Esai Terhangat

Ketentuan Salat Gerhana di Kalangan Ulama Syafii



(Diterjemah dan diringkas oleh Masyhari dari Kitab "Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Mazhab Al Imam Asy Syafi'i", juz 1)

Pengertian
Kusuf (gerhana matahari), yaitu peristiwa tertutupnya cahaya matahari oleh bulan, pada siang hari, baik sebagian atau total.

» Khusuf (gerhana bulan), yaitu tertutupnya cahaya bulan oleh matahari, pada malam hari, baik sebagian atau total.

* Nanti tengah malam 8 Agustus 2017, berdasarkan sosialisasi dari Kemenag dan Lajnah Falakiyyah NU, akan terjadi gerhana bulan sebagian, dalam rentang waktu yang cukup lama, yaitu Pukul 00:22 - 02:18 WIB (fase umbra).

» Salat Gerhana
Secara historis, salat gerhana matahari disyariatkan untuk pertama kalinya pada tahun kedua hijriyah. Sedangkan salat gerhana bulan disyariatkan pertama kalinya pada tahun kelima hijriyah.

» Hukum salat gerhana "Sunnah Muakkad", berdasarkan dalil hadis Nabi saw:

"إن الشمس والقمر من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم "

Artinya, "Matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena sebagai pertanda kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, salatlah dan berdoalah hingga gerhana usai."

» Kedua, berdasarkan perbuatan Nabi saw yang menjalankan salat gerhana.

» Salat gerhana tidak diwajibkan (tapi sunnah muakkad) karena pernah suatu ketika Nabi saw ditanya oleh seorang Badui tentang salat wajib selain 5 waktu. Lantas beliau saw menjawab, "Tidak ada. Kecuali salat sunnah." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

» Salat gerhana disunnahkan secara berjamaah. Andaipun sendirian tetap sah.

» Sebelum salat diucapkan:
الصلاة جامعة
"Ashshalatu jaami'ah"

» Tata Caranya:
Salat gerhana dilakukan dua rakaat, dengan niat salat kusuf untuk gerhana matahari, dan niat salat khusuf untuk gerhana bulan.

» Terdapat dua versi cara:
- Pertama: Minimalis dan Sudah dianggap sah.
Caranya sebagaimana salat Jumat, dua kali berdiri, dua bacaan, dua ruku', dan tidak diperpanjang bacaannya.
Tapi, model semacam ini tidak utama, karena berbeda dengan tata cara yang dilakukan oleh Nabi saw.

- Kedua: Cara Maksimalis dan lebih sempurna.
Yaitu dilakukan dua raka'at. Setiap rakaat berdiri dengan bacaan yang panjang.
Setiap rakaat ada dua kali ruku' dan dua kali bacaan. Sehingga, dalam dua rakaat, menjadi empat ruku'. Ruku' dilakukan dengan lama, lebih lama daripada salat biasa.

» Selesai salat, imam berdiri untuk berkhutbah dua kali sebagaimana khutbah Jumat.

» Pada salat gerana bulan, bacaan AlFatihah dan Surat dikeraskan (jahr). Sementara salat gerhana matahari dipelankan (sirr).

» Selain salat gerhana, perbanyak dzikir, doa, istighfar, takbir dan sedekah, dimulai awal gerhana hingga selesai gerhana.

» Tidak ada qadha' bagi yang meninggalkan salat gerhana. Bila gerhana telah usai, namun Anda belum salat, maka usailah waktu pelaksanaan salat gerhana, dan tidak perlu diqadha'.

» Disunnahkan mandi sebelum salat gerhana sebagaimana sebelum salat Jumat.

Wallahu a'lam

Cirebon, 15 Dzulqa'dah 1438 H/ 07 Agustus 2017 M

NEGARA ISLAM INDONESIA?: Menguji Otentisitas Argumen Khilafah Islamiah dalam Konteks Berislam Indonesia)




Oleh: Aksin Wijaya 
(disampaikan di AICIS di IAIN Surabaya, 2012) 

A. Pendahuluan
Para penggagas ide didirikannya kembali “khilafah Islamiah” sebenarnya bertujuan untuk mendakwahkan penerapan syari’at Islam di muka bumi ini. Agar dakwah mulia itu berjalan sesuai yang dicita-citakan, mereka menilai harus ada lembaga penyangganya, yakni Negara. Tentu saja tidak sembarang Negara boleh didirikan untuk tujuan mulia itu. Negara yang mereka maksud adalah yang berbasis Islam. Maka muncullah ide Khilafah Islamiah yang juga populer dengan sebutan Negara Islam.

Mendirikan Khilafah Islamiah atau Negara Islam dengan tujuan untuk mendakwahkan syari’at Islam sebenarnya sangat mulia. Sebagai umat Islam, kita seharusnya mendukung cita-cita itu. Namun tujuan mulia itu tidak dengan sendirinya berjalan secara mulia jika tidak didasari pemahaman yang tepat mengenai hakikat syari’at Islam dan kondisi Indonesia, tidak pula dilakukan dengan strategi yang baik. Jika tidak, yang terjadi malah pemaksaan paham keislaman yang berbau ideologis ke Indonesia yang secara historis tidak mengenal nilai pentingnya khilafah Islamiah. 

Sebagai bentuk kritik terhadap gagasan mulia itu, tulisan ini akan membahas tiga hal: apakah Islam mengharuskan adanya lembaga semacam Negara?; apakah Islam mengharuskan bentuk tertentu dari lembaga Negara itu?; dan bagaimana cara yang tepat dalam mendakwahkan Islam tanpa harus mendirikan Negara atau khilafah Islamiah? 

Untuk menjawab dua masalah pertama, akan dibahas dua aspek: aspek eksistensi dan esensinya. Eksistensi berkaitan dengan perjalanan eksistensial konsep bernegara dalam peradaban Islam, sedang esensi berkaitan dengan konsep negara dalam peradaban Islam. Untuk aspek yang pertama akan dibahas dengan menggunakan sejarah pemikiran,  aspek yang kedua akan dibahas menggunakan “logika hirarkisitas” pensumberan hukum Islam model imam syafi’i.  Sedang masalah ketiga akan ditawarkan metode dakwah yang relevan dengan konteks Indonesia. 

B. Perjalanan Eksistensial Konsep Bernegara Dalam Peradaban Islam 
Pergumulan agama dan politik dalam peradaban Islam sebenarnya telah muncul sejak awal kehadirannya. Ketika pertama kali hadir ke dunia Arab, sudah muncul kesan bahwa  agama yang dibawa Muhammad ini merupakan agama yang bergulat dengan politik.  Ada banyak peristiwa sejarah yang menjadi pijakan dugaan itu, di antaranya kisah seorang pemuda bernama Afif al-Kindi. Suatu ketika Afif al-Kindi berkisah: “saya adalah seorang pedagang yang datang ke Makkah pada musim haji, kemudian saya menemui Ibnu Abbas (paman Nabi). Ketika saya duduk disampingnya, tiba-tiba ada seorang pemuda keluar dan mengerjakan shalat menghadap ka’bah, kemudian datang seorang perempuan dan shalat bersamanya, kemudian datang seorang pemuda juga shalat bersamanya. Lalu, saya bertanya kepada Ibnu Abbas: wahai Ibnu ‘Abbas, agama apakah ini? Ibnu Abbas menjawab: yang ini (dia) adalah Muhammad Ibn ‘Abdillah, anak saudaraku, yang mengaku sebagai utusan Allah, dan dia meyakini akan menghancurkan dua Negara adidaya (Romawi dan Persia). Yang ini adalah istrinya bernama Khadijah yang beriman kepadanya, dan yang ini adalah pemuda yang bernama Ali bin Abi Thalib juga berimana kepadanya. Masyaallah, saya benar-benar tidak mengetahui agama seseorang seperti agama yang dilakukan tiga orang itu”. Kemudian Afif berkata, “semoga saya adalah yang ke empat”.  

Selain kisah penaklukan itu, sejarah juga memberikan bukti nyata bahwa Muhammad berhasil mendirikan sebuah “Negara Madinah”,  yang dilanjutkan dengan berdirinya Khilafah di bawah kepemimpinan para sahabatnya, yang dikenal dengan istilah khulafah al-Rasyidun,  dan dilanjutkan dengan Daulah Umayyah dan Abbasiyah. Serentak dengan itu, ada beberapa term dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang mengarah pada keterkaitan Islam dengan politik, seperti istilah Khalifah  dan Ulil al-Amri.  Di dalam hadis muncul keharusan berbai’at kepada khalifah,  dan pernyataan bahwa setiap kita adalah pemimpin (ra’in).  Kisah historis dan peristiwa politik dalam peradaban Islam, serta term politik dalam sumber ajaran Islam itu telah meformat memori umat Islam betapa pentingnya politik dalam Islam. 

Namun pada masa-masa awal, Nabi dan para sahabat tidak pernah memperdebatkan label dan sifat yang berkaitan dengan politik, Negara ataupun pemerintahan. Yang ada kala itu hanya pembahasan mengenai tugas pemimpin yang sejatinya memberikan kemakmuran pada rakyatnya, dan tugas rakyat yang sejatinya membai’at dan ta’at kepada pemimpinnya. Di dalam Piagam Madinah juga tidak disebutkan bentuk Negara, yang ada hanya aturan-aturan bersama di antara komponen masyarakat Madinah untuk menjaga keamanan Madinah dari serbuan pihak luar.  Begitu juga perdebatan yang terjadi di awal kekhalifahan. Mereka tidak meributkan persoalan sistem politik, bentuk Negara dan pemerintahan, melainkan pemimpinya. Mereka menyatakan bahwa pemimpin itu harus dari golongan mereka. 

Perbincangan yang fokus pada konsep Islam mengenai sistem politik dan bentuk pemerintahan muncul belakangan pada Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiyah,  kendati keduanya berbeda dalam hal bentuk kreasinya. Jika pada dinasti Umayyah perdebatan masih sebatas wacana, pada dinasti Abbasiyah para pemikir sudah mulai menuangkannya dalam bentuk karya.  

Jika dilihat dari segi “wacananya”, pemikiran politik kala itu berkisar pada tiga hal: pertama, pemikiran politik seputar Khilafah dan Imamah, kedua, seputar etika kekusaan dan nasehat kekuasaan, dan ketiga, filsafat politik. Yang pertama muncul sejak terbunuhya Khalifah Utsman sampai kemenangan Muawiyah dan berubahnya khilafah pada kerajaan yang diwariskan. Masalah ini acapkali menjadi obyek bahasan ilmu kalam dan fiqh dalam kurun waktu yang begitu panjang. Yang kedua muncul sejak kemenangan revolusi Abbasiyah dan mulai berkuasanya kalangan Persia dalam daulah. Yang ketiga, munculnya reaksi umat Islam terhadap etika kekuasaan yang berasal dari Persia. Ia diadopsi dari pemikiran filsafat Yunani. 

Sedang jika dilihat dari “model” pandangannya mengenai konsep Islam tentang sistem politik dan bentuk pemerintahan, para pemikir berbeda pendapat, tergantung pada relasi pemikir yang bersangkutan dengan kekuasaan yang berkuasa. Paling tidak ada tiga bentuk relasi yang umum berlaku: relasi pemikir (Ahli Hukum) dengan Daulah Umayah dan Daulah Abbasiyah; relasi pemikir dengan gerakan-gerakan oposisi, seperti Khawarij dan Syi’ih; dan relasi pemikir muslim dengan para pemikir idealis (filsuf) sebelum Islam. 

Dengan hubungan relasional seperti itu, tepat kiranya ketika Masykuri Abdullah mencatat tiga model pandangan mengenai politik Islam: pertama, mereka yang terlibat langsung dalam pemerintahan sehingga pikiran-pikiran mereka lebih bersifat akomodatif, seperti Ibn Abi Rabi’ (w.227H/842M), al-Mawardi (364-450H/975-1058M), dan Ibnu Khaldun (732H/1332M-808H/1406M); kedua, mereka yang berada di luar kekuasaan, tetapi masih sering berpartisipasi dalam bentuk kritik-kritik terhadap kekuasaan, seperti al-Ghazali (450-505H/1058-1111 M.), dan Ibnu Taimiyah (661-728H); dan ketiga, mereka yang terlepas sama sekali dari konteks politik yang sedang berkuasa, sehingga pikiran-pikiran mereka lebih bersifat spekulatif, seperti al-Farabi (257-339H/870-950M. 

Namun jika diteliti secara mendalam, para pemikir itu sebenarnya tidak membahas secara khusus konsep Islam mengenai sistem politik atau bentuk pemerintahan. Al-Ghazali misalnya membahas mengenai nasehat buat pemimpin,  Al-Mawardi membahas mekanisme memilih pemimpin,  Ibnu Taimiyah membahas mengenai kemaslahatan umat yang sejatinya diberikan Negara,  sedang al-Farabi  atau para filsuf yang sealiran dengannya,  seperti Ibnu Sina,  dan Ibnu Rusyd,  membahas Negara dalam perspektif filsafat. Yang sedikit banyak membahas mengenai sistem politik dan bentuk Negara dalam Islam, yakni Khilafah Islamiah adalah Ibnu Khaldun.  

Sedang pembahasan yang benar-benar menfokuskan diri pada konsep Islam mengenai sistem politik dan bentuk pemerintahan (Negara) muncul belakangan terutama sejak pembubaran khilafah Islamiyah oleh Kamal Attaturk, disusul kemudian oleh hadirnya pemikiran kontroversial Ali Abdurrazik yang menegaskan tidak adanya sistem pemerintahan yang definitif dalam Islam, melalui karyanya, Islam wa Ushul al-Hukmi.  Karya ini seolah menjustifikasi pembubaran khilafah oleh Attaturk. 

Sejak peristiwa itu, muncullah perdebatan hangat di kalangan pemikir Muslim mengenai pandangan Islam tentang sisem politik dan bentuk pemerintahan, apakah Islam mempunyai konsep yang pasti mengenai sistem politik dan bentuk pemerintahan (Negara), ataukah tidak?  Apakah keberadaan Negara dalam Islam bersifat syar’i, ataukah bersifat aqli? Apakah Islam dan Negara menyatu ataukah terpisah? 

Sebagian pemikir meyakini Islam mempunyai sistem politik dan bentuk pemerintahan tertentu, dan hal itu bersifat syar’i, sedang hubungan keduanya bersifat menyatu; sebagian lagi berpendapat tidak ada sistem politik dan bentuk pemerintahan tertentu dalam Islam, dan bentuk pemerintahan itu bersifat aqliah, sedang relasi agama (Islam) dan Negara bersifat terpisah. Dua kelompok ini mengalami pergumulan yang luar biasa dan tak kunjung usai, baik di Timur Tengah maupun di Indonesia.

Kelompok pertama meyakini bahwa bentuk Negara yang absah diterima secara syar’i adalah khilafah Islamiah atau Daulah Islamiah. Untuk memperkuat pilihannya itu, mereka mengacu pada definisi  dan argumen Ibn Khaldun mengenai pengertian dan keabsahan khilafah Islamiah secara syar’i sebagai bentuk yang absah dalam Islam.  Serentak dengan itu, mereka memunculkan jargon menyatunya agama dan Negara ”Islam adalah agama dan Negara”, yang dilontarkan Hasan al-Banna,  pendiri Ikhwan al-Muslim, dan “Islam adalah aqidah dan nidham”, yang dilontarkan Taqiyuddin al-Nabhani pendiri Hizbut Tahrir.  Sebaliknya, bagi kelompok kedua yang berfikir realistis berpendapat bahwa sistem politik dan bentuk pemerintahan apapun dapat diterima selama Islam sebagai agama masih diberi ruang untuk bereksistensi, entah itu khilafah Islamiah, maupun republik. Kelompok ini mengeluarkan jargon mengenai terpisahnya Islam dan Negara “Islam adalah risalah (agama)” oleh Ali Abdur Razik,  “Islam adalah akidah dan syari’ah” oleh Mahmud Saltut,  dan “Islam adalah Agama dan Umat”, oleh Jamal al-Banna”. 

Atas dasar argumen-argumen itu, maka sebagian pemikir  yang masuk ke dalam kelompok pertama berupaya menghadirkan kembali bentuk ideal model pemerintahan zaman Nabi dan model khilafah al-Rasyidun  ke dalam dunia kontemporer, terutama dalam bentuk khilafah Islamiah; sebaliknya kelompok kedua berfikir realistis, dengan tetap menerima bentuk pemerintahan yang ada, asal Islam sebagai agama masih bisa eksis di dalamnya.  

Terlepas dari perdebatan di atas, yang perlu menjadi catatan penting bagi para pengusung ide dihadirkannya kembali khilafah Islamiah adalah dilupakannya peristiwa menyedihkan yang dialami Usman bin Affan di akhir pemerintahannya, dan kezaliman yang menimpa Ali bin Abi Thalib dari perebutan kekuasaan yang dilakukan kubu Muawiyah.  Peristiwa-peristiwa itu terjadi di masa-masa awal bentuk pemerintahan pasca Nabi. Mereka juga melupakan peristiwa menyedihkan yang menimpa sebagian pemikir muslim yang tidak berafiliasi kepada pemerintahan tertentu dalam sebuah Negara Islam atau Negara yang menjadikan Islam sebagai agama utama, seperti Ahmad bin Hambal,  Ibnu Rusyd,  Abdullah Ahmed an-Naim,  Nasr Hamid Abu Zaid,  dan Ulil Abshar Abdallah.  Peristiwa-peristiwa mengerikan itu membuktikan betapa “perselingkuhan” agama dengan politik (Negara) bukan hanya tidak menguntungkan agama. Lebih dari itu, perselingkuhan itu telah menjadikan agama sebagai alat justifikasi tindakan kekerasan, baik kekerasan wacana, seperti labelisasi kafir, murtad, sesat dan menyesatkan,  maupun kekerasan fisik, seperti fatwa pembunuhan Salman Rusydi oleh Imam Khumaeni, dan tindakan merusak tempat-tempat yang diduga melakukan praktek maksiat oleh FPI. Padahal, Islam adalah agama yang membawa pesan perdamaian.  Peristiwa-peristiwa ini penting mereka pertimbangkan sebelum mengusung kembali ide khilafah Islamiah. 

Selain itu, mereka sejatinya juga belajar memahami “sisi teoritis” dan “praksis” perjalanan eksistensial sistem politik dan bentuk negara dalam peradaban Islam selama ini. Secara teoritis, Ibnu Rusyd berpendapat bahwa pembicaraan mengenai politik masuk ke dalam ranah filsafat praktis.  Sebagai bagian dari filsafat praktis, politik menurut Ibnu Rusyd masuk ke dalam hukum alam yang bakal mengalami perubahan. Hukum perubahan mengambil dua bentuk: perubahan menuju ke arah yang berada di atasnya; dan perubahan menuju ke arah yang berada di bawahnya. Dalam konteks negara, perubahan itu ternyata mengambil bentuk kedua, yakni perubahan dari negara utama ke bentuk negara lainnya yang berada di bawah derajat negara utama.  Ibnu Rusyd mengambil contoh negara Madinah era Nabi Muhammad, dan Khilafah al-Rasyidun sebagai bentuk negera utama, dan mengambil contoh negara al-Muwarabitun dan al-Muwahhidun sebagai arah perubahan ke negara yang berada di bawahnya.

Negara Madinah zaman Nabi disebut "teokrasi" (negara utama),  karena Muhammad menjalankan pemerintahan berdasar hukum Tuhan; pemerintahan Khilafah al-Rasyidun disebut "republik" karena sistem pemilihan kepala negara dilakukan melalui pemilihan atau pengangkatan langsung oleh rakyat atau wakilnya; sedang pemerintahan sejak Dinasti Umayah sampai berakhirnya Dinasti Turki Usmani berbentuk "monarki", karena kepala negaranya tidak dipilih oleh rakyat, melainkan diangkat oleh khalifah sebelumnya secara turun temurun. 

Dengan teori politik, arah perubahannya, ditambah lagi ciri-ciri sistem pemerintahan Madinah zaman Nabi, sangat tepat ketika Jamal al-Banna menilai pemerintahan zaman Nabi merupakan "eksperimen tunggal" bentuk pemerintahan ideal yang tak akan pernah terjadi lagi dalam sejarah.  Selain karena model idealnya, mustahilnya dihadirkannya kembali model pemerintahan zaman Nabi adalah karena kekhasan berdirinya pemerintahan Madinah dan karakter pendirinya. Pemerintahan Madinah berdiri atas inisiatif masyarakat Madinah, dimana dalam waktu yang begitu panjang, mereka mengalami konflik yang tak kunjung usai, dan kehadiran Muhammad diharapkan mampu mengakhiri konflik tersebut. Atas dasar itu, Muhammad melakukan tiga langkah praksis-solutif: membangun Masjid, mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin, serta membuat shahifah mu’awwadah (perjanjian perdamaian). Sedang dari segi karakternya, Muhammad tentu saja berbeda dengan penguasa pada umumnya, seperti raja. Muhammad bertindak atas panduan Tuhan yang terhindari dari kesalahan, dan hawa nafsu, sedang raja penuh dengan nafsu kekuasaan.  Belum lagi kenyataan perdebatan yang muncul mengenai, apakah pemerintahan era Nabi di Madinah sebagai sebuah negara atau bukan. 

C. Menguji Argumen Konsep Berkhilafah Islamiah
Setelah menunjukkan tidak adanya bentuk yang pasti mengenai bentuk Negara dalam peradaban Islam, kini akan dibahas konsep Islam mengenai Negara, terutama dilihat dari segi “argumennya”, dan “fungsinya bagi dakwah Islam”. Dua hal ini dinilai penting karena para penggagas ide Negara Islam menjadikan kedua hal itu sebagai pijakan gerakannya, baik gerakan teoritis maupun gerakan praksisnya.

1. Argumen Mendirikan Kilafah Islamiah
Para pengusung ide formalisme Islam dalam Negara menggunakan istilah yang berbeda-beda mengenai masalah ini. Tiga istilah yang paling sering digunakan adalah “khilafah Islamiah”, “daulah Islamiah”, dan “Negara Islam”. Istilah khilafah berasal dari tradisi pemerintahan Islam masa-masa awal yang dikomandani khalafa’ al-Rasyidun; istilah daulah dipinjam dari Daulah Umayyah dan Daulah Abbasiah yang waktu itu diartikan sebagai “putaran pemerintahan dinasti”; sedang istilah Negara sebagai terjemahan dari nation-state yang baru diperkenalkan belakangan oleh Nicolo-Machiavelli (1469-1527). Dalam dunia Islam, istilah “Negara Islam” dikenal baru abad 20.  Ketiga istilah itu sebenarnya menunjuk pada maksud yang sama, yakni keharusan adanya bentuk Negara resmi yang berbasis Islam, entah itu khilafah Islamiah atau Negara Islam.

Kini kita kaji “argumen normatif” konsep berkhilafah Islamiah (berdaulah Islamiah, atau bernegara Islamiah). Di dalam al-Qur’an ada tiga ayat yang menyebut kata “khilafah” yang selama ini dijadikan justifikasi atas didirikannya khilafah, yakni: al-Baqarah: 30,  Shad: 26,  dan al-An’am: 165.  Begitu juga hanya ada dua ayat yang menyebut istilah Daulah, yakni, al-Hasyr:7,  dan al-Imran:140.  Kata khalifah menurut kebanyakan mufassir tidak mengacu pada sistem pemerintahan khilafah sebagaimana yang diperjuangkan sebagian pemikir selama ini,  begitu juga kata Daulah dan Nudawiluha.  Karena itu, bisa dinyatakan bahwa al-Qur’an sama sekali tidak menggunakan secara jelas kata-kata tertentu yang menunjuk pada bentuk pemerintahan atau negara. Sebaliknya, kata-kata yang menunjuk pada asosiasi atau komunitas yang popular di dalam al-Qur’an adalah kata ummah, qaumiyah, sya’bun, dan syura.  Begitu juga tidak ada kata tertentu di dalam al-Qur’an yang menunjuk pada Muhammad sebagai raja, malik, dan hakim,  yang ada adalah Muhammad sebagai penyampai risalah. 

Di dalam hadits juga tidak ditemukan pernyataan tegas mengenai sistem politik ataupun bentuk Negara, yang disinyalir di dalam beberapa hadits hanya berkaitan dengan dua hal: pertama, sikap umat terhadap pemimpinnya, keharusan memilih pemimpin, tugas pemimpin, siapa yang mempunyai hak memimpin, dan berbai’at kepada pemimpin;  kedua, sikap kritis Nabi terhadap kekuasaan. Ada beberapa hadits Nabi Muhammad yang menegaskan sikap kritis Nabi terhadap kekuasaan.  Kendati tidak berarti Muhammad anti kekuasaan, sikap kritisnya membuktikan betapa Muhammad tidak menilai penting kekuasaan. Sementara para pengusung ide khilafah Islamiah hanya mengambil hadits yang pertama. 

Jika kedua sumber otoritatif Islam itu tidak memberikan petunjuk pasti mengenai bentuk pemerintahan, kini tersisa sumber ketiga, yakni ijma’. Adalah Ibn Khaldun yang menegaskan mengenai ijma’ sahabat dan tabi’in tentang bentuk pemerintahan, khilafah Islamiah. 

Ketika membahas dalil keabsahan khilafah Islamiyah sebagai sistem politik dan bentuk pemerintahan dalam Islam, Ibnu Khaldun mencatat tiga pendapat: pertama kelompok yang meyakini bahwa khilafah itu wajib berdasarkan hukum syara’; kedua, sebagian kelompok berpendapat bahwa dalil wajibnya Negara Islam  adalah akal; dan ketiga, kelompok yang tidak memegang dalil syar’i dan akal. Hukum syara’ yang dimaksud kelompok pertama adalah ijma’ sahabat dan tabi’in yang dilakukannya ketika menghadapi situasi sulit pasca wafatnya Muhammad. Mereka sepakat mendahulukan memilih pemimpin daripada menguburkan Muhammad. Ibn Khaldun memilih pendapat pertama. Namun kewajiban mendirikan khilafah Islamiah itu menurut Ibnu Khaldun bersifat kifayah. 

Dengan menggunakan logika hirarkisitas pensumberan hukum Imam syafi’i  bisa dipahami bahwa dalil mengenai sistem dan bentuk pemerintahan (Negara) dalam Islam yang berasal dari ijma’ sahabat dan tabi’in merupakan sumber “semi otoritatif”. Pertanyaannya, bisakah hasil ijma’ yang semi otoritatif itu dijadikan sebagai kepastian yang mutlak? Tampaknya tidak demikian.  Apalagi sejarah mencatat bahwa yang diputuskan para sahabat kala itu bukanlah sistem atau bentuk Negara, melainkan siapa yang akan memimpin mengganti Nabi. Perebutan pemimpin terjadi antara kaum Anshar dan Muhajarin, yang kemudian dimenangkan kubu Muhajirin.  Istilah khilafah justru lahir dari pidato Abu Bakar ketika dipilih sebagai pemimpin. Di dalam pidatonya, Abu Bakar menyatakan bahwa dia adalah “khalifah Rasulullah”. Karena itulah, tepat kiranya ketika Ibnu Khaldun mendefinisikan khalifah sebagai “wakil” pemilik syari’ah dalam menjaga agama dan politik duniawi. 

Sementara itu, yang dijadikan rujukan otoritatif oleh para pengusung ide khilafah Islamiah, termasuk Hizbut Tarhrir  adalah definisi mengenai khilafah Islamiah, tetapi mereka tidak begitu perduli dengan sumber rujukannya. Untuk memperkuat pilihannya, mereka mengacu pada definisi  dan argumen Ibn Khaldun mengenai pengertian dan keabsahannya.  Khilafah Islamiyah didefinisikan sebagai kepemimpinan umum bagi kaum muslim secara keseluruhan di dunia untuk menegakkan hukum syara’ yang Islami serta mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.  

2. Dua Eskperimen Perjalanan Dakwah Islam Era Nabi
Sebagai perimbangan terhadap absennya penjelasan yang pasti dari sumber asasi Islam mengenai sistem politik dan bentuk negara, saya tawarkan dua eksperimen perjalanan Islam yang kiranya bisa dijadikan pelajaran bagi kita dalam mendakwahkan ajaran Islam: pengalaman dakwah nabi selama di Makah dan selama di Madinah. Ada empat unsur yang bisa dijadikan contoh eksperimen kedua daerah itu: lembaga, pesan, strategi dakwahnya, dan hasilnya.

Dalam menjalankan dakwahnya, Muhammad bergerak dalam dua wilayah  geografis: Makkah dan Madinah. Gerak dakwah di dua wilayah ini menawarkan pesan dan strategi yang berbeda. Pesannya selama di Makkah bercorak nilai-nilai moral-universal, menempatkan manusia dalam posisi setara dengan memangil “wahai manusia”. Kata “panggilan” seperti ini menandakan komitmen sikap “kemanusiaan” al-Qur’an (Mushaf Usmani) tanpa mengacu pada embel-embel apapun yang bernuansa SARA, suku, agama, ras maupun golongan. Konsep kemanusiaan ini sejalan dengan misi Muhammad yang diutus untuk mengajarkan akhlak yang mulia. Selama di Makkah, al-Qur’an mengajarkan metode yang baik dalam berdakwah.  Semasa berada di Makkah, yang diajarkan Muhammad adalah nilai-nilai universal kemanusiaan dan keadilan sosial-ekonomi. Nilai-nilai universal ini tidak terlembagakan dalam sebuah aturan normatif dan legal, sebagaimana era Madinah, melainkan sebatas himbauan moral yang bersifat abstrak, yang sejatinya dijalankan setiap individu tanpa ada tekanan dan paksaan, baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar dirinya.

Sedang selama berdakwah di Madinah, pesannya bercorak dikotomis dan acapkali melakukan pembelaan dan penyingkiran terhadap komunitas tertentu, misalnya memanggil komunitas tertentu dengan kategori “wahai orang-orang mukmin”, wahai orang-orang Islam”, “wahai orang-orang munafik”, dan “wahai orang-orang kafir”.  Kata-kata “panggilan” ini juga relevan dengan fakta bahwa di Madinah, Muhammad telah bercampur baur dengan persoalan teknis politik praktis, sehingga wacana-wacana yang ditunjukkan dalam bahasa al-Qur’an bercorak “dikotomis dan diskriminatif”. Di Madinah masyarakat manusia dibedakan secara tegas sehingga siapa kawan dan siapa lawan kian nampak, demikian pula metode menyikapi lawan. Metode “resiprositas” (membalas sesuatu dengan sesuatu yang sama) menjadi metode yang tepat di Madinah. Jika umat Islam diserang, maka umat Islam diizinkan membalas serangan. Perang dalam Islam memang dianjurkan semasa Muhammad berada di Madinah.  

Dua pesan dan strategi yang berbeda itu membuahkan hasil yang berbeda pula. Selama di Makkah, Muhammad hanya mampu menarik sebagian kecil masyarakat Arab untuk memeluk Islam, sebaliknya selama berada di Madinah, Muhammad menarik banyak masyarakat Madinah memeluk Islam. Tetapi, masyarakat yang berhasil diIslamkan di Makkah “berbeda kualitasnya” dari pada masyarakat yang berhasil diIslamkan di Madinah. Masyarakat yang diIslamkan di Makkah kebanyakan mempunyai iman dan komitmen yang kuat pada Islam, menjadi khalifah, menjadi mufassir dan sebagainya, sebaliknya masyarakat yang diIslamkan di Madinah, banyak yang lemah iman dan komitmennya, membangkang untuk membayar zakat pasca wafatnya Muhammad, kendati tidak berarti menafikan peran mereka dalam penyebaran Islam ke pelbagai daerah. Karena, berkat jasa merekalah Islam menyebar ke pelbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Sejatinya dua eksperimen ini dijadikan pelajaran bagi dakwah Islam ke depan. Kendati khilafah penting, dan Islam menyebar ke pelbagai penjuru dunia berkat khilafah, tetapi yang mempunyai kualitas keilmuan dan iman yang luar biasa justru adalah mereka yang diIslamkan Nabi selama di Makkah. Saat ini bukan saatnya untuk merekrut massa Islam sebanyak-banyaknya sebagaimana partai politik, apalagi dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Yang sejatinya kita kejar saat ini adalah “mengislamkan umat Islam”, yang selama ini hanya berIslam secara KTP. 

E.  Islam Pribumi: Menyelamatkan Indonesia dari Ideologi Ekslusif
Jika di dalam sumber otoritatif ajaran Islam tidak ditemukan penjelasan yang pasti mengenai keharusan adanya lembaga negara berikut sistem politik dan bentuk negaranya dalam Islam, sementara itu, Nabi Muhammad mendakwahkan agama dalam dua bentuk yang berbeda, yakni bentuk Makkah dan Madinah, lalu bagaimana sejatinya mendakwahkan Islam di Indonesia? Haruskah mendirikan negara dan mengislamkannya, sembari menyingkirkan budaya lokal, ataukah mendakwahkan Islam mengusik budaya lokal?

Ada dua pemahaman dan strategi dakwah Islam di Indonesia, khususnya sejak abad 19-sekarang: yakni pemahaman yang bertujuan purifikasi, namun didakwahkan dengan cara kekerasan; dan ada pula pemahaman akomodatif, dan dilakukan dengan cara kompromistis. Kelompok pertama dimotori para pemikir yang mengusung ide pembaharuan Islam seperti Kaum Padri  dan HTI, sedang kelompok kedua dimotori para pemikir yang mengusung ide tradisionalis Islam, seperti NU. Islam purifikatif kaum Padri berkiblat pada Islam Wahhabi yang dibawa Haji Miskin dari Makkah ke Minangkabau, Islam Tradisionalis dibawa K.H. Hasyim Asy’ari yang juga dibawanya dari Makkah, namun tidak membawa Islam Wahhabi. Yang dibawa tokoh kharismatik pendiri NU ini adalah Islam moderat model Sunni. Islam Padri bertujuan mendirikan lembaga yang berlogokan Islam, Islam tradisionalis mengIslamkan orang tanpa simbol Islam, bahkan acapkali menawarkan pemahaman yang berdialog dengan budaya lokal, seperti dilakukan Sunan Kalijaga. Islam akomodatif ala Sunan Kalijaga inilah yang kini dijalankan NU, sehinga menjadi Islam maenstrem, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Dalam konteks berIslam di Indonesia, Islam yang dibawa NU dan didakwahkan dengan cara akomodatif ala Sunan Kalijaga ini oleh Gus Dur disebut Islam pribumi.

Islam pribumi yang dimaksud adalah suatu upaya melakukan rekonsiliasi Islam dengan kekuatan-kekuatan budaya lokal, agar budaya lokal itu tidak hilang.  Budaya lokal sebagai kekayaan budaya tidak boleh dihilangkan, demi kehadiran agama. Namun itu tidak berarti, pribumisasi Islam meninggalkan norma agama demi terjaganya budaya lokal, melainkan agar norma-norma Islam itu menampung kebutuhan budaya, dengan mempergunakan peluang yang disediakan variasi pemahaman terhadap Nas.  Juga bukan sebagai upaya mensubordinasikan Islam dengan budaya lokal, karena dalam pribumisasi Islam, Islam harus tetap pada sifat Islamnya. Tidak boleh budaya luar merubah sifat keasliannya. Yang dipribumisasi adalah dimensi budaya dari Islam yang terdapat di dalam al-Qur’an. Dengan melihat kebutuhan konteks, maka kita bisa memilih dimensi apa yang relevan untuk konteks tertentu dan dimensi apa yang tidak relevan.  

Dalam konteks ini, Gus Dur, sang penggagas ide Islam Pribumi menjadikan kebangsaan dan kemanusiaan sebagai proyek perjuangannya.  Islam tegasnya merupakan ajaran yang mementingkan masyarakat kecil, yang oleh para ahli ushul dikenal dengan maslahah amah.  Karena tindakan pemerintah dalam pandangan Islam harus bertolak pada kepentingan masyarakat atau rakyat secara keseluruhan. 

Dengan nalar Islam Pribumi seperti itu, maka di antara bentuk pembelaan Islam terhadap kepentingan rakyat adalah menolak formalisasi agama,  atau yang kini dikenal dengan pendirian Negara Islam. Sebab, persoalan keharusan Indonesia menjadi Negara Islam ataukah Negara demokrasi, menurut Gus Dur, hanya bagian dari kerangka operasional saja, bukan ajaran dasar. Pembahasan menyangkut persoalan itu, tentu saja harus berada di bawah kerangka nilai-nilai dasar pandangan dunia Islam. Selama Negara itu membantu memenuhi kemaslahatan manusia, maka Negara bentuk apapun tidak menjadi masalah, apakah Negara Islam ataukah Negara demokrasi.  Namun karena Indonesia adalah “negerinya kaum muslim moderat”, maka Negara Islam tidak tepat diterapkan di Indonesia. Sikap itu, tegas Gus Dur, dicontohkan para pendahulu kita yang dengan tegas menghapus “tujuh kata” yang menunjuk pada formalisme Islam dalam Negara. Dan itu diputuskannya demi menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang plural ini. Belum lagi kenyataan bahwa al-Qur’an tidak pernah menegaskan bentuk Negara. 

Bagaimana dengan hehadiran Islam transnasional seperti HTI yang secara ideologis dan politis masih bertekad hendak mendirikan khilafah Islamiah di Indonesia?

Hizbut Tahrir (HT) didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1979 M), bersama Daud Hamdan, dan Namr al-Mishri. Ia didirikan di Palestina pada tahun 1952. Awalnya, Hizbut Tahir hendak mengusung kebangkitan Islam.  Namun, ia berubah arah karena rujukan paham keislamannya pada salaf lebih dominan ketimbang pada aliran pembaharu modern.  Cita-cita utamanya adalah terbentuknya khilafah Islamiah di Palestina,  dan bertujuan untuk membebaskan Palestina dari jajahan Barat. Namun, cita-cita itu gagal total.

Lalu, ia dibawa ke pelbagai negara, termasuk Indonesia, yang kemudian menjadi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Abdurrahman al-Baghdadi dan Muhammad Mustahafa, sekitar tahun 1982-1983.  Mereka menyebarkannya di kampus-kampus Indonesia, terutama kampus-kampus umum, seperti ITB, IPB, UGM dan sebagainya. Sengaja mereka bergerak di kampus-kampus umum yang tidak memahami Islam dengan mendalam, karena pada umumnya, mereka yang biasa berfikir matematis dan eksak mudah didoktrin ajaran Islam yang bersifat ekslusif. Sasaran itu diambil, karena para petingginya merasa dan meyakini betul bahwa HTI tidak laku dijual di lembaga pendidikan keagamaan yang memahami Islam secara mendalam, seperti STAIN, IAIN, UIN, apalagi di pondok pesantren. 

Anehnya, HTI yang lahir di Palestina, dan bukan hanya gagal mendirikan khilafah islamiah, tetapi juga gagal membebaskan Palestina dari jajahan asing, justru dibawa ke Indonesia.  Andaikata hanya ide-ide dasarnya yang dibawa dan disalurkan secara elegan barangkali bisa dimaklumi. Sebaliknya, mereka malah merasa memiliki negara ini, dan orang lain yang tidak mendukung cita-citanya dinilai sebagai kapitalis dan sekularis yang harus disingkirkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Mereka hendak mengganti negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila ini dengan khilafah Islamiah yang berdasar Islam ala Taqiyuddin al-Nabhani. Apakah ini bukan suatu bentuk kolonialisasi?  

D. Penutup
Dari pembahasan di atas bisa disimpulkan bahwa Islam tidak mengharuskan adanya lembaga bernama negara dalam mendakwahkan Islam, tetapi Islam juga tidak menolak adanya negara. Karena itu, Islam tidak menetapkan bentuk negara tertentu. Islam menghargai bentuk negara apapun selama Islam diberi ruang untuk eksis, apalagi tanpa negara pun, Islam bisa didakwahkan secara kultural, sebagaimana dakwah Nabi di Makkah dan dakwah Sunan Kalijaga dan NU di Indonesia.
 

DAFTAR PUSTAKA

A’la, Abd.,  “Geneologi Radikalisme Muslim Nusantara: Akar dan Karakteristik Pemikiran dan Gerakan Kaum Padri dalam Perspektif Hubungan Agama dan Politik Kekuasaan”, (Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sejarah Pemikiran Politik Islam Pada Fakultas Adab IAIN Sunan Apel Surabaya), 2008
Abdalla, Ulil Abshar, Islam Liberal dan Fundamental: Sebuah Pertarungan Wacana, Yogyakarta: eLSAQ, 2003.
Abdullah, Masykuri, “Negara Ideal Menurut Islam dan Implementasinya Pada Masa Kini”, dalam (Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus: Editor) Islam, Negara dan Civil Society, Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer, Jakarta: Paramadina, 2005.
Adonis, al-Tsabitu wa al-Mutahawwil: Bahtsun fi al-ittiba’ wa al-Ibda’ inda al-Arab (1-al-Ushul), cet. 5, Beyrut, Libaon: Dar al-Fikr, 1987.
Abu Zaid, Nasr Hamid, Naqd al-Khitab al-Dini, Mesir: Sina Li-al-Nasr, cet 2, 1994.
----------, Imam Syafi’i wa Ta’sis al-Ideolojiyyah al-Wasat”iyyah, Kairo: Maktabah Madbuli,1996.
Asymawi, Muhammad Sa’id, Menentang Islam Politik, terj. Widyawati, Bandung : Alifiya, 2004.
Baso, Ahmad, Civil Society Versus Masyarakat Madani: Arkeologi Pemikiran Civil Society Dalam Islam Indonesia, Bandung: Pustaka HIdayah, 1999.
Al-Banna, Jamal, Runtuhnya Negara Madinah: Islam Kemasyarakatan versus Islam kenegaraan,  terj. Jamadi Sunardi, dan Abdul Mufid, Yogyakarta: Pilar Media, 2005.
Al-Farabi, Kitabu Ara’u Ahli al-Madinah al-Fadhilah, pentaklik: al-Bir Nashri Nadir, cet-ke 8, Libanon, Beyrut: Dar al-Masyriq, 2002.
Fauda, Faraq, Kebenaran Yang Hilang: Sisi Kelam Praktik Politik Dan Kekuasaan Dalam Sejarah Kaum Muslim, terj. Novriantoni, Jakarta, dan Dian Rakyat: Paramadina, 2008.
Al-Ghazali, al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988 (saya merujuk pada terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia oleh Arief B. Iskandar, berjudul Etika Berkuasa: Nasihat-Nasihat Imam al-Ghazali, Bandung: Pustaka Hidayah, 2001.
Husein, Thaha, Malapetaka Besar dalam Sejarah Islam, terj. Moh. Tohir, Bandung: Pustaka Jaya, 1985.
Ibnu Rusyd, al-Dharuri fi al-Siyasah: Mukhtashar Kitab Siyasah Li Aflatun, terj. ke bahasa Arab: Ahmad Sahlan, taqdim wa Shuruh: Muhammad Abid al-Jabiri Beyrut: Markaz dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyyah, 1998.
Ibnu Taimiyah, al-Siyasah al-Syar’iyah, fi Islah al-Ra’i wa al-Ra’iyyah, Kairo: Dar al-Zuhur al-Fikri, T.t
Ibnu Sina, Kitab Siyasah li- IIbnu Sina, Kairo: Dar al-‘Arab, 1900.
Ibnu Rusyd, al-Dharuri fi al-Siyasah: Mukhtashar Kitab Siyasah Li Aflatun, terj. ke bahasa Arab: Ahmad Sahlan, taqdim wa Shuruh: Muhammad Abid al-Jabiri, Beyrut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyyah, 1998.
Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, pentahqiq: Hamid Ahmad al-Thahir, Kairo: Dar al-Fajri li al-Turath, 2004.
Imam Syafi’i, Ar-Risalah, syarkh wa ta’liq: Abdul Fatah Kabbarah, Beyrut Libanon: Dar al-Nafais, 1999.
al-Jabiri, Muhammad Abid, al-Aql al-Siyasi al-‘Arabi: Muhaddadatuh wa Tajliyatuh, cet-ke 2, Beyrut: al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, 1991.
-----------, “Jadid fi al-Fikr al-Siyasi bi al-Turats al-Arabi, dalam Ibnu Rusyd, al-Dharuri fi al-Siyasah: Mukhtashar Kitab Siyasah Li Aflatun, terj. ke bahasa Arab: Ahmad Sahlan, taqdim wa Shuruh: Muhammad Abid al-Jabiri, Beyrut: Markaz Dirasat al-Wahdah al-‘Arabiyyah, 1998.
-----------, Tragedi Intelektual: Perselingkuhan Politik dan Agama, terj. Zamzam Afandi Abdillah, Yogyakarta: Pustaka Alief, 2003.
Kuntowijoyo, Metodologi Sejarah, edisi ke-2, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2003. 
Al-Mawardi, Al-Ahkam al-Sulthaniyah, (penerbit dan tahun akan dicek kemudian) 
An-Nabhani, Taqiyuddin, Nidham al-Islam, cet. 5, Min Mansyurat, TT, dan Tt. 
-----------, Mengenal Hizbut Tahrir: Partai Politik Islam Ideologis, Bogor:Thoriqatul Izzah,2002.
Nadhif, Ahmad “Khilafah: Konsep dam Road Map (Membedah Mimpi Intelektual Hisbut Tahrir)”, (makalah diskusi dosen STAIN Ponorogo) 
Razik, Ali Abdur, al-Islam wa Ushul al-Hukmi, al-Khlafah wa al-Hukumah fi al-Islam, cet.3, Kairo: Syirkah Mahimah, 1925. 
Syahrur, Muhammad, Tirani Islam: Geneologi Masyarakat Dan Negara,  terj. Syaifuddin Zuhri al-Qudsi, dan Badrus Samsul Fata, Yoyakarta: LKiS, 2003.
Syaltut, Mahmud, al-Islam Aqidah wa Syari’ah, Beyrut: Darul Fikr, 1996.
Sawiy, Khayruddin Yusaj, Perebutan Kekuasaan Khalifah: Menyingkapp Dinamika Dan Sejarah Politik Kaum Sunni, terj. Asmuni dan Imam Muttaqiem, Yogyakarta: Safii Insania Press, 2005.
Thaha, Mahmud Muhammad, “al-Risalah al-Thaniyah min al-Islam”, dalam (Nahwa Masyru’ Mustaqbalay li al-Islam: Thalathah min al-A’mal al-Asasiyyah li al-Mufakkiri al-Syahid), cet. ke-2, Beyrut, Linanon: Markaz Thaqafi al-‘Arabi, dan Kuwait: Dar al-Qirthas, 2007.
Islambuli, Samir, Zahiratu al-Nas al-Qur’ani: Tarikh wa Ma’asiruhu, Suriah Damaskus: al-Awa’il, 2002.
Wahid, Abdurrahman, “pribumisasi Islam” dalam Muntaha Azhari, dan Abdul Mun’im Saleh (editor), Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Jakarta: P3M, 1989.
-----------, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudyaan, Jakarta: Desantara, 2001.
-----------, Islamku, Islam Anda, Islam Kita: Agama, Masyarakat, Negara, Demokrasi, Jakarta: the Wahid Institute, 2006.
----------, Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan, Jakarta: the Wahid Institute, 2007.
-----------, Abdurrahman, (editor), Ilusi Negara Islam: Ekspresi Gerakan Islam Transnasional Di Indonesia, Jakarta: the Wahid Institute, gerakan bhinnika Tunggal Ika, dan Ma’arif, 2009.
Wijaya, Aksin, Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an: Memburu Pesan Tuhan Di Balik Fenomena Budaya, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
------------, Teori Interpretasi al-Qur’an Ibnu Rusyd: Kritik Ideologis-Hermeneutis, Yogyakarta: LKiS, 2009.
------------, Hidup Beragama Dalam Sorotan Piagam Madinah dan UUD 1945, Ponorogo: STAIN Press, 2009.
--------, Menusantarakan Islam: Menelusuri Jejak Perguulan Islam yang tak Kunjung Usai di Nusantara, Yogyakarta: Nadi Pustaka, 2011.
Yunis, Muhammed, Politik Pengkafiran dan Petaka Kaum Beriman: Sejarah-Politik-HAM, terj. Dahyal Afkar, Yogyakarta: Pilar Media, 2006.

Dikutip verbatim dari http://digilib.uinsby.ac.id/8410/1/Buku%202%20Fix_116.pdf

Ngaji bareng Ustadz Jarkoni (Iso Ngajar Ora Iso Nglakoni)




Jamaah ( J ) : "Tanya, ustadz, hukumnya menikah dengan teman sekantor itu bagaimana...?"
Ustadz ( U ) : "Islam memang membolehkan nikah lebih dari 1, tapi yo ora njur sekantor mbok rabi kabeh, opo kowe ora bingung yen golek jamune...?"

J : "Lha kalau nikah sama anak yang masih kuliah pripun, stadz...?" 
U : "Boleh, tapi kalo bisa...nikahnya pas sudah pulang kuliah wae, jangan pas di kampus lagi kuliah, ben gak ngganggu dosen karo mahasiswa liyane..."

J : "Sekarang kalo muni adzan banter-banter boleh nggak ya, ustadz...??" 
U : "Gak cuman saiki, wiwit biyen gak oleh muni banter banter... adzan ki yo takbir, munine "Allahu Akbar" x4 lan sak teruse, ora gembar-gembor muni "banter banter"... ditapuki wong sak kampung kowe mengko..."

J : "Terus hukume ndongakne wong mati pripun, stadz?"
U : "Jelas ora oleh... Sing bener ki ndongakne wong dowo umure, lancar rizkine seger kewarasan utowo tetep iman lan taqwa ne... Ojo malah di dongakke mati... lek ngerti wonge di tapuki kowe... Lha kae kang Paimin, kono neng ngarepane ndang dongakke mati... Nek ora di pisuhi mengko...!!!" 

J : "Hukume salaman bar sholat pripun, ustadz??"
U :"Yo ora popo, wong bar sholat... Bar sholat ki arep mangan, ngombe, yo oleh, sing gak oleh bar sholat terus ijol sandal... koyo kelakuanmu nek jum'atan..." 

J : "Lha nek sholat sarungan pripun, stadz???"
U : "Batal...lha wong sholat kok sarungan... sing bener ki sarungan dhisik banjur sholat...mulane iku, kowe nek sarungan sing kenceng, ben gak mlorot pas sholat disabuki, opo taleni rafia...!!! ojo koyo cah TK...!!!" 

J : "Aku takon kok sirahku malah tambah ngelu, ustadz?"
U : "Lah sopo sing ngongkon awakmu takon ?"

Doa Dibaca Ketika Sore Hari





​اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ أَصْبَحْنَا،وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوتُ، وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ​


Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepada-Mu tempat kembali (bagi semua makhluk).”​

قصيدة الشّيخ محمّد بن أبّ المزمّريّ







قصيدة الشّيخ محمّد بن أبّ المزمّريّ (1160 هـ)  دفين تيميمون ،ادرار . في مدح الرّسول صلّى الله عليه وسلّم، والتي أعجازها من ألفيّة ابن مالك.

صلاة ربّي لم تزل متّصلة  --  على الذي استقرّ أنّه صلة
نبيّنا الذي فخاره أتى  --  في النّظم والنّثر الصّحيح مثبتا
صاح التزِم صلاته التزاما  --  ومُطلقًا كمّل بها الكلاما
فمن بها مسيًا وبكرةً غدا  --  يختصّ فالرّفع التزمه أبدا
لله ما أجلّها من فائده  --  فالله برٌّ والأيادي شاهده
وكن أخي ممّن بها حبًّا نطق  --  واخصص بودٍّ وثناءٍ من صدق
فسوف يظهر بلا ريبٍ غدا  --  ما ناطقٌ أراده معتمدا
وإن تحاول فيه تنظيم المدح  --  فما أبيح افعل ودع ما لم يُبح
إذ لا تطيب مدحةٌ إلّا إذا  --  لم يكُ قولٌ معها قد نُبذا
وكن مجيدًا لا عُدمت الرّشدا  --  لها على الحدّ الذي قد حُدّا
وللذي ليس يجيد لزما  --  منع تصرّفٍ بحكم حُتما
فليجتهد من لفظه لها شمل  --  في الحكم والشّروط حيثما عمل
لكنّ هذا النّظم خلت قائله  --  قلّ ومن يمنعه فانصر عاذله
محمّدٌ ليس يدانيه أحد  --  معنًى وأوّل موهمًا إذا ورد
قد حاز نفسًا برّةً مكتملة  --  على ضميرٍ لائقٍ مشتملة
إلى حياءٍ ووقارٍ وعمل  --  برٌّ يزين وليُقس ما لم يُقل
وفي نعوته إذا ما أخذا  --  لم يلق ذو نطقٍ للبسٍ منفذا
إذ ما نرى وحقّ ربٍّ قاهر  --  كطاهر القلب الجميل الظّاهر
ولا بدا فيما مضى ولا سُمع  --  معنًى كمحمود المقاصد الورع
لذاك لا تجده إذا وُصف  --  مماثلًا لما عليه قد عُطف
كم مخبرٍ ببعثه وقد صدق  --  بوسمه أو وسم ما به اعتلق
وأنّه خاتم رسل الله لا  --  يكون إلّا غاية الذي تلا
وكم روينا أنّه قد أخبرا  --  عن الذي خبره قد أضمرا
عن علماءِ جلّةٍ عرف ما  --  كان أصحّ علم من تقدّما
وبعضهم أسراه بالجسم وقد  --  أبوا ولا أمنَعُهُ فقد ورد
ذاك خصوصيّة ربٍّ مقتدر  --  فلا تقس على الذي منه أُثر
ولا تقس به امرءًا فيما أخذ  --  وعن سبيل القصد من قاس انتبذ
وحقِّ من أعاذه من الأذى  --  لقد سما على العدا مستحوذا
ما زال يدعونا إلى سُبْل الهدى  --  وما لنا إلّا اتّباع أحمدا
طوبى لمن ثوب رشاده اكتسى  --  فهو به في كلّ حكمٍ ذو ائتسا
لله ما تسمع أو ما تبصرُ  --  ممّا به عنه مبينًا يخبرُ
ترى الوفود تنتحيه عجلا  --  لِلَمح ما قد كان عنه نُقلا
يرجون من كرمه نجح الوطر  --  ناوين معنى كائنٍ أو استقرّ
إن جئته مستنجحًا لما تسل  --  من صلةٍ او غيرها نلت الأمل
فاقصده مهما شئت ملء الطّرف  --  فذاك ذو تصرّفٍ في العرف
بل عرفه قد جاء ذا تعدّد  --  لمفردٍ فاعلم وغير مفرد
واعلق به تُرفع فمن قد علقا  --  بالرّافع النّصبُ له محقّقا
ومن إذا كربٌ شديدٌ دهما  --  جا مستغاثًا قد يُعَرّى فاعلما
هفت قلوبٌ نحوه فمسرعا  --  ذا راحلٌ ومخلصًا زيدٌ دعا
لا تبأسن إن غبت عنه فصلًا  --  فقد يُبيح الغيب فيه وصلا
فأعمل الجدّ ففي الصّبح المضي  --  وغيره إعماله قد ارتضي
وأتبعنّ اليوم بالغد فمن  --  راع في الاتْبَاع المحلّ فحسن
واجعل همامك وجئت مربعه  --  لشبه نفيٍ أو لنفيٍ متبعه
وأقم العمر به فمن لحق  --  به فالانصراف منعه يحقّ
واقرر به عينًا وخلّ من عذل  --  وجدّ كلّ الجدّ وافرح الجذل
فأيّ حالٍ للمحبّ يحمل  --  كحاله إذا به يتّصل
هاك رسولَ الله منّي جمله  --  حاويةً معنى الذي سيقت له
ملت بها إليك فيمن مالا  --  كأنّك ابتهاجك استمالا
قدّمتها أرجو بها نيل القرى  --  وجوّزوا التّقديم إذ لا ضررا
وما بها من أشطرٍ منصرفه  --  حقيقة القصد بها منكشفه
وهي لكونها غريبة الصّفه  --  تلزم بالرّفع لدى ذي المعرفة
بل لا تفي وإن بدت محرّره  --  مفردةً جاءتك أو مكرّره
بعشر عشر العشر من ذي الشّان  --  فذكر ذا وحذفه سيان
من ذا بمثل ما حويت يتّصف  --  فيستحقّ العمل الذي وُصف
يا خير من يقول للعافين من  --  يصل إلينا يسعن بنا يُعن
حسبي أن أغشى دراك والمحلّ  --  بالفعل إن لم يك مانعٌ حصل
فلا أرى بؤسًا ولا أرى ضرر  --  ولا أرى منعًا إذا القصد ظهر

Ini Teks Bacaan Qunut Nazilah KH Mahrus Aly Lirboyo





Berikut ini adalah teks bacaan Qunut Nazilah yang lazim dibaca oleh KH Mahrus Aly Lirboyo Kediri Jatim.


اللهم اغفر لنا وللمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات والف بين قلوبهم واصلح ذات بينهم وانصرهم علي عدوهم. اللهم عذب الكفرة الذين يصدون عن سبيلك ويكذبون رسلك، ويقاتلون اولياءك. اللهم خالف بين كلمتهم وزلزل اقدامهم وانزل بهم بأسك الذي لا ترده عن القوم المجرمين.

Ya Allah ampunilah kami, orang-orang mukmin dan orang-orang muslim. Lembutkanlah kati mereka, tenteramkanlah hati mereka, tolonglah mereka atas musuh-Mu dan musuh mereka.

Ya Allah azablah mereka orang-orang kafir yang melawan jalanmu, mendustai utusan-utusan-Mu, yang memerangi kekasih-kekasihMu.

Ya Allah, kacaukanlah mereka, goncangkan pijakam-pijakan mereka, turunkanlah siksa-Mu, yang tak pernah tertolak atas kaum yang durhaka.

Teks ini biasa dibaca oleh KH. Mahrus Ali Lirboyo ketika membaca Qunut Nazilah.

Sepuluh Hadits Keutamaan Menggosok Gigi




Berikut ini adalah koleksi sepuluh hadits sahih yang mengutarakan keutamaan menggosok gigi:


1.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Dua raka`at dengan siwak itu lebih baik daripada tujuh puluh raka`t tanpa dengan siwak”. (HR: Daruquthni dari Umi Darda` dengan sanad hasa)


2.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Bersiwaklah kalian, karena sesungguhnya siwak itu mensucikan mulut dan menjadikan ridha Allah”. (HR: Ibnu Majah)


3.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Enam hal merupakan sunnah para Rasul: malu, bijaksana, bekam, siwak, memakai minyak wangi, banyak istri.”


4.      Nabi Muhammad SAW : “Nabi Muhammad SAW bersabda : “Tiga hal wajib (sangat dianjurkan red.) atas setiap muslim : mandi hari jum`at, siwak, menyentuh wewangian”.


5.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Harumkanlah mulut kalian dengan siwak karena sesungguhnya siwak jalanya Al-Qur`an.”


6.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Semoga Allah merahmati umatku yang menyela-nyela rambut dan makanan”. (HR: Qadhai dari Abu Ayub Al-Anshari ra. Dan hadits ini hasan)


7.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Janganlah kalian menyela-nyela gigi dengan kayu as , phpn bunga dan bambu karena bisa menyebabkab gigi rontok.”


8.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Satu shalat dengan siwak itu lebih baik daripada tujuh puluh shalat tanpa siwak”. (HR: Baihaqi dan lainnya, Hakim menshahihkannya)


9.      Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jibril selalu mewasiatiku bersiwak sehingga aku khawatir gigi-gigiku rontok”.


10.  Nabi Muhammad SAW bersabda : “Aku diperintahkan bersiwak sehingga aku takut gigi-gigiku rontok”. (HR: Thabarani dari Ibnu Abbas )

Lirik Qashidah Fadhailul Quran KH Ahsin Sakho Muhammad






Berikut ini adalah qashidah Fadhailul Quran. Qasidah ini ditulis oleh Prof. Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad.

 Sholâtullâhi wa salâm ‘alâ man ûhiyal Qur-ãn (2x)  * Wa ahli baitihil kirôm wa shohbihi dzawîl qur-ãn (2x)

Dengarkanlah kata Nabi * Perintahnya kita turuti

Sebaik-baik seorang abdi * Belajar mengajar Kitab Suci

Jika Anda akan membaca * Ayat Quran kapan saja

Baca taawudz terlebih dulu * Jangan biarkan itu berlalu

Bacalah selalu bismilla * Jika dari awal surah

Selain surah Baroah * Karena tak ada sunnah

Bacalah Quran dengan tartil * Bacanya pelan sambil memikir

Akan datang Malaikat Jibril * Membawa rahmat bagi pedzikir

Jika ada yang baca Quran * Marilah sama mendengarkan

Jika kita sama membaca * Janganlah kita saling mencerca

Orang mahir baca al-Quran * Sama Malaikatur Rahman

Orang sulit baca al-Qur’an * Akan dapat dua ganjaran

Siapa senang membaca Qur’an * Pastilah dia dapat ganjaran

Siapa senang bersimaan * Dapat rahmat dari Yang Rahman

Barangsiapa yang hapal Quran * Nila-nilainya diamalkan

Orangtuanya disematkan * Mahkota intan yang berkilauan

Jika selesai mengaji * Tutuplah mushaf yang suci

Benarkanlah Sang Ilahi * Tanda cinta yang abadi

Itulah syair tentang al-Quran * Kitab Suci kita muliakan

Meminta Allah Yang Maha Rahman * Dapat syafaatnya al-Quran


Hukum Bersalaman Setelah Salat adalah Sunnah. Ini Hadisnya





Hadits Pertama:

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتصََافَحَانِ إِلَّا غُعِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَعْترَِقَا

Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda, ‘Dua orang muslim yang bertemu, lalu bersalaman, maka Allah mengampuni mereka berdua sebelum mereka berpisah ”.

(HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi).


Hadits Kedua dan Ketiga:
باب المصافحة - - 440
748 / 967 )
صحيح الإسناد موقوف ا(ً عن أنس بن مالك قال: لما جاء أهل اليمن، قال النبي صلى الله عليه وسلم : قد أقبل أهل
اليمن، وهم أرق قلوبا منكم". فهم أول من جاء بالمصافحة.

749 / 968 )
صحيح الإسناد موقوفا(ً عن البراء بن عازب قال: "من تمام التحية أن تصافح أخاك".

391- Bab: Bersalaman.

967/748 (sanadnya shahih, hadits Mauquf). Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Ketika orang-orang Yaman datang, Rasulullah Saw berkata, ‘Orang Yaman telah datang, mereka adalah orang-orang yang lebih lembut hatinya daripada kalian. Mereka adalah orang pertama yang bersalaman”.

968/749 (sanadnya shahih, hadits Mauquf). Dari al-Barra’ bin ‘Azib, ia berkata, “ Diantara kesempurnaan penghormatan adalah engkau bersalaman dengan saudaramu”.

Disebutkan Imam al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad. Dinyatakan Syekh al-Albani sebagai hadit shahih dalam Shahih Adab al-Mufrad.


Hadits Keempat:

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ قُلْتُ لِأنََسٍ أكََانَتْ الْمُصَافَحَةُ فِي أَصْحَابِ النَّبِ ي صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نَعَمْ


Dari Qatadah, ia berkata, “Saya bertanya kepada Anas bin Malik, ‘ Apakah para shahabat nabi Muhammad Saw bersalaman?”. Anas bin Malik menjawab, “Ya”. (HR. al-Bukhari).


Keempat hadits di atas jelas menyatakan bahwa bersalaman adalah perbuatan yang baik, bahkan dianjurkan Rasulullah Saw. Hadits-hadits diatas tidak menyebutkan waktu bersalaman, mengandung makna umum, apakah ketika datang dari perjalanan atau pun ketika kembali dari suatu perjalanan. Sebelum shalat atau pun setelah shalat. Tidak boleh mengkhususkan sesuatu tanpa ada dalil yang mengkhususkan. Maka hadits-hadits ini bersifat umum, mengandung makna boleh bersalaman kapan saja. Jika ada yang melarang bersalaman setelah shalat. Tidak ada hadits yang melarang. Yang ada justru hadits Sahih dari Imam Bukhari menyebutkan Rasulullah Saw bersalaman setelah shalat: 




عَنْ الْحَكَمِ قَالَ سَمِع تُ أَبَا جُحَيْعَةَ قَالَ خَرَ رَسُولُ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتوََضَّ أ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَرَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أبَِي جُحَيْعَةَ قَال كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُاوا يَأْخُاذُونَ يَدَيْاهِ فَيَمْسَاحُونَ بِهَاا وُجُاوهَهُمْ قَاالَ فَأخََاذْتُ بِيَادِهِ فَوَضَاعْتُهَا عَلَاى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِ

Dari al-Hakam, ia berkata, “Saya mendengar Abu Juhaifah berkata, ‘Rasulullah Saw keluar pada saat panas terik ke al-Bath-ha’ (antara Mekah dan Mina). Lalu Rasulullah Saw berwudhu’, kemudian shalat Zhuhur dua rakaat dan shalat ‘Ashar dua rakaat, di hadapannya ada tongkat pendek”. ‘Aun menambahkan, dari Abu Juhfah Bapaknya, ia berkata, ‘Perempuan lewat di belakang tongkat pendek itu’.

Lalu orang banyak pun berdiri, mereka menarik kedua tangan Rasulullah Saw, lalu mereka mengusapkannya ke wajah mereka. Lalu saya pun menarik tangan Rasulullah Saw, lalu saya letakkan di wajah saya, lebih sejuk daripada salju dan lebi wangi daripada semerbak kasturi”. (HR. al-Bukhari).

Andai bersalaman setelah shalat itu dilarang, tentulah Rasulullah Saw melarang mereka.


Pendapat Ulama
Pendapat Syekh Abdul Aziz bin Baz:



56 حكم المصافحة بعد الصلاة المعروضة -
س: بعض المصلين وبعد أداء تحية المسجد يلتعت ويصافح من على يمينه ومن على شماله، فما حكم ذلك؟ وهل هي سنة؟ جزاكم الله خيرا.

: بسم الله والحمد لله . . السنة أن يصافح من عن يمينه وعن شماله إذا فرغ من صلاته، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا التقى بصحابته صافحهم، وكان الصحابة رضوان الله عليهم إذا التقوا تصافحوا، فإذا جاء المصلي إلى المسجد ووصل إلى الصف فليسلم قبل الصلاة، ثم بعد الصلاة يصافح من على يمينه وشماله إذا كان لم يصافحهم قبل الصلاة لما في ذلك من التأسي بالنبي


56- Hukum Bersalaman Setelah Shalat Wajib.

Pertanyaan: 
Ada sebagian orang yang shalat, setelah menunaikan shalat Tahyatal-masjid, ia menoleh ke kanan lalu bersalaman kepada orang yang ada di sebelah kanannya, ia menoleh ke kiri dan bersalaman dengan orang yang berada di sebelah kirinya, apa hukumnya? Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda.
Jawaban: 
Bismillah, walhamdulillah. Sunnah hukumnya bersalaman dengan orang yang berada di sebelah kanan dan kiri setelah selesai shalat. Rasulullah SAW ketika bertemu dengan para shahabatnya, ia bersalaman dengan mereka. Ketika para shahabat bertemu, mereka juga bersalaman. Apabila orang yang shalat datang ke masjid, ia sampai di dalam shaf, ma ka hendaklah ia mengucapkan salam sebelum shalat. Setelah shalat, ia bersalaman dengan orang yang berada di sebelah kanan dan kirinya jika ia belum bersalaman dengan mereka sebelum shalat karena itu mengikuti perbuatan Rasulullah Saw. (Syekh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa Ibn Baz, Juz.XXX, hal.68.)



Pendapat Imam an-Nawawi 

ان صافح من كان معه قبل الصلاة فمباحة كما ذكرنا وان صافح من لم يكن معه قبل الصلاة عند اللقاء فسنة بالاجماع للاحاديث الصحيحة في ذلك

Jika ia sudah bersalaman sebelum shalat, )kemudian ia ulang lagi setelah shalat(, maka itu mubah (boleh), sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Jika ia bersalaman dengan seseorang setelah shalat, orang tersebut belum bersalaman dengannya saat bertemu sebelum shalat, maka bersalaman itu sunnah menurut ijma’ berdasarkan hadits-hadits shahih tentang itu.
وأصل المصافحة سنة وكونهم حافظوا عليها في بعض الأحوال لا يخر ذلك عن أصل السنة

Asal bersalaman itu sunnah. Bahwa ada orang-orang yang bersalaman pada waktu-waktu tertentu (misalnya setelah selesai shalat), maka itu tidak mengeluarkannya dari asal Sunnah (Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, juz.XI (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1379H), hal.55.)


Pendapat Imam ath-Thahawi:

المصافحة فهي سنة عقب الصلاة كلها وعند كل لقي

Bersalaman itu sunnah dilakukan setelah selesai semua shalat dan di setiap pertemuan (Imam Ahmad bin Muhammad bin Ismail ath-Thahawi, Hasyiyah ‘ala Maraqi al-Falah Syarh Nur al-Idhah, (Mesir: al-Mathba’ah al-Kubra al-Amiriyyah, 1318H), hal.345.)




Dikutip dari Abdul Shomad, Lc, MA. 37 Masalah Populer.

Anjuran dan Perintah Talqin Kepada Jenazah





Talqin Mayat Ketika Sakaratul-Maut


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “ Talqinkanlah orang yang sakaratul-maut diantara kamu dengan ucapan La ilaha illallah”. (HR. Muslim).



Komentar Imam Nawawi:

معناه من حضره الموت والمراد ذكروه لا إله إلا الله لتكون آخر كالمه كما في الحديث من كان آخر كالمه لا إله إلا الله دخل الجنة والأمر بهذا التلقين أمر ندب وأجمع العلماء على هذا التلقين وكرهوا االكثار عليه والمواالة لئال يضجر بضيق حاله وشدة كربه فيكره ذلك بقلبه ويتكلم بما ال يليق قالوا وإذا قاله مرة ال يكرر عليه إال أن يتكلم بعده بكالم آخر فيعاد التعريض به ليكون آخر كالمه ويتضمن الحديث الحضور عند المحتضر لتذكيره وتأنيسه واغماض عينيه والقيام بحقوقه وهذا مجما عليه


Maknanya, siapa yang sedang mengalami sakratul-maut, maka ingatkanlah ia dengan ucapan ‘ لاإله إلا الله ‘ agar kalimat terakhirnya adalah ‘ لا إله إلا الله ‘ sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, “Siapa yang akhir kalamnya adalah: ‘ لا إله إلا الله ‘, maka ia masuk surga”. Perintah talqin ini adalah perintah anjuran. 


Para ulama telah Ijma’ tentang talqin ini. Para ulama memakruhkan memperbanyak talqin dan terus menerus tanpa henti agar orang yang sedang sakaratul-mau itu tidak kacau karena kondisinya yang sedang sulit dan berat hingga menyebabkan tidak suka dalam hatinya dan ia mengatakan kata-kata yang tidak layak.

Menurut para ulama, jika orang yang sakaratul-maut itu telah mengucapkan ‘ لا إله إلا الله ‘ satu kali, maka tidak perlu lagi mengulangi talqin. Kecuali jika setelah mengucapkan itu ia mengucapkan kata-kata lain, maka talqin diulang lagi agar akhir kalamnya adalah ‘ لا إله إلا الله ‘. Hadits ini juga mengandung makna anjuran agar hadir di tempat orang yang sedang menjalani sakaratul-mau untuk mengingatkannya, berbuat baik kepadanya, menutupkan kedua matanya dan melaksanakan hak-haknya. Semua perkara ini disepakati para ulama berdasarkan Ijma’165.

Ulama ikhtilaf tentang talqin mayat setelah dikuburkan. Berikut ini pendapat para ulama:

Dalil-Dalil Talqin Mayat Setelah Dikubur.

الطَّبَرَانِيُّ عَنْ أبَي أُمَامَةَ : } إذَا أَنَا مِتُّ فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَليْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصْنَاَ بِمَوْتاَنَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتمُ الترُّابَ عَلَى قَبْرِهِ ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ ، ثُمَّ لْيَقُلْ : يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانَةَ ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلَا يُجِيبُ ، ثُمَّ يَقُولُ : يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانَةَ ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِ ي قَاعِدًا ثُمَّ يَقُولُ : يَا فُلَانُ بْنُ فُلَانَةَ ؛ فَإِنَّه يَقُولُ : أرَشِدْنَا يَرْحَمْكَ اللَّه وَلَكِنْ لَا تشَعُرُونَ . فَلْيَقُلْ : اُذْكُرْ مَا خَرَجْت عَلَيْهِ مِنْ الدُّنْيَا : شَهَادَةَ أنَْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّه وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُه وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّك رَضِيت بِالَلِّه رَبًّا ، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا ، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا ، وَبِالْقُرْآنِ إمَامًا ف إِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ


Riwayat Imam ath-Thabrani dari Abu Umamah, ia berkata : “Apabila aku mati, maka lakukanlah terhadapku sebagaimana Rasulullah Saw memerintahkan kami melakukannya terhadap orang yang mati diantara kami. Rasulullah Saw memerintahkan kami seraya berkata: “Apabila salah seorang saudara kamu mati, lalu kamu ratakan tanah kuburannya, hendaklah seseorang berdiri di sisi kepala kuburnya seraya mengucapkan: “Wahai fulan bin fulanah”. Sesungguhnya ia mendengarnya, akan tetapi ia tidak menjawab. Kemudian katakana: “Wahai fulan bin fulanah”. Maka ia pun duduk. 

Kemudian orang yang membaca talqin itu mengatakan: “Wahai fulan bin fulanah”. Maka ia menjawab: “Bimbinglah kami, semoga Allah merahmatimu”. Akan tetapi kamu tidak dapat merasakannya. Hendaklah orang yang membacakan talqin itu mengucapkan: “Ingatlah apa yang engkau bawa ketika keluar dari dunia, syahadat kesaksian tiada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan rasul Allah. Sesungguhnya engkau ridha Allah sebagai Tuhan. Islam sebagai agama. Muhammad sebagai nabi. Qur’an sebagai imam”. Maka malaikat Munkar dan Nakir saling menarik tangan satu sama lain seraya berkata: “Marilah kita pergi. Untuk apa kita duduk di sisi orang yang jawabannya telah diajarkan”. Seorang laki laki bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika tidak diketahui nama ibunya ?”. Rasulullah Saw menjawab: “Dinisbatkan kepada Hawa. Wahai fulan anak Hawa”.

Komentar Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
 َوِإسْنادُهُ صَالِحٌ . َوَقْد َقَواهُ الضِياءُ ِفي َأحْكَامِه

“Sanadnya shalih (baik). Dikuatkan Imam Dhiya’uddin dalam kitab Ahkam-nya”. Al-Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan beberapa riwayat lain yang semakna dengan hadits ini dalam kitab Talkhish al-Habir.

Riwayat Pertama:           

مَا رَوَاهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مِنْ طَرِيقِ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ ، وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ ، وَغَيْرِهِمَا قَالُوا : } إذ ا سُ وِيَ عَلَى الْمَي تِ قَبْرُهُ وَانْصَرَفَ النَّاسُ عَنْهُ ، كَانُوا يَسْتحَبُّونَ أَنْ يُقَالَ لِلْمَيتِ عِنْدَ قَبْرِهِ : يَا فُلَانُ قُلْ : لَا إلَهَ إلَّا اللّه ، قُلْ : أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّه ،ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، قُلْ : رَب ي اللَّه ، وَدِينِي الْإِسْلَامُ ، وَنَبِ ي مُحَمَّدٌ . ثُمَّ يَنْصَرِفُ { .

Diriwayatkan Sa’id bin Manshur, dari jalur Rasyid bin Sa’d, Dhamrah bin Habib dan lainnya, mereka berkata: “Apabila kubur mayat telah diratakan, orang banyak telah beranjak, mereka menganjurkan agar dikatakan kepada mayat di sisi kuburnya: “Wahai fulan, katakanlah tiada

tuhan selain Allah. Katakanlah: aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Tiga kali. Katakanlah: Tuhanku Allah. Agamaku Islam. Nabiku Muhammad” . Kemudian beranjak.

Riwayat Kedua:
َوَرَوى الطَبَرانِيُ ِمْن حَدِيثِ ْالحَكَمِ ْبِن ْالحَارِثِ السُلِميَِأَنُه َقالَ َلُهْم : { إذَا دَفَنُتُمونِي َوَرشَشْتُم عَلَى َقْبِري ْالَماءَ ، َفُقومُوا عَلَى َقْبِري َواسَْتْقِبُلوا ْالِقْبَلَة َوادْعُوا ِلي . }

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari hadits al-Hakam bin al-Harits as-Sulami, ia berkata kepada mereka: “Apabila kamu telah menguburku dan kamu telah menyiramkan air di atas kuburku, maka berdirilah kamu di sisi kuburku, menghadaplah ke arah kiblat, dan berdoalah untukku”.

Riwayat Ketiga:
وَرَوَى ابْنُ مَاجَهْ مِنْ طَرِيقِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَي بِ ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ فِي حَدِيثٍ سِيقَ بَعْضُهُ ، وَفِيهِ : } فَ لَمَّا سَوَّى اللَّبِنَ عَلَيْهَا ، قَامَ إلَى جَانِبِ الْقَبْرِ ، ثُمَّ قَالَ : اللَّهُمَّ جَافِ الْأرَْضَ عَنْ جَنْبَيْهَا ، وَصَعِ دْ رُوحَهَا ، وَلَقِ هَا مِنْك رِضْوَانًا { .
Diriwayatkan Ibnu Majah dari jalur riwayat Sa’id bin al-Musayyib, dari Ibnu Umar dalam hadits, diantara isinya: “Apabila salah seorang kamu telah meratakan labin (batu dari tanah liat dijemur) di atas kubur, maka ia berdiri di sisi kubur, kemudian berkata: “Ya Allah, keringkanlah tanah di

kedua sisinya, naikkanlah ruhnya, berikanlah ridha kepadanya dari sisi -Mu”.

Riwayat Keempat:
وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ أَنَّهُ قَالَ لَهُمْ فِي حَدِيثٍ عِنْدَ مَوْتِهِ : " إذَا دَفَنْتُمُونِي أَقِيمُوا حَوْلَ قَبْرِي قَدْرَ مَا يُنْحَرُجَزُورٍ وَيُقَسَّمُ لَحْمُهَا حَتَّى أَسْتأَْنِسَ بِكُمْ ، وَأَعْلَمَ مَاذَا أرَُاجِاُ رُسُلَ رَب ي " .
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, bahwa sahabat nabi bernama ‘Amr bin al-‘Ash berkata kepada keluarganya: “Apabila kamu mengubur aku, maka tegaklah setelah itu di sekitar kuburku sekira -kira selama orang menyembelih hewan sembelihan dan membagi-bagi dagingnya, hingga aku merasa tenang dengan kamu dan aku dapat melihat apa yang ditanyakan malaikat utusan Tuhanku”. (Hadits riwayat Imam Muslim).

Riwayat Kelima:
حَدِيثُ : } أَنَّهُ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَي تِ وَقَفَ عَلَيْهِ ، وَقَالَ : اسْ تغَْعِرُوا لِأخَِيكُمْ وَاسْألَُوا لَهُ التثَّْبِيتَ ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْألَُ { . أَبُو دَاوُد ، وَالْحَاكِمُ وَالْبَزَّارُ عَنْ عُثْمَانَ

Hadits: sesungguhnya Rasulullah Saw, apabila telah selesai mengubur jenazah, beliau berdiri di sisi makam seraya berkata: “Mohonkanlah ampunan untuk saudara kamu, mohonkanlah agar ia diberi ketetapan, karena ia sekarang sedang ditanya”. (Hadits riwayat Abu Daud, al-Hakim dan Al-Bazzar dari ‘Utsman)166.

Hadits Lain:

حديث: « لقنوا موتاكم ال إله إال الله  .»قال المحب الطبري وابن الهمام والشوكاني وغيرهم لعظ موتاكم نص في األموات وتناوله للحاي المحتضار مجااز فاال يصاار إليه إال بقرينة وحيث ال توجد قرينة تصرفه عن حقيقته إلى مجازه فشموله لألموات أولى إن لم يقتصر عليهم فقط والله  أعلم.
Hadits: “Talqinkanlah orang yang mati diantara kamu dengan ucapan: La ilaha illallah”. (Hadits riwayat Muslim, Abu Daud dan an-Nasa’i).


Komentar Ulama Tentang Makna Kata موتاكم:

Imam al-Muhibb ath-Thabari, Ibnu al-Hammam, Imam asy-Syaukani dan lainnya berpendapat: Kata موتاكم adalah teks untuk orang yang sudah mati. موتااكم digunakan untuk orang yang masih hidup ketika sekarat sebagai bentuk Majaz, tidak digunakan untuk orang hidup kecuali dengan qarinah (indikasi), jika tidak ada qarinah yang mengalihkan maknanya dari makna sebenarnya kepada makna Majaz, maka lebih utama penggunaannya kepada makna untuk orang yang sudah mati, meskipun tidak terbatas hanya untuk orang yang sudah mati saja, wallahu a’lam.

Pendapat Ulama Ahli Hadits.

Imam Ibnu ash-Shalah:

وسئل الشيخ أبو عمرو بن الصالح رحمه الله  عنه فقال التلقين هو الذى نختاره ونعمل به قال وروينا فيه حديثا من حديث أبى امامة ليس إسناده بالقائم لكن اعتضد بشواهد وبعمل أهل الشام قديما

Syekh Abu ‘Amr bin ash-Shalah ditanya tentang talqin, ia menjawab: “Talqin yang kami pilih dan yang kami amalkan, telah diriwayatkan kepada kami satu hadits dari hadits Abu Umamah, sanadnya tidak tegak/tidak kuat. Akan tetapi didukung hadits -hadits lain yang semakna dengannya dan dengan amalan penduduk negeri Syam sejak zaman dahulu167.

Pendapat Ahli Hadits Syekh Abdullah bin Muhammad ash -Shiddiq al-Ghumari:

إن التلقين جرى عليه العمل قديما فى الشام زمن أحمد بن حنبل وقبله بكثير، وفى قرطبة ونواحيها حوالى المائة الخامسة فما بعدها إلى نكبة األندلس ، وذكر بعض العلماء من المالكية والشافعية والحنابلة الذين أجازوه ، وذكر أن حديث أبى أمامة ضعيف ، لكن الحافظ ابن حجر قال فى "التلخيص " إسناده صحيح ، إسناده صالح ألن له طرقا وشواهد

Sesungguhnya talqin telah dilaksanakan di negeri Syam sejak zaman Imam Ahmad bin Hanbal dan lama sebelumnya, juga di Cordova (Spanyol) dan sekitarnya kira-kira abad ke lima dan setelahnya hingga sekitar Andalusia. Syekh Abdullah al-Ghumari menyebutkan beberapa ulama dari kalangan Mazhab Maliki, Syafi’I dan Hanbali yang membolehkannya . Ia juga menyebutkan bahwa hadits riwayat Abu Umamah adalah hadits dha’if, akan tetapi al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Talkhish al-Habir: sanadnya shahih. Menurut Syekh Abdullah al-Ghumari sanadnya baik, karena memiliki beberapa jalur lain168.


Pendapat Ahli Fiqh.

Pendapat Ibnu al-‘Arabi:

قال ابن العربي في مسالكه إذا أدخل الميت قبره فإنه يستحب تلقينه في تلك السااعة وهاو فعال أهال المديناة والصاالحين مان األخيار ألنه مطابق لقوله تعالى ﴿ وذكر فإن الاذكرى تنعاا المايمنين و، وأحاو ماا يكاون العباد إلاى التاذكير بااهلل عناد سايال المالئكة.

Ibnu al-‘Arabi berkata dalam kitab al-Masalik : “Apabila mayat dimasukkan ke dalam kubur, dianjurkan agar di-talqin-kan pada saat itu. Ini adalah perbuatan penduduk Madinah dan orang-orang shaleh pilihan, karena sesuai dengan firman Allah Swt: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. adz-Dzariyat [51]: 55). Seorang hamba sangat butuh untuk diingatkan kepada Allah ketika ditanya malaikat169.



Pendapat Ibnu Taimiah:

هذا التلقين المذكور قد نقل عن طائعة من الصحابة : أنهم أمروا به كأبي أمامه الباهلي وغيره وروي فيه حديث عن النبي صلى الله  عليه و سلم لكنه مما ال يحكم بصحته ولم يكن كثير من الصحابة يععل ذلك فلهذا قال اإلمام أحمد وغيره من العلماء
               أن هذا التلقين ال بأس به فرخ صوا فيه ولم يأمروا به واستحبه طائعة من أصحاب الشافعي وأحمد وكره طائعة من العلماء من أصحاب مالك وغيرهم

Talqin yang disebutkan ini telah diriwayatkan dari sekelompok shahabat bahwa mereka memerintahkannya, seperti Abu Umamah al-Bahili dan lainnya , diriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw, akan tetapi tidak dapat dihukum shahih, tidak banyak shahabat yang melakukannya, oleh sebab itu Imam Ahmad dan ulama lainnya berkata, “Talqin ini boleh dilakukan, mereka memberikan rukhshah (dispensasi keringanan), mereka tidak merintahkannya. Dianjurkan oleh sekelompok ulama mazhab Syafi’i dah Hanbali, dimakruhkan sekelompok ulama dari kalangan mazhab Maliki dan lainnya 170.



Pendapat Imam an-Nawawi:

قال جماعات من أصحابنا يستحب تلقين الميت عقب دفنه فيجلس عند رأسه انسان ويقول يا فالن ابن فالن ويا عبد الله  ابن أمة الله  اذكر العهد الذى خرجت عليه من الدنيا شهادة أن ال اله وحده ال شريك له وأن محمدا عبده ورسوله وأن الجنة حق وأن النار حق وأن البعث حق وأن الساعة آتية الريب فيها وأن الله  يبعث من في القبور وأنك رضيت باهلل ربا وباالسالم دينا وبمحمد صلى الله  عليه وسلم نبيا وبالقرآن إماما وبالكعبة قبلة وبالميمنين إخوانا زاد الشيخ نصر ربي الله  ال إله اال هو عله توكلت وهو رب العرش العظيم فهذا التلقين عندهم مستحب ممن نص علي استحبابه القاضي حسين والمتولي والشيخ نصر المقدسي والرافعي وغيرهم

Para ulama mazhab Syafii menganjurkan talqin mayat setelah dikuburkan, ada seseorang yang duduk di sisi kubur bagian kepala dan berkata: “Wahai fulan bin fulan, wahai hamba Allah anak dari hamba Allah, ingatlah perjanjian yang engkau keluar dari dunia dengannya, kesaksian tiada tuhan selain Allah, hanya Dia saja, tiada sekutu baginya, sesungguhnya Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, sesungguhnya surga itu benar, sesungguhnya neraka itu benar, sesungguhnya hari berbangkit itu benar, sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, tiada keraguan baginya, sesungguhnya Allah membangkitkan orang yang di kubur, sesungguhnya engkau ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai nabi, al-Qur’an sebagai imam, Ka’bah sebagai kiblat, orang-orang beriman sebagai saudara” . Syekh Nashr menambahkan: “Tuhanku Allah, tiada tuhan selain Dia, kepada-Nya aku bertawakkal, Dialah emilik ‘Arsy yang agung”. Talqin ini dianjurkan menurut mereka, diantara yang menyebutkan secara nash bahwa talqin itu dianjurkan adalah al-Qadhi Husein, al-Mutawalli, Syekh Nashr al-Maqdisi, ar-Rafi’i dan selain mereka171.
  
يستحب أن يمكث على القبر بعد الدفن ساعة يدعو للميت ويستغعر له نص عليه الشافعي واتعق عليه االصحاب قالوا ويستحب أن يقرأ عنده شئ من القرآن وإن ختموا القرآن كان أفضل وقال جماعات من أصحابنا يستحب أن يلقن

Dianjurkan berdiam diri sejenak di sisi kubur setelah pemakaman, berdoa untuk mayat dan memohonkan ampunan untuknya, demikian disebutkan Imam Syafi’i secara nash, disepakati oleh para ulama mazhab Syafi’i, mereka berkata: dianjurkan membacakan beberapa bagian al-Qur’an, jika mengkhatamkan al-Qur’an, maka lebih afdhal. Sekelompok ulama mazhab Syafi’i berkata: dianjurkan supaya ditalqinkan172.


Catatan
165 Imam an-Nawawi, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, juz.VI (Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Araby, 1392H), hal.219.
166 Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Talkhish al-Habir, juz.II, hal.396-398.
167 Imam an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz.V, hal.304.
168 Majallah al-Islam, jilid.3, edisi.10.
169 Hawamisy Mawahib al-Jalil, juz.II, hal. 238.
170 Imam Ibnu Taimiah, Majmu’ Fatawa, juz.XXIV (Dar al-Wafa, 1426H), hal.296.
171 Imam an-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, juz.V, hal.304.
172 Ibid., hal.294.

173 Fatawa al-Azhar, juz.VIII, hal.303.


Dikutip dari Abdul Shomad, Lc, MA. 37 Masalah Populer.


Pendapat Syekh ‘Athiyyah Shaqar Mufti Al-Azhar:

أن هذا العمل ال يضر األحياء وال األموات ، بل ينتعا به األحياء تذكرة وعبرة، فال مانا منه .
Talqin tidak memudharatkan orang yang masih hidup dan orang yang sudah wafat, bahkan memberikan manfaat bagi orang yang masih hidup, peringatan dan pelajaran, maka tidak ada larangan membacakan Talqin untuk mayat173.


Bacaan Talqin yang dianjurkan.

Teks Bacaan Talqin banyak ragamnya. Berikut ini Teks Bacaan Talqin Berbahasa Indonesia:


بسمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. لآاله الاّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاشَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌ دَائِمٌ لاَيَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ. كُلِّ شَيئٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ. لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ المَوْتِ. وَاِنَّمَا تُوَفَّونَ اُجُورَكُمْ يَومَ الْقِيَامَةِ. فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّاسِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ. وَمَاالْحَيَوةُ الدُّنْيَا اِلاَّ مَتَاعُ الغُرُورِ. مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ, فِيْهَا نُعِيْدُكُمْ, وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً اُخْرَى. مِنْهَاخَلَقْنَاكُمْ لِلْأَجْرِ وَالثَّوابِ. وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ لِلدُّودِ والتُّرَابِ. وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ لَلْعَرْضِ وَالْحِسَابِ. بِسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَمِنَ اللَّهِ وَاِلَى اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. هَذَامَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ. اِنْ كَانَتْ اِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ.


Hai …………. bin/binti ……………,! 
Sekarang kamu sudah keluar dari dunia ini beserta kemewahannya, menuju ke alam akhirat, maka dari itu jangan lupa kamu perjanjian ketika kamu di dunia yaitu kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Alloh, dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Sekarang kamu berada di suatu tempat yang baru kamu kenal. Jika kamu nanti kedatangan dua Malaikat yang telah diserahi Alloh untuk bertanya kepadamu, maka janganlah kamu takut atau gemetar atau keder menghadapinya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dua Malaikat tersebut adalah juga mahluk dari sebagian mahluk Alloh. Jika kedua Malaikat itu datang kepadamu, mendudukkanmu, dan bertanya kepadamu seperti ini : Hai manusia, siapa Tuhanmu, apa agamamu, siapa nabimu, apa I’tiqodmu (kepercayaanmu), dimana kiblatmu dan apa yang kamu ucapkan ketika kamu hidup dan saat mati, maka jawablah dengan jelas dan mantap: Bahwa Tuhanku adalah Alloh. Seandainya kamu ditanya yang kedua kalinya, maka jawablah Alloh Tuhanku. Seandainya kamu ditanya yang ketiga kalinya, maka jawablah dengan mantap, tidak perlu gentar dan takut : Alloh Tuhanku, Islam agamku, Nabi Muhammad Nabiku, Al-Qur’an panutanku, Ka’bah kiblatku, Shalat sehari semalam kewajibanku, semua orang Islam saudaraku. Saya hidup dan mati menetapi ucapan :
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ .

Hai …………. Bin/binti ……………! 
Pegang teguhlah wahai saudaraku hujjah yang telah saya ajarkan kepadamu ini. Ingatlah kamu sekarang telah menetap di alam barzah sampai hari kiamat, yaitu hari para makhluk dibangkitkan dari kuburnya.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kematian itu haq (benar), Qubur itu haq, nikmat Alloh (didalam kubur) itu haq, siksa qubur itu haq, pertanyaan Malaikat Munkar Nakir itu haq, hari kebangkitan itu haq, hari perhitungan itu haq, syafa’at Nabi Muhammad itu haq, surga itu haq, neraka itu haq, bertemu dengan Alloh itu haq, dan Alloh akan membangkitkan manusia dari alam qubur itu haq.

نَسْتَوْدِعُكَ اللّهُمَّ يَا أَنِيْسَ كُلِّ وَحِيْدٍ وَيَا حَاضِرًا لَيْسَ بِغَائِبٍ آنِسْ وَحْدَتَنَا وَوَحْدَتَهُ وَارْحَمْ غُرْبَتَنَا وَغُرْبَتَهُ وَلَقِّنْهُ حُجَّتَهُ وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ. وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمْ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. آمِيْنَ



Sumber Talqin
“Tatacara NU Merawat Jenazah”, oleh Tim Penyusun PCNU Kota Surabaya, diterbitkan oleh PC.LTNNU Kota Surabaya, cet.1 - 2011.