Esai Terhangat

Pembacaan (turats) kitab Fathul Qorib perspektif Prof. Dr. Abid Jabiri



Oleh ibnu badri


Prof. Dr Abid Jabiri dalam karya tetralogy kritik nalar arab membuat sebuah hipotesa bahwasanya kejumudan peradaban arab sekarang yang sangat jauh tertinggal dari peradaban barat disebabkan oleh  meninggalkannya peradaban arab nalar rasional-empirik untuk mencapai kemajuan. Kejumudan berpikir peradaban arab ini dimulai setelah masa ibnu rusdi yang terkenal dengan rasio rasional empiriknya. Epistimologi

nalar arab dalam memperoleh suatu pengetahuan didasarkan pada tiga nalar berpikir. Pertama nalar berpikir bayani yaitu sebuah upaya untuk menggali pengetahuan berdasarkan telaah teks. Dari hasil nalar ini munculah suatu diskursus fans keilmuan gramatika (nahwu-sorof), retorika (balaghoh), teologi (ilmu kalam), tafsir. Sehingga mekanisme nalar bayani tidak pernah keluar dari wacana kebahasaan, khususnya interpretasi kandungan wacana yang berkembang dalam teks keagamaan. namun nalar bayani ini mulai menjadi sebuah epistimologi nalar berpikir sejak imam syafi'i mengkodifikasikan kaidah-kaidah penafsiran dan penalaran Al-Quran dengan karyanya Ar-Risalah.

 Kedua nalar berpikir irfani yaitu sebuah upaya untuk menggali pengetahuan berdasarkan intuisi (kasyaf), sebuah penyikapan pengetahuan melalui pesan intuisi dari orang yang sudah dianggap dekat allah. Nalar berpikir irfani ini biasanya bersifat subjektif. Nalar berpikir ini lebih mengutamakan kepercayaan nurani daripada logika akal.

Ketiga nalar berpikir burhani yaitu suatu upaya untuk menggali pengetahuan berdasarkan nalar berpikir logika kausalitas-silogisme. Dalam nalar berpikir ini suatu pengetahuan haruslah bisa dibuktikan secara rasional-emprik.
Dari ketiga nalar berpikir arab ini yang paling dominan adalah nalar berpikir bayani dan irfani serta cenderung meninggalakan nalar burhani, sehingga Prof. Dr Abid Jabiri membuat hipotesa ketertinggalan peradaban arab dari peradaban barat sekarang ini disebabkan berbedanya nalar dalam penggalian sebuah pengetahuan.

Kita tahu bahwa Nalar berpikir peradaban barat adalah rasional-empirik. Untuk itu upaya membentuk sebuah perdaban yang intelektual di arab khususnya dan dunia timur pada umumnya harus dimulai dari upaya merubah pondasi dasar nalar berpikirnya. Dan mengaktualisasi nalar berpikir burhani diberbagai aspek. 

Di akhir-akhir ini kita bisa melihat nalar berpikir kita lebih takjub dan heran jika ada fenomena alam seperti daun yang berbentuk lafal allah, awan yang bentuk kalimat toyibah akan tetapi lupa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang teknologi, ekonomi dll, hal ini berbeda sekali dengan peradaban kita di era abad pertengahan, yaitu sebuah peradaban yang manusianya sibuk menggali dan menciptakan pengetahuan baru, dari peradaban ini munculah intelektual yang diakui dunia seperti Al-Jabar, Ibnu Sina, Averus, Ibnu Jinni. Dizaman sekarang jarang sekali muncul intelektual kita yang menguasai panggung pengetahuan dunia, intelektual kita sangat jauh ketertinggalanya dari intelektual barat. 

Sebenarnya sudah banyak sekali kaum intelektual kita seperti Abid Jabiri, Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun, Fazlur Rahman yang memikirkan bagaimana mengembangkan peradaban kita menjadi peradaban unggul dan mampu bersaing dengan peradaban barat, namun sampai saat ini belum muncul tanda-tanda peradaban kita akan mampu bersaing dengan peradaban barat.

Jikalaupun ada intelektual kita yang mau merubah peradaban biasanya nalar SDM kita belum mampu mengikuti arah pemikirannya sehingga terjadi banyak penolakan. Sehingga para intelektual kita lebih memilih berkarya dan mengebangkan pengetahuan didunia barat daripada dinegara sendiri. Oleh karena itu pondasi nalar berpikir burhani harus mulai dibiasakan dalam peradaban kita dan upaya pendidikan yang berbasis nalar burhani harus diterapkan sehingga tercipta sinergi antara kaum intelektual dan masyarakat.

Sebenarnya upaya Prof Dr Abid Jabiri dengan mengubah nalar yang Irfani dan Bayani menuju nalar berpikir Burhani adalah suatu cara untuk memajukan peradaban timur.
Salah satu hal juga yang membuat peradaban timur tertinggal adalah perlakukan terhadap turast (kitab kuning) atau upaya pembacaan turast yang tertalu tektualis, sehingga terkesan bahwa peradaban kita terkesan kaku dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Prof Dr Abid Jabiri mengatakan bahwasanya upaya perlakuan turast masih bersifat penyalinan dan penjabaran suatu masalah, tidak menciptakan suatu fans keilmuan dan pengetahuan baru sehingga yang terjadi adalah pengulangan pembahasan masalah. Dapat kita rasakan sampai saat ini kita masih disibukan dengan berbagai masalah yang sebernarnya pembahasan sudah diselesaikan oleh para pakar terdahulu. Saat kita kita masih disibukan dengan pembahasan bid'ah, tahayul dan khurafat. Padahal kalau diamati permasalahan ini tidak akan pernah selesai sampai kapanpun jika kita masih mengadalkan ego dan idealisme ideologi. Hal ini sangat disayangkan oleh Habib Lutfi Bin Yahya, beliau mengatakan sudah tidak eranya kita berdebat membahas masalah bid'ah dan furu'iyah. Yang harus kita bahas dan fokuskan adalah kemajuan pengetahuan agar bisa menyaingi peradaban barat. KH Sahal Mahfud menekankan langkah taktis agar peradaban kita (fiqih) bisa mengikuti perkembangan zaman harus ada upaya untuk menyelesaikan masalah dengan pembacaan turast yang metodologis bukan hanya tektualis. 
Upaya pembacaan teks dengan tiga nalar (Bayani, Irfani, dan Burhani) sangat penting agar bisa dihasilkan pembacaan sebuah teks yang komprehensif dan tidak berpacu pada makna tektualis, akan tetapi bisa sampai pada pembacaan teks yang kontektualis dan menghasilkan interpretasi yang mendalam.

penulis akan mencoba melakukan pembacaan kitab karya Muhammad al-ghozi yang berjudul fathul qorib-mujib, sebuah kitab yang sangat populer dikalangan umat muslim di indonesia khusunya kalangan pesantren.

Muhammad al-ghozi mengatakan bahwasanya air yang bisa digunakan untuk bersuci itu ada tujuh yaitu air langit (hujan), air laut, air sungai, air sumur, mata air, air salju, air es. Dari ketujuh jenis air tersebut pada dasarnya ada yang berasal dari langit, dan ada yang berasal dari bumi. Jika ditinjau dari pengamatan ilmu sains (burhani) sangat jelas bahwasanya air itu berasal dari dua tempat, yang turun dari langit dan yang bersumber dari bumi, akan tetapi pandangan ini jika tidak mencangkup semuanya jenis air, karena ada mu'jizat bahwasanya jemari nabi muhammad bisa mengeluarkan air dan digunakan untuk wudhu para sahabatnya, oleh karena itu pemahaman saintis saja tidak cukup untuk memahami sebuah realitas dan mengembangkan sebuah keilmuan, Prof Ibrahim Bajuri dalam karangannya menyebutkan bahwasanya asal usul air itu berasal dari satu saja, yaitu dari langit saja. Tidak ada air yang berasal dari bumi, hal ini berdasarkan keterangan Al-Quran surat azzumar ayat 21 "apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air dibumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan tanaman yang bermacam-macam". Akan tetapi suatu madhab mu'tazilah mempunyai hipostesa tersendiri yaitu bahwasanya semua air itu berasal dari bumi, yaitu laut, kemudian melalui proses ilmiah air tersebut dibawa kelangit (penguapan),kemudian diturunkan, begitu seterusnya sehingga menjadi sebuah siklus air, menurut hemat penulis pendapat dari madhab ini yang cenderung diikuti oleh ahli saintis abad moderen ini, Dari ketiga ini sudah selayaknya kita mengembangkan tiga nalar berpikir ala Prof Abid Jabiri untuk mengembangkan suatu keilmuan sehingga akan mucul suatu epistemologi keilmuan baru yakni asal-usul air dari tiga perspektif nalar berpikir, sehingga teori ilmu yang dihasilkan bisa lebih komprehensif.

Imam Nawawi Albantani, seorang cendekiawan terkemuka asal Banten, Indonesia mengemukakan dalam buku karangannya, Qutul Habibul Ghorib, bahwasanya air yang turun dari langit itu ada dua jenis, yang pertama yaitu air hujan yang kedua adalah air embun. Beliau berhipotesa bahwa salah satu keunikan dan keajaiban air embun adalah bahwa air embun itu bisa menerbangkan suatu. ia menyatakan, apabila kita mengambil sebutir telur, kemudian kita melubanginya dan mengeluarkan isinya kemudian kita isi telur tersebut dengan menggunakan embun, setelah itu tutup kembali lubang telur tersebut dengan malam, kemudian letakan telur tersebut diletakan diterik matahari, tepat waktu istiwa (ketika matahari tepat berada diatas kita, keadaan tanpa bayangan) telur tersebut akan terbang. Hemat penulis bahwasanya imam nawawi mengularkan pernyataan ini berdasarkan nalar pikir irfani (ilham ilahi), entah beliau sudah melakukan atau belum, yang penulis yakini bahwa apa yang ditulis oleh ulama dalam kitabnya bisa dipertanggungjawabkan dunia-akhirat oleh karenanya penulis berharap hipotesa ini bisa diteliti dengan menggunakan nalar burhani (saintifik) sehingga akan menghasilkan suatu penemuan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Sangatlah menarik kajian mengenai air embun sudah dipaparkan imam nawawi, oleh karenanya penulis tertarik melakukan sebuah kajian mengenai air yang turun dari langit juga, yaitu air hujan. Penulis menyimpulkan bahwa dalam Al-Quran terdapat 73 kata yang mengungkapkan makna hujan di dalam Al-Quran. 73 kata tersebut tersebar dalam 66 ayat dan menggunakan 20  kata jenis kata saja. Kedua puluh kata tersebut adalah As-Ṣayyib (الصيّب), Al-Wābil (الوابل), At-Ṭal (الطل),  Al-Maṭar (المطر), Al-Māˈ (الماء),  As-Samāˈ(السماء), As- Saḥāb (السحاب), Al- Ḥijārah (الحجارة), Al-Ḥusbāna (الحسبان),  Al- Wadq(الودق), Al-Baradu (البرد), Al-Kisafa (الكسف), Ar-Rīḥu (الريح), Al-Ḥāṣib (الحاصب), Al-Gaiṡ (الغيث), Ar-Riżq (الرزق), Al-'Āriḍu (العارض), Al-Wiqr (الوقر), Ar-Raj' (الرجع), ar-rahmah (الرحمة).

Penulis kemudian mengambil dua contoh kata yang bermakna hujan yaitu Kata Al-Ḥusbāna (الحسبان), Al-Ḥusbāna mempunyai makna hujan deras yang turun dari langit yang merupakan azab disertai petir, angin yang panas, gumpalan es yang sangat dingin yang menyebabkan tanah menjadi putih serta mengandung air asin sehingga tidak bisa ditumbuhi tanaman dan tidak bisa dilewati sehingga hilang kemanfaatanya. Dari sini penulis mengambil hipotesa berdasarkan nalar pikir bayani bahwa hujan dengan kata ini mereferentasikan hujan asam yang kita kenal sekarang, karena hujan ini mengandung air asin yang apabila mengenai tanah akan mengering dan mati, dan apabila mengenai dedaunan, akan mengering dan mati, dan hal ini sudah banyak sekali dikaji oleh cendekiawan dengan menggunakan nalar berpikir burhani (saintik), sangatlah indah jika suatu penelitian menggabungkan dua nalar berpikir ini bayani yaitu interpretasi dari teks (alquran hadist) dan dipadukan dengan nalar pikir burhani (saintik). kemudian penulis mengambil kata Kata Ar-Raj'. Prof Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir (2009:15/559) menyatakan bahwa makna Ar-Raj' bermakna kembalinya sesuatu kepada titik semula, yang dimaksudkan adalah hujan yang kembali ke bumi secara berulang yang turun dari langit, menghidupkan bumi yang mati serta menumbuhkan berbagai tanaman. Dari sini penulis menyimpulkan bahwa kata Ar-Raj' mempunyai tiga makna. Pertama adalah hujan yang turun setelah turunya hujan yang pertama, kedua adalah hujan kembali dari langit ke bumi seraca berulang-ulang (siklus air) dan menghidupkan bumi yang mati, ketiga adalah hujan yang kembali dan berulang setiap tahun. Perputaran siklus air ini merupakan hasil interpretasi nalar burhani dan bayani.

Dari keterangan ini, pembahasan sebuah kitab dengan tiga nalar berpikir tadi diharapkan akan menghasilkan suatu peradaban baru, yaitu peradaban yang cinta akan ilmu pengetahuan.

Mencari Kang Slamet Pasrah

Muhasabah Kebangsaan

MENCARI KANG  SLAMET PASRAH

Oleh Al-Zastrouw

Di dusun kami ada seseorang yg bernama Slamet. Tapi karena orangnya pasrah, _semeleh_ dan _legowo_ dia sering juga dipanggil Pasrah, sehingga kami  manyebutnya kang Slamet Pasrah

Kang Slamet alias Pasrah ini orangnya baik, ramah, suka senyum dan menyenangkan. Setiap orang yg bersamanya atau berada di dekatnya akan merasa damai dan tentram. Hatinya lembut dan gak pernah marah. Kalaupun marah tdk meluap2 dan memaki, tapi org merasa kalau dia sedang marah. Sesekali marah kalau melihat orang2 berlaku dholim dan tidak. 

Sikapnya yg seperti ini membuat Kang Slamet menjadi panutan orang sedusun. Apa yang dilakukan akan diikuti dan diterima masyarakat tanpa syarat. Apa yg dilarang dan siapa saja dibenci oleh kqng Slamet maka masyarakat akan ikut menjauhi dan membenci.

Selain karena perilakunya yg mulia, sikap masyarakat terhadap kang Slamet ini juga disebabkan oleh adanya pernyataan dari para sesepuh bahwa sesungguhnya yg paling  baik dan benar itu ya Slamet atau Pasrah. Barang siapa yg berteman atau mencontoh selain kang Slamet alias Pasrah maka orang tersebut tidak akan diterima oleh para sesepuh dusun tersebut.

Saking cinta dan tàatnyanya pada kang Slamet orang2 di dusun kami selalu  menjaganya. Pernah suatu saat masyarakat disuruh kumpul di lapangan oleh tokoh2 dusun dan org2 yg mengaku dekat dengan kang Slamet untuk membela kang Slamet yg katanya dilecehkan.  Maka dengan serta merta seluruh penduduk dusun berkumpul. Tak ada yg berani melawan perintah tersebut karena yg tdk ikut membela akan dikucilkan bahkan dicap sebagai pembangkang.

Yang menarik orang yg mengaku dekat kang Slamet itu sering memerintahkan warga dusun kami agat tidak mendekati orang atau tokoh lain meski hanya untuk sekedar bergaul, apalagi meniru gayanya. Katanya kang Slamet melarang kita melakukan hal itu. Mereka selalu ciriga pada orang lain dan memandangnya sebagai musuh, bukan sebagai tetangga yg perlu dihormati atau sesama manusia yg perlu dimuliakan. 

Pernah juga ada orang mencaci dan membenci sesama saudara katanya demi kang Slamet, menista dan merampas hak orang lain secara paksa demi menjaga mas Slamet. Bahkan ada yg rela pasang badan, mati demi membela kang Slamet. Terus terang aku kagum pada militansi  mereka, pada kegigihan dan semangat para pembela mas slamet yg sampe gelap mata dan gelap pikir sehingga tidak bisa melihat kenyataan secara jujur. Orang2 ini begitu tulus dan ikhlas mencintai dan membela mas Slamet karena ketaatan mereka pada dhawuh leluhur.

Sebenarnya orang-orang di dusun itu juga tahu bahwa ada beberapa orang yg melakukan semua itu demi ambisi politik, kekuasaan, materi dan eksistensi diri. Meskipun mereka bilang bahwa yg mereka lakukan itu demi menjaga dan membela kang Slamet. Mereka ini menjadikang kang Slamet sebagai topeng menutupi hasrat dan ambisi pribadinya. Namun orang2 ini diam karena takut dianggap melecehkan orang suci pembela mas Slamet, kalau menyampaikan hal ini. Pernah ada yg mencoba kritis dan mengkritik tindakan mereka yang tidak sesuai dengan kelakuan kang Slamet, namun dengan serta merta orang tersebut dihujat habis habisan. Mereka dianggap pemecah belah warga dusun, merusak persaudaraan bahkan ada yg sampe dianggap sesat segala. Ada juga yg dikucilkan dan  dimasukkan dalam rumah bantu yg ada di pojok dusun.

Melihat kelakuan orang2 di dusun ini saya jadi merenung. Yang dimaksudkan Slamet alias Pasrah dalam pesan yg disampaikan oleh para leluhur dusun itu apa? Apakah benar-benar sosok individu mas Slamet yg  ada di dusun kami yang sering juga dipanggil mas Pasrah karena kelakuannya yg selalu tuduk dan pasrah itu atau semua orang-orang yg selalu bisa memebar damai dan keselamatan pada sesama meskipun namanya tidak Slamet?

Pendeknya,  pesan memgenai Slamet ini sebenarnya makna tekstual (denotatif) atau makna subatantif (komotatif)  Artinya, kalau  Slamet alias Pasrah ini dimaknai dan dipahami secara tekstual simbolik, maka dia bisa berwujud manusia yang bernama Slamet. Dengan demikian yang diakui dan akan diterima oleh para leluhur dusun adalah orang atau sosok yang bernama Slamet alias Pasrah. Pemahaman ini membuat, orang berebut membela, mempertahankan dan menjaga figur atau sosok yang bernama Slamet alias Pasrah.  Kemudian berupaya manarik orang sebanyak2nya  agat bisa bersama kang Slamet. 

Sebaliknya, jika  Slamet alias pasrah itu dipahami secata konotatif-substantif maka dia berarti sikap, perilaku dan tindakan menebar keselamatan dan kedamaian sebagai wujud kepasarahan dan ketundukan kepada Yang Maha Kuasa.  Dengan demikian seseorang bisa saja menjadi Slamet asal bisa menjalankan laku hidup pasrah dan tunduk pada Allah serta menyebarkan keselamatan, kedamaian dan keadilan pada sesama, meskipun namanya bukan Slamet. 

Jika pemaknaan tekstual simbolik justru bisa memancing kegaduhan dan rawan dimanipulasi, mengapa kita tidak memaknainya secara konatatif substantif? Atau tetap saja menggunakan makna tekstual tetapi tetap menjaga dan menggunakan makna substasial sebagai ukuran menilai tindakan setiap warga yg ada di dusun kami. Dengan demikian kita akan mudah menemukan dan mengenali sosok kang Slamet diantara berbagai ragam kenyatàan yang ada.

Sebenarnya ingin sekali aku bertanya  dan melakikan konfirmasi pada leluhur yang menyampaikan pesan ini. Namun aku tak memiliki kemampuan unt berkomunikasi dengan mereka apalagi dg yang membuat pesan tersebut.

Setiap kali ada gerakan membela kang Slamet di dusun kami dengan  legiatan yg hingar bingar, pertanyaan ini selalu muncul. Karena pada saat seperti ini, saat terjadi kegaduhan atas nama kang Slamet aku juastru merasa sangat kehilangan kang Slamet dan menjadi jauh dari kang Slamet. Karena aku tdk melihat dan menemukan kang Slamet dalam kerumunan wajah sangat yg penuh kebencian dan prasangka.

Jika sudah demikian,  kembali aku harus menyimpan pertanyaan ini rapat-rapat dalam bilik  hatiku karena aku takut dibilang sesat,  merusak ukhuwah dan akidah jika kusampaikan hal ini pada mereka yg sudah merasa menemukan dan merasa dekat dengan mas Slamet alias mas Pasrah itu.***

Mengapa Seharusnya Kita Merujuk Ulama, Tidak Langsung ke al-Quran dan al-Hadits?

Dialog Seorang Pemuda dengan Kyai tentang Sumber Ilmu.....
Pemuda: Assalamu Alaikum, Kyai…
Pak Kyai: Wa alaikum Salam.. Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu?

Pemuda: Terima kasih Pak Kyai. Nama saya Abdullah dan saya berasal dari Kampung Seberang.

Pak Kyai: Jauh kamu bertandang ke sini, sudah tentu kamu punya hajat yang sangat besar. Apa hajatnya mana tahu mungkin saya boleh menolongmu?

Pemuda berjidat hitam tersebut diam sebentar sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

Pemuda: Begini Pak Kyai, saya datang ke sini bertujuan ingin berbincang beberapa permasalahan dengan Pak Kyai. Pendeknya, permasalahan umat Islam sekarang.
Pak Kyai: Permasalahan seperti apa itu anakku?

Pemuda: Saya ingin bertanya, mengapa Kyai-Kyai di kebanyakan pesantren di Indonesia, dan Tuan-Tuan Guru di Malaysia serta Pattani dan Asia umumnya sering kali mengajar murid-murid mereka dengan lebih suka mengambil kalam-kalam atau pandangan para ulama? Seringkali saya mendengar mereka akan menyebut: "Kata al-Imam al-Syafii, kata al-Imam Ibn Atho'illah al-Sakandari, Kata al-Imam Syaikhul Islam Zakaria al-Ansori dan lain-lain"

Mengapa tidak terus mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah? Bukankah lebih enak kalau kita mendengar seseorang tersebut menyebutkan "Firman Allah taala di dalam al-Quran, Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis itu dan ini?"

Bukankah Ulama-ulama itu juga punya kesalahan dan kekurangan. Maka mereka juga tidak lari daripada melakukan kesilapan. Maka sebaiknya kita mengambil terus daripada kalam al-Ma'sum iaitu al-Quran dan al-Sunnah.

(Pak Kyai mendengar segala hujjah yang disampaikan oleh pemuda tersebut dengan penuh perhatian. Sedikit pun beliau tidak memotong malah memberikan peluang bagi pemuda tersebut berbicara sepuas-puasnya. Sambil senyuman terukir di bibir Pak Kyai, beliau bertanya kepada pemuda tersebut,)

Pak Kyai: Masih ada lagi apa yang ingin kamu persoalkan wahai nak Abdullah?
Pemuda: Sementara ini, itu saja yang ingin saya sampaikan Pak Kiyai.

Pak Kyai: Sebelum berbicara lebih lanjut, eloknya kita minum dahulu ya. Tiga perkara yang sepatutnya disegerakan adalah hidangan kepada tetamu, wanita yang dilamar oleh orang yang baik maka disegerakan perkawinan mereka dan yang ketiga, si mati yang harus disegerakan urusan pengkebumiannya. Betul kan Abdullah?

Pemuda: Benar sekali Pak Kyai .

(Pak Kiyai lalu memanggil isterinya bagi menyediakan minuman pada mereka berdua. Maka beberapa detik selepas itu minuman pun sampai di hadapan mereka.)

Pak Kyai: Silakan minum Abdullah.

(Setelah dipersilahkan oleh Pak Kyai, maka Abdullah pun terus mengambil bekas air tersebut lalu menuangkan perlahan-lahan ke dalam cawan yang tersedia.)

Pak Kyai terus bertanya: Abdullah, kenapa kamu tidak terus minum dari tekonya saja? Kenapa perlu dituang di dalam gelas?

Pemuda: Pak Kyai, mana bisa saya minum terus dari tekonya. Tekonya besar sekali. Maka saya tuang ke dalam gelas agar memudahkan saya meminumnya.

Pak Kyai: Abdullah, itulah jawaban terhadap apa yang kamu persoalkan tadi. Mengapa kita tidak mengambil langsung dari Al-Quran dan as-Sunnah? Terlalu besar untuk kami terus minum daripadanya. Maka kami mengambil apa yang telah dituang di dalam gelas para ulama. Maka ini memudahkan bagi kami untuk mengambil dan memanfaatkannya.

Benar kamu katakan bahwa mengapa tidak langsung saja mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah. Cuma persoalan ini kembali ingin saya lontarkan kepada kamu. Adakah kamu ingin mengatakan bahwa al-Imam al-Syafii dan para ulama yang kamu sebutkan tadi mengambil hukum selain dari Al-Quran dan Sunnah? Adakah mereka mengambil daripada kitab Talmud atau Bible?

Pemuda: Sudah tentu mereka juga mengambil dari Al-Quran dan Sunnah.

Pak Kyai: Kalau begitu, maka sumber pengambilan kita juga adalah Al-Quran dan Sunnah cuma dengan paham para ulama.

Pak Kyai: Satu lagi gambaran yang ingin saya terangkan kepada kamu. Saya dan kamu membaca Al-Quran, al-Imam al-Syafii juga membaca Al-Quran bukan?

Pemuda: Sudah tentu Pak Kyai.

Pak Kyai: Baik, kalau kita membaca sudah tentu kita ada memahami ayat-ayat di dalam Al-Quran tersebut bukan? Al-Imam al-Syafii juga memahami ayat yang kita bacakan. Maka persoalannya, pemahaman siapa yang ingin didahulukan? Pemahaman saya dan kamu atau pemahaman al-Imam al-Syafii terhadap ayat tersebut?

Pemuda: Sudah tentu pemahaman al-Imam al-Syafii karena beliau lebih memahami dibanding orang zaman sekarang.

Pak Kyai: Nah, sekarang saya rasa kamu sudah jelas bukan? Hakikatnya kita semua mengambil daripada sumber yang satu yaitu al-Quran dan Sunnah. Tiada seorang pun yang mengambil selain dari keduanya. Cuma bedanya, kita mengambil dari pemahaman al-Quran dan Sunnah tersebut dari siapa?

Sudah tentu kita akan mengambil dari orang yang lebih dalam ilmunya. Ini kerana mereka lebih wara' dan berjaga-jaga ketika mengeluarkan ilmu.

Kamu tahu Abdullah, al-Imam al-Syafii pernah ditanya oleh seseorang ketika beliau sedang menaiki keledai, berapakah kaki keledai yang Imam tunggangi?

Maka al-Imam al-Syafii turun dari keledai tersebut dan menghitung kaki keledai tersebut. Selesai menghitung, barulah al-Imam menjawab: "Kaki keledai yang aku tunggangi ada empat".

Orang yang bertanya tersebut merasa heran lalu berkata "Wahai Imam, bukankah kaki keledai itu memang empat, mengapa engkau tidak langsung menjawabnya?"

Al-Imam al-Syafii menjawab: "Aku bimbang, jika aku menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu, tiba-tiba Allah Ta'ala hilangkan salah satu kakinya maka aku sudah dikira tidak amanah di dalam memberikan jawaban"

Coba kamu perhatikan Abdullah, betapa wara'nya al-Imam al-Syafii ketika menjawab persoalan berkaitan dunia. Apalagi kalau berkaitan dengan agamanya?

Al-Imam Malik pernah didatangi oleh seorang pemuda di dalam majlisnya di Madinah al-Munawwarah. Pemuda tersebut mengatakan bahwa dia datang dari negeri yang jauhnya 6 bulan perjalanan daripada Madinah. Pemuda itu datang untuk bertanya satu masalah yang ada di lokasinya.

Al-Imam Malik, mengatakan bahawa "Maaf, aku tidak pandai untuk menyelesaikannya"

Pemuda tersebut heran dengan jawaban Imam Malik, dan dia bertanya: "Bagaimana aku akan menjawab nanti bilamana ditanya oleh penduduk tempatku?"

Maka kata al-Imam Malik: "Katakan kepada mereka bahwa Malik juga tidak mengetahui bagaimana untuk menyelesaikannya"

Allah… Coba kamu lihat Abdullah betapa amanahnya mereka dengan ilmu. Berbeda dengan manusia zaman sekarang yang baru setahun jagung di dalam ilmu sudah menepuk dada mengaku bahwa seolah-olah mereka mengetahui segalanya.

Pemuda: Masya Allah, terima kasih Pak Kyai atas penjelasan yang sangat memuaskan. Saya memohon maaf atas kekasaran dan keterlanjuran bicara saya .

Pak Kyai: Sama-sama Abdullah. Semoga kamu akan menjadi seorang yang akan membawa panji agama kelak dengan ajaran yang benar Insya Allah.

Semoga kita dapat mengambil Hikmah dan pelajaran dari kisah ini…

Fasholatan KH Muhammad Soleh Darat 2: Mengurai Makna Salat

Terjemah Kitab Fasholatan #2
Oleh Nur Ahmad

Membaca Alfatihah
Setelah itu ucapkanlah 
اعوذ بالله من الشيطن الرجيم
Maksudnya, hamba mencari perlindungan dan penjagaan kepada Allah dari rayuan syaitan, hawa nafsu, dan syahwat yang terus-menerus mengajak buruk.
Kemudian ucapkanlah
بسم الله الرحمن الرحيم
Maksudnya, shalat hamba ini terlaksana berkat dengan pertolongan Allah Yang Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya. Dia juga Yang Maha Pengasih kepada orang-orang mukmin, yaitu dengan memberi taufik sehingga mereka berkenan melaksanakan shalat.
Maka setelah itu ucapkanlah:
الحمد لله
Maksudnya yaitu sifat sempurna hanya milik Allah. Jika Allah berkenan memberi pertolongan kepada hamba-Nya, maka hamba yang hina ini akan diberi kemampuan melaksanakan ketaatan dan menjauhi maksiat.
Lalu ucapkan:
رب العلمين
Yaitu Allah adalah Dzat Yang Merajai dan Yang Mengatur seluruh alam. Yaitu Allah selalu menyediakan kebutuhan hamba-Nya. Baik yang berupa kebutuhan duniawi maupun ukhrowi. Sebagian hambanya ada yang dikaruniai taufik rajin beribadah dan sebagian lainnya dikaruniai taufik ilmu ma'rifah.
الرحمن الحيم
Maksudnya, Allah adalah Dzat Yang memberi kemurahan dengan menjadikan seorang hamba ahli ibadah kepada Allah. Termasuk kemurahannya juga adalah dengan menjadikan manusia subjek yang diajak bicara oleh wahyu dan yang berdialog dalam munajat. Allah adalah Dzat Yang mengasihi manusia dalam keadaan susah dan hina. Kemudian Allah mengaruniakan manusia kehendak untuk taat dan shalat.
ملك يوم الدين
Maksudnya, Allah adalah Dzat Yang menguasai dan merajai seluruh makhluk kelak di hari kiamat. Allah adalah Yang menguasai terwujudnya hari kiamat. Dialah Yang memberi hukum kepada seluruh orang yang beragama.
اياك نعبد واياك نستعين
Artinya, sungguh hamba menyembah-Mu ya Allah karena pertolongan dan kasih-Mu kepada hamba. Dan hanya kepada-Mu ya Allah, hamba memohon pertolongan atas seluruh perkara hamba, sehingga menjadi baik menurut-Mu ya Allah. Hamba pasrah kepada-Mu ya Allah.
اهدنا الصراط المستقيم
Yaitu, semoga Engkau, Ya Allah, memberi petunjuk kepada hamba kepada agama yang benar. Semoga Engkau juga mengaruniakan kepada hamba mampu menyusuri jalan yang lurus, benar, dan baik menurut-Mu.
صراط الذين انعمت عليهم
Jalan yang lurus (الصراط المستقيم) itu adalah jalan hidup, perilaku, dan cara beragama para nabi Allah dan para Waliyullah yang telah Engkau, Ya Allah, karuniai nikmat kepada mereka semua.
غير المغضوب عليهم ولاالضالين
Jalan lurus (الصراط المستقيم) itu bukanlah cara beragama yang Engkau benci Ya Allah.  Jalan lurus itu juga bukan pula jalannya orang-orang yang telah Engkau sesatkan. Cara beragama yang Allah benci adalah cara beragama kaum Yahudi. Sedangkan cara beragama yang Allah sesatkan adalah caranya kaum Nasrani. Oleh sebab itu, arti "Jalan Lurus" (الصراط المستقيم) adalah selain keberagamaan kaum Nasrani dan kaum Yahudi. Itulah agama Islam yang telah dijalankan oleh para utusan, para nabi, dan para wali.
Bersambung...

Fasholatan KH. Sholeh Darat 1: Mengurai Makna Salat

Terjemahan Kitab Fasholatan Karya K.H. Sholeh Darat As-Samarani (1820-1903). #1
Oleh Nur Ahmad.

Pembukaan

Hendaknya semua orang yang shalat mengerti makna bacaan yang mereka baca ketika shalat. Oleh sebab itu, hendaknya mereka mengaji kitab ini. Ia adalah kitab karya 'Alim yang memiliki keutamaan, sikap wara' dan kesempurnaan budi pekerti, Syaikh Haji Muhammad Sholeh bin Umar as-Samarani. Semoga Allah mengampuninya, kedua orang tuanya dan seluruh umat muslim. Amin.


بِسمِ اللهِ الرَّحمٰنِ الرَّحِيم

Persiapan Shalat

Ketahuilah bahwa ketika kamu telah bersuci secara lahiriah dengan berwudhu sesuai dengan hukum syariat. Jika kamu junub, kamu hendaknya telah mandi junub sesuai hukum syariat pula. Yaitu, keduanya kamu lakukan sesuai dengan yang telah diterangkan dalam kitab-kitab fikih. Setelah itu, kamu hendak melaksanakan shalat wajib karena mengikuti perintah syariat, maka menghadaplah ke kiblat. Pastikan tempat shalatmu dan juga hatimu telah bersih dari najis. Setelah itu, hadapkanlah dadamu secara lahir dan hadapkanlah hatimu secara rohaniah ke arah kiblat.

Memasuki Shalat

Dalam keadaan seperti ini, berniatlah mengikuti perintah Allah swt. sesuai dengan contoh yang diberikan Baginda Rasulullah saw. Berniatlah juga mencari keridhaan Allah swt. dengan cara menghadap dengan rendah diri kepada-Nya. Jagalah kesadaran ini dengan kukuh selama melaksanakan shalat.

Takbir

Kemudian ucapkanlah: 'Allahu Akbar'. Yaitu hatimu berkata bahwa sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Agung kekuasaan-Nya; tidak ada yang agung selain Allah; dan tidak ada tuhan selain Allah. Jangan sekali-kali kamu menduga bahwa ada satu makhluk pun yang memiliki sifat keagungan dan sifat kemuliaan ini. Allah semata yang memiliki kedua sifat agung ini dan tidak ada satu makhluk pun yang menyekutui Allah.


Doa iftitah

Setelah takbir, ucapkanlah:

وَجَّهتُ وَجهِيَ

Yaitu Hamba menghadap kepada Tuhan. Hamba hadapkan wajah dan hati hamba kepada (bacalah):

لِلَّذِي فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالأَرض

Dzat Yang telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi. Artinya hamba menghadap untuk mengikuti perintah Dzat Yang telah menciptakan tujuh langit dan tujuh bumi beserta isinya. Lalu hadapkanlah dadamu secara lahir kepada baitullah. Juga hadapkanlah hatimu secara rohaniah kepada Allah Yang memerintahkan shalat.

Lalu lanjutkan bacaan:

حَنِيفًا مُسلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Maksudnya hendaknya hati seorang yang sedang shalat itu menghadap lurus dan fokus kepada Allah dan tidak menoleh ke kiri dan ke kanan. Seorang yang shalat hendaknya meneguhkan dalam hatinya bahwa dia semata-mata menghadap Allah dan menjalankan perintah Allah. Tujuannya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah dan tidak sekali-kali dia berontak terhadap perintah ini. Dia hendaknya tidak pula menyekutukan tujuan shalat ini dengan cara melakukan shalat karena mengikuti perintah selain Allah. Ucapkanlah dalam hatimu "hamba hanya menuju kepada Engkau semata Ya Allah, tidak selain Engkau".

إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَى وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ العٰلَمِينَ

Maksudnya sesungguhnya shalat hamba, seluruh ibadah hamba, hidup dan mati hamba, seluruhnya adalah milik Allah سُبحَانَهُ وَتَعَالَى Yang merajai seluruh alam.

Lalu ucapkanlah:

لاشريك له وبذلك امرت وانا من المسلمين

Maksudnya, tidak ada yang berserikat dengan Allah dan tidak ada yang menyerupai Allah dalam keagungan-Nya. Sebaliknya segala sesuatu menjadi hamba Allah. oleh karena itu, hamba melaksanakan shalat dan seluruh ibadah. Hamba adalah orang yang pasrah dan tunduk mengikuti apapun kehendak dan perintah-Mu Ya Allah.

Bersambung...

Kupu Kupu Kehidupan


Mereka yang tidak peduli dengan 'tirakat' sama seperti ulat. Rakus, memakan semua yang bisa dimakan. Bahkan tak segan-segan mengahabisi daun-daun hijau yang tumbuh segar. Benar-benar habis hingga tak tersisa sedikitpun.

Tirakat menurut masyarakat Jawa adalah proses menahan hawa nafsu dari keinginan duniawi. Menjaga perut agar tidak terlalu kenyang. Menjaga mata dari pandangan penuh dosa. Menjaga bibir untuk selalu basah dengan dzikir, dlsb. Begitulah orang Jawa memaknai tirakat. Sebuah proses pengejawentahan diri menuju pribadi yang lebih baik.

Senada dengan pendapat masyarakat Jawa, dalam KBBI, tirakat bermakna menahan hawa nafsu (seperti berpuasa, berpantang dlsb) dan dapat pula bermakna mengasingkan diri ke tempat yang sunyi (di gunung dlsb).

Meski tujuan dan manfaat tirakat tidak pernah disebutkan secara langsung, namun kita dapat memahaminya melalui fenomena alam yang ada. Hal ini sangat logis karena ayat-ayat Allah swt tidak hanya termaktub dalam Alqur'an, melainkan semua hal yang tersebar di jagad raya. Dengan mengamati peristiwa yang terjadi di sekitar, kita juga telah membaca firman Tuhan. Ya, firman Tuhan dalam ayat-ayat semesta. 

Ulat yang kita bicarakan diawal tulisan akan melaksanakan tirakatnya menuju makhluk yang lebih indah. Pada tahap awal, ulat akan berubah menjadi kepompong, makhluk yang berbeda 180 derajat dengan sebelumnya. Setelah menjadi kepompong, ulat tak lagi rakus seperti sebelumnya. Ia benar-benar melaksanakan tirakat yang sempurna. Tidak makan dan minum selama hampir satu bulan penuh. Persis seperti seseorang yang sedang bertapa, kepompong tak peduli dengan panas dan hujan yang datang silih berganti. Ia akan tetap menggantung pada ranting atau di bawah dedaunan yang hijau hingga tirakatnya selesai. Kepompong yang kuat menjalani proses tirakatnya akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Menjelma serangga indah yang membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Sementara yang gagal dalam proses itu akan binasa. Tubuhnya hancur tak bersisa dan menjadi kepompong yang kopong (kosong).

Begitulah, walaupun dianggap makhluk menjijikkan bagi sementara orang, namun setelah tirakat, ulat akan berubah menjadi serangga kecil yang indah dan mempesona. Ya, serangga itu bernama kupu-kupu. Hewan kecil yang tidak hanya disenangi anak-anak tapi juga orang dewasa. Bahkan remaja putri sangat mengagumi kupu-kupu karena pesona keindahan sayapnya.

Demikian juga dengan manusia, mereka yang sanggup menjalani laku tirakat dengan sempurna akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan tidak mungkin, seseorang yang awalnya selalu malas mematuhi aturan, setelah tirakat, menjadi sangat disiplin. Bukan tidak mungkin, para preman yang akhirnya bertaubat dan menjalani laku tirakat dapat menjadi sosok yang sangat sopan dan patuh terhadap perintah-perintah Tuhan.

Meski hampir sama, namun laku tirakat pada manusia tetap memiliki perbedaan dengan kupu-kupu. Bagaimanapun, kupu-kupu adalah hewan tak berakal dan tidak dengan manusia. Laku tirakat pada manusia boleh dilaksanakan oleh orang lain. Misal, seorang ibu melakukan tirakat khusus untuk anaknya. Setulus hati dan istiqomah bangun pada sepertiga malam untuk menunaikan tahajud dan melangitkan doa-doa terbaik untuk sang buah hati. Berpuasa setiap hari kelahiran putranya sembari terus memohonkan kebaikan untuknya. Bagi ayah, laku tirakat bisa dilaksanakan dengan berusaha sekuat tenaga mencari rizki yang baik dan halal untuk kelangsungan hidup keluarga. Dan, laku tirakat ini akan sempurna manakala sang anak juga mengimbangi dengan tirakat serupa. Bagi anak, dalam masa pendidikan, laku tirakat dapat dilaksanakan dengan rajin belajar, disiplin dan mengikuti seluruh peraturan yang dibuat, patuh dan hormat kepada guru, menghargai yang lebih besar, serta mengasihi yang lebih kecil.

Dari siklus metamorfosis ulat, kepompong, dan kupu-kupu, kita juga belajar untuk tidak mudah menjustifikasi orang lain. Bisa jadi orang yang kita nilai buruk sejatinya tengah menuju proses metamorfosis (tirakat) untuk menjadi lebih baik. Sebaliknya, orang yang kita sebut-sebut telah paripurna menjalani laku tirakat sejatinya masih dalam proses. Kita tak pernah tahu ending kehidupan kita. Apakah berakhir baik (husnul khotimah) ataukah berakhir buruk (su'ul khotimah). Yang jelas, tirakat dapat dijadikan satu alternatif untuk menjemput happy ending. Jangan berharap lebih baik jika tak mau tirakat. Apapun tirakatnya, lakukanlah sekarang juga karena kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput.

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 14/01/2018

Menanam, Merawat, dan Menuai

MENANAM, MERAWAT, DAN MENUAI (Simbol Kehidupan Menuju Kesuksesan Sejati)

Saya yakin, kita semua pernah mendengar bahkan (mungkin) sangat hafal dengan peribahasa "Siapa yang Menanam, Pasti Akan Menuai." Pepatah kehidupan ini disajikan dengan bahasa simbolik, yaitu melukiskan sesuatu dengan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Setidaknya, terdapat dua kata kunci dalam peribahasa ini, menanam dan menuai. Keduanya merupakan simbol dan perlambang dari seluruh kegiatan kausalitas (sebab-akibat). Bila kita menanam maka kita akan menuai, bila matahari terbit maka tiba waktu pagi, bila hujan maka basah, bila malam maka gelap, bila rajin maka pandai, bila sungguh-sungguh maka berhasil, begitu seterusnya.

Jika dicermati lebih lanjut, sesungguhnya terdapat satu kata kunci yang hilang dari peribahasa di atas. Kata kunci yang sebenarnya tak kalah urgen dari dua kata sebelumnya (menanam dan menuai). Ya, merawat, salah satu kata dalam judul tulisan ini. Siapa saja yang menanam maka ia akan merawat dan selanjutnya (boleh jadi) akan menuai.

Janji akan menuai setelah menanam hanya mengajarkan kita untuk abai terhadap proses. Kita sangat ingin menggapai hasil yang maksimal meski baru satu kali berusaha. Pendidikan jadi bertujuan hanya untuk mendapatkan nilai-nilai di ijazah saja, kurang konsen dengan proses. Merawat (menurutku) identik dengan istiqomah menjaga tanaman sampai waktu panen tiba. Bukan tiba-tiba menanam langsung panen (menuai).

Disadari atau tidak, generasi saat ini telah sampai pada titik yang sangat menggemaskan. Bagaimana tidak, kita saat ini terlalu bangga dengan bibit unggul yang kita miliki. Sesumbar telah menanamnya di ladang yang sangat subur. Namun selanjutnya abai untuk merawat bibit yang kita gadang-gadang tadi. Ketahuilah, bibit sehebat apapun, meski ditanam di ladang paling subur di dunia sekalipun, tanpa dirawat, pasti akan layu. Dan hasilnya jelas, pasti akan gagal panen.

Seperti tanaman yang perlu dirawat dengan diberi pupuk, disemprot dengan pestisida agar terhindar dari hama, disiangi agar pertumbuhannya berjalan dengan baik, dlsb. Maka, kebaikan yang ada pada diri kita juga perlu dirawat sedemikian rupa agar tidak layu dan berguguran. Kita boleh menanam apa saja tapi tidak boleh lupa untuk selalu merawatnya.

Kecerdasan dan motivasi yang tinggi untuk terus belajar juga harus dirawat. Diberi pupuk dengan diskusi-diskusi rutin, dengan buku-buku yang kaya vitamin dan protein. Disemprot dengan nasihat-nasihat yang dapat membersihkan hati dari hama takabur. Dan yang terpenting, disiangi dengan selalu melatih dan menggali seluruh potensi yang ada. Jika proses ini dilaksanakan dengan baik, maka waktu menuai yang dijanjikan akan menjadi kenyataan.

Semangat dan potensi untuk menulis juga begitu. Prestasi di bidang apapun, mudah menghafal dan memahami pelajaran, suka bersedekah, rajin menolong, selalu melaksanakan sholat malam, puasa sunnah, dan segala hal baik lainnya. Tanpa dijaga dan dirawat dengan baik, seluruh potensi dan hal-hal baik itu akan hilang diterpa zaman. Pohon kebaikan itu akan layu, dan bisa saja berubah menjadi pohon keburukan.

Pentingnya proses menjaga dan merawat juga pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, makhluk paling mulia di dunia. Rasul berpesan, "Sebaik-baik perkara adalah yang dilakukan terus-menerus, meski hanya sedikit". Imam Ghozali juga mengatakan hal yang sama. Dalam salah satu pendapatnya, beliau berkata "Kebaikan yang tidak dilakukan secara continou sejatinya bukan hal yang baik. Bahkan, keburukan yang tidak dilakukan terus-menerus lebih baik dari kebaikan yang tidak konsisten". Dari sini kita belajar, bahwa proses merawat jauh lebih penting dari sekedar menuai hasil.

Terlepas dari kekurang setujuan terhadap peribahasa menanam dan menuai yang kita diskusikan di awal tulisan. Namun sebagai warga Indonesia, saya tetap bangga karena negara kita sangat kaya dengan peribahasa. Terkait pentingnya merawat tanaman, mimpi, harapan, cita-cita, dan seluruh kebaikan lainnya, kita masih memiliki peribahasa lain yang mengajarkan hal itu. Peribahasa itu antara lain; Barakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, lalu senang kemudian.

Apapun cita-cita dan harapan kita, kebaikan yang kita usahakan tersemayam dalam diri, serta potensi dan anugrah yang telah Tuhan beri, mari kita jaga dan rawat dengan baik. Kita harus ingat, siapa pun yang menanam pasti akan berusaha sekuat tenaga merawat tanamannya. Bila proses merawat dilaksanakan dengan baik niscaya hasil yang dipanen akan baik juga. Sebaliknya, siapa saja yang abai terhadap proses merawat maka tanamannya akan layu, kemudian gagal panen.

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 15/01/2018

BEAT: Bacalah Engkau akan Tahu



Saat kecil, kita selalu belajar cara membaca yang baik dan benar. Mengeja huruf demi huruf menjadi satu suku kata dan melisankannya dengan bibir mungil kita. Kemudian merangkai kata demi kata sehingga terbentuk kalimat yang sempurna pula. Ini Budi, Ini Ibu Budi, itu Ani, itu Ibu Ani, dan seterusnya.

Satu dua periode terlewati, dan kita masih sama-sama tidak tahu arti penting dari membaca. Kita pun tak pernah membayangkan seberapa urgen kemampuan membaca bagi kita setelah dewasa. Kita hanya manut saja, mengikuti semua arahan Ibu Guru sambil terus bahagia melisankan huruf demi huruf yang ditulisnya di papan tulis. Tak jarang pula kita berlomba adu cepat membaca deretan huruf yang tertulis di buku pelajaran. Terkadang, sepulang sekolah, kita asik bermain tebak-tebakan untuk mengeja huruf-huruf itu. Siapa yang kalah harus jongkok, itu hukumannya. Engkau yang menunjuk deret hurufnya dan aku yang harus berusaha membaca. Begitu sebaliknya hingga tak jarang kita lupa untuk makan. Jika engkau ingat, aku sering kalah dalam lomba yang kita buat sendiri. Bahkan tak jarang aku harus jongkok hingga permainan selesai. Kemudian engkau dan teman-teman lain mengajari mengeja huruf-huruf yang bagiku terlihat seperti barisan semut itu.

Sekarang, setelah berpuluh tahun lamanya. Sedikit demi sedikit kita mulai paham pentingnya kemampuan membaca. Kita mulai membaca apa saja yang bisa dibaca. Tak peduli penting atau tidak, asal ada tulisan, kita selalu berusaha membacanya. Bahkan, setelah mahir membaca tulisan, tak jarang pula kita berusaha membaca keadaan, membaca gejala-gejala yang ada lalu belajar menarik kesimpulan.

Seringnya membaca membuat kita paham bahwa membaca adalah jendela cakrawala ilmu pengetahuan. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa orang-orang besar di dunia tak pernah berputus asa dalam usahanya. Darinya kita belajar untuk selalu penuh motivasi dalam hidup. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, karena kesempurnaan hanya milik Allah swt. Darinya kita belajar untuk tidak sombong, selalu rendah hati, dan tidak mudah menilai orang lain baik atau buruk. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa Tuhan menciptakan kita berbeda-beda antara satu sama lain. Beda suku, beda Agama, beda ras, beda bahasa, beda Negara, dan seluruh perbedaan lainnya. Darinya kita belajar untuk selalu menghormati orang lain. Dengan membaca kita menjadi tahu, bahwa ada kehidupan setelah mati. Darinya kita belajar untuk mempersiapkan bekal sebaik-baiknya menuju kehidupan kedua.

Siapapun yang menjadikan membaca sebagai hobi, ia akan hidup di dunia yang luas. Merasa dirinya selalu haus dengan ilmu pengetahuan. Pola pikirnya tidak sempit, mudah bersahabat dan selalu menghargai perbedaan pendapat. Ia seperti padi, makin berisi makin menunduk. Semakin banyak yang dibaca, ia merasa semakin banyak pula yang belum terbaca. Ia paham bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Ia paham bahwa volume akalnya tak mampu menampung seluruh ilmu pengetahuan yang Allah anugerahkan di muka bumi. Pada akhirnya, dengan membaca, ia menjadi pribadi yang pandai bersyukur.

Sahabat, kenangan indah itu masih saja tersimpan rapi di bingkai memoriku. Sangat rapi dan tak lekang oleh waktu. Aku sangat ingin menikmati masa-masa itu lagi bersama kalian. Seperti masa-masa yang lalu. Meski membaca hanya sekedar membaca. Mengeja huruf demi huruf, merangkai kata menjadi kalimat. Namun, aku teramat merindu waktu bersamamu.

Setelah semua itu, akankah membaca tetap menjadi hobi kita???

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 20/01/2018

Manusia Tak Sempurna



Adalah Muadz, remaja tunanetra dari Mesir yang berhasil menghafal 30 juz al-Qur'an dengan sempurna di usia 11 tahun. Kondisi cacat tak membuatnya putus asa menjalani kehidupan. Sebaliknya, Muadz tidak larut dalam kesedihan karena kekurangan ini. Ia justru bersyukur, cacat mata membuatnya jauh dari maksiat. Ia benar-benar terhindar dari pandangan buruk yang bisa saja menjadi dosa.

Muadz sangat sadar, bahwa ia tidak memiliki mata yang bisa melihat. Namun ia juga tahu, bahwa ia masih memiliki telinga yang bisa mendengar. Dengan telinga inilah Muadz mendengarkan bacaan al-Qur'an dari gurunya. Apa yang didengar kemudian ia ulang setiap saat sampai ayat-ayat itu bersemayam di hati. Mata Muadz memang buta, tapi tidak dengan hatinya.

Kisah remaja bernama Muadz ini seharusnya menyadarkan kita. Selalu ada kelemahan pada setiap individu. Namun dibalik kelemahan itu selalu ada kelebihan tersendiri. Ya, dalam setiap kelemahan selalu ada kelebihan. Begitu juga sebaliknya. Karena manusia memang bukan makhluk yang sempurna.

Dalam diskusi tentang ke-tidak sempurna-an, minimal ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil. Pertama, jangan larut dalam kelemahan yang kita miliki. Bangkitlah, banyak orang di luar sana yang tetap berprestasi dengan berbagai kekurangan dan kelemahannya. Rasa kesal, frustasi, dan putus asa karena kelemahan yang ada hanya membuat kita semakin terpuruk dan jauh dari kesuksesan.

Meski tak bisa melihat, namun kita masih bisa mendengar. Meski tak bisa berbicara, namun kita masih bisa menulis. Meski tak punya tangan, namun kita masih punya kaki. Dan, meski tak memiliki semua yang kita sebutkan, namun kita masih punya hati, masih punya akal, dan yang pasti, kita masih punya ruh yang bersemayam di jiwa. Akankah kita korbankan segudang kelebihan ini hanya karena satu dua kelemahan saja? 

Kedua, manfaatkan kelebihan (potensi) yang ada. Sejatinya, orang-orang hebat bukan tak memiliki kelemahan sama sekali. Mereka hanya fokus terhadap kelebihan yang ada dan tidak larut dalam kelemahan yang dimiliki. Terus mengasah dan melatih potensi diri sehingga menjadi ahli di bidangnya masing-masing.

Mungkin kita kurang pandai secara akademik. Namun kita sangat senang berolahraga, sangat senang bermain musik, sangat senang melukis, dlsb. Mungkin kita kurang terlihat cantik atau tampan. Namun kita sangat rajin membaca, sangat rajin berkebun, sangat rajin memasak, dlsb. Mungkin kita tidak pandai berbicara di depan banyak orang. Menyampaikan ide dan gagasan yang bernas dan brilliant. Namun, kita sangat senang menulis.

Jika kelebihan yang ada kita asah, kita latih, dan terus kita manfaatkan dengan maksimal, dunia tak akan menilai kelemahan kita lagi. Orang-orang akan melihat karya dan prestasi kita. Nama kita akan tercatat dalam sejarah, abadi selamanya. Karya dan prestasi kita akan menginspirasi seluruh penduduk bumi.

Ketiga, bersyukur atas karunia yang tak ternilai harganya. Dibalik ketidak sempurnaan ini, Tuhan menitipkan akal kepada kita. Dengannya, Tuhan suruh kita untuk berfikir dan memilih. Apakah menjadi pribadi yang bersyukur, atau justru malah kufur.

Mereka yang pandai bersyukur akan menjumpai nikmat berlipat ganda. Menemukan potensi dibalik kelemahan yang dimiliki. Hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Selanjutnya, meraih banyak prestasi karena terus berlatih. Sementara yang kufur, cepat atau lambat, pasti akan binasa. Setiap saat hanya meratapi kelemahannya. Hari-hari menjadi gelap, penuh kesedihan, dan masa depan menjadi suram.

Ada yang punya kaki, tapi tak bisa berjalan karena lumpuh. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki telinga. Ada yang punya telinga, tapi tak bisa mendengar karena tuli. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki mulut. Ada yang punya mulut, tapi tak bisa berbicara karena bisu. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki mata. Ada yang punya mata, tapi tak bisa melihat karena buta. Namun tetap bersyukur karena masih memiliki tangan. Lalu, bagaimana dengan kita yang memiliki semuanya???

Slamet Mulyani
Semoga bermanfaat
Tapung, 24/01/2018

Nabi Muhammad Penyingkap Semesta











Dalam acara yang diselenggarakan HTI, Ustadz Abdul Shomad (UAS) berpendapat bahwa Rahmatan Lil 'Alamin tak akan terwujud tanpa Khilafah. Pernyataan ini dianggap beberapa kalangan telah "menghina" Rasulullah SAW.






Tulisan dari Sahabat Kholid Syeirozi dibawah ini memberikan cara pandang berbeda dengan apa yang disampaikan UAS.






======≠≠==========






Muhammad SAW Penyingkap Semesta






M Kholid Syeirazi






Benarkah Nabi Muhammad SAW tidak bisa menjadi rahmatan lil âlamîn sebelum menegakkan negara Madinah? Pertama-tama, saya ingin menjawabnya dengan sejumlah riwayat. Setelah itu, Anda boleh menyimpulkan sendiri, tanpa harus mengikuti kesimpulan saya.






Riwayat pertama dikutip Jalaluddin as-Suyûthi dalam Tafsîr ad-Durrul Mantsûr. Dalam menafsirkan QS. al-Baqarah/2:37, Jalaluddin mengutip riwayat Thabarani sbb:






قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما أذنب آدم الذنب الذى أذنبه رفع رأسه إلى السماء فقال « أسألك بحق محمد إلاّ غفرت لي » فأوحى الله إليه « ومن محمد » فقال « تبارك إسمك لما خلقتني رفعت رأسي إلى عرشك فإذا فيه مكتوب لا اله الا الله محمد رسول الله ، فعلمت أنه ليس أحد أعظم عندك قدراً ممن جعلت إسمه مع إسمك » فأوحى الله إليه « يا آدم انه آخر النبيين من ذريتك ولولا هو ما خلقتك » (رواه الطبراني)






»Rasulullah SAW bersabda: "Ketika Adam AS melakukan dosa, dia mendongak ke atas langit dan berucap "Aku memohon atas nama Muhammad, apakah Engkau mengampuniku?" Allah menjawab, "Siapa Muhammad?" Adam berkata "Mahasuci Engkau, ketika Engkau ciptakan aku, aku angkat kepalaku ke Arasy-Mu dan di sana tertulis kalimat 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah,' maka aku tahu bahwa tidak ada makhluk di sisi-Mu yang lebih tinggi derajatnya selain dia yang Engkau jadikan namanya bersanding dengan nama-Mu." Allah berfirman, "Hai Adam, dia pamungkas para Nabi dari keturunanmu. Seandainya bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu." «






Dua hal bisa ditarik dari riwayat ini. Pertama, Nabi Adam berwasilah kepada Nabi Muhammad agar mendapat ampunan Allah. Kedua, jika bukan karena Muhammad, Allah tidak akan menciptakan Adam. Jadi, Adam dan anak cucunya ada karena adanya Nabi Muhammad. Ini awal mula rahmatan lil âlamîn. Manusia dan semesta adalah wujud kasih sayang Allah kepada Muhammad. Seandainya bukan karena Muhammad, manusia dan alam semesta tidak ada. Karena itu, Allah perintahkan kita memperbanyak salawat sebagai rasa syukur karena bisa 'nebeng' hadir di dunia berkat penciptaan Muhammad. Imam Razi, dalam Mafâtîhul Ghaîb, mengutip riwayat serupa: لولاك ما خلقنا الأفلاك (Jika bukan karena Engkau, Aku tidak akan ciptakan alam semesta). Saya sangat terkesan dengan hadis ini. Karena itu, anak saya yang pertama saya beri nama Muhammad Kasyif Aflak (محمد كاشف افلاك), artinya Muhammad Penyingkap Semesta.






Muncul pertanyaan, apakah ketika Adam berwasilah kepada Muhammad, beliau sudah diangkat menjadi Nabi? Inilah riwayat kedua yang ingin saya kutip. Jawabanyya: sudah!






عن أبي هريرة قال قالوا يا رسول الله « متى وجبت لك النبوة » قال « وآدم بين الروح والجسد » (رواه الترمذي)






»Dari Abu Hurairah, berkata, para sahabat bertanya "Kapan engkau diangkat menjadi Nabi?" Rasulullah menjawab "Aku sudah jadi Nabi ketika Adam masih berujud ruh dan jasad." «


Riwayat ini menegaskan pesan hadis pertama: nur Muhammad mendahului Adam dan alam semesta. Jasadnya baru mewujud ribuan milenium kemudian melalui Abdullah dan Aminah.


Riwayat ketiga, dalam menafsirkan ayat وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (QS. al-Anbiya/21: 107), Ibn Jarir at-Thabari mengutip pendapat Ibn Abbas sbb:






أن الله أرسل نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع العالم، مؤمنهم وكافرهم. فأما مؤمنهم فإن الله هداه به، وأدخله بالإيمان به، وبالعمل بما جاء من عند الله الجنة. وأما كافرهم فإنه دفع به عنه عاجل البلاء الذي كان ينـزل بالأمم المكذّبة رسلها من قبله.






"Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat untuk seru sekalian alam, baik yang mukmin maupun yang kafir. Bagi yang mukim, rahmatnya berujud petunjuk dan iman serta amal yang mengantarkannya ke surga. Bagi yang kafir, rahmatnya berujud penundaan azab sebagaimana menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para utusan."






Riwayat ini menegaskan Muhammad sudah merupakan rahmatan lil alamin sejak awal penciptaan semesta hingga hari perhitungan kelak, saat tangisnya memohonkan ampun bagi umatnya menggetarkan arasy dan Allah perkenankan dia memberi syafa'at.






Sekarang saya telah sampai kesimpulan, anda boleh menyimpulkan lain: pada diri Nabi Muhammad, rahmatan lil âlamîn tidak berhubungan dengan institusi politik, sebab beliau adalah rahmat itu sendiri: rahmat bagi manusia—baik yang mu'min maupun yang kafir—dan rahmat bagi semesta. Tanpa beliau, tidak ada kita, tidak ada alam raya. Politik itu sekadar jalan, bisa jadi jalan rahmat, bisa jadi jalan petaka. Tidak pas sama sekali menciptakan varibel politik sebagai syarat tegaknya rahmatan lil âlamîn.






Sekretaris Jenderal PP ISNU

Mengapa Junub Harus Mandi Besar?











MENGAPA HADATS BESAR ATAU JUNUB WAJIB MANDI BESAR/ JANABAH ?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : M. In'amuzzahidin






Bagi yang mempunyai hadats besar atau junub, maka ia wajib mandi besar/ mandi janabah. Kyai Sholeh Darat mengibaratkan junub itu bagaikan ibarat ketika cinta selain Allah, atau saat seseorang mengira ada sesuatu selain Allah swt. yang dapat memberi manfaat dan madlarat. Oleh karena itu, orang semacam wajib mandi junub dengan menggunakan air tauhid, air taubat, dan air ikhlash.

Kyai Sholeh Darat berkata

"utawi junub iku ibarate nalikane demen liyane Allah utowo nalikane nyono-nyono setuhune suwiji-wiji makhluk iku bisa aweh madlarat atowo aweh manfaat, maka ati mengkono iku junub. Mongko wajib arep ngedusi kelawan banyu tauhid lan banyu taubat lan banyu ikhlas."

Apa yang disampaikan Kyai Sholeh di atas sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw. "tawadldla'û bi bismillâh. Artinya: "berwudlulah kalian semua dengan air ismullah.

Dalam menjelaskan tauhid, Kyai Sholeh juga masih menggunakan bahasa air lagi. Menurutnya, dalam rangka mentauhidkan Allah, maka seseorang harus mensucikan nafsunya dengan air meninggalkan maksiat. Dalam rangka mensucikan hati, maka seseorang harus merasa tidak memiliki amal dan ketaatan. Dan dalam rangka mensucikan asrar, seseorang agar tidak melihat keindahan dunia. Sedang dalam rangka mensucikan ruh, seseorang tidak boleh mencintai selain Allah.

Kyai Sholeh Darat berkata :

"lan tauhidaken ing Allah, mongko wajib nuceni nafsune kelawan banyu ninggal maksiat. Lan wajib nuceni atine kelawan banyu tinggal rumongso tho'at, tegese ojo pisan-pisan rumongso duwen amal tho'at. Lan wajib nuceni asrar iro ojo kasi ningali gumebyare dunyo. Lan wajib nuceni ruh iro ojo kasi condong demen liyane Allah swt."

Adapun kewajiban mandi junub terkait erat dengan cerita nabi Adam as. dan kenikmatan syajarah (pohon khuldi/langgeng) yang ada di surga. Syajarah adalah makanan yang paling nikmat di surga, yang tidak ada bandingannya. Dan kenikmatan jima' adalah atsar dari kenikmatan syajarah yang pernah dirasakan oleh Nabi Adam AS.

Dengan mandi janabat, seseorang dapat mensucikan dirinya dari hadats besar, dan akhirnya dapat melaksanakan shalat, dan berhadapan dengan Allah Yang Maha Agung. Berbeda dengan kewajiban wudlu' yang bersal dari aktifitas makan minum. Karenanya, semua anggota yang berkaitan dengan proses pencarian dan makan minumnya, wajib dibasuh dan dibersihkan saat melaksanakan wudlu'.

Adapun riwayat yang terkait dengan kewajban mandi janabah, Kyai Sholeh Darat menyebutkan sebuah riwayat dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, yang disampaikan oleh Imam al-Tsa'labi. Imam Ali mengisahkan ada sepuluh sahabat yang bertanya kepada Rasulullah. "ya Muhammad, kenapa Allah perintah mandi janabat karena junub. Kenapa Allah tidak perintah mandi janabah sebab kencing. Padahal kencing dan berak adalah najis. Sedang mani tidak najis, tapi kenapa disuruh mandi. Kemudian Rasulullah menjawab bahwa sesungguhnya Nabi Adam as ketika makan syajarah (pohon khuldi) masuk hingga ke otot-otot dan rambut-rambutnya. Demikian halnya saat seseorang jima' atau berhubungan suami istri, maka turunlah syajarahd ke semua rambutnya hingga semua ototnya juga. Karena itu, Allah swt mewajibkan mandi janabah kepada orang yang junub. Dengan mandi tersebut, ada proses mensucikan hadats besar, kafarat/ tebusan, dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, yaitu berupa nimatnya jima'.

Kyai Sholeh Darat setidaknya juga memberikan tiga alasan tentang kenapa jimak menyebabkan adanya kewajiban mandi janabah.

Pertama, karena datangnya syahwat dengan keluar air mani adalah sebuah kenikmatan yang secara lahiriah dirasakan oleh seluruh anggota badan. Oleh karena itu, seluruh anggota tubuh harus dimandikan, untuk bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.

Kedua, mandi janabah meliputi semua anggota badan secara lahir dan batin. Karena saat jimak memerlukan kekuatan semua badan. Sehingga orang yang setelah melakukan hubungan suami istri, biasanya fisiknya menjadi lelah dan lemas. Dengan mandi, maka kekuatan yang ada bisa segera pulih dan dapat membangkitkan tenaganya kembali. Karena air dapat menghidupkan segala sesuatu.

Ketiga, mandi janabah itu menjadi wajib, karena menjadi wasilah ila al-shalah/wasilah untuk shalat. Sedangkan shalat adalah amalan yang berhadapan langsung dengan Allah, berdiri di hadapan Allah yang Maha Agung. Maka siapa yang akan shalat menghadap kepada Allah swt., harus dalam keadaan suci seluruh badannya atau setengah badannya. Dengan kondisi ini seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah swt.

Sampai di sini dapat dikatakan, bahwa berwudlu' maupun mandi janabah adalah upaya untuk membersihkan dan mensucikan badan dan hati manusia. Antara badan zhahir dan qalb ruhani ada

Berbeda dengan tujuan mandi janabat, memandikan mayyit muslim yang telah meninggal dunia bertujuan memuliakan mayyit atau memberikan kesempatan rehat/ istirahat, sesaat setelah masyaqat naza' al-ruh atau capek dan beratnya keluarnya nyawa dari badan.

Kyai Sholeh Darat berkata :

"anapun ngedusi mayyit islam mongko iku iya wajib lan klebu ahkam al-syari'ah. Tetapi ora mergo najis lan ora mergo hadats atowo janabah, mengkono ora. Balik wajib ngedusi mayyit kerono arah aweh rohat marang mayyit saking sak wuse wus masyaqate naza' al-ruh".

(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 9-12


SEMARANG, 2 JANUARI 2018

BY : AJISELERA (PENGAJIAN SELASA SORE KYAI SHOLEH DARAT) NURUL HIDAYAH PEDURUNGAN LOR SEMARANG

KOPISODA (KOMUNITAS PECINTA KYAI SHOLEH DARAT)

Mengapa Saat Wudhu Harus Mengusap Kepala?






RAHASIA WUDHU' (3)


MENGAPA ALLAH PERINTAH MENGUSAP KEPALA SAAT WUDHU'?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : In'amuzzahidin Masyhudi






Kepala berisi otak dan pengetahuan yang dapat mendorong seseorang menjadi sombong. Sombong karena ilmu menjadikannya jauh dari ridla Allah. Padahal ilmu manusia sangat terbatas dan tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan ilmu Allah.


Subhanaka la 'ilma lana illa ma 'allamtana...


Karena itu, Allah perintah mengusap kepala yang dapat menjadikan sombong seseorang dengan air tawadlu', andab asor, berbudi mulia, dan merendahkan diri di hadapan Allah swt.


Dengan demikian, mengusap kepala berarti mengusap kepala dengan air tawadlu' pada Allah, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.






Kyai Sholeh Darat berkata :


"lan maleh nuli ngusapo siro kabeh ing sirah iro kelawan banyu tawadhu' li mawlahu, tegese angasoraken awak iro marang bendoro niro"


(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 6)


Wallahu a'lam bish shawab.






Semarang, Rabu, 10 Januari 2018


KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)


AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang)