Inilah Dalil Puasa Nishfu Sya'ban dan Salat Sunnah Nishfu Sya'ban




Nishfu Sya'ban atau tanggal 15 bulan Sya'ban dianggap sebagai salah satu hari yang sakral dalam tradisi Islam. Tanggal ini dipercaya sebagai tanggal pelaporan amal perbuatan umat manusia selama satu tahun. Benarkah demikian? 

Dalam satu riwayat yang disampaikan oleh Imam Turmudzi Rasulullah bersabda, 

“Sesungguhnya di bulan Sya’ban amal dilaporkan. Maka saya senang jika amal saya dilaporkan sementara saya dalam keadaan berpuasa”. Dan ada laporang tiap pekan, Senin dan kamis, seperti yang terdapat dalam riwayat Muslim. Juga ada laporan harian, yaitu amal di siang hari akan dilaporkan saat sore sebelum malam, dan amal malam dilaporkan di pagi hari sebelum siang. Laporan harian ini lebih khusus (terperinci) dari pada laporan tahunan. Dan jika ajal telah habis, maka seluruh amal selama hidup dilaporkan. (Tahdzib Sunan Abi Dawud 2/354)

Jadi memang ada laporan amal harian, pekanan, dan tahunan. Kelak ketka Sebab itulah, Rasul senang jika saat laporan amal, beliau dalam keadaan berpuasa dan memperbanyak amal.

Ada banyak amal yang disyariatkan untuk diperbanyak saat Nishfu Sya'ban, di antaranya adalah puasa Nishfu Sya'ban, salat sunnah pada malam Nishfu Sya'ban, dan membaca al-Quran, khususnya Surat Yasin dan doa-doa tertentu.

Apa hukumnya?

Tentu saja sunnah. Apakah ada dalilnya. Tentu saja ada. 


Dalil Salat Sunnah pada Malam Nishfu Sya'ban

“Dari ‘Ala’ bin Harits bahwa Aisyah berkata: “Rasulullah bangun di tengan malam kemudian beliau salat, kemudian sujud sangat lama, sampai saya menyangka bahwa beliau wafat. Setelah itu saya bangundan saya gerakkan kaki Nabi dan ternyata masih bergerak.

Kemudian Rasul bangkit dari sujudnya setelah selesai melakukan shalatnya, Nabi berkata “Wahai Aisyah, apakah kamu mengira Aku berkhianat padamu?”, saya berkata “Demi Allah, tidak, wahai Rasul, saya mengira engkau telah tiada karena sujud terlalu lama.” Rasul bersabda “Tahukauh kamu malam apa sekang ini?” Saya menjawab “Allah ldan Rasulnya yang tahu”. 

Rasulullah bersabda “ini adalah malam Nishfu Sya’ban, sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memperhatikan hamba-hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Allah lakan mengampuni orang-orang yang meminta ampunan, mengasihi orang-orang yang meminta dikasihani, dan Allah ltidak akan memprioritaskan orang-orang yang pendendam”. (HR Al Baihaqi fi Syuab Al Iman no 3675, menurutnya hadits ini Mursal yang baik)


Imam Ibnu Taimiyah juga pernah ditanyai soal shalat pada malam nishfu Sya’ban. Ia menjawab: 

"Apabila seseorang shalat sunah muthlak pada malam nishfu Sya’ban sendirian atau berjamaah, sebagaimana dilakukan oleh segolongan ulama salaf, maka hukumnya adalah baik. Adapun kumpul-kumpul di masjid dengan shalat yang ditentukan, seperti salat seratus raka’at dengan membaca surat al Ikhlash sebanyak seribu kali, maka ini adalah perbuata bid’ah yang sama sekali tidak dianjurkan oleh para ulama”. (Majmú’ Fatáwá Ibnu Taymiyyah, II/469)


Dalil Puasa Nishfu Sya'ban

Puasa Nishfu Sya'ban tidak ada larangan. Hal ini karena puasa ini masuk puasa sunnah pada ayyam al-bidh (13, 14, dan 15 setiap bulan). 

Dalil lebih lengkap tentang hal Nishfu Sya'ban bisa gratis diunduh di buku Mana Dalil Nishfu Sya'ban.


0 komentar: