri. Sesuatu yg seperti air, apabila bercampur dengan tanah, maka ia atau bumi akan menghisapnya, misalnya seperti air kencing, khamer (arak), dan lainnya.

 Ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,
 أن النبي صلى الله عليه وسلم نهى أن يصلي في سبع مواطن: المزبلة، والمجزرة، والمقبرة، وقارعة الطريق، والحمام، ومعاطن الإبل، وفوق ظهر بيت الله تعالى
Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) ka’bah.
 Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara’, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas ka’bah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,
وقيل المقبرة والمجزرة والمزبلة والحمام للنجاسة، وقارعة الطريق قيل لأن فيه حقا للغير فلا تصح الصلاة فيها واسعة كانت أو ضيقة لعموم النهي، ومواطن الإبل بأنها مأوى الشياطين، وفوق ظهر بيت الله فإنه إذا لم يستقبل بطلت الصلاة لعدم الشرط لا لكونها على ظهر الكعبة
Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas ka’bah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

0 komentar: