Tafsir Surat al-An’am (6) Ayat 124



#NgajiTafsir: Surat al-An'am (6) Ayat 124: 

Oleh; K.H. Hilmy Muhammad


وَإِذَا جَاءَتْهُمْ آيَةٌ قَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ حَتَّىٰ نُؤْتَىٰ مِثْلَ مَا أُوتِيَ رُسُلُ اللهِ. اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ. سَيُصِيبُ الَّذِينَ أَجْرَمُوا صَغَارٌ عِنْدَ اللهِ وَعَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا كَانُوا يَمْكُرُونَ
(Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata: "Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.)

Sebab turunnya ayat ini, seorang tokoh kaum Quraysh bernama al-Walid ibn al-Mughirah berkata kepada Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu 'alayh wasallam: "Kalau kenabian itu benar adanya, tentu saya lebih berhak dan lebih layak karena umur saya lebih tua dan harta saya lebih banyak daripada kamu…" Lalu ayat ini diturunkan.

Ayat ini memberi gambaran keengganan masyarakat Makkah menerima Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu 'alayh wasallam sebagai utusan Allah. Sekian banyak bukti dan mukjizat diperlihatkan Nabi agar mereka percaya bahwa beliau adalah utusan Allah, dan bahwa apa yg beliau sampaikan adalah wahyu risalah Allah. Tetap saja mereka tidak mau dan malah memberi persyaratan yg mengada2 agar mereka beriman, yaitu mereka diberi wahyu sebagaimana yg diberikan kepada para rasul.

Menanggapi permintaan mereka yg berlebih-lebihan ini, Allah kemudian menegaskan bahwa urusan menjadikan seseorang sebagai nabi atau rasul itu sama sekali adalah wewenang Allah. Kenabian atau kerasulan itu adalah anugerah Allah.

Allahlah yg berhak memilih si A menjadi rasul, bukan si B, meskipun si A lebih muda, atau lebih miskin daripada si B. Allah yg berhak menetapkan Nabi Yahya sebagai nabi, meskipun beliau kemudian meninggal di usia yg masih sangat muda. Allah juga yg berhak menetapkan Nabi Yusuf dan tidak memilih putra2 Nabi Ya'qub yg lain sebagai Nabi. 

Ayat ini kemudian ditutup dg ancaman bahwa siapapun yg berlaku jahat, yg iri dan yg sombong kepada orang lain, maka akan dihukum dg 2 perkara: pertama, mereka akan mendapatkan kehinaan dan penurunan derajat, dan kedua, mereka akan mendapatkan siksa yg pedih disebabkan karena keburukan tingkah laku mereka. Hukuman balasan ini diberikan agar siapapun sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dg tidak mengulang perbuatan seperti yg telah mereka lakukan.

Antara pelajaran dan intisari yg dapat diambil dari ayat ini adalah:
(1) Motivasi utama para penjahat selalunya adalah rekayasa, makar, akal bulus, tipu daya dan penyesatan. Sedang motivasi utama orang yg baik selalunya adalah kejujuran, ketulusan dan berlaku lurus. 

(2) Inti kesombongan, sebagaimana penjelasan Kanjeng Nabi Muhammad shallallahu 'alayh wa sallam dalam riwayat Imam Muslim, adalah: menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (الكبر: بطَر الحقّ وغمْط الناس).

(3) Yg dimaksud dg risalah adalah ajaran Allah yg menjadi misi utama kenabian. Risalah ini diberikan kepada siapapun yg Allah kehendaki agar disampaikan kepada masyarakat. Risalah ini menjadi hal yg penting untuk terus disampaikan karena ia menjadi inti agama, yg gunanya adalah keseimbangan alam, dan demi kelangsungan, kebaikan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. 

Mengingat sedemikian pentingnya risalah, maka apabila dulu risalah ini diberikan oleh Allah kepada para rasul, dan sekarang para rasul itu sudah wafat, maka keharusan menjaga dan menyampaikannya ada pada kita semua. Para ulama, kiai dan dai wajib menyampaikannya, melanjutkan apa yg telah dilakukan oleh para nabi, sebagaimana tugas itu tersirat dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu alayh wasallam melalui riwayat Imam Abu Dawud dan at-Tirmidzi: "العلماء ورثة الأنبياء" (Para ulama adalah pewaris para nabi).

Tugas itu juga berlaku bagi Anda semua para pelajar dan para santri. Pada diri Anda, kewajiban menjaga risalah Allah berarti mempelajarinya dg sungguh2 dan jangan sampai ketinggalan, atau tercecer dari apa yg semestinya diketahui. Sebagaimana para rasul telah dipilih oleh Allah, maka pada saat ini Anda berarti juga telah dipilih oleh Allah guna membawakan risalahNya, mengemban amanah para nabi dan rasulNya, melanjutkan dan menyebarkan agama. Anda berarti adalah orang pilihan yg diberi kesempatan mendapatkan pelajaran agama Allah, dan kemudian Andalah yg kelak berkesempatan menjaga, melestarikan dan menyiarkan Islam seluas2nya demi keberlangsungan dan kebaikan kehidupan alam semesta. 

Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah dalam menjalankan tugas dan usaha2 kita, amin.
Wallahu a'lamu bish-shawab.

0 komentar: