Khutbah Jumat: Islam dan Kedamaian




وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَأَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتَّى تَفِيْءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوْا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ (٩) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ (١٠)

“Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kalian damaikan antara keduanya. Jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kalian perangi sampai kembali kepada perintah Allah. Jia dia telah kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan hendaklah kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Oleh sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah pada Allah, agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 9-10)


Ayat di atas menjelaskan tentang anjuran mendamaikan (rekonsiliasi) pihak-pihak yang bertikai. Inilah prinsip yang harus dijadikan pedoman oleh kaum muslim dalam menyikapi hubungan sosial, baik hubungan sesama muslim atau pun hubungan sesama anak bangsa.


Tak pelak, dalam hidup ini pasti ada pertikaian di antara manusia. Tugas kaum muslim adalah berupaya menjaga kedamaian dalam hidup ini dengan berusaha mendamaikan segala bentuk konflik atau pertikaian.


Tak ada kebaikan sama sekali dalam pertikaian dan konflik. “Menang jadi arang kalah jadi abu”. Sudah banyak contoh masyarakat yang bertikai dan tenggelam dalam konflik kemudian hanya menyisakan kesedihan yang sangat mendalam.


Sebagai agama yang bertujuan menyebarkan rahmat (cinta dan kedamaian), tentu Islam sangat membenci segala bentuk konflik, apa lagi perang. Perang dalam Islam diperkenankan hanya dalam upaya menciptakan kedamaian. Maka, yang boleh dimusuhi dan diperangi hanya orang-orang yang zalim, yang membuat kerusakan di muka bumi ini.


Berdasarkan ayat di atas, perang pun hanya diperbolehkan untuk mengembalikan mereka yang zalim ke jalan yang benar dengan menaati perintah Allah untuk hidup damai. Perang dalam Islam bukan untuk membasmi manusia, tapi untuk menegakkan perdamaian di bawah prinsip keadilan.


Apa yang menyebabkan terjadinya petikaian dan konflik? Pada ayat selanjutnya (QS. Al-Hujurat: 11), Al-Quran menyebutkan beberapa sebab terjadinya pertikaian di antara manusia.
Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sebuah kelompok merendahkan kelompok yang lain. Bisa jadi (mereka) yang direndahkan itu ternyata lebih baik dari mereka (yang merendahkan). Dan jangan pula kelompok perempuan merendahkan kelompok perempuan lainnya, Bisa jadi (mereka) yang direndahkan itu ternyata lebih baik. Dan janganlah suka mencela diri kalian sendiri dan jangan memanggil dengan julukan yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)


Ayat ini menjelaskan salah satu sebab terjadinya pertikaian atau konflik, yaitu sikap merendahkan kelompok lain atau orang lain. Sikap merendahkan pihak lain ini sangat dilarang orang Islam, karena akan berujung pada ketidakharmonisan dalam hidup. Setiap orang atau kelompok, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menganggap pihak lain lebih rendah atau lebih buruk adalah sikap yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup. Karena, tak jarang, pihak yang dianggap rendah ternyata lebih baik dibanding pihak yang merendahkan. Dan, merendahkan pihak lain pun sudah cukup menjadi bukti kerendahan atau kehinaan karakter.


Dalam ayat selanjutnya, Islam menjelas sebab lain dari terjadinya pertikaian dan konflik di tengah masyarakat. Allah befirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging (mayat) saudaranya yang sudah mati? Maka, tentu kalian merasa jijik akan itu. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)


Prasangka, mencari-cari keburukan dan menggunjing adalah sikap yang sangat dilarang oleh Islam. Semua itu melahirkan kehidupan yang tidak harmonis antar sesama, bahkan bisa menyebabkan terjadi konflik yang merugikan berbagai pihak.


Sekarang ini kita hidup di era digital dan teknologi yang sangat canggih. Jutaan orang sudah memiliki berbagai gawai dan smartphone di tangan masing-masing. Arus informasi begitu mudah didapat dengan hanya sekali tekan tombol di gawai yang ada dalam genggaman tangan. Namun, kecanggihan ini pun dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan informasi yang tidak valid atau hoax. Oleh sebab itu, demi menjaga kehidupan yang harmonis dan agar terhindar dari dosa, kita harus tetap bersikap kritis dan rasional dalam menyikapi segala informasi.


Segala informasi harus dipertanyakan kebenarannya. Jika kita tak mampu membuktikan kebenaran sebuah informasi, maka sebaiknya bersikap diam dengan tidak ikut menyebarkannya.


Kecanggihan teknologi ini harus disikapi dengan bijak, sehingga kita dapat mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya, bukan malah terjerumus menjadi korban dari informasi yang tidak baik dan tidak benar.


Dalam hal ini, sebuah hadits Nabi Saw. harus kita jadikan pegangan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam; barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia menghormati tetangganya; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Menerima informasi yang belum tentu benar, sebaiknya kita diam dengan tidak memberikan komentar atau tidak menyebarkan informasi tersebut. Kita boleh dan bahkan dianjurkan menyebarkan informasi yang sudah pasti kebenarannya dan pasti mengandung kebaikan. Jika informasi itu belum tentu benar, apa lagi mengadung unsur fitnah dan adu domba, maka sikap terbaik yang harus diambil adalah diam dan tidak menyebarkan.


Fitnah, dusta dan adu domba adalah haram dalam Islam. Jika kita ikut menyebarkannya, berarti kita ikut dalam melakukan hal-hal yang diharamkan oleh agama Islam. Semakin banyak orang yang menerima informasi fitnah, dusta dan adu domba yang kita sebarkan, maka semakin banyak dosa kita di sisi Allah Swt. Na’udzu billahi min dzalik.


Terakhir, mari kita renungkan hadits Nabi Muhammad Saw. berikut ini:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ


“Sesungguhnya setan telah putus asa dari (mendapatkan) penyembahan dari orang-orang yang shalat di jazirah Arab. Akan tetapi ia akan selalu mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim)


Adu domba adalah tugas yang selalu dijalankan oleh setan untuk menciptakan kekacauan dan konflik dalam kehidupan manusia. Semoga kita terhindar dari segala keburukan dan selalu mendapatkan bimbingan hingga dapat berjalan di atas petunjuk ajara Islam yang baik dan benar. Semoga Allah selalu melindungi bangsa ini dari segala permusuhan dan konflik yang merugikan semua. Aamiin.
Wallahu a’lam.

Taufik Damas

0 komentar: