Esai Terhangat

Pendapat Ulama Empat Madzhab tentang Jumlah Rekaat Tarawih adalah 20



1. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Majmu' Syarh Al- Muhadzdzab : Mari kita kembali kepada Syaikhul Madzhab, Imam di dalam Madzhab Imam Syafi'i, Imam besar yaitu Imam An- Nawawi.
.
Imam An-Nawawi sudah menjelaskan dalam kitab Syarah Muhadzdzab-nya, bahwasannya : "Shalat Taraweh adalah satu Shalat sunnah yang sangat dikukuhkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits- hadits yaitu "20" (dua puluh rokaat) selain Witir dan jika ditambah dengan 3 rokaat Witir maka jadilah 23 rokaat. 
.
Oleh karena itu Ummat telah sepakat baik Salaf maupun Kholaf dari zaman Kholifah Ar-Rosyidin yaitu Sayyidina Umar bin Khaththab ra sampai zaman sekarang tidak ada satu Ulama pun yang berbeda dari para Imam Madzhab yang 4 kecuali yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas yang mengatakan hingga 36 rokaat dengan hujjah pengamalan penduduk Madinah. 
.
Dan telah diriwayatkan dari Nafi' beliau berkata : Aku melihat orang-orang di bulan Ramadhan Shalat (Taraweh) 39 rokaat dengan Witir 3 rokaat. . . . Namun riwayat yang masyhur dari Imam Malik adalah yang senada dengan pendapat jumhur dari kalangan Ulama Hanafiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah yaitu 20 rokaat, maka dari itu Ulama 4 madzhab sudah sepakat dan telah sempurna menjadi Sebuah Ijma' (Kesepakatan Ulama) bahwa sholat taraweh adalah 20 rokaat". 
.
Imam An-Nawawi juga menyebutkan dalam kitab tersebut: "Madzhab kami (Syafi'i) Shalat Taraweh adalah 20 rokaat dengan 10 salam selain Witir dan itu 10 istirahatan, 1 tarwihan 4 rokaat dengan 2 kali salam dan ini yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah dan Ashabnya, Imam Ahmad, Dawud dan Qodi Iyadh menukilnya dari jumhur Ulama. Imam Malik berkata: Taraweh itu 9 istirahatan dan jumlahnya 36 rokaat". 
.
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Khulashoh sanad hadits tersebut Shohih, begitu juga Imam Khotib Asy-Syirbini Asy-Syafi'i menyebutkan dalam kitab Syarh Al- Minhaj hal. 226 : "Shalat Taraweh itu 20 rokaat dengan 10 kali salam pada setiap malam bulan Ramadhan berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dengan sanad yang Shohih yaitu : "Sesungguhnya mereka (para Sahabat Nabi) melakukan Shalat Taraweh 20 rokaat di bulan Ramadhan pada masa Sayyidina Umar Bin Khaththab ra". 
.
2. Disebutkan dalam Mukhtashor Muzani bahwa Imam Syafi'i berkata : Aku melihat penduduk Madinah Shalat Taraweh 36 rokaat, dan aku lebih senang 20 rokaat karena itu diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra begitu juga di Makkah 20 rokaat ditambah Witir 3 rokaat".
3. Ibnu Qudamah pakar Fiqih dalam Madzhab Hanbali yang sangat masyhur menyebutkan dalam kitab Al-Mughni juz 1 hal. 457 : "Yang dipilih menurut Abi Abdillah, yang dimaksud di sini adalah Imam Ahmad Bin Hanbal, "20 rokaat" begitu juga pendapat Imam Tsauri, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan Imam Malik mengatakan: tiga puluh enam rokaat". 
.
4. Imam As-Sarkhosi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Al- Mabsuth juz 2 hal. 45 :" Menurut kami Shalat Taraweh itu 20 rokaat selain Witir". 
.
5. Imam Al-Hashkafi Al-Hanafi menyebutkan dalam dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar : "Taraweh adalah dua puluh rokaat dengan sepuluh salam". 
.
6. Ibnu Abidin Al-Hanafi mengomentari perkataan Imam Al- Haskafi : 20 rokaat Itu pendapat jumhur dan dilakukan oleh manusia dari bumi belahan timur sampai bumi belahan barat ". 
.
7. Al-Allamah Muhammad Ulaisy Al-Maliki pakar Fiqih dalam Madzhab Maliki mengatakan dalam kitab Minahul Jalil Ala Mukhtasor Kholil : "Shalat Taraweh itu 20 rokaat ditambah Witir, dan ini yang sudah dilakukan oleh para Sahabat dan Tabi'in kemudian di zaman Sayyidina Umar bin Abdul Aziz setelah terjadi pembantaian di Madinah dengan meringankan berdiri dan menambah bilangan menjadi 39 (sudah termasuk Witir di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam sebagian redaksi, sedangkan dalam redaksi yang lain Shalat Taraweh adalah 36 rokaat selain Witir akan tetapi yang kuat adalah pendapat yang pertama". 
.
8. Ibnu Rusydi pakar Fiqih dalam Madzhab Maliki mengatakan dalam kitab Bidayatul Mujtahid: "Imam Malik telah memilih dalam salah satu pendapatnya, dan juga Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bahwa Taraweh adalah 20 rokaat selain Witir". 
.
9. Imam At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya juz 3 hal 169 : "Mayoritas ahli ilmu sebagaimana yang diriwayatkan dari Sahabat Umar adalah 20 rokaat dan ini adalah pendapatnya Imam Ats-Tsauri, Ibnu Mubarok dan Imam Syafi'i. Berkata Imam Syafi'i : Beginilah aku melihat di negaraku Makkah Shalat Taraweh adalah 20 rokaat". 
.
10. Imam Al-'Aini menyebutkan dalam kitabnya Umdatul Qori Syarh Shohih Al-Bukhari : Dari Zaid Bin Wahb beliau berkata : "Dahulu Sayyidina Abdullah Bin Mas'ud Shalat (Taraweh) bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau bubar (pergi) akan tetapi beliau pada satu malam, dikatakan oleh Al-A'masy bahwa : Sayyidina Abdullah melakukan Shalat Taraweh 20 rokaat dan Shalat Witir 3 rokaat". Hadits ini dinilai Shohih oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Majmu' Syarh Muhadzdzab, begitu juga Imam Al- 'Aini ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, kemudian Imam As-Subuki dalam kitabnya Syarh Al-Minhaj, Imam Zainuddin Al-Iraqi dalam kitabnya Syarh At-Taqrib, Imam Al-Qostholani ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, dan Imam Al-Kamal Bin Al-Humam ketika mensyarahi kitab Al-Hidayah. 
.
11. Imam Ibnu Al-Humam Al-Hanafi berkata : "Telah ditetapkan (Shalat Taraweh itu) 2o rokaat pada masa Sayyidina Umar ra, sedangkan yang masyhur dalam Madzhab Imam Malik sesungguhnya Shalat Taraweh itu 2o rokaat sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ad-Dardir dalam kitab Aqrab Al-Masalik 'Ala Madzhab Al-Imam Malik.
12. Ibnu Taymiyah menyebutkan dalam kitabnya Majmu' Fatawa juz 23 hal. 112 : "Telah menjadi ketetapan bahwa Ubay bin Ka'ab Shalat bersama orang-orang dengan 20 rokaat dalam Taraweh dengan Witir 3 rokaat maka para Ulama berpendapat bahwa itu adalah sunnah karena Sahabat Ubay melakukannya di hadapan kaum Muhajirin dan Anshor dan tidak ada satupun yang mengingkarinya. Bahkan sebagian Ulama mengatakan 39 rokaat karena mengikuti amaliyah penduduk Madinah.
Dikutip dari buku : Adakah Tarawih Yang Bid'ah ? Buya Yahya

Bacaan Surat Dalam Tarawih



Kebanyakan masjid dan mushalla bahkan pesantren di lingkungan kita dalam bacaan surat saat Tarawih adalah surat-surat akhir dari juz Amma. Tahun lalu saya mengutip dari kitab Hasyiyatul Jamal tentang kebolehan hal itu.

Berikut ini ada penjelasan dari ulama Syafi'iyah mutaakhirin yang lebih mengutamakan membaca Al-Qur'an sampai khatam. Sebenarnya di lingkungan kita juga banyak yang mengamalkan hingga saat ini. Syekh Abu Bakr pengarang kitab I'anat Ath-Thalibin berkata:

ﻓﻤﺎ ﻳﻌﺘﺎﺩﻩ ﺃﻫﻞ ﻣﻜﺔ ﻣﻦ ﻗﺮاءﺓ ﻗﻞ ﻫﻮ اﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻌﺎﺕ اﻷﺧﻴﺮﺓ، ﻭﻗﺮاءﺓ ﺃﻟﻬﺎﻛﻢ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺴﺪ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻌﺎﺕ اﻷﻭﻝ، ﺧﻼﻑ اﻷﻓﻀﻞ.

Kebiasaan penduduk Makkah berupa membaca Qul huwa Allahu Ahad di setiap rakaat akhir dan membaca surat At-Takatsur sampai Al-Masad di rakaat awal adalah menyalahi keutamaan (1/307)

Namun bolehkah membaca ayat tertentu setiap shalat? Berikut uraian ulama ahli hadits dari madzhab Syafi'i, Al-Hafidz Ibnu Hajar ketika mensyarah hadis berikut:

ﻛﺎﻥ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ اﻷﻧﺼﺎﺭ ﻳﺆﻣﻬﻢ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻗﺒﺎء، ﻭﻛﺎﻥ ﻛﻠﻤﺎ اﻓﺘﺘﺢ ﺳﻮﺭﺓ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻬﺎ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﻣﻤﺎ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻪ اﻓﺘﺘﺢ: ﺑﻘﻞ ﻫﻮ اﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻔﺮﻍ ﻣﻨﻬﺎ، ﺛﻢ ﻳﻘﺮﺃ ﺳﻮﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ ﻣﻌﻬﺎ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻨﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺔ

Ada seorang shahabat Ansor yang menjadi imam dari mereka di masjid Quba'. Setiap mengawali bacaan surat di dalam shalat yang ia baca adalah Qul huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surat lainnya. Ia lakukan itu di setiap rakaat...

Para jemaah kurang senang terhadap kebiasaan imam ini, sehingga mereka mengeluh kepada Rasulullah. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya:

«ﻭﻣﺎ ﻳﺤﻤﻠﻚ ﻋﻠﻰ ﻟﺰﻭﻡ ﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺔ» ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻧﻲ ﺃﺣﺒﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺣﺒﻚ ﺇﻳﺎﻫﺎ ﺃﺩﺧﻠﻚ اﻟﺠﻨﺔ»

Apa yang mendorongmu untuk tetap membaca surat Al-Ikhlas ini di setiap rakaat? Ia menjawabnya: "Saya senang dengan Al-Ikhlas". Nabi bersabda: "Kecintaanmu pada Al-Ikhlas memasukkanmu ke dalam surga" (HR Bukhari)

Ibnu Hajar berkata:

ﻭﻓﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﺑﻌﺾ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﻤﻴﻞ اﻟﻨﻔﺲ ﺇﻟﻴﻪ ﻭاﻻﺳﺘﻜﺜﺎﺭ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻫﺠﺮاﻧﺎ ﻟﻐﻴﺮﻩ

Dalam hadis ini terdapat dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat sesuai kecondongan hati dan memperbanyak hal itu. Dan hal tersebut tidak dianggap sebagai mengacuhkan pada surat yang lain (Fathul Bari 2/258)

Ahmad Mustain

Khawarij Era Dulu dan Kini

SO SHARP...! 😄

Seorang khawarij mendatangi Imam Hasan al Basri. Sang khawarij bertanya : "Apa pendapatmu tentang mereka yg menentang penguasa?" 

Al Basri menjawab: "Mereka adalah kaum yg mengejar kemegahan duniawi". 

Orang itu menimpali: "Apa yg membuatmu berpendapat seperti itu? padahal kami meninggalkan keluarga dan anak-anak kami, menghunuskan senjata demi memerangi kezaliman". 

Al Basri menjawab: "Katakan pendapatmu tentang penguasa, apakah ia menghalangimu sholat, melarangmu membayar zakat dan menunaikan haji?". 

Orang itu menjawab:"Tidak". 

Al Basri berkata: "Yang kulihat sesungguhnya adalah penguasa itu menghalangimu memperoleh kesenangan duniawi, dan engkau memeranginya agar kau dpt meraihnya"

(Kitab Al Basa'ir wal Dhaka'ir )

Ini saya peroleh dari sebuah WAG dan saya tidak bisa menahan tertawa membaca jawaban Al Basri ini. What a genius...! 😄😆

Apakah Foto itu Haram?...



Keharaman gambar memang berdasarkan hadis sahih, yaitu:

ﻓﻘﺎﻝ ﺟﺒﺮﻳﻞ «ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺪﺧﻞ ﺑﻴﺘﺎ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﻻ ﻛﻠﺐ»

Jibril berkata kepada Nabi: "Sesungguhnya kami tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar dan anjing" (HR Bukhari dengan banyak redaksi hadis)

Namun yang perlu disahihkan adalah pemahaman apakah gambar hasil fotografi masuk dalam larangan hadis di atas?

Ternyata dalam masalah gambar dan foto dari kalangan ulama Salafi sendiri masih berbeda pendapat. Berikut beberapa pendapat yang membolehkan:

- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

وَسُئِلَ فَضِيْلَةُ الشَّيْخِ: عَنْ حُكْمِ التَّصْوِيْرِ الْفُوْتُوْغَرَافِي؟. فَأَجَابَ - حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى - بِقَوْلِهِ : الصُّوَرُ الْفُوْتُوْغَرَافِيَّةُ الَّذِي نَرَى فِيْهَا ؛ أَنَّ هَذِهِ الآلَةَ الّتِي تُخَرِّجُ الصُّوْرَةَ فَوْراً ، وَلَيْسَ لِلإِنْسَانِ فِي الصُّوْرَةِ أَيَّ عَمَلٍ ، نَرَى أَنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ بَابِ التَّصْوِيْرِ ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَابِ نَقْلِ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا اللهُ - عَزَّ وَجَلَّ - بِوَاسِطَةِ هَذِهِ اْلآلَةِ ، فَهِيَ انْطِبَاعٌ لاَ فِعْلَ لِلْعَبْدِ فِيْهِ مِنْ حَيْثُ التَّصْوِيْرُ ، وَاْلأَحَادِيْثُ الْوَارِدَةُ إِنَّمَا هِيَ فِي التَّصْوِيْرِ الَّذِي يَكُوْنُ بِفِعْلِ الْعَبْدِ وَيُضَاهِي بِهِ خَلْقَ اللهِ (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين - ج 2 / ص 205)

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya hukum gambar fotografi. Ia menjawab: "Gambar-gambar yang dihasilkan dari foto yang kami lihat di dalamnya yaitu alat tersebut mengeluarkan gambar secara cepat. Manusia tidak punya andil dalam gambar ini. Maka kami melihat bahwa foto ini tidak masuk dalam 'menggambar', namun sekedar memindah bentuk yang telah digambar oleh Allah dengan alat ini. Ini adalah alami, bukan perbuatan manusia dari segi menggambar. Sedangkan hadis-hadis yang telah ada hanya mengarah kepada menggambar pada perbuatan manusia yang dilakukan untuk menandingi ciptaan Allah" (Majmu' Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin 2/205)

Masalah ini juga difatwakan oleh Ibnu Utsaimin dalam kitab-kitab lainnya seperti Liqa'at al-Bab al-Maftuh 72/19 dan Durus wa Fatawa al-Haram al-Madani 1/33.

- Syekh Bin Baz

ثَانِيًا: الْمَجَلاَّتُ وَالْجَرَائِدُ الَّتِي بِهَا أَخْبَارٌ مُهِمَّةٌ وَمَسَائِلُ عِلْمِيَّةٌ نَافِعَةٌ وَبِهَا صُوَرٌ لِذَوَاتِ اْلأَرْوَاحِ يَجُوْزُ شِرَاؤُهَا وَاْلاِنْتِفَاعُ بِمَا فِيْهَا مِنْ عِلْمٍ مُفِيْدٍ وَأَخْبَارٍ مُهِمَّةٍ؛ لأَنَّ الْمَقْصُوْدَ مَا فِيْهَا مِنَ الْعِلْمِ وَاْلأَخْبَارِ، وَالصَّوَرُ تَابِعَةٌ وَالْحُكْمُ يَتْبَعُ اْلأَصْلَ الْمَقْصُوْدَ إِلَيْهِ دُوْنَ التَّابِعِ. (فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء - ج 2 / ص 359)

"Majalah dan Koran yang di dalamnya terdapat berita penting dan masalah ilmiah yang bermanfaat, yang didalamnya terdapat gambar-gambar yang memiliki roh, boleh diperjualbelikan dan mengambil manfaat darinya, yakni ilmu yang berfaedah dan kabar penting. Sebab tujuannya adalah yang terdapat di dalam majalah itu, berupa ilmu dan kabar berita, sedangkan gambar hanya mengikuti berita. Hukum berlaku pada tujuan (ilmu dan berita), bukan pada pelengkap (gambar)" (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta' 2/359)

- Syaikh Nasiruddin Al-Albani

وَلاَ فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ مَا كَانَ مِنْهَا تَطْرِيْزًا عَلَى الثَّوْبِ أَوْ كِتَابَةً عَلَى الْوَرَقِ ، أَوْ رَسْمًا بِاْلآلَةِ الْفُوْتُوْغَرَافِيَّةِ إِذْ كُلُّ ذَلِكَ صُوَرٌ وَتَصْوِيْرٌ ، وَالتَّفْرِيْقُ بَيْنَ التَّصْوِيْرِ الْيَدَوِيِّ وَالتَّصْوِيْرِ الْفُوْتُوْغَرَافِي ، فَيَحْرُمُ اْلأَوَّلُ دُوْنَ الثَّانِي (السلسلة الصحيحة - ج 1 / ص 355)

"Tidak ada perbedaan dalam gambar, baik yang dibentuk di baju atau yang ditulis di kertas, atau gambar dengan alat fotografi. Sebab semuanya adalah gambar dan menggambar. Perbedaan antara menggambar dengan tangan dan foto adalah haram yang pertama (dengan tangan), bukan yang kedua (foto)" (as-Silsilah ash-Shahihah 1/355)

- Ulama Sunni Mesir Dan Syafi'iyah

Mufti al-Azhar Syaikh Athiyah Shaqr juga mengeluarkan fatwa boleh:

عَلَى أَنَّهُمْ اسْتَثْنَوْا التَّصْوِيْرَ الشَّمْسِىَّ ، لأَنَّهُ حَبْسُ ظِلٍّ بِمُعَالَجَةٍ كِيْمَاوِيَّةٍ عَلىَ نَحْوِ خَاصٍّ ، وَلَيْسَتْ فِيْهِ مُعَالَجَةُ الرَّسْمِ الْمَعْرُوْفَةُ . (فتاوى الأزهر - ج 10 / ص 96)

"Para ulama mengecualikan gambar yang dihasilkan dengan cahaya (foto). Sebab hal itu merupakan merekam bayangan dengan alat dan cara tertentu. Dalam alat tersebut tidak ada bentuk menggambar yang telah diketahui" (Fatawa al-Azhar 10/96)

Dari ulama Syafiiyah Mutaakhkhirin, Sayid Alawi bin Ahmad Assegaf berkata:

وَانْظُرْ مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى فِي هَذِهِ اْلاَزْمِنَةِ مِنِ اتِّخَاذِ الصُّوَرِ الْمَأْخُوْذًةِ رَقْمًا بِالْفُوْتُوْغَرَافِ هَلْ يَجْرِي فِيْهِ هَذَا الْخِلاَفُ لِكَوْنِهَا مِنْ جُمْلَةِ الْمَرْقُوْمِ اَمْ تَجُوْزُ مُطْلَقًا بِلاَ خِلاَفٍ لِكَوْنِهَا مِنْ قَبِيْلِ الصُّوْرَةِ الَّتِي تُرَى فِي الْمِرْأةِ وَتَوَصَّلُوْا اِلَى حَبْسِهَا حَتَّى كَأَنَّهَا هِيَ كَمَا تَقْضِى بِهِ الْمُشَاهَدَةُ حَرِّرْهُ فَاِنِّي لَمْ اَقِفْ عَلَى مَنْ تَعَرَّضَ لِذَلِكَ مِنْ اَرْبَابِ الْمَذَاهِبِ الْمُتَّبَعَةِ وَعَلَى كٌلٍّ فَفِيْمَا نَقَلْتُهُ فُسْحَةٌ لِلنَّاسِ وَسَعَةٌ (ترشيح المستفيدين على فتح المعين للسيد علوي بن احمد السقاف صـ 324)  

"Lihatlah kejadian yang telah rata di masa sekarang dengan menjadikan gambar dari fotografi. Apakah hukum khilaf masalah gambar juga berlaku, sebab foto termasuk jenis gambar, atau boleh secara mutlak tanpa khilaf karena foto termasuk gambar yang terdapat di dalam cermin, dan mereka berusaha mengambil gambarnya sebagaimana yang bisa disaksikan. Perhatikanlah! Sebab saya tidak menemukan pendapat ulama yang menyinggungnya dari madzhab-madzhab yang diikuti. Atas semua itu, apa yang telah saya kutip (dari khilaf ulama) adalah sebuah keleluasaan bagi manusia" (Tarsyih al-Mustafidin ala Fath al-Mu'in Hal. 324)

Wa akhiran, ketika mereka mengharamkan foto dipajang ternyata memakai foto-foto yang ada di Indonesia. Coba saja pakai foto Raja-raja Arab Saudi di bawah ini....

Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Apakah Lelaki Dewasa yang Meminum ASI Dapat Menjadi Anak Persusuan?





Beberapa hari lalu sempat didiskusikan perihal seorang suami yang "meminum" ASI. Apakah lantas istrinya menjadi mahram ibu susuan?

Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan:

ﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ﻗﺎﻟﺖ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ اﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻓﺘﻖ اﻷﻣﻌﺎء ﻓﻲ اﻟﺜﺪﻱ، ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ اﻟﻔﻄﺎﻡ»: «رواه الترمذي وقال ﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ»

Dari Ummi Salamah, sabda Rasulullah shalla Allahu alaihi wasallama: "Menyusui tidaklah menjadikan mahram kecuali yang dapat mengenyangkan perut bayi dari ASI, sebelum dipisah [2 tahun]" (HR Tirmidzi ua menilai hasan-sahih)

ﻭاﻟﻌﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻋﻨﺪ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ: ﺃﻥ اﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺩﻭﻥ اﻟﺤﻮﻟﻴﻦ، ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪ اﻟﺤﻮﻟﻴﻦ اﻟﻜﺎﻣﻠﻴﻦ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﺷﻴﺌﺎ

Inilah yang diamalkan oleh para ulama dari para Sahabat Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama bahwa menyusui tidak menjadikan mahram kecuali bagi anak sebelum 2 tahun. Menyusui setelah lewat 2 tahun maka tidak berpengaruh pada status mahram (Jami' at-Tirmidzi)

Syaikh Mustafa Daib al-Bigha juga menjelaskan:

ﻭﻗﺪ ﺫﻫﺐ ﻋﺎﻣﺔ ﻋﻠﻤﺎء اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ - ﻭﻣﻨﻬﻢ اﻷﺋﻤﺔ اﻷﺭﺑﻌﺔ - ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺭﺿﺎﻉ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺗﺠﺎﻭﺯ اﻟﺴﻨﺘﻴﻦ ﺳﻦ اﻟﺮﺿﺎﻉ ﻻ ﺃﺛﺮ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﻤﺤﺮﻣﻴﺔ ...

Mayoritas ulama, diantaranya Imam 4 madzhab, berpendapat bahwa susuan orang dewasa yang lebih dari 2 tahun yang tidak memiliki pengaruh dalam hal nasab. (Ta'liq Sahih al-Bukhari 5/81)

Hari ASI se Dunia...

Ma'ruf Khozin, anggota PW LBM NU Jatim

Hukuman Mati dalam Agama Samawi dan Konstitusi Indonesia


Hukuman mati tidak hanya dijumpai dalam umat Nabi Muhammad shalla Allahu alaihi wa sallama namun juga bagi agama Yahudi sebagaimana dijelaskan dalam al-Maidah: 45.

Hukuman mati berlaku pada 3 bentuk dosa besar berikut:

ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ، ﻗﺎﻝ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻻ ﻳﺤﻞ ﺩﻡ اﻣﺮﺉ ﻣﺴﻠﻢ، ﻳﺸﻬﺪ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﻭﺃﻧﻲ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ، ﺇﻻ ﺑﺈﺣﺪﻯ ﺛﻼﺙ: اﻟﻨﻔﺲ ﺑﺎﻟﻨﻔﺲ، ﻭاﻟﺜﻴﺐ اﻟﺰاﻧﻲ، ﻭاﻟﻤﺎﺭﻕ ﻣﻦ اﻟﺪﻳﻦ اﻟﺘﺎﺭﻙ ﻟﻠﺠﻤﺎﻋﺔ " رواه البخاري ومسلم

Dari Abdullah ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: "Tidak halal darah seorang Muslim yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Aku (Muhammad) adalah utusan Allah, kecuali karena 3 hal, (1) Membunuh sesama manusia (2) Orang yang sudah menikah berbuat zina (3) Orang murtad yang telah keluar dari Islam yang meninggalkan kelompok Islam" (HR al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan bagi bandar narkoba digolongkan dalam kejahatan besar yang dapat merusak generasi pembunuh massal juga dihukum mati seperti dalam al-Maidah: 33.

Di dunia militer pun hukuman mati juga dibenarkan, yaitu pada masalah disersi, pasukan yang berkhianat bersekongkol dengan musuh.

Mahkamah Konstitusi pernah menerima Judicial Review tentang hukuman mati oleh terpidana Bali Nine pada 30 Oktober 2007 dan MK menolak serta menegaskan bahwa hukuman mati tidak melanggar Konstitusi Negara maupun Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Kalau telah sah secara pandangan Agama dan Negara, mengapa hukuman mati selalu diperdebatkan saat ada eksekusi mati?

Apakah Arwah di Alam Kubur Dapat Mendoakan Untuk Orang Hidup?




Mari perhatikan hadis yang dinilai sahih oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah:

 ﺇﺫا ﻗﺒﻀﺖ ﻧﻔﺲ اﻟﻌﺒﺪ ﺗﻠﻘﺎﻩ ﺃﻫﻞ اﻟﺮﺣﻤﺔ ﻣﻦ ﻋﺒﺎﺩ اﻟﻠﻪ ﻛﻤﺎ ﻳﻠﻘﻮﻥ اﻟﺒﺸﻴﺮ ﻓﻲ اﻟﺪﻧﻴﺎ، ﻓﻴﻘﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﻟﻴﺴﺄﻟﻮﻩ، ﻓﻴﻘﻮﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻟﺒﻌﺾ: ﺃﻧﻈﺮﻭا ﺃﺧﺎﻛﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺘﺮﻳﺢ، ﻓﺈﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﻛﺮﺏ، ﻓﻴﻘﺒﻠﻮﻥ ﻋﻠﻴﻪ، ﻓﻴﺴﺄﻟﻮﻧﻪ: ﻣﺎ ﻓﻌﻞ ﻓﻼﻥ؟ ﻣﺎ ﻓﻌﻠﺖ ﻓﻼﻧﺔ؟ ﻫﻞ ﺗﺰﻭﺟﺖ؟ ﻓﺈﺫا ﺳﺄﻟﻮا ﻋﻦ اﻟﺮﺟﻞ ﻗﺪ ﻣﺎﺕ ﻗﺒﻠﻪ ﻗﺎﻝ ﻟﻬﻢ: ﺇﻧﻪ ﻗﺪ ﻫﻠﻚ، ﻓﻴﻘﻮﻟﻮﻥ: ﺇﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺭاﺟﻌﻮﻥ، ﺫﻫﺐ ﺑﻪ ﺇﻟﻰ ﺃﻣﻪ اﻟﻬﺎﻭﻳﺔ، ﻓﺒﺌﺴﺖ اﻷﻡ ﻭﺑﺌﺴﺖ اﻟﻤﺮﺑﻴﺔ. ﻗﺎﻝ: ﻓﻴﻌﺮﺽ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻬﻢ، ﻓﺈﺫا ﺭﺃﻭا ﺣﺴﻨﺎ ﻓﺮﺣﻮا ﻭاﺳﺘﺒﺸﺮﻭا ﻭﻗﺎﻟﻮا: ﻫﺬﻩ
ﻧﻌﻤﺘﻚ ﻋﻠﻰ ﻋﺒﺪﻙ ﻓﺄﺗﻤﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﺭﺃﻭا ﺳﻮءا ﻗﺎﻟﻮا: اﻟﻠﻬﻢ ﺭاﺟﻊ ﺑﻌﺒﺪﻙ ".

Jika seorang hamba wafat maka ruhnya berjumpa dengan hamba-hamba Allah yang penyayang, seperti mereka berjumpa dengan pemberi kabar gembira di dunia. Mereka menemuinya untuk bertanya. Sebagian mereka berkata: "Tunggu sebentar saudara kalian ini agar ia istirahat. Sebab ia mengalami kesulitan (karena baru meninggal)". Mereka bertanya kepadanya: "Apa yang dilakukan fulan? Apa yang dilakukan fulanah, apakah ia menikah lagi?". Jika mereka bertanya tentang seseorang yang telah mati sebelumnya, ia menjawab: "Orang tersebut telah binasa". Mereka lalu membaca inna lillah wa inna ilaihi rajiun. Ia telah kembali bersama ibunya ke neraka Hawiyah. Betapa buruk ibu dan anak didiknya. Lalu ia berkata: "Lalu ditunjukkan kepada mereka amal anak-anaknya (yang masih hidup). Jika mereka melihat amal baik maka mereka senang dan bahagia serta berkata: "Ini adalah nikmat dari Mu kepada hamba Mu, maka sempurnakanlah nikmatnya". Jika mereka melihat amal buruk maka mereka berkata: "Ya Allah, kembalikanlah hamba Mu"

Ulama Salafi-Wahabi Syaikh Albani berkata:

ﺃﺧﺮﺟﻪ اﺑﻦ اﻟﻤﺒﺎﺭﻙ ﻓﻲ " اﻟﺰﻫﺪ " (149 / 443)

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak dalam al-Zuhd (149/443)

 ﻗﻠﺖ: ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ ﻟﻜﻨﻪ ﻣﻨﻘﻄﻊ ﺑﻴﻦ ﺛﻮﺭ ﺑﻦ ﻳﺰﻳﺪ ﻭﺃﺑﻲ ﺭﻫﻢ. ﻭﻗﺪ ﻭﺻﻠﻪ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﺳﻼﻡ اﻟﻄﻮﻳﻞ ﻓﻘﺎﻝ: ﻋﻦ ﺛﻮﺭ ﻋﻦ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ ﻣﻌﺪاﻥ ﻳﻌﻨﻲ: ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﺭﻫﻢ ﺭﻓﻌﻪ. ﺃﺧﺮﺟﻪ اﺑﻦ ﺻﺎﻋﺪ ﻓﻲ ﺯﻭاﺋﺪ " اﻟﺰﻫﺪ " (444)

Saya (al-Albani) berkata: Para perawinya terpercaya, tapi terputus antara Tsaur dan Abu Rahm. Dan sungguh disambungkan dan dimarfu'kan kepada Nabi oleh Salam al-Thawil, dari Tsaur, dari Khalid bin Ma'dan....

Redaksi doa dalam riwayat Thabrani adalah:

ﻓﻴﻘﻮﻟﻮﻥ: اﻟﻠﻬﻢ ﺃﻟﻬﻤﻪ ﻋﻤﻼ ﺻﺎﻟﺤﺎ ﺗﺮﺿﻰ ﺑﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺗﻘﺮﺑﻪ ﺇﻟﻴﻚ ".

Mereka (para Arwah) berkata: " Ya Allah tunjukkan padanya amal saleh yang Engkau ridlai dan dekatkan dia kepada Mu"

Doa dari alam kubur dalam riwayat Ahmad dan al-Thayalisi:

 ﻗﺎﻟﻮا: اﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﻤﺘﻬﻢ، ﺣﺘﻰ ﺗﻬﺪﻳﻬﻢ ﻛﻤﺎ ﻫﺪﻳﺘﻨﺎ "

"Ya Allah, jangan matikan mereka hingga Engkau memberi hidayah kepada mereka, seperti Engkau memberi hidayah pada kami"

Ma'ruf Khozin, Nara Sumber Hujjah Aswaja tv9

Salat Gerhana dalam Mazhab Syafii




(Diterjemah dan diringkas oleh Masyhari dari Kitab "Al-Fiqh Al-Manhaji 'ala Mazhab Al Imam Asy Syafi'i", juz 1)

Pengertian
Kusuf (gerhana matahari), yaitu peristiwa tertutupnya cahaya matahari oleh bulan, pada siang hari, baik sebagian atau total.

» Khusuf (gerhana bulan), yaitu tertutupnya cahaya bulan oleh matahari, pada malam hari, baik sebagian atau total.

» Salat Gerhana
Secara historis, salat gerhana matahari disyariatkan untuk pertama kalinya pada tahun kedua hijriyah. Sedangkan salat gerhana bulan disyariatkan pertama kalinya pada tahun kelima hijriyah.

» Hukum salat gerhana "Sunnah Muakkad", berdasarkan dalil hadis Nabi saw:

"إن الشمس والقمر من آيات الله لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته، فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا حتى ينكشف ما بكم "

Artinya, "Matahari dan bulan merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena sebagai pertanda kematian atau kelahiran seseorang. Jika kalian melihatnya, salatlah dan berdoalah hingga gerhana usai."

» Kedua, berdasarkan perbuatan Nabi saw yang menjalankan salat gerhana.

» Salat gerhana tidak diwajibkan (tapi sunnah muakkad) karena pernah suatu ketika Nabi saw ditanya oleh seorang Badui tentang salat wajib selain 5 waktu. Lantas beliau saw menjawab, "Tidak ada. Kecuali salat sunnah." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

» Salat gerhana disunnahkan secara berjamaah. Andaipun sendirian tetap sah.

» Sebelum salat diucapkan:
الصلاة جامعة
"Ashshalatu jaami'ah"

» Tata Caranya:
Salat gerhana dilakukan dua rakaat, dengan niat salat kusuf untuk gerhana matahari, dan niat salat khusuf untuk gerhana bulan.

» Terdapat dua versi cara:
- Pertama: Minimalis dan Sudah dianggap sah.
Caranya sebagaimana salat Jumat, dua kali berdiri, dua bacaan, dua ruku', dan tidak diperpanjang bacaannya.
Tapi, model semacam ini tidak utama, karena berbeda dengan tata cara yang dilakukan oleh Nabi saw.

- Kedua: Cara Maksimalis dan lebih sempurna.
Yaitu dilakukan dua raka'at. Setiap rakaat berdiri dengan bacaan yang panjang.
Setiap rakaat ada dua kali ruku' dan dua kali bacaan. Sehingga, dalam dua rakaat, menjadi empat ruku'. Ruku' dilakukan dengan lama, lebih lama daripada salat biasa.

» Selesai salat, imam berdiri untuk berkhutbah dua kali sebagaimana khutbah Jumat.

» Pada salat gerana bulan, bacaan AlFatihah dan Surat dikeraskan (jahr). Sementara salat gerhana matahari dipelankan (sirr).

» Selain salat gerhana, perbanyak dzikir, doa, istighfar, takbir dan sedekah, dimulai awal gerhana hingga selesai gerhana.

» Tidak ada qadha' bagi yang meninggalkan salat gerhana. Bila gerhana telah usai, namun Anda belum salat, maka usailah waktu pelaksanaan salat gerhana, dan tidak perlu diqadha'.

» Disunnahkan mandi sebelum salat gerhana sebagaimana sebelum salat Jumat.

Wallahu a'lam

Cirebon, 15 Dzulqa'dah 1438 H/ 07 Agustus 2017 M

Istighfar yang Diajarkan Ulama Bersumber dari Rujukan yang Kokoh





Selama mereka masih tetap hobi menyalahkan amalan para Habaib dan Kyai, maka selama itu pula saya akan memberi jawaban, atas pertolongan Allah. kali ini mereka menyoal istighfar. kita awali dengan sumber utamanya:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنْصَرِفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Dari Tsauban, budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama, bahwa jika Nabi selesai dari salat maka beliau membaca istighfar 3 kali (HR Muslim, Abu Dawud dan lainnya)

Bentuk bacaan istighfar dijelaskan dalam riwayat:

قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلأَوْزَاعِىِّ كَيْفَ الاِسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.

Al-Walid bertanya kepada Auzai tentang bacaan istighfar. Auzai menjawab: "Aku meminta ampunan kepada Allah, 2x" (HR Muslim)

Pada bab berikutnya Imam Abu Dawud menulis bab beberapa bacaan istighfar dari Nabi, diantaranya:

بِلاَلَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّى أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ ».

Dari Bilal bin Yasar bin Zaid, kakeknya mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: "Barangsiapa membaca 'Aku meminta ampunan kepada Allah, Tiada Tuhan selain Dia, yang maha hidup, maha mengurus segala hal dan aku bertaubat kepada-Nya', maka ia akan diampuni meski ia lari dari perang" (HR Abu Dawud. Dinilai sahih oleh Syekh Albani)

Kalau ditanya mana lafadz 'Al-Adzim' seperti yang anda baca? Jawab saja ada dalam riwayat Al-Hakim, ia menilai sahih. Al-Hafidz Adz-Dzahabi tidak memberi komentar apapun.

Apakah boleh bacaan istighfar tersebut dipakai sesudah salat? Boleh. Sebagaimana fatwa ulama Salafi berikut:

أولاَ: أستغفر الله 100 مرة، ثم أقول أستغفر الله وأتوب إليه مائة مرة، ثم أصلي ركعتين، ثم أقول: أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه. فهل يجوز ذلك؟

"(Seseorang bertanya) Pertama, saya membaca istighfar 100x, saya membaca juga 'Aku meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya', 100x. Kemudian saya salat 2 rakaat. Lalu membaca 'Astaghfiullah Al-Adzim Alladzi Laa ilaaha illa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyumu wa atubu ilaih'. Apakah hal itu boleh?"

والمطلوب منك أن تستغفر من جميع ذنوبك السالفة، ولكن لو تذكرت ذنباً عظيماً وزدت في الاستغفار منه خاصة فلا حرج في ذلك، وأما كيفية الاستغفار فالأمر فيها واسع، والطريقة التي تستخدمها صحيحة ولله الحمد. والله أعلم. المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه (فتاوى الشبكة الإسلامية - ج 151 / ص 261)

"(Jawaban Fatwa) .... Dianjurkan bagi anda untuk membaca istighfar dari semua dosa terdahulu. Jika anda mengingat dosa besar dan anda menambahkan bacaan istighfar secara khusus, maka boleh. Sedangkan cara istifgfar dalam masalah ini luas. Cara yang anda lakukan sudah benar" (Fatawa Syabkah Al-islamiyah, Mufti Dr. Abdullah Al-Faqih)

Dengan demikian, dzikir paling utama tetap dzikir yang dibaca oleh Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama. Dan membaca dzikir lainnya juga tetap diperbolehkan. Sebagaimana dalam riwayat yang juga dinilai sahih oleh Syekh Albani berikut:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ».

Dari Anas bahwa ia bersama dengan Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallama sembari duduk. Dan ada seseorang sedang salat. Lalu berdoa dengan doa berikut.... Kemudian Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama bersabda: "Sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Jika Ia diminta dengannya maka Ia akan mengabulkan. Dan jika Ia diminta dengannya maka Ia akan memberikan." (HR Abu Dawud)

meski shahabat ini membaca dzikir sesudah salat bukan dengan dzikir yang dibaca oleh Nabi, ternyata Nabi tidak menyalahkan apalagi mengatakan dzikir turun temurun, mengarang-ngarang atau mencari keuntungan. Lalu mereka ini sebenarnya meniru siapa?

Ma'ruf Khozin Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Pembacaan (Turats) Kitab Fathul Qorib perspektif Prof. Dr. Abid Jabiri




Oleh ibnu badri


Prof. Dr Abid Jabiri dalam karya tetralogy kritik nalar arab membuat sebuah hipotesa bahwasanya kejumudan peradaban arab sekarang yang sangat jauh tertinggal dari peradaban barat disebabkan oleh  meninggalkannya peradaban arab nalar rasional-empirik untuk mencapai kemajuan. Kejumudan berpikir peradaban arab ini dimulai setelah masa ibnu rusdi yang terkenal dengan rasio rasional empiriknya. Epistimologi

nalar arab dalam memperoleh suatu pengetahuan didasarkan pada tiga nalar berpikir. Pertama nalar berpikir bayani yaitu sebuah upaya untuk menggali pengetahuan berdasarkan telaah teks. Dari hasil nalar ini munculah suatu diskursus fans keilmuan gramatika (nahwu-sorof), retorika (balaghoh), teologi (ilmu kalam), tafsir. Sehingga mekanisme nalar bayani tidak pernah keluar dari wacana kebahasaan, khususnya interpretasi kandungan wacana yang berkembang dalam teks keagamaan. namun nalar bayani ini mulai menjadi sebuah epistimologi nalar berpikir sejak imam syafi'i mengkodifikasikan kaidah-kaidah penafsiran dan penalaran Al-Quran dengan karyanya Ar-Risalah.

 Kedua nalar berpikir irfani yaitu sebuah upaya untuk menggali pengetahuan berdasarkan intuisi (kasyaf), sebuah penyikapan pengetahuan melalui pesan intuisi dari orang yang sudah dianggap dekat allah. Nalar berpikir irfani ini biasanya bersifat subjektif. Nalar berpikir ini lebih mengutamakan kepercayaan nurani daripada logika akal.

Ketiga nalar berpikir burhani yaitu suatu upaya untuk menggali pengetahuan berdasarkan nalar berpikir logika kausalitas-silogisme. Dalam nalar berpikir ini suatu pengetahuan haruslah bisa dibuktikan secara rasional-emprik.
Dari ketiga nalar berpikir arab ini yang paling dominan adalah nalar berpikir bayani dan irfani serta cenderung meninggalakan nalar burhani, sehingga Prof. Dr Abid Jabiri membuat hipotesa ketertinggalan peradaban arab dari peradaban barat sekarang ini disebabkan berbedanya nalar dalam penggalian sebuah pengetahuan.

Kita tahu bahwa Nalar berpikir peradaban barat adalah rasional-empirik. Untuk itu upaya membentuk sebuah perdaban yang intelektual di arab khususnya dan dunia timur pada umumnya harus dimulai dari upaya merubah pondasi dasar nalar berpikirnya. Dan mengaktualisasi nalar berpikir burhani diberbagai aspek. 

Di akhir-akhir ini kita bisa melihat nalar berpikir kita lebih takjub dan heran jika ada fenomena alam seperti daun yang berbentuk lafal allah, awan yang bentuk kalimat toyibah akan tetapi lupa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang teknologi, ekonomi dll, hal ini berbeda sekali dengan peradaban kita di era abad pertengahan, yaitu sebuah peradaban yang manusianya sibuk menggali dan menciptakan pengetahuan baru, dari peradaban ini munculah intelektual yang diakui dunia seperti Al-Jabar, Ibnu Sina, Averus, Ibnu Jinni. Dizaman sekarang jarang sekali muncul intelektual kita yang menguasai panggung pengetahuan dunia, intelektual kita sangat jauh ketertinggalanya dari intelektual barat. 

Sebenarnya sudah banyak sekali kaum intelektual kita seperti Abid Jabiri, Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun, Fazlur Rahman yang memikirkan bagaimana mengembangkan peradaban kita menjadi peradaban unggul dan mampu bersaing dengan peradaban barat, namun sampai saat ini belum muncul tanda-tanda peradaban kita akan mampu bersaing dengan peradaban barat.

Jikalaupun ada intelektual kita yang mau merubah peradaban biasanya nalar SDM kita belum mampu mengikuti arah pemikirannya sehingga terjadi banyak penolakan. Sehingga para intelektual kita lebih memilih berkarya dan mengebangkan pengetahuan didunia barat daripada dinegara sendiri. Oleh karena itu pondasi nalar berpikir burhani harus mulai dibiasakan dalam peradaban kita dan upaya pendidikan yang berbasis nalar burhani harus diterapkan sehingga tercipta sinergi antara kaum intelektual dan masyarakat.

Sebenarnya upaya Prof Dr Abid Jabiri dengan mengubah nalar yang Irfani dan Bayani menuju nalar berpikir Burhani adalah suatu cara untuk memajukan peradaban timur.
Salah satu hal juga yang membuat peradaban timur tertinggal adalah perlakukan terhadap turast (kitab kuning) atau upaya pembacaan turast yang tertalu tektualis, sehingga terkesan bahwa peradaban kita terkesan kaku dan tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Prof Dr Abid Jabiri mengatakan bahwasanya upaya perlakuan turast masih bersifat penyalinan dan penjabaran suatu masalah, tidak menciptakan suatu fans keilmuan dan pengetahuan baru sehingga yang terjadi adalah pengulangan pembahasan masalah. Dapat kita rasakan sampai saat ini kita masih disibukan dengan berbagai masalah yang sebernarnya pembahasan sudah diselesaikan oleh para pakar terdahulu. Saat kita kita masih disibukan dengan pembahasan bid'ah, tahayul dan khurafat. Padahal kalau diamati permasalahan ini tidak akan pernah selesai sampai kapanpun jika kita masih mengadalkan ego dan idealisme ideologi. Hal ini sangat disayangkan oleh Habib Lutfi Bin Yahya, beliau mengatakan sudah tidak eranya kita berdebat membahas masalah bid'ah dan furu'iyah. Yang harus kita bahas dan fokuskan adalah kemajuan pengetahuan agar bisa menyaingi peradaban barat. KH Sahal Mahfud menekankan langkah taktis agar peradaban kita (fiqih) bisa mengikuti perkembangan zaman harus ada upaya untuk menyelesaikan masalah dengan pembacaan turast yang metodologis bukan hanya tektualis. 
Upaya pembacaan teks dengan tiga nalar (Bayani, Irfani, dan Burhani) sangat penting agar bisa dihasilkan pembacaan sebuah teks yang komprehensif dan tidak berpacu pada makna tektualis, akan tetapi bisa sampai pada pembacaan teks yang kontektualis dan menghasilkan interpretasi yang mendalam.

penulis akan mencoba melakukan pembacaan kitab karya Muhammad al-ghozi yang berjudul fathul qorib-mujib, sebuah kitab yang sangat populer dikalangan umat muslim di indonesia khusunya kalangan pesantren.

Muhammad al-ghozi mengatakan bahwasanya air yang bisa digunakan untuk bersuci itu ada tujuh yaitu air langit (hujan), air laut, air sungai, air sumur, mata air, air salju, air es. Dari ketujuh jenis air tersebut pada dasarnya ada yang berasal dari langit, dan ada yang berasal dari bumi. Jika ditinjau dari pengamatan ilmu sains (burhani) sangat jelas bahwasanya air itu berasal dari dua tempat, yang turun dari langit dan yang bersumber dari bumi, akan tetapi pandangan ini jika tidak mencangkup semuanya jenis air, karena ada mu'jizat bahwasanya jemari nabi muhammad bisa mengeluarkan air dan digunakan untuk wudhu para sahabatnya, oleh karena itu pemahaman saintis saja tidak cukup untuk memahami sebuah realitas dan mengembangkan sebuah keilmuan, Prof Ibrahim Bajuri dalam karangannya menyebutkan bahwasanya asal usul air itu berasal dari satu saja, yaitu dari langit saja. Tidak ada air yang berasal dari bumi, hal ini berdasarkan keterangan Al-Quran surat azzumar ayat 21 "apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air dibumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan tanaman yang bermacam-macam". Akan tetapi suatu madhab mu'tazilah mempunyai hipostesa tersendiri yaitu bahwasanya semua air itu berasal dari bumi, yaitu laut, kemudian melalui proses ilmiah air tersebut dibawa kelangit (penguapan),kemudian diturunkan, begitu seterusnya sehingga menjadi sebuah siklus air, menurut hemat penulis pendapat dari madhab ini yang cenderung diikuti oleh ahli saintis abad moderen ini, Dari ketiga ini sudah selayaknya kita mengembangkan tiga nalar berpikir ala Prof Abid Jabiri untuk mengembangkan suatu keilmuan sehingga akan mucul suatu epistemologi keilmuan baru yakni asal-usul air dari tiga perspektif nalar berpikir, sehingga teori ilmu yang dihasilkan bisa lebih komprehensif.

Imam Nawawi Albantani, seorang cendekiawan terkemuka asal Banten, Indonesia mengemukakan dalam buku karangannya, Qutul Habibul Ghorib, bahwasanya air yang turun dari langit itu ada dua jenis, yang pertama yaitu air hujan yang kedua adalah air embun. Beliau berhipotesa bahwa salah satu keunikan dan keajaiban air embun adalah bahwa air embun itu bisa menerbangkan suatu. ia menyatakan, apabila kita mengambil sebutir telur, kemudian kita melubanginya dan mengeluarkan isinya kemudian kita isi telur tersebut dengan menggunakan embun, setelah itu tutup kembali lubang telur tersebut dengan malam, kemudian letakan telur tersebut diletakan diterik matahari, tepat waktu istiwa (ketika matahari tepat berada diatas kita, keadaan tanpa bayangan) telur tersebut akan terbang. Hemat penulis bahwasanya imam nawawi mengularkan pernyataan ini berdasarkan nalar pikir irfani (ilham ilahi), entah beliau sudah melakukan atau belum, yang penulis yakini bahwa apa yang ditulis oleh ulama dalam kitabnya bisa dipertanggungjawabkan dunia-akhirat oleh karenanya penulis berharap hipotesa ini bisa diteliti dengan menggunakan nalar burhani (saintifik) sehingga akan menghasilkan suatu penemuan yang bermanfaat untuk kehidupan manusia.

Sangatlah menarik kajian mengenai air embun sudah dipaparkan imam nawawi, oleh karenanya penulis tertarik melakukan sebuah kajian mengenai air yang turun dari langit juga, yaitu air hujan. Penulis menyimpulkan bahwa dalam Al-Quran terdapat 73 kata yang mengungkapkan makna hujan di dalam Al-Quran. 73 kata tersebut tersebar dalam 66 ayat dan menggunakan 20  kata jenis kata saja. Kedua puluh kata tersebut adalah As-Ṣayyib (الصيّب), Al-Wābil (الوابل), At-Ṭal (الطل),  Al-Maṭar (المطر), Al-Māˈ (الماء),  As-Samāˈ(السماء), As- Saḥāb (السحاب), Al- Ḥijārah (الحجارة), Al-Ḥusbāna (الحسبان),  Al- Wadq(الودق), Al-Baradu (البرد), Al-Kisafa (الكسف), Ar-Rīḥu (الريح), Al-Ḥāṣib (الحاصب), Al-Gaiṡ (الغيث), Ar-Riżq (الرزق), Al-'Āriḍu (العارض), Al-Wiqr (الوقر), Ar-Raj' (الرجع), ar-rahmah (الرحمة).

Penulis kemudian mengambil dua contoh kata yang bermakna hujan yaitu Kata Al-Ḥusbāna (الحسبان), Al-Ḥusbāna mempunyai makna hujan deras yang turun dari langit yang merupakan azab disertai petir, angin yang panas, gumpalan es yang sangat dingin yang menyebabkan tanah menjadi putih serta mengandung air asin sehingga tidak bisa ditumbuhi tanaman dan tidak bisa dilewati sehingga hilang kemanfaatanya. Dari sini penulis mengambil hipotesa berdasarkan nalar pikir bayani bahwa hujan dengan kata ini mereferentasikan hujan asam yang kita kenal sekarang, karena hujan ini mengandung air asin yang apabila mengenai tanah akan mengering dan mati, dan apabila mengenai dedaunan, akan mengering dan mati, dan hal ini sudah banyak sekali dikaji oleh cendekiawan dengan menggunakan nalar berpikir burhani (saintik), sangatlah indah jika suatu penelitian menggabungkan dua nalar berpikir ini bayani yaitu interpretasi dari teks (alquran hadist) dan dipadukan dengan nalar pikir burhani (saintik). kemudian penulis mengambil kata Kata Ar-Raj'. Prof Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir (2009:15/559) menyatakan bahwa makna Ar-Raj' bermakna kembalinya sesuatu kepada titik semula, yang dimaksudkan adalah hujan yang kembali ke bumi secara berulang yang turun dari langit, menghidupkan bumi yang mati serta menumbuhkan berbagai tanaman. Dari sini penulis menyimpulkan bahwa kata Ar-Raj' mempunyai tiga makna. Pertama adalah hujan yang turun setelah turunya hujan yang pertama, kedua adalah hujan kembali dari langit ke bumi seraca berulang-ulang (siklus air) dan menghidupkan bumi yang mati, ketiga adalah hujan yang kembali dan berulang setiap tahun. Perputaran siklus air ini merupakan hasil interpretasi nalar burhani dan bayani.

Dari keterangan ini, pembahasan sebuah kitab dengan tiga nalar berpikir tadi diharapkan akan menghasilkan suatu peradaban baru, yaitu peradaban yang cinta akan ilmu pengetahuan.

Mencari Kang Slamet Pasrah

Muhasabah Kebangsaan

MENCARI KANG  SLAMET PASRAH

Oleh Al-Zastrouw

Di dusun kami ada seseorang yg bernama Slamet. Tapi karena orangnya pasrah, _semeleh_ dan _legowo_ dia sering juga dipanggil Pasrah, sehingga kami  manyebutnya kang Slamet Pasrah

Kang Slamet alias Pasrah ini orangnya baik, ramah, suka senyum dan menyenangkan. Setiap orang yg bersamanya atau berada di dekatnya akan merasa damai dan tentram. Hatinya lembut dan gak pernah marah. Kalaupun marah tdk meluap2 dan memaki, tapi org merasa kalau dia sedang marah. Sesekali marah kalau melihat orang2 berlaku dholim dan tidak. 

Sikapnya yg seperti ini membuat Kang Slamet menjadi panutan orang sedusun. Apa yang dilakukan akan diikuti dan diterima masyarakat tanpa syarat. Apa yg dilarang dan siapa saja dibenci oleh kqng Slamet maka masyarakat akan ikut menjauhi dan membenci.

Selain karena perilakunya yg mulia, sikap masyarakat terhadap kang Slamet ini juga disebabkan oleh adanya pernyataan dari para sesepuh bahwa sesungguhnya yg paling  baik dan benar itu ya Slamet atau Pasrah. Barang siapa yg berteman atau mencontoh selain kang Slamet alias Pasrah maka orang tersebut tidak akan diterima oleh para sesepuh dusun tersebut.

Saking cinta dan tàatnyanya pada kang Slamet orang2 di dusun kami selalu  menjaganya. Pernah suatu saat masyarakat disuruh kumpul di lapangan oleh tokoh2 dusun dan org2 yg mengaku dekat dengan kang Slamet untuk membela kang Slamet yg katanya dilecehkan.  Maka dengan serta merta seluruh penduduk dusun berkumpul. Tak ada yg berani melawan perintah tersebut karena yg tdk ikut membela akan dikucilkan bahkan dicap sebagai pembangkang.

Yang menarik orang yg mengaku dekat kang Slamet itu sering memerintahkan warga dusun kami agat tidak mendekati orang atau tokoh lain meski hanya untuk sekedar bergaul, apalagi meniru gayanya. Katanya kang Slamet melarang kita melakukan hal itu. Mereka selalu ciriga pada orang lain dan memandangnya sebagai musuh, bukan sebagai tetangga yg perlu dihormati atau sesama manusia yg perlu dimuliakan. 

Pernah juga ada orang mencaci dan membenci sesama saudara katanya demi kang Slamet, menista dan merampas hak orang lain secara paksa demi menjaga mas Slamet. Bahkan ada yg rela pasang badan, mati demi membela kang Slamet. Terus terang aku kagum pada militansi  mereka, pada kegigihan dan semangat para pembela mas slamet yg sampe gelap mata dan gelap pikir sehingga tidak bisa melihat kenyataan secara jujur. Orang2 ini begitu tulus dan ikhlas mencintai dan membela mas Slamet karena ketaatan mereka pada dhawuh leluhur.

Sebenarnya orang-orang di dusun itu juga tahu bahwa ada beberapa orang yg melakukan semua itu demi ambisi politik, kekuasaan, materi dan eksistensi diri. Meskipun mereka bilang bahwa yg mereka lakukan itu demi menjaga dan membela kang Slamet. Mereka ini menjadikang kang Slamet sebagai topeng menutupi hasrat dan ambisi pribadinya. Namun orang2 ini diam karena takut dianggap melecehkan orang suci pembela mas Slamet, kalau menyampaikan hal ini. Pernah ada yg mencoba kritis dan mengkritik tindakan mereka yang tidak sesuai dengan kelakuan kang Slamet, namun dengan serta merta orang tersebut dihujat habis habisan. Mereka dianggap pemecah belah warga dusun, merusak persaudaraan bahkan ada yg sampe dianggap sesat segala. Ada juga yg dikucilkan dan  dimasukkan dalam rumah bantu yg ada di pojok dusun.

Melihat kelakuan orang2 di dusun ini saya jadi merenung. Yang dimaksudkan Slamet alias Pasrah dalam pesan yg disampaikan oleh para leluhur dusun itu apa? Apakah benar-benar sosok individu mas Slamet yg  ada di dusun kami yang sering juga dipanggil mas Pasrah karena kelakuannya yg selalu tuduk dan pasrah itu atau semua orang-orang yg selalu bisa memebar damai dan keselamatan pada sesama meskipun namanya tidak Slamet?

Pendeknya,  pesan memgenai Slamet ini sebenarnya makna tekstual (denotatif) atau makna subatantif (komotatif)  Artinya, kalau  Slamet alias Pasrah ini dimaknai dan dipahami secara tekstual simbolik, maka dia bisa berwujud manusia yang bernama Slamet. Dengan demikian yang diakui dan akan diterima oleh para leluhur dusun adalah orang atau sosok yang bernama Slamet alias Pasrah. Pemahaman ini membuat, orang berebut membela, mempertahankan dan menjaga figur atau sosok yang bernama Slamet alias Pasrah.  Kemudian berupaya manarik orang sebanyak2nya  agat bisa bersama kang Slamet. 

Sebaliknya, jika  Slamet alias pasrah itu dipahami secata konotatif-substantif maka dia berarti sikap, perilaku dan tindakan menebar keselamatan dan kedamaian sebagai wujud kepasarahan dan ketundukan kepada Yang Maha Kuasa.  Dengan demikian seseorang bisa saja menjadi Slamet asal bisa menjalankan laku hidup pasrah dan tunduk pada Allah serta menyebarkan keselamatan, kedamaian dan keadilan pada sesama, meskipun namanya bukan Slamet. 

Jika pemaknaan tekstual simbolik justru bisa memancing kegaduhan dan rawan dimanipulasi, mengapa kita tidak memaknainya secara konatatif substantif? Atau tetap saja menggunakan makna tekstual tetapi tetap menjaga dan menggunakan makna substasial sebagai ukuran menilai tindakan setiap warga yg ada di dusun kami. Dengan demikian kita akan mudah menemukan dan mengenali sosok kang Slamet diantara berbagai ragam kenyatàan yang ada.

Sebenarnya ingin sekali aku bertanya  dan melakikan konfirmasi pada leluhur yang menyampaikan pesan ini. Namun aku tak memiliki kemampuan unt berkomunikasi dengan mereka apalagi dg yang membuat pesan tersebut.

Setiap kali ada gerakan membela kang Slamet di dusun kami dengan  legiatan yg hingar bingar, pertanyaan ini selalu muncul. Karena pada saat seperti ini, saat terjadi kegaduhan atas nama kang Slamet aku juastru merasa sangat kehilangan kang Slamet dan menjadi jauh dari kang Slamet. Karena aku tdk melihat dan menemukan kang Slamet dalam kerumunan wajah sangat yg penuh kebencian dan prasangka.

Jika sudah demikian,  kembali aku harus menyimpan pertanyaan ini rapat-rapat dalam bilik  hatiku karena aku takut dibilang sesat,  merusak ukhuwah dan akidah jika kusampaikan hal ini pada mereka yg sudah merasa menemukan dan merasa dekat dengan mas Slamet alias mas Pasrah itu.***

Mengapa Seharusnya Kita Merujuk Ulama, Tidak Langsung ke al-Quran dan al-Hadits?

Dialog Seorang Pemuda dengan Kyai tentang Sumber Ilmu.....
Pemuda: Assalamu Alaikum, Kyai…
Pak Kyai: Wa alaikum Salam.. Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu?

Pemuda: Terima kasih Pak Kyai. Nama saya Abdullah dan saya berasal dari Kampung Seberang.

Pak Kyai: Jauh kamu bertandang ke sini, sudah tentu kamu punya hajat yang sangat besar. Apa hajatnya mana tahu mungkin saya boleh menolongmu?

Pemuda berjidat hitam tersebut diam sebentar sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

Pemuda: Begini Pak Kyai, saya datang ke sini bertujuan ingin berbincang beberapa permasalahan dengan Pak Kyai. Pendeknya, permasalahan umat Islam sekarang.
Pak Kyai: Permasalahan seperti apa itu anakku?

Pemuda: Saya ingin bertanya, mengapa Kyai-Kyai di kebanyakan pesantren di Indonesia, dan Tuan-Tuan Guru di Malaysia serta Pattani dan Asia umumnya sering kali mengajar murid-murid mereka dengan lebih suka mengambil kalam-kalam atau pandangan para ulama? Seringkali saya mendengar mereka akan menyebut: "Kata al-Imam al-Syafii, kata al-Imam Ibn Atho'illah al-Sakandari, Kata al-Imam Syaikhul Islam Zakaria al-Ansori dan lain-lain"

Mengapa tidak terus mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah? Bukankah lebih enak kalau kita mendengar seseorang tersebut menyebutkan "Firman Allah taala di dalam al-Quran, Sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di dalam hadis itu dan ini?"

Bukankah Ulama-ulama itu juga punya kesalahan dan kekurangan. Maka mereka juga tidak lari daripada melakukan kesilapan. Maka sebaiknya kita mengambil terus daripada kalam al-Ma'sum iaitu al-Quran dan al-Sunnah.

(Pak Kyai mendengar segala hujjah yang disampaikan oleh pemuda tersebut dengan penuh perhatian. Sedikit pun beliau tidak memotong malah memberikan peluang bagi pemuda tersebut berbicara sepuas-puasnya. Sambil senyuman terukir di bibir Pak Kyai, beliau bertanya kepada pemuda tersebut,)

Pak Kyai: Masih ada lagi apa yang ingin kamu persoalkan wahai nak Abdullah?
Pemuda: Sementara ini, itu saja yang ingin saya sampaikan Pak Kiyai.

Pak Kyai: Sebelum berbicara lebih lanjut, eloknya kita minum dahulu ya. Tiga perkara yang sepatutnya disegerakan adalah hidangan kepada tetamu, wanita yang dilamar oleh orang yang baik maka disegerakan perkawinan mereka dan yang ketiga, si mati yang harus disegerakan urusan pengkebumiannya. Betul kan Abdullah?

Pemuda: Benar sekali Pak Kyai .

(Pak Kiyai lalu memanggil isterinya bagi menyediakan minuman pada mereka berdua. Maka beberapa detik selepas itu minuman pun sampai di hadapan mereka.)

Pak Kyai: Silakan minum Abdullah.

(Setelah dipersilahkan oleh Pak Kyai, maka Abdullah pun terus mengambil bekas air tersebut lalu menuangkan perlahan-lahan ke dalam cawan yang tersedia.)

Pak Kyai terus bertanya: Abdullah, kenapa kamu tidak terus minum dari tekonya saja? Kenapa perlu dituang di dalam gelas?

Pemuda: Pak Kyai, mana bisa saya minum terus dari tekonya. Tekonya besar sekali. Maka saya tuang ke dalam gelas agar memudahkan saya meminumnya.

Pak Kyai: Abdullah, itulah jawaban terhadap apa yang kamu persoalkan tadi. Mengapa kita tidak mengambil langsung dari Al-Quran dan as-Sunnah? Terlalu besar untuk kami terus minum daripadanya. Maka kami mengambil apa yang telah dituang di dalam gelas para ulama. Maka ini memudahkan bagi kami untuk mengambil dan memanfaatkannya.

Benar kamu katakan bahwa mengapa tidak langsung saja mengambil daripada al-Quran dan al-Sunnah. Cuma persoalan ini kembali ingin saya lontarkan kepada kamu. Adakah kamu ingin mengatakan bahwa al-Imam al-Syafii dan para ulama yang kamu sebutkan tadi mengambil hukum selain dari Al-Quran dan Sunnah? Adakah mereka mengambil daripada kitab Talmud atau Bible?

Pemuda: Sudah tentu mereka juga mengambil dari Al-Quran dan Sunnah.

Pak Kyai: Kalau begitu, maka sumber pengambilan kita juga adalah Al-Quran dan Sunnah cuma dengan paham para ulama.

Pak Kyai: Satu lagi gambaran yang ingin saya terangkan kepada kamu. Saya dan kamu membaca Al-Quran, al-Imam al-Syafii juga membaca Al-Quran bukan?

Pemuda: Sudah tentu Pak Kyai.

Pak Kyai: Baik, kalau kita membaca sudah tentu kita ada memahami ayat-ayat di dalam Al-Quran tersebut bukan? Al-Imam al-Syafii juga memahami ayat yang kita bacakan. Maka persoalannya, pemahaman siapa yang ingin didahulukan? Pemahaman saya dan kamu atau pemahaman al-Imam al-Syafii terhadap ayat tersebut?

Pemuda: Sudah tentu pemahaman al-Imam al-Syafii karena beliau lebih memahami dibanding orang zaman sekarang.

Pak Kyai: Nah, sekarang saya rasa kamu sudah jelas bukan? Hakikatnya kita semua mengambil daripada sumber yang satu yaitu al-Quran dan Sunnah. Tiada seorang pun yang mengambil selain dari keduanya. Cuma bedanya, kita mengambil dari pemahaman al-Quran dan Sunnah tersebut dari siapa?

Sudah tentu kita akan mengambil dari orang yang lebih dalam ilmunya. Ini kerana mereka lebih wara' dan berjaga-jaga ketika mengeluarkan ilmu.

Kamu tahu Abdullah, al-Imam al-Syafii pernah ditanya oleh seseorang ketika beliau sedang menaiki keledai, berapakah kaki keledai yang Imam tunggangi?

Maka al-Imam al-Syafii turun dari keledai tersebut dan menghitung kaki keledai tersebut. Selesai menghitung, barulah al-Imam menjawab: "Kaki keledai yang aku tunggangi ada empat".

Orang yang bertanya tersebut merasa heran lalu berkata "Wahai Imam, bukankah kaki keledai itu memang empat, mengapa engkau tidak langsung menjawabnya?"

Al-Imam al-Syafii menjawab: "Aku bimbang, jika aku menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu, tiba-tiba Allah Ta'ala hilangkan salah satu kakinya maka aku sudah dikira tidak amanah di dalam memberikan jawaban"

Coba kamu perhatikan Abdullah, betapa wara'nya al-Imam al-Syafii ketika menjawab persoalan berkaitan dunia. Apalagi kalau berkaitan dengan agamanya?

Al-Imam Malik pernah didatangi oleh seorang pemuda di dalam majlisnya di Madinah al-Munawwarah. Pemuda tersebut mengatakan bahwa dia datang dari negeri yang jauhnya 6 bulan perjalanan daripada Madinah. Pemuda itu datang untuk bertanya satu masalah yang ada di lokasinya.

Al-Imam Malik, mengatakan bahawa "Maaf, aku tidak pandai untuk menyelesaikannya"

Pemuda tersebut heran dengan jawaban Imam Malik, dan dia bertanya: "Bagaimana aku akan menjawab nanti bilamana ditanya oleh penduduk tempatku?"

Maka kata al-Imam Malik: "Katakan kepada mereka bahwa Malik juga tidak mengetahui bagaimana untuk menyelesaikannya"

Allah… Coba kamu lihat Abdullah betapa amanahnya mereka dengan ilmu. Berbeda dengan manusia zaman sekarang yang baru setahun jagung di dalam ilmu sudah menepuk dada mengaku bahwa seolah-olah mereka mengetahui segalanya.

Pemuda: Masya Allah, terima kasih Pak Kyai atas penjelasan yang sangat memuaskan. Saya memohon maaf atas kekasaran dan keterlanjuran bicara saya .

Pak Kyai: Sama-sama Abdullah. Semoga kamu akan menjadi seorang yang akan membawa panji agama kelak dengan ajaran yang benar Insya Allah.

Semoga kita dapat mengambil Hikmah dan pelajaran dari kisah ini…