Hukum Bersiwak dalam Islam




Bersiwak adalah sunah menurut kesepakatan para ulama, sedangkan Imam Dawud berpendapat bahwa hukumnya adalah wajib. Sementara itu Imam Ishak berpendapat apabila siwak ditinggalkan dengan sengaja maka shalatnya batal. Maksudnya adalah jika seseorang hendak melaksanakan shalat, maka harus bersiwak terlebih dahulu. Sesuai dengan hadits berikut ini:

لولاان اشق على امتى لامر تهم با لسواك عند كل صلاة وروايةلاحمرلامر تهم با لسواك مع كل وضوء.

Apabila tidak memberatkan umatku, sungguh mereka aku perintahkan bersiwak pada setiap akan shalat” Dan dalam suatu riwayat Ahmad: ”. . .sungguh mereka aku perintahkan bersiwak pada setiap wudlu”

Dalam kitab Fathul Qarib yang diterjemahkan oleh Syamsuddin Abu Abdillah, bersiwak hukumnya sunah dalam segala keadaan, bukan makruh tanzih, kecuali orang yang puasa wajib maupun puasa sunah, yakni setelah matahari tergelincir (condong) ke barat, bahkan kalau matahari telah tenggelam bersiwak tidak lagi makruh sama sekali (mutlak).

Menurut pendapat Imam Nawawi bersiwak sangat dianjurkan dalam 3 keadaan yaitu:

1. Ketika mulut berbau tidak sedap, akibat terlalu lama diam (bungkam), lama tidak makan. Atau akibat yang lain, seperti bau mulut yang diakibatkan makan-makanan yang mengandung bau tidak sedap, misalnya bawang putih, bawang merah dan lain-lain.

2. Ketika bangun dari tidur.

3. Ketika hendak melakukan shalat wajib maupum shalat sunat.

Termasuk keadaan yang sangat dianjurkan (selain 3 keadaan tersebut) yaitu ketika hendak membaca Al-Qur’an dan ketika gigi berwarna kuning.


Berikut ini merupakan beberapa hadits yang berkaitan dengan siwak:

1. Berdasar hadits dari Ibnu Abbas:

من سنن المرسلين الحلم والحياء والحجامة والسواك والتعطر وكثرة الازواج-هب.

“Di antara jejak (kelakuan) para Rasul, yaitu: penyantun, pemalu, berbekam, bersiwak, suka menggunakan wangi-wangian dan banyak isteri.” (HR. Baihaqi dalam kitab Syuabul Imam, Jami’ush Shaghir II/58)


2. Berdasar hadits dari Nabi Muhammad:

السواك مطهرة للفم مرضاة للرب-حم.

“Bersiwak itu membersihkan mulut, dan menarik simpati Tuhan (menarik ridha Allah baginya)”

0 komentar: