Dapatkah Orang yang Sudah Meninggal Melihat Tingkah Keluarganya yang Masih Hidup?



Dalam kitab "Ar-Ruh" Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah menukil berbagai dalil bahwa orang yang meninggal dunia mengetahui ketika diziarahi dan menjawab salam orang yang menziarahinya. Nabi SAW. bersabda, "Jika seseorang menziarahi kuburan saudaranya, dan duduk dekat kuburannya, maka ia (yang sudah meninggal dunia) akan merasa tenang dan menjawab salamnya, sampai si peziarah pergi meninggalkan kuburan."

Dalam buku tersebut Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah bahkan memaparkan beberapa pendapat dan dalil bahwa perbuatan orang-orang yang masih hidup disiarkan secara langsung kepada kerabatnya yang sudah wafat. Jika melihat perbuatan keluarganya itu bagus, mereka bergembira dan berbahagia seperti menonton film menyenangkan di bioskop.

Ibnu Qoyyim membagi ruh di akhirat itu menjadi dua: ruh yang disiksa dan ruh yang bahagia karena mendapatkan berbagai kenikmatan.

Ruh-ruh yang disiksa akan tenggelam dalam siksaan hingga mereka tidak sempat saling bertemu atau mengunjungi, bahkan untuk sekedar mengingat orang lain. Sedangkan ruh-ruh yang berbahagia dengan berbagai nikmat dalam keadaan bebas tak terbelenggu hingga mereka bisa saling berkunjung, bahkan berbincang tentang pengalaman masing-masing ketika di dunia.

Selain itu, Ibnu Qoyyim menegaskan bahwa orang yang masih hidup bisa bertemu dengan ruh orang yang sudah mati melalui mimpi, bahkan bisa berbincang.

Sahabat Nabi Saw. pernah mengalami hal itu: ada dua sahabat Nabi Saw. yang berteman sangat akrab, yaitu Auf ibn Malik dan Sha'b ibn Jutsamah. Keduanya pernah membuat kesepakatan: jika salah satu dari mereka meninggal dunia lebih dahulu, maka (jika bisa) yang meninggal dunia harus datang di dalam mimpi yang masih hidup.

Sha'b ternyata meninggal dunia lebih dahulu. Pada suatu malam ia datang ke dalam mimpi Auf, dan Auf melihatnya kemudian mereka berbincang:

Auf bertanya, "Bagaimana rasanya di sana?"

Sha’ab, "Alhamdulillah, dosa-dosaku diampuni".
Dalam mimpi itu Auf melihat bercak hitam di leher Sha'b.

Auf, "Kenapa ada bercak hitam di lehermu?"

Sha’ab, "Aku masih punya utang pada seorang Yahudi sebesar 10 Dinar. Belum sempat aku bayarkan. Maka, tolong bayarkan utangku, dan uangnya kamu ambil di sebuah kotak di bagian pojok rumahku.
Ketahulilah, wahai Auf. Semua yang terjadi pada keluargaku sampai kepadaku, bahkan soal kucing kami yang mati beberapa hari lalu."

Auf lantas terbangun dengan perasaan antara percaya atau tidak percaya soal mimpinya itu: antara nyata dan tidak. Ia segera bergegas ke rumah Sha’ab untuk membuktikan mimpinya. Sampai di rumah Sha’ab, ternyata apa yang dikatakan Sha’ab dalam mimpi itu benar. Uang 10 Dinar ditemukan di sebuah kotak di pojok rumah. Auf lantas mengambil uang tersebut untuk dibayarkan pada pemilik piutang, orang Yahudi.

Auf pun bertanya pada orang Yahudi itu, apa benar Sha'b berutang 10 Dinar padanya, dan belum sempat dibayar? Orang Yahudi itu membenarkan.

Auf lantas kembali ke rumah Sha'b, dan bertanya pada Istri Sha'b, “Apakah terjadi sesuatu di rumah ini?” Istri Sha'b menjawab, “Tidak terjadi apa-apa, kecuali kucing yang mati beberapa hari lalu.”

Taufiq Damas

0 komentar: