Mengapa Umat Islam Menolak Aliran Wahabi?





Salah satu wujud perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah membersihkan ajaran Islam dari kesesatan aliran wahabi yang selalu dibungkus dengan kata-kata "sunnah".

Upaya ini bukan sebuah ta'ashshub (fanatik golongan) tapi bagian dari "ihqaqul haq wa ibthalul batil" (menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan). Upaya pembersihan aliran Wahabi ini tidak hanya diperjuangkan oleh para Kyai NU saja, tapi juga dilakukan oleh para Ulama Timur Tengah sejak kemunculan aliran ini, seperti Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab (kakak kandung pendiri Wahhabi), Syaikh Muhammad al Arabi at Tabbani Mekkah, Syaikh Hayat As Sindi Madinah, Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi Madinah, Sayid Ahmad Zaini Dahlan Makkah, Syaikh Ibnu Abidin Damaskus, dan sebagainya. 

Begitu juga para ulama Timur Tengah pada era abad ke-20 dan ke-21 ini seperti Sayid Abdullah Al Gumari Maroko, Sayid Muhammad bin Alawi Al Maliki Makkah, Habib Zen bin Smaith Madinah, Syaikh Abdullah Al Harari Lebanon, Syaikh Mahmud Said Mamduh Mesir, Sayid Nabil al Ghamri Makkah, dan masih ribuan ulama lagi yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu. Mereka semua adalah para pejuang Aswaja yang gigih menolak aliran wahhabi. Mereka sepakat bahwa wahhabi adalah aliran yang membahayakan aqidah.

Aliran Wahabi ini muncul sekitar tahun 1742 M yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang badui berlagak alim dari Najed (daerah belahan timur dari wilayah Kerajaan Arab Saudi skrg ini, yang di dalamnya ada kota Riyadh), sebuah daerah yang oleh Rasulullah disebut tempat munculnya "Tanduk Setan" dalam banyak haditsnya.

Muhammad bin Abdul Wahhab ini bekerja sama dengan kepala suku yang ambisius yaitu Muhammad bin Sa'ud. Kedua orang yang berasal dari daerah Tanduk Setan ini menyebarkan pahamnya dengan kekerasan dan menumpahkan darah umat Islam. Mereka dibantu penuh oleh Kerajaan Inggris dan sekutunya, sampai pada tahun 1924 mereka berhasil menaklukkan Hijaz yang di dalamnya ada kota Makkah dan Madinah dan menjajahnya sampai sekarang. Sehingga berdirilah Kerajaan Arab Saudi yang raja pertamanya bernama Abdul Aziz bin Abdu Rahman Alu Sa'ud. Sejak itu di Saudi dikenal dua keluarga yang memiliki kekuasaan penuh yaitu Alu Saud dalam bidang pemerintahan dan Alu Syaikh dalam bidang keagamaan. Alu Sa'ud berarti keturunan Muhammad bin Sa'ud dan Alu Syaikh berarti keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Tidak sedikit orang awam yang menganggap bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan Wahabi itu hanya perbedaan dalam masalah khilafiyah furu'iyah belaka, sebagaimana perbedaan antar mazhab dalam fiqh. Padahal jika kita mau mendalami ilmu aqidah lebih lanjut, maka kita akan mngetahui bahwa ini adalah persoalan perbedaan aqidah yang sangat serius dan membahayakan.


Secara garis besar penyimpangan Wahabi adalah :

1. Tajsim : mereka meyakini bahwa Allah itu berjisim, berbentuk, bertempat, berada pada arah tertentu dsb.
2. Tabdi' : mereka berpendapat bahwa semua bid'ah itu sesat, sehingga mereka mudah membid'ah umat Islam yang tidak sejalan. Bahkan sesama Wahabi pun sering saling membid'ahkan.
3. Tadhlil : mereka mudah menganggap sesat amalan orang lain yang tidak sejalan dengan pendapat mereka, sehingga banyak amalan-amalan yang masyru' (disyari'atkan), tapi dianggap sesat oleh mereka.
4. Takfir : mereka mudah mengkafirkan orang lain yang tak sejalan dalam perkara-perkara yang sebenarnya tidak menyebabkan kekufuran.
5. Dan sebagainya.


Semoga Allah segera mengembalikan Makkah, Madinah dan seluruh tanah Hijaz dari tangan penguasa Wahabi kepada umat Islam.


Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari kesesatan dan fitnah-fitnah Wahabi.
Amin.
---
Ditulis oleh Dafid Fuadi

0 komentar: