Merdeka dalam Perspektif Kaum Santri







Kaum santri, kita tahu, adalah golongan orang-orang yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren. Biasanya mereka memiliki pandangan yang berbeda dalam mengartikan sesuatu. Lingkungan mereka sehari-harinya tidak lepas dari Kitabullah dan Sunnah Nabi. Oleh karena itu, penjelasan yang mereka gunakan pasti tidak terlepas dari kedua pedoman umat Islam tersebut.

Menyikapi hari kemerdekaan, ada juga penjelasan mengenai arti merdeka itu sendiri. Sebab, definisi merdeka versi mayoritas masih dirasa kurang memuaskan bagi kaum santri. Kata merdeka bagi kaum santri ini belum berlaku sama sekali. Perkembangan teknologi, misalnya, merupakan cobaan yang harus mereka lewati. Hal ini juga seperti penjajahan bagi mereka, penjajahan yang nyata.

Mengomentari makna merdeka, KH. Muslim Nawawi pengasuh Pondok Pesantren An Nur Bantul mengutip Kalamullah,


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan)."  QS Ali ‘Imron: 185.

"Santri jika masih meninggalkan salat dan malas mengaji serta senang dengan dunia maka belum mencapai kata merdeka atau menang. Kemerdekaan kita telah mendapatkan dari para pahlawan dahulu, sekarang saatnya kita sendiri mencari kemerdekaan yang abadi”, jelas KH. Muslim Nawawi.

Ternyata memang masih jauh dari kata merdeka, seperti senang dengan dunia dan malas dalam mencari serta mendalami ilmu-ilmu agama. Bukti ini cukup dan fakta yang ada dalam diri kita sebagai kaum santri. Padahal awalnya hanya ingin mengikuti kemajuan zaman, sayangnya justru jatuh terperosok ke dalamnya.

Melihat pemaparan merdeka KH. Muslim Nawawi tadi, tentunya kita dapat merdeka setelah dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga. Bukan berarti selama di dunia ini kita tidak akan mencapai kata merdeka. Akan tetapi, itu hanyalah sebagai tolok ukur bahwa hasil akhir yang kita inginkan adalah surga. Kemerdekaan yang abadi hanya ada di surga, namun pencapaiannya ada di dunia.

Tentunya tidak mudah untuk mendapatkan hasil akhir tersebut. Khususnya kaum santri yang harus berjuang lebih keras melawan musuh. Selain teknologi yang canggih, hawa nafsu juga harus mereka hadapi. Teknologi dapat diatasi dengan adanya peraturan di pondok. Namun, nafsu berasal dari diri sendiri dan hanya diri sendirilah yang bisa menghadapinya. Jika nafsu tidak berhasil maka dapat menyebabkan malas dalam belajar atau menjalani aktivitas dalam pesantren. Bahkan dengan hawa nafsulah kita dapat terperosok dalam teknologi yang canggih dan senang kehidupan dunia.

Beberapa langkah bisa kita ambil untuk mencapai kata merdeka tersebut. Berada di dalam lingkungan pondok pesantren maka kita harus patuh dan tunduk terhadap peraturan yang telah ditetapkan. Hal itu juga dapat menambah keberhasilan dalam melawan hawa nafsu. Sebab, peraturan itu juga menjadi pengatur diri yang bisa membuat hawa nafsu semakin bisa dikendalikan. Adanya peraturan tersebut juga pastinya membuat majunya kemampuan kaum santri. Sehingga, bukan hanya surga yang didapatkan namun kemerdekaan/ kebahagian dunia juga.

Uraian di atas tadi tentunya cukup untuk mengartikan kemerdekaan bagi santri pada khususnya. Merdeka menurut kaum santri yakni bisa mendapatkan surga Allah dan dijauhkan dari neraka-Nya. Adanya kemajuan teknologi dan hawa nafsu merupakan salah satu penjajah/musuh bagi mereka. Namun dengan berada di lingkungan pesantren dan taat dengan peraturan yang ada membuat mudah dalam mengalahkan keduanya tersebut. Sehingga pada akhirnya dapat memperoleh kemenangan, kemerdekaan yang abadi khususnya dan tentunya kemerdekaan dunia yang sesungguhnya. []

0 komentar: