Esai Terhangat

Nabi Muhammad Penyingkap Semesta











Dalam acara yang diselenggarakan HTI, Ustadz Abdul Shomad (UAS) berpendapat bahwa Rahmatan Lil 'Alamin tak akan terwujud tanpa Khilafah. Pernyataan ini dianggap beberapa kalangan telah "menghina" Rasulullah SAW.






Tulisan dari Sahabat Kholid Syeirozi dibawah ini memberikan cara pandang berbeda dengan apa yang disampaikan UAS.






======≠≠==========






Muhammad SAW Penyingkap Semesta






M Kholid Syeirazi






Benarkah Nabi Muhammad SAW tidak bisa menjadi rahmatan lil âlamîn sebelum menegakkan negara Madinah? Pertama-tama, saya ingin menjawabnya dengan sejumlah riwayat. Setelah itu, Anda boleh menyimpulkan sendiri, tanpa harus mengikuti kesimpulan saya.






Riwayat pertama dikutip Jalaluddin as-Suyûthi dalam Tafsîr ad-Durrul Mantsûr. Dalam menafsirkan QS. al-Baqarah/2:37, Jalaluddin mengutip riwayat Thabarani sbb:






قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لما أذنب آدم الذنب الذى أذنبه رفع رأسه إلى السماء فقال « أسألك بحق محمد إلاّ غفرت لي » فأوحى الله إليه « ومن محمد » فقال « تبارك إسمك لما خلقتني رفعت رأسي إلى عرشك فإذا فيه مكتوب لا اله الا الله محمد رسول الله ، فعلمت أنه ليس أحد أعظم عندك قدراً ممن جعلت إسمه مع إسمك » فأوحى الله إليه « يا آدم انه آخر النبيين من ذريتك ولولا هو ما خلقتك » (رواه الطبراني)






»Rasulullah SAW bersabda: "Ketika Adam AS melakukan dosa, dia mendongak ke atas langit dan berucap "Aku memohon atas nama Muhammad, apakah Engkau mengampuniku?" Allah menjawab, "Siapa Muhammad?" Adam berkata "Mahasuci Engkau, ketika Engkau ciptakan aku, aku angkat kepalaku ke Arasy-Mu dan di sana tertulis kalimat 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah,' maka aku tahu bahwa tidak ada makhluk di sisi-Mu yang lebih tinggi derajatnya selain dia yang Engkau jadikan namanya bersanding dengan nama-Mu." Allah berfirman, "Hai Adam, dia pamungkas para Nabi dari keturunanmu. Seandainya bukan karena dia, Aku tidak akan menciptakanmu." «






Dua hal bisa ditarik dari riwayat ini. Pertama, Nabi Adam berwasilah kepada Nabi Muhammad agar mendapat ampunan Allah. Kedua, jika bukan karena Muhammad, Allah tidak akan menciptakan Adam. Jadi, Adam dan anak cucunya ada karena adanya Nabi Muhammad. Ini awal mula rahmatan lil âlamîn. Manusia dan semesta adalah wujud kasih sayang Allah kepada Muhammad. Seandainya bukan karena Muhammad, manusia dan alam semesta tidak ada. Karena itu, Allah perintahkan kita memperbanyak salawat sebagai rasa syukur karena bisa 'nebeng' hadir di dunia berkat penciptaan Muhammad. Imam Razi, dalam Mafâtîhul Ghaîb, mengutip riwayat serupa: لولاك ما خلقنا الأفلاك (Jika bukan karena Engkau, Aku tidak akan ciptakan alam semesta). Saya sangat terkesan dengan hadis ini. Karena itu, anak saya yang pertama saya beri nama Muhammad Kasyif Aflak (محمد كاشف افلاك), artinya Muhammad Penyingkap Semesta.






Muncul pertanyaan, apakah ketika Adam berwasilah kepada Muhammad, beliau sudah diangkat menjadi Nabi? Inilah riwayat kedua yang ingin saya kutip. Jawabanyya: sudah!






عن أبي هريرة قال قالوا يا رسول الله « متى وجبت لك النبوة » قال « وآدم بين الروح والجسد » (رواه الترمذي)






»Dari Abu Hurairah, berkata, para sahabat bertanya "Kapan engkau diangkat menjadi Nabi?" Rasulullah menjawab "Aku sudah jadi Nabi ketika Adam masih berujud ruh dan jasad." «


Riwayat ini menegaskan pesan hadis pertama: nur Muhammad mendahului Adam dan alam semesta. Jasadnya baru mewujud ribuan milenium kemudian melalui Abdullah dan Aminah.


Riwayat ketiga, dalam menafsirkan ayat وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (QS. al-Anbiya/21: 107), Ibn Jarir at-Thabari mengutip pendapat Ibn Abbas sbb:






أن الله أرسل نبيه محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة لجميع العالم، مؤمنهم وكافرهم. فأما مؤمنهم فإن الله هداه به، وأدخله بالإيمان به، وبالعمل بما جاء من عند الله الجنة. وأما كافرهم فإنه دفع به عنه عاجل البلاء الذي كان ينـزل بالأمم المكذّبة رسلها من قبله.






"Sesungguhnya Allah mengutus Nabi Muhammad sebagai rahmat untuk seru sekalian alam, baik yang mukmin maupun yang kafir. Bagi yang mukim, rahmatnya berujud petunjuk dan iman serta amal yang mengantarkannya ke surga. Bagi yang kafir, rahmatnya berujud penundaan azab sebagaimana menimpa umat-umat terdahulu yang mendustakan para utusan."






Riwayat ini menegaskan Muhammad sudah merupakan rahmatan lil alamin sejak awal penciptaan semesta hingga hari perhitungan kelak, saat tangisnya memohonkan ampun bagi umatnya menggetarkan arasy dan Allah perkenankan dia memberi syafa'at.






Sekarang saya telah sampai kesimpulan, anda boleh menyimpulkan lain: pada diri Nabi Muhammad, rahmatan lil âlamîn tidak berhubungan dengan institusi politik, sebab beliau adalah rahmat itu sendiri: rahmat bagi manusia—baik yang mu'min maupun yang kafir—dan rahmat bagi semesta. Tanpa beliau, tidak ada kita, tidak ada alam raya. Politik itu sekadar jalan, bisa jadi jalan rahmat, bisa jadi jalan petaka. Tidak pas sama sekali menciptakan varibel politik sebagai syarat tegaknya rahmatan lil âlamîn.






Sekretaris Jenderal PP ISNU

Mengapa Junub Harus Mandi Besar?











MENGAPA HADATS BESAR ATAU JUNUB WAJIB MANDI BESAR/ JANABAH ?


INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT


Oleh : M. In'amuzzahidin






Bagi yang mempunyai hadats besar atau junub, maka ia wajib mandi besar/ mandi janabah. Kyai Sholeh Darat mengibaratkan junub itu bagaikan ibarat ketika cinta selain Allah, atau saat seseorang mengira ada sesuatu selain Allah swt. yang dapat memberi manfaat dan madlarat. Oleh karena itu, orang semacam wajib mandi junub dengan menggunakan air tauhid, air taubat, dan air ikhlash.

Kyai Sholeh Darat berkata

"utawi junub iku ibarate nalikane demen liyane Allah utowo nalikane nyono-nyono setuhune suwiji-wiji makhluk iku bisa aweh madlarat atowo aweh manfaat, maka ati mengkono iku junub. Mongko wajib arep ngedusi kelawan banyu tauhid lan banyu taubat lan banyu ikhlas."

Apa yang disampaikan Kyai Sholeh di atas sejalan dengan sabda Nabi Muhammad saw. "tawadldla'û bi bismillâh. Artinya: "berwudlulah kalian semua dengan air ismullah.

Dalam menjelaskan tauhid, Kyai Sholeh juga masih menggunakan bahasa air lagi. Menurutnya, dalam rangka mentauhidkan Allah, maka seseorang harus mensucikan nafsunya dengan air meninggalkan maksiat. Dalam rangka mensucikan hati, maka seseorang harus merasa tidak memiliki amal dan ketaatan. Dan dalam rangka mensucikan asrar, seseorang agar tidak melihat keindahan dunia. Sedang dalam rangka mensucikan ruh, seseorang tidak boleh mencintai selain Allah.

Kyai Sholeh Darat berkata :

"lan tauhidaken ing Allah, mongko wajib nuceni nafsune kelawan banyu ninggal maksiat. Lan wajib nuceni atine kelawan banyu tinggal rumongso tho'at, tegese ojo pisan-pisan rumongso duwen amal tho'at. Lan wajib nuceni asrar iro ojo kasi ningali gumebyare dunyo. Lan wajib nuceni ruh iro ojo kasi condong demen liyane Allah swt."

Adapun kewajiban mandi junub terkait erat dengan cerita nabi Adam as. dan kenikmatan syajarah (pohon khuldi/langgeng) yang ada di surga. Syajarah adalah makanan yang paling nikmat di surga, yang tidak ada bandingannya. Dan kenikmatan jima' adalah atsar dari kenikmatan syajarah yang pernah dirasakan oleh Nabi Adam AS.

Dengan mandi janabat, seseorang dapat mensucikan dirinya dari hadats besar, dan akhirnya dapat melaksanakan shalat, dan berhadapan dengan Allah Yang Maha Agung. Berbeda dengan kewajiban wudlu' yang bersal dari aktifitas makan minum. Karenanya, semua anggota yang berkaitan dengan proses pencarian dan makan minumnya, wajib dibasuh dan dibersihkan saat melaksanakan wudlu'.

Adapun riwayat yang terkait dengan kewajban mandi janabah, Kyai Sholeh Darat menyebutkan sebuah riwayat dari Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, yang disampaikan oleh Imam al-Tsa'labi. Imam Ali mengisahkan ada sepuluh sahabat yang bertanya kepada Rasulullah. "ya Muhammad, kenapa Allah perintah mandi janabat karena junub. Kenapa Allah tidak perintah mandi janabah sebab kencing. Padahal kencing dan berak adalah najis. Sedang mani tidak najis, tapi kenapa disuruh mandi. Kemudian Rasulullah menjawab bahwa sesungguhnya Nabi Adam as ketika makan syajarah (pohon khuldi) masuk hingga ke otot-otot dan rambut-rambutnya. Demikian halnya saat seseorang jima' atau berhubungan suami istri, maka turunlah syajarahd ke semua rambutnya hingga semua ototnya juga. Karena itu, Allah swt mewajibkan mandi janabah kepada orang yang junub. Dengan mandi tersebut, ada proses mensucikan hadats besar, kafarat/ tebusan, dan bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, yaitu berupa nimatnya jima'.

Kyai Sholeh Darat setidaknya juga memberikan tiga alasan tentang kenapa jimak menyebabkan adanya kewajiban mandi janabah.

Pertama, karena datangnya syahwat dengan keluar air mani adalah sebuah kenikmatan yang secara lahiriah dirasakan oleh seluruh anggota badan. Oleh karena itu, seluruh anggota tubuh harus dimandikan, untuk bersyukur atas kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.

Kedua, mandi janabah meliputi semua anggota badan secara lahir dan batin. Karena saat jimak memerlukan kekuatan semua badan. Sehingga orang yang setelah melakukan hubungan suami istri, biasanya fisiknya menjadi lelah dan lemas. Dengan mandi, maka kekuatan yang ada bisa segera pulih dan dapat membangkitkan tenaganya kembali. Karena air dapat menghidupkan segala sesuatu.

Ketiga, mandi janabah itu menjadi wajib, karena menjadi wasilah ila al-shalah/wasilah untuk shalat. Sedangkan shalat adalah amalan yang berhadapan langsung dengan Allah, berdiri di hadapan Allah yang Maha Agung. Maka siapa yang akan shalat menghadap kepada Allah swt., harus dalam keadaan suci seluruh badannya atau setengah badannya. Dengan kondisi ini seseorang menjadi lebih dekat kepada Allah swt.

Sampai di sini dapat dikatakan, bahwa berwudlu' maupun mandi janabah adalah upaya untuk membersihkan dan mensucikan badan dan hati manusia. Antara badan zhahir dan qalb ruhani ada

Berbeda dengan tujuan mandi janabat, memandikan mayyit muslim yang telah meninggal dunia bertujuan memuliakan mayyit atau memberikan kesempatan rehat/ istirahat, sesaat setelah masyaqat naza' al-ruh atau capek dan beratnya keluarnya nyawa dari badan.

Kyai Sholeh Darat berkata :

"anapun ngedusi mayyit islam mongko iku iya wajib lan klebu ahkam al-syari'ah. Tetapi ora mergo najis lan ora mergo hadats atowo janabah, mengkono ora. Balik wajib ngedusi mayyit kerono arah aweh rohat marang mayyit saking sak wuse wus masyaqate naza' al-ruh".

(Muhammad Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 9-12


SEMARANG, 2 JANUARI 2018

BY : AJISELERA (PENGAJIAN SELASA SORE KYAI SHOLEH DARAT) NURUL HIDAYAH PEDURUNGAN LOR SEMARANG

KOPISODA (KOMUNITAS PECINTA KYAI SHOLEH DARAT)

Mengapa Saat Wudhu Harus Mengusap Kepala?

RAHASIA WUDHU' (3)
MENGAPA ALLAH PERINTAH MENGUSAP KEPALA SAAT WUDHU'?
INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT
Oleh : In'amuzzahidin Masyhudi

Kepala berisi otak dan pengetahuan yang dapat mendorong seseorang menjadi sombong. Sombong karena ilmu menjadikannya jauh dari ridla Allah. Padahal ilmu manusia sangat terbatas dan tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan ilmu Allah.
Subhanaka la 'ilma lana illa ma 'allamtana...
Karena itu, Allah perintah mengusap kepala yang dapat menjadikan sombong seseorang dengan air tawadlu', andab asor, berbudi mulia, dan merendahkan diri di hadapan Allah swt.
Dengan demikian, mengusap kepala berarti mengusap kepala dengan air tawadlu' pada Allah, dan merendahkan diri di hadapan-Nya.

Kyai Sholeh Darat berkata :
"lan maleh nuli ngusapo siro kabeh ing sirah iro kelawan banyu tawadhu' li mawlahu, tegese angasoraken awak iro marang bendoro niro"
 (Muhammad  Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 6)
Wallahu a'lam bish shawab.

Semarang, Rabu, 10 Januari 2018
KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)
AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang)

Mengapa Wudlu Harus Membasuh Tangan?


RAHASIA WUDHU' (2)
MENGAPA ALLAH PERINTAH MEMBASUH TANGAN SAAT WUDHU'?
INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT
Oleh : In'amuzzahidin Masyhudi

Tangan adalah salah satu organ penting dalam bekerja. Hampir semua pekerjaan membutuhkan kehadiran tangan untuk menyelesaikannya, apapun profesinya. Karena saking pentingnya tangan ini, hingga seolah ada anggapan, bahwa tangan inilah yang mensukseskan pekerjaan manusia, dan dapat menyambung serta mempertahankan hidupnya. Muncul juga anggapan, seolah kalau tidak bekerja, seolah ia tidak bisa makan dan tidak bisa bertahan hidup. Sehingga manusia sering menggantungkan hidupnya dengan tangannya atau pekerjaannya.

Padahal hakikatnya, masalah kecukupan rizki, bukan berasal dari pekerjaannya. Allah-lah Sang Maha Mencukupi, Sang Maha Pemberi Rizki. Kalau Allah katakan cukup, maka cukuplah kebutuhan hidupnya dengan caranya Allah. Tap kalau Allah murka dan katakan kekurangan pada hidup seseorang, maka hidupnya pun terus dirundung kekurangan.

Banyak orang bergaji tiap bulan, tapi hutang menumpuk. Banyak orang yang kerja serabutan, tapi cukup dan bebas dari hutang.
Hasbunallahu wa ni'mal wakil......
Gantungkan hidupmu pada Allah, bukan pada pekerjaanmu. Pekerjaan hanya wasilah saja...
Pasrahkan urusanmu pada Allah, bukan pada ikhtiar tanganmu....
Wa man yatawakkal 'ala Allahi fahuwa hasbuh....

Nah, membasuh tangan berarti membasuh tangan dari bekas ketergantungan hati manusia kepada makhluk (selain Allah), yang harus segera dibasuh dengan air taubat dan istighfar.
Kyai Sholeh Darat berkata :
"lan maleh masuhno siro kabeh ing tangan iro karo saking labete olehe iro gandulan makhluk. Lan labete olehe iro gumantung kelawan makhluk iyo wasuhono kelawan banyu taubat lan istighfar." (Muhammad  Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 6)
Wallahu a'lam bish shawab.

Semarang, Ahad, 7 Januari 2018
KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)
AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang)

Kisah Raja dan Pelayannya

*Kisah Tasawuf*

*KISAH ​RAJA DAN PELAYANNYA*
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
​Ada seorang Raja yang mempunyai seorang pelayan, yang ​dalam setiap kesempatan selalu berkata kepada sang Raja: 
*"Yang Mulia, jangan khawatir, karena segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah.".*

​Suatu hari, mereka pergi berburu, pada saat mana seekor binatang buas menyerang sang Raja. 

Si pelayan berhasil membunuh binatang tersebut, namun tidak bisa mencegah Rajanya dari kehilangan sebuah jari tangan. 

​Geram dengan apa yang dialaminya, tanpa merasa berterima kasih, sang Raja berkata, 
"Kalau Allah itu baik, saya tidak akan diserang oleh binatang buas dan kehilangan satu jari saya..!" 

​Pelayan tersebut menjawab, *"Apapun yang telah terjadi kepada Yang Mulia, percayalah bahwa Allah itu baik dan apapun yang dikerjakanNya adalah sempurna, Ia tak pernah salah." *

​Merasa sangat tersinggung oleh respon pelayannya, ​sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawalnya untuk memenjarakan si pelayan. 

Sementara dibawa ke penjara, pelayan tersebut masih saja mengulangi perkataannya: *"Allah adalah baik dan sempurna adanya."*

​Dalam suatu kesempatan lain, sang Raja pergi berburu sendirian, dan karena pergi terlalu jauh ia ditangkap oleh orang-orang primitif yang biasa menggunakan manusia sebagai korban. 

​Di atas altar persembahan, orang-orang primitif tersebut menemukan bahwa ​sang Raja tidak memiliki jari yang lengkap. 

Mereka kemudian melepaskan Raja tersebut karena dianggap tidak sempurna untuk dipersembahkan kepada dewa mereka. 

​Sekembalinya ke istana, sang Raja memerintahkan para pengawal untuk mengeluarkan si pelayan dari tahanan, dan Raja itu berkata: "​Temanku.. Allah sungguh baik kepadaku. Aku hampir saja dibunuh oleh orang primitif, namun karena jariku tidak lengkap, mereka melepaskanku." 

​Tapi aku punya sebuah pertanyaan untukmu. "Kalau Allah itu baik, mengapa Ia membiarkan aku memenjarakanmu ?.

​Sang pelayan menjawab:
"Yang Mulia, kalau saja baginda tidak memenjarakan saya, baginda pasti sudah mengajak saya pergi berburu, dan saya pasti sudah dijadikan korban oleh orang-orang primitif sebab semua anggota tubuh saya masih lengkap."
         
*​Semua yang dikerjakan Allah adalah sempurna, Ia tak pernah salah. Seringkali kita mengeluh mengenai hidup kita, dan pikiran negatif pun membunuh pikiran kita yang positif.*

*Marilah berpikir positif dan percayalah akan kebaikan Allah setiap saat.*

​Allah pasti tahu *mengapa Ia memilihmu untuk membaca pesan ini.*

Berbagilah dengan orang-orang yang Anda kenal.

Mengapa Jumlah Rekaat Salat Fardhu ada yang 2, 3, dan 4?


MENGAPA JUMLAH RAKA'AT SHALAT ADA YANG 2, 3, ATAU 4 RAKA'AT?
INI JAWABAN KH. SHOLEH DARAT
Oleh : M. In'amuzzahidin

Berkaitan dengan jumlah shalat lima waktu, ada yang dua, tiga dan empat raka'at. Hal ini berkaitan dengan jumlah sayapnya malaikat yang menjadi utusan Allah. Dimana jumlah sayap malaikat itu ada yang dua, ada yang tiga dan ada yang empat. 
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Fatir: 1

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ يَزِيدُ فِي ٱلۡخَلۡقِ مَا يَشَآءُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ 
"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu"

Kalau para Malaikat bisa terbang dengan sayapnya, maka seorang mukmin terbang menuju Allah dengan shalat, yang jumlah rakaatnya seperti jumlah sayapnya Malaikat.

Al-shalah mi'raj al-mukminin....Shalat adalah sarana mi'rajnya orang mukmin....
(Muhammad  Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah)
Wallahu a'lam bis shawab

Semarang, 4 Januari 2018
KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)
AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) Nurul Hidayah Pedurungan Lor Semarang

Muhasabah 2017 dan Resolusi Kebangsaan 2018 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama


MUHASABAH 2017 DAN RESOLUSI KEBANGSAAN TAHUN 2018
PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
No. 1699/B.IV.05/1/2018

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
بسم الله الرحمن الرحيم

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah menjaga dan melindungi bangsa Indonesia sehingga bisa melalui tahun 2017 dengan selamat. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak seluruh komponen bangsa melakukan muhâsabah (refleksi dan interospeksi) sebagai bekal menyongsong hari esok yang lebih baik. Kerugian besar sebagai sebuah bangsa jika hari berlalu, bulan lewat, dan tahun berganti namun tanpa perbaikan kualitas hidup yang berarti. Ukuran perbaikan kualitas hidup sebuah bangsa adalah kokohnya ikatan kebangsaan dalam sistem demokrasi yang sehat yang didukung oleh peningkatan taraf ekonomi dan kesejahteraan yang merata, stabilitas politik yang terjaga, dan tegaknya hukum yang melindungi seluruh warga negara. Butir-butir ini perlu dijadikan sebagai bahan refleksi kita bersama.


POLITIK DAN DEMOKRASI

PBNU mengakui dan menegaskan demokrasi adalah pilihan terbaik sebagai sistem penyelenggaraan kehidupan berbangsa yang majemuk. Mekanisme dan kelembagaan demokrasi telah berjalan dan sampai ke titik yang tak bisa mundur lagi (point of no return). Presiden dan Wakil Presiden telah dipilih secara langsung oleh rakyat, begitu juga Gubernur-Wakil Gubernur, Bupati-Wakil Bupati, dan Walikota-Wakil Walikota. Tidak ada lagi wakil rakyat, baik DPR maupun DPD, yang duduk di parlemen dengan cara diangkat. Semuanya dipilih langsung oleh rakyat. Representasi rakyat ini pula yang kelak meloloskan jabatan-jabatan publik lain, baik di cabang kekuasaan eksekutif maupun yudikatif. Namun, PBNU mencatat mekanisme demokrasi ini telah menghasilkan dua ekses yang merusak demokrasi: politik uang dan SARA. Keduanya adalah bentuk kejahatan yang terbukti bukan hanya menodai demokrasi, tetapi mengancam Pancasila dan NKRI. Jika politik uang merusak legitimasi, politik SARA merusak kesatuan sosial melalui sentimen primordial yang mengoyak anyaman kebangsaan yang telah susah payah dirajut oleh para pendiri bangsa. Pergelaran Pilkada DKI 2017 masih menyisakan noktah hitam bahwa perebutan kekuasaan politik dapat menghalalkan segala cara yang merusak demokrasi dan menggerogoti pilar-pilar NKRI. 

Pengalaman ini harus menjadi bahan refleksi untuk mawas diri. Demokrasi harus difilter dari ekses-ekses negatif melalui literasi sosial dan penegakan hukum. Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam penyelenggaraan demokrasi yang sehat tanpa politik uang dan sentimen primordial. Aparat penegak hukum harus kredibel dan andal dalam penegakan hukum terkait kejahatan politik uang dan penggunaan sentimen SARA. Ini penting karena pada tahun 2018 dan 2019, Indonesia akan memasuki tahun-tahun politik. Tahun 2018 akan digelar Pilkada serentak di 171 daerah. Tahun 2019 akan digelar hajatan akbar yaitu Pilpres dan Pileg serentak. Bercermin dari kasus Pilkada DKI, kontestasi politik dapat mengganggu kohesi sosial akibat penggunaan sentimen SARA, penyebaran hoax, fitnah, dan ujaran kebencian (hate speech). Dan ini semakin parah karena massifnya penggunaan internet dan media sosial. PBNU perlu menghimbau warganet agar bijak dan arif menggunakan teknologi internet sebagai sarana menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan perdamaian, bukan fasilitas untuk menjalankan kejahatan dan merancang permusuhan.

MENANGKAL RADIKALISME

Islam adalah agama yang mulia, agama yang suci. Karena itu, Islam harus dibela dan diperjuangkan dengan cara-cara yang mulia pula. Sabda Nabi:

 (رواه البيهقى) من أمر بمعروف فليكن أَمره بمعروف  

"Barang siapa hendak mengajak kebaikan, maka ajaklah dengan cara yang baik pula."

Allah menghendaki umat Islam menjadi umat moderat (ummatan wasthan) sebagaimana ditegaskan al-Qur'an (al-Baqarah/2: 143).

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ.. (الاية) 


Islam Nusantara adalah ikhtiar menjelmakan moderatisme (tawassuthiyah) dalam politik, ekonomi, dan sosial budya. Islam Nusantara adalah moderasi Islam dan keindonesiaan sebagai aktualisasi konsep ummatan wasathan.  Manifestasi Islam Nusantara kini tengah menghadapi tantangan menguatnya ideologi ekstremisme dan radikalisme di berbagai dunia, termasuk di Indonesia. 

PBNU bersyukur bahwa tahun 2017, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang mencoreng Islam dan melumat sejumlah negara Islam di Timur Tengah dan Afrika berhasil dilumpuhkan. ISIS berhasil diusir dari Mosul (Irak) pada 21 Juni 2017 dan dari Raqqa (Suriah) pada 17 Oktober 2017. Pada 9 Desember 2017, Perdana Menteri Irak, Haider al-Abadi, mengumumkan bahwa perang melawan ISIS telah dinyatakan usai. Jaringan mereka mencoba mencari basis di Asia Tenggara, melalui Filipina, namun sebenarnya mengincar Indonesia. Meski makan waktu cukup lama, sekitar 154 hari dan menelan banyak korban jiwa, pada 23 Oktober 2017, otoritas Filipina mengumumkan berhasil melumpuhkan pemberontakan Marawi oleh kelompok afiliasi ISIS, Maute dan Abu Sayyaf.

Dalam rangka mengantisipasi ideologi Khilâfah alá ISIS yang terbukti memporakporandakan sejumlah negara, PBNU dapat memahami dan mendukung kebijakan Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Ormas yang diikuti dengan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mengusung gerakan Khilâfah. Namun, PBNU menghimbau penyempurnaan Undang-Undang Ormas agar upaya memberantas gerakan anti-NKRI dan Pancasila tidak menghalangi hak setiap warga negara untuk berserikat dan berkumpul yang dijamin konstitusi. PBNU melihat, proses pembubaran ormas tetap perlu mekanisme peradilan agar setiap orang dan kelompok dapat membela diri dalam sebuah majelis terhormat. 

Yang lebih penting dari penerbitan Perppu Ormas dan pembubaran HTI adalah menangkal ideologi radikalisme melalui gerakan terstruktur, massif, dan komprehensif melibatkan berbagai aspek: politik, keamanan, kultural, sosial-ekonomi, dan agama. Faktor agama menyumbang radikalisme melalui pemahaman bahwa Islam menuntut institusionalisasi politik melalui negara Islam atau Khilâfah Islâmiyah. Ajaran ini akan membuat orang Islam di mana pun untuk berontak terhadap kekuasaan yang sah, meski kekuasaan itu tidak menghalangi bahkan memfasilitasi pelaksanaan ibadah seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Ideologi pemberontakan ini menghalalkan kekerasan yang bisa mewujud nyata jika kondisi politik dan kekuatannya memungkinkan. Pemerintah perlu bersikap dan bertindak tegas mengatasi persoalan radikalisme dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan dan ketahanan lingkungan berbasis keluarga. Kementrian Agama perlu mengambil peran lebih aktif sebagai leading sector dalam penanganan radikalisme agama, terutama mengembangkan wawasan keagamaan yang nasionalis melalui pembobotan kurikulum, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, dan pengelolaan program strategis seperti bidik misi dan LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Peran UKPPIP (Unit Kerja Presiden untuk Pembinaan Ideologi Pancasila) perlu juga dioptimalkan dalam pemantapan ideologi Pancasila di lingkungan aparatur sipil negara (ASN), kementerian dan lembaga-lembaga negara (K/L), BUMN, dan TNI/Polri.


MENGATASI KETIMPANGAN

PBNU melihat Pemerintah Jokowi-JK punya niat baik mengatasi ketimpangan yang menjadi kanker dalam pembangunan dan ancaman nyata bagi kesatuan dan persatuan bangsa. Ketimpangan itu menjelma dalam ketimpangan distribusi kesejahteraan antar-individu, ketimpangan pembangunan antar-wilayah, dan ketimpangan pertumbuhan antar-sektor ekonomi. Penguasaan yang timpang dalam aset uang, saham, dan perbankan serta lahan dan tanah individu harus ditangkal dengan membatasi liberalisasi keuangan dan perdagangan serta menjalankan program pembaruan agaria untuk merombak struktur kepemilikan dan penguasaan tanah yang tidak adil. Fungsi tanah harus dikembalikan sebagai hak dasar warga negara, bukan sekadar properti individu yang mengikuti hukum pasar. Karena itu, PBNU perlu mengingatkan agar fokus reforma agraria bukan sekadar sertifikasi tanah, tetapi redistribusi lahan rakyat dan petani. Pembatasan penguasaan dan kepemilikan tanah/hutan/perkebunan harus dilakukan agar kekayaan tidak bergulir di antara segelintir pemilik uang (كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنكُمْ ). Ketimpangan antar-wilayah harus dilakukan dengan menciptakan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru di luar Jawa dengan pembangunan infrastruktur yang memadai. Ketimpangan antar-sektor ekonomi harus diterobos dengan pengarusutamaan pembangunan pertanian dan industrialisasi pertanian berbasis rakyat dengan langkah yang dimulai dengan pembagian lahan pertanian dan pencetakan sawah baru, peningkatan produktivitas lahan, perbaikan dan revitalisasi infrastruktur irigasi, proteksi harga pasca panen, perbaikan infrastruktur pengangkutan untuk mengurangi biaya logistik, dan pembatasan impor pangan. Upaya-upaya yang dilakukan pemerintahan Jokowi dalam menggalakkan pembangunan inklusif dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas perlu didukung dengan kinerja birokrasi yang bersih, inovatif, dan progresif. 

PERDAMAIAN INTERNASIONAL

Dunia merekam kejadian-kejadian penting di tahun 2017, antara lain angin perubahan politik yang berhembus di Arab Saudi, sisa-sisa etnonasionalisme di Catalonia Spanyol, tragedi etnis Rohingnya di Myanmar, dan manuver sepihak Amerika Serikat mengakui Jerussalem sebagai ibukota Israel. 

PBNU menyambut baik keinginan Arab Saudi yang hendak mengembangkan Islam wasathy, yaitu manhaj Islam moderat sebagaimana dianut mayoritas umat Islam Indonesia. Keinginan ini perlu disambut oleh Pemerintah Indonesia dengan mengintensifkan dialog dan kerja sama dengan Kerajaan Arab Saudi dalam rangka mengakselerasi penyelesaian damai atas sejumlah konflik di Timur Tengah. Keterbelahan sikap negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI dalam merespons manuver AS terkait dengan penetapan Jerussalem sebagai ibukota Israel menandakan lemahnya solidaritas akibat kurangnya dialog dan kerja sama. Karena itu, PBNU menghimbau negara-negara yang tergabung dalam OKI lebih intensif menjalin dialog dan kerja sama agar solid dalam merespons isu-isu kemanusiaan yang membutuhkan kebulatan sikap dan solidaritas. 

Tragedi Rohignya mengingatkan perlunya penguatan nation-state berbasis kewargaan (civic nationalism), bukan sentimen etnis yang membuat suku mayoritas merasa berhak mendominasi atau bahkan menyingkirkan etnis minoritas.  Kenyataan bahwa semua nation-state di dunia terdiri dari banyak suku bangsa, termasuk Indonesia, mengajarkan perlunya penguatan prinsip persamaan, kesetaraan, dan keadilan bagai semua warga negara tanpa diskriminasi SARA. Prinsip ini ada di dalam Pancasila, tetapi mulai diabaikan bahkan diingkari oleh kelompok yang dengan enteng men-thagut-kan Pancasila. Negara modern seperti Spanyol masih didera isu etnonasionalisme Catalonia, tetapi Indonesia telah berhasil melewati masa-masa genting itu di awal-awal reformasi. Ini tidak lepas dari peran Pancasila sebagai kalimatun sawa atau common denominator yang menjembatani berbagai agama, suku, golongan, dan kepercayaan.

Kejadian-kejadian di dunia menjadi cermin agar bangsa Indonesia bersyukur mempunyai Pancasila yang harus terus dijaga, dilestarikan, dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selamat Memasuki Tahun 2018
Selamat menabur harapan baru.
Terus jaga optimisme!
Terus rekatkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI berdasarkan Pancasila dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika!

Jakarta, 3 Januari 2018.

والله الموفق الى اقوم الطريق
و السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

ttd

Prof. Dr. KH. Said Aqil  Siroj, MA.
Ketua Umum

ttd

Dr. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini                               Sekretaris Jenderal

Yang Kentut adalah Pantat, Mengapa yang Dibasuh dalam Wudlu adalah Wajah, Tangan, Kaki?


KENTUT, HAJAT BESAR ATAU KENCING, KELUAR DARI KUBUL DAN DUBUR. KENAPA SAAT WUDHU' YANG DIBASUH DAN DIUSAP KOK DI WAJAH DAN SETERUSNYA? BUKAN DI TEMPAT KELUARNYA KENTUT?
INI PENJELASAN KH. SHOLEH DARAT
Oleh : M. In'amuzzahidin

Orang yang kencing, berak, atau kentut, menjadi batal wudlu'nya. Dan jika akan melakukan shalat, ia wajib berwudlu', bukan mandi janabah. Hal ini, sebagaimana dijelaskan oleh Kyai Sholeh Darat, karena orang bisa kencing, kentut atau berak, disebabkan oleh makanan dan minuman yang masuk ke mulutnya. Sedangkan untuk mendapatkan makanan dan minuman, seseorang harus berkerja terlebih dahulu. Saat bekerja, seseorang menggunakan kedua tangannya, kedua kakinya, juga menggunakan wajah dan kepalanya. Karenanya, bagi yang berhadats kecil wajib berwudlu', dengan membasuh atau mengusap anggota wudlu'nya, yang digunakan bekerja dan menghasilkan makanan dan minuman.

Kyai Sholeh Darat berkata :
"lan ora koyo mengkono-mengkono baul ghoith. Mongko sarehne ono baul ghoith iku metune sangking gauto ingkang maklum. Lan iyo iku qubul lan dubur. Ono dene ashale mlebune iyo marang anggota ingkang maklum lan iyo iku mangan nginum. Lan anane bisa mangan nginum iku sangking kasabe tangan loro, lan kasabe sikil loro. Mengkono iku mesti kudu kelawan rahi lan sirah. Mongko sarehno mengkono mongko dadi wajib masuhi anggota kang makhsus saking labete kang metu. Lan iya iku masuhi qubuk lan dubur. Lan lamun karep marang shalat mangka wajib masuhi anggota kang papat kang dadi sebabe ngetoake suwiji-wiji. Mongko mengkono ikulah hikmahe anane wajib wudlu'. 
(Muhammad  Shâlih ibn 'Umar, Hâdzihî Kitâb Lathâ'if al-Thahârah, hlm. 11)
wallahu a'lam bish shawab

Semarang, 2 Januari 2018
By :KOPISODA (Komunitas Pecinta Kyai Sholeh Darat)
AJISELERA (Pengajian Selasa Sore Kyai Sholeh Darat) NURUL HIDAYAH Pedurungan Lor Semarang

Tahlilan itu Mendoakan, Bukan Meratapi Jenazah. Ini Dalilnya...


Jawaban Atas Tuduhan Bahwa Tahlilan Menyebabkan Mayit Terancam Siksa Di Alam Kubur

Saya dari dulu tidak mudah percaya kalau ada Salafi-Wahabi membawa dalil ayat Qur'an atau hadis yang diarahkan untuk menyalahkan Amaliah kita. Sebab hampir pasti mereka hanya berdasarkan nafsunya, tidak merujuk kepada ulama ahli hadis yang sering dijadikan jargon mereka. Jadi hanya slogan saja. 

Kali ini mereka membawa hadis tentang Tahlilan yang mereka golongkan meratapi Mayit yang menyebabkan ancaman siksaan di alam kubur. Saya cek hadisnya di Syarah Bukhari karya AlHafidz Ibnu Hajar dan Syarah Muslim karya Imam Nawawi, ternyata sangat panjang ulasan hadisnya, khilafiyah penafsiran hadisnya, jalur riwayat hadisnya, dan analisa hukumnya. Tapi bagi Wahabi langsung divonis sesuai nafsunya sebagai ancaman siksa kubur. Tulisan yang saya terima adalah dari Ust Abu Ibrahim Al Falimbani.

Mereka menampilkan:

- Hadis pertama:

 ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ «ﺇﻥ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ»

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya mayit disiksa sebab tangisan keluarganya kepadanya" (HR Bukhari dan Muslim)

Jawaban:

Jika menangisi mayit dianggap ratapan yang menyebabkan mayit disiksa, lalu bagaimana dengan hadis berikut ini:

ﻋﻦ ﺃﺳﻤﺎء ﺑﻨﺖ ﻳﺰﻳﺪ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻤﺎ ﺗﻮﻓﻲ اﺑﻦ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﺑﺮاﻫﻴﻢ ﺑﻜﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Dari Asma binti Yazid, ia berkata bahwa ketika putra Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, Ibrahim, wafat. Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menangis (HR Ibnu Majah. Syekh Albani menilainya sebagai hadis Hasan)

Apakah Rasulullah meratapi putranya? Berarti kita perlu menghimpun hadits-hadits lain sebelum membuat sebuah kesimpulan. Demikian pula dengan hadis yang berikutnya.

Hadis kedua:

ﻋﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ عنه ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻗﺎﻝ: «اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻩ ﺑﻤﺎ ﻧﻴﺢ ﻋﻠﻴﻪ»

Dari Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Mayit disiksa di kuburnya Karen apa yang diratapi kepadanya" (HR Bukhari)

Jawaban:

Cukup dijawab dengan penulisan bab oleh Imam Bukhari sendiri dalam kitab sahihnya:

ﺑﺎﺏ ﻗﻮﻝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻳﻌﺬﺏ اﻟﻤﻴﺖ ﺑﺒﻌﺾ ﺑﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ» ﺇﺫا ﻛﺎﻥ اﻟﻨﻮﺡ ﻣﻦ ﺳﻨﺘﻪ "

Bab sabda Nabi shalallahu alaihi wasallam bahwa mayit disiksa sebab tangisan sebagian keluarganya kepadanya. JIKA RATAPAN ITU ADALAH BAGIAN DARI KEBIASAANNYA.

Jadi menurut Hafidz Ad-Dunya, Imam Bukhari, tidak semua ratapan menjadi sebab adanya siksa kubur! Jadi kelihatan kalau Wahabi bertentangan dengan Imam ahli hadis!

Dari sinilah Imam Nawawi berkata:

ﻭاﺧﺘﻠﻒ اﻟﻌﻠﻤﺎء ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﻓﺘﺄﻭﻟﻬﺎ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﻭﺻﻰ ﺑﺄﻥ ﻳﺒﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻳﻨﺎﺡ ﺑﻌﺪ ﻣﻮﺗﻪ ﻓﻨﻔﺬﺕ ﻭﺻﻴﺘﻪ ﻓﻬﺬا ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺒﻜﺎء ﺃﻫﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﻧﻮﺣﻬﻢ ﻷﻧﻪ ﺑﺴﺒﺒﻪ ﻭﻣﻨﺴﻮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻗﺎﻟﻮا ﻓﺄﻣﺎ ﻣﻦ ﺑﻜﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻫﻠﻪ ﻭﻧﺎﺣﻮا ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻭﺻﻴﺔ ﻣﻨﻪ ﻓﻼ ﻳﻌﺬﺏ ﻟﻘﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭﻻ ﺗﺰﺭ ﻭاﺯﺭﺓ ﻭﺯﺭ ﺃﺧﺮﻯ ﻗﺎﻟﻮا ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺎﺩﺓ اﻟﻌﺮﺏ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺬﻟﻚ ﻭﻣﻨﻪ ﻗﻮﻝ ﻃﺮﻓﺔ ﺑﻦ اﻟﻌﺒﺪ : ﺇﺫا ﻣﺖ ﻓﺎﻧﻌﻴﻨﻲ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺃﻫﻠﻪ ... ﻭﺷﻘﻲ ﻋﻠﻲ اﻟﺠﻴﺐ ﻳﺎ اﺑﻨﺔ ﻣﻌﺒﺪ ...

Ulama beda pendapat tentang hadits-hadits ini. MAYORITAS ulama mengarahkan pada mayit yang berwasiat agar ditangisi dan diratapi setelah kematiannya. Lalu wasiat itu dijalankan. Maka mayit ini disiksa karena tangisan dan ratapan keluarganya. Karena dialah penyebabnya dan disandarkan kepada dia. 

Ulama berkata bahwa jika ada orang yang menangisi mayit dan meratapinya tanpa wasiat, maka ia tidak disiksa. Sebab firman Allah yang artinya: "Tidaklah satu jiwa menanggung dosa jiwa yang lain." Mereka berkata: Diantara kebiasaan orang Arab adalah wasiat untuk ratapan. Diantara contoh adalah syair Tharfah bin Abd [Bahar Thawil]: 

"Jika aku mati maka ratapilah aku dengan pujian yang ada pada diriku. Sobeklah pakaianmu untuk ku wahai putri Ma'bad" (Syarah Sahih Muslim 6/228)

Justru tulisan ustadz Wahabi diatas adalah bentuk inkonsistensi mereka pada keyakinan bahwa orang hidup tidak bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi mayit, karena amalnya sudah putus. Tapi giliran ada dalil yang mereka anggap menguntungkan, kontan saja mereka percaya itu sampai kepada mayit karena berupa siksaan bagi orang yang melakukan Tahlilan.

Secara lebih luas lagi, Amirul Mukminin Fil Hadis Al-Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani, merinci banyak pendapat dari para ulama. Diantaranya:

ﻭﻣﻨﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻪ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻜﺎﻓﺮ ﻭﺃﻥ اﻟﻤﺆﻣﻦ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﺬﻧﺐ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﺻﻼ ﻭﻫﻮ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ ﺭﻭاﻳﺔ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ

Diantara para ulama ada yang menakwil bahwa ratapan sebagai siksa kubur adalah tertentu pada orang kafir. Sebab orang Mukmin tidak disiksa lantaran dosa orang lain sama sekali. Ini sangat jelas dari riwayat Ibnu Abbas dari Aisyah. (Fathul Bari Syarah Sahih al-Bukhari 3/154)

Yang dimaksud oleh kutipan Imam Ibnu Hajar adalah:

عن ﻋﺎﺋﺸﺔ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ، ﺯﻭﺝ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻗﺎﻟﺖ: ﺇﻧﻤﺎ ﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﻳﻬﻮﺩﻳﺔ ﻳﺒﻜﻲ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺇﻧﻬﻢ ﻟﻴﺒﻜﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺇﻧﻬﺎ ﻟﺘﻌﺬﺏ ﻓﻲ ﻗﺒﺮﻫﺎ»

Aisyah, istri Nabi shalallahu alaihi wasallam, berkata: "Rasulullah berjalan berjumpa dengan (mayit) Yahudi perempuan yang ditangisi oleh keluarganya. Nabi bersabda: "Mereka menangisi kepergiannya, dan ia disiksa di kuburnya" (HR Bukhari)

Bersambung. In sya Allah....

Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Tahlilan Justru Meringankan Beban Mayat


Jawaban II (Tuduhan Bahwa Tahlilan Menjadikan Mayit Disiksa Di Alam Kubur)

Untuk memudahkan para pembaca dalam memahami masalah yang ditulis oleh Ust Abu Ibrahim Al-Falimbani ini, beliau memakai premis mayor (pernyataan umum) dan premis minor (pernyataan khusus), lalu menarik sebuah kesimpulan (Natijah / Konklusi). Dalam istilah ilmu Mantiq ada kemiripan dengan istilah Muqaddimah Kubra dan Muqaddimah Shughra.

Premis mayor yang ia sampaikan adalah (hadis) mayit akan disiksa karena ratapan keluarga kepadanya. Premis minornya adalah (hadis) bahwa berkumpul di rumah mayit dan dibuatkan makanan adalah termasuk ratapan untuk mayit. Lalu ditariklah kesimpulan bahwa Tahlilan (selamatan di rumah duka) adalah ratapan untuk mayit sehingga mayit diancam akan disiksa di kuburnya.

Pada penjelasan sebelumnya para imam ahli hadis sudah menegaskan bahwa ratapan untuk mayit itu ada ketentuan khusus, misalnya ia berwasiat agar mayatnya diratapi. Bahkan sebagian ulama mengkhususkan hadis ratapan ini kepada mayit wanita orang Yahudi saja seperti dalam Asbabul Wurudnya. Karena premis mayornya cacat, maka kesimpulannya pun juga pasti salah. Saya tidak perlu bicara lebih panjang dalam kesalahan fatal ini.

"Selamatan" Di Rumah Duka

Inilah polemik yang tidak pernah berkesudahan. Bagi mereka yang melarang, diantaranya ada dari Madzhab Syafi'iyah yang memakruhkan, adalah menggunakan dalil atsar dari Sahabat Jarir tentang berkumpul di rumah mayit dan dibuatkan makanan adalah termasuk ratapan. Riwayat ini dinilai sahih oleh Imam Nawawi dalam kitab Majmu' dan juga oleh ulama lain. Namun ada juga yang menilai dlaif yaitu Imam Ahmad bin Hanbal (saya uraikan di buku saya 'Tahlilan Bidah Hasanah')

Namun jangan disangka tidak ada ulama yang membolehkan, tetap ada. Yaitu dengan berdalil dari kitab Sahih Bukhari dan Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِيْنَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيْدٌ فَصُبَّتِ التَّلْبِيْنَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ التَّلْبِيْنَةُ مَجَمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ (رواه البخاري رقم 5417 ورقم 5689 في الطب باب التلبينة للمريض وفي الأطعمة باب التلبينة ومسلم رقم 2216 في السلام باب التلبينة مجمة لفؤاد المريض)

"Diriwayatkan bahwa ketika keluarga Aisyah ada yang wafat maka wanita-wanita berkumpul, kemudian mereka pulang kecuali keluarga dan orang-orang tertentu saja. Aisyah memerintahkan untuk memasak semacam makanan adonan yang disebut Talbinah. Aisyah berkata: Makanlah! Karena saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Talbinah dapat memperteguh hati orang yang sakit dan dapat menghilangkan sebagian kesusahannya" (HR al-Bukhari No 5417, No 5689 dan Muslim No 2216)

Lihatlah dalam atsar (dalil dari Sahabat) ini, Sayidah Aisyah membiarkan beberapa keluarganya dan orang-orang khususnya berada di rumah duka dan dibuatkan makanan. Dan Sayidah Aisyah tidak menyatakan ini sebagai ratapan. Kalau ada yang menyanggah itu kan tidak banyak orangnya? Jawabannya apakah niyahah itu dibedakan antara banyak dan sedikit orang? Lagian, saat Tahlilan di rumah mayit dan diberikan makanan juga orang tertentu saja, tidak semua warga kampung.

Web yang dikelola ulama Salafi berikut mengomentari atsar Aisyah diatas:

قلت : وفي هذا الحديث ذكر اجتماع النساء عند أهل الميت وهو ليس مما ينكر إن كان من غير تكلف أو نياحة أو تحمل مؤنة على أهل الميت مع مراعاة عدم طول المكث وعدم البيات لمن ليست من أهل الميت كما جاء في الأثر

Saya berkata: Hadis ini menyebutkan berkumpulnya para wanita di rumah keluarga mayit. Ini bukan termasuk sesuai yang diingkari, jika tidak ada kesulitan, ratapan, atau tidak ada beban biaya bagi keluarga mayit, dengan tetap menjaga tidak berdiam diri lama ataupun menginap bagi selain keluarga mayit. Seperti yang terdapat dalam atsar. (Selanjutnya silahkan dibaca:http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=331858)

Demikian pula yang terjadi di negeri kita makanan yang dibuat Tahlilan adalah sumbangan dari para tetangga, kerabat, kawan dan sebagainya, seperti yang terdapat dalam fatwa Sayid Ali Muhammad bin Husain al-Maliki tentang tradisi di Jawa:

اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ ِلاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ "اصْنَعُوْا ِلاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا" وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا )

"Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: 'Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja'far' dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang sahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk  orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman" (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219)

Bersambung, ini syaa Allah....

Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Dalil-dalil Amaliah yang lain ada di web saya berikut:

Subhanallah.... Manuskrip Tahlil 200 Tahun Ditemukan



Biasanya para kiai NU kalau ditanya tahlilan dimulai dari kapan? Mereka akan menjawab "mulai wali songo" begitu juga ketika ditanya susunan kalimat tahlil itu dari siapa? Mereka menjawab "wali songo" jawaban tersebut ada benarnya.

Karena kami telah menemukan manuskrip tahlil dari kitab peninggalan *mbah Kiai Haji Moch Ilyas* (Penarip Mojokerto) yang berasal dari kesesi pekalongan dalam kitab tulisan tangan dari kertas kulit yang usianya lebih dari 200 tahun.

Tertulis "Ratib kang dilampahake kiai pondok Tegalsari (Ponorogo)" yang berdiri pada 1722 M. Kalimat-kalimatnya persis dengan yang ada sekarang termasuk sholawatnya yang tidak pernah kami temukan dari kitab-kitab Mu'tabaroh. Hanya saja ayat ayat al-Qur'an nya lebih banyak 2 kali lipat. Mungkin yang ada sekarang ini adalah ringkasan dan pada akhirnya ada do'a untuk arwah. Semoga ini bermanfaat fiddini waddunya wal akhiroh.

Tetep Istiqomah TAHLILAN, MANAQIBAN, SHOLAWATAN, ROTIBAN, ISTIGHOTSAHAN...

Copas sangking Kiai Muhammad Rofi'i Ismail Mojokerto Jawa Timur  .

Wasiat Malaikat Jibril untuk Rasulullah

WASIAT DARI MALAIKAT JIBRIL UNTUK RASULULLAH SHALLALLAAHU 'ALAIHI WASALLAM RESEP AMPUH 70x5 KALI BACAAN OBAT MUJARAB AIR HUJAN TANPA KE DOKTER (IMAM QULYUBY)

Diceritakan sebuah hadits dalam kitab An Nawaadir ; Dari Malaikat Jibril kepada Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam tentang obat super ampuh air hujan; 

فائدة ; روي أنه صلى الله عليه وسلم قال: علمني جبريل دواء لا أحتاج معه إلى دواء ولا طبيب ، فقال أبو بكر وعمر وعثمان وعلي رضي الله عنهم ; وما هو يا رسول الله ؟ إن بنا حاجة إلى هذا الدواء . فقال ; يؤخذ شيئ من ماء المطر وتتلى عليه فاتحة الكتاب ، وسورة الإخلاص ، والفلق ، والناس ، وآية الكرسي ، كل واحدة سبعين مرة ويشرب غدوة وعشية سبعة أيام . فو الذي بعثني بالحق نبيا ، لقد قال لي جبريل ; إنه من شرب من هذا الماء رفع الله عن جسده كل داء وعافاه من جميع الأمراض والأوجاع ، ومن سقي منه امرأته ونام معها حملت بإذن الله تعالى ". ويشفي العينين ، ويزيل السحر ، يقطع البلغم ، ويزيل وجع الصدر والأسنان والتخم والعطش وحصر البول ، ولا يحتاج إلى حجامة ولا يحصى ما فيه من المنافع إلا الله تعالى ، وله ترجمة كبير اختصرناها، والله اعلم . ( كتاب النوادر للإمام القليوبي رحمه الله تعالى آمين ، ص ؛ ١٩٤ ).   

Artinya: "Faedah" 

Diriwayatkan bahwasanya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda di hadapan para sahabatnya : " Di ajarkan kepadaku oleh Malaikat Jibril tentang satu obat yang tidak memerlukan kepada obat yang lain dan tidak pula membutuhkan kepada para dokter. Kemudian sahut Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat Ali radhiyallahu an'hum bertanya: Apa itu wahai Rasulullah? Sesungguhnya  kami sangat membutuhkan obat itu ? Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam berkata : " Ambillah secukupnya dari air hujan, lalu bacakanlah surat Al-fatihah, surat Al-ikhlas, surat Al-falaq, surat An-nas dan Ayat Al-Kursi. Setiapnya (masing-masing) dibaca 70 kali, Dan diminum pada pagi dan petang selama tujuh hari. Demi Dzat yang mengutuskanku dengan yang benar sebagai seorang nabi, kata Rasulullah : Sesungguhnya malaikat jibril telah menyatakan kepadaku: Barang siapa yang meminum air ini niscaya Allah akan menghilangkan semua penyakit yang ada dalam tubuhnya dan menyembuhkan dari segala penyakit yang ada. Dan barangsiapa yang memberi air itu untuk istrinya dan tidur bersama istrinya niscaya istrinya akan hamil dengan izin Allah swt. Dan air tersebut juga dapat menyembuhkan dua mata yang sakit, menghilangkan penyakit sihir, dan menghilangkan dahak dan menghilangkan sakit dada, gigi, pencernaan, sembelit, dan kencing yang tidak lancar. Dan juga tidak dibutuhkan kepada membekam, serta masih banyak faedah-faedahnya yang lain tidak terhingga kecuali oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mengenai tentang keutamaan air tersebut ada satu tarjamah besar yang telah kami (mushannif) ringkas. Sesungguhnya Allah Subahanahu wa Ta'ala lah yang maha mengetahui...

Silahkan diamalkan dan disebarluaskan dengan harapan semoga membawa kemanfaatan dan keberkahan bagi kita semuanya, yang sakit dhahir dan bathin segera disembuhkan dan diangkat penyakitnya oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala aamiin aamiin aamiin Yaa Rabbal 'aalamiin bisirri asrari Al Faatihah....

(Sumber: Kitab An Nawadir, halaman ; 194 karya Syekh Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyuby ) 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ...