Ini yang Disebut Ma'ul Musta’mal dalam Fikih




Pada dasarnya air diciptakan dalam keadaan yang suci, namun setalah ada sentuhan dari manusia atau makhluk lain maka hukum air menjadi berubah, seperti maaul musta’mal. Lalu apa pengertian dari air musta’mal?

Pengertian maaul musta’mal secara lughot (bahasa) terdiri dari dua kalimat yakni maaun yang berarti air dan almusta’malun yang berarti telah digunakan. Terdapat beberapa pendapat dari para ulama tentang pengertian maaul musta’mal secara istilah, seperti; Air musta’mal adalah air yang kuantitinya kurang dari dua qullah yang telah disentuh oleh anggota badan atau yang telah digunakan untuk menyucikan hadas, sama halnya untuk wudhu’ atau mandi wajib. Sebagian pandangan lagi mengemukakan air musta’mal adalah air yang kurang dari dua qullah yang telah digunakan untuk menyucikan hadas pada basuhan yang pertama. Ketentuan dua qullah pada umumnya adalah 216 liter.

Pada intinya air musta’mal adalah air yang telah digunakan untuk bersuci atau menyucikan hadast dengan tanpa tercampur dengan barang yang hukumnya najis dan kurang dari dua qullah. Contohnya, air wudlu yang menetes dari wajah, artinya air tersebut telah digunakan untuk membasuh wajah dan jika air tetesan tersebut menetes pada air yang kita tadah untuk membasuh organ selanjutnya, maka air dalam tadahan itu bersifat musta’mal dan tidak dapat digunakan untuh bersuci lagi.

Menurut madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hanbali, hukum dari maaul musta’mal adalah thohir ghoiru muthohir. Menurut Madzhab Maliki, air musta’mal dapat menyucikan. Sedangkan menurut Madzhab Hanafi, air musta’mal dihukumi najis.

Maaul musta’mal, apakah selamanya tidak dapat dijadikan sebagai air yang thahir muthohir (air suci dan mesucikan terhadap yang lain)? Jawabannya bisa. Dengan syarat:

a) Air musta’mal tersebut sudah ada sebanyak dua qullah.
b) Jika kemasukan sesuatu yang najis, sifat-sifat air tidak berubah.
c) Jika tercampur dengan sesuatu yang suci, sifatnya tidak berubah dengan sangat.
d) Air tersebut dapat dikatakan sebagai air mutak kembali.


Sifat-sifat yang dikenai oleh maaul musta’mal atau yang termasuk air thohir ghoiru muthohr antara lain:

• Ketika air tercampur dengan sesuatu yang suci dan dapat lebur (bercampur) dengan air seperi madu (‘asal) atau pun air tercampur dengan sesuatu yang tidak dapat bersatu bercampur dengan air seperti minyak, kemudian terjadi perubahan yang sangat (taghyiiran faahisyan) pada sifat-sifat air (bau, rasa, warna), maka air tersebut tidak bisa digunakan untuk raf’ul hadast maupun izalatun najis walaupun air tersebut sangat banyak.

• Air jika kemasukan sesuatu yang najis yang menjadikan berubahnya salah satu sifat air walaupun perubahannya sedikit hukum air tersebut adalah najis walaupun air dalam jumlah yang sangat banyak seperti lautan. Jika tidak merubah sifat-sifat air maka air tersebut tidak najis selama airnya lebih dari dua qullah.

• Bila dalam air terdapat sesuatu yang berkesinambungan, seperti lumpur atau ganggang dan atau sifat air tersebut berubah dengan sendirinya karena terlalu lama didiamkan maka hukum air tersebut adalah suci.Wallahu a’lam.



Rujukan:
 Sarah Fathul Qorib Al-Mujib
 Matnul Ghoyatu wa Taqrib
 Riyadhul Badi’ah
 Terjemah Fiqih Empat Madzhab.


Nama/NIM : Novianis Nur Mufidah/15.10.1008
Semester : II PAI C
Mata kuliah : Fiqih I

0 komentar: