Esai Terhangat

Kesunahan Menikah dengan Satu Istri




ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ (ﻓﺎﻧﻜﺤﻮا ﻣﺎ ﻃﺎﺏ ﻟﻜﻢ ﻣﻦ اﻟﻨﺴﺎء ﻣﺜﻨﻰ ﻭﺛﻼﺙ ﻭﺭﺑﺎﻉ ﻓﺈﻥ ﺧﻔﺘﻢ ﺃﻻ ﺗﻌﺪﻟﻮا ﻓﻮاﺣﺪﺓ ﺃﻭ ﻣﺎ ﻣﻠﻜﺖ ﺃﻳﻤﺎﻧﻜﻢ ﺫﻟﻚ ﺃﺩﻧﻰ ﺃﻻ ﺗﻌﻮﻟﻮا)
Allah berfirman dalam: (An-Nisā': 3) yang artinya: ".... Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka *(KAWINILAH) SEORANG SAJA*, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya."

Seperti dijelaskan dalam Madzhab Syafi'iyah:

ﻭﻧﺪﺏ ﺇﻟﻰ اﻻﻗﺘﺼﺎﺭ ﻋﻠﻰ ﻭاﺣﺪﺓ ﺧﻮﻓﺎ ﻣﻦ اﻟﺠﻮﺭ ﻭﺗﺮﻙ اﻟﻌﺪﻝ، ﻭﻫﺬا ﻣﺄﻣﻮﻥ ﻣﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
*Dianjurkan menikah 1 wanita karena khawatir berbuat dosa dan tidak adil*. Sementara Nabi shalallahu alaihi wasallam terjamin dari hal tersebut (Al-Majmu' wa Takmilatuhu, 16/144)

----_----------

ﺃ - ﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ ﻋﻠﻰ اﻣﺮﺃﺓ ﻭاﺣﺪﺓ:
18 - ﺫﻫﺐ اﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭاﻟﺤﻨﺎﺑﻠﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻻ ﻳﺰﻳﺪ اﻟﺮﺟﻞ ﻓﻲ اﻟﻨﻜﺎﺡ ﻋﻠﻰ اﻣﺮﺃﺓ ﻭاﺣﺪﺓ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﺎﺟﺔ ﻇﺎﻫﺮﺓ، ﺇﻥ ﺣﺼﻞ ﺑﻬﺎ اﻹﻋﻔﺎﻑ ﻟﻤﺎ ﻓﻲ اﻟﺰﻳﺎﺩﺓ ﻋﻠﻰ اﻟﻮاﺣﺪﺓ ﻣﻦ اﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻠﻤﺤﺮﻡ، ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭﻟﻦ ﺗﺴﺘﻄﻴﻌﻮا ﺃﻥ ﺗﻌﺪﻟﻮا ﺑﻴﻦ اﻟﻨﺴﺎء ﻭﻟﻮ ﺣﺮﺻﺘﻢ (1) } 
، ﻭﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻟﻪ اﻣﺮﺃﺗﺎﻥ ﻳﻤﻴﻞ ﺇﻟﻰ ﺇﺣﺪاﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ اﻷﺧﺮﻯ ﺟﺎء ﻳﻮﻡ اﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺃﺣﺪ ﺷﻘﻴﻪ ﻣﺎﺋﻞ " (2) .
ﻭﻗﺎﻝ اﻷﺫﺭﻋﻲ: ﻟﻮ ﺃﻋﻔﺘﻪ ﻭاﺣﺪﺓ ﻟﻜﻨﻬﺎ ﻋﻘﻴﻢ اﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﻧﻜﺎﺡ ﻭﻟﻮﺩ.
ﻭﻳﺮﻯ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺇﺑﺎﺣﺔ ﺗﻌﺪﺩ اﻟﺰﻭﺟﺎﺕ ﺇﻟﻰ ﺃﺭﺑﻊ ﺇﺫا ﺃﻣﻦ ﻋﺪﻡ اﻟﺠﻮﺭ ﺑﻴﻨﻬﻦ ﻓﺈﻥ ﻟﻢ ﻳﺄﻣﻦ اﻗﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﺎ ﻳﻤﻜﻨﻪ اﻟﻌﺪﻝ ﺑﻴﻨﻬﻦ، ﻓﺈﻥ ﻟﻢﻳﺄﻣﻦ اﻗﺘﺼﺮ ﻋﻠﻰ ﻭاﺣﺪﺓ (1) ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ {ﻓﺈﻥ ﺧﻔﺘﻢ ﺃﻻ ﺗﻌﺪﻟﻮا ﻓﻮاﺣﺪﺓ (2)  
موسوعة كويتية

(1) ﻣﻐﻨﻲ اﻟﻤﺤﺘﺎﺝ 2 / 127 - 128، ﻭﺃﺣﻜﺎﻡ اﻟﻘﺮﺁﻥ ﻟﻠﺠﺼﺎﺹ 2 / 54.
(2) ﺳﻮﺭﺓ اﻟﻨﺴﺎء / 3.

Benarkah Jenggot Berpengaruh kepada Kecerdasan Akal?




Sebagai muslim jika kita ragu dengan Qaul Ulama, kita tidak boleh langsung mengingkarinya, namun harus mencari dalilnya atau minimal diam karena bukan Ulamanya yang keliru namun kita yang masih bodoh akan ilmu agama. Sebagaimana diterangkan dalam kitab Umdatussalik :

إذا سمعت كلمات من أهل التصوف والكمال ظاهرها ليس موافقا لشريعة الهدى من الضلال توفق فيها واسأل من الله العليم أن يعلمك مالم تعلم ولا تمل إلى الإنكار الموجب للنكال, لأن بعض كلماتهم مرموزة لاتفهم, وهي فى الحقيقة مطابقة لبطن من بطون القرأن الكريم وحديث النبي الرحيم. فهذا الطريق هوالأسلم القويم, والصراط المستقيم. .


Apabila engkau mendengar beberapa ucapan dari ahli Tashawuf dan ahlul kamal yang mana secara zahir tidak sesuai dengan syariat Nabi yang menyatakan petunjuk dari segala kesesatan, maka bertawaquflah (berdiamlah/jangan berkomentar) engkau padanya dan bermohonlah (berserahlah) kepada Allah Yang Maha Mengetahui agar engkau di beri akan ilmu yang belum engkau mengetahuinya. Janganlah engkau cenderung mengingkarinya yang mengakibatkan memberi kesimpulan yang buruk. Karena sebagian dari pada kalimah atau perkataan mereka itu adalah isyarat yang tidak mudah difahami.
Padahal hakikat-isinya itu sesuai dengan batinnya dari pada isi al Quran al Karim, dan haditsnya Nabi yang penyayang. Maka jalan ini lebih selamat sejahtera, dan jalan yang lurus.


Sebagaimana saya singgung sebelumnya bahwa Kyai Said adalah Ulama Tasawuf, maka untuk bisa memahami pernyataan2 Kyai zsaid maka harus menggunakan perspektif ilmu tasawuf, bukan dengan kacamata kebencian.
Dan perlu di garis bawahi bahwa Kyai Said tidak pernah mencela mereka2 yg berjenggot, atau mengolok olok jenggot, tapi beliau hanya sekedar mendudukan persoalan jenggot sesuai pada tempat yg semestinya, yakni kalau orang berjenggot maka hendaknya di imbangi dengan prilaku yang santun, arif dan bijaksana, sehingga antara simbol dan prilakunya ada keselarasan.
Jika ada orang berjenggot tapi suka menebar kebencian, kasar, provokatif, suka mengadu domba dsb, maka hendaknya ia malu dan instrospeksi dengan jenggotnya. Dan orang2 seperti ini yg di sindir oleh Kyai Said, bukan yg lainnya.


JENGGOT DAN KECERDASAN


Dalam kitab Akhbar Al-hamqa wal Mughaffilin Libnil Jauzy disebutkan:


قال عبد الملك بن مروان: من طالت لحيته فهو كوسجٌ في عقله. وقال غيره: من قصرت قامته، وصغرت هامته، وطالت لحيته، فحقيقاً على المسلمين أن يعزوه في عقله. وقال أصحاب الفراسة: إذا كان الرجل طويل القامة واللحية فاحكم عليه بالحمق،
...... الى ان قال ......
وقال بعض الحكماء: موضع العقل الدماغ، وطريق الروح الأنف، وموضع الرعونة طويل اللحية. وعن سعد بن منصور أنه قال: قلت لابن إدريس: أرأيت سلام بن أبي حفصة؟ قال: نعم، رأيته طويل اللحية وكان أحمق.
...... الى ان قال ......
. قال زياد ابن أبيه: ما زادت لحية رجل على قبضته، إلا كان ما زاد فيها نقصاً من عقله.


Abdul Malik bin marwan berkata: Barang Siapa panjang jenggotnya maka ia sedikit akalnya, Ulama lain berkata: Barang siapa yang pendek perawakannya, kecil kepalanya dan panjang jenggotnya Maka jelas bagi muslimin untuk menisbatkan pada akalnya. Ashabul firosah berkata: ketika seseorang tinggi perawakan dan panjang jenggotnya maka bisa dipastikan ia orang yang bodoh.


Sebagian Ahli Hikmah mengatakan: Tempatnya akal itu pada otak, jalan jiwa itu melalui hidung dan tempat kebodohan itu pada panjangnya jenggot. Dan dari sa'd bin Manshur mengatakan: aku berkata kepada ibn idris: Apakah kamu tahu sulam bin abi hafshah? dia menjawab: iya, aku melihat panjang jenggotnya dan dia bodoh.
Ziad berkata: Tidaklah tambah lelaki yang jenggotnya melebihi genggammannya, kecuali hanya tambah kurang akalnya(kecerdasannya)


قال بعض الشعراء: متقارب:
إذا عرضت للفتى لـحـيةٌ


وطالت فصارت إلى سرته
فنقصان عقل الفتى عندنـا


بمقدار ما زاد في لحيتـه


Sebagian penyair berkata dengan Bahar Mutaqarib:
Ketika pemuda mempunyai jenggot lebar dan panjang sampai pusarnya, maka akalnya (kecerdasannya) berkurang seukuran panjang jenggotnya (semakin panjang semakin kurang).


Kesimpulan
1. Apa yg di sampaikan Kyai Said bukan pendapat beliau pribadi, melainkan pendapat para Ulama Salaf terdahulu.
2. Kyai Said tidak pernah mengolok olok jenggot, beliau hanya berusaha mendudukan persoalan jenggot secara proporsional
3. Yang di sindir oleh Kyai Said hanya orang2 yg antara prilaku dan jenggotnya tidak serasi, sebab jenggot menurut Kyai Said adalah simbol kearifan dan spiritualitas seseorang.


Jika masih ada yg salah faham atau pura2 salah faham, maka memang berarti yg bersangkutan tidak sedang mencari kebenaran, tapi mencari cari kesalahan orang.
Orang2 seperti ini adalah orang2 yg di hatinya ada penyakit sebagaimana di sindir oleh Alloh dalam firmannya
في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا..


Mari saudaraku ciptakan iklim kondusif di tanah Indonesia yang merupaka warisan para ksatria dan Ulama
Mari rekatkan kembali ukhuwah islamiyah .. ukhuwah wathoniyah .. ukhuwah insaniyah demi mewujudkan Negara Indonesia menjadi Negara mercusuar dunia dan rujukan peradaban Nilai keislaman yg menjunjung tinggi keluhuran rahmatan lil alamin.
Amin

By Syarifudin santri ndeso

Wahabi Adalah Ahli Bid’ah Abad Modern




Dalam sebuah diskusi di Surabaya tentang status Wahhabi sebagai golongan Khawarij, ada seorang teman bertanya: “Mengapa Anda memasukkan Wahhabi ke dalam golongan Khawarij? Apa bukti-buktinya?”. Teman kita ini sepertinya keberatan sekali kalau Wahhabi dimasukkan ke dalam golongan Khawarij. Akhirnya pada waktu itu saya berusaha meyakinkan semua peserta diskusi yang hadir, dengan memberikan penjelasan bahwa kita mengganggap Wahhabi sebagai Khawarij, karena semua ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang otoritatif (mu’tabar) di kalangan pesantren mengatakan demikian.


Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:


هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).


“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).


Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:


“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).


“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik.


Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).


Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:


عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا


Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).


Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata:


وَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/٥٤).


“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).


Demikian pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, yang menegaskan bahwa golongan Wahhabi termasuk Khawarij bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Tentu saja masih terdapat ratusan ulama lain dari madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menyatakan bahwa Wahhabi itu Khawarij dan tidak mungkin kami kutip semuanya dalam diskusi kali ini.

Bahaya di Balik Slogan Kembali kepada al-Quran dan Hadits



Ada seorang Ustadz Modern (UM) yang gerah melihat amalan warga kampung yang dipimpin seorang Kyai Kampung (KK)

Akhirnya Ustadz Modern mendatangi Kyai Kampung. Setelah ucapkan salam, maka terjadilah dialog:

UM : Sudahlah Kyai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Quran dan Hadits ”
Mendapat pertanyaan, Kyai Kampung tak langsung mereaksi. Sang KK mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi.
Malah KK itu menyuruh anaknya mengambil termos berisi kopi dan gelas. Kemudian mempersilahkan minum.
Tamu itupun menuangkan kopi ke dalam gelas.
Lalu KK bertanya dengan santainya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?”
Kemudian UM menjawab: ” Ya... ini agar lebih mudah minumnya too kyai..!

Akhirnya KK memberi penjelasan: ” Itulah jawabannya, mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Quran dan Hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, ibarat gelasnya, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah itupun diambil dari al-Quran dan Hadits, ibarat termosnya, sehingga kami yang awam ini lebih mudah mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan saat minum kopi dengan menggunakan gelas, agar lebih mudah minum kopinya, bukankah begitu ? ”

Kemudian KK bertanya : “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauh mana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?”

UM menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,”

KK : “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai.

UM :“Ya kiai,”

Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut : “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,”

UM menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,”

Kemudian kiai bertanya balik : “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”.

UM : “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat.

Kiai kembali menjawab : “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits,”.

UM : ” Oh begitu ya... masuk akal juga ya Kyai....

*Sebab Agama ini, Hanya untuk orang yang ber-Akal*

Shalat Rabu Wekasan dan Hukumnya plus Ijazah Wiridnya



Rabu Wekasan (Jawa: Rebo Wekasan) adalah tradisi ritual yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, guna memohon perlindungan kepada Allah Swt dari berbagai macam malapetaka yang akan terjadi pada hari tersebut. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun-temurun di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, Madura, dll.

Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; 
(1) shalat tolak bala'/mutlaqoh/hajat
(2) berdoa dengan doa-doa khusus; 
(3) minum air jimat; dan mandi.
(4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrobat ad-Dairobi). 

Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: ”Al-Jawahir Al-Khams” karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

Imam Abdul Hamiid Quds, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzun Najah was-Suraar fi Fadail al-Azmina wasy-Syuhaar” mengatakan, 

“Banyak Awliya Allah yang mempunyai Pengetahuan Spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 000 00 ribu balak (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.” 

Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat Alquran, “Yawma Nahsin Mustamir” yang artinya “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari ini.

HUKUM SHALAT

Shalat Rebo Wekasan (sebagaimana anjuran sebagian ulama di atas), 
Jika niatnya adalah shalat Rebo Wekasan secara #khusus, maka hukumnya #tidak #boleh, karena Syariat Islam tidak pernah mengenal shalat bernama “Rebo Wekasan”. 

Tapi jika niatnya adalah shalat sunnah mutlaq atau shalat hajat, maka hukumnya BOLEH.

Shalat sunnah mutlaq adalah shalat yang tidak dibatasi waktu, tidak dibatasi sebab, dan bilangannya tidak terbatas. 

Shalat hajat adalah shalat yang dilaksanakan saat kita memiliki keinginan (hajat) tertentu, termasuk hajat li daf’il makhuf (menolak hal-hal yang dikhawatirkan).

Keputusan musyawarah NU Jawa Tengah tahun 1978 di Magelang juga menegaskan bahwa shalat khusus Rebo Wekasan hukumnya #haram, #kecuali jika diniati shalat sunnah #muthlaqah atau niat shalat #hajat. 

Kemudian Muktamar NU ke-25 di Surabaya (Tanggal 20-25 Desember 1971 M) juga melarang shalat yang tidak ada dasar hukumnya, #kecuali diniati shalat #mutlaq. (Referensi: Tuhfah al-Muhtaj Juz VII, Hal 317).

Hadratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari pernah menjawab pertanyaan tentang Rebo Wekasan dan beliau menyatakan bahwa semua itu tidak ada dasarnya dalam Islam (ghairu masyru’).

Umat Islam juga dilarang menyebarkan atau mengajak orang lain untuk mengerjakannya. Berikut naskah lengkap dari beliau:

بسم الله الرحمن الرحيم وبه نستعين على أمور الدنيا والدين وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم.

أورا وناع فيتوا أجاء – أجاء لن علاكوني صلاة ربو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت إع سؤال، كرنا صلاة لورو إيكو ماهو دودو صلاة مشروعة في الشرع لن أورا أنا أصلي في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها، كيا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين، التحرير لن سأ فندوكور كيا كتاب النهاية، المهذب لن إحياء علوم الدين. كابيه ماهو أورا أنا كع نوتور صلاة كع كاسبوت.

ومن المعلوم أنه لو كان لها أصل لبادروا إلى ذكرها وذكر فضلها، والعادة تحيل أن يكون مثل هذه السنة وتغيب عن هؤلاء وهم أعلم الدين وقدوة المؤمنين.

 لن أورا وناع أويه فيتوا أتوا عافيك حكوم ساكا كتاب مجربات لن كتاب نزهة المجالس. كتراعان سكع كتاب حواشى الأشباه والنظائر للإمام الحمدي قال:
 ولا يجوز الإفتاء من الكتب الغير المعتبرة، 
لن كتراعان سكع كتاب تذكرة الموضوعات للملا على القاري: 
لا يجوز نقل الأحاديث النبوية والمسائل الفقهية والتفاسير القرآنية إلا من الكتب المداولة (المشهورة) لعدم الإعتماد على غيرها من ودع الزنادقة والحاد الملاحدة بخلاف الكتب المحفوظة انتهى. 

لن كتراعان سكع كتاب تنقيح الفتوى الحميدية: 
ولا يحل الإفتاء من الكتب الغريبة. وقد عرفت أن نقل المجربات الديربية وحاشية الستين لاستحباب هذه الصلاة المذكورة يخالف كتب الفروع الفقهية فلا يصح ولا يجوز الإفتاء بها. 
لن ماليه حديث كع كاسبات وونتن كتاب حاشية الستين فونيكا حديث موضوع. كتراعان سكع كتاب القسطلاني على البخاري: 
ويسمى المختلف الموضوع ويحرم روايته مع العلم به مبينا والعمل به مطلقا. انتهى…. …… إلى أن قال: 
وَلَيْسَ لِأَحَدٍ أَنْ يَسْتَدِلَّ بِمَا صَحَّ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: الصَّلاَةُ خَيْرُ مَوْضُوْعٍ، فَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَكْثِرْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَسْتَقْلِلْ، فَإِنَّ ذَلِكَ مُخْتَصٌّ بِصَلاَةٍ مَشْرُوْعَةٍ. 
سكيرا أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة هديه كلوان دليل حديث موضوع، مك أورا بيصا تتف كسنتاني صلاة ربو وكاسان كلوان داووهي ستعاهي علماء العارفين، مالاه بيصا حرام، سبب إيكي بيصا تلبس بعبادة فاسدة. والله سبحانه وتعالى أعلم. (هذا جواب الفقير إليه تعالى محمد هاشم أشعري جومباع).

KESIMPULAN

Tradisi Rebo Wekasan memang bukan bagian dari Syariat Islam, akan tetapi merupakan tradisi yang positif karena:

(1) menganjurkan shalat dan doa; 
(2) menganjurkan banyak bersedekah; 
(3) menghormati para wali yang mukasyafah (QS. Yunus : 62). 

Karena itu, hukum ibadahnya sangat bergantung pada tujuan dan teknis pelaksanaan. 
Jika niat dan pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan syariat, maka hukumnya boleh. 
Tapi bila terjadi penyimpangan (baik dalam keyakinan maupun caranya), maka hukumya haram.

Bagi yang meyakini silahkan mengerjakan tapi harus sesuai aturan syariat. Bagi yang tidak meyakini tidak perlu mencela atau mencaci-maki.

TATA CARA SHALAT RABU WEKASAN

Shalat boleh dilakukan secara sendiri/ber jama’ah.
Shalat 4 raka’at dengan 2 kali salam.
Tiat raka'at usai Surat Fatihah membaca:

1. Surat al kautsar (17x)
2. Surat al Ikhlas (5x)
3. Surat al Falaq dan an Nas masing masing (1x)

Niat Sholat : Usholli sunnatan mutlaqotan / liqodloil hajati rokatainii lillaahi ta’ala.
#Artinya : Aku berniat shalat mutlaq / hajat dua raka’at sunnat karena Allah SWT

Waktu pelaksanaannya dimulai malam rabu (maghrib) sampai malam kamis (magrib). Sebaiknya dilakukan setelah matahari terbit atau masuk waktu dhuha di hari rabu.

DOA USAI SHALAT.

بِسْــمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ،
اَللّـٰـهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوٰى ، وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ ، يَا عَزِيْزُ ، يَا مَنْ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ ، اِكْفِـنِيْ مِنْ شَرِّ جَمِيْعِ خَلْقِكَ ، يَا مُحْسِنُ ، يَا مُجَمِّلُ ، يَا مُتَفَضِّلُ ، يَا مُنْعِمُ ، يَا مُتَكَرِّمُ، يَا مَنْ لآَ إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ ، اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللّـٰـهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِـيْهِ وَأُمِّـهِ وَبَنِيْـهِ اِكْفِـنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ . يَا كَافِيْ المهمات ويادافع البليات (فَسَـيَكْفِيْـكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ) ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آٰلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ


Bismillahirrahmaanirrahim
Wa shalalaahu ta'aalaa 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihii wa shahbihii wasallam
allohumma yaa syadiidal quwwa wa yaa syadiidal mihal wa yaa 'aziiz 
Dzallat li'izzatika jamii'u khalqika 
Ikfinii min jamii'i khalqika yaa muhsinu yaa mujammilu yaa mutafadllilu yaa mun'imu yaa mukrimu yaa man laa ilaaha illaa anta birahmatika yaa arhamarraahimiin. 
Allahumma bisirril hasan wa akhihi wa jaddihii wa abiihi ikfinii syarra haadzal yaumi wamaa yanzilu fiihi ya kaafiyal Muhimmat waya dafi'al baliyyat (fasayakfiikahumullaahu wahuwassamii'ul 'aliim) wa hasbunallohu wa ni'mal wakil walaa haula walaa quwwata illaa billahil 'aliyyil 'adzhiiim. Washallallahu 'alaa sayyidinaa muhammadin wa 'alaa aalihi washahbihi wa sallam.

Artinya:
(Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 
Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya. 
Allahumma, Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan; 
Ya Allah, Tuhan Yang Mahamulia dan karena Kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, 
Peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu; 
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Baik Perbuatan-Nya; Ya Allah, Tuhan Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan; 
Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya Engkau dengan Rahmat-Mu Yang MahaPenyayang.

Allaahumma, Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan ra dan saudaranya (Sayyidina Husein ra), serta kakeknya (Sayyidina Muhammad saw) dan ayahnya (Sayyidina `Ali bin Abi Thalib ra), 
Peliharalah aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan turun padanya; 
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memelihara, cukuplah Allah Yang Maha Memelihara lagi Maha Mengetahui untuk memelihara segalanya. 
Cukuplah Allah tempat kami bersandar; tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah Yang Maha Tinggi lagi MahaAgung. Amin.

PENTING.

Usai Shalat dll di atas. 
1. Tulis ayat di bawah ini pada kertas
2. Rendam kertas dalam air
3. Minum air dan buat mandi.

Khasiatnya
Di selamatkan dari marabahaya dan balak balak pada hari itu dan setahun ke depan.

1. سلام قولامن رب الرحيم
2. سلام على نوح فى العالمين
3. سلام على ابراهيم
4. سلام على موسى وهارون
5. سلام على إلياسين
6. سلام عليكم طبتم فادخلوهاخالدين من كل امرسلام هي حتى مطلع الفجر

#Sumber: Kitab Kanzunnajah wassurur
Ijazah dr KH Hannan Ma'sum kwagean pare kediri dalam kitab Sullamul Futuhat.

Lima Belas Pesan Kiai untuk Santri



1) Santri kudu kuat tirakat. 
Santri harus kuat tirakat; puasa, wiridan, belajar dan sebagainya.

2) Ono santri gak kelar noto Jama'ahe, ngunu wes pingin rabi. Gak kiro kelar noto bojone.
Ada santri tidak mampu menata (istiqomah dan tepat waktu) sholat berjma'ah. Eh, yang model begitu kok kebelet menikah. Nanti, ia tak mampu menata isterinya.

3) Santri kudu nyatet mlebu metune duike, sampek tuku weci cateten.
Santri harus mencatat keluar-masuknya uang, bahkan uang yang dibuat beli kue harus dicatat.

4) Santri ojo mikir dunyo. Dunyo ga' melok nduwe kok di pikir. Dunyo tek gusti Allah.
Santri tidak usah memikirkan dunia/harta. Kita tidak ikut memiliki, untuk apa ikut memikirkan. Dunia ini milik Allah.

5) Santri sing jatu olene nyekel ilmu.
Santri harus teguh memegang ilmu yg sudah dipelajarinya.

6) Sing kudu iso ngelakoni ajarane Rasulullah yoiku santri, contone salam.
Seharusnya yang paling bisa menjalankan ajaran dan sunnah Rasulullah adalah santri, seperti kesunahan mengucap salam.

7) Dadio santri temenan. Ojo dadi santri, ngaji sukur ngaji, ibadah sukur ibadah.
Jadilah santri sejati! Jangan menjadi santri yang saat mengaji dan beribadah asal-asalan. 

8) Santri sing ora kerasan nog pondok; kudu metu ae, wocoen surat Kahfi.
Santri yang tidak betah di pondok; ingin keluar terus, bacalah surat Al-Kahfi.

9) Lek mondok sing menisan. Koyo' toh awakmu nyemplung kolam. Lekne nyemplung kolam, menisan nyemplung kabeh.
Kalau mondok harus secara kaffah. Persis seperti kamu masuk ke kolam, sekalian menyelam.

10) Santri lek kepingin opo-opo, kudu kuat silo.
Bila santri ingin apapun, harus kuat duduk bersila (wiridan).

11) Santri ojo' boyong sakdurunge dadi wong bagus 
Santri, jangan berhenti dari pondok sebelum kamu menjadi orang yang berkelakuan baik.

12) Santri dalam urusan ibadah harus lebih sempurna dari yang lainnya.

13) Lek ono arek genda'i arek wedok utowo arek wedok genda'i arek lanang, ganok arek sing lewih gendeng teko arek iku.
Kalau ada santri putera berpacaran dengan santri puteri atau sebaliknya, maka tak ada santri yang lebih gila dari itu.

14) Santri iku koyo' parutane klopo, lek wes kepepet, diperes metu santene.
Santri ibarat hasil parutan kelapa. Saat terdesak, bila diperas keluar santannya.

15) Lek wung tuwone loro, gak usah pamit muleh. Lungguh madep ngulon, moco yasin 41X.
Kalau orang tua sakit, santri tidak usah pamit pulang (menjenguk orang tua). Cukup duduk bersila menghadap ke barat dan baca yasin 41X.

Helmi Nawali
Founder of Pesantren Cahaya
Malang Jawa Timur

Kumpulan Kalimat Mutiara Penuh Nasihat





1 – إِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ قَوْلَ الْحَقِّ فَلَا تُصَفِّقْ لِلْبَاطِلِ

Jika engkau tidak mampu mengatakan kebenaran, maka janganlah bertepuk tangan untuk kebatilan.

2 – إِذَا لَمْ تَجِدْ لَكَ حَاقِدًا فَاعْلَمْ أَنَّكَ إِنْسَانٌ فَاشِلٌ

Jika engkau tidak menemukan seseorang yang mendengki-mu, maka ketahuilah bahwa engkau adalah manusia yang gagal.

3 – لَا تَقْلَقْ مِنْ تَدَابِيْرِ الْبَشَرِ فَأَقْصَى مَا يَسْتَطِيْعُوْنَ هُوَ تَنْفِيْذُ إِرَادَةِ اللهِ

Janganlah engkau merasa cemas terhadap “konspirasi” manusia, sebab, puncak dari kemampuan mereka adalah melaksanakan kehendak Allah SWT.

4 – لَنْ يَحْكُمَ أَحَدٌ فِيْ مُلْكِ اللهِ إِلَّا بِمُرَادِ اللهِ

Tidak akan ada seorangpun “berkuasa” di kerajaan Allah SWT kecuali dengan kehendak Allah SWT

5 – لَا تَعْبُدُوْا اللهَ لِيُعْطِيَ، بَلْ اُعْبُدُوْهُ لِيَرْضَى، فَإِنْ رَضِيَ أَدْهَشَكُمْ بِعَطَائِهِ

Janganlah engkau menyembah Allah SWT supaya Dia memberi kepadamu, namun, sembahlah Allah supaya Dia ridha kepadamu, maka, jika Dia ridha kepadamu, Dia akan membuatmu bingung dengan pemberian-Nya

6 – إِذَا رَأَيْتَ فَقِيْرًا فِيْ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاعْلَمْ أَنَّ هُنَاكَ غَنِيًّا سَرَقَ مَالَهُ

Jika engkau melihat seorang fakir di negeri Islam, maka ketahuilah bahwa di sana ada orang kaya yang mencuri hartanya.

7 – لَا يَقْلَقُ مَنْ كَانَ لَهُ أَبٌ، فَكَيْفَ يَقْلَقُ مَنْ كَانَ لَهُ رَبٌّ

Tidak akan cemas seseorang yang mempunyai bapak, lalu, kenapa menjadi cemas seseorang yang mempunyai Tuhan (Allah SWT)

8 – إِذَا أَخَذَ اللهُ مِنْكَ مَا لَمْ تَتَوَقَّعْ ضَيَاعَهُ فَسَوْفَ يُعْطِيْكَ مَا لَمْ تَتَوَقَّعْ تَمَلًّكَهَ

Jika Allah SWT mengambil sesuatu darimu sesuatu yang kamu tidak pernah memprediksinya akan hilang darimu, maka itu berarti Allah SWT akan memberikan kepadamu sesuatu yang kamu tidak pernah memprediksi akan memilikinya

9 – كُنْ عَظِيْمًا وَدُوْدًا قَبْلَ أَنْ تَكُوْنَ عِظَامًا وَدُوْدًا

Jadilah orang besar yang penuh rasa cinta, sebelum menjadi tulang belulang dan belatung

10 – إِذَا رَاعَيْتَ مَعْرُوْفَ غَيْرِكَ، فَاعْلَمْ أَنَّكَ لِلْوَفَاءِ خَلِيْلُ

Jika engkau memperhatikan jasa baik orang lain kepadamu, ketahuilah bahwa engkau adalah bersahabat dengan kesetiaan..

Mari kita hadiahkan al fatihah untuk beliau... Semoga kita mendapatkan berkahnya... al-faatihah...

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه اجمعين

Ke manakah Air Bekas Memandikan Jasad Rasulullah SAW Mengalir?...




Pada kisaran tahun 90-an, dalam sebuah Muktamar Tingkat Dunia yang diselenggarakan di Mesir, muncul pertanyaan dari Syeikh Mutawwali Asy-Sya'rawi tentang kemanakah perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam. 

Semua peserta Muktamar yang merupakan para ulama perwakilan dari berbagai negara itu tak ada yang mampu menjawab.

Karena pertanyaan tersebut menarik dan belum pernah dibahas dalam sejarah Islam sebelumnya, maka sang pimpinan Muktamar meminta waktu untuk mencari jawaban tersebut. 

Beliau berkata bahwa besok beliau akan menemukan jawabannya. Sepulangnya dari Muktamar, sang pimpinan langsung masuk ke perpustakaan dan membuka seluruh kitab yang ada guna mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. 

Namun setelah semua kitab dibuka, tak ada satupun kalimat yang membahas pertanyaan tersebut. 

Karena kelelahan, akhirnya beliau tertidur.
Saat tidur itulah beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah Shollallahu 'Alaihi Wasallam yang sedang bersama seorang pembawa lentera. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, beliau menggunakan kesempatan tersebut untuk meminta jawaban yang dicarinya langsung kepada Rasulullah. 

Rasulullah memberi isyarat agar beliau bertanya kepada pemegang lentera disampingnya. "Tanyalah kepada Shohibul Qindil (Lentera)." 

Shohibul Qindil menjawab :
 "Air tersebut naik ke langit dan turun kembali ke bumi bersama hujan. Setiap tanah yang dijatuhi air tersebut, maka di kemudian hari akan didirikan sebuah masjid."

Keesokan harinya, berdirilah sang pemimpin Muktamar untuk memberikan jawaban tentang perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah. 

Semua yang hadir terkagum-kagum. 

Syeikh Mutawwali yang mengajukan pertanyaan tersebut, bertanya lagi, "Darimana engkau mengetahuinya?" 

Sang pimpinan Muktamar menjawab :
"Dari seseorang yang saat itu sedang bersama Rasulullah dalam mimpiku semalam." 

Syeikh Mutawwali bertanya lagi :
 "Apakah ia membawa Qindil?" 

"Bagaimana engkau tahu?" Tanya balik sang pimpinan. 

"Karena akulah Shohibul Qindil tersebut." Jawab Syeikh Mutawwali.

Kisah ini amat masyhur di kalangan ulama, terlebih di Mesir. Sekalipun banyak saksi mata yang menyaksikan langsung peristiwa ini, namun ulama-ulama dari kelompok Wahabi yang kala itu hadir juga, sedikitpun tidak mempercayai kisah ini, kecuali Syeikh Umar Abdul Kafi. 
Beliau mengatakan bahwa dirinya telah banyak melihat berbagai karamah dalam diri Syeikh Mutawwali Asy-Sya'rawi, namun beliau enggan mengakuinya karena keyakinan yang dianutnya (faham Wahabi) menolak adanya karamah.
Tapi untuk kali ini, Allah telah menumbuhkan keyakinan dalam dadanya, sehingga beliau termasuk orang yang mempercayai kisah ini. 

Beliau kemudian keluar dari Wahabi dan masuk ke dalam faham Ahlussunnah Wal Jama'ah......

HIKAM SYA’RAWIYAH ( Hikmah-hikmah syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi)

K E C E L I K



KH Saerozi bercerita soal tiga orang yang kecelik. Kecelik adalah istilah Jawa yg digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yg sangat diharapkan, akan tetapi hasilnya mengecewakan.

1.KECELIK YG PERTAMA
________________________

Orang ingin mulia dengan memperlihatkan kebaikan.

Orang yang ingin mulia dengan ngetok- ngetokno keapikane iku..... kecelik.

Sebab keapikan iku lek diketokno ora nggarai (menyebabkan) apik. Justru nggarai elek,’’ tuturnya.

Sebaliknya, keapikan kalau ditutupi, akan semakin kelihatan baik.

’’Sampean kenalan karo wong. Sampean takoni
jenenge sopo. Kok deweke jawab.

Kulo almukarrom kiai haji Sholeh. Yo malah diguyu. Kok ora ditambahi almarhum pisan,’’ ucapnya disambut tawa jamaah.

Pelok, isi buah mangga, kata Kiai Saerozi, jika ditanam di tanah dalam-dalam, justru akan menumbuhkan pohon dan buah.

"Coba pelok iku delehen duwur mejo. Yo sido garing,’’ tambahnya.

’’Makanya ada maqolah, " kun ardun fi qodaminnas. Jadilah kamu bumi bagi kaki-kaki manusia,’’ tuturnya.

Bumi itu di bawah. Yo diinjak-injak. Yo diidoni. Tapi regane tambah suwi tambah larang. Padahal bumine ora lapo-lapo, ucapnya kembali disambut ger-geran jamaah.

Makanya jika ngelakoni apik, sebaiknya disembunyikan atau ditutupi. "Attawadlu’u la tazidu illa rif’ah. (Wong tawadlu
akan semakin mulia)" ucapnya.

’’Orang yang berbuat baik dengan diketok- ketokno iku biasane gak eroh (tidak tahu) dalaneberbuat apik. Utowo gak biasa ngelakoni apik,’’ jelasnya.

2.KECELIK YG KEDUA.
______________________

Orang yang ingin kaya dengan engganbersedekah.

’’Bayangane duwek (uang) ake, iku lek (kalau) disimpen. Iku kecelik.

Duwek akeh iku lek (kalau) disedekahno. "Assodaqotu la tazidu illa kasron" tuturnya.

Setiap malam, malaikat turun mendoakan orang-orang yang sedekah.

"Ya Allah, gantilah yang lebih banyak kepada orang-orang yang sedekah".

’’Saya kemarin di Kediri ketemu konco yang setiap tahun gurune diberi motor. Saya tanya kok iso ngono’’ kata Kiai Saerozi.

Salah satu pengurus cerita, awalnya dia hanya memberi satu motor. Lha kok rezekine tambah akeh tambah akeh. Akhire motor yang diberikan terus bertambah.

’’Kemarin yang dibagikan sudah 11 motor,’’ bebernya.

Uang, kata Kiai Saerozi, sejatinya (sesungguhnya) adalah pembantu. ’’Kalau disedekahkan, uang itu hidup. Golekno pahala
sing sedekah,’’ jelasnya.

Misalnya uang itu dipakai mbayari guru ngaji. Maka orang yang
sedekah dapat pahala ngajar ngaji tanpa susah payah ngajar ngaji. Sebaliknya, kalau hanya disimpan, uang itu turu.

Sampean seneng endi duwe pembantu turu kar pembantu sing kerjo?’’ ucap Kiai Saerozi.

Orang yang medit (uangnya disimpan) kata Kiai Saerozi, sebenarnya luman  Sebab harta yang disimpannya, ketika meninggal, seluruhnya akan dinikmati pewarisnya.

Sebaliknya, orang yang suka sedekah, sebenarnya pelit. Karena semua yang disedekahkan, kelak akan ia nikmati sendiri di akhirat.

3.KECELIK YG KETIGA
______________________

Orang mengira bahwa jagoan adalah yang bisa mengalahkan semua musuh. ’’Iku kecelik.

Sebab musuh sing dikalahno, duwe bolo, duwe konco, duwe keluarga. Masio kalah, koncone, bolone, keluargane pasti
balas dendam. Musuhe tambah akeh tuturnya.

Menang yang sejati, kata Kiai Saerozi, adalah dengan memaafkan.

"Al afwu la tazidu illa izzan. ( Memaafkan akan menambah kemenangan )".

’’Musuh disepuro dadi bolo, dulur ora disepuro dadi musuh, tegasnya.

Misalnya musuhan dengan tetangga rumah. Ora mau nyepuro. Maka lewat depan rumahnya pasti segan. Musuhan dengan
tetangga kiri rumah. Ora mau nyepuro. Lewat di depannya pasti juga segan.

’’Akhire ngiri buntu, nganan yo buntu. Padahal asline ora buntu. Sing mbuntu atine dewe,’’ jelasnya.

Kalau punya musuh, mau ngapain juga pasti susah.

’’Mau masuk musola kok di di dalamnya ada musuhe. Pasti tidak mau masuk. Ora dikipatno ngipat-ngipat dewe", ucapnya
disambut ger-geran jamaah.

’’Mau naik angkot kok di dalam ada musuhe. Pasti ora sido naik ’’ tambahnya.

Makanya yang paling baik adalah memaafkan.

"Jagoan sejati iku nyepuroan, (pemaaf)" paparnya.

"Ngeluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake".

Agar antar anak tidak ada musuhan, orang tua diminta tidak mbedak-mbedakno iki anak emas. Dan ini anak bukan emas. Tidak boleh membanding-bandingkan kelebihan anak di hadapan anak yang lain. Sebab kalau sudah tali silaturahmi putus, maka tali hubungan dengan Allah juga putus.

Kajio bendino (kasarane) kalau hubungan dengan sanak keluarga ora apik, percuma, tegasnya

Semoga Kita Tidak Termasuk Orang Yang KECELIK