Bolehkah Imam Mendoakan Dirinya Sendiri?



Bagaimana hukum seorang imam yang ketika berdoa mendoakan dirinya sendiri (tidak menambahkan makmumnya). Atau, imam yang menggunakan mutakallim wahdah bukan mutakallim ma'al ghair.

Imam Al-Hafidz Zainuddil Al-Iraqi, maha guru dari Al-Hafidz Ibnu Hajar memberikan jawaban.

Pada intinya kata beliau. Di dalam shalat ada 2 bentuk doa, ada (1) doa yang dibaca sendiri-sendiri seperti doa iftitah, doa ta'awwudz sebelum salam dan sebagainya. Ada juga (2) doa yang hanya imam membaca dan makmum membaca amin, seperti Qunut. Pada posisi ini imam dianjurkan membaca doa untuk semua jamaah.

Al-Hafidz Al-Iraqi berkata:

ﻭﻳﺘﺄﻛﺪ اﺳﺘﻴﻌﺎﺏ اﻟﺤﺎﺿﺮﻳﻦ ﻋﻠﻰ ﺇﻣﺎﻡ اﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﻓﻼ ﻳﺨﺺ ﻧﻔﺴﻪ ﺩﻭﻥ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ
 
Dianjurkan bagi imam jamaah untuk mendoakan bagi para hadirin keseluruhan, maka jangan imam tersebut mengkhususkan dirinya tanpa mendoakan makmum

ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﺃﺑﻮ ﺩاﻭﺩ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺛﻮﺑﺎﻥ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - «ﻻ ﻳﺆﻡ ﺭﺟﻞ ﻗﻮﻣﺎ ﻓﻴﺨﺺ ﻧﻔﺴﻪ ﺑﺪﻋﻮﺓ ﺩﻭﻧﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﻓﻌﻞ ﻓﻘﺪ ﺧﺎﻧﻬﻢ» ﻗﺎﻝ اﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ.

Berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi dari Tsauban bahwa Nabi bersabda: "Janganlah seseorang menjadi imam bagi kaum lalu ia mengkhususkan dirinya dengan doa tanpa mendoakan mereka. Jika ia melakukannya maka ia telah mengkhianati mereka" (Tirmidzi menilai hadis hasan)

ﻭاﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻥ ﻫﺬا ﻣﺤﻤﻮﻝ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻻ ﻳﺸﺎﺭﻛﻪ ﻓﻴﻪ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻮﻥ ﻛﺪﻋﺎء اﻟﻘﻨﻮﺕ ﻭﻧﺤﻮﻩ ﻓﺄﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﺪﻋﻮ ﻛﻞ ﺃﺣﺪ ﺑﻪ ﻛﻘﻮﻟﻪ ﺑﻴﻦ اﻟﺴﺠﺪﺗﻴﻦ اﻟﻠﻬﻢ اﻏﻔﺮ ﻟﻲ ﻭاﺭﺣﻤﻨﻲ ﻭاﻫﺪﻧﻲ، ﻓﺈﻥ ﻛﻼ ﻣﻦ اﻟﻤﺄﻣﻮﻣﻴﻦ ﻳﺪﻋﻮ ﺑﺬﻟﻚ ﻓﻼ ﺣﺮﺝ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻓﻲ اﻹﻓﺮاﺩ

Secara dzahir hadis ini diarahkan pada doa yang tidak dalam posisi doa bersama antara imam dan makmum, contohnya doa Qunut dan lainnya. Jika masing-masing imam dan makmum berdoa sendiri seperti doa antara 2 sujud "Ya Allah ampunilah saya, kasihanilah saya dan berilah saya hidayah", yang semua makmum membaca doa itu, maka boleh bagi imam berdoa untuk dirinya sendiri" (Tharh At-Tatsrib  2/137).

Ma'ruf Khozin, Aswaja NU Center Jatim

0 komentar: