Sepuluh Syarat Sah Kutbah Jum'at








Sebelum melaksanakan shalat jum’at harus khutbah terlebih dahulu, orang yang berkhutbah disebut khatib. Dalam khutbah jum’at terdapat beberapa syarat yang harus dilaksanakan agar khutbah jum’at sah, diantaranya yaitu:


1. Khatib adalah Seorang Laki-Laki

Dalam melaksanakan khutbah jum’at, seorang khatib atau orang yang berkhutbah harus laki-laki, karena syarat-syarat wajib dalam melaksanakan shalat jum’at salah satunya adalah laki-laki dan shalat jum’at wajib bagi laki-laki. Hal ini sesuai dengan ketentuan hadits nabi SAW:


الجمعة حق واجب على كل مسلم فى جماعة الا اربعة عبد مملوك او امراة او صبي او مريض


Artinya: “ Jum’at adalah hak wajib bagi semua orang islam dalam satu jama’ah, kecuali 4 orang: budak, wanita, anak-anak dan orang sakit”. (HR. Abu Daud)


2. Suci dari Hadats Besar dan Kecil


Seorang khatib sebelum melaksanakan khutbah hendaknya bersuci terlebih dahulu, baik dari hadats besar maupun hadats kecil, seperti melakukan sunnah-sunnah hai’at jum’at.


3. Suci dari Najis, Baik Badan, Pakaian maupun Tempat


Seorang khatib sebelum melaksanakan khutbah jum’at juga harus suci dari najis, baik badan, pakaian maupun tempat, jadi khatib sebaiknya melaksanakan sunnah-sunnah hai’at. Sebelum melaksanakan jum’atan maka tempat yang digunakan (masjid) harus dibersihkan dahulu dari najis atau hanya sekedar disapu dan dirapikan.


4. Menutup Aurat


Karena seorang khatib adalah laki-laki, maka aurat yang harus ditutupinya yaitu antara pusar sampai lutut, tapi dalam berkhutbah sebaiknya memakai pakaian yang sopan sesuai ‘urf / adat daerahnya, misalnya jika di Indonesia biasanya memakai baju koko, sarung dan peci hitam.


5. Berdiri bagi Khatib yang Mampu


Syarat ini sesuai dengan hadits nabi SAW:


كان النبي صلى الله عليه وسلم يخطب قائما ثم يقعد ثم يقوم كما تفعلون الان


Artinya: “ Nabi SAW, berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri, seperti yang kalian lakukan sekarang”.(HR. Bukhari Muslim).


Ketika seorang khatib tidak mampu berdiri, maka boleh duduk dan jika tidak mampu duduk, maka boleh dengan tidur miring.


6. Duduk diantara 2 Khutbah


Duduk diantara dua khutbah ini dimaksudkan untuk memisah antara khutbah pertama dengan khutbah kedua, jika khutbah dilakukan dengan berdiri. Apabila khatib berkhutbah dengan duduk maka untuk memisah khutbah pertama dan kedua dengan diam sejenak.


7. Dua Khutbah dan Shalat harus Tartib


Maksud dari syarat ini yaitu antara khutbah dan shalat tidak boleh dipisah dengan apa pun, ketika selesai khutbah maka langsung shalat Jum’at dilaksanakan.


8. Kedua Khutbah yang menjadi Rukun Menggunakan Bahasa Arab


Dalam melaksanakan khutbah jum’at seorang khatib harus menggunakan bahasa Arab dalam melaksanakan rukun khutbah jum’at, tapi ketika menjelaskan isi khutbah Jum’at, boleh menggunakan bahasa daerah, sesuai kesanggupan khatib.


9. Khutbah dapat didengar oleh Ahli Jum’at yang 40 Orang


Khatib ketika berkhutbah harus didengar ahli jum’at yang 40 orang (mukim), dengan kecanggihan zaman sekarang adanya mic dan sound, khatib tidak perlu meninggikan suara, cukup dengan menggunakan mic dan sound, khutbah dapat terdengar oleh seluruh ahli jama’ah jum’at.


10. Kedua Khutbah dan Shalat Jum’at dilaksanakan pada Waktu Dzuhur


Waktu pelaksanaan khutbah jum’at dan shalat jum’at yaitu ketika masuk waktu dzuhur di hari jum’at. Syarat yang kesepuluh ini sesuai dengan hadits nabi, dari Sa’ad ra.:


ما كنا نقيل ولا نتغدى الا بعد الجمعة


Artinya: “kami tidak berqailullah (tidur siang) dan juga tidak makan siang kecuali setelah shalat jum’at”. ( HR. Bukhari Muslim).





(Referensi buku: Menapak Hidup Baru, karya: KH. M. Yusuf Chudlori, Surabaya: Khalista, 2007 dan Dalil Taqrib)

0 komentar: