Awal Kiai Bisri Menulis





Di negeri ini ada orang yang bernama Bisri Mustofa bin Mustofa Bisri bin Bisri Mustofa. Lengkapnya, M. Bisri Mustofa (anak Gus Mus) bin KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) bin KH. Bisri Mustofa (ayah Gus Mus). M. Bisri Mustofa dan A. Mustofa Bisri itu tinggal di Jl. KH. Bisri Mustofa, Leteh Rembang, Jateng. Mungkin kelak jika M. Bisri Mustofa dikaruniai putra akan diberi nama Mustofa Bisri, sehingga akan ada bayi bernama Mustofa Bisri bin Bisri Mustofa bin Mustofa Bisri bin Bisri Mustofa.Hehehe…

Kawan, boleh kok bingung baca tulisan di atas. Petugas imigrasi Palestina pernah juga “bingung” lihat visa Gus Mus dan keluarganya karena ada nama yang “dibolak-balik” itu. Akibatnya, Gus Mus dan keluarganya sempat ditahan beberapa saat karena nama yang “mencurigakan” itu. Hal itu disampaikan Gus Mus dalam acara talkshow di sebuah stasiun teve nasional beberapa tahun yang lalu.

Baiklah, aku tidak ingin bercerita tentang A. Mustofa Bisri alias Gus Mus. Ingin kucerita tentang sang ayah, Bisri Mustofa–yang selanjutnya kutulis Kiai Bisri. Kiai Bisri adalah salah seorang kiai yang produktif menulis. Tak kurang dari 176 judul buku yang sebagian besar beraksara Pegon-Jawa berhasil ditulisnya. Tafsir al-Ibriz yang hingga kini dapat kita saksikan di toko kitab maupun perpustakaan pesantren menjadi buktiya. Lalu bagaimana awalnya Kiai Bisri menulis?

Pada tahun 1949 Kiai Bisri diangkat sebagai ketua Pengadilan Agama dan kepala Kantor Urusan Agama (KUA) untuk wilayah Rembang. Suatu ketika, ada salah seorang bawahan Kiai Bisri yang meninggal. Lalu Kiai Bisri mengganti orang yang meninggal ini dengan orang lain tanpa pemberitahuan kepada atasannya. Jatah gaji untuk pejabat yang meninggal itu diberikan kepada penggantinya. 

Hal ini berlangsung cukup lama. Lalu suatu ketika, ada orang yang melaporkan hal ini ke polisi dengan tuduhan Kiai Bisri memalsukan tanda tangan dan menggelapkan uang.

Akhirnya Kiai Bisri dibawa ke pengadilan. Kiai Bisri dinyatakan bersalah dengan hukuman tahanan rumah selama 2 tahun. Meskipun Kiai Bisri telah berusaha membela diri dengan retorika yang meyakinkan, pengadilan tetap menyalahkannya. Beliau juga tidak boleh menerima tamu. 

Kiai asal Rembang ini juga harus membayar denda sebesar enam ribu rupiah. Jumlah ini cukup besar saat itu bagi seorang Kiai Bisri. Beliau diberi waktu sebulan untuk mencari uang sebanyak itu. Kiai Bisri memeras otak mencari ide bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu. Ide yang muncul adalah dengan menjual tulisan! 

Maka, Kiai Bisri pun segera menulis. Motivasi untuk membayar denda ini membuat Kiai Bisri begitu bersemangat untuk menulis.

Lalu Kiai Bisri pergi ke Surabaya menuju kantor Penerbit Nabhan, salah satu penerbit buku-buku agama atau buku berbahasa Arab. Setelah dipersilakan masuk, Kiai Bisri segera menyampaikan maksudnya. 

“Perkenalkan nama saya Muhammad Irfan. Saya diperintahkan Syaikhuna KH. Bisri Mustofa untuk menjual naskahnya,“ kata Kiai Bisri dengan meyakinkan.
“Kiai Bisri Mustofa itu siapa?” tanya pimpinan Penerbit Nabhan.
“Beliau itu kiai yang sangat terkenal di Jawa Tengah. Beliau sering ceramah di mana-mana. Semua orang kenal dengan Kiai Bisri Mustofa.”
“Ooo, begitu.. Lalu, mau dijual berapa naskah ini?”
“Duapuluh ribu rupiah.”
“Wah, itu terlalu mahal… Bagaimana kalau delapan ribu rupiah saja?”
“Begini saja, saya sampaikan dulu tawaran Bapak kepada Kiai Bisri Mustofa. Tiga hari lagi saya akan ke sini.”
“Ya boleh, tidak apa-apa.”
“Tapi Pak, boleh saya minta sedikit ongkos untuk kembali ke Rembang?” 
“Ya…” jawab pimpinan Penerbit Nabhan sambil menyerahkan uang dua ratus rupiah.

Muhammad Irfan alias Kiai Bisri sendiri itu segera mohon diri. Kiai Bisri tidak pulang ke Rembang, tapi main ke tempat kawannya di Jombang dan Kediri. Dua hari kemudian, Kiai Bisri kembali menemui pimpinan Penerbit Nabhan dan mengatakan bahwa Kiai Bisri Mustofa menyetujui tawaran dari Penerbit Nabhan. Akhirnya naskah tersebut dijual seharga delapan ribu rupiah. 

Uang yang enam ribu digunakan untuk membayar denda. Nah, sejak saat itulah Kiai Bisri terus menulis. Pemikiran atau ilmu yang dimiliki Kiai Bisri akhirnya tersebar meskipun penulisnya sudah meninggal.

Strategi Kiai Bisri untuk meningkatkan nilai jual tulisannya memang unik. Dengan mengaku menjadi pesuruh Kiai Bisri yang bernama Muhammad Irfan dan menceritakan kalau Kiai Bisri adalah kiai besar yang terkenal, akhirnya Penerbit Nahban tertarik untuk membeli naskah Kiai Bisri. Dan memang Kiai Bisri Mustofa adalah kiai besar.

Kebiasaan menulis Kiai Bisri itu ternyata menular kepada orang-orang di sekitarnya. Adik dan keponakannya juga menulis: KH. Misbah Mustofa dan KH. M. Nafis Misbah. Lalu ketiga putranya juga mengikuti jejaknya: KH. M. Cholil Bisri, KH. A. Mustofa Bisri dan KH. M. Adib Bisri. Kecuali Gus Mus, mereka semua telah menghadap Sang Khaliq. Semoga Gus Mus senantiasa diberi kesehatan. Amin. 

[Sumber: Achmad Zainal Huda, Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH. Bisri Mustofa (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 37-44, 69-71.]

0 komentar: