Buang Hajat Menghadap atau Membelakangi Kiblat




Hukumnya wajib bagi orang yang buang hajat, untuk tidak menghadap kiblat (kakbah) atau membelakanginya, kalau ditanah lapang yang terbuka tanpa benda penutup atau tabir setinggi dua per tiga hasta.’Tapi kalau ada hijab dengan ukuran tersebut maka jarak orang yang berhajat maksimal 3 dzira.’demikian itu kesepakatan para ulama. Syarat-syarat tersebut adalah untuk bangunan yang tidak khusus disediakan membuang hajat (WC), tetapi kalau disediakan (WC) secara umum hukumnya tidak haram. Sedangkan kalau menghadap kiblat Baitul muqaddas baik menghadap atau membelakanginya hukumnya makruh. 

Hukum menghadap atau membelakangi kiblat ketika hajat tidak diperbolehkan, masalah hukum ini banyak pendapat menurut para ulama ada yang melarang secara mutlak buang hajat di dalam atau di luar bangunan. Jadi kesimpulanya buang hajat menghadap kiblat atau membelakanginya hukumnya dilarang menurut agama.


إِذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلاَ تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلاَ تَسْتَدْبِرُوْهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا


“Apabila kalian mendatangi tempat buang air maka janganlah kalian menghadap ke arah kiblat ketika buang air besar ataupun kencing, serta jangan pula membelakangi kiblat. Akan tetapi menghadaplah ke arah timur atau ke arah barat” (HR. al-Bukhari no. 394 dan Muslim no. 264).


Etika bagi orang yang memenuhi hajat hendaknya tidak kencing atau berak di air yang menggenang (berhenti), Tidak kencing atau berak di bawah pohon berbuah, baik pada musim berbuah atau tidak, bagi orang yang hajat tidak kencing atau berak di jalan yang biasa di lalui lalu lintas yang ramai, tempat berteduh di musim panas, atau kemarau, lubang tanah yang bulat atau menurun, tidak diperbolehkan bincang-bincang, kecuali untuk hal yang sangat perlu dibicarakan, misalnya ada ular yang mengigit, maka tidak dimakruhkan, dan tidak diperbolehkan menghadap matahari atau bulan, juga tidak membelakanginya keduanya.



Nama: Dwi fadilah fitriani
Kelas: PAI A
Tugas: fiqih

0 komentar: