Benarkah Jenggot Berpengaruh kepada Kecerdasan Akal?




Sebagai muslim jika kita ragu dengan Qaul Ulama, kita tidak boleh langsung mengingkarinya, namun harus mencari dalilnya atau minimal diam karena bukan Ulamanya yang keliru namun kita yang masih bodoh akan ilmu agama. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Umdatussalik :

إذا سمعت كلمات من أهل التصوف والكمال ظاهرها ليس موافقا لشريعة الهدى من الضلال توفق فيها واسأل من الله العليم أن يعلمك مالم تعلم ولا تمل إلى الإنكار الموجب للنكال, لأن بعض كلماتهم مرموزة لاتفهم, وهي فى الحقيقة مطابقة لبطن من بطون القرأن الكريم وحديث النبي الرحيم. فهذا الطريق هوالأسلم القويم, والصراط المستقيم. .


Apabila engkau mendengar beberapa ucapan dari ahli Tashawuf dan ahlul kamal yang mana secara zahir tidak sesuai dengan syariat Nabi yang menyatakan petunjuk dari segala kesesatan, maka bertawaquflah (berdiamlah/jangan berkomentar) engkau padanya dan bermohonlah (berserahlah) kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar engkau di beri akan ilmu yang belum engkau mengetahuinya. Janganlah engkau cenderung mengingkarinya yang mengakibatkan memberi kesimpulan yang buruk. Karena sebagian dari pada kalimah atau perkataan mereka itu adalah isyarat yang tidak mudah difahami.
Padahal hakikat-isinya itu sesuai dengan batinnya dari pada isi al Quran al Karim, dan haditsnya Nabi yang penyayang. Maka jalan ini lebih selamat sejahtera, dan jalan yang lurus.


Sebagaimana saya singgung sebelumnya bahwa Kyai Said adalah Ulama Tasawuf, maka untuk bisa memahami pernyataan2 Kyai zsaid maka harus menggunakan perspektif ilmu tasawuf, bukan dengan kacamata kebencian.
Dan perlu di garis bawahi bahwa Kyai Said tidak pernah mencela mereka2 yg berjenggot, atau mengolok olok jenggot, tapi beliau hanya sekedar mendudukan persoalan jenggot sesuai pada tempat yg semestinya, yakni kalau orang berjenggot maka hendaknya di imbangi dengan prilaku yang santun, arif dan bijaksana, sehingga antara simbol dan prilakunya ada keselarasan.
Jika ada orang berjenggot tapi suka menebar kebencian, kasar, provokatif, suka mengadu domba dsb, maka hendaknya ia malu dan instrospeksi dengan jenggotnya. Dan orang2 seperti ini yg di sindir oleh Kyai Said, bukan yg lainnya.


JENGGOT DAN KECERDASAN


Dalam kitab Akhbar Al-hamqa wal Mughaffilin Libnil Jauzy disebutkan:


قال عبد الملك بن مروان: من طالت لحيته فهو كوسجٌ في عقله. وقال غيره: من قصرت قامته، وصغرت هامته، وطالت لحيته، فحقيقاً على المسلمين أن يعزوه في عقله. وقال أصحاب الفراسة: إذا كان الرجل طويل القامة واللحية فاحكم عليه بالحمق،
...... الى ان قال ......
وقال بعض الحكماء: موضع العقل الدماغ، وطريق الروح الأنف، وموضع الرعونة طويل اللحية. وعن سعد بن منصور أنه قال: قلت لابن إدريس: أرأيت سلام بن أبي حفصة؟ قال: نعم، رأيته طويل اللحية وكان أحمق.
...... الى ان قال ......
. قال زياد ابن أبيه: ما زادت لحية رجل على قبضته، إلا كان ما زاد فيها نقصاً من عقله.


Abdul Malik bin marwan berkata: Barang Siapa panjang jenggotnya maka ia sedikit akalnya, Ulama lain berkata: Barang siapa yang pendek perawakannya, kecil kepalanya dan panjang jenggotnya Maka jelas bagi muslimin untuk menisbatkan pada akalnya. Ashabul firosah berkata: ketika seseorang tinggi perawakan dan panjang jenggotnya maka bisa dipastikan ia orang yang bodoh.


Sebagian Ahli Hikmah mengatakan: Tempatnya akal itu pada otak, jalan jiwa itu melalui hidung dan tempat kebodohan itu pada panjangnya jenggot. Dan dari sa'd bin Manshur mengatakan: aku berkata kepada ibn idris: Apakah kamu tahu sulam bin abi hafshah? dia menjawab: iya, aku melihat panjang jenggotnya dan dia bodoh.
Ziad berkata: Tidaklah tambah lelaki yang jenggotnya melebihi genggammannya, kecuali hanya tambah kurang akalnya(kecerdasannya)


قال بعض الشعراء: متقارب:
إذا عرضت للفتى لـحـيةٌ


وطالت فصارت إلى سرته
فنقصان عقل الفتى عندنـا


بمقدار ما زاد في لحيتـه


Sebagian penyair berkata dengan Bahar Mutaqarib:
Ketika pemuda mempunyai jenggot lebar dan panjang sampai pusarnya, maka akalnya (kecerdasannya) berkurang seukuran panjang jenggotnya (semakin panjang semakin kurang).


Kesimpulan
1. Apa yg di sampaikan Kyai Said bukan pendapat beliau pribadi, melainkan pendapat para Ulama Salaf terdahulu.
2. Kyai Said tidak pernah mengolok olok jenggot, beliau hanya berusaha mendudukan persoalan jenggot secara proporsional
3. Yang di sindir oleh Kyai Said hanya orang2 yg antara prilaku dan jenggotnya tidak serasi, sebab jenggot menurut Kyai Said adalah simbol kearifan dan spiritualitas seseorang.


Jika masih ada yg salah faham atau pura2 salah faham, maka memang berarti yg bersangkutan tidak sedang mencari kebenaran, tapi mencari cari kesalahan orang.
Orang2 seperti ini adalah orang2 yg di hatinya ada penyakit sebagaimana di sindir oleh Alloh dalam firmannya
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا..


Mari saudaraku ciptakan iklim kondusif di tanah Indonesia yang merupaka warisan para ksatria dan Ulama
Mari rekatkan kembali ukhuwah islamiyah .. ukhuwah wathoniyah .. ukhuwah insaniyah demi mewujudkan Negara Indonesia menjadi Negara mercusuar dunia dan rujukan peradaban Nilai keislaman yg menjunjung tinggi keluhuran rahmatan lil alamin.
Amin

By Syarifudin santri ndeso

0 komentar: