Tata Cara Memasukkan Jenazah ke Dalam Liang Lahat


Nama :Tomi Muslim
Nim   :15-10-1033
Ada beberapa cara atau tehnik untuk memasukkan jenazah ke liang lahat yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya, sebagai berikut:
  1. Dari arah kedua kaki si mayit, menurut sahabat Abdullah bin Yazid dan diikuti oleh Imam Hadawiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad
  2. Mendahulukan kepala si mayit, menurut sahabat Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i
  3. Memasukkan jenazah dari arah kiblat dengan cara melintang agar lebih mudah, menurut Imam Abu Hanifah.
Dan setelah jenazah dimasukkan ke liang lahat, sebelum menguburkan jenazah, sesuai perintah Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu, (tali yang mengikat kain kafan si mayit harus dilepas)
Sebagaimana keterangan di bawah ini:
عَنْ اَبِىْ اِسْحَاقَ قَالَ اَوْصَى الْحَارِثُ اَنْ يُصَلِّيَ عَلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ يَزِيْدَ فَصَلَّى عَلَيْهِ ثُمَّ اَدْخَلَهُ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ الْقَبْرِ وَقَالَ هٰذَا مِنَ السُّنَّةِ. رواه اْبو داود وسعيد في سننه (نيل الأوطار ج 4 ص 91)
Abu Ishaq berkata: Al-Harist pernah berwasiat agar dia dishalatkan oleh Abdulloh bin Yazid. (Pada saat al-Harits meninggal) Abdullah bin Yazid menyalatkan jenazahnya kemudian memasukkannya ke liang lahat dari arah kedua kakinya sambil berucap: “Demikian ini hukumnya sunnah”. HR. Abu Dawud dan Said.(Nail al-Authar juz 4 halaman 91)
وَفِى الْمَسْأَلَةِ ثَلَاثَةُ أَقْوَالٍ. اَلْاَوَّلَُ مَا ذَكَرَهُ وَاِلَيْهِ ذَهَبَتِ اْلهَادَوِيَّةُ وَالشَّافِعِيُّ وَاَحْمَدُ. وَالثّاَنىِ يُسَلُّ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ لِمَا رَوَى الشَّافِعِيُّ عَنِ الثِّقَةِ مَرْفُوْعًا مِنْ حَدِيْثِ ابْنِ عََبَّاسٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ سَلَّ مَيِّتًا مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ وَهَذَا اَحَدُ قَوْلَيْ الشَّافِعِيِّ. وَالثَّالِثُ لِأَبِى حَنِيْفَةَ أَنَّهُ يُسَلُّ مِنْ قِبَلِ اْلقِبْلَةِ مُعْتَرِضًا إِذْ هُوَ أَيْسَرُ. (سبل السلام ج 2 ص 109)
Dalam masalah di atas ada 3 pendapat: Pertama pendapat dari penulis kitab, “Bahwa pendapat tadi diikuti Imam Hadawiyah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Kedua, mengurus mayit dari kepala dulu, berdasar pada riwayat terpercaya dari Imam Syafi’i yang disandarkannya pada hadits Ibnu Abbas bahwa nabi mengurus mayit dari kepalanya. Ini salah satu dari dua pendapat Imam Syafi’i. Ketiga, pendapat dari Abu Hanifah, yakni mengurus mayit dari arah kiblat dengan cara melintang agar lebih mudah. (Subul al-Salam, juz 2 halaman 109)
وَرَوَى عَنْ عَلِيٍّ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ قَالَ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةِ رَجُلٍ مِنْ وَلَدِ عَبْدِ الْمُطَلِّبِ فَاَمَرَ بِالسَّرِيْرِ فَوُضِعَ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيِ اللَّحْدِ ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَسَلَّ سَلًّا ذَكَرَهُ الشَّارِحُ وَلَمْ يُخْرِجْهُ.
 Diriwayatkan dari sahabat Ali Karramallahu Wajhahu, ia berkata: Rasulullah Saw. menyalati jenazah salah seorang anak Abdil Muththalib kemudian ia memerintahkan agar mayit diletakkan di dipan dan kedua kakinya ke arah liang lahat, lalu ia memerintahkan untuk mengubur mayit itu dan melepas tali yang mengikatnya. Demikian kata Syarih yang ia sendiri tidak meriwayatkan hadist tersebut. (Subul al-Salam, juz 2 halaman 109)

0 komentar: