Esai Terhangat

Doa Meminta Berjumpa Ramadlan Tahun Depan

Oleh Ust Ma'ruf Khozin

Sudah banyak beredar doa akhir Ramadlan, ada yang sekedar doa dan ada yang menyebut sebagai doa Nabi shalallahu alaihi wa sallam.

Untuk yang kedua ini, karena saya bukan Al-Hafidz, maka saya coba menelusuri ke berbagai kitab induk hadis dengan kitab listrik (sebab kalau listrik padam dan baterai habis maka kitab tidak bisa dibuka), hasilnya belum ditemukan. Sementara ada beberapa web Arab yang sudah memvonis sebagai hadis palsu.

Doa tersebut adalah:

أللهم لا تجعله أخر العهد من صيامنا إياه فإن جعلته فاجعلني مرحوما ولا تجعلني محروما

"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan bulan Ramadlan ini sebagai bulan Ramadlan terakhir untuk puasa kami. Jika memang Engkau menjadikannya sebagai Ramadlan terakhirku, maka jadikanlah aku sebagai hamba yg Engkau beri rahmat, dan jangan jadikan aku sebagai hamba yg terhalangi dari rahmat-MU"

Jika sebagai doa maka boleh saja. Redaksi yang mirip telah diamalkan oleh seorang ulama besar di masa silam, yaitu Sufyan bin Uyainah, sejawat Imam Malik. Banyak kitab-kitab biografi ulama yang menulis bahwa Sufyan bin Uyainah ini dapat melakukan haji 60 kali. Setiap kali melakukan haji beliau berdoa dengan redaksi berikut:

ﻭﻳﺮﻭﻯ ﺃﻥ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻛﺎﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﻮﻗﻒ: اﻟﻠﻬﻢ ﻻ ﺗﺠﻌﻠﻪ ﺁﺧﺮ اﻟﻌﻬﺪ ﻣﻨﻚ

Diriwayatkan bahwa Sufyan bin Uyainah selalu berdoa di tempat Wukuf (Arofah): "Ya Allah, jangan jadikan ibadah haji tahun ini sebagai akhir perjanjian dari Mu"

ﻓﻠﻤﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﻌﺎﻡ اﻟﺬﻱ ﻣﺎﺕ ﻓﻴﻪ، ﻟﻢ ﻳﻘﻞ ﺷﻴﺌﺎ، ﻭﻗﺎﻝ: ﻗﺪ اﺳﺘﺤﻴﻴﺖ ﻣﻦ اﻟﻠﻪ -ﺗﻌﺎﻟﻰ.

Pada tahun Sufyan bin Uyainah wafat beliau tidak berdoa apapun. Ia berkata: "Saya malu kepada Allah" (Al-Hafidz Adz-Dzahabi, Siyar A'lam An-Nubala' 7/420)

NIAT PUASA: ROMADLONI ATAU ROMADLONA?

**

Penting dibaca...!

Kata ROMADLON termasuk Isim Ghairu Munshorif (karena isim alam dan tambahan alif dan nun),  apabila dalam kondisi i'rob Jer, maka alamatnya menggunakan FATHAH menjadi (ROMADLONA), namun apabila isim tersebut  disandarkan kepada lafadz setelahnya (diidlofahkan) atau kemasukan Alif-Lam (AL), maka tanda i'rob Jernya menggunakan KASROH menjadi ROMADHONI (NI) bukan (NA). 

Imam Ibnu Malik di dalam bait alfiyahnya berkata

وَجُرَّ بِالْفَتْحَةِ مَا لاَ يَنْصَرِفْ * مَا لَمْ يُضَفْ أَوْ يَكُ بَعْدَ أَلْ رَدِف

Dan dijerkan dengan FATHAH terhadap isim yang tidak menerima tanwin (Isim Ghairu Munshorif), selama tidak dimudhofkan atau berada setelah AL yang mengiringinya.

Jadi redaksi niat puasa Romadlon yang benar adalah sebagai berikut : 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فرضا لِلّه تَعَالَى

NAWAITU SHOUMA GHODIN 'AN ADAA-I FARDHI SYAHRI ROMADHOONI HADHIHIS-SANATI LILLAAHI TA'ALA.

Jika diterjemahkan adalah "aku niat puasa besok untuk melaksanakan kewajiban bulan Romadlon dari tahun ini, karena Allah ta'ala"

Nah, dalam redaksi niat di atas, apabila lafadz Romadlon dibaca Fathah (ROMADLONA) bukan (Ni) dengan tidak mengidlofahkan kepada lafadz setelahnya yaitu lafadz (HADZIHIS SANATI), maka lafadz (HADZIHIS SANATI) secara ilmu nahwu (gramatika bahasa arab) seharusnya menjadi Dhorof, yang harus dibaca HADZIHIS SANATA (TA) bukan (TI), karena status i'robnya adalah Nashob, sehingga redaksi niatnya menjadi sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةَ  لِلّه تَعَالَى
NAWAITU SHOUMA GHODIN 'AN ADAA-I: FARDHI SYAHRI ROMADHOONA HADHIHIS-SANATA FARDLON LILLAAHI TA'ALA.

Maka jika redaksinya sebagaimana di atas ini,  secara bahasa arab terjadi perubahan makna, menjadi sebagai berikut :

(Aku niat puasa besok, untuk melaksanakan kewajiban bulan Romadlon, selama setahun ini).

Kenapa begitu ?
Karena lafadz HADZIHIS SANATA status sebagai Dhorof yang menunjukkan waktu dilaksanakannya suatu pekerjaan yang dalam hal ini pekerjaannya adalah niat atau puasa, padahal niat hanya membutuhkan waktu beberapa detik, demikian halnya puasa hanya butuh beberapa jam tidak sampai satu tahun.

Sehingga apabila niat puasa memggunakan redaksi sebagaimana di atas ROMADLONA (NA) dan HADZIHIS SANATA (TA), maka redaksinya menjadi salah.

Oleh karena itu, redaksi niat yang benar adalah sebagaimana yang pertama di atas yaitu :

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ فرضا لِلّه تَعَالَى

NAWAITU SHOUMA GHODIN 'AN ADAA-I FARDHI SYAHRI ROMADHOONI HADHIHIS-SANATI FARDLON LILLAAHI TA'ALA.

Di dalam Kitab I'anatu at-Tholibin, juz 2/253, dijelaskan sebagai berikut :

يُقْرَأُ رَمَضَانِ بِالْجَرِّ بِالْكَسْرَةِ لِكَوْنِهِ مُضَافًا إِلَى مَا بَعْدَهُ وَهُوَ إِسْمُ اْلإِشَارَة

Romadloni (ni) dibaca jer dengan KASROH karena statusnya menjadi Mudlof kepada kalimat setelahnya yaitu isim isyaroh.

Kitab I'anah Thalibin

(قوله: نويت إلـخ) خبر عن أكملها: أي أكملها هذا اللفظ. (قوله: صوم غد) هو الـيوم الذي يـلـي اللـيـلة التـي نوى فـيها. (قوله: عن أداء فرض رمضان) قال فـي النهاية: يغنـي عن ذكر الأداء أن يقول عن هذا الرمضان. اهــــ. (قوله: بـالـجرّ لإِضافته لـما بعده) أي يقرأ رمضان بـالـجرّ بـالكسرة، لكونه مضافاً إلـى ما بعده، وهو اسم الإِشارة. قال فـي التـحفة: واحتـيج لإِضافة

Doa di Malam Ramadhan setelah Tarawih

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لَوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَإِلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَمِنْ حُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Mengapa Mereka Membenci Kiai Said Aqil?



Mencari orang ALIM itu sulitnya setengah mati. Dan lebih sulit lagi mencari orang ALIM plus BERANI.

Mencari orang alim saja banyak, tapi alim yang takut berhadapan dengan musuh, takut dibully, takut difitnah, takut diintimidasi dan takut-takut lainnya. Mencari orang berani saja banyak, tapi berani tanpa perhitungan, nekat tanpa siasat. 
Mencari orang alim sekaligus pemberani itu sulit, sesulit mencari semut hitam di batu hitam pada saat gelap gulita. Dalam zaman now setidaknya ada 2, yaitu Gus Dur dan Kiai Said.

Mengapa Gus Dur dan Kiai Said terkesan banyak dimusuhi? Ya karena beraninya itu. Coba bandingkan dengan ulama-ulama alim yang "cari selamat", yang diam saat ada kedhaliman di depan mata, yang ikut arus saja, tentu tidak banyak musuhnya. 

Tapi Gus Dur dan Kiai Said, sengaja pasang badan demi memperjuangkan sebuah kebenaran. Beliau berdua rela tak populer, rela difitnah, rela dinistakan demi memperjuangkan kebenaran yang diyakininya. Baik kebenaran dalam beragama (Islam) maupun kebenaran dalam bernegara (nasionalisme).

Beliau berdua berani berhadapan dengan penguasa jika berada pada jalan yang salah, berani berhadapan dengan perusak negara, perusak Islam dan para koruptor. Sehingga mereka yang terancam kepentingan busuknya pasti meradang dengan sepak terjang beliau berdua. Dan memang Kiai Said adalah anak ideologis, murid ideologis Gus Dur. Beliau berdua sama-sama ahli tasawuf dan seorang sufi, Gus Dur seorang "wali" dan Kiai Said seorang Guru Besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 

Jejak pendidikan Kiai Said begitu "sempurna", dari pesantren salafiah (kitab kuning) sampai universitas ultra kanan (al-Umm al-Qurra Mekkak), sebuah universitas berpaham wahabi. Dari santri pesantren "tradisional" sampai doktoral di bidang sejarah dan tasawuf, begitu "sempurna" hafalannya sehingga dijuluki kamus berjalan. 

Spesialisasi beliau di bidang perdebatan, siapapun yang berdebat dengan beliau dijamin lumpuh argumennya. Namun tidak semua dilayani debat, hanya orang-orang tertentu yang pantas untuk diajak debat. Jika kroco-kroco sekelas taman kanak-kanak pasti diabaikan dan dilihat sambil senyum saja. Sayang energi digunakan untuk debat dengan orang yang tak paham agama yang hanya bermodal semangat tapi nol besar dalam memahami esensi dari agama itu sendiri. Pengalaman fenomenal, beliau berhasil menundukkan "nabi" palsu al-Mushodeq dengan diajak debat sampai berhari-hari sehingga sang "nabi" palsu tersungkur argumennya dan akhirnya bertaubat. 

Karena pernah hidup puluhan tahun di negara wahabi, Arab Saudi, maka beliau paham betul "dapur" dan kelemahan wahabi khususnya dan gerakal Islam radikal lainnya, misalnya Ikhwanul Muslimin, yang berasal dari Timur Tengah. Karena paham betul adanya "udang di balik batu" dari gerakan wahabi, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan gerakan radikal Islam lainnya maka di masa kepemimpinannya sebagai Ketum PBNU bertujuan melumpuhkan paham wahabi, ikhwanul muslimin, hizbut tahrir dan kelompok radikal lainnya di Indonesia khususnya dan secara umum di seluruh dunia. 

Mengapa paham radikal tersebut perlu dikubur sedini mungkin? Karena jika dibiarkan, paham tersebut akan merusak Islam itu sendiri dan mencabik-cabik kesolidan NKRI. 

Kiai Said tahu betul kelemahan wahabi dan kelompok Islam radikal lainnya karena pernah menjadi bagian dari kelompok tersebut. Dan disaat balik menyerang kelompok-kelompok tersebut maka mereka tak terima dengan gebrakan Sang Kiai. Sehingga dimunculkanlah fitnah-fitnah dan character assasination (pembunuhan karakter) beliau dengan tuduhan syiah, liberal, perusak NU dari dalam, munafik, pembela kafir, antek Cina dan deretan fitnah keji lainnya yang dilontarkan kelompok Islam radikal. 

Pembelaan beliau yang sepertinya cenderung ke Jokowi, ke pemerintah, ke penguasa, bukan berarti beliau ulama penjilat, bukan berarti beliau dibayar dan bukan berarti beliau orangnya Jokowi dan fanatik. Hal ini terbukti bahwa ketika pilpres 2014 lalu beliau pendukung Prabowo, malahan sempat dicalonkan wapres mendampingi Prabowo walau beliau menolaknya. Dukungan beliau khususnya dan umumnya NU ke pemerintah itu tergantung kebijakan pemerintah tersebut dan bukannya karena telah digelontor sejumlah uang. Ketika kebijakan pemerintah sejalan dengan kepentingan umat dan rakyat maka akan didukung penuh dan sebaliknya ketiks kebijakan atau program pemerintah menyengsarakan umat dan rakyat maka akan dikritiknya, tentu dengan cara yang elegan bukan dengan cara bikin hoax, menjelek-jelekkan pemerintah dan menggembosi pemerintah. 

Dukungan Kiai Said yang terkesan ke Jokowi bukan berarti beliau pendukung fanatik Jokowi tapi karena demi Islam dan Indonesia. Hsl ini disebabkan karena capres "yang itu" didukung penuh oleh kelompok Islam radikal. Hal ini sangat berbahaya bagi keberlangsungan Islam dan Indonesia. Jika mereka menang bisa dipastikan Indonesia akan di-Suriahkan, di ISIS kan dan liluh lantak bagai negara-negara Timur Tengah akibat ulah kelompok Islam radikal. 

Jadi mereka yang memusuhi Kiai Said adalah orangnya itu-itu juga. Orang-orang tersebutlah yang memusuhi NU sampai menarget untuk membubarkan NU tahun 2025.

Orang-orang NU yang selama ini termakan hasudan kelompok pembenci Kiai Said haruslah segera sadar bahwa kalian sebenarnya dibenturkan dengan NU dan dijauhkan dari ulama NU dengan tujuan akhir NU ditinggalkan umatnya. Jika NU sudah ditinggalkan umatnya maka NU kropos dan mudah untuk dilenyapkan. Dengan bubarnya NU takkan lama Indonesia dikuasainya, karena penyokong utama Indonesia adalah NU. Barang siapa ingin menguasai Indonesia maka lumpuhkan dulu NU. 

Namun mereka salah prediksi, kiranya itu mudah membubarkan NU. Mereka belum tahu bahwa NU itu layaknya per/pegas,semakin ditekan justru semakun kuat NU. Ya Jabbar Ya Qahhar. NU never die.

Salam Islam Nusantara

(Idwamul Ngula)

KISAH KEDERMAWANAN ABUYA SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI


****************
Pada bulan haji, selesai thowaf di Masjidil Haram Makkah, para santri santri melaksanakan ibadah sa'i bersama abuya as Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki, sembari mendorong kereta duduk beliau, mereka para santri santri mengelilingi beliau, agar tidak disalamin banyak orang demi keamanan dan kenyamanan beliau, setelah usai melaksanaka ibadah sa'i para santri keluar, ada salah satu santri yang bertugas mencari taksi.

Beberapa saat kemudian datanglah mobil taksi tersebut, yang cukup untuk membawa beliau dan para santri santrinya.

Taksi tersebut didapat dengan harga 150 Real, harga yang dibilang cukup mahal pada saat itu.

Akhirnya rombongan pun masuk ke dalam mobil taksi. Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki duduk di kursi depan bersama sopir.

Lalu Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki pun memulai berbincang bincang dengan pak sopir taksi. Layaknya seorang penumpang biasa ngobrol dengan sopir dengan akrab. Ternyata sopir taksi tersebut juga pernah mengaji kepada Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki.

Maka makin asyiklah perbincangan mereka berdua, sambil menelusuri jalan kota Makkah yang saat itu semua jalan dialihkan melalui tempat yang sangat jauh.

Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki sesekali membahas jalanan Makkah, masalah madrasah, masalah santri dan lain-lain dengan sang sopir.

Lalu Abuya Sayyid Muhammad menoleh pada santri di belakang yang membawa tas pribadinya yang berisi uang. Beliau berkata dengan pelan, "tambahi 50 real".

Pembicaraan kemudian berlangsung lebih akrab lagi. Lalu beliau menoleh lagi ke belakang sambil berkata, "tambahi 50 real".

Lalu pembicaraan pun terus berlanjut, sesekali Abuya Sayyid Muhammad menoleh ke belakang dan mengatakan seperti tadi. "Tambahi 50 real, tambahi 100" dan seterusnya. Hingga amplop yang tadinya berisi hanya 150 real (sebagai ongkos taksi) bertambah menjadi 600 real.

Sesampainya di depan rumah beliau di Rosyaifah, sang sopir taksi itu langsung cepat keluar membukakaan pintu untuk Abuya Sayyid Muhammad. Lalu Abuya meminta amplop yang sudah diisi 600 real tadi untuk diberikan kepada sang sopir taksi tersebut.

Namun sang sopir taksi itu menolak pemberian amplop Abuya sambil bersumpah-sumpah. "Demi Allah yaa Sayyidi, kalau aku tau yang menawar mobilku tadi adalah Sayyidi, maka aku tidak akan mematok harga".

Lalu beliau menjawab. "Ya Akhi, ana tau kalau engkau ikhlas dalam mengantarkan kami, namun bukankah Allah SWT telah berfirman;

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ .(الرحمن.60)

"Dan bukankah balasan dari kebaikan adalah kebaikan pula?"

Akhirnya sopir tersebut dengan berat hati menerima pemberian yang berbalut untaian kalimat ayat indah itu. Entahlah apa yang terpikir di benak sopir tersebut setelah mematok harga 150 real, bahkan mendapat 600 real.

"Subhanallah"

Sumber. Majalah Mafahim.

-----------------------------
Mudah-mudahan kisah ini menjadi semangat kita untuk tetap bisa meniru akhlak para ulama'  dan salafus sholeh, yang sebagai pewaris Nabi, serta mudah-mudahan bisa menambah kecintaan kita kepada para ulama' dan juga kepada ABUYA SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI, dengan harapan kita mendapat keberkahannya, dan di akhirat kelak semoga kita diakui sebagai hamba yang mencintai para ulama' dan mendapatkan syafaatnya baginda Rasulillah Muhammad SAW. Amiin Yaa Rabbal Alamin..

الفاتحة لابوي السيد محمد بن علوي بن عباس المالكي الحسنيي المكي بان الله يعلى درجا تهم في الجنة ويعيد علينا من اسرارهم وانوارهم وعلومهم وبركاتهم في الدين والدنيا والاخرة بسرالفاتحة

Oleh : Ust. Toha Mahsun
Dari Cerita Para Wali

Keutamaan Salat Tarawih Ramadhan Malam 1 sampai 30



Di dalam kitab Durratun Nashihin Fil Wa'zhi wal Irsyad karya Syaikh 'Utsman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al Khubari (seorang ulama yang hidup di abad ke-9 Hijriyah) terdapat hadits mengenai fadhilah atau keutamaan shalat tarawih pada malam-malam bulan Ramadhan.

Berikut teks hadits tersebut:

عن علي بن ابي طالب رضي الله تعالى عنه أنه قال: " سئل النبي عليه الصلاة والسلام عن فضائل التراويح فى شهر رمضان فقال
يخرج المؤمن ذنبه فى اول ليلة كيوم ولدته أمه

Dari Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku bertanya kepada Nabi Muhammad tentang keutamaan (shalat) tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau berkata:

1. Malam pertama, dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.

 

وفى الليلة الثانية يغفر له وللأبوية ان كانا مؤمني

2. Malam kedua, dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuanya jika keduanya beriman.

 

وفى الليلة الثالثة ينادى ملك من تحت العرش؛ استأنف العمل غفر الله ماتقدم من ذنبك

3. Malam ketiga, malaikat memanggil dari bawah 'Arsy: 'Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu!'

 

وفى الليلة الرابعة له من الاجر مثل قراءة التوراه والانجيل والزابور والفرقان

4. Malam keempat, baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Furqan (Alquran).

 

وفى الليلة الخامسة أعطاه الله تعالى مثل من صلى في المسجد الحرام ومسجد المدينة والمسجد الاقصى

5. Malam kelima, Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Aqsha.

وفى الليلة السادسة اعطاه الله تعالى ثواب من طاف بالبيت المعمور ويستغفر له كل حجر ومدر

6. Malam keenam, Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi Baitul Makmur dan bebatuan pun memohonkan ampunan baginya.

 

وفى الليلة السابعة فكأنما أدرك موسى عليه السلام ونصره على فرعون وهامان

7. Malam ketujuh, seakan-akan dia bertemu Musa As dan kemenangannya atas firaun dan Haman.

 

وفى الليلة الثامنة أعطاه الله تعالى ما أعطى ابراهيم عليه السلام

8. Malam kedelapan, Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim 'Alaihis Salam.

وفى الليلة التاسعة فكأنما عبد الله تعالى عبادة النبى عليه الصلاة والسلام

9. Malam kesembilan, seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi ﷺ

 

وفى الليلة العاشرة يرزقة الله تعالى خير الدنيا والآخر

10. Malam kesepuluh, Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.

 

وفى الليلة الحادية عشر يخرج من الدنيا كيوم ولد من بطن أمه

11. Malam kesebelas, dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya.

 

وفى الليلة الثانية عشر جاء يوم القيامة ووجهه كالقمر ليلة البدر

12. Malam keduabelas, pada hari kiamat dirinya akan datang seperti bulan di malam purnama.

 

وفى الليلة الثالثة عشر جاء يوم القيامة آمنا من كل سوء

13. Malam ketigabelas, pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan.

 

وفى الليلة الرابعة عشر جاءت الملائكة يشهدون له أنه قد صلى التراويح فلا يحاسبه الله يوم القيامة

14. Malam keempatbelas, Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat tarawih dan kelak Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.

 

وفى الليلة الخامسة عشر تصلى عليه الملائكة وحملة العرش والكرسى

15. Malam kelimabelas, para malaikat dan para malaikat pembawa 'Arsy dan kursi bershalawat kepadanya.

 

وفى الليلة السادسة عشر كتب الله له براءة النجاة من النار وبراءة الدخول فى الجنة

16. Malam keenambelas, Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.

 

وفى الليلة السابعة عشر يعطى مثل ثواب الأنبياء

17. Malam ketujuhbelas, diberikan pahala seperti pahala para Nabi.

 

وفى الليلة الثامنة عشر نادى الملك ياعبدالله أن رضى عنك وعن والديك

18. Malam kedalapanbelas, para malaikat memanggil, 'Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu dan meridhai kedua orang tuamu.'

 

وفى الليلة التاسعة عشر يرفع الله درجاته فى الفردوس

19. Malam kesembilanbelas, Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus.

 

وفى الليلة العشرين يعطى ثواب الشهداء والصالحين

20. Malam keduapuluh, dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh.

وفى الليلة الحادية والعشرين بنى الله له بيتا فى الجنة من النور

21. Malam keduapuluh satu, Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga.

 

وفى الليلة الثانية والعشرين جاء يوم القيامة آمنا من كل غم وهم

22. Malam keduapuluh dua, pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan.

 

وفى الليلة الثالثة والعشرين بنى الله له مدينة فى الجنة

23. Malam keduapuluh tiga, Allah membangun baginya sebuah kota di surga.

 

وفى الليلة الرابعة والعشرين كان له اربعه وعشرون دعوة مستجابة

24. Malam keduapuluh empat, dikatakan kepadanya, 'Ada 24 doa yang dikabulkan.'

 

وفى الليلة الخامسة والعشرين يرفع الله تعالى عنه عذاب القبر

25. Malam keduapuluh lima, Allah mengangkat siksa kubur darinya.

 

وفى الليلة السادسة والعشرين يرفع الله له ثوابه أربعين عاما

26. Malam keduapuluh enam, Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama.

 

وفى الليلة السابعة والعشرين جاز يوم القيامة على السراط كالبرق الخاطف

27. Malam keduapuluh tujuh, pada hari kiamat ia akan melintasi Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar.

 

وفى الليلة الثامنة والعشرين يرفع الله له ألف درجة فى الجنة

28. Malam keduapuluh delapan, Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga.

 

وفى الليلة التاسعة والعشرين اعطاه الله ثواب الف حجة مقبولة

29. Malam keduapuluh Sembilan, Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima.

 

وفى الليلة الثلاثين يقول الله: ياعبدى كل من ثمار الجنة واغتسل من مياه السلسبيل واشرب من الكوثرأنا ربك وأنت عبدى"

30. Malam ketigapuluh, Allah berfirman: Wahai hamba-Ku makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah dari air Salsabila, minumlah dari telaga kautsar, aku Tuhanmu dan engkau adalah hamba.

Semoga kita bisa melaksanakan tarawih genap mulai tanggal 1 sampai 30 Amiin.. .
Error Icon

Message blocked

Your message toredaksingrukem.mantab@blogger.com has been blocked. See technical details below for more information.
LEARN MORE
The response was:

Message rejected. Seehttps://support.google.com/mail/answer/69585for more information.

Tampilkan kutipan teks

MENGURAI SALAH PAHAM TENTANG MERAPATKAN & MELURUSKAN SHAFF



Oleh : Abdullah Al Jirani

Awalnya, kami ingin menyusun artikel tentang permasalahan "meluruskan dan merapatkan shaff" secara luas dan detail. Akan tetapi, karena telah ada beberapa penulis yang menyusunnya, maka niat tersebut kami urungkan. Kali ini kami hanya akan fokus untuk membahas kekeliruan dalam hal memahami dan mengamalkan hadits-hadits tentang merapatkan dan meluruskan shaff saja. Dikarenkan masih sangat sedikit yang membahasnya. 

Telah dimaklumi bersama, bahwa sebagian saudara-saudara kita, mempraktekkan hadits-hadits tentang merapatkan shaff dengan cara menempelkan mata kaki dengan mata kaki dan bahu dengan bahu ketika mulia shalat. Bahkan ada kejadian-kejadian yang lebih dari itu, seperti kondisi "mengangkang", "mengejar" kaki orang lain, dan "tarik baju orang" yang tidak menempelkan mata kakinya.

Insya Allah, kita akan bahas masalah ini secara obyektif dan adil. Tanpa ada niatan untuk menyudutkan atau ingin merendahkan pihak tertentu. Akan tetapi, hanya semata upaya untuk meluruskan suatu permasalahan yang telah berlangsung lama dan diyakini sebagai sesuatu yang benar.

Mereka yang berpendapat bahwa merapatkan shaff dengan cara menempelkan mata kaki dengan mata kaki dan bahu dengan bahu, berdalil dengan beberapa hadits. 

Diantaranya hadits dari Anas bin Malik –radhiallohu 'anhu- beliau berkata, Rosulullah –shollallahu 'alaihi wa sallam- bersabda :

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي، وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ، وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ»

"Luruskan shaff-shaff kalian ! maka sesungguhnya aku aku melihat kalian dari belakang punggungku." (Anas bin Malik berkata ) : Dan adalah salah satu dari kami melekatkan pundaknya dengan pundak sahabatnya dan telapak kakinya dengan telapak kaki sahabatnya." [ HR. Al-Bukhari : 725 ].

Hadits ini bisa dijelaskan dari beberapa sisi : 

[1]. Yang dimaksud dengan kata "melekatkan/menempelkan" pundak dengan pundak dan telapak kaki dengan telapak kaki, bukanlah makna hakiki. Akan tetapi suatu kata yang dimaksudkan untuk "penyangatan" saja. Bukan benar-benar nempel antara mata kaki dan pundah. Hal ini dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- :

الْمُرَادُ بِذَلِكَ الْمُبَالَغَةُ فِي تَعْدِيلِ الصَّفِّ وَسَدِّ خَلَلِهِ

"Yang diinginkan dengan hal itu, berlebihan/penyangatan dalam meluruskan shaf dan menutup (mengisi) celah-celahnya (yang masih kosong)." [ Fathul Bari : 2/211 ].

Jadi makna hadits di atas, para sahabat berusaha untuk merealisasikan perintah nabi untuk meluruskan dan merapatkan shaf dengan sangat baik, sampai "seolah-olah" mereka menempelkan mata kaki dan pundak mereka dikarenakan sangat rapatnya. Bukan berarti benar-benar nempel. Ini salah satu uslub bahasa Arab dimaklumi oleh siapapun yang telah mempelajarinya.

Dalam bahasa Indonesia pun ada seperti ini. Misalnya ketika kita mau dipinjami uang oleh teman kita, maka kita akan menjawab : "Maaf, saya lagi tidak punya uang." Jawaban ini bukan berarti kita tidak punya uang sama sekali. Akan tetapi maksudnya, kita punya uang cuma sedikit, "seolah-olah" tidak punya uang.Atau kalau kita sebagai seorang ustadz, lalu kita bicara kepada hadirin : "Mohon duduknya merapat !". Bukan berarti harus sampai nempel kaki dan badan mereka. Kalau demikian, nanti malah tidak bisa atau minimal terganggu saat mau menulis. Disamping juga ada rasa risi tentunya.

Ternyata, pemahaman Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- terhadap hadits di atas, merupakan pemahaman aimatul arba'ah (Imam Madzhab yang empat, yaitu Abu Hanifah, Malik bin Anas, Asy-Syafi'i dan Ahmad bin Hambal). Seperti apa yang telah dinyatakan oleh Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri Al-Hindi (w.1353 H) –rahimahullah- :

قال الحافظ: المراد بذلك المبالغة في تعديل الصفِّ وسدِّ خلله. قلتُ: وهو مراده عند الفقهاء الأربعة

"Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata : "Yang diinginkan dengan hal itu, berlebihan/penyangatan dalam meluruskan shaf dan menutup (mengisi) celah-celahnya (yang masih kosong)." Aku (Al-Kasymiri) berkata : DAN INILAH (MAKNA) YANG DIINGINKAN OLEH PARA IMAM YANG EMPAT." [Faidhul Bari 'Ala Shahih Al-Bukhari : 2/302 ].

Jika imam madzhab yang empat saja TELAH SEPAKAT memahami demikian, maka pemahaman yang keluar darinya, berarti telah menyelisihi pendapat yang disepakati oleh mereka. Dan seperti ini, dikatagorikan oleh Imam Al-Qarafi –rahimahullah- "seperti" menyelisihi ijma' (konsensus ulama'). Artiya, kesepakatan mereka memiliki kedudukan yang sangat kuat, hampir-hampir mendekati ijama''.Sehingga sangat tercela jika ada yang menyelisihinya.

Imam Ibnu Rajab Al-Hambali –rahimahullah- berkata :

وحديث أنس هذا يدل على أن تسوية الصفوف : محاذاة المناكب و الأقدام

"Hadits Anas ini menunjukkan, sesungguhya meluruskan shaf itu (maksudnya) : pundak dan kaki setentang/sejajar (bukan nempelnya yang diinginkan)." [ Fathul Bari : 6/282 ].

Seorang alim salafy, asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah- juga menjelaskan sebagaimana yang dipahami oleh para imam yang telah berlalu penyebutannya. Bahkan beliau menambahkan, bahwa penempelan mata kaki dengan mata kaki dan pundak dengan pundak itu hanya sarana (alat ukur) untuk menentukan kelurusan dan kerapatan shaf saja. Begitu sudah lurus, tidak ditempelkan lagi. 
Kemudian shalat baru dimulai. 

Beliau –rahimahullah- berkata :

الصحابة -رضي الله عنهم- فإنهم كانا يسوون الصفوف بإلصاق الكعبين بعضهما ببعض ، أي أن كل واحد منهم يلصق كعبه بكعب جاره لتحقق المحاذاة وتسوية الصف، فهو ليس مقصوداً لذاته لكنه مقصود لغيره كما ذكر بعض أهل العلم، ولهذا إذا تمت الصفوف وقام الناس ينبغي لكل واحد أن يلصق كعبه بكعب صاحبه لتحقق المساواة،وليس معنى ذلك أن يلازم هذا الإلصاق ويبقى ملازماً له في جميع الصلاة.

"Para sahabat, sesungguhnya mereka meluruskan shaf dan melekatkan dua mata kaki sebagian mereka dengan sebagian yang lain, ARTINYA : sesungguhnya tiap satu dari mereka melekatkan mata kaki dengan mata kaki orang di sampingnya UNTUK MEWUJUDKAN  KESETENTANGAN DAN KELURUSAN SHAF. Dan ini (melekatkan mata kaki dan pundak), bukanlah sesuatu yang dimaksudkan. Akan tetapi ia merupakan sesuatu yang dimaksudkan untuk (mewujudkan) sesuatu yang lain, sebagaimana hal ini telah disebutkan oleh para ulama'. Oleh karena itu, jika shaf telah sempurna (penuh) dan manusia telah berdiri, seyogyanya setiap orang untuk menempelkan mata kakinya dengan mata kaki temannya untuk merealisasikan kelurusan (shaf). BUKANLAH HAL ITU BERMAKNA, BAHWA SEORANG HARUS MENEMPELKAN(NYA) SECARA TERUS SEPANJANG SHALATNYA." [Fatawa Arkanil Islam : 312 ].

Pendekatan penjelasan Asy-Syaikh –rahimahullah- di atas seperti ini. Dalam baris berbaris, ada perintah dengan istilah "Lencang kanan" atau "setengah lencang kanan". Dua perintah ini, hanyalah "alat" untuk meluruskan dan merapatkan barisan. Nanti setelah lurus, maka tangan diturunkan. Bukan berarti tangan harus lencang terus. Ini perkara yang kita maklumi bersama.

Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid–rahimahullah- berkata : 

فهذا فَهْم الصحابي - رضي الله عنه - في التسوية: الاستقامة, وسد الخلل, لا الإِلزاق وإِلصاق المناكب والكعاب

"Makna ini (apa yang disampaikan Ibnu Hajar) merupakan pemahaman para sahabat –radhiallahu 'anhum- dalam meluruskan (shaf), yaitu : lurus dan menutup celah, bukan melekatkan dan menempelkan pundak dan mata kaki." [ La Jadida fi Ahkamish Shalat : 12 ].

[2].Bahkan, amaliah sebagian orang yang melekatkan mata kaki dan pundak mereka dengan mata kaki dan pundak orang yang ada di samping kanan dan kiri mereka, termasuk perbuatan yang ghuluw (melampaui batas), takalluf (memaksakan diri) serta aneh. Kenapa ? karena tidak ada satupun dalil yang menujukkan kepadanya dan tidak ada para ulama' –sejauh pengetahuan kami- yang memahami dan mengamalkan demikian.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah- berkata :

ومن الغلو في هذه المسألة ما يفعله بعض الناس من كونه يلصق كعبه بكعب صاحبه ويفتح قدميه فيما بينهما حتى يكون بينه وبين جاره في المناكب فرجة فيخالف السنة في ذلك، والمقصود أن المناكب والأكعب تتساوى

"Termasuk perbuatan ghuluw (melampaui batas) dalam masalah ini (merapatkan dan meluruskan shaf), apa yang dilakukan oleh sebagian manusia, berupa melekatkan mata kakinya dengan mata kaki sahabatnya, dan membuka kedua kakinya (ngangkang) di antara keduanya, sehingga terjadi celah/jarak antara pundaknya dengan pundah temannya. Maka dia telah menyelisihi sunnah dalam hal itu. Padahal yang dimaksud, pundak-pundak dan mata kaki-mata kaki itu bisa lurus (bukan melaekatnya)." [ Fatawa Arkanil Islam : 312 ].

Asy-Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid–rahimahullah- berkata : 

فإِن إِلزاق العنق بالعنق مستحيل, وإِلزاق الكتف بالكتف في كل قيام, تكلف ظاهر. وإِلزاق الركبة بالركبة مستحيل, وإِلزاق الكعب بالكعب, فيه من التعذر, والتكلف

"Melekatkan pundak dengan pundak dalam setiap berdiri (ketika shalat) termasuk perbuatan takalluf (memberatkan diri) yang sangat jelas. Melekatkan lutut dengan lutut, perkara yang mustahil. Melekatkan mata kaki dengan mata kaki, di dalamya terdapat perkara yang sangat sulit (terwujud) dan memberatkan diri." [ La Jadida : 11 ].

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan –hafidzahullah- berkata :

وليس معنى رص الصفوف ما يفعله بعض الجهال اليوم من فحج رجليه حتى يضايق من بجانبه؛ لأن هذا العمل يوجد فرجا في الصفوف، ويؤذي المصلين، ولا أصل له في الشرع

"Bukanlah makna merekatkan shaf, apa yang dilakukan oleh sebagai orang-orang bodoh di hari ini berupa perenggangan (ngangkang) kedua kakiya sampai menyempitkan orang yang di sisinya. Karena sesungguhnya amalan ini akan didapatkan celah di dalam shaf, menganggu orang yang shalat, serta tidak ada asalnya dalam syari'at." [ Al-Mulakhash Al-Fiqhi : 124 ]. 

[3]. Merapatkan shaf, bukan berarti tanpa ada celah. Akan tetapi diperlukan celah untuk mendapatkan kenyamanan dalam melakukan gerakan-gerakan shalat. Dimana kadar celahnya tidak terlalu lebar, namun juga tidak sampai mepet/nempel. Celah yang dilarang itu jarak antara dua orang yang bershaf yang bisa di isi oleh satu orang atau lebih. 
Adapun jika kurang dari itu, maka ini dianjurkan.

Imam Muhammad Anwar Syah Al-Kasymiri Al-Hindi –rahimahullah- menyatakan :

أي أن لا يَتْرُكَ في البين فرجةً تَسَعُ فيها ثالثًا. بقي الفصل بين الرجلين: ففي «شرح الوقاية» أنه يَفْصِلُ بينهما بقدر أربع أصابع، وهو قول عند الشافعية، وفي قولٍ آخر: قدر شبر.

"Artinya : Janganlah seorang meninggalkan celah/jarak di antara (dia dan orang di sampingnya) yang bisa digunakan untuk satu orang ketiga di dalamnya. Telah tetap adanya jarak antara kedua kaki. Di dalam "Syarh Al-Wiqayah" : Sesungguhnya seorang menyela di atara keduanya seukuran EMPAT JARI. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi'iyyah. Dalam pendapat lain, : satu jengkal." [ Faidhul Bari : 2/302 ].

Jadi yang dimaksud sabda nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam- :

وسدوا الخلل ولا تذروا فرجات للشيطان

"Tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah-celah untuk syetan."

Maksudnya, yang dilarang adalah meninggalkan celah yang bisa ditempati oleh satu orang. Bukan berarti tidak ada celah/jarak sama sekali. Seperti kalau nabi memerintahkan kita untuk shalat di awal waktu, bukan berarti kita sudah harus takbiratul Ihram pas detik pertama waktu shalat masuk. Tapi ada jaraknya, untuk berpakaian, untuk wudhu, dan juga berjalan ke masjid. Ini perkara yang dimaklumi bersama. Simak ucapan Ibnu Daqiqil Ied dalam kitabnya "Al-Ihkam" : 2/38.

Hal ini didasarkan berbagai indikasi, diantaranya : 

■Kita diperintah untuk melembutkan diri dalam bershaf. Dan hal itu tidak akan terwujud kecuali ada jarak di antara orang-orang yang shalat.  Sebagaimana dalam sebuah hadits, Nabi –shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda :

خياركم أَلينكم مناكب في الصلاة

"Sebaik-baik kalian adalah yang paling lunak/lembut pundaknya di dalam shalat." [ HR. Abu Dawud ].

Menurut Al-Khathabi –rahimahullah- Kalimat  "paling lembut pundaknya", maknanya : 

ومعناه لزوم السكينة في الصلاة, والطمأْنينة فيها, لا يلتفت ولا يحاك منكبه منكب صاحبه

"Terus menerus tenang dalam shalat, tidak menoleh dan pundaknya tidak memotong (mengoyang) pundak orang lain." [ Ma'alim Sunan lewat "La Jadida" : 14 ].

Menurut Al-Munawi –rahimahullah- : 

ولا يُحاشر منكبُهُ منكبَ صَاحِبه

"Pundaknya jangan sampai berdesakan dengan pundak sahabatnya."[Faidhul Qadir : 3/466]. 

■Dalam sebagian gerakan-gerakan shalat, sangat membutuhkan adanya jarak antara orang yang satu dengan yang lain, seperti mengangkat tangan ketika takbir, saat bersedekap, posisi tangan saat rukuk dan sujud yang dijauhkan dari tubuh, saat duduk tasyahhud terkhusus ketika tasyahhud akhir dengan posisi tawwaruk.

Apakah bisa jika tidak ada jarak, kita mengamalkan hadits nabi yang memerintahkan kita untuk merengangkan atau menjauh tangan dari rusuk saat sujud misalkan ? tidak bisa. 
Oleh karena itu standar jarak dalam bershaf, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab "Bughyatul Mustarsyidin" (140) :

وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق

"Dan jarak yang dianggap (diakui) dalam lebar shaf-shaf dengan apa yang seorang bisa mempersiapkan dan mengatur shalat. Dan ia adalah apa yang secara adat mencukupi mereka, orang-orang yang bershaf tanpa berlebihan dalam keluasan dan kesempitan."

Adapun hadits dari An-Nu'man bin Al-Basyir –radhiallohu 'anhu- berkata :

وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ

"Aku melihat seorang dari kami melekatkan mata kakinya dengan mata kaki sahabatnya." 

Ucapan ini disebutkan oleh Al-Bukhari dalam "Shohih-nya" secara mu'allaq (1/146) di bawah Bab : "Melekatkan Pundak Dengan Pundak Dan Telapak Kaki Dengan Telapak Kaki Di Dalam Shaf" [ Lihat "Al-Fath" : 2/122 ].

Maka ada beberapa jawaban :

»Pertama : Jika memang tata cara merapatkan shaf dengan cara menempelkan mata kaki dengan mata kaki dan pundak dengan pundak, kenapa yang mengamalkan hanya "seorang" saja ? kemana yang lain dari para sahabat. Padahal, para sahabat adalah generasi yang paling bersemangat dalam kebaikan dan sunnah.

Bahkan dalam "Musnad Al-Mushili" disebutkan, bahwa perbuatan tersebut disempat dicela oleh Anas bin Malik :

قَالَ أَنَسٌ: «لَقَدْ رَأَيْتُ أَحَدَنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ، وَلَوْ ذَهَبْتَ تَفْعَلُ ذَلِكَ الْيَوْمَ لَتَرَى أَحَدَهُمْ كَأَنَّهُ بَغْلٌ شَمُوسٌ» 

"Anas bin Malik berkata : Sungguh aku melihat salah satu dari kami melekatkan pundaknya dengan pundah sahabatnya, kakinya dengan kaki sahabatnya. Seandainya hari ini kami melakukan hal ini lagi, sungguh kamu akan melihat salah satu dari mereka seperti bighal (peranakan kuda dan keledai) yang menentang/melawan."[ 6/381 ].

»Kedua : Makna melekatkan di situ bukan makna hakiki, akan tetapi makna majazi, artinya penyangatan dalam lurus dan rapat. Bukan benar-benar nempel.

»Ketiga : Itu dilakukan hanya untuk wasilah (perantara) meluruskan dan merapatkan shaf saja. Jika sudah lurus, maka tidak nempel lagi. Lihat keterangan sebelumnya dari ucapan Asy-Syaikh Ibnu 'Utsaimin –rahimahullah-.

[4]. Amaliah merapatkan mata kaki dengan mata kaki dan pundak dengan pundak ketika bershaf, tidak mungkin akan konsisten. Karena jika konsisten, mereka harus melakukannya dalam seluruh keadaan ketika shalat, dari takbir pembukaan sampai salam. Dan ini perkara yang tidak mungkin terwujud seperti ketika posisi sujud, atau duduk di antara dua sujud, atau duduk tasyahhud (awal ataupun akhir), dan yang lainnya. Ini semua justru menjadi indikasi tambahan, bahwa dibutuhkan celah/jarak dalam bershaf.

[5]. Para ulama kibar di Saudi pun tidak mengamalkan tata cara merapatkan shaf sebagaiman yang diamalkan oleh sebagian kecil muslimin di Indonesia ini. Bisa disaksikan lewat video atau gambar. Tentunya amaliah mereka didasarkan kepada ilmu dan bukan kejahilan.

Kesimpulan :

1]. Meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat, perkara yang disyari'atkan. Dan hukumnya sunnah menurut jumhur ulama', tidak sampai derajat wajib.

2]. Meluruskan dan merapatkan shaf tidak dengan menempelkan mata kaki dengan mata kaki dan pundak dengan pundak. Akan tetapi dengan sedikit jarak antara keduanya. Dimana jaraknya tidak terlalu luas tapi juga tidak sampai nempel. Sekitar empat jari atau satu jengkal.

3]. Adanya celah yang dilarang, adalah celah yang cukup dipakai untuk satu orang atau lebih. Adapun jika kurang dari itu, maka boleh, bahkan dianjurkan.

4]. Merapatkan shaf dengan menempelkan mata kaki dengan mata kaki dan pundak dengan pundak, hukumnya makruh. Hal ini muncul dari pemahaman terhadap dalil yang keliru, serta menyelisihi pemahaman para salaf, terkhusus para imam yang empat.

Semoga bermanfaat.

14 Ramadhan 1439 H

Pendapat Ulama Empat Madzhab tentang Jumlah Rekaat Tarawih adalah 20



1. Imam An-Nawawi menyebutkan dalam Majmu' Syarh Al- Muhadzdzab : Mari kita kembali kepada Syaikhul Madzhab, Imam di dalam Madzhab Imam Syafi'i, Imam besar yaitu Imam An- Nawawi.
.
Imam An-Nawawi sudah menjelaskan dalam kitab Syarah Muhadzdzab-nya, bahwasannya : "Shalat Taraweh adalah satu Shalat sunnah yang sangat dikukuhkan sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits- hadits yaitu "20" (dua puluh rokaat) selain Witir dan jika ditambah dengan 3 rokaat Witir maka jadilah 23 rokaat. 
.
Oleh karena itu Ummat telah sepakat baik Salaf maupun Kholaf dari zaman Kholifah Ar-Rosyidin yaitu Sayyidina Umar bin Khaththab ra sampai zaman sekarang tidak ada satu Ulama pun yang berbeda dari para Imam Madzhab yang 4 kecuali yang diriwayatkan dari Imam Malik bin Anas yang mengatakan hingga 36 rokaat dengan hujjah pengamalan penduduk Madinah. 
.
Dan telah diriwayatkan dari Nafi' beliau berkata : Aku melihat orang-orang di bulan Ramadhan Shalat (Taraweh) 39 rokaat dengan Witir 3 rokaat. . . . Namun riwayat yang masyhur dari Imam Malik adalah yang senada dengan pendapat jumhur dari kalangan Ulama Hanafiyah, Syafi'iyah dan Hanabilah yaitu 20 rokaat, maka dari itu Ulama 4 madzhab sudah sepakat dan telah sempurna menjadi Sebuah Ijma' (Kesepakatan Ulama) bahwa sholat taraweh adalah 20 rokaat". 
.
Imam An-Nawawi juga menyebutkan dalam kitab tersebut: "Madzhab kami (Syafi'i) Shalat Taraweh adalah 20 rokaat dengan 10 salam selain Witir dan itu 10 istirahatan, 1 tarwihan 4 rokaat dengan 2 kali salam dan ini yang dikatakan oleh Imam Abu Hanifah dan Ashabnya, Imam Ahmad, Dawud dan Qodi Iyadh menukilnya dari jumhur Ulama. Imam Malik berkata: Taraweh itu 9 istirahatan dan jumlahnya 36 rokaat". 
.
Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Al-Khulashoh sanad hadits tersebut Shohih, begitu juga Imam Khotib Asy-Syirbini Asy-Syafi'i menyebutkan dalam kitab Syarh Al- Minhaj hal. 226 : "Shalat Taraweh itu 20 rokaat dengan 10 kali salam pada setiap malam bulan Ramadhan berdasarkan hadits riwayat Imam Al-Baihaqi dengan sanad yang Shohih yaitu : "Sesungguhnya mereka (para Sahabat Nabi) melakukan Shalat Taraweh 20 rokaat di bulan Ramadhan pada masa Sayyidina Umar Bin Khaththab ra". 
.
2. Disebutkan dalam Mukhtashor Muzani bahwa Imam Syafi'i berkata : Aku melihat penduduk Madinah Shalat Taraweh 36 rokaat, dan aku lebih senang 20 rokaat karena itu diriwayatkan dari Sayyidina Umar ra begitu juga di Makkah 20 rokaat ditambah Witir 3 rokaat".
3. Ibnu Qudamah pakar Fiqih dalam Madzhab Hanbali yang sangat masyhur menyebutkan dalam kitab Al-Mughni juz 1 hal. 457 : "Yang dipilih menurut Abi Abdillah, yang dimaksud di sini adalah Imam Ahmad Bin Hanbal, "20 rokaat" begitu juga pendapat Imam Tsauri, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan Imam Malik mengatakan: tiga puluh enam rokaat". 
.
4. Imam As-Sarkhosi Al-Hanafi menyebutkan dalam kitab Al- Mabsuth juz 2 hal. 45 :" Menurut kami Shalat Taraweh itu 20 rokaat selain Witir". 
.
5. Imam Al-Hashkafi Al-Hanafi menyebutkan dalam dalam kitab Ad-Durrul Mukhtar : "Taraweh adalah dua puluh rokaat dengan sepuluh salam". 
.
6. Ibnu Abidin Al-Hanafi mengomentari perkataan Imam Al- Haskafi : 20 rokaat Itu pendapat jumhur dan dilakukan oleh manusia dari bumi belahan timur sampai bumi belahan barat ". 
.
7. Al-Allamah Muhammad Ulaisy Al-Maliki pakar Fiqih dalam Madzhab Maliki mengatakan dalam kitab Minahul Jalil Ala Mukhtasor Kholil : "Shalat Taraweh itu 20 rokaat ditambah Witir, dan ini yang sudah dilakukan oleh para Sahabat dan Tabi'in kemudian di zaman Sayyidina Umar bin Abdul Aziz setelah terjadi pembantaian di Madinah dengan meringankan berdiri dan menambah bilangan menjadi 39 (sudah termasuk Witir di dalamnya) sebagaimana disebutkan dalam sebagian redaksi, sedangkan dalam redaksi yang lain Shalat Taraweh adalah 36 rokaat selain Witir akan tetapi yang kuat adalah pendapat yang pertama". 
.
8. Ibnu Rusydi pakar Fiqih dalam Madzhab Maliki mengatakan dalam kitab Bidayatul Mujtahid: "Imam Malik telah memilih dalam salah satu pendapatnya, dan juga Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bahwa Taraweh adalah 20 rokaat selain Witir". 
.
9. Imam At-Tirmidzi menyebutkan dalam Sunannya juz 3 hal 169 : "Mayoritas ahli ilmu sebagaimana yang diriwayatkan dari Sahabat Umar adalah 20 rokaat dan ini adalah pendapatnya Imam Ats-Tsauri, Ibnu Mubarok dan Imam Syafi'i. Berkata Imam Syafi'i : Beginilah aku melihat di negaraku Makkah Shalat Taraweh adalah 20 rokaat". 
.
10. Imam Al-'Aini menyebutkan dalam kitabnya Umdatul Qori Syarh Shohih Al-Bukhari : Dari Zaid Bin Wahb beliau berkata : "Dahulu Sayyidina Abdullah Bin Mas'ud Shalat (Taraweh) bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau bubar (pergi) akan tetapi beliau pada satu malam, dikatakan oleh Al-A'masy bahwa : Sayyidina Abdullah melakukan Shalat Taraweh 20 rokaat dan Shalat Witir 3 rokaat". Hadits ini dinilai Shohih oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya Majmu' Syarh Muhadzdzab, begitu juga Imam Al- 'Aini ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, kemudian Imam As-Subuki dalam kitabnya Syarh Al-Minhaj, Imam Zainuddin Al-Iraqi dalam kitabnya Syarh At-Taqrib, Imam Al-Qostholani ketika mensyarahi kitab Shohih Al-Bukhari, dan Imam Al-Kamal Bin Al-Humam ketika mensyarahi kitab Al-Hidayah. 
.
11. Imam Ibnu Al-Humam Al-Hanafi berkata : "Telah ditetapkan (Shalat Taraweh itu) 2o rokaat pada masa Sayyidina Umar ra, sedangkan yang masyhur dalam Madzhab Imam Malik sesungguhnya Shalat Taraweh itu 2o rokaat sebagaimana yang disebutkan oleh Syeikh Ad-Dardir dalam kitab Aqrab Al-Masalik 'Ala Madzhab Al-Imam Malik.
12. Ibnu Taymiyah menyebutkan dalam kitabnya Majmu' Fatawa juz 23 hal. 112 : "Telah menjadi ketetapan bahwa Ubay bin Ka'ab Shalat bersama orang-orang dengan 20 rokaat dalam Taraweh dengan Witir 3 rokaat maka para Ulama berpendapat bahwa itu adalah sunnah karena Sahabat Ubay melakukannya di hadapan kaum Muhajirin dan Anshor dan tidak ada satupun yang mengingkarinya. Bahkan sebagian Ulama mengatakan 39 rokaat karena mengikuti amaliyah penduduk Madinah.
Dikutip dari buku : Adakah Tarawih Yang Bid'ah ? Buya Yahya

Bacaan Surat Dalam Tarawih



Kebanyakan masjid dan mushalla bahkan pesantren di lingkungan kita dalam bacaan surat saat Tarawih adalah surat-surat akhir dari juz Amma. Tahun lalu saya mengutip dari kitab Hasyiyatul Jamal tentang kebolehan hal itu.

Berikut ini ada penjelasan dari ulama Syafi'iyah mutaakhirin yang lebih mengutamakan membaca Al-Qur'an sampai khatam. Sebenarnya di lingkungan kita juga banyak yang mengamalkan hingga saat ini. Syekh Abu Bakr pengarang kitab I'anat Ath-Thalibin berkata:

ﻓﻤﺎ ﻳﻌﺘﺎﺩﻩ ﺃﻫﻞ ﻣﻜﺔ ﻣﻦ ﻗﺮاءﺓ ﻗﻞ ﻫﻮ اﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻌﺎﺕ اﻷﺧﻴﺮﺓ، ﻭﻗﺮاءﺓ ﺃﻟﻬﺎﻛﻢ ﺇﻟﻰ اﻟﻤﺴﺪ ﻓﻲ اﻟﺮﻛﻌﺎﺕ اﻷﻭﻝ، ﺧﻼﻑ اﻷﻓﻀﻞ.

Kebiasaan penduduk Makkah berupa membaca Qul huwa Allahu Ahad di setiap rakaat akhir dan membaca surat At-Takatsur sampai Al-Masad di rakaat awal adalah menyalahi keutamaan (1/307)

Namun bolehkah membaca ayat tertentu setiap shalat? Berikut uraian ulama ahli hadits dari madzhab Syafi'i, Al-Hafidz Ibnu Hajar ketika mensyarah hadis berikut:

ﻛﺎﻥ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ اﻷﻧﺼﺎﺭ ﻳﺆﻣﻬﻢ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻗﺒﺎء، ﻭﻛﺎﻥ ﻛﻠﻤﺎ اﻓﺘﺘﺢ ﺳﻮﺭﺓ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻬﺎ ﻟﻬﻢ ﻓﻲ اﻟﺼﻼﺓ ﻣﻤﺎ ﻳﻘﺮﺃ ﺑﻪ اﻓﺘﺘﺢ: ﺑﻘﻞ ﻫﻮ اﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪ ﺣﺘﻰ ﻳﻔﺮﻍ ﻣﻨﻬﺎ، ﺛﻢ ﻳﻘﺮﺃ ﺳﻮﺭﺓ ﺃﺧﺮﻯ ﻣﻌﻬﺎ، ﻭﻛﺎﻥ ﻳﺼﻨﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺔ

Ada seorang shahabat Ansor yang menjadi imam dari mereka di masjid Quba'. Setiap mengawali bacaan surat di dalam shalat yang ia baca adalah Qul huwa Allahu Ahad sampai selesai kemudian membaca surat lainnya. Ia lakukan itu di setiap rakaat...

Para jemaah kurang senang terhadap kebiasaan imam ini, sehingga mereka mengeluh kepada Rasulullah. Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bertanya kepadanya:

«ﻭﻣﺎ ﻳﺤﻤﻠﻚ ﻋﻠﻰ ﻟﺰﻭﻡ ﻫﺬﻩ اﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺭﻛﻌﺔ» ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻧﻲ ﺃﺣﺒﻬﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: «ﺣﺒﻚ ﺇﻳﺎﻫﺎ ﺃﺩﺧﻠﻚ اﻟﺠﻨﺔ»

Apa yang mendorongmu untuk tetap membaca surat Al-Ikhlas ini di setiap rakaat? Ia menjawabnya: "Saya senang dengan Al-Ikhlas". Nabi bersabda: "Kecintaanmu pada Al-Ikhlas memasukkanmu ke dalam surga" (HR Bukhari)

Ibnu Hajar berkata:

ﻭﻓﻴﻪ ﺩﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﺑﻌﺾ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﺑﻤﻴﻞ اﻟﻨﻔﺲ ﺇﻟﻴﻪ ﻭاﻻﺳﺘﻜﺜﺎﺭ ﻣﻨﻪ ﻭﻻ ﻳﻌﺪ ﺫﻟﻚ ﻫﺠﺮاﻧﺎ ﻟﻐﻴﺮﻩ

Dalam hadis ini terdapat dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat sesuai kecondongan hati dan memperbanyak hal itu. Dan hal tersebut tidak dianggap sebagai mengacuhkan pada surat yang lain (Fathul Bari 2/258)

Ahmad Mustain

Khawarij Era Dulu dan Kini

SO SHARP...! 😄

Seorang khawarij mendatangi Imam Hasan al Basri. Sang khawarij bertanya : "Apa pendapatmu tentang mereka yg menentang penguasa?" 

Al Basri menjawab: "Mereka adalah kaum yg mengejar kemegahan duniawi". 

Orang itu menimpali: "Apa yg membuatmu berpendapat seperti itu? padahal kami meninggalkan keluarga dan anak-anak kami, menghunuskan senjata demi memerangi kezaliman". 

Al Basri menjawab: "Katakan pendapatmu tentang penguasa, apakah ia menghalangimu sholat, melarangmu membayar zakat dan menunaikan haji?". 

Orang itu menjawab:"Tidak". 

Al Basri berkata: "Yang kulihat sesungguhnya adalah penguasa itu menghalangimu memperoleh kesenangan duniawi, dan engkau memeranginya agar kau dpt meraihnya"

(Kitab Al Basa'ir wal Dhaka'ir )

Ini saya peroleh dari sebuah WAG dan saya tidak bisa menahan tertawa membaca jawaban Al Basri ini. What a genius...! 😄😆

Apakah Foto itu Haram?...



Keharaman gambar memang berdasarkan hadis sahih, yaitu:

ﻓﻘﺎﻝ ﺟﺒﺮﻳﻞ «ﺇﻧﺎ ﻻ ﻧﺪﺧﻞ ﺑﻴﺘﺎ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﻻ ﻛﻠﺐ»

Jibril berkata kepada Nabi: "Sesungguhnya kami tidak masuk ke dalam rumah yang ada gambar dan anjing" (HR Bukhari dengan banyak redaksi hadis)

Namun yang perlu disahihkan adalah pemahaman apakah gambar hasil fotografi masuk dalam larangan hadis di atas?

Ternyata dalam masalah gambar dan foto dari kalangan ulama Salafi sendiri masih berbeda pendapat. Berikut beberapa pendapat yang membolehkan:

- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin:

وَسُئِلَ فَضِيْلَةُ الشَّيْخِ: عَنْ حُكْمِ التَّصْوِيْرِ الْفُوْتُوْغَرَافِي؟. فَأَجَابَ - حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى - بِقَوْلِهِ : الصُّوَرُ الْفُوْتُوْغَرَافِيَّةُ الَّذِي نَرَى فِيْهَا ؛ أَنَّ هَذِهِ الآلَةَ الّتِي تُخَرِّجُ الصُّوْرَةَ فَوْراً ، وَلَيْسَ لِلإِنْسَانِ فِي الصُّوْرَةِ أَيَّ عَمَلٍ ، نَرَى أَنَّ هَذَا لَيْسَ مِنْ بَابِ التَّصْوِيْرِ ، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ بَابِ نَقْلِ صُوْرَةٍ صَوَّرَهَا اللهُ - عَزَّ وَجَلَّ - بِوَاسِطَةِ هَذِهِ اْلآلَةِ ، فَهِيَ انْطِبَاعٌ لاَ فِعْلَ لِلْعَبْدِ فِيْهِ مِنْ حَيْثُ التَّصْوِيْرُ ، وَاْلأَحَادِيْثُ الْوَارِدَةُ إِنَّمَا هِيَ فِي التَّصْوِيْرِ الَّذِي يَكُوْنُ بِفِعْلِ الْعَبْدِ وَيُضَاهِي بِهِ خَلْقَ اللهِ (مجموع فتاوى ورسائل ابن عثيمين - ج 2 / ص 205)

Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya hukum gambar fotografi. Ia menjawab: "Gambar-gambar yang dihasilkan dari foto yang kami lihat di dalamnya yaitu alat tersebut mengeluarkan gambar secara cepat. Manusia tidak punya andil dalam gambar ini. Maka kami melihat bahwa foto ini tidak masuk dalam 'menggambar', namun sekedar memindah bentuk yang telah digambar oleh Allah dengan alat ini. Ini adalah alami, bukan perbuatan manusia dari segi menggambar. Sedangkan hadis-hadis yang telah ada hanya mengarah kepada menggambar pada perbuatan manusia yang dilakukan untuk menandingi ciptaan Allah" (Majmu' Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin 2/205)

Masalah ini juga difatwakan oleh Ibnu Utsaimin dalam kitab-kitab lainnya seperti Liqa'at al-Bab al-Maftuh 72/19 dan Durus wa Fatawa al-Haram al-Madani 1/33.

- Syekh Bin Baz

ثَانِيًا: الْمَجَلاَّتُ وَالْجَرَائِدُ الَّتِي بِهَا أَخْبَارٌ مُهِمَّةٌ وَمَسَائِلُ عِلْمِيَّةٌ نَافِعَةٌ وَبِهَا صُوَرٌ لِذَوَاتِ اْلأَرْوَاحِ يَجُوْزُ شِرَاؤُهَا وَاْلاِنْتِفَاعُ بِمَا فِيْهَا مِنْ عِلْمٍ مُفِيْدٍ وَأَخْبَارٍ مُهِمَّةٍ؛ لأَنَّ الْمَقْصُوْدَ مَا فِيْهَا مِنَ الْعِلْمِ وَاْلأَخْبَارِ، وَالصَّوَرُ تَابِعَةٌ وَالْحُكْمُ يَتْبَعُ اْلأَصْلَ الْمَقْصُوْدَ إِلَيْهِ دُوْنَ التَّابِعِ. (فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء - ج 2 / ص 359)

"Majalah dan Koran yang di dalamnya terdapat berita penting dan masalah ilmiah yang bermanfaat, yang didalamnya terdapat gambar-gambar yang memiliki roh, boleh diperjualbelikan dan mengambil manfaat darinya, yakni ilmu yang berfaedah dan kabar penting. Sebab tujuannya adalah yang terdapat di dalam majalah itu, berupa ilmu dan kabar berita, sedangkan gambar hanya mengikuti berita. Hukum berlaku pada tujuan (ilmu dan berita), bukan pada pelengkap (gambar)" (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta' 2/359)

- Syaikh Nasiruddin Al-Albani

وَلاَ فَرْقَ فِي ذَلِكَ بَيْنَ مَا كَانَ مِنْهَا تَطْرِيْزًا عَلَى الثَّوْبِ أَوْ كِتَابَةً عَلَى الْوَرَقِ ، أَوْ رَسْمًا بِاْلآلَةِ الْفُوْتُوْغَرَافِيَّةِ إِذْ كُلُّ ذَلِكَ صُوَرٌ وَتَصْوِيْرٌ ، وَالتَّفْرِيْقُ بَيْنَ التَّصْوِيْرِ الْيَدَوِيِّ وَالتَّصْوِيْرِ الْفُوْتُوْغَرَافِي ، فَيَحْرُمُ اْلأَوَّلُ دُوْنَ الثَّانِي (السلسلة الصحيحة - ج 1 / ص 355)

"Tidak ada perbedaan dalam gambar, baik yang dibentuk di baju atau yang ditulis di kertas, atau gambar dengan alat fotografi. Sebab semuanya adalah gambar dan menggambar. Perbedaan antara menggambar dengan tangan dan foto adalah haram yang pertama (dengan tangan), bukan yang kedua (foto)" (as-Silsilah ash-Shahihah 1/355)

- Ulama Sunni Mesir Dan Syafi'iyah

Mufti al-Azhar Syaikh Athiyah Shaqr juga mengeluarkan fatwa boleh:

عَلَى أَنَّهُمْ اسْتَثْنَوْا التَّصْوِيْرَ الشَّمْسِىَّ ، لأَنَّهُ حَبْسُ ظِلٍّ بِمُعَالَجَةٍ كِيْمَاوِيَّةٍ عَلىَ نَحْوِ خَاصٍّ ، وَلَيْسَتْ فِيْهِ مُعَالَجَةُ الرَّسْمِ الْمَعْرُوْفَةُ . (فتاوى الأزهر - ج 10 / ص 96)

"Para ulama mengecualikan gambar yang dihasilkan dengan cahaya (foto). Sebab hal itu merupakan merekam bayangan dengan alat dan cara tertentu. Dalam alat tersebut tidak ada bentuk menggambar yang telah diketahui" (Fatawa al-Azhar 10/96)

Dari ulama Syafiiyah Mutaakhkhirin, Sayid Alawi bin Ahmad Assegaf berkata:

وَانْظُرْ مَا عَمَّتْ بِهِ الْبَلْوَى فِي هَذِهِ اْلاَزْمِنَةِ مِنِ اتِّخَاذِ الصُّوَرِ الْمَأْخُوْذًةِ رَقْمًا بِالْفُوْتُوْغَرَافِ هَلْ يَجْرِي فِيْهِ هَذَا الْخِلاَفُ لِكَوْنِهَا مِنْ جُمْلَةِ الْمَرْقُوْمِ اَمْ تَجُوْزُ مُطْلَقًا بِلاَ خِلاَفٍ لِكَوْنِهَا مِنْ قَبِيْلِ الصُّوْرَةِ الَّتِي تُرَى فِي الْمِرْأةِ وَتَوَصَّلُوْا اِلَى حَبْسِهَا حَتَّى كَأَنَّهَا هِيَ كَمَا تَقْضِى بِهِ الْمُشَاهَدَةُ حَرِّرْهُ فَاِنِّي لَمْ اَقِفْ عَلَى مَنْ تَعَرَّضَ لِذَلِكَ مِنْ اَرْبَابِ الْمَذَاهِبِ الْمُتَّبَعَةِ وَعَلَى كٌلٍّ فَفِيْمَا نَقَلْتُهُ فُسْحَةٌ لِلنَّاسِ وَسَعَةٌ (ترشيح المستفيدين على فتح المعين للسيد علوي بن احمد السقاف صـ 324)  

"Lihatlah kejadian yang telah rata di masa sekarang dengan menjadikan gambar dari fotografi. Apakah hukum khilaf masalah gambar juga berlaku, sebab foto termasuk jenis gambar, atau boleh secara mutlak tanpa khilaf karena foto termasuk gambar yang terdapat di dalam cermin, dan mereka berusaha mengambil gambarnya sebagaimana yang bisa disaksikan. Perhatikanlah! Sebab saya tidak menemukan pendapat ulama yang menyinggungnya dari madzhab-madzhab yang diikuti. Atas semua itu, apa yang telah saya kutip (dari khilaf ulama) adalah sebuah keleluasaan bagi manusia" (Tarsyih al-Mustafidin ala Fath al-Mu'in Hal. 324)

Wa akhiran, ketika mereka mengharamkan foto dipajang ternyata memakai foto-foto yang ada di Indonesia. Coba saja pakai foto Raja-raja Arab Saudi di bawah ini....

Ma'ruf Khozin, Anggota Aswaja NU Center PWNU Jatim

Apakah Lelaki Dewasa yang Meminum ASI Dapat Menjadi Anak Persusuan?





Beberapa hari lalu sempat didiskusikan perihal seorang suami yang "meminum" ASI. Apakah lantas istrinya menjadi mahram ibu susuan?

Jawabannya adalah tidak. Berdasarkan:

ﻋﻦ ﺃﻡ ﺳﻠﻤﺔ ﻗﺎﻟﺖ: ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: «ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﻣﻦ اﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻓﺘﻖ اﻷﻣﻌﺎء ﻓﻲ اﻟﺜﺪﻱ، ﻭﻛﺎﻥ ﻗﺒﻞ اﻟﻔﻄﺎﻡ»: «رواه الترمذي وقال ﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ ﺻﺤﻴﺢ»

Dari Ummi Salamah, sabda Rasulullah shalla Allahu alaihi wasallama: "Menyusui tidaklah menjadikan mahram kecuali yang dapat mengenyangkan perut bayi dari ASI, sebelum dipisah [2 tahun]" (HR Tirmidzi ua menilai hasan-sahih)

ﻭاﻟﻌﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﻫﺬا ﻋﻨﺪ ﺃﻛﺜﺮ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺏ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻏﻴﺮﻫﻢ: ﺃﻥ اﻟﺮﺿﺎﻋﺔ ﻻ ﺗﺤﺮﻡ ﺇﻻ ﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺩﻭﻥ اﻟﺤﻮﻟﻴﻦ، ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ ﺑﻌﺪ اﻟﺤﻮﻟﻴﻦ اﻟﻜﺎﻣﻠﻴﻦ ﻓﺈﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﺮﻡ ﺷﻴﺌﺎ

Inilah yang diamalkan oleh para ulama dari para Sahabat Nabi shalla Allahu alaihi wa sallama bahwa menyusui tidak menjadikan mahram kecuali bagi anak sebelum 2 tahun. Menyusui setelah lewat 2 tahun maka tidak berpengaruh pada status mahram (Jami' at-Tirmidzi)

Syaikh Mustafa Daib al-Bigha juga menjelaskan:

ﻭﻗﺪ ﺫﻫﺐ ﻋﺎﻣﺔ ﻋﻠﻤﺎء اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ - ﻭﻣﻨﻬﻢ اﻷﺋﻤﺔ اﻷﺭﺑﻌﺔ - ﺇﻟﻰ ﺃﻥ ﺭﺿﺎﻉ اﻟﻜﺒﻴﺮ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﺗﺠﺎﻭﺯ اﻟﺴﻨﺘﻴﻦ ﺳﻦ اﻟﺮﺿﺎﻉ ﻻ ﺃﺛﺮ ﻟﻪ ﻓﻲ ﺛﺒﻮﺕ اﻟﻤﺤﺮﻣﻴﺔ ...

Mayoritas ulama, diantaranya Imam 4 madzhab, berpendapat bahwa susuan orang dewasa yang lebih dari 2 tahun yang tidak memiliki pengaruh dalam hal nasab. (Ta'liq Sahih al-Bukhari 5/81)

Hari ASI se Dunia...

Ma'ruf Khozin, anggota PW LBM NU Jatim