Esai Terhangat

Gratis Unduh Buku Argumentasi Tarawih 20 Rekaat








Seperti biasanya, menjelang bulan Ramadlan yang seharusnya penuh berkah, di beberapa daerah malah penuh kegerahan akibat sebagian kelompok kecil masyarakat selalu menyerang bentuk peribadahan yang dilakukan oleh masyarakat lain yang berbeda dengannya.

Diskursus tentang shalat tarawih 20 rakaat, memang merupakan wacana usang bagi sebagian masyarakat. Padahal, basis argumentasi dan dalil pelaksanaan tarawih 20 rekaat adalah sangat kuat. Ia berlandaskan hukum Islam yang kokoh.


Namun banyak orang yang belum paham tentang hal ini. Untuk itu, buku ini bisa diunduh secara gratis dan dibaca.

https://drive.google.com/file/d/0B18Bwvju-zq8RHNZaTFiSjZralNkUFRwLXhkSHFsQlVQVHUw/view?usp=sharing

Khutbah Jumat: Islam dan Kedamaian




وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَأَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِيْ تَبْغِيْ حَتَّى تَفِيْءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوْا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ (٩) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوْا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ (١٠)

“Dan jika ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang, hendaklah kalian damaikan antara keduanya. Jika yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kalian perangi sampai kembali kepada perintah Allah. Jia dia telah kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil. Dan hendaklah kalian berlaku adil. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Oleh sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah pada Allah, agar kalian mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 9-10)


Ayat di atas menjelaskan tentang anjuran mendamaikan (rekonsiliasi) pihak-pihak yang bertikai. Inilah prinsip yang harus dijadikan pedoman oleh kaum muslim dalam menyikapi hubungan sosial, baik hubungan sesama muslim atau pun hubungan sesama anak bangsa.


Tak pelak, dalam hidup ini pasti ada pertikaian di antara manusia. Tugas kaum muslim adalah berupaya menjaga kedamaian dalam hidup ini dengan berusaha mendamaikan segala bentuk konflik atau pertikaian.


Tak ada kebaikan sama sekali dalam pertikaian dan konflik. “Menang jadi arang kalah jadi abu”. Sudah banyak contoh masyarakat yang bertikai dan tenggelam dalam konflik kemudian hanya menyisakan kesedihan yang sangat mendalam.


Sebagai agama yang bertujuan menyebarkan rahmat (cinta dan kedamaian), tentu Islam sangat membenci segala bentuk konflik, apa lagi perang. Perang dalam Islam diperkenankan hanya dalam upaya menciptakan kedamaian. Maka, yang boleh dimusuhi dan diperangi hanya orang-orang yang zalim, yang membuat kerusakan di muka bumi ini.


Berdasarkan ayat di atas, perang pun hanya diperbolehkan untuk mengembalikan mereka yang zalim ke jalan yang benar dengan menaati perintah Allah untuk hidup damai. Perang dalam Islam bukan untuk membasmi manusia, tapi untuk menegakkan perdamaian di bawah prinsip keadilan.


Apa yang menyebabkan terjadinya petikaian dan konflik? Pada ayat selanjutnya (QS. Al-Hujurat: 11), Al-Quran menyebutkan beberapa sebab terjadinya pertikaian di antara manusia.
Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sebuah kelompok merendahkan kelompok yang lain. Bisa jadi (mereka) yang direndahkan itu ternyata lebih baik dari mereka (yang merendahkan). Dan jangan pula kelompok perempuan merendahkan kelompok perempuan lainnya, Bisa jadi (mereka) yang direndahkan itu ternyata lebih baik. Dan janganlah suka mencela diri kalian sendiri dan jangan memanggil dengan julukan yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11)


Ayat ini menjelaskan salah satu sebab terjadinya pertikaian atau konflik, yaitu sikap merendahkan kelompok lain atau orang lain. Sikap merendahkan pihak lain ini sangat dilarang orang Islam, karena akan berujung pada ketidakharmonisan dalam hidup. Setiap orang atau kelompok, pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menganggap pihak lain lebih rendah atau lebih buruk adalah sikap yang tidak terpuji dan tidak sesuai dengan kenyataan hidup. Karena, tak jarang, pihak yang dianggap rendah ternyata lebih baik dibanding pihak yang merendahkan. Dan, merendahkan pihak lain pun sudah cukup menjadi bukti kerendahan atau kehinaan karakter.


Dalam ayat selanjutnya, Islam menjelas sebab lain dari terjadinya pertikaian dan konflik di tengah masyarakat. Allah befirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Apakah ada di antara kalian yang suka memakan daging (mayat) saudaranya yang sudah mati? Maka, tentu kalian merasa jijik akan itu. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)


Prasangka, mencari-cari keburukan dan menggunjing adalah sikap yang sangat dilarang oleh Islam. Semua itu melahirkan kehidupan yang tidak harmonis antar sesama, bahkan bisa menyebabkan terjadi konflik yang merugikan berbagai pihak.


Sekarang ini kita hidup di era digital dan teknologi yang sangat canggih. Jutaan orang sudah memiliki berbagai gawai dan smartphone di tangan masing-masing. Arus informasi begitu mudah didapat dengan hanya sekali tekan tombol di gawai yang ada dalam genggaman tangan. Namun, kecanggihan ini pun dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan informasi yang tidak valid atau hoax. Oleh sebab itu, demi menjaga kehidupan yang harmonis dan agar terhindar dari dosa, kita harus tetap bersikap kritis dan rasional dalam menyikapi segala informasi.


Segala informasi harus dipertanyakan kebenarannya. Jika kita tak mampu membuktikan kebenaran sebuah informasi, maka sebaiknya bersikap diam dengan tidak ikut menyebarkannya.


Kecanggihan teknologi ini harus disikapi dengan bijak, sehingga kita dapat mengambil manfaat yang sebanyak-banyaknya, bukan malah terjerumus menjadi korban dari informasi yang tidak baik dan tidak benar.


Dalam hal ini, sebuah hadits Nabi Saw. harus kita jadikan pegangan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam; barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia menghormati tetangganya; dan barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Menerima informasi yang belum tentu benar, sebaiknya kita diam dengan tidak memberikan komentar atau tidak menyebarkan informasi tersebut. Kita boleh dan bahkan dianjurkan menyebarkan informasi yang sudah pasti kebenarannya dan pasti mengandung kebaikan. Jika informasi itu belum tentu benar, apa lagi mengadung unsur fitnah dan adu domba, maka sikap terbaik yang harus diambil adalah diam dan tidak menyebarkan.


Fitnah, dusta dan adu domba adalah haram dalam Islam. Jika kita ikut menyebarkannya, berarti kita ikut dalam melakukan hal-hal yang diharamkan oleh agama Islam. Semakin banyak orang yang menerima informasi fitnah, dusta dan adu domba yang kita sebarkan, maka semakin banyak dosa kita di sisi Allah Swt. Na’udzu billahi min dzalik.


Terakhir, mari kita renungkan hadits Nabi Muhammad Saw. berikut ini:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيْشِ بَيْنَهُمْ


“Sesungguhnya setan telah putus asa dari (mendapatkan) penyembahan dari orang-orang yang shalat di jazirah Arab. Akan tetapi ia akan selalu mengadu domba di antara mereka.” (HR. Muslim)


Adu domba adalah tugas yang selalu dijalankan oleh setan untuk menciptakan kekacauan dan konflik dalam kehidupan manusia. Semoga kita terhindar dari segala keburukan dan selalu mendapatkan bimbingan hingga dapat berjalan di atas petunjuk ajara Islam yang baik dan benar. Semoga Allah selalu melindungi bangsa ini dari segala permusuhan dan konflik yang merugikan semua. Aamiin.
Wallahu a’lam.

Taufik Damas

Nasihat Sang Faqih kepada Calon Faqih

Makam Imam Syafi'i di Mesir



SUATU hari disebuah pedalaman nan jauh dari perkotaan Arab; Perkampungan Hudzail namanya. Seorang anak kecil sedang komat-kamit seakan membaca sebuah mantra. Bukan. Itu bukan mantra. Itu adalah syair-syair indah berbahasa arab. Anak sekecil itu, telah hafal sekian banyak bait syair. Lancar. Dan sangat lancar. Untaian-untaian syair itu meluncur begitu deras dari lisannya yang mungil. Menakjubkan.

Aktivitas menghafal tersebut membuat seseorang paruh baya terpesona. Seorang ulama. Penampilan sang anak sungguh menariknya. Sorot matanya tajam. Dan ia tak tahan untuk tidak bertanya. Ia tergoda. “Coba lafalkan untukku apa yang sedang kau hafal itu Nak!” Pintanya.

Lisan sang anak segera bersenandung. Fasih. Tata bahasanya sungguh rapi. Pilihan katanya menakjubkan. Suaranya merdu.

“Muhammad ibn Idris” Jawabnya, ketika sang Ulama menanyakan namanya.

“Apa yang kau lakukan di kampung ini anakku?” Lanjutnya

“Belajar bahasa, nahwu maupun sharafnya serta menghafalkan syair-syair Arab.” Jawab sang anak.

Selanjutnya nasihat mahal keluar dari lisan sang ulama yang mulia. Bagai intan mutiara, nasihat tersebut oleh sang anak diingatnya lekat-lekat. Hingga ia dewasa.

“Ketahuilah Nak, alangkah indahnya jika kefasihan lisanmu dan merdunya suaramu itu digunakan untuk menjaga Sunnah Rasulullah, menyampaikan hukum-hukum syariat kepada manusia, dan mengajari mereka fiqih sehingga mampu memahami agama ini.”

Benar. Nasihat berharga itu kemudian mengubah jalan hafalan sang Bocah. Selain menghafal syair ia juga menghafal kitab-kitab. Hingga di usia yang masih belia, Al Qur’an dan kitab Muwatho’nya Imam Daarul Hijrah juga telah dihafalnya dengan sempurna. Bahkan Muslim ibn Khalid Az-Zanji, sang pemberi nasihat yang bijak itu mempersilahkan Muhammad ketika masih belia untuk berfatwa. Dialah Muhammad ibn Idris yang sangat kita kenal dengan gelar agung Al Imam As Syafi’i.

Untuk mengenang guru Sang Pemberi nasihat bijak itu, Imam Syafi’i ketika dewasa berujar, “Andai tidak ada Muslim ibn Khalid Az-Zanji, tak akan ada As Syafi’i. Kecuali mungkin hanyalah seorang penyair gelandangan yang kebingungan kesana-kemari.” Diiwan Al Imam As Asyafi’i.

Itulah Muhammad ibn Idris As Syafi’i. Imam yang sejak masih belia bahasanya sudah luar biasa. Imam yang sejak masih belia, sudah diizinkan berfatwa. Dialah Imamnya para fuqoha. Bahkan penulis paling melegenda dalam sejarah kesusastraan arab, Al Jahidz konon juga menyebutnya Sang Imam Sastra.

Pendiri Salafi-Wahabi Tidak Menghukumi Syirik saat Bertawassul





Bagi pentaklid Salafi yang banyak merujuk ke pengajian Ustadz-Ustadz Salafi Indonesia, yang mengutip dari Syekh Albani, Syekh Utsaimin, Syekh Bin Baz dan sebagainya, sebaiknya langsung merujuk pada pendiri dakwah Tauhid ini, yaitu Syekh Ibnu Abdil Wahhab.


Syeikh Abdul Wahab ternyata tidak menyatakan Syirik dalam hal Tawassul dengan orang yang sudah wafat. Berikut pernyataan beliau:





اﻟﻨﻮﻉ اﻟﺜﺎﻟﺚ: ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ: اﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺗﻮﺳﻞ ﺇﻟﻴﻚ ﺑﻨﺒﻴﻚ، ﺃﻭ ﺑﺎﻷﻧﺒﻴﺎء، ﺃﻭ اﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ; ﻓﻬﺬا ﻟﻴﺲ ﺷﺮﻛﺎ، ﻭﻻ ﻧﻬﻴﻨﺎ اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻨﻪ; ﻭﻟﻜﻦ اﻟﻤﺬﻛﻮﺭ ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺣﻨﻴﻔﺔ، ﻭﺃﺑﻲ ﻳﻮﺳﻒ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ ﺃﻧﻬﻢ ﻛﺮﻫﻮﻩ، ﻟﻜﻦ ﻟﻴﺲ ﻣﻤﺎ ﻧﺨﺘﻠﻒ ﻧﺤﻦ، ﻭﻏﻴﺮﻧﺎ ﻓﻴﻪ.


Bentuk ketiga dari Tawassul adalah: "Ya Allah aku bertawassul kepada Mu dengan Nabi Mu, atau para Nabi, atau orang yang saleh, INI BUKAN SYIRIK dan kami tidak melarang umat Islam melakukannya. Hanya saja dari Abu Hanifah dan Abu Yusuf, mereka menghukumi makruh. Namun bukan masalah yang diperselisihkan antara kami dengan selain kami (Ad-Durar As-Saniyah 2/84)


Di kitab lain beliau menegaskan masalah ini adalah ranah ijtihad dalam fikih yang dapat diterima:






اﻟﻌﺎﺷﺮﺓ: ﻗﻮﻟﻬﻢ ﻓﻲ اﻻﺳﺘﺴﻘﺎء: ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﺎﻟﺘﻮﺳﻞ ﺑﺎﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ، ﻭﻗﻮﻝ ﺃﺣﻤﺪ: ﻳﺘﻮﺳﻞ ﺑﺎﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺧﺎﺻﺔ، ﻣﻊ ﻗﻮﻟﻬﻢ: ﺇﻧﻪ ﻻ ﻳﺴﺘﻐﺎﺙ ﺑﻤﺨﻠﻮﻕ، ﻓﺎﻟﻔﺮﻕ ﻇﺎﻫﺮ ﺟﺪا، ﻭﻟﻴﺲ اﻟﻜﻼﻡ ﻣﻤﺎ ﻧﺤﻦ ﻓﻴﻪ؛ 


Kesepuluh, perkataan mereka dalam meminta hujan: Boleh bertawassul dengan orang saleh. Dan perkataan Ahmad bin Hanbal boleh Tawassul dengan Nabi secara khusus, dan perkataan mereka bahwa tidak boleh minta pertolongan kepada makhluk, maka perbedaannya sangat jelas sekali. Ini bukan masalah yang kami bahas.


ﻓﻜﻮﻥ ﺑﻌﺾ ﻳﺮﺧﺺ ﺑﺎﻟﺘﻮﺳﻞ ﺑﺎﻟﺼﺎﻟﺤﻴﻦ ﻭﺑﻌﻀﻬﻢ ﻳﺨﺼﻪ ﺑﺎﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺃﻛﺜﺮ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻳﻨﻬﻰ ﻋﻦ ﺫﻟﻚ ﻭﻳﻜﺮﻫﻪ، ﻓﻬﺬﻩ اﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻣﻦ ﻣﺴﺎﺋﻞ اﻟﻔﻘﻪ ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ اﻟﺼﻮاﺏ ﻋﻨﺪﻧﺎ: ﻗﻮﻝ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ: ﺇﻧﻪ ﻣﻜﺮﻭﻩ، ﻓﻼ ﻧﻨﻜﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻓﻌﻠﻪ؛ ﻭﻻ ﺇﻧﻜﺎﺭ ﻓﻲ ﻣﺴﺎﺋﻞ اﻻﺟﺘﻬﺎﺩ


Sebagian ulama membolehkan Tawassul dengan orang saleh, sebagian lainnya khusus dengan Nabi, dan kebanyakan ulama melarangnya dan menghukumi makruh. Meski yang benar menurut kami adalah pendapat jumhur ulama, maka kami tidak mengingkari kepada orang yang melakukan hal itu. Dan tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad (Fatawa wa Masa'il Syekh Ibnu Abdil Wahhab, 1/68)




Catatan: Tidak benar klaim bahwa mayoritas ulama melarang Tawassul. Justru mayoritas ulama membolehkan.


Ma'ruf Khozin, anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Sumber data: Syekh Mbah Riyan أبقاه الله بالسلامة والعافية

Keputusan Hadits Dhaif juga Merupakan Ijtihad


Makam Imam Bukhari




Status hadits 'shahih' atau 'tidak shahih' adalah hasil ijtihad. Sebab dahulu Rasulullah SAW tidak pernah menambahkan di akhir sabdanya "sabda saya ini shahih ya" :D

Kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan kumpulan hadits shahih lainnya adalah hasil ijtihad yg dilakukan oleh Ulama Hadits.

Dalam menentukan hadits ini shahih atau tidak, para ulama hadits kadangkala berbeda pendapat.

Artinya, satu hadits bisa jadi punya status ganda : 'shahih dan tidak shahih'.
Sebab para ulama Hadits kadang punya standar berbeda dalam menentukan ke-shahih-an suatu hadits.

Jika hasil ijtihad ulama Hadits dapat kita terima, mengapa hasil ijtihad ulama Fiqih dari empat madzhab tak dapat kita terima sepenuh hati?


(Ustadzah Aini Aryani Mufid, Lc)

Mengapa Umat Islam Menolak Aliran Wahabi?





Salah satu wujud perjuangan Ahlus Sunnah Wal Jama'ah adalah membersihkan ajaran Islam dari kesesatan aliran wahabi yang selalu dibungkus dengan kata-kata "sunnah".

Upaya ini bukan sebuah ta'ashshub (fanatik golongan) tapi bagian dari "ihqaqul haq wa ibthalul batil" (menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan). Upaya pembersihan aliran Wahabi ini tidak hanya diperjuangkan oleh para Kyai NU saja, tapi juga dilakukan oleh para Ulama Timur Tengah sejak kemunculan aliran ini, seperti Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab (kakak kandung pendiri Wahhabi), Syaikh Muhammad al Arabi at Tabbani Mekkah, Syaikh Hayat As Sindi Madinah, Syaikh Muhammad bin Sulaiman al Kurdi Madinah, Sayid Ahmad Zaini Dahlan Makkah, Syaikh Ibnu Abidin Damaskus, dan sebagainya. 

Begitu juga para ulama Timur Tengah pada era abad ke-20 dan ke-21 ini seperti Sayid Abdullah Al Gumari Maroko, Sayid Muhammad bin Alawi Al Maliki Makkah, Habib Zen bin Smaith Madinah, Syaikh Abdullah Al Harari Lebanon, Syaikh Mahmud Said Mamduh Mesir, Sayid Nabil al Ghamri Makkah, dan masih ribuan ulama lagi yang tidak bisa saya sebutkan namanya satu persatu. Mereka semua adalah para pejuang Aswaja yang gigih menolak aliran wahhabi. Mereka sepakat bahwa wahhabi adalah aliran yang membahayakan aqidah.

Aliran Wahabi ini muncul sekitar tahun 1742 M yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab, seorang badui berlagak alim dari Najed (daerah belahan timur dari wilayah Kerajaan Arab Saudi skrg ini, yang di dalamnya ada kota Riyadh), sebuah daerah yang oleh Rasulullah disebut tempat munculnya "Tanduk Setan" dalam banyak haditsnya.

Muhammad bin Abdul Wahhab ini bekerja sama dengan kepala suku yang ambisius yaitu Muhammad bin Sa'ud. Kedua orang yang berasal dari daerah Tanduk Setan ini menyebarkan pahamnya dengan kekerasan dan menumpahkan darah umat Islam. Mereka dibantu penuh oleh Kerajaan Inggris dan sekutunya, sampai pada tahun 1924 mereka berhasil menaklukkan Hijaz yang di dalamnya ada kota Makkah dan Madinah dan menjajahnya sampai sekarang. Sehingga berdirilah Kerajaan Arab Saudi yang raja pertamanya bernama Abdul Aziz bin Abdu Rahman Alu Sa'ud. Sejak itu di Saudi dikenal dua keluarga yang memiliki kekuasaan penuh yaitu Alu Saud dalam bidang pemerintahan dan Alu Syaikh dalam bidang keagamaan. Alu Sa'ud berarti keturunan Muhammad bin Sa'ud dan Alu Syaikh berarti keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

Tidak sedikit orang awam yang menganggap bahwa perbedaan antara Ahlus Sunnah Wal Jama'ah dengan Wahabi itu hanya perbedaan dalam masalah khilafiyah furu'iyah belaka, sebagaimana perbedaan antar mazhab dalam fiqh. Padahal jika kita mau mendalami ilmu aqidah lebih lanjut, maka kita akan mngetahui bahwa ini adalah persoalan perbedaan aqidah yang sangat serius dan membahayakan.


Secara garis besar penyimpangan Wahabi adalah :

1. Tajsim : mereka meyakini bahwa Allah itu berjisim, berbentuk, bertempat, berada pada arah tertentu dsb.
2. Tabdi' : mereka berpendapat bahwa semua bid'ah itu sesat, sehingga mereka mudah membid'ah umat Islam yang tidak sejalan. Bahkan sesama Wahabi pun sering saling membid'ahkan.
3. Tadhlil : mereka mudah menganggap sesat amalan orang lain yang tidak sejalan dengan pendapat mereka, sehingga banyak amalan-amalan yang masyru' (disyari'atkan), tapi dianggap sesat oleh mereka.
4. Takfir : mereka mudah mengkafirkan orang lain yang tak sejalan dalam perkara-perkara yang sebenarnya tidak menyebabkan kekufuran.
5. Dan sebagainya.


Semoga Allah segera mengembalikan Makkah, Madinah dan seluruh tanah Hijaz dari tangan penguasa Wahabi kepada umat Islam.


Semoga Allah menyelamatkan umat Islam dari kesesatan dan fitnah-fitnah Wahabi.
Amin.
---
Ditulis oleh Dafid Fuadi

Karena Nabi pun Bertabarruk dengan Bekas Tangan Kaum Muslim





Nabi SAW sang makhluk termulia pun BERTABARRUK atau mengambil barakah dengan BEKAS tangan kaum muslimin seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani ini.


Imam Al-Haitsami berkata di Majma' nya ketika mentakhrij hadits ini :


رواه الطبراني في الأوسط ورجاله موثقون وعبد العزيز بن أبي رواد ثقة ينسب إلى الإرجاء


Dulu, Syaikh Albani pernah menghasankannya di kitab silsilah shohihnya,, tapi kemudian mendlo'ifkannya di kitab silsilah dlo'ifnya,, qiqiqi


Hadits ini memperkuat pendapat Jumhur 'Ulama bahwa TABARRUKAN dengan atsar (bekas/sisa) tidak terbatas pada atsar Nabi SAW, seperti yang diklaim sebagian kalangan, karnanya para pensyarah kitab2 hadits terkemuka ketika mensyarahi hadits tentang tabarrukan selalu menyatakan : hadits ini menunjukkan diperbolehkannya bertabarruk dengan BEKAS/SISA ORANG2 SHOLIH.


Semisal Imam Nawawi yang 9 kali menyatakan di Syarah Shohih Muslim keterangan seperti ini :


فيه التبرك بآثار الصالحين واستعمال فضل طهورهم وطعامهم وشرابهم ولباسهم

Bahwa dalam hadits ini ada ajaran mengambil barakah dari jejak dan sisa orang-orang salih, memanfaatkan sisa air, sisa makanan, sisa minuman, dan sisa pakaian mereka.


Termasuk pula Al-Hafidz Ibnu Hajar yang 3 kali menyatakan di Fathul Bari keterangan seperti ini :


يؤخذ من هذا التبرك بآثار الصالحين

Dari ini dapat diambil ajaran tentang tabaruk atau mengambil keberkahan dari sisa orang-orang saleh.

Termasuk pula Imam Al-'Aini yang 6 kali menyatakan di Syarah Shohih Bukhori keterangan seperti ini :


فيه الدلالة على جواز التبرك بآثار الصالحين

Ini adalah dalil kebolehan tabaruk atau mengambil keberkahan dari sisa orang-orang saleh.

Juga para pensyarah hadits terkenal lainnya.


Ibnu Harjo Al-Jawi

Inilah Dalil Kesunahan Puasa Bulan Muharram




Al-Imam An-Nawawi –rahimahullah-
dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin, membawakan tiga buah hadits yang berkenaan dengan puasa sunnah pada bulan Muharram, yaitu puasa hari ‘Asyura (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram).

1.
عن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه. مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas – radhiyallahu ‘anhuma -, ” Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).


2.عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال: ((يكفر السنة الماضية)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Abu Qatadah – radhiyallahu ‘anhu -, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR.muslim)

3.وعن ابن عباس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: ((لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع)) رَوَاهُ مُسلِمٌ.

Dari Ibnu Abbas – radhiyallahu ‘anhuma – beliau berkata : ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila (usia)ku sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada (hari) kesembilan” (HR. Muslim

Balasan bagi yang Memberi Pertolongan

      

Allah Ta'ala berfirman:" Barang siapa memberi syafa at ( pertolongan ) yang baik niscaya ia akan memperoleh bagian ( pahala ) darinya". ( QS An Nisa' 4:85 ).

Dari Abu Musa Al Asy ary ra. berkata:" Bila ada orang datang kepada Nabi Saw. Untuk meminta pertolongan maka beliau memandang orang orang yang berada di hadapanya dan bersabda:" Berilah pertolongan, niscaya kamu sekalian akan mendapatkan pahala. Allah senantiasa memenuhi apa yang di katakan oelh Nabi Nabi Nya apapun yang disukainya". ( HR Bukhari dan Muslim ).

Dalam riwayat lain dikatakan:" Apa pun yang di kehendakinya".

Dari Ibnu 'Abbas ra. Di dalam menceritakan tentang keadaan Barirah dengan suaminya, di mana ia berkata:" Nabi Saw. berkata kepada Barirah:" Seandainya kamu mau kembali pada suamimu". Barirah berkata:" Wahai Rosulullah, Tuan menyuruh saya?" beliau bersabda:" Saya hanya memberi dorongan". Barirah menjawab:" Saya tidak ingin kembali kepadanya ". (HR Bukhari ).


....26092017....

Imbalan yang Tak Terduga



Syaikh Malik bin Dinar memperhatikan seorang pemuda tampan yg berbadan tegap yang tengah membeti perintah anak buahnya membangun sebuah gefung yg megah di kota Baghdad. Beluau amat tertarik dan berdoa kepada Allah SWT agar pemuda itu kelak menjadi ahli surga.

Malik bin Dinar mengajak Ja'far bin Sulaiman untuk menenui pemuda itu.
"Rupanya ada keperluan yg sangat penting sehingga anda berdua mendatangiku?" Tanya pemuda itu.
"Benar. Aku sangat jagum dengan gedung yg sedang kau bangun ini. Nampaknya bangunan ini nanti akan menjadi sebuah gedung yg termegah di Baghdad. Yang ingin ku ketahui berapa biaya yg dikeluarkan untuk ini?" Tanya Malik bin Dinar.

" Seratus ribu dirham" jawabnya.
"Oh, sungguh besar sekali!"
" Benar. Gedung ini nqnti akan menjadi gedung yg termegah di kota Baghdad." Kata si pemuda.
" Dengan biaya sebesar itu, kujanjikan kepadamu sebuah gedung yg kebih ibdah, kebih megah dan lebih luas dari gedung yg kau rencanakan itu." Kata Malik bin Dinar.
"Benarkah?" Tanya pemuda itu.
"Setahkan daja uang itu kepadaku untuk kuterudkan kepada yg berhak,nanti rngkau akan tahu hasilnya." Kata Malik bin Dinar.
"Aku tak bisa memutuskannya hari ini. Akan kupikirkan malam nanti. Kalian tunggu jawabanku besok pagi.'
Esok harinya pemuda itu menemui Maluk bin Dinar. Dia setuju mengekuarkan 100.000 dirham dan diserahkan kepada Maluk bin Dinar. Beliau kemudian mengambil kertas dan menulis sebuah perjanjian.

BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
Saya( Malik bin Dinar) telah menjanjikan kepadamu atas nama ALLAH sebuah gedung di surga sebagai ganti gedung yg engkau infaqkan di jalan-NYA.

Dan saya telah membeli hartamu dengan sebuah gedung du surga yg berlipatganda keindahan dan luasnya,satu atap dekat dengan Yang Maha Perkasa dan Maha Agung."


Setelah surat itu ditandatangani oleh Malik bin Dinar disrrahkan kepada pemuda itu.
Sepeninggal pemuda itu, uang yg baru diterimanya disedekahkan kepada fakir miskin hingga habis semuanya.

Empat puluh hari kemudian ketika Malik bin Dinar sedang sholat shubuh, di mihrabnya dia menemukan secarik kertas yg bertuliskan:

Inilah pembebasan Allah al-Aziz al-Hakim untuj Malik bin Dunar. Dan aku telah memenuhituntutan pemuda itu dengan sebuah gedung yg telah dijanjikan Malik bin Dinar serta melipatgandakannya tujuh puluh kali.

Kemudian Maluk bin Dinar mrngajak Ja'far bin Sulaiman menemyi pemuda itu untuk menyampaikan kabar gembira dari Allah tentang balasan uang seratus ribu dirhamnya.
Tetapi pemuda itu telqh meninggal dunia. Beliau bertanya kepada orang yg ikyt mebgurus henasah si pemuda.
"Srbelum meninggal pemuda itu berpesan jiks dia meninggal disuruhnya aku meletakkan sebuah tulisan dalam kain kafannya.." kata orang itu.
"Apa surat srmacam ini yg kau letakkan itu?" Kata Malik bin dinar sanbil menunjukkan surat yg ditemukan di mihrabnya.
"Demi Allah, benar seperti itu!" Seru orang itu.
Selesai menceritakan rentang pemuda iru, orang itu menangis dan membuat terharu orang yg ada disitu. Bahkan seorang pemuda setelah mengetahui kisah itu berkata kepada Malik bin Dinar,"wahai Malik. Ambillah 100.000 durham dariku. Dan janjikanlah sebagaimana yg telah engkau janjikan kepada pemuda yg meninggal tu."
"Yang sudah terjadi akan tetap berlalu dan yg akan datang kita tak tahu. Alkah memberu ketentuan dengan apa yg Dia kehebdaki." Kata Malik bin Dinar.

Malik bin Dinar selalu nenangus terharu bila teringat pemuda dermawan itu, Beliau selalu mendoakannya ..


(101 materi dongeng anak muslim).

Balasan Guru Bijak yang Dimaki-Maki




Seorang laki-laki yg berbeda paham dengan seorang Guru dan mengeluarkan kecaman serta kata-kata kasar, meluapkan kebenciannya kepada Sang Guru. Sang Guru hanya diam, mendengarkannya dengan sabar, tenang dan tidak berkata apa pun.

Setelah lelaki tersebut pergi, si murid yg melihat peristiwa itu dengan penasaran bertanya, "Mengapa Guru diam saja tidak membalas makian lelaki tersebut?"

Kemudian maka Sang Guru bertanya kepada si murid,  
“Jika seseorang memberimu sesuatu,  tapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapa kah pemberian itu?”

“Tentu saja menjadi milik si pemberi”, jawab si murid.

“Begitu pula dengan kata-kata kasar itu”, tukas Sang Guru. “Karena aku tidak mau menerima kata-kata itu, maka kata-kata tadi akan kembali menjadi miliknya. Dia harus menyimpannya sendiri. Dia tidak menyadari, karena nanti dia harus menanggung akibatnya di dunia atau pun akhirat ; karena energi negatif yg muncul dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan hanya akan membuahkan penderitaan hidup”.

Kemudian, lanjut Sang Guru, ” Sama seperti orang yg ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri. Demikian halnya, jika di luar sana ada orang yg marah-marah kepadamu ... biarkan saja … karena mereka sedang membuang SAMPAH HATI mereka. Jika engkau diam saja, maka sampah itu akan kembali kepada diri mereka sendiri, tetapi kalau engkau tanggapi, berarti engkau menerima sampah itu Hari ini begitu banyak orang di jalanan yg hidup dengan membawa sampah di hatinya ( sampah kekesalan, sampah amarah, sampah kebencian, dan lainnya )… maka jadilah kita orang yg BIJAK.”

Sang Guru melanjutkan nasehatnya : 
“Jika engkau tak mungkin memberi, janganlah mengambil. Jika engkau terlalu sulit untuk mengasihi, janganlah membenci. Jika engkau tak dapat menghibur orang lain, janganlah membuatnya sedih. Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat. Jika engkau tak dapat menghargai, janganlah menghina. Jika engkau tak suka bersahabat, janganlah bermusuhan."

Marilah kita renungkan untuk diri kita masing-masing : mampukah kita mengikuti nasehat dan meneladani kebijakan Sang Guru ... ?

Semoga.....

Sofwan alwi

Dalil Puasa Tasu'a dan 'Asyura' Muharram serta Sedekah Anak Yatim



Dalam shahih Bukhari, Ibn Abbas meriwayatkan, suatu ketika Rasulullah saw memasuki kota Madinah, dan orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram ('Asyura'). lalu Nabi bertanya: "Ini hari apa?"

Mereka menjawab, "Ini adalah hari yang baik. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka. Kemudian Nabi Musa as berpuasa pada hari ini." Nabi pun berpuasa tgl 10 Muharram dan memerintahkan pada para sahabatnya untuk berpuasa sunnah tanggal 10 Muharram.

صوموا التاسع والعاشر ولا تشبهوا باليهودي

"Berpuasa sunnahlah tanggal 9 dan 10 Muharram, dan jangan kalian menyerupai orang Yahudi (yang hanya puasa tanggal 10 Muharram)"

عن عبد الله بن عمر : من صام عا شوراء فكانما صام السنة ومن تصدق فيه كان كصدقة السنة

"Diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar : siapa yang berpuasa tanggal 10 Muharram, maka dia seolah puasa setahun penuh, dan barang siapa bersedekah pada tanggal 10 Muharram, maka ia seolah bersedekah selama setahun."

من صام عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشرة الاف ملك ومن صام عاشوراء من المحرم اعطي ثواب عشرة الاف شهيد وثواب الاف حاج ومعتمر ومن مسح بيده علي راءس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى له بكل شعرة علي راءسه درجة في الجنة ومن فطر مؤمنا ليلة عاشوراء فكانما افطر عنده جميع امة محمد ص م واشبع بطونهم

"Barang siapa yang berpuasa tanggal 10 Muharram, maka ia diberi pahala 10.000 malaikat, 10.000 orang yang mati syahid, 10.000 orang yang haji dan umrah. Barangsiapa mengusap kepala anak yatim (dengan diiringi sedekah) pada tanggal 10 Muharram, maka Allah akan angkat derajatnya di surga sesuai helai rambutnya. barangsiapa memberi makan orang mukmin pada malam 10 Muharram, maka ia seolah memberi makan semua umat Nabi Muhammad Saw dan mengenyangkan perut mereka."

Mustain