BEAT: Bacalah Engkau akan Tahu



Saat kecil, kita selalu belajar cara membaca yang baik dan benar. Mengeja huruf demi huruf menjadi satu suku kata dan melisankannya dengan bibir mungil kita. Kemudian merangkai kata demi kata sehingga terbentuk kalimat yang sempurna pula. Ini Budi, Ini Ibu Budi, itu Ani, itu Ibu Ani, dan seterusnya.

Satu dua periode terlewati, dan kita masih sama-sama tidak tahu arti penting dari membaca. Kita pun tak pernah membayangkan seberapa urgen kemampuan membaca bagi kita setelah dewasa. Kita hanya manut saja, mengikuti semua arahan Ibu Guru sambil terus bahagia melisankan huruf demi huruf yang ditulisnya di papan tulis. Tak jarang pula kita berlomba adu cepat membaca deretan huruf yang tertulis di buku pelajaran. Terkadang, sepulang sekolah, kita asik bermain tebak-tebakan untuk mengeja huruf-huruf itu. Siapa yang kalah harus jongkok, itu hukumannya. Engkau yang menunjuk deret hurufnya dan aku yang harus berusaha membaca. Begitu sebaliknya hingga tak jarang kita lupa untuk makan. Jika engkau ingat, aku sering kalah dalam lomba yang kita buat sendiri. Bahkan tak jarang aku harus jongkok hingga permainan selesai. Kemudian engkau dan teman-teman lain mengajari mengeja huruf-huruf yang bagiku terlihat seperti barisan semut itu.

Sekarang, setelah berpuluh tahun lamanya. Sedikit demi sedikit kita mulai paham pentingnya kemampuan membaca. Kita mulai membaca apa saja yang bisa dibaca. Tak peduli penting atau tidak, asal ada tulisan, kita selalu berusaha membacanya. Bahkan, setelah mahir membaca tulisan, tak jarang pula kita berusaha membaca keadaan, membaca gejala-gejala yang ada lalu belajar menarik kesimpulan.

Seringnya membaca membuat kita paham bahwa membaca adalah jendela cakrawala ilmu pengetahuan. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa orang-orang besar di dunia tak pernah berputus asa dalam usahanya. Darinya kita belajar untuk selalu penuh motivasi dalam hidup. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Darinya kita belajar untuk tidak sombong, selalu rendah hati, dan tidak mudah menilai orang lain baik atau buruk. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda antara satu sama lain. Beda suku, beda Agama, beda ras, beda bahasa, beda Negara, dan seluruh perbedaan lainnya. Darinya kita belajar untuk selalu menghormati orang lain. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa ada kehidupan setelah mati. Darinya kita belajar untuk mempersiapkan bekal sebaik-baiknya menuju kehidupan kedua.

Siapapun yang menjadikan membaca sebagai hobi, ia akan hidup di dunia yang luas. Merasa dirinya selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Pola pikirnya tidak sempit, mudah bersahabat dan selalu menghargai perbedaan pendapat. Ia seperti padi, makin berisi makin menunduk. Semakin banyak yang dibaca, ia merasa semakin banyak pula yang belum terbaca. Ia paham bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ia paham bahwa volume akalnya tak mampu menampung seluruh ilmu pengetahuan yang Allah anugerahkan di muka bumi. Pada akhirnya, dengan membaca, ia menjadi pribadi yang pandai bersyukur.

Sahabat, kenangan indah itu masih saja tersimpan rapi di bingkai memoriku. Sangat rapi dan tak lekang oleh waktu. Aku sangat ingin menikmati masa-masa itu lagi bersama kalian. Seperti masa-masa yang lalu. Meski membaca hanya sekedar membaca. Mengeja huruf demi huruf, merangkai kata menjadi kalimat. Namun, aku teramat merindu waktu bersamamu.

Setelah semua itu, akankah membaca tetap menjadi hobi kita???

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 20/01/2018

0 komentar: