Ulama Sepakat bahwa Keharaman Isbal Hanya Jika Sombong




Raja Salman dari Saudi Arabia memanjangkan jubahnya (isbal) bersama jemaah di Masjid Istiqlal Jakarta. Foto: liputan6.com.


Isbal adalah mengenakan celana, jubah, atau kain yang menutup mata kaki. Banyak orang yang memahami bahwa isbal hukumnya haram. Banyak pula orang yang berlebih-lebihan dalam memandang perkara isbal ini hingga menyalah-nyalahkan mereka yang tidak isbal.

Apakah benar seperti itu? Tulisan ini membahas hal tersebut. Tulisan ini dikutip secara verbatim dari Ust. Abdul Somad, Lc, M.A. dalam buku 37 Masalah Populer.



Hadits Pertama:
Dari Abu Dzar, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Ada tiga yang tidak akan diajak bicara oleh Allah Swt pada hari kiamat, Allah Swt tidak memandang mereka, tidak mensucikan mereka dan bagi mereka azab yang menyakitkan”. Rasulullah Saw mengatakannya tiga kali. Abu Dzar berkata, “Mereka itu sia-sia dan merugi. Siapakah mereka wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Al-Musbil (orang yang memanjangkan jubah/kain/kaki celana menutupi mata kaki), orang yang mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang menjual barangnya dengan sumpah dusta”. (HR. Muslim).


Hadits Kedua:

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda, “Kain yang di bawah dua mata kaki, maka di dalam neraka”. (HR. al-Bukhari).

Pendapat Ulama Memahami Hadits-Hadits Ini:

Pendapat Imam Syafi’i:

 النووي الإسبال تحت الكعبين للخيلاء فإن كان لغيرها فهو مكروه وهكذا نص الشافعي على العرق بين الجر للخيلاء
ولغير الخيلاء


Imam an-Nawawi berkata, “Makna Isbal adalah memanjangkan kain di bawah kedua mata kaki, hanya bagi orang yang sombong. Jika pada orang yang tidak sombong, maka makruh. Demikian disebutkan Imam Syafi’i secara nash tentang perbedaan antara orang yang memanjangkan kain karena sombong dan orang yang memanjangkan kain tetapi tidak sombong142.


Pendapat Imam al-Bukhari:
Imam al-Bukhari memuat satu bab khusus dalam Shahih al-Bukhari, Kitab: al -Libas (pakaian),


َباب َمْن َجَر ِإَزارَُه ِمْن غَْيِر  خيَلا َء

Bab: Orang Yang Memanjangkan/Menyeret Kainnya Tanpa Sifat Sombong.

Ini membuktikan bahwa Imam al-Bukhari membedakan antara orang yang memanjangkan pakaian dengan sifat sombong dan tanpa sifat sombong.

Dalam bab ini Imam al-Bukhari memuat hadits yang mencela orang yang memanjangkan kain dengan sifat sombong, Rasulullah Saw bersabda,

“Siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah Swt tidak akan memandangnya pada hari kiamat”.
Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu bagian kainku terujulur (panjang), melainkan bahwa aku tidak berniat sombong”.

Rasulullah Saw berkata, “Engkau tidak termasuk orang yang melakukannya karena sifat sombong”. (HR. al-Bukhari).

عَنْ َأِبي هَُرْيَرَة َأَن َرسُولَ َّللاِ صََلى َّللاُ عَلَْيِه َوسََلَم َقالَ َال َيْنظُُر َّللاُ َيْوَم ْالِقَيامَِة ِإَلى َمْن جََر ِإَزاَرُه َبطًَرا

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda, “ Allah Swt tidak memandang pada hari kiamat kepada orang yang memanjangkan kainnya karena angkuh/sombong”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah Saw dengan kedua telinga saya ini, beliau bersabda, ‘Siapa yang memanjangkan kainnya, tidak menginginkan dengan itu melainkan keangkuhan, maka sesungguhnya Allah Swt tidak akan melihatnya pada hari kiamat’.” (HR. Muslim).



Pendapat Imam an-Nawawi:
وأما قوله صلى هللا عليه و سلم المسبل ازاره فمعناه المرخى له الجار طرفه خيالء كما جاء معسرا فى الحديث اآلخر ال ينظر هللا إ لى من يجر ثوبه خيالء والخيالء الكبر وهذا التقييد بالجر خيالء يخصص عموم المسبل ازاره ويدل على أن المراد بالوعيد من جره خيالء وقد رخص النبى صلى هللا عليه و سلم فى ذلك البى بكر الصديق رضى هللا عنه وقال لست منهم اذ كان جره لغير الخيالء


“Orang yang memanjangkan kainnya”. المسبل ازاره Adapun makna sabda Rasulullah Saw: Maknanya adalah: orang yang memanjangkan kainnya, menyeret ujungnya karena sombong, ال ينظر هللا إلى من يجر ثوبه خيالء : sebagaimana dijelaskan oleh hadits lain “Allah Swt tidak memandang kepada orang yang memanjangkan kainnya karena sombong”.


Makna kata الخيالء adalah sombong.
Kata ‘memanjangkan’ yang bersifat umum diikat dengan kata ‘sombong’, untuk mengkhususkan orang yang memanjangkan kain yang bersifat umum. Ini menunjukkan bahwa yang diancam dengan ancaman yang keras adalah orang yang memanjangkan kainnya karena sombong. Rasulullah Saw memberikan keringanan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq dengan ucapan, “Engkau tidak termasuk bagian dari mereka”. Karena Abu Bakar memanjangkan pakaiannya bukan karena sombong143.

Imam an-Nawawi membuat satu bab khusus dalam kitab Riyadh ash-Shalihin:

باب صعة طول القميص والكُم واإلزار وطرف العمامة وتحريم إسبال شيء من ذلك على سبيل الخيالء وكراهته من غير خيالء

Bab: Sifat panjangnya gamis, ujung gamis, kain dan ujung sorban. Haram memanjangkan semua itu untuk kesombongan, makruh jika tidak sombong 144.


Pendapat al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
وفي هذه األحاديث أن إسبال اإلزار للخيالء كبيرة وأما اإلسبال لغير الخيالء فظاهر األحاديث تحريمه أيضا لكن استدل بالتقييد في هذه األحاديث بالخيالء على أن اإلطالق في الزجر الوارد في ذم اإلسبال محمول على المقيد هنا فال يحرم الجر واالسبال إذا سلم من الخيالء


Dalam hadits-hadits ini disebutkan bahwa memanjangkan kain bagi orang-orang yang sombong adalah dosa besar. Adapun memanjangkan kain bagi yang tidak sombong, zhahir hadits ini mengandung makna haram juga, akan tetapi diikat dengan hadits-hadits lain yang mengandung makna sombong. Kalimat yang bersifat umum dalam kecaman tersebut mengandung makna ikatan: bagi orang yang sombong. Oleh sebab itu tidak haram menyeret dan memanjangkan kain jika selamat dari sifat sombong145.


وهذا اإلطالق محمول على ما ورد من قيد الخيالء فهو الذي ورد فيه الوعيد باالتعاق

- Penggunaan kalimat yang bersifat umum ini mengandung makna ikatan, diikat dengan hadist hadits yang mengikat dengan sifat sombong, maka orang yang memanjangkan kain/jubah/kaki celana dengan sifat sombong, itulah yang diancam dengan ancaman yang keras, disepakati ulama tentang ini146. 


Pendapat Imam as-Suyuthi:
المسبل إزاره المرخي له الجار طرفيه خيالء فهو مخصص بالحديث اآلخر ال ينظر هللا إلى من جر ثوبه خيالء وقد رخص

صلى هللا عليه و سلم في ذلك ألبي بكر حيث كان جره لغير الخيالء
Makna kata: المسبل إزاره adalah: orang yang memanjangkan kainnya, orang yang menyeret ujung kainnya karena sombong. Hadits ini dikhususkan dengan hadits lain: 

 ال ينظر هللا إلى من جر ثوبه خيالء


"Allah tidak memandang kepada orang yang memanjangkan kainnya karena sombong”. Rasulullah Saw memberikan keringanan kepada Abu Bakar, karena Abu Bakar memanjangkan kainnya bukan untuk sombong147.


Pendapat Imam asy-Syaukani:

وظاهر التقييد بقوله ) خيالء ( يدل بمعهومه أن جر الثوب لغير الخيالء ال يكون داخال في هذا الوعيد


(sombong), ini menunjukkan pemahaman bahwa orang yang خيالء Zhahir ikatan dengan kata: memanjangkan kain tetapi tidak sombong, maka tidak termasuk dalam ancaman hadits ini148.


Pendapat Imam ash-Shan’ani:

وتقييد الحديث بالخيالء دال بمعهومه أنه ال يكون من جره غير خيالء داخال في الوعيد
Hadits ini diikat dengan kata خيالء (sombong), ini menunjukkan pemahaman bahwa orang yang memanjangkan kain tanpa sombong tidak termasuk dalam ancaman hadits ini149. 


Pendapat Syekh DR.Yusuf al-Qaradhawi:

Salah satu metode memahami hadits dengan baik adalah:

جما األحاديث الواردة في الموضوع الواحد

Menggabungkan beberapa hadits dalam satu tema.
Hadits tentang Isbal, banyak pemuda Islam yang bersemangat sangat mengingkari orang lain yang tidak memendekkan pakaiannya di atas mata kaki. Bahkan mereka terlalu berlebihan dalam bersikap sampai pada tingkat menjadikan perbuatan memendekkan kaki celana sebagai syi’ar Islam atau kewajiban yang besar dalam Islam. 

Jika mereka melihat seorang ulama atau da’i tidak memendekkan kaki celana seperti yang mereka lakukan, mereka menuduhnya -bahkan secara terang-terangan- tidak faham agama!

Sesungguhnya hanya mencukupkan diri dengan makna zhahir satu hadits saja, tanpa melihat hadits-hadits lain yang terkait dengan tema tertentu secara keseluruhan, itulah yang 
seringkali membuat orang terjerumus dalam kekeliruan, jauh dari kebenaran dan tujuan yang dimaksud hadits Rasulullah Saw150.


Hubungan Kesombongan dan Memanjangkan Pakaian/Jubah.

Memanjangkan jubah merupakan tradisi kesombongan raja-raja Romawi dan Persia masa silam. Untuk menunjukkan keangkuhan dan kesombongan mereka, maka para penguasa itu memanjangkan jubah yang ujungnya dibawa oleh para pengawal dan dayang-dayang. Tradisi itu masuk juga ke dalam masyarakat Jahiliyah. Dalam satu bait sya’ir jahiliyah dikatakan,


ريمشت دجلا دنع يف ؤرما ينا ... ارجتعم بوثلا رج كنرغي لاف


Janganlah engkau terpukau dengan panjangnya jubah dan sorban yang terurai. Sesungguhnya aku juga orang yang memiliki pakaian yang panjang151.

Tradisi keangkuhan dan kesombongan itulah yang dibantah Rasulullah Saw.
Catatan

142 Al-Haifzh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, juz.X (Beirut: Dar al- Ma’rifah, 1379H), hal.263.
143 Imam an- Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim Ibn al-Hajjaj, juz.II (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al- ‘Araby, 1392H), hal.116.

144 Imam an-Nawawi, Riyadh ash-Shalihin, juz.I, hal.425. 145 Al-Haifzh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, op. cit., juz.X, hal.263. 146 Ibid., hal.257.
147 Imam as-Suyuthi, Syarh as-Suyuthi ‘ala Muslim, juz.I, hal.121. 148 Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad asy-Syaukani, Nail al-Authar min Ahadits Sayyid al-Akhyar Syarh Muntaqa al-Akhbar, juz.II (Idarah ath- Thiba’ah al-Muniriyah), hal.112. 

149 Imam Muhammad bin Isma’il al-Amir al-Kahlani ash-Shan’ani, Subul as-Salam Syarh Bulugh al- Maram, juz.IV (Maktabah al-Bab al-Halaby, 1379H), hal.158. 

0 komentar: